Mengjarkan Keterampilan Berenang, Berkuda, dan Memanah

Mengjarkan Keterampilan Berenang, Berkuda, dan Memanah

Parenting – Keterampilan berenang, berkuda, dan memanah merupakan sunnah yang dianjurkan. Maka anak perlu dikenalkan sejak dini.

  1. Mengajak anak berlatih memanah

Memanah adalah olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Beliau mengingatkan dengan nada yang sangat menekankan, 

Rasulullah SAW berada di atas mimbar berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!” (HR Abu Dawud)

Pada masa Rasulullah SAW, memanah  adalah keahlian yang memberi sumbangsih besar kepada kaum muslimin dalam memetik kemenangan di berbagai medan perjuangan. Oleh karenanya, dalam setiap peperangan selalu disiapkan barisan pasukan pemanah sebagai pelapis barisan lain.  

Pada masa penaklukan Konstantinopel di abad 14, keterampilan memanah bahkan menjadi kunci kemenangan pasukan Sultan Muhammad Alfatih. Pasukan Sultan Muhammad terlebih dahulu berenang mengarungi Selat Bosphorus, kemudian berkuda sambil terus melepaskan ribuan anak panah menyerang pasukan musuh. Dan akhirnya,  Konstantinopel yang sinis dengan islam itu pun takluk. 

Panah adalah salah satu alat pertama kali bagi manusia di awal-awal peradaban. Ada kisah di zaman nabi Adam bahwa Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk memberikan busur dan dua anak panah kepada Nabi Adam. Oleh nabi Adam, panah inilah yang ia gunakan untuk berburu burung yang mengganggu tanaman. 

Selain berhubungan dengan peradaban islam, memanah mengandung manfaat bagi kesehatan sebagai latihan koordinasi tangan dan mata, meningkatkan keseimbangan motorik, memperbaiki fokus pikiran dan menambah kepercayaan diri. 

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hiburan kecuali dalam tiga hal; seorang laki-laki yang melatih kudanya, candaan seseorang terhadap isterinya, dan lemparan anak panahnya. Dan barangsiapa yang tidak memanah setelah ia mengetahui ilmunya karena tidak menyenanginya, maka sesungguhnya hal itu adalah kenikmatan yang ia kufuri.” (NASAI – 3522)

Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah,” (HR Bukhari dan  Muslim).

Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda).”(HR Muslim)

  1. Memfasilitasi anak belajar berkuda 

Berkuda adalah keterampilan yang membutuhkan banyak kecakapan khas. Kecakapan ini tidak hanya membuktikan kepandaiannya naik kuda, melainkan sisi lain dari ketangguhan dan kuatnya kepribadian. Oleh karena itu tidak semua berminat menguasai keterampilan ini. Padahal Allah dan rasul-Nya sangat menganjurkan, 

Allah berfirman, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari (pemeliharaan) kuda-kuda yg ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah.” (QS Al Anfal:60).

Rasulullah SAW bersabda, “Semua hal yang melalaikan dibenci Allah, kecuali tiga hal: kemesraan suami istri, memanah , dan berkuda.” (HR Thabrani).

Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah.” (HR Bukhari Muslim).

keterampilan berkuda selain membawa kebaikan sunnah juga mengandung manfaat bagi anak, yaitu belajar mengendalikan emosi dan bekerjasama dengan sesama makhluk, juga melatih kesabaran menghadapi keinginan yang tidak selalu sama. Yang tak kalah penting, berkuda mengajarkan penunggangnya untuk bertindak dengan rasa. Kuda sangat sensitif dengan sentuhan dan perintah, memiliki kesetiaan, dan juga dapat memberontak.   

  1. Melatih berenang 

Berenang adalah olahraga yang juga ada dalam hadits Nabi. 

Dari Jabir bin Abdillah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasa’i).

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mengajarkan renang bukan termasuk perbuatan yang sia-sia, sebagaimana beberapa perbuatan lainnya, meskipun tidak memerintahkan atau menekankan kesunnahannya atau mencontohkan perbuatannya. 

Sahabat Umar bin Al-Khattab pernah berkata,”Ajari anak-anakmu berenang, memanah dan naik kuda”.

Berenang mengandung banyak makna bagi manusia. Ini adalah aktivitas di atas air yang memerlukan keterampilan khusus untuk mengapung dan mengolah gerakan sedemikian rupa sehingga badan yang seharusnya tenggelam menjadi tidak tenggelam. Berenang adalah cara manusia mencoba kehidupan di luar kebiasaannya yang semula di darat menjadi di air dengan mengubah sikap tubuh. selama berenang, hampir semua organ gerak manusia terpakai mulai dari kepala sampai kaki. Itulah sebabnya, para atlet renang memiliki bentuk badan yang ideal karena semua bagian ototnya terlatih, semua lemaknya juga terbakar. 

Anjuran seorang muslim berenang mengandung hikmah pentingnya manusia menguasai alam selain daratan, yaitu alam air untuk beberapa saat hidup di atasnya. Pada situasi darurat misalnya banjir atau kapal tenggelam. Kemampuan berenang adalah harapan besar untuk bertahan sampai mendapat pertolongan atau menemukan daratan. Setidaknya ada kesempatan menyelamatkan diri sendiri beberapa saat.     

  1. Diajarkan sejak kecil

Memanah, berkuda, dan berenang sebaiknya sudah sejak usia masih kecil, atau setidaknya mulai pada usia menjelang remaja. Sebab belajar menguasai sesuatu akan menjadi lebih mudah bila dikerjakan di usia awal, dan semakin sulit jika dimulai di masa-masa tua. Otot-otot dan sikap tidak mudah lagi untuk dibentuk. 

Di samping itu, masa anak-anak memungkinkan adanya waktu yang lebih luang dan pikiran lebih tenang untuk berlatih daripada ketika sudah dewasa. Saat dewasa, membagi waktu dan konsentrasi semakin sempit.

 

[Yazid Subakti]

Perjalanan Safar – Bagian 2 : Mengenalkan adab safar 

Perjalanan Safar – Bagian 2 : Mengenalkan adab safar 

Parenting – Dalam Islam terdapat adab safar. Ini karena perjalanan jauh safar akan mengubah sebagian hukum syariah, terutama yang berhubungan dengan ibadah.

Melakukan perjalanan safar sebaiknya tidak sendirian, melainkan bersama beberapa orang yang terpercaya. Ini untuk pertimbangan keamanan dan bisa saling mengingatkan kebaikan dan melarang kemungkaran selama di perjalanan. 

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar.“ (HR. Malik, Abu Daud, dan At Tirmidzi)

Lebih-lebih perjalanan malam hari, Rasulullah SAW mengingatkan agar jangan sampai sendirian, 

 “Andaikan orang-orang mengetahui akibat dari bersafar sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka mereka tidak akan bersafar di malam hari sendirian.“ (HR. Bukhari)

  • Serombongan dengan orang baik

Bersafar sebaiknya berombongan dengan orang saleh jika memungkinkan. Nabi SAW bersabda:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Teman safar yang salih akan memberi pengaruh kebaikan dan memberi peringatan jika kita lalai. Dalam acara safar keluarga, anda mestinya berhati-hati untuk tidak memasukkan orang dari luar keluarga yang tidak salih. Misalnya menyewa supir atau mengajak pembantu rumah tangga. Sering terjadi sopir sewaan ternyata perokok berat, peminum alkohol, dan tidak terbiasa salat sehingga selama mengantar dan di lokasi safar ada pemandangan mengganggu dengan kepulan asap rokok beserta baunya, minuman haram, dan sosok yang memilih tidur pada saat yang lain salat berjamaah.    

  • Mengangkat pemimpin perjalanan 

Pemimpin rombongan safar sebaiknya yang mempunyai akhlak yang baik, akrab, dan tidak egois. Untuk safar keluarga, seorang ayah adalah pemimpin rombongan yang memberi contoh seluruh keluarganya untuk memimpin. Di masa-masa berikutnya ketika anak sudah akil baligh, pemimpin bisa dari kalangan anak untuk belajar bertanggung jawab. 

Perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar adalah hadits nabi SAW,

“Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu di antaranya sebagai ketua rombongan.” [HR Bukhari]

Pentingnya pemimpin perjalanan adalah agar selama safar ada satu orang yang bertanggung jawab mengarahkan, memfasilitasi musyawarah, atau mengambil keputusan. Jika terjadi situasi genting atau mendesak, maka pemimpinlah yang memutuskan rombongan harus berbuat apa. 

  • Boleh Salat jama’

Anak-anak yang sehari-hari salat secara normal di masjid perumahan akan merasakan pengalaman salat dengan cara tidak biasa, yaitu salat jama’.

Salat jama’ adalah menggabungkan dua salat wajib dalam satu waktu salat. Misalnya zuhur dan asar dalam satu waktu, yaitu di waktu zuhur atau asarnya, dan maghrib dan isya dalam sekali waktu pada waktu maghrib atau isya. Salat subuh pada waktunya dan tidak dapat menjamak dengan salat sebelumnya atau sesudahnya.

Boleh menjama’ salat wajib ketika kita dalam perjalanan safar untuk memberi kemudahan dan kelancaran perjalanan. Menjama’ salat boleh secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas ra beliau mengatakan:

“Rasulullah SAW menjamak salat Zuhur dan salat Asar, dan menjamak salat Magrib dan Isya, di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim).

Salat Jama’ ini hanya boleh dilakukan saat perjalanan dirasa berat untuk mencari pemberhentian dan tempat yang layak untuk salat. Jika perjalanan sangat ringan dan dimungkinkan banyak tempat berhenti untuk salat dengan layak, maka tidak perlu menjama’.

  • Meng-qashar Salat

Qashar artinya meringkas jumlah rakaat salat, yaitu salat yang jumlah rakaatnya empat diringkas menjadi dua rakaat. Jadi, salat yang bisa diqashar adalah salat zuhur, ashar, dan isya’. 

Meringkas jumlah rakaat salat atau qashar ini bukan hanya dibolehkan, tetapi dianjurkan ketika safar. 

Ibnu Umar ra  menceritakan: “Aku biasa menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau tidak pernah menambah salat lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, radhiallahu’anhum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengqashar salat ketika safar hukumnya sunnah muakkadah, meskipun tetap sah jika tidak mengqasharnya (tetap dilakukan dengan empat rakaat). Jika seorang musafir bermakmum pada imam yang salatnya tidak qashar, maka makmum tidak boleh mengqashar meskipun seorang musafir.

Dengan mengikutkan safar, anak akhirnya mengalami sendiri bahwa ada praktik salat yang normalnya empat rakaat menjadi dua rakaat. Ini pengalaman dan wawasan yang sangat berguna baginya. 

  • Persiapan pemberangkatan 

Safar akan menempuh jarak jauh dengan kondisi selama perjalanan yang tak selalu dapat diperkirakan. Untuk itu, segala kemungkinan harus diantisipasi sejak awal. Libatkan anak dalam persiapan sebelum pemberangkatan agar ia memiliki pengalaman mempersiapkan perjalanan jauh. 

    • Persiapan logistic

Yaitu bekal untuk penghidupan selama waktu-waktu tak memungkinkan membeli makanan. Pada ruas jalan tertentu aka nada tempat-tempat yang tak terdapat orang berjualan atau kalaupun ada tidak ada jaminan halalnya. Pada waktu tertentu misalnya di tengah malam sampai pagi juga sulit ditemukan penjual makanan sehingga mau tak mau harus ada bekal makanan siap konsumsi. 

    • Makanan

Makanan untuk perjalanan jauh berbeda dengan makanan di rumah. Jikapun sama jenisnya, cara makannya akan berbeda karena kondisi darurat. Anda tak mungkin membawa semua piring dan gelas seperti di rumah, tetapi harus mengemas makanan dalam bungkus kertas atau dus dan di makan di tempat seadanya, bukan di meja seperti biasanya ketika di rumah. Jenis menu tidak banyak berkuah. Jenis makanan ringan dipilih yang kering dan praktis. Mengandung kalori dan vitamin yang tinggi. 

    • Obat

Menyediakan obat-obatan yang selama ini sering digunakan karena penyakit tertentu. Beberapa orang menderita alergi sehingga setiap terkena debu, hawa dingin, hawa panas, atau faktor lain sehingga harus membawa obat anti alergi. Bisa jadi beberapa orang sehat-sehat saja, tetapi di saat tertentu mungkin saja sakit flu, batuk, demam, infeksi mata, maag, atau lainnya sehingga obat-obatan tetap harus disiapkan. Beberapa anak mudah mabuk perjalanan sehingga harus membawa obat anti mabuk.

    • Pakaian ganti yang cukup

Paitu sesuai dengan jenis aktivitas selama safar dan jumlah hari bepergiannya. Semakin padat aktivitas, semakin cepat pakaian kotor atau menuntut pergantian kostum tertentu sesuai jenis acaranya. Semakin lama bepergian, semakin banyak berganti pakaian.

    • Alat Komunikasi

Menyiapkan alat komunikasi dalam keadaan siap pakai baik alatnya maupun biaya operator penyelenggara saluran komunikasinya. Komunikasi ini sangat penting selama safar karena dalam keadaan tertentu ada kabar yang harus disampaikan kepada keluarga atau siapapun yang harus dihubungi. 

    • Uang

Jangan lupa uang atau bentuk lain dari uang untuk jual beli, misalnya kartu yang dapat digunakan  untuk menarik uang atau uang elektronik yang dapat digunakan untuk jual beli di tempat yang dapat melayani secara elektronik. Namun bagaimanapun, uang tunai tetap perlu karena beberapa toko atau warung di pinggir jalan hanya akan bersedia jual beli dengan uang tunai. 

    • Peralatan kebersihan secukupnya

Yaitu alat-alat dan bahan untuk mandi, keramas jika memungkinkan, dan menggosok gigi. Jadi, anda tetap membawa sabun, sampo, dan sikat gigi sebagai ikhtiar melanjutkan kebiasaan hidup bersih meskipun dalam perjalanan. 

    • Alat ibadah

Yaitu alat-alat untuk salat dan mushaf untuk membaca Al-Qur’an. Tunjukkan teladan anda kepada anak bahwa sesulit apapun perjalanan, ibadah tetap akan dilakukan, bahkan memungkinkan lebih khusyu’ daripada biasanya.

    • Mengemas semua alat dan keperluan dengan kemasan yang rapi, praktis dan aman

Jangan biasakan bepergian dengan barang-barang yang terkemas dalam bentuk bungkusan kecil-kecil tetapi banyak. Yang praktis adalah satu atau dua bungkus besar dan agak kecil, agar tidak membingungkan. Barang yang akan diperlukan sewaktu-waktu dikumpulkan dalam tas kecil yang selalu dibawa, sementara benda lainnya di koper atau tas besar yang tidak dibuka sebelum sampai tujuan.

    • Menyiapkan kondisi kendaraan

Jika safar menggunakan kendaraan pribadi, maka kendaraan harus dalam kondisi siap jalan. Sebaiknya servis kendaraan dua atau tiga hari sebelum berangkat, untuk memeriksa bagian-bagian yang berkemungkinan rusak.      

  • Salat dua rakaat sebelum berangkat dan dua rakaat sepulangnya 

Melakukan salat dua raka’at ketika hendak pergi safar adalah sunnah. Begitu pula sepulangnya dari perjalanan. Ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,

“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah” [HR Al Bazzar]

    • Mulai berangkat dengan membaca doa 

Mulailah pemberangkatan safar dengan doa memohon kekuatan kepada Allah, memohon perlindungan dan keselamatan selama perjalanan agar sampai tujuan. 

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda:

”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)’” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi).

Ajarkan doa ini kepada anak, lalu ajak membacanya bersama atau sendiri-sendiri sebagai rasa tawakal atau menyerahkan keputusan terbaik kepada Allah. 

    • Berpamitan 

Ketika bepergian, anda mestinya berpamitan kepada orang-orang yang anda tinggalkan, yaitu keluarga, tetangga, atau kerabat. Maksud berpamitan ini adalah pemberitahuan untuk memohon doa keselamatan dan sebagai kabar bahwa anda akan meninggalkan mereka beberapa waktu. Kelak jika terjadi sesuatu pada anda, mereka akan memaklumi.  

Jika ada hal-hal yang perlu dititipkan, titipkan kepada mereka. Jika ada pesan-pesan yang harus ditunaikan selama anda bepergian, sampaikan pesan itu. Atau ada kewajiban-kewajiban kepada mereka yang harus anda penuhi, sebaiknya penuhi dulu kewajiban itu. 

Anda harus memastikan bahwa di hari-hari yang anda tinggalkan tidak ada janji untuk bertemu dengan seseorang. Jika ada, anda harus meminta kerelaannya untuk membatalkan atau membuat jadwal ulang.

Saat bepergian, sebaiknya semua persoalan sudah terselesaikan atau titipkan kepada orang yang terpercaya. Tidak mengapa jika anda menitipkan kunci kepada petugas keamanan, tetangga terpercaya atau kepada saudara. Ini penting agar suatu saat jika peristiwa mencurigakan atau darurat di rumah, orang-orang ini tetap dapat membuka rumah untuk melakukan penyelamatan.    

    • Memperbanyak zikir dan doa selama di perjalanan

Waktu selama di perjalanan sebaiknya memperbanyak doa. Sebab, safar adalah salah satu waktu mustajab saat terkabulkannya doa. Ini seperti sabda Rasulullah SAW sebagai riwayat hadits Dari Abu Hurairah ra, 

Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Selain berdoa, selama di perjalanan sebisa mungkin banyak berzikir. Zikir membuat kita ingat kepada Allah dan menambah rasa tawakal kepada-Nya. Sebab, kita tak pernah tahu akhir dari perjalanan ini seperti apa. Jika berakhir dengan kematian (misalnya karena kecelakaan), maka setidaknnya kita meninggal dalam keadaan sedang berzikir. 

    • Safar seperlunya 

Safar sebaiknya seperlunya saja. Maksudnya, jika semua urusan penting yang menjadi tujuan safar telah selesai, maka sebaiknya segera pulang tanpa berlama-lama lagi untuk acara yang kurang penting. 

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Safar adalah sepotong azab, seseorang di antara kalian ada yang terhalang untuk makan, terhalang untuk minum atau untuk tidur. Maka jika kalian sudah menyelesaikan urusannya, maka hendaknya segera kembali pada keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

[Yazid Subakti]

Perjalanan Safar – Bagian 1

Perjalanan Safar – Bagian 1

Parenting – Safar secara bahasa artinya membuka atau menyingkap. Para Ulama mendefinisikan perjalanan safar dengan keluar dari negeri tempat bermukim menuju suatu tempat dengan jarak tempuh tertentu yang membolehkan seseorang untuk mengerjakan salat secara qashar atau jama’. Orang yang melakukan safar disebut musafir.

Bepergian jauh ini dinamai safar karena dapat menyingkap wajah dan karakter para musafir. Saat safar, sifat-sifat asli musafir yang selama ini tersembunyi akan tampak lebih jelas. 

Berapa jarak yang menyebabkan bepergian disebut safar?

Ada beragam pendapat mengenai hal ini. Sahabat Ibnu Abbas mengumpamakan bahwa safar itu jika perjalanan menempuh jarak sejauh dari Usfan ke Mekkah, Thaif ke Mekkah, atau Jeddah ke mekkah. Ada juga yang membuat ukuran jarak sejauh dari Mekkah ke Mina, yaitu sekitar 30 mil. Sebab rasulullah pernah melakukan perjalanan dan salat qashar bersama sahabat dan menyebut sahabat yang dari Mekah sebagai musafir.  Para Ulama madzhab Ahmad menganggap safar jika perjalanan melebihi jarak 16 farsakh atau 48 mil atau sekitar 80 kilometer. Ulama yang lain berpendapat jarak safar harus 83 kilometer, juga ada yang 85 kilometer. 

Beberapa ulama mengaitkan safar dengan jarak tempuh, sementara ulama lain mendasarkan pada waktu tempuh perjalanan sehari semalam atau tiga hari tiga malam. Ada juga yang menyatakan bahwa pengertian safar dikembalikan pada kebiasaan adat (urf) warga setempat itu sendiri. Jadi, kalau menurut masyarakat perjalanan tersebut memang berat, jauh  dan penting, maka hukum safar sudah berlaku. Jika menurut masyarakatnya ringan dan biasa-biasa saja berarti bukan termasuk safar.   

