Menanamkan Kesukaan Membaca

Menanamkan Kesukaan Membaca

Parenting – membaca adalah kebiasaan anak-anak dan pemuda muslim sejak zaman dahulu yang terbukti menghasilkan generasi cendekia.

  1. Membaca adalah kebiasaan umat islam sejak lampau 

Di zaman Rasulullah, sudah ada rumah baca yang disebut Darul Qurra’  (rumah para pembaca).  Budaya baca tulis bangsa arab yang sebelumnya lambat menjadi berkembang secara luas di Madinah dalam waktu yang cukup singkat. Banyaknya jumlah sahabat yang dapat membaca ini sangat menakjubkan hingga di kalangan anshar terdapat 70 orang muda yang dikenal dengan sebutan al-Qurra (orang yang pandai membaca).

Di masa-masa setelah  itu, membaca (juga menulis) sudah menjadi kegemaran anak-anak dan pemuda muslim. Maka wajar jika dalam kurung beberapa generasi setelahnya islam menampilkan wajah inteleknya dengan kemunculan para pakar dari kalangan kaum muslimin: ahli kedokteran, ahli fisika, ahli ilmu bumi, ahli matematika, ahli filsafat, ahli sejarah dan sebagainya. Para pakar ini menulis buku dan menyebarkan ilmunya hingga namanya masyhur sampai hari ini. 

Maka janganlah hari ini tradisi itu digantikan oleh anak-anak muslim dengan menonton TV dan bermain game. Anak-anak harus gemar membaca karena kepemimpinan dunia mungkin kelak ada di pundaknya.

  1. Membaca apa dan bagaimana?

Ajak anak meningkatkan kegemaran membaca apa saja bacaan yang mengandung informasi bermanfaat. Yang dimaksud bacaan bermanfaat adalah jika menambahkan pengetahuan baru, meningkatkan pemahaman, mendatangkan kesenangan atau hiburan, memberi inspirasi dan membangkitkan semangat untuk berbuat baik. 

Jadi, bukan media apa yang dibaca, melainkan isi dari bacaannya. Medianya bisa berupa buku-buku cetak, buku bergambar atau komik, novel, majalah, surat kabar, buku elektronik, bahkan bacaan dari website di saluran internet yang tersaring dari serangan-serangan konten negatif.

Tentang cara membaca, setiap anak memiliki gaya dan caranya masing-masing. Satu anak akan memiliki kecenderungan yang berbeda dengan anak lain. Sebagian anak suka membaca dengan suara keras (aloud reading), sebagian dengan diam (silent reading). Ada anak yang nyaman membaca sambil menyendiri di dalam kamar, sebagian anak terbiasa membaca dalam keramaian. Anak tertentu menunggu saat benar-benar luang untuk membaca satu buku sekali baca, anak lain memilih membaca sehalaman atau memilih bab paling menarik dan kapanpun membacanya dalam waktu pendek-pendek.

Sebagai pemantik setiap harinya, orang tua memang diharapkan menampakkan diri melakukan aktivitas membaca di hadapan anak. Jadikan baca adalah kebiasaan sekeluarga dengan sosok orang tua sebaga contohnya, bukan aturan keluarga yang  hanya berlaku bagi anak. 

Untuk menguatkan suasana seperti ini, hal-hal yang melemahkannya memang harus disingkirkan, misalnya televisi dan alat-alat game seperti playstation. 

  1. Manfaat membaca 

  • Mengaktifkan  sel-sel otak 

Baca berhubungan dengan perkembangan otak anak. Saat anak sedang membaca, sel-sel otaknya aktif mengolah huruf-huruf menjadi kata dan kalimat. Saat itu pula sel-sel otak menghubungkan antara huruf dan makna kalimat yang dirangkai. Kalimat ini tentu saja masih berkaitan dengan kalimat lain sehingga sel-sel otak harus mengolah lagi  untuk menemukan kesatuan utuh dari informasi yang tersampaikan oleh bahan bacaan yang ia baca. 

  • Merangsang kecintaan terhadap pengetahuan

Membaca berarti berburu pengetahuan. Semakin banyak yang baca, semakin berpeluang banyak hal akan kita ketahui. Biasanya anak yang sudah mulai merasakan kenikmatan membaca akan terus membaca. Ia menjadi suka dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang datang dari bacaan. 

  • memperkaya kosakata 

anak anak yang jarang membaca biasanya terlihat dari cara berbicaranya yang terbatas dalam penggunaan kosakata. Pada saat menulis kalimat paragraf ia mengulang-ulang kata yang sudah ia gunakan. Saat berbicara di depan umum sering tercekat atau seperti tidak menemukan suatu maksud yang ingin ia katakan. Akhirnya ia dinilai tidak cakap.  

  • meningkatkan rasa percaya diri 

kegemaran baca membuat anak banyak memiliki wawasan dan cadangan informasi dalam memori otaknya. Ia seperti memindah isi bacaan ke sel-sel otak untuk suatu saat dapat keluar jika butuh. Anak menjadi percaya diri dan berani mengemukakan pendapat. 

Berlomba-lomba dalam kebaikan

Allah memerintahkan hamba-Nya agar gemar berlomba dalam kebaikan. Setinggi apapun cita-cita anak, ia harus termotivasi bahwa semuanya dalam rangka berlomba dalam  kebaikan. Kebaikan adalah segala sesuatu yang membawa kemaslahatan atau manfaat bagi manusia, berdampak menyenangkan atau membuat bahagia. Berlomba artinya berusaha melakukan suatu kegiatan dengan tingkatan yang paling tinggi atau terdepan.

Sebagai pembiasaan berlomba dalam kebaikan, anak dapat melakukannya di rumah, lingkungan masyarakatnya, dan di sekolahnya.

Berlomba dalam kebaikan di rumah dapat dengan, 

  • melakukan pekerjaan di rumah sebelum menyuruh orang lain
  • berusaha bangun pagi paling awal sebelum yang lain bangun
  • melakukan kegiatan ibadah lebih banyak daripada anggota keluarga lain

Berlomba dalam kebaikan di lingkungan masyarakat dapat dengan,

  • menjadi penggerak masyarakat, tanpa menunggu perintah 
  • peduli pada lingkungan sekitar ketika orang lain membiarkannya
  • menjadi orang paling awal dalam hal menolong sesama

Berlomba dalam kebaikan di sekolah dapat memulainya dengan 

  • Berusaha menjadi siswa terbaik di sekolah dengan prestasi tertinggi
  • Menjadi siswa paling menguasai ilmu di sekolah 
  • Aktif dalam organisasi sekolah dan mempelajari kepemimpinan 

 

[Yazid Subakti]