Tak Harus Sempurna

Tak Harus Sempurna

Parenting – Tak harus sempurna, jangan menuntut kesempurnaan pada anak untuk mencapai semua yang harus ia raih. Kita harus memahami bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang tidak sama. Kita menyampaikan teladan tokoh hebat sebagai penyemangat baginya untuk memperjuangkan diri menjadi yang lebih baik, bukan menuntut untuk seperti mereka, apalagi memaksanya.

Untuk melangkah menjadi ayah, biarkan anak laki-laki mewarnai dirinya sebagaimana bakat dan kemauan kuat yang asli ada pada dirinya. Seorang calon ayah bukanlah sosok persis seperti tokoh-tokoh ayah hebat yang pernah kita kenalkan kepadanya, tetapi seorang laki-laki pembelajar yang tidak harus sempurna pada saat ini. Begitupun menjadi seorang ibu, anak kita tetaplah akan menjadi dirinya tanpa harus meniru persis seperti tokoh ibu yang pernah kita perkenalkan kepadanya. 

Jadi, tak harus sempurna untuk menjadi laki-laki calon ayah atau perempuan calon ibu, sebab ada yang lebih penting dari itu yaitu rencana dan komitmen untuk ke sana. Jika ia memiliki rencana-rencana dan menguatkan komitmennya, itu adalah cukup baginya untuk menyuntikkan tekadnya melangkah menjadi ayah atau ibu.

  • Mari Berpulang Pada Hidayah

Kita tak pernah kuasa menetapkan kesalihan kepada anak setelah bertahun-tahun mendampingi dan mendidiknya. Ikhtiar manusia hanya sampai pada batas menasehati, mengajarkan, melatih, mengarahkan dan membimbing tak kenal henti yang kemudian disandarkan pada tawakkal untuk menerima takdirNya. Setelah semuanya, anak menjadi salih atau tidak tergantung pada turunnya hidayah atau tidak. Sedangkan satu-satunya Dzat yang berkuasa menurunkan hidayah hanyalah Allah SWT. 

Hidayah itu ar-rasyaad yang artinya bimbingan, dan ad-dalaalah yang artinya dalil atau petunjuk. Maksudnya adalah semua bimbingan atau petunjuk dari Allah berupa kesadaran, keyakinan, atau pandangan kebenaran yang diturunkan kepada manusia. 

Hidayah menentukan anak kita menjadi bahagia berupa keberuntungan yang berujung surga, yang tanpanya anak akan menemukan sengsaranya berupa kesesatan yang berakhir di neraka.

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf: 178).

Namun bagaimanapun, hidayah itu milik Allah. Manusia yang akan mendapat hidayah hanyalah mereka yang Allah kehendaki mendapat hidayah. 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki”. [Al Qashash: 56].

Beberapa kerabat Rasulullah SAW tak sempat menikmati manisnya hidayah, sekalipun Nabi telah mengupayakan ikhtiar kepadanya. Abu Thalib adalah kerabat Nabi yang banyak berjasa kepadanya, namun Beliau SAW tidak kuasa memberinya hidayah di saat pamannya itu meregang nyawa.

Wahai pamanku! Ucapkanlah La Ilaha Illallah, suatu kalimat yang dapat aku jadikan bukti untuk (membela)-mu di hadapan Allah.” Tetapi disambut oleh Abu Umayyah dan Abu jahal: “Apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?” Lalu Nabi mengulangi sabdanya lagi, akan tetapi mereka berdua pun mengulang kata-katanya itu. Maka akhir kata yang ia ucapkan, bahwa dia masih tetap pada agama Abdul Muthalib dan enggan mengucapkan La ilaha Illallah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang” 

Di saat peristiwa itulah Allah menurunkan wahyu-Nya, 

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya).” (QS. At Taubah: 113)

  • Batas kemampuan kita 

Yang dapat menjadi sebab datangnya hidayah Allah adalah kesungguhan untuk bergantung kepada-Nya. Ibnul Qayyim berkata, “Jika semua kebaikan berasal dari taufik yang datangnya dari Allah, dan bukan dari tangan manusia, maka kunci untuk membuka pintu taufik adalah berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, selalu berharap dan takut kepada-Nya. Maka ketika Allah telah memberikan taufik ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan taufik kepadanya. Dan ketika Allah memalingkan dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan akan selalu tertutup baginya”.

Mari menjadi orang tua yang bersahabat dengan Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an turun oleh Allah sebagai petunjuk bagi manusia, yaitu mereka yang menjadikannya sebagai pedoman hidup. 

 “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS al-Israa’: 9).

Seberapa kita mampu istiqamah dengan kebaikan yang kita lakukan, juga menjadi sebab turunya hidayah. Para sahabat Nabi berlimpah hidayah karena mereka adalah contoh kesempurnaan dalam istiqamah.

 “Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan” (QS al-Baqarah: 137).

Mereka menerima Islam dengan kelapangan dada, ridha Islam sebagai agamanya dan Al-Qur’an sebagai kitabnya, dengan semua bentuk ketaatan menerimanya. 

  • Tak henti memohon 

Doa-doa permohonan itu selalu mengiringi ikhtiar. Sepanjang kebersamaan bersama buah hati sejak kelahirannya, kita terus memohonkan hidayah untuknya. Sedangkan semua yang kita perlakukan padanya adalah ikhtiar dari apa yang kita mohonkan itu. 

Sebagaimana yang menjadi perintah, kita akan selalu memohon kepada-Nya hidayah. Kita memohon di setiap rakaat salat, yaitu ketika membaca surah al-Fatihah;

 “Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus” (QS Al Fatihah: 6)

Kita memiliki hajat yang sangat besar terhadap hidayah ini. Sebab tidak ada keselamatan dari siksa neraka dan tidak ada capaian menuju surga kecuali Allah telah menurunkan hidayah-Nya. 

Mungkin saja kita telah mendapatkan hidayah. Tetapi karena harus berikhtiar menyampaikan kebenaran kepada anak, maka kita membutuhkan tambahan hidayah dari-Nya agar kebenaran yang kita serukan itu tersampaikan. Orang tua melakukan misi penyampaian petunjuk Allah, maka ia harus terus menerus memohon petunjuk kepada-Nya. 

Jadi, orang tua adalah manusia yang paling membutuhkan hidayah Allah. Sebab, bagaimana mungkin seseorang berikhtiar mengupayakan turunnya hidayah kepada anaknya, kalau ia sendiri jauh dari hidayah-Nya. 

Sambil terus memohon dan berbuat apapun yang bisa diperbuat, biarkanlah Allah yang menentukan. Kita sangat menginginkan anak-anak yang menjadi amanah Allah ini segera mendapat hidayah menemukan kesalihannya. Tetapi Allah Maha Tahu bagaimana memperlakukan para hamba yang belum saatnya mendapat hidayah.

[Yazid Subakti]

Mendorong untuk Mulai Memahami Sifat dan Kebutuhan Jodoh

Mendorong untuk Mulai Memahami Sifat dan Kebutuhan Jodoh

Parenting – Seorang calon suami harus mulai memahami sifat wanita yang akan menjadi isterinya kelak. Begitu juga sebaliknya seorang wanita harus paham jika sifatnya dengan laki-laki akan menjadi suaminya sangat berbeda.

  1. Memahamkan kepada anak bahwa Laki-laki tidaklah sama dengan wanita

Laki-laki tidaklah sama dengan perempuan. Ketika isteri Imran mendambakan anak untuk dijadikan penghamba di Baitul maqdis, ternyata anak yang terlahir berjenis kelamin perempuan. Maka wanita itu menyatakan perbedaan laki-laki dan perempuan.

Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (QS Ali Imran: 36) 

Seorang calon suami harus tahu bahwa wanita yang akan menjadi isterinya kelak tidak sama dengan dirinya. Begitu pula seorang wanita juga harus memahami bahwa ia berbeda dengan laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya.

Pemahaman ini penting agar saat berjodoh nanti anak lebih siap untuk menghadapi pasangannya, bukan terheran-heran dengan sifat lawan jenis yang ternyata selalu di luar dugaannya. 

  1. Beberapa perbedaannya

  • Pusat komunikasi dan keterampilan

Ada perbedaan pada pusat keterampilan komunikasi dan bahasa tubuh antara pria dan wanita. Wanita memiliki otak komunikasi dan bahasa yang jauh lebih besar daripada milik laki-laki. Inilah sebabnya wanita umumnya lebih mampu mengolah kata-kata dengan menggunakan bahasa daripada pria. Wanita sangat mementingkan kata-kata dan lebih pandai membaca bahasa tubuh lawan bicaranya dibandingkan laki-laki. 

  • Minat berbagi dan pemecahan masalah

Wanita suka berbagi, menyukai nuansa kebersamaan dan menjalin hubungan. Ketika tertimpa masalah, wanita ingat teman-temannya dan berharap bantuan dari mereka, begitupun ketika temannya tertimpa masalah ia akan segera datang membantu. Sedangkan laki-laki lebih menyukai kemandirian dan mengerjakannya sendiri sampai ia menyerah tidak bisa. 

Keadaan ini jika tidak dipahami dapat membuat suami menuduh isterinya berlebihan dan selalu ketergantungan, sebaliknya isterinya mengira suaminya bebal dan angkuh karena tak mau dibantu. 

  • Hasrat seksual dan cinta

Otak yang bertanggung jawab untuk hasrat seksual pada pria jauh lebih besar dibandingkan wanita. Oleh karena itu, pria lebih sering memikirkan urusan ranjang sedangkan wanita berpikir  tentang hubungan cinta atau ikatannya. 

Pada anak-anak remaja, pelanggaran yang sifatnya memburu syahwat jauh lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Pria sangat mudah tertarik syahwat ketika melihat fisik wanita, sedangkan wanita ketika melihat laki-laki lebih tertarik memikirkan ikatan atau hubungan yang terjalin. Inilah hikmahnya bagian tubuh wanita lebih banyak yang harus ditutup dibandingkan aurat laki-laki. 

  • Logika dan perasaan 

Kaum laki-laki sangat mengedepankan logika ketika berpikir. Ia berhitung dan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan dan minimnya risiko serta aturannya tanpa banyak memikirkan rasa. Sementara perempuan kebalikannya. Ia memutuskan sesuatu berdasarkan perasaannya yang kadang mengesampingkan logika kebenaran. 

Pada intinya wanita lebih mengedepankan perasaan, sedangkan pria lebih mengedepankan logika sehingga dalam hal tertentu diskusi antara keduanya tidak saling tersambung. 

Sedari remaja, anak perlu mengetahui hal ini untuk mengurangi potensi konflik ketika mereka nanti berumah tangga.

  • Antara kata dan tindakan 

Wanita menemukan solusi sambil berkata-kata atau menganggap bahwa berkata-kata merupakan bagian dari proses menemukan solusi. Sambil melakukan tindakan untuk menyelesaikan masalahnya, wanita bisa terus-menerus berkata-kata. 

Ini berbeda dengan sifat laki-laki yang ketika mendapat masalah akan fokus memikirkan solusinya dengan mengunci mulutnya. Bagi laki-laki, mengunci mulut itu mengamankan situasi ketika pikiran difokuskan untuk menemukan solusi, agar perkataan tak mengganggu jalannya penyelesaian masalah. 

  • Cara bereaksi terhadap tekanan

Ketika menghadapi tekanan atau stres, pria memiliki respon menghadapinya dengan tekad sampai tuntas atau pergi sejauh-jauhnya agar tak seorang pun tahu bahwa ia tertekan. Ini berbeda dengan wanita yang lebih merespon dengan mengumpulkan teman untuk menyelesaikan bersama-sama. 

Pria lebih agresif ketika menghadapi stres atau masalah, sementara wanita lebih mengutamakan menjaga diri dan hubungannya dengan orang lain.

Ini semua ada hubunganya dengan perbedaan hormon. Ketika mengalami stres, tubuh akan mengeluarkan hormon oksitosin untuk meredam stres. Testosteron pria mengurangi kadar hormon oksitosin yang tubuhnya hasilkan, sehingga mereka masih merasa stres. Sementara hormon estrogen pada wanita bereaksi dengan mendukung hormon oksitosin, sehingga wanita merasa tenang menghadapi masalahnya.

  • Rasa sakit

Pria dan wanita memiliki ambang rasa sakit yang tidak sama. Pada umumnya, pria lebih tahan rasa sakit daripada wanita. Dari kelengkapan fisiknya, pria memiliki kulit yang lebih tebal dan kasar serta saraf perasa yang kurang sensitif daripada wanita. Wanita juga lebih cepat mengungkapkan rasa sakit dan mengeluh daripada dengan pria.

Jadi, laki-laki jangan sampai salah paham jika melihat wanita sedikit-sedikit mengeluh tidak nyaman atau mengaku sakit atas sesuatu yang mengenai badan nya. Ia memang lebih cepat merasakannya daripada laki-laki. 

  • Multitasking

Multitasking adalah kemampuan mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu secara bersamaan. Seorang wanita adalah sosok yang paling bisa melakukan banyak hal dalam satu kesempatan. Ia memasak sambil mengakses media social, sambil mengepel dan masih sempat mendengarkan siaran radio. 

Pria akan kesulitan melakukan multitasking seperti itu. Ia lebih memilih fokus pada satu kegiatan dan menuntaskannya, baru kemudian berganti kegiatan yang lain.

 

[Yazid Subakti]

Mengenalkan Visi Keluarga

Mengenalkan Visi Keluarga

Parenting – Mengenalkan visi keluarga pada anak sangat penting untuk mengarahkan masa depan dan memberi bentuk keluarga seperti yang hendak ia bangun. Ia bagai peta petunjuk jalan yang mengarahkan ke mana perjalanan akan tertuju, agar tak tersesat oleh lena. 

Jangan membiarkan anak muda dalam dekapan kasih sayang dan binaan kita menikah hanya untuk memburu kecantikan dan harta orang yang ia cintai. Sebab Rasulullah telah mengingatkan kerugiannya. 

Abdillah bin Amrin ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, 

“Janganlah kamu menikahi wanita hanya karena kecantikannya, sebab kecantikan itu pada saatnya akan hilang. Janganlah kamu menikahi wanita hanya karena hartanya, sebab harta boleh jadi membuatnya congkak. Tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab seorang wanita budak yang buruk lagi hitam kelam yang memiliki agama (kuat dalam beragama) adalah lebih baik daripada wanita merdeka yang cantik lagi kaya, tetapi tidak beragama.” (HR. Ibnu Majah).

Jadi, menikah itu mewujudkan visi yang telah ditetapkan untuk dicapai bersama, bukan karena tertarik pada pesona gemerlap yang dimiliki oleh pasangan. Anak harus mengetahui dan memiliki visi ketika menikah. 

  1. Visi, pandangan jauh ke depan

Visi itu harus berisi pandangan jauh ke depan yang sungguh-sungguh hendak mencapainya.

Seharusnya, visi itu mengarah pada terbentuknya keluarga yang terbebas dari api neraka, untuk menyatu bersama kembali di surga. Apapun karir dan cita-cita, semuanya bermuara pada satu tujuan yaitu berkumpulnya kembali di surga tanpa satupun yang tersentuh tertinggal neraka. 

Ini seperti doa kebahagiaan dunia akhirat yang banyak dibaca oleh Nabi dan para sahabat, dari Anas bin Malik ra, “Sesungguhnya kebanyakan doa nabi Shallallahu’alaihi wasallam yaitu,”Wahai Rabb kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkan kami dari Neraka” (HR Bukhari dan Muslim)

Ini sesuai peringatan Allah kepada setiap orang tua agar menjauhkan anggota keluarganya dari sentuhan api neraka, 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS At Tahrim: 6) 

Dengan visi kembali berkumpul di surga ini, bisa mengajaknya untuk menyusun misi keluarga yang harus ia emban. Yaitu semua rencana yang mengantarkan pada kebaikan pribadi agar Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga-Nya. 