Safar pada asalnya merupakan aktivitas yang bersifat duniawi, tetapi dapat bernilai ibadah jika diawali dengan niat ibadah dan dilakukan berdasar ketentuan islam. Jadi, safar dapat menjadi ladang pahala jika kita melakukannya dengan sunnah-sunnah yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 

  • Tujuan safar

Manusia dalam hidupnya memiliki banyak keperluan. Perjalanan jauh akan terjadi pada siapapun, terutama orang-orang penting yang memiliki kebutuhan luas atau keahliannya dibutuhkan banyak orang. Selain karena kegiatan, safar juga berhubungan dengan jalinan keluarga atau kekerabatan, yaitu keharusan memenuhi undangan keluarga yang jaraknya jauh, bersilaturahmi, atau pulang ke kampung halaman pada saat-saat tertentu.

Pada zaman Nabi, safar sering berhubungan dengan kegiatan mencari nafkah, berdakwah menyebarkan islam, urusan politik ke Negara tetangga, atau menjelajah tempat-tempat untuk mencari peluang penghidupan di masa mendatang. Saat ini, safar dengan tujuan seperti itu masih terjadi ditambah dengan tujuan-tujuan lain yang semakin beragam.

Pada hari-hari libur panjang, orang Indonesia banyak yang melakukan perjalanan jauh dengan istilah mudik atau kembali ke kampung halaman yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat mukim.

  • Jangan sampai anak tidak pernah mengalami safar 

Jangan mengurung anak dalam tembok-tembok rumah dan pagar halaman saja. Serta jangan mengekang pandangan anak dengan hanya memberinya kesempatan melihat gedung sekolahnya dan rumah-rumah tetangga saja. Berilah ia pengalaman safar yang menakjubkan dampaknya. 

Menguatkan keyakinan akidah dengan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah secara langsung dan nyata. Orang yang melakukan safar mendapatkan peluang melihat langsung berbagai fenomena alam, berbagai tipe manusia berdasarkan suku bangsa dan budaya, berbagai peristiwa sosial yang menyenangkan maupun menyedihkan. 

Safar adalah kegiatan yang sangat padat muatan pendidikan bagi anak. Banyak pelajaran kehidupan dan hikmah didapatkan dari safar. 

    • Memberi pengalaman perjalanan di muka bumi

Pengalaman ini sangat penting untuk memahami hakikat diri sebagai makhluk yang ternyata sangat terbatas pengetahuannya. Dengan safar, kita dapat berkesempatan menyaksikan dan merasakan secara nyata pergantian waktu. Anda dapat mengalami warn langit dan suara alam semesta dari sore menuju malam, malam sampai pertengahan malam, hingga menit-menit pergantian menuju pagi yang ternyata sangat menakjubkan. Kebanyakan manusia tidak mengetahui ini karena tidur dalam rumah. Tahunya hanya dari gelap menuju terang saja. 

    • Melihat karakter sesama

Karakter asli akan muncul selama perjalanan jauh. Orang dengan tingkat kesabaran yang rendah akan tampak mudah mengeluh dan putus asa, kemudian memandang negative perjalanannya atau menyalahkan orang lain. Orang yang egois langsung terlihat dengan jelas keengganannya berbagi, berbeda dengan orang dermawan yang mudah memberi. anak dengan sifat-sifat keras kepala, pemalu, periang, pendengki, optimis, penyendiri, pemberani, penakut, peragu, dan sifat lainnya mudah ia amati pada saat perjalanan safar.

    • Melatih ketangguhan fisik dan mental

Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam membutuhkan ketahanan fisik yang prima sebab apa yang pada saat normal di rumah tidak semuanya akan terpenuhi. Jika selama ini tak pernah terlambat sarapan pagi, maka pada saat safar jam sarapan mungkin akan bergeser. Jika selama ini tidur malam di kasur bersama bantal, maka saat safar harus beristirahat dengan kondisi menyesuaikan. Dengan safar, fisik tertempa untuk merasakan suhu ekstrim, cuaca buruk, atau situasi jalan yang menegangkan yang selama di rumah tidak pernah ia rasakan.      

    • Membuka wawasan dan inspirasi untuk berpikir jauh

Safar meluaskan cakrawala berpikir, bahwa di luar yang kita hadapi sehari-hari masih ada dunia  luas yang memberi banyak peluang. Anak akan melihat bahwa di luar rumahnya ada begitu banyak perkampungan yang jauh lebih padat atau jauh lebih renggang, ada masyarakat yang jauh lebih maju atau lebih terbelakang. Di luar sekolah tempatnya belajar ternyata ada sekolah yang jauh lebih bagus dan ada pula yang jauh lebih buruk. Di tempat yang jauh, ada desa yang gersang, ada kota yang gemerlap, dan ada begitu banyak pekerjaan atau profesi yang menjanjikan. Ada banyak tempat di muka bumi ini yang diciptakan oleh Allah untuk kebaikan hidup manusia.

  • Dalam safar ada latihan kecerdasan 

Ada satu jenis kecerdasan yang Paul G. Stoltz rumuskan, yaitu Adversity Quotient. Ini adalah jenis kecerdasan menghadapi persoalan hidup. Jadi, ukuran kecerdasan ini menunjukkan seberapa mampu anak menghadapi kesulitan dan tantangan dalam hidupnya, seberapa kuat anak bertahan dalam tekanan-tekanan yang ia hadapi. 

Ilustrasi bahwa ada sekelompok orang sedang ramai-ramai melakukan pendakian gunung. Dalam rombongan itu, akan ada tiga kelompok anak sesuai kecenderungannya menghadapi tantangan pendakian.

Pertama, kelompok quitter yang mudah menyerah setelah tahu bahwa gunung itu tinggi dan mendakinya penuh perjuangan. Ia memilih berhenti di kaki gunung tanpa pernah mencoba mendaki. 

Kedua, kelompok camper yang tetap mencoba mendaki tetapi berhenti di lereng untuk beristirahat membuat kemah. Ia merasa sudah berjuang dan cukup sampai lereng saja karena takut resiko jika harus menuju puncak.   

Ketiga, kelompok climbing yang terus tidak akan menghentikan pendakian sebelum sampai ke puncak sebagai tujuan utama. Ia mengetahui risiko dan tantangan, tetapi mencoba mengatasinya sambil terus berjalan ke puncak. 

Perjalanan safar adalah latihan kecerdasan, yaitu mengenalkan anak pada tantangan-tantangan yang selama ini tidak terjadi di rumah. Atas tantangan ini, anak mendapat pengalaman mencari solusi untuk menaklukkannya. Anak harus bertahan dan tetap melanjutkan misi safarnya dalam keadaan makanan terbatas, cuaca tidak nyaman, beribadah dalam kondisi tidak normal, atau menghadapi masyarakat yang adatnya berbeda. Setidaknya, safar memberi anak pengalaman meninggalkan kebiasaan rutin dan nyaman di rumah. Bisa jadi di perjalanan akan menemukan hal baru yang lebih menyenangkan, atau sebaliknya lebih menantang.

 

[Yazid Subakti]

Setiap Anak Memiliki Potensi yang Berbeda

Setiap Anak Memiliki Potensi yang Berbeda

Parenting – Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Ana-anak yang lahir kembarpun tampak sekilas sama atau mirip, tetapi dalam beberapa hal tetap terdapat perbedaan.

  1. Tidak ada anak yang persis sama 

Allah telah menciptakan bermilyar, bahkan bertrilyun manusia di muka bumi ini dari sejak nabi Adam sampai manusia terakhir kelak menjelang sangkakala kiamat ditiupkan. Dari sebanyak itu manusia yang Dia ciptakan, tidak ada satupun yang memiliki kesamaan persis. Ana-anak yang lahir kembarpun tampak sekilas sama atau mirip, tetapi dalam beberapa hal tetap terdapat perbedaan. Setidaknya berbeda dalam sifat, kecenderungan, dan kemampuannya. 

Kenyataan bahwa setiap manusia selalu berbeda ini mengilhami kita bahwa dalam hal potensi pun anak-anak akan berbeda. Anak satu dengan lainnya mungkin saja ada yang memiliki kesamaan bakat, tetapi ukuran atau kadarnya tetap tidak persis sama. Dengan karakter yang juga berbeda sehingga jikapun bakat itu dikembangkan tetap ada kemungkinan memberikan hasil yang berbeda. Dau anak laki-laki yang sama-sama memiliki  bakat sepak bola saat dilatih bisa memiliki kecenderungan yang berbeda: satu cenderung menjadi penyerang dan satunya lagi menjadi pemain bertahan. Dua anak perempuan yang sama-sama berbakat memasak saat dilatih bisa menunjukkan kecenderungan yang tidak sama. Satu cenderung memasak olahan kue dan roti, satunya cenderung mengolah masakan sayur dan lauk. 

Pembicaraan potensi anak mengharuskan orang tua memahami bahwa penyeragaman perlakuan terhadap anak dengan alasan keadilan justru memberi peluang ketidakadilan karena memberi hak anak tidak sesuai kebutuhannya. Menuntut anak menjadi hebat seperti teman-temannya juga bisa menjerumuskan orang tua pada tindak kezaliman dan menyalahi amanah.  

Kita harus mengetahui potensi anak dan perbedaannya dengan saudaranya serta anak-anak lain. 

  1. Kecerdasan majemuk anak dan kecenderungannya

Setiap anak adalah pintar, dengan kepintarannya masing-masing. Seorang pakar pendidikan dari Universitas Harvard, Howard Gardner  membagi kecerdasan menjadi delapan jenis, yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart  (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), musik smart (kecerdasan musikal), picture smart (kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik), dan nature smart (kecerdasan naturalis).

Setiap anak bisa saja memiliki delapan jenis kecerdasan ini. Tetapi yang paling banyak adalah kecenderungan pada satu atau lebih jenis kecerdasan tersebut. 

  • Word smart (kecerdasan bahasa)

Ini adalah kepintaran yang berkaitan dengan kemampuan anak dalam mengolah, menggunakan, dan memahami bahasa, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. Kecerdasan bahasa dapat dilihat ketika anak suka membaca, cepat bisa mengeja kata dengan baik, suka menulis, kemampuan berbicara, dan kemampuan menyimak. 

  • Number smart (kecerdasan matematis)

Anak yang memiliki jenis kecerdasan ini bisa ditandai dengan ketertarikannya pada angka-angka, menyukai matematika, perhitungan, dan hal-hal yang berbau sains dan  logika. Ia suka mengukur, membandingkan, mengurutkan, dan memperkirakan suatu perhitungan dengan tepat.

