Bersama si Sahabat Terpercaya

Bersama si Sahabat Terpercaya

Sahabat terpercaya – Umur tujuh tahun ketiga adalah saat anak memasuki masa-masa ingin dipercaya orang tua dan dapat diandalkan untuk menjadi sahabat. Ia sepenuhnya telah meninggalkan masa anak-anak, seutuhnya menjadi remaja, dan dalam persiapan menuju gerbang dewasa. Ia seharusnya tak lagi merasakan kegalauan betapa inferiornya menjadi anak-anak, tetapi sudah benar-benar merasakan betapa percaya diri menjadi remaja. 

Orang tua menjadikan anak pada usia ini sebagai sahabat. Itu artinya ada banyak aturan dan kebiasaan interaksi yang harus diubah. Beberapa aturan lama yang biasa dilakukan diakhiri, dan beberapa ketentuan baru dimulai. Ia tetaplah anak dari orang tuanya, yang berhak atas didikan orang tuanya. Ia tetap memiliki hak beserta kewajibannya sebagai anak, tetapi dengan cara yang sedikit berbeda. Ia kini belajar menjadi sahabat yang bertanggung jawab bagi orang tuanya, dan orang tua menyambutnya dengan hangat. 

Menjadi sahabat berarti bersedia untuk berbagi. Masa remaja datang memberi isyarat kepada orang tua agar para orang tua bersedia berbagi dengannya. Anda hadir untuk berbagi pengalaman, saling mencurahkan perasaan, dan menaruh empati kepadanya. 

Maka keengganan untuk berbagi dapat menjadi sebab anak remaja merasa dijauhi atau dianggap belum sejajar dalam banyak hal. Ia merasa dirinya selalu dianggap kecil, tidak diakui perkembangannya bahwa kenyataannya sekarang sudah remaja. 

Anda tetap menjadi kantung-kantung yang siap terisi cairan cintanya, dan dia akan membuka kantung-kantung cinta yang ia miliki untuk anda isi sepenuh-penuhnya. 

  • Sahabat Saling Mempercayai 

Dua orang menjadi dekat dalam persahabatan jika antara keduanya terjalin hubungan saling mempercayai. Anda mempercayai anak, dan berupaya membuat anak percaya kepada anda. 

Memercayai berarti menghindarkan rasa keraguan akan hal-hal yang terjadi padanya. Memercayai juga bermakna kerelaan hati menerima apa yang menjadi keputusan dan tindakannya. Pembuktiannya, anda tak lagi melakukan campur tangan atau menjadi pengendali setiap kali ia membuat keputusan yang berhubungan dengan dirinya sendiri dan masa depannya. 

Begitu juga sebaliknya, orang tua menjaga sikap agar anak menjadi percaya kepadanya untuk mengatakan apapun yang ingin ia katakan, dan mudah mengerti apapun yang menjadi keputusan orang tua. 

  • Sahabat Berkomitmen Menjaga 

Bukanlah sahabat jika salah satu atau keduanya tidak memiliki komitmen untuk menjaga: menjaga keselamatan saat ini dan yang akan datang, menjaga suasana hati dan perasaan, dan menjaga dari kesesatan angkah dan ancaman. 

Menjaga, berarti juga mengupayakan agar semua potensi negatif yang ia miliki tidak menjadi biang kesengsaraan hidupnya, dan potensi positif yang ia banggakan tidak menjelma keangkuhan yang menghancurkannya. Anda tetap memberi catatan atau kritik membangun kepadanya, sembari anda pun bersedia mendapat kritik darinya. 

Penjagaan yang paling penting adalah menjaganya agar tak terputus hubungan di akhirat kelak. Menjaga agar kehidupan berlangsung di dunia dalam kebahagiaan bersama, lalu sejenak berpisah di alam barzah untuk kemudian bertemu lagi di jannah-Nya. 

  • Sahabat Saling Menguatkan

Sahabat berjalan beriring untuk memberi penguatan ketika salah satu darinya mulai melemah. Bersahabat dengan anak remaja berarti jeli mengamati kapan dan pada saat seperti apa ia akan mengalami saat-saat lemahnya, untuk kuat dan bangkit kembali. Begitupun orang tua membuka diri atas kelemahannya, lalu memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba mengisinya dengan kekuatan yang ia miliki. 

Memperlakukan anak sebagai sahabat akan menuntut kesetaraan derajat dalam beberapa hal. Ini tak serta merta akan dapat semua orang tua terima. Para orang tua yang terbiasa menerapkan pengasuhan otoriter harus menyadari dan berubah. Mereka yang sebelumnya berkuasa penuh atas anaknya kini tak lagi sepenuhnya mengendalikan dan menjadi penentu. 

Di masa-masa anak memasuki rentang usia ini, Anda memang tak memiliki banyak pilihan. Anak anda menghendaki orang tuanya menjadi sahabat baginya. Anda harus menurunkan sedikit ego untuk bersahabat dengannya, atau ia memilih orang lain yang lebih ia percayai dan nyaman dengannya tanpa akan anda tahu sedalam apa hubungan mereka.

[Yazid Subakti]

Yang Lebih Kita Harapkan Adalah Kebaikan Akhlaknya

Yang Lebih Kita Harapkan Adalah Kebaikan Akhlaknya

Parenting – Rasulullah SAW mencapai kesuksesan luar biasa berawal dari kebaikan akhlaknya yang agung lagi mulia. Di masa anak-anak, ia telah terkenal kebaikan budinya sebagai anak yang paling jujur. Di masa remaja yang seharusnya penuh pergolakan, ia mampu mengendalikan gejolak jiwanya hingga menjadi pribadi yang tetap tenang. Ia mampu mencegah dirinya dari kecurangan-kecurangan, kesombongan, foya-foya, atau sifat lain yang umum melanda anak muda. Ia adalah pribadi tak bercela sehingga orang-orang menyebutnya al amin, si anak terpercaya.

Begitupun nabi-nabi yang lain, membangun kesuksesan tugas kenabian dengan mengawali pembentukan akhlak diri yang sempurna.

Apakah kecerdasan dan kepribadian unggul tak membuat anak menjadi sukses? 

Keduanya menentukan kesuksesan, tetapi akhlak adalah penyelamatnya. Orang-orang cerdas mendapat kedudukan yang tinggi, tetapi akhlak yang buruk membuatnya berbuat korupsi sehingga kesuksesan itu berujung gelapnya kamar penjara. Orang-orang berkepribadian unggul mungkin saja sukses besar di dunia karena kerja keras dan ketekunannya, tetapi ketiadaan akhlak mulia menuntunnya hanya untuk menjadi orang kaya dan terkenal. Tak ada yang memberi jaminan hidupnya bahagia, akhirnya pun belum tentu surga. 

Pilih mana anak berprestasi tapi malas shalat, atau anak rajin shalat tapi tak berprestasi? Anda pasti memilih anak yang berprestasi dan rajin sholatnya. Tetapi sayang, dalam kondisi tertentu kita harus memilih dua hal yang sama-sama mengandung keburukan.

Akhlak itu menyelamatkan. Jika memang anak tak lagi bisa mengharap penuh potensinya dan prestasinya, maka akhlaklah yang menjadi fokus pembinaan. Dalam banyak tempat berkarir dan bekerja sama, orang berakhlak lebih baik daripada orang berprestasi. Di lembaga pemerintahan, lembaga bisnis, masyarakat, atau lingkungan profesi, orang berakhlak baik lebih dihargai dibandingkan orang cerdas. Dalam kompetisi olahraga, sportifitas permainan itu lebih dihargai daripada kejuaraannya. Artinya, bersiaplah menyesal bagi orang yang tak memiliki kebaikan akhlak. Sebab apapun kelebihan yang ia miliki, ujungnya adalah penyingkiran atau lebih kelamnya adalah hukuman. Orang berakhlak buruk memang dekat dengan hukuman.

Sekarang, apa yang paling kita inginkan dari anak remaja kita? 

Jika kita ingin anak kita menjadi populer, kaya dan disegani, maka Mush’ab bin Umair adalah sang remaja parlente yang berlimpah kesenangan, popular, dan bergelimang harta. Tetapi ia malah pergi dari rumah mewahnya, mengendap-endap menuju majelis Rasulullah yang bersahaja demi membetulkan akidah dan menempa akhlaknya. Bertahun-tahun ia mengubah diri menjadi pemuda yang amat sederhana, tetapi jauh lebih bahagia.

Apapun yang kita inginkan  untuk terjadi pada anak remaja kita, mari kita memulai dengan pembentukan akhlak mulianya. Kita merencanakan kehidupan ini akan panjang. Tidak terpisah oleh kematian yang sesaat, melainkan untuk bertemu kembali sama-sama di surga kelak.

 

[Yazid Subakti]

Pendidikan Seks di Usia Ini

Pendidikan Seks di Usia Ini

Parenting Ada begitu banyak orang tua yang menolak pendidikan seks bagi anaknya, disebabkan kesalahpahaman mengenai maknanya.

  1. Meluruskan pemahaman tentang pendidikan seks 

Mereka mengira bahwa pendidikan seks adalah seperangkat ajaran kepada anak mengenai tata cara melakukan hubungan seksual secara benar aman dan sehat. Jadi, ini tabu dan sangat vulgar untuk disampaikan kepada anak. mereka khawatir anak justru menjadi tahu hal-hal yang sebaiknya tidak tahu, menjadi ingin mencoba dan berfantasi  mengenai perbuatan yang hanya lazim dilakukan oleh orang dewasa. 

Sama sekali bukan itu maksudnya. Seks (sex) artinya jenis kelamin. Pendidikan seks diawali dengan menyampaikan serangkaian pengetahuan untuk mengenali jenis kelaminnya agar anak dapat mensyukuri takdirnya, merawat dan menjaga organ kelamin dan pendukungnya, serta bersikap sesuai jenis kelaminnya. Laki-laki menjadi laki laki sejati, dan perempuan pun menjadi perempuan sejati. Jika dalam pendidikan seks terdapat pengetahuan seputar seksualitas, maka itu lebih diarahkan pada perawatan organ reproduksi agar dapat menjaga dan mengamankannya dari kejahatan seksual dan memberikan keturunan yang berkualitas secara halal di masa dewasanya kelak.

Sejak kecil, anak harus mengenali bagian tubuhnya yang paling sensitif dan cara melindunginya agar tidak menjadi obyek pelecehan seksual. Di masa remaja, kebutuhan pengetahuan akan hal ini lebih besar lagi yaitu menjaganya dari kekerasan seksual yang menjurus pada pemerkosaan atau kejahatan lain  yang asusila. Jikapun bukan untuk ini, minimal anak remaja mengetahui cara menjaga kehormatan dirinya dan menghargai kehormatan orang lain. 

  1. Materi pendidikan seks bagi anak puber

Untuk usia remaja, pendidikan seks sudah berkembang mendekati seputar pengetahuan mengenai aktivitas alat kelamin dan saluran reproduksinya. 

Abdullah Nashih Ulwan memberi batasan pendidikan seks menyangkut penjelasan masalah-masalah yang menyangkut aktivitas seksual, naluri, dan perkawinan kepada anak sejak akalnya mulai tumbuh. Sehingga ketika ia mencapai usia remaja dan dapat memahami persoalan hidup ia mengetahui mana yang halal dan mana yang haram. 

Pendidikan seksual dimaksudkan untuk memberi pengetahuan yang benar kepada anak yang menyiapkan untuk beradaptasi secara baik dengan sikap-sikap seksual di masa depan kehidupannya, agar ia mendapat pengetahuan yang benar tentang masalah seksual dan reproduksinya. Diharapkan pendidikan seks ini menjadi bekal bagi anak untuk  mewujudkan kesucian diri, dan mampu mengendalikan syahwat seksualnya dengan benar. 

Anda dapat menyampaikan pendidikan seksual kepada anak remaja mengenai hal-hal berikut ini, 

  1. Pengawasan Allah kepada makhluk-Nya yang sangat akurat dan teliti. 
  2. Fiqih pakaian, terutama batasan aurat dan kewajiban menutupinya. 
  3. Fiqih hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam pergaulan.
  4. Memahamkan siklus menstruasi bagi perempuan serta cara menghadapinya, juga cara merawat organ vitalnya. 
  5. Tata cara mandi janabah untuk laki-laki maupun perempuan.
  6. Aturan berganti pakaian dalam, terutama celana dalam  yang tidak boleh berlama-lama dalam keadaan lembab, dan menghindari aktivitas ekstrem yang dapat membuat rahim cedera bagi wanita dan testis terganggu pada laki-laki. 
  7. Pengetahuan mengenai makanan, pola hidup sehat dan menjaga berat badan ideal yang dapat mempengaruhi kesuburan dan kualitas keturunan di masa mendatang. 
  8. Proses terjadinya kehamilan dari waktu ke waktu dan apa yang terjadi di dalam rahim ketika wanita mengalami kehamilan.
  9. Makna pernikahan dan cinta yang sesungguhnya.

Masih banyak lagi materi yang dapat Anda sampaikan kepada anak. Sesuaikan dengan kebutuhan informasi yang ia perlukan dan kesiapan mentalnya menerima informasi itu.  

  1. Beberapa fiqih Pendidikan Seks

Memasuki masa remaja, anak perlu mendapat pengetahuan tentang hukum-hukum fiqih, terutama yang berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia, terutama terhadap  lawan jenis. Ini sangat penting mengingat begitu banyak peristiwa merugikan pada anak remaja terjadi melalui proses interaksi dengan lawan jenis. 

  1. Meminta Izin (Isti’dzan)

Anak yang sudah mumayyiz mendapat aturan untuk meminta izin ketika akan memasuki kamar orang dewasa pada tiga waktu, yaitu sebelum sholat subuh, ketika orang dewasa biasa menanggalkan pakaian luar pada tengah hari, dan setelah sholat isya’ 

Ini seperti perintah Allah dalam firman-Nya, 

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak(laki-laki dan perempuan) yang kalian miliki dan orang orang yang belum baligh di antara kalian meminta izin kepada kalian tiga waktu (dalam satu hari) yaitu sebelum sholat subuh, ketika kalian menanggalkan pakaian luar kalian pada tengah hari, dan setelah sholat isya’ itulah tiga aurat bagi kalian.” (Q.S An-Nuur: 58).

Isti’dzan di tiga waktu ini khusus bagi anak-anak saja. untuk anak yang sudah mencapai usia baligh, isti’dzan mencakup seluruh waktu. Ini seperti perintah Allah dalam firman-Nya, 

“Dan apabila anak-anak kalian telah mencapai usia baligh maka hendaklah mereka meminta izin sebagaimana orang orang sebelum mereka meminta izin. Dengan demikian Allah menjelaskan ayat-ayatnya Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. (Q.S. An-Nuur :59)

Isti’dzan mengandung hikmah yang sangat jelas, yaitu menjaga agar anak tidak melihat aurat orang dewasa atau rahasia seputar seksual orang dewasa.

  1. Menguatkan penerimaan takdir sesuai jenis kelamin 

Anak laki-laki harus kuat takdirnya sebagai laki-laki agar ia menerimanya dengan ikhlas dan tumbuh menjadi pria sejati. Anak perempuan harus kuat takdirnya sebagai perempuan agar ia menerima dirinya sebagai perempuan untuk menjadi seorang perempuan sejati. 

Perlu menyampaikan bahwa hanya ada dua jenis kelamin pada manusia, yaitu laki-laki dan perempuan. Karena anak laki-laki berbeda secara fitrah dengan perempuan dalam banyak hal, maka jangan sampai perbedaan ini menjadi tersamarkan. Allah melarang laki-laki yang menyerupakan dirinya dengan perempuan, juga perempuan yang menyerupakan dirinya seperti laki-laki. 

“Dari Ibnu Abbas r.a berkata, Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berlagak perempuan dan perempuan yang berlagak laki-laki. Dari riwayat yang lain Rasulullah melaknat laki-laki yang meniru perempuan dan perempuan yang meniru laki-laki. (H.R Bukhori)

  • Menjaga pandangan mata

Salah satu ajaran penting yang menjadi prioritas oleh para pendidik adalah menerapkan etika memandang sejak usia mumayiz, sehingga anak mengetahui mana yang boleh kita pandang dan mana yang tidak boleh.  Larangan saling memandang ini berlaku karena khawatir akan muncul syahwat. Sebab, salah satu fitrah setiap manusia adalah tertarik safwat kepada lawan jenisnya. 

Dalam surat An-Nuur 30 – 31 Allah berfirman, 

“Katakanlah kepada wanita yang beriman : “ Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. 

Dan hendaklah menutupkan kain kerudung ke dadanya,dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. (An-Nuur 30 – 31)

  1. Mengenalkan mahram

Bagian dari pendidikan seksual yang amat penting adalah mengenalkan Mahram kepada anak. Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi atau menerima nikah dengannya. Pengetahuan ini penting agar anak tidak terjerumus dalam cinta terlarang, yaitu ingin menikah dengan seseorang yang ternyata mahramnya. 

  • Mahram sebab keturunan

Keturunan atau kekerabatan yang dekat dapat menjadi sebab pernikahan terlarang. Orang-orang berikut ini adalah seketurunan yang tidak boleh dinikahi; 

    • Ibu, ibunya ibu, ibunya ayah dan seterusnya.
    • Anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya.
    • Saudara perempuan atau seayah, hanya seayah atau seibu.
    • Saudara perempuan dari ayah.
    • Anak perempuan dari saudara laki-laki dan seterusnya.
    • Saudara perempuan dari ibu.
    • Anak perempuan dari saudara perempuan dan seterusnya.
  • Mahram sebab persusuan

Sepersusuan adalah pernah mengalami penyusuan pada wanita yang sama meskipun wanita susuan itu bukan ibunya sendiri. Penyusuan menjadi sebab kemahraman.  

    • Ibu yang pernah menyusui
    • Saudara perempuan
  • Mahram sebab persemendaan atau pernikahan

bergabungnya dua keluarga dalam pernikahan menyebabkan beberapa orang dari keluarga tidak boleh menikahinya. Mereka itu di antaranya adalah,  

    • Ibu dari Istri (mertua)
    • Anak istri (tiri), bila ibunya telah dicampuri
    • Istri dari anak kandung (menantu)
    • Bekas istri ayahnya
    • Menghimpun bersama dua orang perempuan yang antara keduanya mahram

Daftar perkembangan anak di awal puber yang harus diamati orang tua 

Orang tua dapat membuat daftar perkembangan anak remaja barunya, seberapa jauh ia telah meninggalkan masa kanak-kanak dan memulai hidupnya sebagai remaja.  

Berikut ini adalah contoh beberapa point perkembangan positif anak yang memasuki masa remajanya dengan baik.

  • Menerima fisiknya sendiri berikut apapun keadaan dan perasaannya. 
  • Mencapai kemandirian emosional (tidak lagi bergantung pada orang tua). 
  • Mengembangkan keterampilan komunikasi dan  bergaul dengan teman sebaya, baik secara individual maupun kelompok. 
  • Menemukan sesosok model ideal atau idola yang jadi identitas pribadinya. 
  • Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri. Memperkuat kemampuan mengendalikan diri (self-control) atas dasar nilai, prinsip-prinsip, atau keyakinan.  
  • Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri sikap atau perilaku kekanak-kanakannya.

 

[Yazid Subakti]

Akil Baligh – Bagian 2

Akil Baligh – Bagian 2

Parenting Akil atau perkembangan kognitif anak kadang tidak sejalan dengan baligh atau pertumbuhan fungsi organ biologisnya.

Idealnya, anak mengalami masa akil bersamaan dengan balighnya. Jadi ia memulai pendewasaan pikirannya bersamaan dengan kematangan organ reproduksinya sehingga perilaku dan sifatnya tampak sesuai dengan usianya. 

Tetapi kenyataan tidak selalu demikian. Beberapa anak sudah terlebih dahulu menampakkan akilnya padahal belum baligh. Artinya, ia sudah memiliki kearifan berpikir, mampu mengambil keputusan dengan baik dan memiliki tanggung jawab, tetapi belum mengeluarkan sperma bagi laki-laki atau belum haid bagi perempuan. 

Yang perlu diwaspadai adalah anak sudah masuk masa baligh sepentara pikirannnya belum sampai akil. Anak laki-laki sudah mimpi basah dan suaranya berubah atau anak perempuan sudah mengalami haid dan bentuk tubuhnya mulai berubah tetapi pikiran mereka masih kekanak-kanakan. Mereka sudah saling tertarik secara seksual antara laki-laki dan perempuan, belum mampu berpikir tentang tanggungjawab dan risiko perbuatannya. Akibatnya, mereka riskan melakukan perbuatan asusila hanya sekedar mencoba atau memenuhi rasa penasaran saja. Di beberapa lembaga pemasyarakatan anak yang pernah kami jumpai, salah satu kejahatan terbanyak yang menyebabkan mereka masuk penjara adalah pelecehan seksual dengan berbagai macam bentuk perbuatan dan tingkatannya. Mereka ini rata-rata berusia sekitar akhir sekolah dasar dan awal sekolah menengah pertama atau di awal-awal puber. Sebuah cermin anak-anak yang mencapai baligh duluan sebelum datang akil.     

Tetapi anda tak perlu khawatir secara berlebihan. Jika anak anda ternyata anak anda baligh duluan sebelum akil, cara paling mudah dan aman mengatasinya adalah menjadi orang tua yang dekat dengannya. Dekat berarti ada kehadiran yang bermakna, ada perhatian yang sungguh-sungguh, dan ada bukti kasih sayang yang dicurahkan. Dekat berarti menjadi sahabat yang selalu ada untuk membimbing dan mengarahkan. 

  • Menghadapi anak memasuki masa akil baligh  

    • Menerima keadaannya 

Pertama yang harus anda lakukan ketika menghadapi masa akil baligh anak adalah menerimanya. Menerima berarti mengakui fase ini sebagai sebuah keniscayaan bahwa semua orang akan mengalaminya. Menerima, juga berarti siap memahami semua yang akan terjadi berkaitan dengan datangnya masa akil baligh ini. Anda bersiap menerima kenyataan bahwa ia akan  menjadi anak yang kritis dan mungkin suatu saat akan mengoreksi kebijakan orang tua, suatu saat ia mungkin menggugat norma keluarga, sikapnya dan pandangannya sekarang jadi berubah, atau bisa jadi tiba-tiba ia mengubah pola hubungan dengan orang tua.  

Orang tua tak perlu panic dengan datangnya haid anak perempuan yang lebih cepat atau lebih lambat, atau perubahan suara anak laki-laki yang tidak bersamaan dengan teman-teman seusianya. Semua itu adalah bagian dari dinamika datangnya masa akil baligh.

Pemahaman dan penerimaan  yang baik dari orang tua dapat mengantarkan anak menjalani masa akil balighnya secara positif menuju masa dewasa secara matang.

    • Memberi kepercayaan 

Salah satu kebutuhan anak di usia remajanya adalah dipercaya. Ia memerlukan kepercayaan terutama dari orang yang ia percayai. Dalam keluarga, mesti orang yang paling ia percayai adalah orang tuanya, sehingga kepercayaan yang paling ia butuhkan sebenarnya adalah dari orang tuanya. 

Memercayai anak di fase ini berarti memberi peran kepadanya untuk berkontribusi positif dalam keluarga. Peran ini akan menjadi jalan baginya untuk mengembangkan sikap bertanggung jawab dan meningkatkan rasa percaya diri bahwa mereka menjadi anggota keluarga yang dihargai dan diperlukan keberadaannya. 

    • Menghargai ide dan pendapatnya 

Hargai pendapat anak remaja seolah Anda menghargai pendapat orang dewasa. Ia sedang memulai masa-masa memproduksi ide dan membutuhkan tanggapan  positif. Tidak harus menyetujui semua yang dikemukakan, tetapi memberi waktu dan tempat untuk mengungkapkan kemudian memberi respon secara bijak. Beberapa idenya mungkin sangat brilian untuk diterapkan menjadi bagian dari norma keluarga, tetapi ide-ide lainnya terdengar aneh dan tak masuk akal. 

Dalam hal tertentu ia cenderung bersikukuh dengan pendapatnya karena merasa paling benar. Anda tak perlu reaktif dengan memotong pembicaraan atau berbalik menyerangnya, tetapi cukup mendengarkan dan meluruskan jika situasi emosinya memungkinkan.

    • Menjadi teman dekat. 

Para remaja yang terjerumus dalam tindakan kriminal adalah mereka yang tidak berteman dekat dengan orang tuanya. Mereka tidak memiliki tempat mencurahkan rasa, dan tidak menemukan orang yang menghargainya. 

Kedekatan hubungan membuat mereka lebih mudah melepaskan emosi negatif atas permasalahan yang dihadapinya. Pada saat anda dekat dengannya, tidak semua masalah akan anda pecahkan, karena anda sendiri harus melatihnya untuk memecahkan masalahnya sendiri. Tetapi kehadiran anda dengannya memberi pengaruh penguatan batin baginya untuk terus berjuang. 

    • Mengenali lingkungan sosialnya

Kadang kontrol terhadap anak remaja tidak bisa dilakukan secara langsung berhadapan. Ini terjadi karena dalam hal tertentu ia sangat sensitif dan menghindari kontak dengan orang tua. Remaja yang bersalah, misalnya, memiliki kecenderungan menghindari perbincangan orang tua karena mengira bahwa perbincangan itu akan membuatnya harus berterus terang, sedangkan keterusterangan atas kesalahan dapat berakibat penolakan. 

Inilah pentingnya orangtua mengetahui siapa teman-teman dekat anak. Anda dapat mengenal atau berkomunikasi dengan mereka dengan cara yang santai dan akrab tanpa memperlihatkan kesan memata-matai atau melakukan interogasi.