  1. Misi keluarga muslim 

Misi itu bisa berupa rencana-rencana besar yang mungkin untuk mewujudkan berupa program harian. Beberapa misi penjagaan dari api neraka misalnya,

  • Seluruh keluarga senantiasa memperbaiki ketakwaan sampai akhir hayat, hingga mencapai derajat sebenar-benar takwa (haqqa tuqaatih). Ini seperti pesan Allah dalam QS Ali Imran ayat 102, 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (QS Ali Imran: 102)

  • Mengupayakan kehidupan yang mulia dengan terus memperbaiki pemahaman agama dan kualitas ibadah. Ini seperti pesan Rasulullah dalam sabdanya, 

“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan pelindung perkaraku, perbaikilah bagiku duniaku yang merupakan tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang di sana tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan ini sebagai sarana bagiku untuk menambah kebaikan, dan kematianku sebagai tempat istirahat dari segala keburukan”. ( HR. Muslim) 

  • Menggunakan waktu hanya untuk perbuatan yang membawa manfaat dan kebaikan. Ini seperti pesan Nabi dalam sabdanya,

“Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat untukmu, mintalah pertolongan Allah dan janganlah engkau lemah. Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan engkau katakan: Seandainya saya kerjakan ini niscaya akan jadi begini dan begitu, akan tetapi katakanlah bahwa Allah yang telah menetapkannya, apa yang Dia kehendaki Dia perbuat. Karena sesungguhnya (kata- kata) “seandainya” membuka peluang bagi perbuatan setan.” ( HR. Muslim) 

  • Menjauhi semua perbuatan atau perilaku dan sikap yang menjadi sebab datangnya adzab Allah. Ini sesuai dengan peringatan yang disampaikan oleh-Nya, 

“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.” (Al Ma’arij: 27)

  • Mengumpulkan bekal amal sebanyak-banyaknya sebelum meninggal, sebab kematian pasti akan datang pada waktu yang disangka-sangka. Allah telah mengingatkan hal ini, 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

 

[Yazid Subakti]

Sampaikan Kepada Anak Gadis tentang Calon Suami Ideal

Sampaikan Kepada Anak Gadis tentang Calon Suami Ideal

Parenting – Sebelum anak gadis jatuh cinta dengan lelaki pujaannya, atau berbunga-bunga hatinya karena merasa ada seorang laki-laki menaruh hati padanya, hadirlah memberi benteng kekuatan bahwa pemuda dan pemudi islam tidak tergiur dengan percintaan semu seperti itu. Laki-laki yang baik tidak datang kepada wanita dengan cinta buta yang menggebu, tetapi hadir ke hadapan orang tua wanita mengutarakan maksud dan tujuannya. Sampaikan tentang beberapa tanda calon suami ideal.

  1. Beragama Islam

Allah menghendaki para wanita muslimah menikah dengan laki-laki yang beriman saja, bukan laki-laki musyrik. 

“…Janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik daripada orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke syurga dan ampunan dengan izin-Nya…” (Q.S. Al-Baqarah : 221)

Sebagai wali, orang dilarang menyerahkan anak gadisnya yang seorang wanita muslimah kepada laki-laki kafir. 

Jadi, perempuan muslim tidak boleh bersuamikan laki-laki kafir karena pernikahan tidak akan berlangsung  dengan syiar keislaman dan rumah tangga tidak akan mungkin berjalan dengan visi islam yang kuat. Anak-anak tidaknya kelak tidak akan bisa dididik menjadi pejuang islam yang hebat dan cita-cita menuju surga sekeluarga tak akan mungkin menjadi kenyataan.  Lebih dari itu, pernikahan ini melanggar larangan Allah. Menjadi istri pria kafir berarti menyengaja mengangkat suami dalam kepemimpinan orang kafir di keluarga. Itu dilarang oleh Islam dan mengingkari hukum-Nya. 

  1. Taat dan terpuji akhlaknya

Rasulullah mengingatkan kepada para wanita yang hendak menikah untuk menerima laki-laki yang agama dan akhlaknya baik. 

“Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya, hendaklah kamu nikahkan dia, karena kalau engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)

Para orang tua atau wali harus untuk benar-benar memperhatikan ketaatan beragama dan akhlaq laki-laki yang akan menjadi suami dari anak perempuan di bawah perwaliannya. Anda dapat menyelidiki melalui berbagai saluran informasi mengenai calon menantu dalam hal ketaatannya menjalankan sholat lima waktu, ketaatannya menjalankan puasa Ramadhan, kepatuhannya kepada orang tua, kerukunannya dengan tetangga, dan perilakunya terhadap yang lemah atau miskin. 

Tak kalah penting, perhatikan teman-teman pergaulannya apakah dia bergaul dengan orang-orang yang taat menjalankan agama atau dengan orang-orang yang suka berbuat maksiat. Jika yang bersangkutan bergaul dengan orang-orang yang taat menjalankan agama, besar kemungkinan ia orang yang taat dalam beragama dan baik akhlaknya. Demikian pun sebaliknya. 

  1. Jauh dari kemaksiatan

Jangan menikahkan anak gadis Anda dengan laki-laki pelaku maksiat. Teliti dan pastikan bahwa ia bukan pemabuk dan tak pernah meminum khamr serta bukan anak durhaka. 

Rasulullah SAW telah mengingatkan, 

“Tiga golongan yang Allah haramkan masuk syurga yaitu : peminum minuman keras, orang yang durhaka terhadap ibu bapaknya, dan orang yang berbuat dayyuts yang menanamkan perbuatan dosa kepada keluarganya.” (H.R. Nasa’i) 

Orang yang menjauhi kemaksiatan ialah orang yang bebas dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah, seperti syirik, berjudi, berzina, mabuk, mencuri dan lain-lainnya. 

Karena para suami dinyatakan sebagai orang yang paling bertanggung jawab untuk membersihkan anggota keluarganya dari perbuatan maksiat, dengan sendirinya dia harus dapat dijadikan contoh sebagai orang yang bersih dari perbuatan maksiat. Pertimbangkan kembali bila calon jodoh anak Anda adalah seorang pria yang pernah mempermainkan wanita, petualang cinta dari satu wanita ke wanita lain. Orang yang seperti ini biasanya amat dekat dengan perbuatan zina, bahkan mungkin pernah melakukannya. Perilaku seperti ini tidak mudah hilang sehingga berisiko terulang kembali saat ia telah memperistri anak gadis Anda. Dia sangat berpengalaman menjalin hubungan cinta dengan banyak wanita sehingga berpeluang menjadi seorang suami yang serong. 

  1. Dari keluarga salih

Pilih laki-laki dari keluarga salih yang terbiasa taat kepada Allah. Keluarga yang shalih akan selalu berusaha melakukan segala sesuatu dengan baik sehingga membawa kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Mereka akan menjadi bagian dari keluarga Anda, yang akan terus menjalin hubungan dengan Anda sekeluarga juga. Kedua orang tuanya adalah kakek dan nenek bagi cucu anda kelak, dan saudara-saudara akan menjadi paman dan bibi dari cucu Anda. 

Laki-laki dari keluarga salih besar kemungkinan membawa sifat salih dari keluarganya. Untuk mendapatkan suami semacam ini orang tua perlu menggali informasi mengenai keluarga yang bersangkutan mengenai kondisi ibadahnya, lingkungan tempat tinggalnya, dan apa kata orang tentangnya. 

  1. Berbakti Kepada Orang Tuanya

Laki-laki yang menyayangi orang tuanya memiliki peluang untuk menyayangi isterinya ketika telah menikah. Jika kepada orang tuanya yang sangat berjasa saja tidak mencintai, maka apalagi kepada isteri, seseorang  yang sebelumnya tak pernah memberi jasa apapun.  

Dari Ibnu ‘Umar RA ujarnya, “Rasulullah SAW bersabda: “Berbaktilah kepada orang tua kalian, niscaya kelak anak-anak kalian berbakti kepada kalian; dan peliharalah kehormatan (istri-istri orang), niscaya kehormatan istri-istri kalian terpelihara“.” (H.R. Thabarani, Hadits hasan)

Ketaatan kepada orang tua bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya kelak untuk taat pula kepada orang tuanya. Anak yang taat kepada orangtua mematuhi perintah orang tua dan tidak melanggar larangannya selama hal yang diperintahkan atau yang dilarangnya tidak diharamkan. 

  1. Mandiri dalam Ekonomi

Rasulullah SAW berseru kepada para pemuda yang telah mampu mencari nafkah sendiri sehingga sanggup memikul beban belanja rumah tangga, agar segera menikah.

“Hai golongan pemuda, barangsiapa di antara kamu ada yang mampu (untuk membelanjai) kawin, hendaklah ia kawin, karena kawin itu akan lebih menjaga pandangan dan akan lebih memelihara kemaluan, dan barangsiapa belum mampu kawin, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu ibarat pengebiri” (H.R. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Itu artinya, pemuda yang telah berkemampuan, salah satunya berpenghasilan, telah layak untuk dipilih menjadi suami. Sebab islam menetapkan bahwa yang bertanggung jawab dalam masalah ini adalah suami sebagai qawwam.

  1. Keimanannya sepadan atau lebih baik

“Manusia itu ibarat barang tambang, ada yang emas dan ada yang perak. Mereka yang terbaik pada zaman Jahiliyah, tetap terbaik pula pada zaman Islam, asalkan mereka memahami agama.” (H.R. Bukhari)

Kualitas manusia memang berbeda-beda. Kualitas yang dituntut oleh Islam bukanlah kualitas materi, melainkan keimanan dan pemahaman agamanya, kesungguhan dan keteguhannya berpegang pada ajaran Allah dan Rasul-Nya. Jika datang laki-laki dengan keimanan dan kepahaman agama yang sepadan atau lebih baik dari anak gadis Anda, maka dia telah memenuhi syarat calon menantu. 

  1. Mampu memimpin

Ini karena laki-laki dinobatkan oleh Allah sebagai pemimpin bagi perempuan. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nisaa’ ayat 34 :

Laki-laki adalah pemimpin kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka…

Telah ditetapkan oleh Allah bahwa orang yang bertanggung jawab memimpin di dalam rumah tangga adalah suami. Jiwa kepemimpinan adalah syarat yang harus didahulukan bagi gadis ketika memilih calon suami. Minimal terbukti kemampuannya menjadi imam salat atau memimpin pergerakan amar makruf nahi munkar. 

  1. Bertanggung jawab

Memilik laki-laki karena tanggung jawabnya. Sebab ia akan menjadi pemimpin yang semua urusan kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. 

Allah berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 26:

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.'”

Kemampuan bertanggungjawab seorang laki-laki dapat dinilai dari hal-hal paling sederhana. Misalnya dari ketepatannya menggunakan waktu, kehati-hatiannya dalam berbicara, dan penjagaan sikapnya ketika berhadapan dengan sesama. 

  1. Memiliki sifat Adil

Dari Nu’man bin Basyir ra, bahwa ayahnya membawanya kepada Rasulullah saw, lalu ia bercerita kepada beliau, 

Aku berikan kepada anakku ini salah seorang budakku untuk dijadikan pelayannya.” Rasulullah saw bertanya: “Apakah semua anakmu engkau beri semacam ini?” Jawabnya: “Tidak.” Rasulullah saw bersabda: “Kalau begitu batalkanlah.” Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah saw bertanya: “Apakah terhadap semua anakmu kamu berlaku seperti ini?” Jawabnya: “Tidak.” Beliau bersabda: “Takutlah pada Allah; dan berlaku adillah kepada anak-anakmu!” Ayahku lalu membatalkannya dan dia menarik kembali sedekahnya….(HR. Bukhari dan Muslim)

Adil artinya tidak melanggar hak, menempatkan sesuatu pada tempatnya, lurus dan benar. Adil mencakup tindakan dan sifat, yaitu tindakan tanpa merugikan orang lain dan sifat lurus dalam berbuat serta serta pandai mempergunakan sesuatu sesuai dengan kegunaannya.

Dalam memimpin keluarga, sifat adil menentukan tenteram atau tidaknya keluarga, juga tegak atau tidaknya kebenaran di dalamnya. Suami yang adil tidak akan mengurangi hak orang lain dalam rumahnya dan menghindari perbuatan dzalim kepada isteri dan anak-anaknya.

 

[Yazid Subakti]

Membicarakan Jodoh – Bagian 2

Membicarakan Jodoh – Bagian 2

Parenting – Nabi SAW telah begitu banyak mebicarakan jodoh atau memberikan informasi yang lengkap kepada kita tentang cara memilih jodoh. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Perhatikanlah agamanya kamu akan selamat.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadits ini sudah sangat dikenal oleh anak muda. Jadi, mereka sudah tahu tetapi masih perlu diingatkan kembali bahwa ada empat pertimbangan yang mestinya menjadi ukuran memilih jodoh: harta, keturunan, kecantikan atau ketampanan, dan agama. 

  1. Calon jodoh idaman yang dianjurkan Rasulullah

Sudah saatnya orang tua berdiskusi dengan anak mengenai kriteria jodoh yang diidamkan. Ini untuk menghindari godaan-godaan yang sifatnya syahwat semata yang membuat anak melupakan kebutuhan sesungguhnya dalam perjodohannya nanti. Ia sudah saatnya memikirkan jodoh seperti apa yang akan menjadi pendampingnya sebagaimana Rasulullah SAW anjurkan. 

  • Diutamakan yang masih gadis atau perjaka 

Rasulullah SAW memang pernah menikahi janda, namun beliau tetap menganjurkan para sahabatnya agar menikahi perawan. 

“Hendaklah kalian menikah dengan perawan, karena mereka lebih segar mulutnya, lebih banyak anaknya, dan lebih ridha dengan yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah) 

Maksudnya adalah segar air liurnya dan segar perkataannya yang tidak menyakiti, sedikit menggerutu, dan tidak suka berkata kotor kepada suaminya karena biasanya perawan itu masih malu-malu. 

Begitu juga Ketika Jabir bin Abdillah memberitahu Rasulullah SAW bahwa dirinya akan segera menikah dengan seorang janda, maka Rasulullah SAW sempat mempertanyakan : 

“Kenapa kamu tidak menikahi perawan saja sehingga kamu bisa bermain-main dengannya dan dia bisa bermain-main denganmu? (HR. Bukhari Muslim) 

  • Pilih yang subur 

Pertimbangan penting lainnya tentang calon jodoh dambaan adalah mereka yang memiliki kesuburan tinggi. Salah satu cara mengetahuinya adalah dengan mencari informasi mengenai banyaknya saudaranya dalam keluarganya. 

Rasulullah SAW menganjurkan memilih yang subur karena salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan. 

Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Nikahilah wanita yang pengasih dan subur, karena aku berlomba dengan umat lain dengan jumlah kalian”. (HR. Ahmad). 

  • Jauh dari kekerabatan 

Menikahi wanita yang masih dalam kekerabatan keluarga, asal bukan mahram adalah boleh. Akan tetapi bila ada banyak pilihan, maka sebaiknya untuk memilih jodoh di luar kekerabatan. Imam al-Buhuti menjelaskan salah satu anjuran menikahi wanita asing yang bukan keluarga adalah, jika talak terjadi itu akan menyebabkan keburukan kepada kekerabatan antara kedua keluarga sampai putus hubungannya. Padahal kita wajib menyambung tali persaudaraan.