  • Self smart  (kecerdasan intrapersonal)

Kecerdasan ini berhubungan dengan kemampuan anak mengelola perasaannya, mengendalikan suasana hati dan pikirannya. Anak dengan kemampuan ini cenderung lebih suka bermain sendiri, memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan bisa mengkomunikasikan perasaannya dengan baik kepada orang lain.   

  • People smart (kecerdasan interpersonal atau kecerdasan sosial)

Anak yang memiliki tipe kecerdasan ini lebih suka bermain dengan banyak orang, suka bergaul dan menambah teman. Ia memiliki  empati yang tinggi, mampu memahami perasaan orang lain, dan cenderung menonjol sehingga suka memimpin saat bermain atau menjadi peramai.

  • Music smart (kecerdasan musikal)

Kecerdasan ini paling mudah terlihat oleh orangtua dengan ciri-ciri anak suka bernyanyi, menggoyangkan badan ketika mendengar bunyi dan irama, mengingat lagu, bahkan gemar bermain alat musik. 

  • Picture smart (kecerdasan spasial)

Ini adalah kepintaran anak dalam persepsi ruang. Anak yang cerdas spasial ini biasanya terlihat dari kesukaannya menggambar, mencoret-coret kertas, mewarnai, suka berimajinasi, merancang desain.

  • Body Smart (kecerdasan kinestetik)

Body smart adalah cerdas dalam mengelola badan, gerakan, dan memainkan setiap organ tubuh untuk tujuan tertentu yang ia inginkan. Anak seperti ini biasanya sangat aktif bergerak, menyukai banyak jenis olahraga, menyentuh atau memegang berbagai benda dan mempelajarinya.

  • Nature smart (kecerdasan alam)

Ini adalah kecerdasan yang berhubungan dengan minat atau kesungguhan anak dalam mengelola alam beserta unsur dan sifatnya. Anak-anak yang memiliki kecerdasan alam sangat suka bermain di alam, memelihara binatang, merawat tumbuhan, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, dan mungkin gemar berpetualang.

  1. Saat  potensi anak di luar cita-cita orang tua

Jangan menjadi push parent, yaitu orang tua bergaya asuh otoriter yang memaksakan cita-cita kepada anak-anaknya, atau mendukung cita-cita anak hanya jika cita-cita itu sesuai dengan kehendaknya saja kemudian melakukan pengawasan yang teramat ketat agar ambisi yang terbebankan ke anak menjadi kenyataan.

Lagi-lagi orang tua harus dapat mengendalikan ambisi agar tidak menjadi pemberat langkah bagi anak yang ingin melaju dengan potensi sesungguhnya yang mereka miliki. Orang tua ambisius ini tak jarang memeras psikologi anaknya dengan tuntutan yang tinggi hingga anak akan merasa takut, panik, dan dikejar perasaan bersalah setiap kali merencanakan masa depan yang bukan pesanan orang tuanya. Anak-anak dalam tekanan ini tertekan oleh perasaan takut gagal dan takut mengecewakan orang tua tanpa tahu yang sebenarnya apakah ketakutan itu baik atau buruk.

Dampak lebih buruk dari pemaksaan cita-cita anak adalah anak menjadi stres, mudah sakit, dan berperilaku tidak wajar karena secara psikologis ia sebenarnya mengalami gangguan. Anak bisa berubah perilaku menjadi mudah marah, membangkang, sulit mengaturnya, kasar, atau menolak norma keluarga.

Ikuti cita-cita anak sesuai minat dan potensinya, kemudian bantu kembangkan dengan cara yang wajar dan berorientasi kebaikan. Orang tua mendambakan anaknya menjadi dokter, tentara, arsitek, pengacara, pengusaha, atau birokrat itu semua baik. Tetapi jangan remehkan jika anak bercita-cita menjadi ahli bahasa daerah, imam masjid, aktivis lingkungan, guru Taman kanak-kanak, atau lurah. Tidak ada yang buruk dari cita-cita ini. Bahkan peluang untuk mulia di hadapan Allah dan memberi manfaat kepada sesama bisa jadi lebih besar.     

  1. Memberi pilihan 

Tentu saja, mengikuti potensi anak tidak berarti memberi kebebasan sebebas-bebasnya bagi anak untuk bercita-cita. Orang tua memiliki informasi yang lebih lengkap tentang cita-cita atau gambaran profesi daripada dengan anak yang masih meraba-raba. 

  • Jelaskan 

Jelaskan kepada anak bahwa di dunia ini banyak sekali profesi manusia, tidak hanya yang bisa ia sebutkan saja. Jika ia dapat menyebutkan dua puluh daftar profesi impian, Anda dapat menambahkan sebanyak dua kali atau bahkan tiga kali lipatnya.  Tidak semua profesi itu ada di Indonesia dan suatu saat akan orang Indonesia minati. 

Untuk memberi gambaran mengenai berbagai profesi, anda dapat memanfaatkan situasi ketika berada di suatu tempat penting, misalnya saat di bandara. Ada puluhan profesi yang untuk menjamin bandara berjalan dengan normal; polisi, satpam bandara, pilot, pramugari, teknisi pesawat, sopir shuttle, cleaning service, teknisi kelistrikan, juru parkir pesawat, porter, pengusaha kafe, petugas loket, dan masih banyak lainnya. Itu hanya satu tempat saja, yaitu bandara. Di pelabuhan ada banyak profesi yang lain, di gelanggang olahraga, di kampus perguruan tinggi, di sekolah, di kantor pemerintahan, di kilang minyak, di restoran, di proyek jalan tol, di dalam kapal, dan tempat-tempat lain masih ada ratusan profesi lain.

  • Beri pilihan

Dengan gambaran profesi yang ada, anda tidak perlu memberikan kebebasan untuk satu di antara semuanya. Orang tua bijak seharusnya dapat menandai beberapa profesi yang sekiranya cocok dengan minat dan potensi anak serta memperkirakan akan dapat mengangkat derajat anak di masa depannya. 

Dengan menyebut beberapa profesi yang paling anda sarankan, persilakan anak untuk memilih. Anda dapat menyebutkan sepuluh profesi mulia yang dapat mengangkat derajat anak, kemudian anak memilih salah satu di antaranya.    

  1. Jangan membandingkan

Sebagian orang tua begitu gemar membandingkan anak sendiri dengan anak lain. Membanding-bandingkan anaknya sendiri dengan anak tetangga atau teman sekolahnya dalam hal kepatuhan, prestasi sekolah, kedisiplinan, kecakapan atau lainnya. Inilah kebiasaan buruk yang sampai hari ini masih terus berlangsung dan tanpa disadari membawa dampak negatif bagi anak.  

Maksud orang tua  membandingkan anaknya sebenarnya baik, yaitu agar anaknya bisa meniru atau berubah menjadi lebih baik seperti anak lain yang menjadi pembandingnya, anaknya terpacu untuk berprestasi sehebat temannya. Tetapi orang tua lupa, bahwa apa yang ia pikirkan tak pernah sama dengan pikiran anak. Tak sama dalam fase kemampuan berpikir dan tak sama dalam orientasi pikirannya.  

Perbandingan anak dengan anak lain hanya akan menghasilkan efek negatif berupa stress pada anak, perasaan rendah diri, perasaan tidak dihargai, sikap acuh, menjauh dari orang tua, persaingan yang tak sehat, dan perasaan tidak dipercaya. 

Hanya ada dua kemungkinan anak yang dibanding-bandingkan. Yaitu ia akan menyerah pasrah dan berbuat ala kadarnya karena marasa tuntutan padanya bukan dari jiwanya. Atau ia akan berbalik menjadi penentang sebagai ekspresi protes bahwa ia memiliki hak untuk berkembang menjadi dirinya.   

Orang tua baru menyadari ketika dua dampak buruk ini  sudah terlanjur terjadi dengan parahnya, lalu sibuk berkonsultasi dan mencari-cari tips tentang cara mengatasinya. Penyesalan memang tak pernah muncul di awal.

 

[Yazid Subakti]

Meluruskan Makna ‘Kesuksesan’

Meluruskan Makna ‘Kesuksesan’

Parenting – Kesuksesan itu dibuktikan dengan besarnya manfaat seseorang bagi sesamanya. Orang yang sukses menuntut ilmu adalah yang ilmunya bermanfaat bagi manusia.

  1. Sukses itu apa?

Seseorang berdiri di depan hadirin dengan penuh percaya diri, mengajak orang-orang di depannya untuk berjuang menuju puncak sukses. Orang-orang bertepuk tangan  penuh semangat. Di akhir acara, para hadirin diminta tekad dan persaksiannya; berapa penghasilan perbulan yang menjadi target tahun depan. Para hadiri menjawab sekian ratus juta, sekian milyar, rumah mewah, dan menyebut merk mobil mahal.

Apakah sukses itu menjadi orang kaya? Menjadi sosok parlente yang memiliki banyak uang, rumah mewah dan mobil mahal? Atau jabatan tertinggi sebuah perusahaan dan karir tertentu?

Mari kita berpulang pada firman Allah ini, 

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (Qs Al Anbiya : 10)

Dan juga sabda Rasulullah ini,

“Sebaik-baik Manusia adalah manusia yang memberikan manfaatnya pada orang lain” (HR Bukhari)

Sukses itu ketika kehidupan kita menjadi mulia disebabkan kesungguhannya kita menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup. Di hadapan manusia, sukses adalah menjadi sebaik-baik manusia, yaitu ketika kita kita bermanfaat bagi mereka. Sukses yang sesungguhnya itu seberapa mulia kita di hadapan Allah, dan seberapa manfaat kita di hadapan manusia.  

Jadi, manusia yang sukses adalah ia yang selalu istiqomah berada di jalan Allah SWT dan memiliki bekal yang baik untuk hidup diakhirat kelak, sementara selama di dunianya sibuk memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat. 

Kekayaan dan ketinggian karir mungkin saja bagian dari kesuksesan, selama kekayaan dan karirnya itu menambah kemuliaannya di hadapan Allah dan memperluas manfaatnya bagi sesama manusia. Kenyataanya, biasanya itu semua saling bertolak belakang. Contoh kejadiannya terlalu banyak untuk disebutkan.  

  1. Mulia di hadapan Allah 

Apa yang dapat menjadi sebab manusia mulia di hadapan Allah?