    • Selaraskan Bahasa

Sebagai orang tua, apakah anda akan terus menerus berbicara dengan gaya tua Anda dengan anak yang cara berbicaranya satu generasi lebih muda? 

Salah satu perubahan yang mungkin mencolok dengan datangnya masa puber adalah berubahnya selera bahasa. Si remaja ini berbicara seperti cara teman-teman seusianya berbicara, yang mungkin meniru tokoh muda idola mereka di televisi atau tayangan internet. Induk bahasa mereka bukan lagi sepenuhnya dari lingkungan keluarga masyarakat sekeliling, melainkan  bahasa yang diproduksi dan banyak digunakan di media. Anda menemukan beberapa kosakata baru dari mulutnya, dan ia mulai menggunakan beberapa istilah yang berbeda dengan yang Anda sekeluarga biasa gunakan selama ini. 

Anda tak harus mengubah bahasa Anda, tetapi setidaknya mengikuti alurnya dan memahami makna dari semua perubahan pola bahasa dan kosakata barunya itu. 

    • Makin lancar berkomunikasi

Orang tua dianjurkan mulai mengubah gaya komunikasi satu arah atau dominan kepada anak remajanya, menjadi komunikasi dua arah (saling timbal balik) dengan memberinya kesempatan berbicara yang seluas-luasnya. Anda kini menjadikannya teman berdiskusi yang bijak meskipun di sisi lain tetap tegas memberi aturan.

Jadi, Anda tak lagi berkomunikasi kepada anak, tetapi dengan anak. maksudnya, anak terlibat komunikasi dan merasakan kebutuhan yang sama akan komunikasi itu. Orang tua butuh mengamati kondisi anak dan mengukur perkembangannya, sedangkan anak butuh curahan hati dan penguatan batin untuk berjuang. 

    • Mengamati perubahannya 

Salah satu kewajiban Anda sampai hari ini adalah tetap mengamati perubahan anak dari waktu ke waktu. Amati perubahan bentuk tubuh dan apa saja yang baru darinya, perubahan aroma keringat dan pola gerakannya.  Amati dengan teliti kosakata baru yang diucapkan dan cara ia mengungkapkannya, cara matanya memandang anda dan intonasi suaranya. Teliti seleranya yang berubah, cara memilih baju dan makanan, bahkan komentarnya tentang guru-guru di sekolahnya. Semuanya memberi informasi kepada anda seberapa jauh ia sudah berkembang. 

 

[Yazid Subakti]

Akil Baligh – Bagian 1 : Fase Tumbuh Kembang Anak

Akil Baligh – Bagian 1 : Fase Tumbuh Kembang Anak

Akil Baligh – Setelah masa kanak-kanak pergi, banyak orang tua hanya mengenal istilah pubertas saja untuk fase setelahnya. Padahal dalam islam, pembagian fase ini lebih detail dan memudahkan orang tua untuk mengasuh dan mendampinginya.  

Tamyis atau mumayyiz adalah fase anak di usia 7-10 tahun yang ditandai dengan dimulainya kemampuan anak membedakan baik dan buruk berdasarkan nalarnya sendiri. Ia sudah dapat menjatuhkan pilihan di antara dua hal yang benar dan yang salah. Dengan kemampuan ini,  anak sudah harus dikenalkan hukum syariat meskipun belum dibebankan.

  • Masa Amrad 

Masa ini terjadi pada saat anak masuk di usia 10-15 tahun yang ditandai dengan dimulainya kemampuan mengembangkan potensi dirinya untuk mencapai kedewasaan. Ia sudah memiliki kemampuan bertanggung jawab dan berpikir obyektif.  Saat inilah biasanya anak perempuan sudah mulai menstruasi dan anak laki-laki sudah keluar sperma (mimpi basah atau dalam keadaan sadar). Karena sudah mencapai baligh, maka hukum syariat baginya bukan lagi dikenalkan, tetapi sudah menjadi kebiasaan. Beberapa anak mungkin saja belum mengalami tanda biologis masuk masa baligh sehingga masih bisa dimaklumi kalau belum menjalani hukum syariat. 

  • Masa Taklif 

Ini adalah masa di usia 15-18 tahun ketika anak sudah sampai pada fase taklif atau kewajiban menjalankan hukum syariat. Anak laki-laki tidak lagi dipandang sudah keluar sperma atau belum, dan anak perempuan tak lagi diperhatikan sudah menstruasi atau belum semuanya sudah dianggap baligh.  

Mulai fase ini, anak sudah menanggung sendiri semua perbuatannya. ia mendapatkan pahala atas perbuatan baiknya, dan berdosa atas perbuatan buruknya. Ia sudah berkewajiban menjalankan salat lima waktu, puasa ramadhan, zakat, dan haji. Ia sudah wajib menutup aurat dan menjaga hubungan yang ketat dengan lawan jenis.   

  • Memahami masa akil baligh 

Jika sebelumnya yang kita sebut adalah istilah pubertas, maka kali ini kita menyebut istilah akil baligh untuk anak dengan fase pertumbuhan dan perkembangan yang kurang lebih sama. 

Apa itu akil baligh?

Akil artinya akal atau pikiran, maksudnya adalah anak yang sudah sampai ada akal pikiran yang siap meninggalkan masa kanak-kanak menuju kedewasaan. Akil atau orang yang berakal adalah lawan dari ma’tuh (bodoh), majnun (orang gila), dan muskir (orang mabuk).

Orang yang berakal adalah orang yang sehat sempurna pikirannya, dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah, mengetahui kewajiban, apa yang boleh dan apa yang tidak, serta yang bermanfaat dan yang merusak.

Sedangkan baligh berarti sampai, yaitu sampai pada usia dewasa. Maksudnya adalah anak telah sampai pada masa organ tubuh beserta fungsinya menjadi seperti organ dewasa. 

Jadi, akil berhubungan dengan perkembangan, sedangkan baligh berhubungan dengan pertumbuhan. Akil menyangkut masalah cara berpikir atau kognitif dan perasaan, sementara baligh berkaitan dengan kematangan biologis terutama sistem reproduksinya. Dalam makna yang lebih luas, baligh juga bermakna ‘sampai dan mengenal serta memahami, setelah habisnya masa kanak-kanak. 

Masuknya anak menuju masa akil baligh mendapat perhatian begitu besar karena ada kaitannya dengan perubahan hukum syariah yaitu dengan adanya pembebanan (taklif) dan kemandirian tanggung jawab. Hukum islam telah mulai berlaku baginya dan aturan-aturan yang ada dalam Al-Quran dan sunnah mulai harus ia terapkan dengan benar. Ia telah menanggung sendiri akibat dari dosa yang ia perbuat, dan mengambil keuntungan sendiri akibat dari ibadah yang ia amalkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Diangkatkan pena (tidak dibebani hukum) atas tiga (kelompok manusia), yaitu anak-anak hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga sembuh.” (HR Abu Dawud).

  • Batasan akil baligh

Ada batasan dan tanda-tanda khusus yang menyertai seorang anak hingga ia telah mencapai usia baligh. 

Seorang anak laki-laki bisa mencapai masa baligh jika telah berumur sembilan tahun dan pernah mengalami mimpi basah (mimpi mengalami sensasi seksual hingga keluar sperma). 

Mimpi basah ternyata mencakup keluarnya mani atau sperma dari kemaluan, baik dalam kondisi tidur atau dalam kondisi terjaga (tidak tidur). Hal ini berdasarkan firman Allah,

“Dan apabila anak-anakmu telah ihtilaam, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin” (QS. An-Nuur: 59)

Untuk anak perempuan, bila telah datang menstruasi pada waktu berumur sembilan tahun atau lebih, maka masa balighnya telah tiba. Haid merupakan tanda baligh paling utama bagi wanita yang semua ulama sepakati. 

Selain haid, hamil juga menandakan seseorang sudah baligh meskipun sebelumnya tidak pernah menampakkan haid. Hal ini karena hamil tidaklah terjadi, kecuali karena adanya air mani laki-laki (sperma) dan perempuan (sel telur) yang saling bertemu. 

Bila anak tidak menunjukkan tanda-tanda baligh (mimpi basah bagi laki-laki dan menstruasi bagi perempuan), maka umur menjadi batasannya. Jumhur ulama berbeda pendapat tentang batasan kesempurnaan usia baligh, Abu Hanifah menyatakan batas kesempurnaan baligh untuk perempuan adalah 17 tahun, dan bagi laki-laki adalah 18 tahun. Sementara Imam Syafii, dan Imam Ahmad bin Hambal tidak membedakan batasan itu antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai batasan yang sama yaitu 15 tahun. Sedangkan menurut Imam Malik, anak mencapai batas baligh jika usianya 17 tahun.

Jadi, jika anak sudah sampai pada umur tersebut, ia telah masuk usia baligh meskipun tidak menampakkan tanda-tanda baligh secara biologis. 

 

[Yazid Subakti]

Selamat datang Masa Amrad

Selamat datang Masa Amrad

Masa AmradPeralihan masa dari kanak-kanak menuju masa puber kadang menyisakan perasaan campur aduk di hati orang tua.

  1. Ketika masa kanak-kanak telah pergi 

Satu sisi orang tua gembira karena anaknya tumbuh beranjak dewasa seperti yang selalu dibayangkan, tetapi disisi lain juga sedih karena masa kanak-kanaknya yang lucu dan menggemaskan telah pergi. Sebentar lagi orang tua akan kehilangan teman yang selama ini menjadi pemicu tawa gembira, tetapi segera menemukan pendamping baru yang bijak dan pengertian. Masa kanak-kanak akan pergi dan seorang calon remaja sudah di hadapan. Suara percakapannya berubah, bahasanya berbeda, postur dan bentuk tubuh tak lagi sama, serta sifat-sifatnya juga tak seperti dulu lagi. 

Ini keniscayaan yang telah disadari oleh semua orang tua. Anehnya, meskipun para orang tua menanti-nanti datangnya masa puber anaknya, mereka juga yang merasa cemas menghadapinya. Hamper semua orang tua mengaku khawatir, merasa serba salah, dan kebingungan menghadapi pubertas anak pertamanya. Mereka takut salah memperlakukannya. 

Jika ada adalah orang yang merasa khawatir menghadapi anak puber, makan anda termasuk tipe orang yang bertanggung jawab jika kekhawatiran itu mendorong anda untuk berburu pengetahuan dan terus belajar. Kekhawatiran atau kecemasan yang tidak bertanggung jawab adalah jika hanya mendorong seseorang pada sikap abai dan putus asa, lalu menganggap bahwa perubahan fase dari anak-anak menuju remaja tak lain hanyalah peristiwa alami biasa, seperti air mengalir yang akan berjalan dengan sendirinya.    

Kita harus dapat memaknai bahwa berlalunya  masa kanak-kanak membawa konsekuensi baru. Kita akan menjadi orang tua baru juga, yaitu ayah dan ibu yang bukan lagi mengasuh, tetapi mendampingi seorang anak yang sudah mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya. Ada perubahan cara menghadapinya, juga perubahan tekanan. di masa awal puber ini, kita lebih tegas dan terbuka kepadanya. 

  1. Apa itu puber?   

Puber atau pubertas berasal dari bahasa Inggris puberty. Kata asalnya adalah bahasa Latin Pubescence  dari  kata  pubis  ( pubic  hair)  yang  berarti  rambut  (bulu)  pada daerah  kemaluan  (genital). Jadi, pubescence  berarti  perubahan  yang dibarengi   dengan tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan atau pubis pada saat anak sudah mulai masuk fase remaja awal.   

Jadi,  pada masa pubertas ini  seorang  anak  mengalami  perubahan  fisik,  psikis  dan kematangan  fungsi  seksual.  Pertumbuhan  dan perkembangan  berlangsung  dengan  cepat.  Anak  perempuan ditandai   dengan  menstruasi  pertama,  sedangkan  pada  laki- laki  ditandai    dengan  mimpi basah.  

Stanley  Hall  (1991) menganggap puber  sebagai masa topan badai dan stress ( Storm and  Stress).  Karena  mereka  telah  memiliki  keinginan  bebas  untuk  menentukan nasib  sendiri,  kalau  terarah dengan  baik  maka  ia  akan  menjadi  seorang  individu yang  memiliki  rasa  tanggung  jawab,  tetapi  kalau  tidak  terbimbing  maka  bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan  dengan baik. 

  1. Memutus lingkaran setan: mulailah menjadi orang tua yang belajar 

Semua orangtua pernah mengalami masa-masa awal puber. Tetapi tidak semuanya mendapat perlakuan baik dari lingkungan atau orang tuanya dan mendapatkan pelajaran indah di masa-masa itu. Bahkan banyak trauma psikologis masa lalu justru terjadi pada masa-masa puber sehingga tidak menganggap fase ini sebagai bagian dari catatan kehidupan yang indah. 

Itulah sebabnya, para orang tua di masa kini masih banyak yang awam, cemas,  atau diliputi perasaan  bersalah ketika mendampingi anaknya menghadapi masa awal puber. Para orang tua memang dulunya di masa awal puber tidak mendapat pelajaran tentang pubertas yang memadai, sehingga saat ini pun menjadi orang tua yang kurang percaya diri mendampingi anaknya puber. Lingkaran setan ini akan terus berputar jika hari ini Anda tidak bertekad menjadi orang tua pendamping puber yang baik bagi anak Anda. Jika hari ini belajar dan memberi perlakuan dan pelajaran pubertas kepada anak dengan baik, maka kelak anaknya akan melakukan hal yang sama. Ia mendapatkan perlakuan dan pelajaran berharga dari Anda, lalu kelak memberi perlakuan dan pelajaran pubertas yang baik bagi anak-anaknya. 

Anda dapat menghadiri seminar-seminar atau kajian tentang pubertas, berkonsultasi atau bertanya kepada psikolog dan praktisi pubertas. Atau setidaknya membaca buku-buku yang mengulas cara mendampingi anak menghadapi masa puber.

  1. Badai pubertas  

Mari kita menjadi orang tua yang mudah memahami bahwa di masa puber anak mengalami gejolak yang serba tidak menentu baginya. Ada gejolak perasaan, pemikiran, ideology, harga diri, bahkan sampai pada identitasnya. Ia merasakan beberapa hal yang memuncak dan butuh penyelesaian. 

  • Khayalan dan fantasi 

para remaja laki-laki sering menghayal atau berfantasi tentang prestasi atau karir. Pada remaja putri, yang dikhayalkan adalah rumah tangga atau hubungan. Khayalan dan fantasi sering terjadi sebagai pelarian dari situasi yang tidak memuaskan remaja. Tentu saja bisa negatif bisa positif. Khayalan atau fantasi berlebihan sampai lepas kontrol membuat anak kehilangan jati diri dan akhirnya bisa menjadi gangguan jiwa.  

  • Gelisah  

Remaja mengalami kegelisahan karena banyak keinginan yang akhirnya tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka juga mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi sehingga hatinya tidak tenang. Perasaan selalu kurang puas, hasrat selalu kurang tersalurkan, kata hati selalu tak tersampaikan atau komunikasi tersumbat sering menyelimuti diri mereka.  

  • Pertentangan 

terhadap keinginannya sendiri, remaja sering mengalami pertentangan batin. Ia mengalami   kebingungan  bahwa apa yang dianggapnya kurang baik masih juga ingin ia tinggalkan. Sebaliknya bisa jadi ia sudah mengetahui keburukan tetapi masih juga tak berhenti melakukannya. 

Di luar konflik batin, remaja juga sering bertentangan dengan orang lain. Ia menjadi kritis dan berani mengoreksi kebijakan orang tua jika tidak bersesuaian dengan kebenaran yang ia yakini. Ia mengkritik kebiasaan masyarakat, mengingkari peraturan  sekolah dan ingin mengubah pola pertemanan. 

  • Keingintahuan 

Anak remaja memiliki keinginan besar untuk mengetahui  apapun yang belum mereka ketahui, keinginan merasakan, atau keinginan mengalami. Mereka  ingin  mengetahui anatomi tubuh lawan jenis dan apa yang terjadi dengannya, lalu iseng membuka gambar atau video yang ternyata porno. Keingintahuan juga berujung pada keinginan untuk mencoba. Mereka ingin merasakan apa yang biasa ia lihat dilakukan orang dewasa seperti  merokok, lalu ia pun mencoba merokok  secara sembunyi- sembunyi. Mereka juga ingin merasakan seperti apa pria dicintai wanita dan wanita dicintai pria, kemudian diam-diam menjalin hubungan asmara.  

Keingintahuan ini sangat penting baginya, orang tualah yang menjadi pengarah agar semua itu tidak menjadikan anak remaja terjerumus perbuatan negatif yang dilarang oleh Allah.  

  • Kenekatan 

Ciri lain yang khas pada remaja adalah nekat. Anak remaja sudah menjangkau pikiran seperti orang dewasa, tetapi kurang peka dengan risiko yang akan ia hadapi. Nekat kabur dari rumah karena konflik dengan orang tua, nekat kabur dari sekolh karena konflik dengan guru, nekat bunuh diri, nekat menjalin hubungan cinta terlarang, tawuran, atau geng motor adalah wujud nekatnya remaja. 

Jika terarah secara positif, remaja pula yang akan nekat menjadi penghafal Al-Qur’an, nekat menjadi atlet internasional, atau nekat mengikuti kompetisi sains.

 

[Yazid Subakti]

Perjalanan Safar – Bagian 3 : Anak tak memiliki pengalaman safar

Perjalanan Safar – Bagian 3 : Anak tak memiliki pengalaman safar

Parenting – Anak yang tak memiliki pengalaman safar atau tak pernah dilatih melakukan perjalanan jauh tumbuh berbeda dengan anak yang terbiasa mengalami perjalanan jauh. Mereka tetap tumbuh sebagai pribadi yang normal tetapi memiliki beberapa kelemahan yang dapat menyulitkan kehidupannya kelak ketika dewasa. 

Salah satu tanda anak yang tidak terbiasa bepergian dari kecil adalah mudah mabuk kendaraan. Ia tidak kuat dengan guncangan badan dalam keadaan sedang melaju kencang sehingga system keseimbangan tubuhnya bereaksi atau sistem pencernaannya terganggu. Bahkan beberapa anak baru beberapa menit naik kendaraan dan mencium bau AC atau mencium bau bahan bakar sudah mual-mual dan muntah-muntah. Anak yang dari kecil, bahkan sejak bayi sudah biasa menjalani safar akan kebal dari semua ini.

  • Mudah mengalami disorientasi

Disorientasi adalah kehilangan atau kebingungan arah mata angin setelah seseorang mengalami perpindahan  posisi. Anak yang jarang bepergian berpotensi mudah mengalami kebingungan arah hanya dengan menyusuri beberapa ruas jalan, ia tidak terlatih instink medannya untuk menemukan arah jika lokasi dirinya berubah dari biasanya. 

  • Berpeluang mudah tersesat

Karena mudah mengalami disorientasi, maka anak juga menjadi mudah tersesat ketika bepergian. Tidak terlatihnya bepergian sejak kecil membuat anak tidak terbiasa menyusuri berbagai macam jalan dengan penanda dan karakternya yang berbeda-beda. Anak tidak mengenali jalan dan perkampungan sehingga kesulitan menemukan tujuan atau arah pulang. Saat dalam kondisi seperti ini, bertanya kepada orang pun tetap tidak mudah jika ia sendiri jalur yang akan ia tuju atau arah pulang yang akan ia tempuh. 

  • Kurang percaya diri menghadapi berbagai tipe orang

Jarang bepergian berarti jarang bertemu orang asing selain yang ia kenal selama ini. Sedangkan pada saat tertentu nanti pergaulan yang semakin uas membuat anak akan bertemu dengan banyak orang, terlebih jika cita-citanya sangat tinggi. Ia akan kesulitan menghadapi berbagai ragam dialek atau bahasa orang, mudah percaya atau sebaliknya mudah curiga kepada setiap orang baru yang ia temui. Bahaya anak yang mudah percaya dengan orang baru adalah minim kewaspadaan sehingga mudah tertipu jika ternyata orang baru tersebut bukan orang baik-baik. Bahaya anak yang mudah curiga terhadap orang baru adalah menjadi tertutup dan sempit pergaulannya sehingga peluang kerjasama dengan orang-orang penting menjadi hilang. 

  • Mudah putus asa menghadapi tantangan

Selama perjalanan anak bisa saja menghadapi banyak kondisi darurat yang mengharuskannya terus berjuang melanjutkan perjalanan. Mobil mogok, perbekalan menipis, perut lapar, tenggorokan haus, hujan deras ataupun panas menyengat dan ketegangan-ketegangan lain semuanya sudah biasa dihadapi.       

  • Tidak fleksibel menghadapi situasi

Bagi anak yang terbiasa melakukan perjalanan jauh, menghadapi keadaan yang tidak normal sudah terbiasa. Ia fleksibel dan mudah mengerti bahwa tidak semua yang kita inginkan akan mudah terpenuhi. Ia terlatih menghadapi kenyataan di perjalanan bahwa jika tak ada makanan enak, makanan lain pun  bisa menjadi pengganti, pakaian tidak harus selalu bagus jika memang tidak tersedia, tidur di manapun adalah nikmat tak harus di kasur bersama bantal dan guling, 

  • Mudah mengeluh dan berburuk sangka

Mengeluh adalah respon negatif terhadap suatu kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan. Biasanya ini terjadi dalam bentuk ketidaksabaran menghadapi suatu proses atau penolakan terhadap hal-hal yang tak menyenangkan. Ia tidak pernah berlatih safar yang melelahkan dan penuh proses yang tidak semuanya menyenangkan.

  • Sempit wawasan

Anak yang terkurung di rumah dan kampung halamannya mengira bahwa dunianya sela ini sudah yang paling luas dan indah. Ia menjadi fanatic buta dengan lingkungan kecilnya seolah itu adalah yang paling baik, kurang bisa menerima perbedaan yang amat beragam, dan mudah terheran dengan hal-hal besar yang baru ia lihat. Ia tidak pernah melakukan salat jama’ lalu terheran dan mengira orang yang salat jama’ itu beraliran sesat. Saat pertama kali melihat orang asing, ia seperti terhipnotis terus-terusan memandangi sesosok bule yang warna kulit, rambut, mata,  dan postur tubuhnya sangat berbeda dengan dirinya.        

Itu semua tidak hanya  akan terjadi pada anak-anak, melainkan juga remaja dan bahkan orang dewasa. Oleh karenanya, safar harus orang tua kenalkan sejak kecil, jika tidak memungkinkan, setidaknya saat remaja atau menjelang dewasa sudah mendapat pengalaman perjalanan jauh. Bila perlu, anak harus merantau dalam rangka menuntut ilmu atau mencari rejeki. Hamper semua ulama masyhur adalah para perantau ulung selama masa-masa mencari pencarian ilmunya. Mereka tidak hanya mendapatkan ilmu yang luas, tetapi juga kepribadian yang tangguh dan arif menghadapi umat. 

  • Waktu yang disunnahkan untuk safar 

Ada anjuran melakukan safar pada waktu terbaik, yaitu waktu yang memberi peluang keamanan atau kecilnya risiko perjalanan.

  • Rasulullah SAW mensunnahkan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan beliau, Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata, “Nabi SAW keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis.” [HR Bukhari]
  • Ada anjuran memulai bepergian pada pagi hari karena pagi adalah waktu yang penuh berkah. Nabi SAW pernah mendoakan keberkahan pagi dalam sabdanya, Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”[HR Abu Dawud dan At tirmidzi]
  • Waktu terbaik untuk melakukan safar lainnya adalah di waktu duljah, yaitu di awal malam. Perjalanan di waktu malam hari baik karena ketika itu jarak bumi seolah-olah dekat. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.” [HR Abu Dawud dan Al baihaqi]

 

[Yazid Subakti]

Mendorongnya Berprestasi

Mendorongnya Berprestasi

Parenting – Berprestasi adalah hasil yang telah dicapai dari apa-apa yang telah dilakukan atau diusahakan. Prestasi antara anak satu dengan lainnya tidak selalu sama.

  1. Memaknai prestasi anak

Apakah prestasi adalah kemenangan dalam sebuah lomba yang dibuktikan dengan piala dan hadiah?

Ada anak yang memiliki prestasi dalam bidang  olahraga, sastra, kepemimpinan, ilmu pengetahuan, seni, teknologi, dan pelajaran sekolah. Prestasi  ini muncul sebagai hasil kerja keras mengerahkan potensi diri, dan berkaitan  dengan kemampuan dasar yang dimilikinya. Dengan kejujuran dan perjuangan sendiri, prestasi itu akan datang sebagai sunnatullah, hukum Allah yang Dia tetapkan atas orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ikhtiar. 

Orang yang berprestasi selalu mengawali prestasinya dengan bekerja atau berusaha keras. Para atlet dunia telah mulai mengenal olahraga dan berlatih sejak usia belasan atau bahkan sejak usia kanak-kanak. Para  ilmuwan-ilmuwan besar dari masa mudanya tekun belajar dan melakukan penelitian yang berkali-kali gagal tanpa putus asa. 

Perlu menyempaikannya kepada anak, agar ia tidak menganggap bahwa keberhasilan itu dapat hanya dengan berdiam diri tanpa usaha. Anak-anak harus jauh dari praktik para pemalas yang ingin langsung berprestasi dengan membeli gelar, membeli ijazah, membayar joki saat ujian, atau membeli suatu jabatan dengan cara menyuap. 

  1. Manfaat prestasi 

Orang tua sangat bangga jika anaknya menjuarai suatu perlombaan. Pada adu kompetisi tertentu, orang tua terkesan memperalat anaknya untuk turut dalam ajang tersebut dan memaksanya untuk menjadi juara sementara sang anak tampak tak bahagia dan terbebani. Inilah contoh ambisi orang tua yang salah mendidik. Ia hanya ingin orang-orang menilainya sebagai orang tua hebat yang telah berhasil mendidik anak, atau melampiaskan impian masa kecilnya yang tak terwujud di masa lalu.    