  1. Wanita berhak memilih calon suami 

Bukan hanya laki-laki yang berhak memilih wanita. Syariat Islam memberikan hak yang sama besarnya kepada para wanita dalam memilih calon suami yang akan menjadi pendamping hidupnya. 

  • Menyetujui calon jodoh 

Jangan memaksakan anak gadis untuk menikah dengan pria yang bukan pilihannya. Kepada anak gadis, beri kelonggaran untuk memilih pria yang ia bersedia menikah dengannya. Wanita sebelum menikah harus terlebih dahulu meminta izin dan persetujuannya terlebih dahulu. 

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, 

“Seorang janda tidak boleh dinikahkan sehingga ia diajak musyawarah, dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan sehingga dimintai izinnya”. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, lalu bagaimana izinnya ?”. Rasulullah SAW menjawab, “Ia diam”. (HR. Bukhari) 

Dari Aisyah berkata, 

“Ya Rasulullah SAW, gadis itu bila diminta izinnya, ia akan malu”. Beliau bersabda, “Izinnya adalah diamnya”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim] 

  • Terlibat mengambil keputusan 

Selain meminta izin dan persetujuannya, para wanita juga berhak untuk bermusyawarah dalam penentuan siapa yang akan menjadi pilihan hatinya dalam memilih suami. 

Rasulullah SAW bersabda,

 Ajaklah para wanita bermusyawarah dalam urusan kemaluan (pernikahan) mereka. (HR. An-Nasa’i) 

  1. Memilih jodoh yang Sekufu’ 

Sekufu itu artinya setara atau sederajat. Jika Anda memiliki anak perempuan siap menikah, keharusan Anda adalah mencarikan baginya seorang laki-laki yang sekufu dengannya. 

Rasulullah SAW berpesan, 

“Janganlah kalian menikahkan wanita-wanita (anak-anak kalian) kecuali dengan yang sepadan (kufu) dengannya.” (HR. Ad-Daruquthniy) 

  • Apa itu Kufu’ ? 

Para ulama menganjurkan adanya Kufu atau Kafa’ah (kesepadanan) pasangan dalam pernikahan. Kafaah atau kufu’ adalah kesamaan atau kesejajaran tingkat. Maksudnya persamaan antara kedua pasangan dalam hal status agar tidak timpang antara suami dengan isterinya. 

Para ulama bahkan berpendapat bahwa kafaah adalah bagian dari syarat nikah. Jadi, wanita yang baik hanya menikah dengan laki-laki yang baik, dan wanita buruk hanya layak berjodoh dengan laki-laki yang buruk. 

Ini seperti pesan Rasulullah SAW, 

“Ada tiga hal yang tidak boleh ditunda; Shalat kalau sudah datang waktunya, mayat -kalau sudah siap dikuburkan-, dan anak perawan kalau sudah ada yang kufu (Sepadan) dengannya”. (HR At Tirmikdzi) 

 “Janganlah kalian menikahkan wanita-wanita (anak-anak kalian) kecuali dengan yang sepadan (kufu) dengannya.” (HR Ad-Daroquthni) 

“jika datang kepada kalian seseorang (untuk melamar anak-anak kalian) yang kau ridhai agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia …” (HR At Tirmidzi) 

Dari hadits-hadits ini, Nabi SAW dengan tegas memerintahkan para orang tua untuk memeriksa dan meneliti dulu agama serta akhlak calon menantunya, agar dapat menilai seberapa sepadan dan pantas untuk menikahi anak gadisnya. 

Dr. Wahbah al-Zuhaili menambahkan kewajaran pernikahan sekufu, sebab menurutnya sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kesamaan status dan kesepadanan antara kedua pasangan suami isteri itu menjadi salah satu penentu keharmonisan keluarga. 

  • Wanita memiliki hak untuk memilih yang Kufu’ dengannya 

Kafaah itu menjadi tuntutan bagi pihak laki-laki untuk memenuhinya, agar wanita dapat memilihnya. Jadi, yang mendahului memantaskan diri sehingga mencapai kufu’ adalah laki-laki.

Ketika wanita didatangi pria untuk melamarnya, wanita ini memiliki hak untuk melihat seberapa kafaah laki-laki itu, sebelum memutuskan menerima atau menolaknya. Wanita boleh menolak pria yang ia rasakan tidak sepadan atau tidak pantas untuknya, sampai datang laki-laki lain yang sepadan. 

  • Kufu’ dalam hal apa?

Kufu’ itu adalah kemampuan atau kecakapan seseorang dalam agama. Para ulama pengikut madzhab Maliki mengartikannya sebagai sikap adil atau tidak fasiq, yaitu mereka yang tidak melakukan dosa besar walau sekali pun, juga tidak mengerjakan dosa kecil. Seorang wanita baik-baik yang tertutup auratnya, rajin shalatnya, baik akhlaknya, mestinya mendapat laki-laki yang baik Islamnya dan terkenal shalih. Jika datang laki-laki yang tidak salih, maka  boleh wanita ini menolaknya. 

Selain kemampuan agama, kufu’ juga bermakna status atau tingkatan dalam kemerdekaan dari perbudakan, kebaikan keturunan, profesi atau kedudukan sosial. Di beberapa bangsa mungkin masih ada perbedaan kedudukan dalam hubungannya dengan suku, tetapi di Indonesia semua suku berkedudukan sosial sama. Suku batak kedudukannya setara dengan jawa, Madura, sunda, ternate, bugis, dan sebagainya. Artinya, mempertimbangkan jodoh berdasarkan suku bukanlah termasuk pertimbangan kufu’ karena semua suku sudah memiliki tingkatan sepadan. 

Untuk mengukur kufu’ yang berhubungan dengan nasab, Imam Ghozali memberikan penjelasannya bahwa kemuliaan nasab itu dilihat dari tiga hal: 

Pertama, keturunan yang sampai pada Nabi Muhammad SAW sebagai nasab menjadi paling utama. 

Kedua, keturunan para ulama adalah kedua setelah keturunan Nabi SAW, karena ulama adalah ahli waris para Nabi. 

Ketiga, keturunan para orang shalih atau ahli hikmah. 

Selain ketiga pertimbangan ini, kemuliaan nasab hanya berdasar pada kesalihan yang tampak serta kebaikan budinya.

 

[Yazid Subakti]

Membicarakan Jodoh – Bagian 1

Membicarakan Jodoh – Bagian 1

Parenting – Nabi SAW telah begitu banyak mebicarakan jodoh atau memberikan informasi yang lengkap kepada kita tentang cara memilih jodoh. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Perhatikanlah agamanya kamu akan selamat.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadits ini sudah sangat dikenal oleh anak muda. Jadi, mereka sudah tahu tetapi masih perlu diingatkan kembali bahwa ada empat pertimbangan yang mestinya menjadi ukuran memilih jodoh: harta, keturunan, kecantikan atau ketampanan, dan agama. 

  1. Mempengaruhi anak agar memilih jodoh yang visioner

Ada banyak contoh seorang pemuda yang sangat bersemangat di masa bujang atau lajangnya, tiba-tiba menghilang sejak pernikahannya. Ia tidak tampak lagi di perkumpulan-perkumpulan atau komunitas penyeru kebenaran, tidak pernah hadir di forum-forum ta’lim, tidak terlibat lagi dalam diskusi keumatan, dan tidak terdengar lagi suaranya menyeru pada jalan kebenaran. Jejaknya seolah hilang ditelan gelapnya malam. 

Adakah yang salah dengan pernikahannya? Bukankah menikah adalah sunnah dan ikhtiar menyempurnakan separuh iman?

Bukan pernikahannya yang salah, tetapi pemilihan jodohnya yang tidak cermat. Ia terjerembab dalam dekapan jodoh yang membatasi pergerakannya. Isteri, hanya dijadikan sesosok makhluk yang telah dimiliki oleh suami sehingga ia harus taat lahir batin padanya. Suami terbelenggu oleh isterinya dengan kewajiban-kewajiban memenuhi penghidupan dan mengejar karir dan atau kekayaan. Dalam persepsi kebanyakan pasangan seperti ini, suami adalah pemimpin keluarga yang hanya menjadi penguasa dan pencari nafkah, sedangkan isteri adalah pengelola nafkah dan petugas yang hanya mengurus rumah tangga. Hanya itu.

  • Ini sebuah peringatan.

Seorang wanita muslimah mestinya berjodoh dengan lelaki salih yang visioner, suami yang sama-sama memiliki visi keislaman jauh ke depan. Seorang laki-laki muslim mestinya berjodoh dengan muslimah yang memiliki kemauan untuk berkontribusi terhadap agamanya. Dua Visi mulia, antara suami dan isteri, disatukan menjadi mesin penggerak dan setir pengarah yang tidak akan berbelok sebelum tujuan dan cita-cita besar itu tercapai.

Anak perempuan Anda nanti mestinya jeli bertanya kepada calon suami tentang seberapa kuat visi islamnya. Pertanyaan ini sama pentingnya dengan pertanyaan mengenai wawasan nasab, pendidikan, dan kemampuannya mencari nafkah. Begitu juga anak laki-laki, harus menanyakan kepada calon jodohnya tentang proyeksi dakwahnya ke depan sebelum terpilih untuk dinikahi.

Jadi, anak gadis atau bujang hendaknya yang hendak memulai berumah tangga hendaknya diserukan agar mereka berani bertanya kepada calon suami tentang visi islamnya. Pertanyaan ini sama pentingnya dengan daftar pertanyaan lain yang lazim saat melakukan ta’aruf.

Bagi para orang tua yang risau mencari calon menantu untuk anak perempuannya, mulailah mendudukkan visi keislaman ini sama pentingnya dengan kedalaman akidah, pendidikan, dan kemampuan mencari nafkah calon menantu. Letakkan gengsi di urutan terbawah manakala datang seorang pria salih bervisi islam cemerlang melamar, sementara ia dari kelas sosial rendah. 

  1. Empat pertimbangan 

Pilihan jodoh tak pernah terlepas dari empat pilihan yang paling manusia pikirkan: harta, keturunan, tampang, dan agama. Ini semata karena Rasulullah SAW memahami jiwa manusiawi semua manusia. 

  • Harta

Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk hidup makmur dan berharap pernikahan menjadikan kemakmurannya terjamin. Laki-laki yang sedang mencari calon istri, atau wanita yang sedang mencari calon suami menjadikan harta sebagai pertimbangan meskipun bukan yang paling utama. 

Yang menjadi dambaan adalah, dengan ekonomi kuat, anak-anak akan terlayani dengan sejahtera dan masa depannya terjamin. Penghidupan semakin mahal dan biasa sekolah semakin tinggi sering menjadi alasan mengapa seseorang mempertimbangkan ekonomi bagi calon pasangannya. Selain itu, ada anggapan bahwa orang berkecukupan harta lebih bisa menjalankan kewajiban-kewajiban agama daripada orang-orang yang tidak berharta. Orang berharta lebih berpeluang untuk pergi haji dan bersedekah daripada mereka yang tidak berharta. Tentu saja jika pemilik harta itu beriman.

  • Keturunan 

Keturunan itu sifatnya subjektif. Sebagian orang membanggakan keturunan bangsawan atau keturunan orang berada untuk mengangkat derajat keluarga. Harapannya, dengan jodoh yang berasal dari keturunan mulia, anaknya juga menjadi generasi mulia. 

Dalam arti yang lain, melihat keturunan berarti melihat kebaikan calon jodoh, sebagai jaminan bahwa calon jodoh yang akan kita nikahi adalah orang baik-baik. Setiap orang tua tidak mau tercemar namanya jika harus berbesan dengan keluarga yang tercela atau terkenal keburukannya. Anda pasti berpikir ulang jika calon besan Anda ternyata pelaku kriminal, meskipun anak yang menjadi menantu Anda tidak terlibat. Seorang gadis akan was-was dan memilih menolak jika ternyata yang datang melamarnya adalah laki-laki dari keluarga pemabuk. Sebab dalam pikirannya, pastilah calon suami itu sedikit banyak terpengaruh oleh kondisi keluarganya, yaitu berada di lingkungan pemabuk pula. 

  • Tampang 

Tentu saja setiap orang ingin memiliki pasangan hidup yang indah dipandang, enak dilihat, menyenangkan jika bersamanya, dan memberikan ketenangan jika berdampingan. Tidak ada wanita yang ingin bersuamikan pria buruk rupa, dan tak ada seorang priapun yang mendambakan isteri buruk rupa. 

Imam Ibn Qudamah menyebutkan, bahwa memilih isteri yang cantik itu lebih menenangkan hati, enak dilihat, serta lebih langgeng untuk dicintai. Karena itu juga, semua ulama sepakat kebolehan melihat atau nadzar dari pelamar kepada wanita yang ia lamar. Dan bagian tubuh yang disepakati boleh untuk dilihat oleh pelamar kepada wanita yang dilamarnya adalanya muka dan tangan sampai pergelangan. Ini tidak lain adalah untuk melihat kecantikannya. Wajah boleh dilihat karena memang wajah adalah simbol kecantikan. Dan kecantikan bisa membuat laki-laki tertarik. Begitu juga sama halnya dengan ketampanan. 

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah ra, ia berkata: Aku pernah melamar seorang wanita, lalu Nabi SAW berkata kepadaku: “apakah kau sudah melihat wanita itu?”, aku mengatakan: “belum”. Lalu Nabi SAW. berkata: “lihatlah! Karena sesungguhnya (dengan melihatnya) itu yang akan membuat kalian bertahan” (HR. Ibnu Majah) 

  • Pertimbangan Agama 

Rasulullah SAW menyarankan para pria memilih wanita yang agamanya baik. Sebab dalam kehidupan keluarga nanti, isteri yang belum baik agamanya akan menyita waktu dan fokus suami untuk terus menerus mendidiknya sehingga urusan lain yang menjadi tanggung jawabnya bisa terbengkalai. Seharusnya isteri sudah dengan mandiri dan pengertiannya mendidik anak-anak. Tetapi karena agamanya masih awam, ia sendiri kehabisan waktunya untuk belajar dari suami. 

Kebaikan agamanya bukanlah orang yang pengetahuan agamanya luas saja, melainkan yang benar-benar memiliki hubungan kuat dengan Allah SWT, dan mengamalkan syariat secara nyata. Dia adalah orang yang aqidahnya kuat, Ibadahnya rajin, Akhlaknya mulia, pakaiannya dan penampilannya syar’i, menjaga kehormatannya, rajin dan fasih membaca Al-Quran, berbakti kepada orang tuanya, menjaga lisannya, menjaga diri dari dosa-dosa, atau lain-lain kebaikan yang mencerminkan kepribadian islami. 

  • Yang selamat adalah memilih agamanya 

Akhirnya, yang Nabi SAW anjurkan adalah agar kita mengutamakan pilihan jodoh berdasar kekuatan agamanya. Sebab, agamalah yang kekal dan bisa berjalan dalam waktu yang lama. 

Taribat Yadaka” dalam hadits Nabi adalah ungkapan yang maknanya sangat dalam. Makna lugasnya adalah “Tanganmu berlumur tanah”, tetapi yang Nabi maksudkan adalah, seseorang yang memilih calon jodoh berdasarkan pertimbangan agamanya akan menjadi penentu kebaikan perjodohannya nanti.

Jadi, di antara empat pilihan berupa harta, keturunan, tampang dan agama, yang Rasulullah jamin kepuasan dan kebahagiaannya adalah ketika pasangan memilih agamanya. 

Maka berilah pengertian kepada anak bahwa kebolehan memilih jodoh atas dasar harta tidak akan menjamin kebahagiaan, keturunan tidak menjamin kemuliaan, dan tampang tidak menjamin kebertahanan. Yang bertahan dan menjamin kepuasan adalah agama.