Kemuliaan manusia di hadapan Allah diukur dari ketakwaannya. Semakin bertakwa seseorang, semakin mulia menurut penilaian Allah. 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS Al Hujurat: 13)

Orang bertakwa ditandai dengan kesungguhannya untuk menjalankan apapun yang diperintahkan oleh Allah, dan juga keseriusannya menjauhi semua larangan-Nya. Menekuni profesi apapun, seseorang dikatakan sukses jika dengan profesinya itu ia makin bersungguh-sungguh menjalani perintah Allah dan makin serius menjauhi larangannya. 

Biarkan anak menjadi apapun yang ia impikan, dengan mengingatkan bahwa puncak kesuksesannya adalah  ketika apa yang ia cita—citakan itu menambah ketakwaannya.  

  1. Bermanfaat bagi sesama 

Sukses terlihat dengan besarnya manfaat seseorang bagi sesamanya. Orang yang sukses menuntut ilmu adalah mereka yang dengan ketinggian ilmunya semakin bermanfaat bagi manusia. Orang yang sukses berkarir adalah mereka yang dengan karirnya itu semakin terasa  manfaatnya oleh umat. 

Anak-anak harus tau makna kesuksesan yang seperti ini. Sebab, banyak contoh menunjukkan kebalikannya. Orang dengan ketinggian ilmu ternyata semakin menjadi sombong karena merasa dirinya lebih intelek daripada yang lain. Ia berbicara dengan bahasa penuh pencitraan, mendebat, dan memposisikan diri sebagai manusia paling berpengetahuan. Orang dengan ketinggian karir dan jabatan banyak yang semakin merasa berkuasa. Ia berbuat semena-mena, merasa berkedudukan lebih tinggi dan cenderung membentuk kelas-kelas pergaulan sesama pejabat dan pemilik karir tinggi. Begitupun orang kaya, banyak yang hanya memikirkan kemewahan hidupnya, menjauh dari orang miskin dan merasa tidak sederajat dengan masyarakat umum kebanyakan. 

Generasi muslim harus bisa memutus rantai ini dengan pelurusan makna sukses yang sesungguhnya. Jadi, siapa yang paling bermanfaat bagi sesama, dialah orang paling sukses.       

  1. Sukses hanya datang melalui perjuangan 

Kesuksesan baik untuk urusan dunia maupun akhirat, tidak datang begitu saja seperti hujan turun dari langit. Tidak ada orang berhasil dengan sendirinya. Tidak ada orang menjadi mulia dengan sekejap mata, dan tidak ada orang tiba-tiba dihormati karena memberi manfaat.   

Jangan sampai anak-anak mengira bahwa kesuksesan itu datang dengan mudah dan cepat. 

Untuk meraih sukses, manusia harus melakukan ikhtiar. Ada cita-cita yang teguh tak tergoyahkan sehingga apapun yang memalingkannya tak pernah menggoda. Ada perencanaan yang penuh kesungguhan sehingga jelas ke mana arah dan tujuan harus melangkah. Juga ada saha keras dan penuh semangat sehingga apapun yang menjadi penghalangnya tersingkirkan. Hingga pada akhirnya ada penyerahan kepada Allah secara total bahwa apapun hasil ikhtiar manusia harus kembali kepada takdir-Nya. 

Ulama dan orang shalih bersakit-sakit menuntut ilmu dan menekuni ibadah. Para pengusaha bersusah payah memperjuangkan usahanya siang malam dengan menghilangkan semua kesenangan. Para pemilik setiap profesi berpayah-payah menempuh sekolah dan akademi kemudian memulai karir dengan semua rintangannya di awal-awal. Semuanya sengsara, mengorbankan waktu dan kesenangan, untuk suatu capaian yang mereka impikan. 

Untuk kesuksesan akhirat, Allah memberi banyak ujian sesuai tingkat keimanan hamba. 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka tertimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta tergoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al Baqarah: 214)

Etika dan kewajiban menuntut ilmu 

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan bisa menjadi jalan menuju cita-citanya kelak. Saat anak menuntut ilmu, ia perlu ingat mengenai etika dan kewajibannya

Etika menuntut ilmu

  • Mengikhlaskan niat 
  • berdoa memohon ilmu yang bermanfaat 
  • merasa butuh dan haus ilmu
  • hormat dan ta’dzim kepada guru
  • Bersungguh-sungguh dalam belajar 
  • Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat 
  • Tidak sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu
  • Mendengarkan dan memahami ilmu  yang ia sampaikan
  • Menghafalkan atau mencatat pelajaran mengamalkan setelah ia pelajari

Kewajiban setelah mendapat ilmu

  • menjaga hubungan baik dengan guru 
  • mengajarkan ilmunya kepada orang lain 
  • mengamalkan ilmunya dengan ikhlas
  • tidak berhenti menuntut ilmu lebih dalam lagi 
  • menjaga ilmunya tetap berkah dan manfaat

 

[Yazid Subakti]

Memahami Cita Cita Anak

Memahami Cita Cita Anak

Parenting – Pada umumnya, anak-anak bercita-cita tanpa mengetahui dengan benar makna cita cita anak tersebut yang mereka sebutkan. Bahkan mereka tidak mengerti dengan jelas, apa itu cita-cita. Yang mereka bayangkan adalah gambaran nyata yang pernah mereka lihat mengenai sosok tertentu atau profesi tertentu. 

Dengan keadaan ini, dapat dimaklumi jika cita-cita anak mudah berubah. Anak perempuan yang masih di taman kanak-kanak mungkin bercita-cita menjadi penyanyi, pramugari, atau dokter. Karena ia pernah melihat apa yang disebutkan. Anak laki-laki sangat mungkin bercita-cita menjadi tentara, pilot, atau pembalap. Ini semua karena kekagumannya pada tokoh-tokoh yang mereka lihat sebelumnya juga. 

Semakin bertambah usia, kemampuan berpikir abstraknya semakin baik dan pengalaman melihat berbagai profesi semakin banyak. Pada saat awal masa akil baligh mungkin cita-citanya itu sudah berubah lebih masuk akal.  Ia mulai berpikir membandingkan antara kemampuan atau minat, manfaat profesi tertentu, dan peluang untuk menggapainya.   

  1. Hanya profesi tertentu yang diidamkan 

Meskipun berpengalaman melihat banyak profesi, anak-anak cenderung hanya memilih profesi tertentu untuk diidamkan. Anak perempuan banyak yang mendambakan profesi dokter, bidan, atau guru. Anak laki-laki ingin menjadi polisi atau tentara, arsitek, atau mekanik. Seolah-olah tidak ada profesi lainnya yang baik dan menjanjikan masa depan. 

Itu terjadi karena mereka merasakan jasanya, atau mengalami saat-saat mendapat pertolongan dari profesi tersebut sehingga mengakui kehebatannya. Dokterlah yang menolongnya ketika ia atau keluarganya sakit, maka ia menganggap  dokter memang hebat. Begitu juga bidan kurang lebih sama. Guru memberi ilmu setiap hari di sekolah dan darinya seluruh anggota keluarga dididik menjadi pintar. Maka guru memang orang hebat yang pernah ia lihat. Bagi anak laki-laki, tentara tampak gagah dan menjaga negeri sehingga kita semua merasa aman. Arsitek dengan jelas tampak gagah membangun rumah dan kantor yang ia saksikan sendiri, dan mekanik adalah orang yang berjasa merawat kendaraan ayahnya setiap kali membutuhkan perawatan. 

Dengan keterbatasan memandang profesi ini, orang tua harus lebih berjuang memperluas wawasan anak. masih banyak profesi lain yang harus dikenalkan tanpa harus merasakan langsung jasa mereka. Ada pengusaha, pilot, pelatih, olahragawan, psikolog, peneliti, ahli bahasa, wartawan, desainer, penulis, konsultan, dan lain-lain. 

  1. Pengaruh cita-cita pada anak

Cita-cita memberi bayangan model figure dalam benak anak yang ingin ia tiru di masa mendatang. Dengan gambaran model ini, gaya dan perjalanan kehidupannya akan dipengaruhi oleh apa yang ia inginkan untuk terwujud nyata. 

Anak yang bercita-cita menjadi dokter menemukan sosok dokter sebagai model suksesnya. Ia bisa memulai perilakunya cenderung meniru model dokter. Jika model nyata yang jadi panutan itu adalah dokter berkepribadian baik, ia pun akan terpengaruh kebaikannya. Tetapi ketika modelnya bukan tokoh yang baik,  maka yang didapat adalah  berdampak negatifnya. 

Anak laki-laki yang bercita-cita menjadi pembalap, kemudian suatu saat melihat figure pembalap idolanya berbuat maksiat, maka bisa saja ia terinspirasi untuk berbuat maksiat pula. Inilah dahsyatnya cita-cita. oleh karena itu, jika anak telah menyebut suatu cita-cita, anda dapat menelisik lebih dalam tokoh idola nyata yang ia gambarkan sebenarnya siapa. Jika tokoh tersebut ternyata kurang dapat menjadi panutan, Anda dapat mempengaruhinya dengan mengalihkan tokoh nyata yang lebih baik.

  1. Dukungan orang tua

Sementara anak menggebu dengan cita-citanya, orang tua mengarahkan mereka dengan memainkan berbagai peran. 

  • Menjadi motivator

Orang tua menjadi sumber dorongan semangat bag anak untuk terus memperjuangkan cita-cita. Seorang motivator tidak boleh kehilangan bahan bakar untuk menyemangati anaknya, tidak boleh kehilangan cara untuk meyakinkan bahwa cita cita yang sudah menjadi tekad itu akan terwujud dengan izin Allah.  Tentu saja, sebagai pemberi semangat, orang tua tidak boleh kalah semangat dibanding anak yang disemangati. 

  • Menjadi fasilitator

Fasilitator memainkan peran sebagai pemberi kebutuhan. Anak menempuh cita-cita melalui jalan yang tidak singkat dan bukan tanpa hambatan. Selama perjalanan ini, banyak kebutuhan yang harus dipenuhi oleh orang tua. Bukan hanya kebutuhan materi dan sarana bendawi, tetapi juga bekal mental menghadapi tantangannya. Orang tua mesti tampil sebagai sosok yang kuat, menularkan jiwa teguh kepada anak. 

  • Menjadi pengarah bakat 

Salah satu persoalan klasik tetapi selalu berulang adalah sulitnya membedakan antara minat dan bakat. Beberapa anak berminat atas suatu cita-cita karena kagum, sementara bakat yang sesungguhnya kurang memungknkan meraihnya. Contohnya, seorang anak berminat  menjadi seorang atlet, mengharuskan ia juga bakat dalam olahraga (memiliki kecerdasan fisik yang baik). 

Orang tualah yang menjelaskan ini semua. Cita-cita yang paling masuk akal adalah yang berangkat dari minat dan sekaligus berbakat. Oleh karenanya, anak perlu dikondisikan untuk mengetahui bakatnya, bukan hanya minat atau keinginannya.     

  • Menjadi pengendali 

Bagaimanapun pikiran anak tidak akan sama seperti pikiran orang dewasa. Anak-anak berpikir tanpa banyak pertimbangan sehingga dalam perjalanan cita-cita mungkin saja berubah, tiba-tiba mengaku tak memiliki cita-cita,  bahkan merasa bahwa cita-cita itu tidak perlu. Beberapa anak mungkin mengubah cita-cita hanya karena sesaat melihat sosok yang ia kagumi kemudian ingin menjadi seperti itu tanpa berpikir kebaikan atau keburukannya. 

Orang tua mengendalikan ketidakstabilan cara berpikir anak-anak, mengembalikan perjalanan cita-cita seperti awalnya. Jika anak memang ingin berganti cita-cita karena wawasannya yang semakin luas, itu adalah haknya. Orang tua harus memahami ini, dan kembali menjadi pengendali agar cita-cita barunya itu ia kejar dengan sungguh-sungguh.       

  • Menjadi pendamping 

Peran utama seorang pendamping adalah hadir. Maksudnya, hadir secara fisik dan terutama  hadir dalam jiwa. Kehadiran ini dapat membantu orang tua mengidentifikasi apakan cita-cita anak itu berasal dari dirinya sendiri, ikut-ikutan temannya, atau hanya untuk menyenangkan orang tua yang memang menginginkan demikian. 

Orang tua menyelami jiwa anak sehingga benar-benar mengetahui alasan anak menentukan  cita-citanya: mengapa ia bercita-cita seperti itu dan apa yang paling ia inginkan dari cita-cita itu. Orang tua perlu mengetahui bagaimana kondisi jiwa anak ketika menetapkan cita-cita dan mengejarnya dan apa saja kondisi yang menjadikan ia lemah dan kuat dalam perjalanan mengejar cita-citanya itu. 

Kehadiran dengan jiwalah yang menjadikan orang tua mengetahui mengapa suatu saat anak malas membicarakan cita-cita, ingin beralih cita-cita, bahkan membuang cita-citanya. 

  1. Dukungan yang salah 

Masih banyak orang tua yang mengawal cita-cita anaknya dengan nada memaksa dan mendorong melampaui batas kemampuan dan tujuan anak yang sebenarnya. 

Dengan ambisi tertentu, orang tua telah menetapkan cita-cita anak-anaknya satu persatu. Merasa sebagai orang tua yang telah berjasa menghidupi dan membiayai sekolah, orang tua merasa berhak menguasai kehidupan anak dan mengatur target masa depannya. 

Inilah bentuk dukungan yang salah.  Ketika anak semakin luas bergaul dan banyak pengetahuan, ia mulai sadar bahwa cita-citanya yang telah orang tuanya tetapkan itu di luar kemampuannya, di luar bakat atau di luar tujuan hidup yang ia bayangkan. Hanya ada dua kemungkinan besar hasilnya, ia tetap patuh sampai dewasa dalam ketergantungan, atau ia memberontak dan akhirnya meregang hubungan dengan keluarga.

 

[Yazid Subakti]

Cita-cita Bersama: Masuk Surga Sekeluarga

Cita-cita Bersama: Masuk Surga Sekeluarga

Parenting – Sebelum membicarakan cita-cita, setiap keluarga mesti memiliki visi besar yang hendak diraih bersama, yaitu masuk surga bersama-sama.

  1. Merancang visi dan cita-cita bersama sekeluarga

Sebelum membicarakan cita-cita, setiap keluarga mesti memiliki visi besar yang hendak meraihnya bersama. Ini bukan sekedar apa yang ingin tercapai bersama dalam keluarga dan waktu sekian tahun ke depan. Ini tentang masa depan keluarga jangka sangat panjang yang keluarga non muslim tak pernah pikirkan, yaitu kesejahteraan di kampung akhirat

Jadi, visi keluarga muslim adalah kebaikan apa yang akan kita capai di dunia dengan kebaikan-kebaikan, demi kebaikan akhirat nanti sebagai puncak tujuan utama. 

  • Keluarga qurrata a’yun 

Ada satu di dalam Al-Qur’an yang berisi permohonan sangat visioner kepada Allah SWT. Doa itu memohon agar kita mendapat karunia pasangan dan anak-anak yang qurrata a’yun. Doa ini ada dalam Surat Al-Furqan ayat 74 

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al Furqan: 74)

Qurrata a’yun adalah pasangan dan anak-anak yang menyejukkan pandangan mata, dengan keshalihan diri dan kesiapannya menjadi pemimpin  masyarakat bertaqwa. Ini adalah visi menjadikan keluarga harmonis yang siap menjadi pemimpin umat. ANak-anak keturunan keluarga muslim harus bersiap menjadi pemimpin dunia.  

  • Keluarga surga 

Semua keluarga muslim mestinya memiliki orientasi untuk menuju surga bersama, semua anggotanya. Maka ayah adalah pemimpin proyek surga, ibu mengatur dan anak-anak menjadi pendukung yang semua saling menguatkan. 

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka  dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS Ath Thur : 21)

Jadi, sekeluarga tidak ada yang salih sendiri, merasa paling suci atau paling dekat dengan Allah sambil membiarkan lainnya berada dalam kelalaian. Seluruh keluarga berada dalam keimanan yang lurus dan ibadah yang tiada pernah terputus. 

  • Keluarga yang terbebas dari siksa neraka 

Mengimbangi ikhtiar menuju keluarga surge, sisi lainnya adalah menjauhi apapun yang menjerumuskan keluarga ke neraka. 

Firman Allah dalam Surat At-Tahrim ayat 6, 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6)

Selain itu, keluarga harus memiliki tekad yang sama untuk menghindari  kemungkaran, meninggalkan apa yang haram, dan apapun yang mendekatkan manusia ke neraka.  

  1. Visi harus disampaikan kepada anak

Visi keluarga seharusnya telah ada sejak awal pernikahan. Pada masa-masa sepasang suami isteri berbulan madu, salah satu agenda paling pentingnya adalah merumuskan visi bersama. Visi isteri bersatu dengan visi suami menjadi visi keluarga. 

Maka ketika anak-anak lahir, mereka harus mengetahui isi visi ini. Sejak anak mulai mengenal logika berpikir, mengetahui mana yang benar dan mana yang salah (usia mumayyiz), Anda harus mengenalkan visi ini dengan bahasa paling mudah yang bisa mereka pahami.

Sampaikan terus menerus seiring perkembangan usia dan kemampuannya, kemudian jelaskan bahwa berdasarkan pertimbangan  visi inilah orang tua memilih nama anak, memilih sekolah,  memilih pergaulan, dan menetapkan cita-cita. 

Jadi, arah perjalanan keluarga harus berdasarkan oleh visi, agar tidak tersesat menuju kehancuran.

 

[Yazid Subakti]

Berpisah Tempat Tidur

Berpisah Tempat Tidur

Parenting – Ketika anak mulai memasuki usia 7 tahun lebih, orang tua dan anak sudah harus berpisah tempat tidur. Di usia ini anak sudah bersiap memasuki masa akil baligh.

  1. Mengapa anak harus tidur terpisah?

Anak-anak terus tumbuh. Dari masa awal kanak-kanak, ia beranjak memasuki pubertas atau masa akil baligh dengan sifat dan kebutuhan yang berubah. 

Ketika anak mulai memasuki usia 7 tahun lebih, tempat tidurnya sudah harus saling terpisah. di usia ini anak sudah bersiap memasuki masa akil baligh (sebagian anak bahkan mungkin sudah memasukinya) sehingga hasrat seksual sudah mulai muncul. Dalam keadaan yang bagiannya belum memungkinkan untuk dilampiaskan dengan cara berjodoh (menikah) dan pikiran yang masih belum dewasa, maka cara apapun bisa ia lakukan. Mungkin ia melakukan masturbasi (melampiaskan kenikmatan seksual dengan gerakan tangannya pada kemaluan), menonton gambar dan tayangan yang merangsang, atau bahkan menjadikan saudaranya sendiri sebagai sasaran.   

Jadi, pemisahan tempat tidur merupakan salah satu bagian dari pendidikan seks anak. Dengan cara ini, anak memahami batas interaksi dengan lawan jenis. Pemisahan tempat tidur juga memberikan ruang privasi kepada anak yang semakin bertambah usia akan semakin memiliki urusan yang khas hanya untuk dirinya. 

Lebih khusus lagi, anak dipisah tempat tidurnya untuk memberikan beberapa pelajaran penting sebagai bagian dari persiapan masa dewasanya. 

  1. Rasulullah SAW memerintahkan demikian 

Rasulullah  Muhammad saw mengajarkan umatnya untuk memisahkan tempat tidur anak-anak bahkan sejak usia 7 tahun, yaitu bersamaan dengan mulai disampaikannya ajaran salat. 

Beliau saw bersabda, “Perintahkanlah anak-anaku untuk salat ketika mereka umur tujuh tahun, dan pukullah jika mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)

Mengenai usia pemisahan ini, sebagian ahli fiqih ada yang berpendapat lebih longgar yaitu mulai umur sepuluh tahun yaitu ketika ajaran salat yang disampaikan sudah berdampak sanksi (dipukul) bila dilalaikan. Artinya, pada masa ini anak sudah mulai dididik secara lebih ketat untuk membentuk kedisiplinannya. Pada usia sepuluh tahun, anak sudah mulai tertarik pada lawan jenis dan imajinasi seksualnya sudah mendekati apa yang dibayangkan orang dewasa. 

  1. beberapa hikmah pemisahan tempat tidur anak 

  • Menyadari perbedaan jenis kelamin

Saat masih kecil, anak belum terlalu merasa penting dengan jenis kelaminnya sehingga dalam banyak hal mereka akan berbaur antara laki-laki dan perempuan. Mereka bermain bersama, berkelompok, belajar, bahkan tidur pun berbaur meskipun dengan anggota keluarga. 