Orang tua boleh berbangga atas prestasi anaknya, dan tidak ada yang salah jika prestasi anak menjadi bagian dari pengangkat derajat keluarga. Tetapi  yang seharusnya adalah, prestasi membawa manfaat nyata bagi perkembangan anak, bukan semata mengangkat gengsi dan kebanggaan orang tua. 

  • Menjadikan anak mengetahui ukuran kemampuannya daripada teman-teman atau pesaingnya. Ini ada manfaatnya agar ia terus bertahan dengan kemampuannya itu, bahkan meningkatkannya agar tetap berpeluang di genggaman.   
  • Menunjukkan bidang keunggulan atau potensi kuat yang anak miliki. Manfaatnya, anak menjadi tahu bahwa ia memiliki potensi yang sudah terbukti unggul.   
  • Meningkatkan rasa percaya diri anak di hadapan teman-temannya. Anak menjadi yakin atas kemampuannya dan tumbuh keberanian untuk menjadikannya bagian dari jati dirinya. 
  • Mendapat pengalaman berharga, yaitu pernah menjadi anak yang telah memuncaki suatu perjuangan pada kompetisi yang ia ikuti. Ia dapat belajar dari apa yang ia alami sendiri mengatasi berbagai rintangan dan menembus peluang untuk mendapatkan posisi puncaknya. 
  • Menjadikan anak merasa bermakna. Ia sadar memiliki sumbangsih atas prestasinya itu kepada pihak yang mengirimnya ke ajang kompetisi (sekolah, pemerintah atau masyarakatnya). Perasaan bermakna dapat mendorong anak menjaga citra baiknya dengan menghindari perbuatan yang tercela.   
  1. Setiap anak adalah para pejuang islam

Ada perlombaan yang sangat mulia di hadapan Allah, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan. Ada prestasi yang sangat harum di hadapan Allah, yaitu menjadi pejuang islam

Abdullah bin Abbas saat masih kecil sudah mendapat nasehat perjuangan dari Rasulullah SAW. Ia diingatkan agar menjadi pejuang  tauhid. 

Dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Aku dahulu suatu hari berada di belakang Rasulullah SAW, lalu beliau berkata, “Hai, Nak, kuajarkan kepadamu beberapa pelajaran; Jagalah Allah, maka Dia akan menjaga-Mu. Jagalah Allah, engkau akan dapatkan Dia berada di hadapan-Mu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau minta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya umat ini, jika mereka berkumpul untuk mendatangkan suatu manfaat untukmu, niscaya mereka tidak dapat mendapatkan manfaat untukmu kecuali apa yang Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mendatangkan bahaya untukmu, niscaya mereka tidak dapat mendatangkan suatupun bahwa untukmu selain apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan catatan telah kering” (HR Muslim)

Sejak anak mampu membedakan kebaikan dan keburukan, ia telah menjadi bagian dari pejuang islam bersama keluarganya, sekolahnya, atau masyarakatnya. Biarkan anak menjadi bagian dari kemeriahan masjid, menjadi bagian dari semarak hari-hari besar islam, atau mengisi ruang-ruang pergaulan di masyarakat dengan memberi contoh kebaikan melalui sikapnya. 

Itu juga prestasi, meskipun tanpa gelar juara. Tak ada medali dan piala, apalagi hadiah. Sebab Allah telah menyediakan yang lebih besar dari itu semua dengan cara-Nya dan di saat yang dikehendaki-Nya.

 

[Yazid Subakti]

Rihlah, Perjalanan Bermakna

Rihlah, Perjalanan Bermakna

Parenting – Banyak Manfaat perjalanan sesuai tujuannya. Misalnya perjalanan ke sebuah tempat wisata jelas bertujuan menikmati tempat tersebut. Jadi, apa makna sebenarnya dari rihlah?

  1. Bukan sekedar plesir 

Rihlah adalah menempuh perjalanan dari rumah menuju suatu tempat dengan kegiatan atau maksud tertentu di tempat yang dituju. Dalam bahasa sehari-hari kita sering menyebutnya piknik. Dalam acara piknik, nuansa selama perjalanan sampai tujuan biasanya dipenuhi oleh kesenangan-kesenangan, pelampiasan kegembiraan dan semua hal yang menyenangkan. Oleh karenanya disebut juga plesir (pleasure), yaitu bepergian untuk bersenang-senang. 

Tidak ada larangan untuk plesir, bahkan merupakan terapi menenangkan atau meredam gejolak jiwa bagi orang-orang yang terlalu lama suntuk dalam kejenuhan. Plesir atau piknik dapat menjadi penyegar dan pembangkit kembali energi yang terkuras selama berhari-hari bekerja. 

Namun demikian, jika perjalanan ini dimaksudkan untuk memberi edukasi bagi anak, maka yang lebih tepat adalah rihlah. Rihlah keluarga tidak jauh berbeda dengan piknik. Hanya saja didalamnya disisipkan pesan-pesan kebaikan dan berbagai latihan yang sengaja dirancang untuk membentuk kepribadian anak. 

  1. Manfaat rihlah 

Ada begitu banyak Manfaat rihlah sesuai tujuannya. Menempuh perjalanan ke sebuah tempat wisata  jelas bertujuan menikmati tempat tersebut. Jika rihlah ini dalam rangka mendidik anak, maka orang tua dapat memasukkan nilai-nilai kepribadian baik selama perjalanan dan saat di tempat tujuan sesuai objek yang dikunjungi. 

  • Menikmati keindahan alam

Main ke gunung bertujuan menikmati keindahan alam pegunungan. Wisata ke pantai menikmati suasana pantai dengan segala yang ada di sana. Wisata ke taman safari atau kebun binatang berarti menyaksikan keunikan satwa-satwanya. Saat menikmati keindahan, anak diajak bersyukur kepada Allah dan bertasbih sebagai ungkapan kagum atas kebesaran-Nya. 

  • Menambah wawasan

Anda dapat mengajak anak ke museum peninggalan benda bersejarah (benteng, benda-benda perjuangan masa lampau, peninggalan kerajaan masa lalu dan lain-lain) untuk menambah wawasan sejarah. Ini penting penting untuk menumbuhkan kebanggaan anak terhadap bangsanya dan menyadari bahwa bangsa ini merdeka karena sebuah perjuangan. Anda dapat menyampaikan betapa pentingnya menghargai jasa pahlawan, minimal dengan cara mendoakannya.   

  • Mengambil inspirasi

Ada perjalanan wisata yang ketika datang anak mendapat inspirasi dalam pikirannya. Wisata seperti berupa tempat-tempat unjuk keterampilan atau produksi barang-barang kreatif. Anda dapat mengajak anak ke lokasi pembuatan batik dan biarkan ia mencoba praktik membatik, atau kunjungan ke tempat perakitan pesawat untuk mengamati bagaimana  sebuah pesawat yang tampak sederhana itu dirakit dengan amat rumit. Tempat-tempat yang dapat menjadi sumber inspirasi lainnya misalnya ke stasiun ruang angkasa, stasiun teropong bintang, perkebunan modern, pusan tenun sarung, pameran karya kreatif dan sebagainya.      

  • Berpetualang

Ada kalanya keasyikan tidak dengan cara yang sepenuhnya nyaman. Dalam wisata petualangan, anda mengajak anak menaklukkan rasa takut dan menguji ketangguhan fisik dan mental melalui berbagai keadaan alam dan rintangan. And dapat mengajak anak menyusuri gua atau sungai bawah tanah, arung jeram di sungai berair deras, menjelajah hutan rumba, atau pendakian gunung. Tumbuhkan jiwa beraninya, tekad kuatnya, dan semangat membaranya.  

  • Menikmati sajian

Ini adalah jenis kunjungan yang tidak banyak pengorbanan dan biasanya murni hanya untuk bersenang-senang. Wisata seperti ini bisa dengan mendatangi pusat pusat kuliner untuk menikmati berbagai hidangan, menonton pentas atau pertunjukan kesenian, atau menghadiri pameran seni budaya.   

  1. Hindari hal-hal yang terlarang 

Pergi untuk berhibur atau bersenang-senang hukumnya mubah atau boleh asalkan tidak melakukan hal-hal terlarang atau mendatangi tempat dan peristiwa yang haram. Menikmati alam, menikmati sajian, mempelajari proses kreatif, menempa diri dengan berpetualang dan mengunjungi pusat makanan lezat adalah diperbolehkan. Perbuatan ini dapat meningkatkan rasa bahagia, melepas kejenuhan dan mengembalikan tenaga agar setelahnya dapat kembali melakukan aktivitas dengan fokus penuh. 