 

[Yazid Subakti]

Menanamkan Jiwa Keibuan

Menanamkan Jiwa Keibuan

Parenting – Sejak dini biasakan untuk menanamkan jiwa keibuan kepada anak perempuan. Agar kelak dia sudah terbiasa ketika sudah menjadi seorang ibu. Ibu adalah orang pertama yang dihampiri oleh anak untuk mendapat perhatiannya, pengharapan dan kasih sayangnya. Ibu memiliki berbagai kelebihan dan keutamaan. 

Abu Hurairah ra berkata, “Seseorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw, lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku hormati?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu’. Ia kembali bertanya: ‘Kemudian siapa?’ nabi Saw menjawab: ‘Ibumu’. Laki-laki itu terus bertanya: ‘Kemudian siapa?’ Nabi Saw menjawab: ‘Ibumu’. Sekali lagi ia bertanya: ‘Kemudian siapa?’ Nabi Saw menjawab: ‘Kemudian bapakmu’”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Jadi, seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dari pada seorang ayah. Rasulullah Saw menyebut nama ibu sebanyak tiga kali sebagai sosok yang paling berhak untuk diperlakukan dengan sangat baik oleh anaknya dari pada seorang ayah yang hanya disebut satu kali.

  1. Yakinkan kepada anak perempuan, betapa amat sangat mulianya menjadi ibu

Tidak ada kedudukan mulia di sebuah keluarga yang menandingi kemuliaan ibu. Dalam hadits riwayat Mu’awiyyah bin Jahimah Al-Sulama beliau berkata, 

“Jahimah datang kepada Nabi Saw lalu berkata: Ya Rasulullah saya ingin berjihad? Beliau bertanya: Apakah kau masih mempunyai ibu? Jahimah menjawab: Ya. Beliau bersabda: Maka patuhilah ia. Sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya”. (H.R. Ibnu Majah & Al-Hakim).

Bahkan dikatakan, surga itu di bawah telapak kaki ibu. Sebuah kabar yang cukup bagi kita untuk meyakini bahwa seorang ibu amat mulia kedudukannya. 

  1. Sebagai Istri salihah 

Kehadiran isteri yang salihah dalam perjodohan adalah menggenapkan setengah agama suaminya. Ini seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, 

“Barangsiapa yang diberi Allah istri sholehah, sungguh ia telah dibantu menyempurnakan separuh agamanya. Maka, hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk menyempurnakan separuh lainnya. (HR. Al-Hakim).

Istri sebagai pendamping suami adalah teman setia suami dalam menyelesaikan kehidupan rumah tangga, menjadi penyemangat suami dalam keadaan suka maupun duka.

  1. Wanita sebagai ibu pendidik dan pencurah kasih sayang

Setiap perempuan harus bisa berperan menjadi seorang pendidik, siap berhadapan dengan putra putrinya yang membutuhkan asuhan dan pendidikan. Ibulah orang pertama yang menjadi contoh dalam pendidikan bagi keluarga serta melindungi anak-anaknya dari kobaran api neraka. Ibu adalah madrasah, bila Anda menyiapkannya berarti Anda sedang mempersembahkan bangsa yang baik pokok pangkalnya. 

Seorang ibu sesuai perannya dalam pendidikan anak adalah sumber dan pemberi kasih sayang, pengasuh dan pemelihara, tempat mencurahkan isi hati, pengatur kehidupan dalam rumah tangga, dan pembimbing hubungan pribadi.

Sebagai pencurah kasih sayang, maka ibulah pemilik kepribadian hangat, penyayang, bersabar dan lembut kepada anak-anaknya.

 

[Yazid Subakti]

Menanamkan Jiwa Keayahan Pada Anak Laki-laki

Menanamkan Jiwa Keayahan Pada Anak Laki-laki

Parenting – Sejak dini biasakan untuk menanamkan jiwa keayahan kepada anak laki-laki. Agar kelak dia sudah terbiasa ketika sudah menjadi seorang ayah.

  1. Laki-laki itu ‘qawwam’ 

Semua laki-laki harus bisa menampilkan diri sebagai qawwam, seorang pemimpin yang telah Allah tetapkan atasnya. 

Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, lantaran terhadap apa yang telah dilebihkan Allah sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan terhadap apa-apa yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya. Maka seorang yang sholihah ialah yang taat seta pandai menjaga dirinya ketika suaminya tidak ada, seperti Allah telah menjaga (mereka). Dan wanita-wanita yang kamu takutkan nusyuznya maka nasihatilah mereka pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah mereka. Maka jika mereka taat pada kalian janganlah kalian mempersulit jalan bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. An-Nisa’: 34)

Maksudnya lelaki merupakan pelindung (pemimpin) bagi kaum wanita dalam mendidik dan mengajak mereka kepada apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT kepada mereka. Itu akibat kelebihan yang telah berikan kepada laki-laki atas wanita dari mahar, nafkah, biaya rumah tangga, dan yang lainnya. Laki-laki menjadi pemimpin atau pengemban tugas dari Allah SWT untuk kaum wanita, yaitu isteri dan juga anak-anaknya.

Menurut Ibnu Abbas ra, laki-laki itu umara’ (pemimpin) bagi kaum wanita, dan wanita wajib untuk mentaati suaminya mengenai hal-hal yang telah Allah perintahkan kepada mereka. Mentaati suami yaitu dengan berbuat baik kepadanya, menjaga hartanya, serta memuliakan suami atas nafkah dan penghidupan yang telah ia berikan. 

  1. Seorang Qawwam harus kuat dan berkasih sayang

Di hadapan Allah kelak, suamilah yang akan mendapat pertanyaan dan harus mempertanggungjawaban tentang keluarganya, sebagaimana Rasulullah SAW pernah mengingatkan, 

Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai penanggung jawab, seorang suami tidak boleh bersikap masa bodoh, keras kepala, dan kasar terhadap isteri dan anak-anak yang menjadi tanggungannya. Ia harus memberi teladan akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang. 

Allah SWT telah memerintahkan seorang suami untuk bergaul dengan istrinya dengan cara yang baik.

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisa’: 19)

Makna bergaul dengan cara yang baik adalah memperindah ucapan terhadap istri dan anak, dan memperbagus perbuatan dan penampilan sesuai kadar kemampuan. Sebagaimana suami menyukai bila istrinya berbuat demikian, maka semestinya suami juga berbuat hal yang sama untuk membuat isteri menyukainya. Sebab para isteri memiliki hak kasih sayang dari suaminya, 

Nabi SAW sangat baik hubungannya dengan para istrinya. Wajahnya senantiasa berseri-seri, bersenda gurau dan bercumbu mesra dengan istri. Maka beliau berpesan, 

“Orang yang paling imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap isteri-isterinya   (HR. At Tirmidzi)

[Yazid Subakti]

Menghindari Hal-hal yang Memperburuk Kesuburan

Menghindari Hal-hal yang Memperburuk Kesuburan

Parenting – Ada beberapa hal yang dapat memperburuk kesuburan, maka dari itu Ayah Bunda harus sigap memperhatikan kesehatan. Hal-hal tersebut antara lain:

  • Begadang atau kurang tidur

Kebiasaan tidur yang buruk berkaitan dengan menstruasi yang tidak teratur, dan menstruasi yang tidak teratur dapat menjadi gejala ketidaksuburan. Untuk menghindari waktu tidur yang berantakan dan kurang tidur, ingatan anak untuk mengatur kembali waktunya agar bisa tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. 

  • Tidak meminum kafein berlebihan

Kafein ternyata buruk untuk kesehatan kesuburan laki-laki dan perempuan. Satu cangkir kopi atau teh mungkin tidak akan membahayakan kesuburan, tapi lebih dari dua cangkir dalam sehari bisa menurunkan kesuburan. Beberapa penelitian menemukan bahwa mengkonsumsi lebih dari 300 mg kafein per hari dapat sedikit mengurangi kesuburan dan dapat meningkatkan risiko keguguran. 