Pemisahan tempat tidur bermanfaat untuk mengajarkan kepada anak tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan dan mengetahui batasan-batasan dalam berinteraksi yang kelak akan semakin tegas.

  • Mengenalkan privasi 

Anak-anak secara semakin bertambah usia akan semakin meningkat privasinya. Ketika mereka sudah menyadari perbedaan antara laki-laki dan perempuan serta batasan-batasan pergaulan diantara keduanya, maka privasi menjadi semakin dibutuhkan. Membuka aurat, bersolek, berganti pakaian, bahkan kepemilikan benda-benda pribadi menjadi penting untuk dilindungi dari pandangan atau penglihatan orang lain. 

Anak remaja atau masa awal akil baligh akan memulai fase ini dengan keinginan kuat memiliki kamar sendiri yang semua kebutuhannya ada di dalam. Namun demikian, seberapapun pribadinya kamar anak, orang tua tetap harus memiliki cara untuk dapat masuk dan mengetahui apa saja yang ada di dalamnya. 

  • Meningkatkan kemandirian 

Tidur di kasur terpisah dari saudara dan orang tua membuat anak harus mengambil keputusan sendiri ketika ada yang ia butuhkan  tengah tidurnya. Ia menjadi berlatih untuk berani dari bayangan-bayangan yang selama ini membuatnya takut di malam hari sampai pagi, merapikan kasur dan sprei beserta bantal dan guling nya sendiri, hingga mengkondisikan lampu dan kerapian ruangannya sendiri.   

  • Bagian dari pendidikan seks

Bagaimanapun, syahwat seksual anak di masa awal remaja harus diantisipasi oleh orang tua. Anda mestinya peka kapan anak laki-laki mulai bermimpi basah meskipun belum tentu mengakui, dan kapan anak perempuan mulai pertama kali menstruasi meskipun masih mau-malu dan belum lancar.

Pada masa-masa ini, ia sebenarnya sudah matang secara seksual. Artinya, hubungan seksual sudah dapat menghasilkan kehamilan. Anak laki-laki sudah dapat menjadi penyebab kehamilan wanita, dan anak wanita sudah dapat hamil oleh laki-laki. 

Yang kita khawatirkan bukan sekedar kehamilannya, tetapi pelampiasan syahwatnya. Di masa awal akil baligh syahwat laki-laki maupun perempuan bergejolak dengan peningkatan yang tidak menentu, ditambah keadaan mental yang belum stabil pula. Mereka belum waspada atas risiko perbuatannya, sehingga hasrat apapun yang menggoda terlalu mudah diikuti. 

Yang kita cegah dengan cara tidur terpisah adalah peluang incest, yaitu terjadi hubungan sedarah di rumah. 

  • Apakah anak sesama jenis kelamin aman tidur sekamar? 

Sesama jenis kelamin tetap tidak aman satu kamar tidur kakak beradik. Banyak berita dua anak laki-laki kakak beradik terlibat perbuatan zina sejenis (gay), begitu juga kasus anak perempuan kakak adik saling menyalurkan hasrat syahwat sesama perempuan (lesbian).  Kita berlindung kepada Allah agar dijauhkan dari perbuatan yang dilaknat ini.   

Jika Pun terpaksa kakak beradik sesama jenis kelamin bersatu dalam kamar, maka ranjangnya terpisah untuk mencegah mereka tidur berdua dalam satu selimut. 

  1. Dukungan orang tua agar anak tidur terpisah

Lagi-lagi orang tua akan menjadi pemain utama dalam kebijakan memisahkan tempat tidur anak ini dengan beberapa hal yang harus disiapkan. 

Pertama, jangan memberlakukan dengan tiba-tiba. Jangan menjadi orang tua yang membaca buku, mendengar ceramah atau menghadiri seminar mengenai pentingnya pemisahan tempat tidur anak kemudian malamnya langsung mengubah formasi kamar dan memberlakukan aturan baru bagi anak. Anak akan terheran, terguncang, dan menganggap Anda tiba-tiba berubah menjadi aneh.

Sampaikan  secara bertahap dengan lebih dulu menjelaskan, bahwa buah hati sudah mulai beranjak besar. Sebagai penyesuaian atas persiapan dewasanya, ia akan semakin mandiri dan memiliki kebebasan dengan tidur di kamar terpisah. 

Kedua, berikan fasilitas atau kondisi kamar yang memang mendukung bagi anak untuk menyukainya. Kamar tidak harus mewah dan lengkap, tetapi anak merasa nyaman dan terlindung di dalamnya. Kelak yang paling ia perlukan adalah kamar yang bisa tertutup dan terselamatkan kebutuhan pribadi atau privasinya.

Ketiga, tidak langsung meninggalkannya sendirian. Berpisah tidur dengan cara ekstrim dapat menimbulkan prasangka negatif anak bahwa orang tuanya menjauh atau tidak lagi mencintainya.  Anda dapat membersamai anak untuk menempati ruangan atau kamar pribadinya dalam beberapa hari sampai anak siap untuk tinggal sendiri. 

Keempat, tetap miliki kunci cadangan atau apapun yang menjamin bahwa orang  tua selalu bisa memasuki kamar anak kapanpun. Bahaya kamar pribadi yang tertutup dan terkunci adalah adanya peluang perbuatan mencurigakan anak di dalamnya atau anak menyimpan benda-benda yang membahayakan. Obat-obatan terlarang, benda tajam, rokok, rekaman video dan gambar kemaksiatan memungkinkan ada di kamar anak yang tak terakses oleh orang tuanya. 

Keempat, berlakukan aturan mengenai kamar barunya. Kamar baru tidak bermakna penguasaan tanpa batas bagi anak, tetapi sarana untuk melatih tanggung jawab. Anda dapat bersepakat membuat aturan mengenai penggunaan alat-alat listrik di dalamnya, jadwal pembersihan dan perapihan, kriteria teman yang boleh masuk dan waktunya, dan lain-lain sesuai kebutuhan. 

       5. Beberapa adab bertamu dan menerima tamu

Bertamu itu hukumnya boleh atau mubah. Jika bertamu itu sebagai silaturahmi, maka hukumnya adalah sunnah. Rasulullah SAW dan para sahabat sering bertamu untuk mempererat  persaudaraan.

  1. Adab bertamu 

  • Memilih waktu yang tepat (jangan sampai mengganggu tuan rumah atau bertamu saat tuan rumah tidak ada di rumah)
  • Niat silaturahmi untuk mempererat persaudaraan dan memperlancar urusan 
  • Memberitahu tujuan kedatangannya kepada tuan rumah 
  • Mengenakan pakaian yang bersih dan sopan
  • Mengucap salam dan Meminta izin masuk 
  • Bercakap-cakap  dengan nada bicara dan kata-kata yang wajar
  • Membatasi lamanya waktu berkunjung (tidak terlalu lama kecuali tuan rumah menghendaki demikian)
  • Menghadapi tuan rumah dengan wajah ceria dan ramah 
  • Saling memberi kabar, kemudian berwasiat atau menyampaikan pesan kebaikan. Menyantap jamuan  dengan cara yang wajar setelah tuan rumah persilahkan
  1. Adab menerima tamu 

  • Menjawab salam dan mempersilahkan masuk 
  • Menerima tamu dengan wajah ceria dan senyum
  • Saling memberi kabar dan berpesan kebaikan 
  • Memakai pakaian yang rapi dan sopan 
  • Menghidangkan suguhan makanan atau minuman kepada tamu 
  • Menghindarkan diri dari munculnya fitnah tetangga
  • Tuan rumah perempuan yang sendirian tidak menerima tamu laki-laki

 

[Yazid Subakti]

Menutup Aurat – Bagian 3

Menutup Aurat – Bagian 3

Parenitng – Hikmah menutup aurat yang perlu Ayah Bunda ajarkan kepada anak sejak dini. Sehingga anak bisa ikhlas dan terbiasa dengan menutup aurat.

Hikmah Menutup Aurat

Aurat adalah bagian tubuh yang kalau ditampakkan dapat menimbulkan sahwat bagi yang melihatnya. Menutup aurat berarti menjaga diri sendiri dari keinginan untuk dilihat dan menjaga orang lain dari keinginan untuk melihat agar hati tetap terjaga dari nafsu syahwat. Jadi, selain menghargai diri sendiri, menutup aurat adalah menghormati orang lain agar kesucian pandangan mereka terjaga dari kemaksiatan dan murka Allah.   

  • Menghindari pandangan buruk 

Pakaian  mempengaruhi kepribadian manusia. Seorang wanita yang membuka serta mengumbar auratnya secara terang-terangan bisa jadi ia memang menginginkan auratnya dilihat. Artinya, ia harus menerima resiko dituduh sebagai wanita yang siap dipandang dengan syahwat. Semakin berani bagian auratnya dibuka, semakin berisiko mendapat tuduhan sebagai wanita yang tidak menjaga harga dirinya.  

  • Menghindarkan diri dari dosa 

mengumbar aurat itu dosa, sebab menutupnya adalah perintah Allah yang hukumnya wajib. Salah satu penyebab neraka lebih banyak dihuni oleh kaum wanita adalah karena selama hidupnya mereka menampakkan aurat di hadapan orang-orang yang bukan mahramnya. Dengan menutup aurat, seseorang berarti telah menaati perintah Allah sehingga terhindar dari dosa. 

  • Melindungi tubuh 

Tubuh yang tertutup oleh kain pakaian lebih aman daripada dibiarkan terbuka. Yaitu aman dari angin dan cuaca dingin atau panas, aman dari gigitan serangga, aman dari sengatan matahari, dan aman dari hembusan debu. Dengan menutup menutup aurat berarti semakin banyak bagian tubuh yang terlindungi. Jadi, menutup aurat mengandung hikmah perawatan kulit agar tetap lembab secara alami. 

  • Mengurangi gangguan kesehatan

Banyak jenis penyakit menyebar melalui udara, karena oleh udara yang buruk di sekeliling kehidupan kita. Dengan  pakaian yang melindungi tubuh, dan berbagai penyakit seperti flu atau masuk angin dapat terhindari. 

Pada saat tubuh sedang sakit dalam masa pemulihan sakit, melindungi tubuh dengan pakaian tertutup juga baik untuk menjaga suhu ekstrem yang dapat memperparah penyakit. 