Hindari melakukan perbuatan terlarang, misalnya terlalu asyik bersenang-senang hingga hati menjadi lalai membuka aurat atau meninggalkan salat. Perlu antisipasi agar sebelum berangkat pastikan bahwa di tempat tujuan tidak sedang ada acara yang mengandung kemaksiatan misalnya pentas yang mempertontonkan lagu atau tarian vulgar dengan kerumunan penonton yang mabuk oleh minuman keras.   

  1. Agar tetap nyaman dan asyik 

Jangan sampai perjalanan mencari keasyikan berbuah kesedihan karena tertimpa  masalah yang menyebalkan. Bukannya mendapatkan kesenangan dan penyegaran jiwa, tetapi malah stress dan kekecewaan. 

  1. Tentukan waktu yang tepat, yaitu hari atau tanggal ketika anak libur sekolah dan Anda juga dalam keadaan luang atau sengaja meluangkan.  
  2. Batasi waktu dan durasi yang cukup, yaitu berapa lama perjalanan atau berapa lama akan berada di lokasi tujuan. Ini penting untuk menghindari anak lupa diri ketika terlalu asyik menikmati.  
  3. Biarkan anak ikut memilih lokasi atau tujuan. Acara ini bertujuan untuk kesenangan anak, maka anak berhak turut menentukan ke mana yang ia inginkan. 
  4. Siapkan perbekalan secukupnya, yaitu bekal yang tidak kurang dan tidak terlalu berlebih. Perbekalan makanan dan uang yang cukup untuk keperluan selama perjalanan dan di lokasi. 
  5. Nikmati tanpa harus memaksa diri bergaya mewah. Di lokasi keramaian wisata sering terjadi tindak kejahatan yang biasanya mengincar perhiasan atau harta pengunjung yang tampak memamerkan kemewahannya.  
  6. Pertimbangkan cuaca pada hari keberangkatan. Jika memungkinkan, pilih hari yang kemungkinan kecil akan terjadi  cuaca buruk (turun hujan, angin, petir dan lainnya)
  7. Siap siagakan segala kemungkinan darurat selama perjalanan dan di tempat tujuan, setidaknya dengan membawa  kotak pertolongan pertama.

 

[Yazid Subakti]

Menanamkan Kesukaan Membaca

Menanamkan Kesukaan Membaca

Parenting – membaca adalah kebiasaan anak-anak dan pemuda muslim sejak zaman dahulu yang terbukti menghasilkan generasi cendekia.

  1. Membaca adalah kebiasaan umat islam sejak lampau 

Di zaman Rasulullah, sudah ada rumah baca yang disebut Darul Qurra’  (rumah para pembaca).  Budaya baca tulis bangsa arab yang sebelumnya lambat menjadi berkembang secara luas di Madinah dalam waktu yang cukup singkat. Banyaknya jumlah sahabat yang dapat membaca ini sangat menakjubkan hingga di kalangan anshar terdapat 70 orang muda yang dikenal dengan sebutan al-Qurra (orang yang pandai membaca).

Di masa-masa setelah  itu, membaca (juga menulis) sudah menjadi kegemaran anak-anak dan pemuda muslim. Maka wajar jika dalam kurung beberapa generasi setelahnya islam menampilkan wajah inteleknya dengan kemunculan para pakar dari kalangan kaum muslimin: ahli kedokteran, ahli fisika, ahli ilmu bumi, ahli matematika, ahli filsafat, ahli sejarah dan sebagainya. Para pakar ini menulis buku dan menyebarkan ilmunya hingga namanya masyhur sampai hari ini. 

Maka janganlah hari ini tradisi itu digantikan oleh anak-anak muslim dengan menonton TV dan bermain game. Anak-anak harus gemar membaca karena kepemimpinan dunia mungkin kelak ada di pundaknya.

  1. Membaca apa dan bagaimana?

Ajak anak meningkatkan kegemaran membaca apa saja bacaan yang mengandung informasi bermanfaat. Yang dimaksud bacaan bermanfaat adalah jika menambahkan pengetahuan baru, meningkatkan pemahaman, mendatangkan kesenangan atau hiburan, memberi inspirasi dan membangkitkan semangat untuk berbuat baik. 

Jadi, bukan media apa yang dibaca, melainkan isi dari bacaannya. Medianya bisa berupa buku-buku cetak, buku bergambar atau komik, novel, majalah, surat kabar, buku elektronik, bahkan bacaan dari website di saluran internet yang tersaring dari serangan-serangan konten negatif.

Tentang cara membaca, setiap anak memiliki gaya dan caranya masing-masing. Satu anak akan memiliki kecenderungan yang berbeda dengan anak lain. Sebagian anak suka membaca dengan suara keras (aloud reading), sebagian dengan diam (silent reading). Ada anak yang nyaman membaca sambil menyendiri di dalam kamar, sebagian anak terbiasa membaca dalam keramaian. Anak tertentu menunggu saat benar-benar luang untuk membaca satu buku sekali baca, anak lain memilih membaca sehalaman atau memilih bab paling menarik dan kapanpun membacanya dalam waktu pendek-pendek.

Sebagai pemantik setiap harinya, orang tua memang diharapkan menampakkan diri melakukan aktivitas membaca di hadapan anak. Jadikan baca adalah kebiasaan sekeluarga dengan sosok orang tua sebaga contohnya, bukan aturan keluarga yang  hanya berlaku bagi anak. 

Untuk menguatkan suasana seperti ini, hal-hal yang melemahkannya memang harus disingkirkan, misalnya televisi dan alat-alat game seperti playstation. 

  1. Manfaat membaca 

  • Mengaktifkan  sel-sel otak 

Baca berhubungan dengan perkembangan otak anak. Saat anak sedang membaca, sel-sel otaknya aktif mengolah huruf-huruf menjadi kata dan kalimat. Saat itu pula sel-sel otak menghubungkan antara huruf dan makna kalimat yang dirangkai. Kalimat ini tentu saja masih berkaitan dengan kalimat lain sehingga sel-sel otak harus mengolah lagi  untuk menemukan kesatuan utuh dari informasi yang tersampaikan oleh bahan bacaan yang ia baca. 

  • Merangsang kecintaan terhadap pengetahuan

Membaca berarti berburu pengetahuan. Semakin banyak yang baca, semakin berpeluang banyak hal akan kita ketahui. Biasanya anak yang sudah mulai merasakan kenikmatan membaca akan terus membaca. Ia menjadi suka dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang datang dari bacaan. 

  • memperkaya kosakata 

anak anak yang jarang membaca biasanya terlihat dari cara berbicaranya yang terbatas dalam penggunaan kosakata. Pada saat menulis kalimat paragraf ia mengulang-ulang kata yang sudah ia gunakan. Saat berbicara di depan umum sering tercekat atau seperti tidak menemukan suatu maksud yang ingin ia katakan. Akhirnya ia dinilai tidak cakap.  

  • meningkatkan rasa percaya diri 

kegemaran baca membuat anak banyak memiliki wawasan dan cadangan informasi dalam memori otaknya. Ia seperti memindah isi bacaan ke sel-sel otak untuk suatu saat dapat keluar jika butuh. Anak menjadi percaya diri dan berani mengemukakan pendapat. 

Berlomba-lomba dalam kebaikan

Allah memerintahkan hamba-Nya agar gemar berlomba dalam kebaikan. Setinggi apapun cita-cita anak, ia harus termotivasi bahwa semuanya dalam rangka berlomba dalam  kebaikan. Kebaikan adalah segala sesuatu yang membawa kemaslahatan atau manfaat bagi manusia, berdampak menyenangkan atau membuat bahagia. Berlomba artinya berusaha melakukan suatu kegiatan dengan tingkatan yang paling tinggi atau terdepan.

Sebagai pembiasaan berlomba dalam kebaikan, anak dapat melakukannya di rumah, lingkungan masyarakatnya, dan di sekolahnya.

Berlomba dalam kebaikan di rumah dapat dengan, 

  • melakukan pekerjaan di rumah sebelum menyuruh orang lain
  • berusaha bangun pagi paling awal sebelum yang lain bangun
  • melakukan kegiatan ibadah lebih banyak daripada anggota keluarga lain

Berlomba dalam kebaikan di lingkungan masyarakat dapat dengan,

  • menjadi penggerak masyarakat, tanpa menunggu perintah 
  • peduli pada lingkungan sekitar ketika orang lain membiarkannya
  • menjadi orang paling awal dalam hal menolong sesama

Berlomba dalam kebaikan di sekolah dapat memulainya dengan 

  • Berusaha menjadi siswa terbaik di sekolah dengan prestasi tertinggi
  • Menjadi siswa paling menguasai ilmu di sekolah 
  • Aktif dalam organisasi sekolah dan mempelajari kepemimpinan 

 

[Yazid Subakti]