  • Berolahraga 

Beberapa latihan olahraga baik untuk kesehatan, terutama untuk jantung, paru-paru, dan kekebalan tubuh. Olahraga teratur juga dapat membantu mempertahankan berat badan yang lebih sehat, yang berarti kesuburan yang lebih baik. Tetapi terlalu banyak berolahraga justru dapat membahayakan kesuburan, apalagi jika jenis olahraganya terlalu ekstrim yang menguras tenaga.

  • Menjauhi junk food 

Junk food yang dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan masalah dengan berat badan. Sedangkan masalah berat badan akan membawa masalah kesuburan. Makanan cepat saji juka peningkatan gula darah yang secara tak langsung bisa memperburuk kesuburan. 

  • Jangan sampai minum beralkohol

Salah satu hikmah minuman beralkohol haram untuk dikonsumsi adalah karena alkohol merusak kesuburan, terutama kualitas sel sperma. Perempuan yang meminum alkohol dilaporkan memiliki risiko membutuhkan waktu lebih lama untuk hamil dibandingkan wanita yang bukan peminum alkohol.

  • Menghindari rokok

Asap rokok dengan segala macam racunnya sangat mempengaruhi kesuburan laki-laki dan perempuan. Ini termasuk asap yang dihisap secara langsung maupun bukan penghisap rokok yang menghirup asap rokok dari orang lain (perokok pasif).

 

[Yazid Subakti]

Menyiapkan Sehatnya Organ Reproduksi Anak

Menyiapkan Sehatnya Organ Reproduksi Anak

Organ Reproduksi – Tak ada yang paling dirisaukan calon ayah dan ibu di masanya yang siap menikah kecuali jaminan kesuburannya. Para lajang mengharapkan rahimnya subur untuk tumbuhnya bayi, dan para bujang menginginkan keturunanya unggul untuk generasi ke depan. 

Allah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada manusia yang telah menikah untuk melakukan ikhtiar menurunkan generasi dengan cara sebaik-baiknya. 

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” (QS. al-Baqarah/2: 223)

  • Kesuburan Pria dan Wanita 

Kesuburan tidak hanya milik perempuan saja. Laki-laki juga ikut menentukan apakah pasangan suami isteri yang dibentuknya akan memperoleh keturunan atau tidak. 

Bagi seorang wanita, kesuburan sangat menentukan peluang untuk hamil. Semakin subur seorang wanita, peluang untuk memiliki anak akan semakin besar. Wanita memiliki masa subur yang lebih cepat dibanding laki-laki. Masa subur wanita adalah suatu masa dalam siklus menstruasi di mana terdapat sel telur yang matang yang siap dibuahi. Jika pada masa ini ia melakukan hubungan seksual, maka besar kemungkinan anak terjadi kehamilan.

Puncak kesuburan wanita terjadi pada usia 20 hingga 29 tahun. Kesempatan yang dimiliki untuk hamil pada usia ini adalah 95%. Memasuki usia 30 tahun kesempatannya menurun hingga 90%. Peluang untuk hamil akan berkurang hingga 40% ketika memasuki usia 40 tahun. Di atas usia 40 tahun, peluang untuk hamil hanya tinggal 10%.

Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi kesuburan wanita yaitu :

    • Perkembangan sel telur yang baik dan sehat di dalam sistem reproduksi.
    • Indung telur mampu melakukan peluncuran sel telur yang telah matang.
    • Ujung saluran telur (fimbriae) dan saluran telur (tuba falopi) mampu menangkap dan menampung sel telur dengan baik.
    • Tidak terjadi infeksi di sekitar saluran reproduktif.
    • Hormon dalam kondisi seimbang.
    • Tidak ada penyumbatan atau kecacatan pada saluran telur.

Bagi pria, kesuburan ditandai juga dengan kemampuannya memberi keturunan. Pria normal dan subur harus memiliki kualitas spermatozoa yang cukup baik. Volume cairan sperma setiap kali ejakulasi normalnya antara 2 sampai 5 cc. Agar mudah menghasilkan pembuahan, jumlah minimal sel sperma harus mencapai setidaknya 20 juta sel dalam setiap cc. 

Penurunan kesuburan juga bisa terjadi pada laki-laki. Biasanya, penurunan kesuburan ini erat kaitannya dengan bertambahnya usia. Pada usia 35 tahun, jumlah laki-laki yang gagal membuahi pasangan meningkat hingga 15%. Hal ini dikarenakan penurunan kondisi fisik serta dorongan dan frekuensi untuk berhubungan seksual mulai berkurang.

  • Penyebab Ketidaksuburan (Infertilitas)

Jika setelah beberapa tahun menikah tidak juga mendapatkan keturunan, itu adalah tanda salah satu atau kedua belah pihak dari suami isteri tidak subur. Jika ketidaksuburan ini bersifat lama atau permanen, maka kehamilan tidak akan pernah terjadi sehingga cita-cita memiliki keturunan harus diikhlaskan sepenuhnya pada takdir Allah.

Penyebab ketidaksuburan yang memungkinkan pria maupun wanita alami adalah :

    • Stress 

Stress atau kondisi jiwa yang tertekan dapat menyebabkan kacaunya fungsi hormon, sehingga produksi sel telur wanita dan sel sperma pria terganggu. Kalaupun sel telur atau sperma terbentuk, sel-sel ini tidak dalam kondisi prima sehingga kalau sampai terjadi pembuahan, janin yang terbentukpun bersiko tidak tumbuh dengan normal. 

    • Infeksi 

Biasanya serangan infeksi berupa peradangan kronis di daerah rahim atau indung telur. Infeksi ini dapat merusak dan menghambat kelangsungan pertemuan antara sel telur dengan sel sperma sehingga kehamilan menjadi gagal terbentuk.

    • Ketidakseimbangan hormon 

Selama proses pemunculan sel telur sampai bertemunya dengan sperma, hormon-hormon tubuh seharusnya berjalan normal sehingga terbentuknya janin dan perkembangannya berjalan dengan wajar. Oleh karena itu ketidakseimbangan hormon ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan saat pelepasan sel telur dari indung telur. 

    • Tercemar zat kimia berbahaya 

Logam berat dan berbagai macam senyawa beracun yang ada dalam tubuh wanita maupun pria bisa memperburuk kualitas ovum wanita dan sperma pria. Kualitas sel benih yang buruk ini memperkecil terjadinya kehamilan kalaupun keduanya saling bertemu.

    • Usia 

Bertambahnya usia mengakibatkan penurunan kemampuan memproduksi sel telur dan sperma yang berkualitas. Wanita akan berhenti menghasilkan sel telur sebelum berusia 50 tahun dengan berhentinya menstruasi secara tetap (menopause). Laki-laki masih bisa menghasilkan sel sperma sampai usia yang sangat tua, tetapi stamina tubuh sering tak memungkinkan untuk melakukan proses reproduksi. 

    • Gangguan pada organ reproduksi 

Pada wanita, gangguan organ reproduksi bisa berupa keputihan, infeksi saluran telur, Infeksi saluran telur, kista, mioma, endometriosis, dan masalah pada indung telur. Sedangkan gangguan pada organ reproduksi pria adalah testis mengalami penurunan fungsi, ejakulasi dini, impotensi, atau kualitas sperma yang buruk. 

    • Status gizi kurang 

Kesuburan yang baik mensyaratkan kecukupan gizi. Oleh karenanya, gizi yang kurang akan menyebabkan penurunan kebugaran fisik dan juga kesuburan.

    • Kelebihan berat badan hingga obesitas

Terlalu gemuk ternyata dapat menyebabkan gangguan hormon yang dapat mengganggu produksi sperma maupun sel telur. Kegemukan juga dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah di sekitar organ reproduksi sehingga sperma maupun sel telur yang dihasilkan tidak akan berkualitas untuk menghasilkan keturunan.

 

[Yazid Subakti]