  • Menghindarkan resiko kejahatan

Terutama bagi wanita, bagian tubuh yang tertutupi oleh pakaian sebagian besar adalah bagian yang mengundang syahwat laki-laki. Membiarkannya dalam keadaan terbuka dapat mengundang laki-laki yang tak bertanggung jawab untuk berbuat kejahatan seksual dan bentuk kriminal lainnya. Dengan menutup aurat, risiko itu berkurang karena laki-laki tidak langsung terpancing syahwatnya. 

  • Menutupi aib 

Pada bagian tubuh yang harus tertutup, kadang terdapat aib atau sesuatu yang menjadi rahasia dari pandangan orang lain karena jika sampai terlihat akan memunculkan celaan atau hinaan.  Misalnya ada bentuk kulit tidak normal atau mengalami cedera, belang-belang bekas luka, terkena jamur kulit dan sebagainya akan tertutupi dengan ketika pakaian yang dikenakan memenuhi standar penutup aurat. 

Membiasakan anak sejak dini

Anak-anak harus menutup aurat sejak dini, agar menjadi kebiasaan sampai masa dewasanya nanti. Dengan kebiasaannya ini, anak tidak mudah terpengaruh jika suatu saat bergaul dengan teman-temannya yang belum tentu semuanya menutup aurat. 

  • Anak perempuan mulai berjilbab sejak usia balita

Di usia ini, anak perempuan belum wajib menutup auratnya, tetapi pengenalan praktik syariat mulai pada saat ini. Karena baru tahap pengenalan, maka orang tua tidak perlu memaksa jika pada saat-saat tertentu anak menolak mengenakannya. 

Pada usia di atas 7 tahun hingga menjelang akil balligh, penggunaan jilbab bukan lagi pengenalan, tetapi sudah pada tahap pembiasaan. Artinya, dalam keadaan ia tidak menyukai atau ingin menolaknya, orang tua tidak serta merta menurutinya. Orang tua harus memberikan dorongan dan mencari cara agar ia tetap mengenakan jilbabnya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, sekalipun ia ingin melepasnya karena suatu alasan. 

Untuk memudahkan pengenalan dan pembiasaan ini, anak sebaiknya sejak sejak usia ini sudah harus berada dalam lingkungan anak-anak berjilbab. Misalnya dengan mengirimkannya di sekolah islami yang semua teman perempuan dan gurunya berjilbab. 

  • Menaruh simpati kepada penutup aurat 

Orang tua mesti menaruh simpati terhadap orang –orang yang menutup aurat dan menampakkan simpatinya ini di hadapan anak. anda dapat mengungkapkan rasa takjub atau memuji seorang saudara yang berjilbab, teman, atau tetangga yang jilbabnya rapi dengan mengatakan mereka itu anak salihah atau anak yang Allah sayang.

Pujian atau ungkapan rasa takjub di hadapan anak ini setidaknya membuat anak berpikir bahwa jika ia ingin menjadi pribadi salihah dan disayang Allah, setidaknya harus menutup aurat dengan jilbab yang rapi. 

Begitu pula kepada anak laki-laki. Anda dapat menampakkan rasa simpati dan takjub kepada anak-anak yang pakaiannya menutup aurat, rapi dan sopan. Anda dapat mengatakannya anak yang salih dan taat kepada Allah. Sebab menutup aurat bukanlah keinginan orang tua, melainkan semata mematuhi perintah Allah. 

  1. Tunjukkan contoh seorang tokoh muslim  yang sukses dan mereka tetap istiqomah menutup aurat. Anda dapat mengambil contoh beberapa anak muda yang ia idolakan dan mereka tetap berpakaian sopan.
  2. Pilihkan pakaian syar’i yang nyaman dan model atau bentuk dan warnanya anak sukai. banyak anak menolak menutup auratnya dengan alasan tidak menyukai pakaiannya, yaitu bahannya tidak nyaman atau bentuk modelnya tidak ia sukai.  
  3. Melatih apapun kepada anak secara bertahap, termasuk melatih kebiasaan menutup  aurat. Pada tahap awal, sampaikan bahwa menutup aurat merupakan perintah Allah. Mematuhi semua yang merupakan perintah Allah agar mendapatkan kasih sayang dari-Nya.

 

[Yazid Subakti]

Menutup Aurat – Bagian 2

Menutup Aurat – Bagian 2

Parenting – Secara bahasa, aurat artinya bagian yang ditutupi manusia karena jika ditampakkan dapat menimbulkan rasa malu. Sedangkan secara istilah, aurat  adalah bagian tubuh yang diwajibkan Allah untuk ditutupi. Jadi, menutup aurat bukan lagi mempeprtimbangkan pemlik aurat malu atau bukan malu ketika terbuka, melainkan karena taat kepada perintah Allah.

Banyak anak muslim tidak berpakaian syar’I karena orang tuanya tidak membelikannya pakaian syar’i. Alasan yang paling banyak mengapa orang tua membelikan pakaian tidak syar’I adalah karena selera orang tuanya sendiri memang belum sampai pada selera yang memenuhi aturan syar’i. Banyak orang tua memaksakan selera pribadi ketika memilihkan pakaian untuk anaknya, dengan bersandar pada keumuman mode atau trend yang berkembang saat itu. 

Orang tua mestinya paham bahwa memilih jenis dan ragam pakaian adalah bagian dari pendidikan anak. Jikapun anak yang meminta sendiri jenis pakaian tertentu yang tidak syar’I, orang tua seharusnya bisa menjadi pengendali: memahamkan kepada anak fungsi pakaian yang sebenarnya, yaitu menutup aurat. 

Bukankah uang untuk membeli pakaian berasal dari orang tua? Anak tetap boleh memilih pakaian kesukaannya, tetapi orang tua tetap dapat memberlakukan syarat, yaitu menutup aurat. 

  • Syarat pakaian syar’i

Menutupi seluruh tubuh kecuali yang diperbolehkan untuk tampak. Allah SWT berfirman: Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang  nampak dari padanya.” (terj. An Nuur: 31)

Bukan sekedar perhiasan atau mode untuk dipamerkan. Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga golongan yang kamu tidak perlu tanyakan tentang mereka –yakni mereka orang-orang yang akan binasa-: (Pertama) orang yang berlepas diri dari jamaah (kaum muslimin), mendurhakai pemimpin dan meninggal dalam keadaan durhaka; (Kedua) budak wanita atau laki-laki yang lari dari tuannya lalu ia meninggal; dan (Ketiga) seorang istri yang ditinggal pergi suami, padahal sudah diberikan kecukupan ekonomi, lalu ia keluar dari rumahnya bertabarruj, kamu tidak perlu bertanya tentang mereka (HR. Hakim dan Ahmad)

Tidak terlalu tipis atau transparan, dan tidak menampakkan lekuk tubuh. Rasulullah SAW telah mengingatkan laknat Allah kepada orang yang berpakaian tipis membentuk tubuhnya. “Akan ada di akhir umatku kaum wanita yang berpakaian namun telanjang, di atas kepala mereka ada seperti punuk unta, laknatlah mereka, karena mereka wanita yang dilaknat.” (HR. Thabrani).

Maksudnya adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tipis yang mensifati tubuhnya dan tidak menutupi, merekalah yang disebut berpakaian namun sebenarnya telanjang.

Dalam hadits lain Usamah bin Zaid ra berkata: “Rasulullah SAW memberikan kepadaku pakaian Mesir yang tebal hadiah dari Dihyah Al Kalbiy, lalu aku pakaikan untuk istriku, maka Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak memakai baju Mesir?” Aku menjawab, “Aku sudah pakaikan kepada istriku”, Beliau pun bersabda, “Suruhlah istrimu memakai ghilalah (pakaian dalam/tambahan di balik baju agar tidak membentuk tubuh) di baliknya, karena saya khawatir pakaian tersebut membentuk tulangnya (tubuhnya).” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Tidak memakai wewangian yang dapat mengundang syahwat. Wewangian adalah salah satu penarik perhatian laki-laki terhadap perempuan yang dengannya memungkinkan timbulnya syahwat. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja wanita yang memakai wewangian, lalu keluar ke suatu kaum agar mereka mencium wanginya, maka dia adalah pezina.” (HR. Nasa’i, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Wewangian boleh jika hanya untuk kalangan keluarga sendiri atau pada saat beribadah dan memilih jenis aroma yang tidak mengundang nafsu. 

Tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Laki-laki tidak boleh memakai pakaian menyerupai wanita, dan wanita juga tidak boleh mengenakan pakaian menyerupai laki-laki. Abu Hurairah ra meriwayatkan, bahwa  “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian lelaki.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim). Termasuk dalam hal ini adalah wanita yang mengenakan celana kaum lelaki, dan laki-laki yang mengenakan baju bermotif layaknya motif baju perempuan. 

Tidak menyerupai pakaian khas orang kafir. Menyerupai orang kafir atau tasyabbuh bil kuffat, yaitu berbuat atau bersikap sesuatu (termasuk berpakaian) dengan meniru kebiasaan orang kafir. Mengenakkan pakaian khas orang kafir (misalnya perempuan mengenakan gaun ala biarawati) atau laki-laki mengenakan pakaian biksu adalah tasyabbuh  bil kuffar. Sebab kedua jenis pakaian tersebut bercirikan agama lain. 

Tidak bermaksud untuk bersombong diri dan menjadikan pemakainya merasa lebih utama dari yang lain.  

Rasulullah SAW telah mengingatkan, “Barang siapa memakai pakaian ketenaran di dunia, niscaya Allah akan memakaikan pakaian kerendahan pada hari kiamat, kemudian akan dinyalakan api di dalamnya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). 

Pakaian ketenaran adalah pakaian untuk membanggakan atau menyombongkan diri di hadapan orang lain. Yaitu pakaian yang mencolok karena berbeda dengan yang biasa orang pakai di kalangannya.

Tidak mubazir bahannya untuk tujuan menyombongkan diri. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melabuhkan kainnya (isbal) dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”, lalu Ummu Salamah berkata, “Bagaimana dengan wanita yang panjang ujung kainnya?”, Beliau menjawab, “Cukup ia melebihkan kainnya sejengkal’. Maka Ummu Salamah berkata, “Kalau begitu akan nampak kakinya”, Beliau menjawab, “Kalau begitu sehasta, dan tidak boleh lebih.” (HR. Tirmidzi)

 

[Yazid Subakti]