Perjalanan Safar – Bagian 3 : Anak tak memiliki pengalaman safar

Perjalanan Safar – Bagian 3 : Anak tak memiliki pengalaman safar

Parenting – Anak yang tak memiliki pengalaman safar atau tak pernah dilatih melakukan perjalanan jauh tumbuh berbeda dengan anak yang terbiasa mengalami perjalanan jauh. Mereka tetap tumbuh sebagai pribadi yang normal tetapi memiliki beberapa kelemahan yang dapat menyulitkan kehidupannya kelak ketika dewasa. 

  • Mudah mabuk perjalanan

Salah satu tanda anak yang tidak terbiasa bepergian dari kecil adalah mudah mabuk kendaraan. Ia tidak kuat dengan guncangan badan dalam keadaan sedang melaju kencang sehingga system keseimbangan tubuhnya bereaksi atau sistem pencernaannya terganggu. Bahkan beberapa anak baru beberapa menit naik kendaraan dan mencium bau AC atau mencium bau bahan bakar sudah mual-mual dan muntah-muntah. Anak yang dari kecil, bahkan sejak bayi sudah biasa menjalani safar akan kebal dari semua ini.

  • Mudah mengalami disorientasi

Disorientasi adalah kehilangan atau kebingungan arah mata angin setelah seseorang mengalami perpindahan  posisi. Anak yang jarang bepergian berpotensi mudah mengalami kebingungan arah hanya dengan menyusuri beberapa ruas jalan, ia tidak terlatih instink medannya untuk menemukan arah jika lokasi dirinya berubah dari biasanya. 

  • Berpeluang mudah tersesat

Karena mudah mengalami disorientasi, maka anak juga menjadi mudah tersesat ketika bepergian. Tidak terlatihnya bepergian sejak kecil membuat anak tidak terbiasa menyusuri berbagai macam jalan dengan penanda dan karakternya yang berbeda-beda. Anak tidak mengenali jalan dan perkampungan sehingga kesulitan menemukan tujuan atau arah pulang. Saat dalam kondisi seperti ini, bertanya kepada orang pun tetap tidak mudah jika ia sendiri jalur yang akan ia tuju atau arah pulang yang akan ia tempuh. 

  • Kurang percaya diri menghadapi berbagai tipe orang

Jarang bepergian berarti jarang bertemu orang asing selain yang ia kenal selama ini. Sedangkan pada saat tertentu nanti pergaulan yang semakin uas membuat anak akan bertemu dengan banyak orang, terlebih jika cita-citanya sangat tinggi. Ia akan kesulitan menghadapi berbagai ragam dialek atau bahasa orang, mudah percaya atau sebaliknya mudah curiga kepada setiap orang baru yang ia temui. Bahaya anak yang mudah percaya dengan orang baru adalah minim kewaspadaan sehingga mudah tertipu jika ternyata orang baru tersebut bukan orang baik-baik. Bahaya anak yang mudah curiga terhadap orang baru adalah menjadi tertutup dan sempit pergaulannya sehingga peluang kerjasama dengan orang-orang penting menjadi hilang. 

  • Mudah putus asa menghadapi tantangan

Selama perjalanan anak bisa saja menghadapi banyak kondisi darurat yang mengharuskannya terus berjuang melanjutkan perjalanan. Mobil mogok, perbekalan menipis, perut lapar, tenggorokan haus, hujan deras ataupun panas menyengat dan ketegangan-ketegangan lain semuanya sudah biasa dihadapi.       

  • Tidak fleksibel menghadapi situasi

Bagi anak yang terbiasa melakukan perjalanan jauh, menghadapi keadaan yang tidak normal sudah terbiasa. Ia fleksibel dan mudah mengerti bahwa tidak semua yang kita inginkan akan mudah terpenuhi. Ia terlatih menghadapi kenyataan di perjalanan bahwa jika tak ada makanan enak, makanan lain pun  bisa menjadi pengganti, pakaian tidak harus selalu bagus jika memang tidak tersedia, tidur di manapun adalah nikmat tak harus di kasur bersama bantal dan guling, 

  • Mudah mengeluh dan berburuk sangka

Mengeluh adalah respon negatif terhadap suatu kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan. Biasanya ini terjadi dalam bentuk ketidaksabaran menghadapi suatu proses atau penolakan terhadap hal-hal yang tak menyenangkan. Ia tidak pernah berlatih safar yang melelahkan dan penuh proses yang tidak semuanya menyenangkan.

  • Sempit wawasan

Anak yang terkurung di rumah dan kampung halamannya mengira bahwa dunianya sela ini sudah yang paling luas dan indah. Ia menjadi fanatic buta dengan lingkungan kecilnya seolah itu adalah yang paling baik, kurang bisa menerima perbedaan yang amat beragam, dan mudah terheran dengan hal-hal besar yang baru ia lihat. Ia tidak pernah melakukan salat jama’ lalu terheran dan mengira orang yang salat jama’ itu beraliran sesat. Saat pertama kali melihat orang asing, ia seperti terhipnotis terus-terusan memandangi sesosok bule yang warna kulit, rambut, mata,  dan postur tubuhnya sangat berbeda dengan dirinya.        

Itu semua tidak hanya  akan terjadi pada anak-anak, melainkan juga remaja dan bahkan orang dewasa. Oleh karenanya, safar harus orang tua kenalkan sejak kecil, jika tidak memungkinkan, setidaknya saat remaja atau menjelang dewasa sudah mendapat pengalaman perjalanan jauh. Bila perlu, anak harus merantau dalam rangka menuntut ilmu atau mencari rejeki. Hamper semua ulama masyhur adalah para perantau ulung selama masa-masa mencari pencarian ilmunya. Mereka tidak hanya mendapatkan ilmu yang luas, tetapi juga kepribadian yang tangguh dan arif menghadapi umat. 

  • Waktu yang disunnahkan untuk safar 

Ada anjuran melakukan safar pada waktu terbaik, yaitu waktu yang memberi peluang keamanan atau kecilnya risiko perjalanan.

  • Rasulullah SAW mensunnahkan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan beliau, Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata, “Nabi SAW keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis.” [HR Bukhari]
  • Ada anjuran memulai bepergian pada pagi hari karena pagi adalah waktu yang penuh berkah. Nabi SAW pernah mendoakan keberkahan pagi dalam sabdanya, Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”[HR Abu Dawud dan At tirmidzi]
  • Waktu terbaik untuk melakukan safar lainnya adalah di waktu duljah, yaitu di awal malam. Perjalanan di waktu malam hari baik karena ketika itu jarak bumi seolah-olah dekat. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.” [HR Abu Dawud dan Al baihaqi]

 

[Yazid Subakti]

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *