Menutup Aurat – Bagian 1

Menutup Aurat – Bagian 1

Parenting – Secara bahasa, aurat artinya bagian yang ditutupi manusia karena jika ditampakkan dapat menimbulkan rasa malu. Sedangkan secara istilah, aurat  adalah bagian tubuh yang diwajibkan Allah untuk ditutupi. Jadi, menutup aurat bukan lagi mempeprtimbangkan pemlik aurat malu atau bukan malu ketika terbuka, melainkan karena taat kepada perintah Allah. 

Dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman,

“Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Qs. Al A’raaf: 31)

Ayat ini turun berkaitan dengan kebiasaan kaum jahiliyah yang bertawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. Mereka beranggapan bahwa pakaian yang biasa mereka pakai biasa digunakan untuk maksiat sehingga saat menghadap baitullah mereka tanggalkan.  Maka turunlah ayat Allah yang memerintahkan agar manusia menutup aurat.

Aurat tidak boleh ditampakkan ke hadapan orang-orang secara umum karena dapat menimbulkan dampak buruk. Namun untuk orang-orang tertentu aurat bukan bagian yang harus ditutupi, yaitu kepada suami dan istri. 

Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, “Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami perbuat terhadap aurat kami?” Beliau SAW menjawab, “Jagalah (tutuplah) auratmu kecuali terhadap istrimu atau budak yang kamu miliki.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah jika antara sesama kami?” Rasulullah menjawab, “Jika engkau mampu untuk tidak memperlihatkannya, maka jangan perlihatkan.” Aku bertanya kembali, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang di antara kami sedang sendiri?” Beliau menjawab, “Allah lebih berhak untuk malu kepada-Nya daripada kepada manusia.” (Hr. Abu Dawud) 

Meskipun sesama laki-laki, aurat tetap harus ditutup. Begitu juga perempuan terhadap sesama perempuan. 

Rasulullah SAW mengingatkan,

“Laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki, wanita tidak boleh melihat aurat wanita. Laki-laki tidak boleh telanjang dengan laki-laki lainnya dalam satu selimut, dan wanita tidak boleh telanjang dengan wanita dalam satu selimut.” (Hr. Muslim)

  • Perbedaan aurat laki-laki dan perempuan

Orang tua harus menjelaskan kepada anak bahwa aurat laki-laki dan perempuan tidak sama. Perempuan lebih banyak bagian tubuhnya yang ditutup dibandingkan dengan laki-laki.  

    • Aurat Laki-Laki

Yang termasuk aurat laki-laki adalah bagian badan sepanjang antara pusar ke bawah sampai  lututnya. Ini seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya ketika seseorang bertanya tentang batas aurat laki-laki,

Antara pusar dan lutut adalah aurat.” (HR. Hakim).

Suatu ketika, Nabi SAW pernah menjumpai seorang sahabat yang pahanya terbuka. Maka beliau bersabda, “Tutuplah pahamu. Sesungguhnya ia bagian dari aurat.” (HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi).

Itu batasan aurat di luar salat. Pada saat mengerjakan salat, sebagian ulama mengharuskan laki-laki menutup pundaknya ketika mampu menutupnya. 

Ini seperti yang disampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya, 

 “Janganlah salah seorang di antara kalian shalat dengan satu kain, sedangkan di pundaknya tidak ada sesuatu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa menutupi pundak saat salat ini sunah, namun Imam Ahmad berpendapat bahwa hal itu hukumnya wajib sehingga tidak sah salat seorang laki-laki yang membiarkan pundak terbuka sedangkan ia mampu menutupinya. 

    • Aurat Wanita 

Aurat wanita adalah seluruh badannya. Sebagian ulama berpendapat seluruh badannya kecuali muka dan telapak tangannya. 

Wanita itu aurat. Jika keluar, maka setan akan menghiasnya (di mata laki-laki).” (Hr. Tirmidzi)

Dalam keadaan salat, tubuh wanita seluruhnya adalah aurat sehingga wajib ditutup kecuali muka dan telapak tangan. Allah SWt berfirman,

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya.” (QS. An Nuur: 31)

Maksudnya, tidak boleh bagi wanita menampakkan bagian-bagian perhiasan kecuali muka dan kedua telapak tangan. 

Dari Aisyah ra, bahwa ia pernah ditanya, “Berapa pakaian yang dipakai wanita untuk shalat?” Aisyah menjawab, “Bertanyalah kepada Ali bin Abi Thalib, kemudian kembalilah menemuiku dan sampaikanlah jawabannya kepadaku,” maka  ia mendatangi Ali dan bertanya kepadanya tentang hal itu, lalu Ali menjawab, “Yaitu dengan memakai  kerudung dan gamis yang lebar.” Kemudian orang ini kembali menemui Aisyah dan memberitahukan jawabannya, maka Aisyah berkata, “Benar.” (HR. Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah).

Menutup seluruh tubuh (kecuali jah dan telapak tangan) maksudnya adalah menutup dari pandangan dan mengusahakan agar pandangan pada tubuh yang sudah tertutup tetap aman. Artinya, kain penutup tidak boleh terlalu tipis atau menggunakan model yang membentuk lekukan bagian tubuh.   Jika pakaian penutup badan masih memberi peluang terlihat atau tergammbarkannya bentuk tubuh, maka syarat menutup aurat belum terpenuhi. 

    • Aurat wanita dengan sesama wanita

Sesama wanita muslimah auratnya antara pusar dan lutut, baik wanita tersebut ada hubungan kerabat maupun tidak. Tetapi jika wanita muslimah berada di antara wanita kafir, maka auratnya adalah seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan. 

Allah  berfirman mengenai hal ini,

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam.” (Qs. An Nuur: 31) 

Jadi, seorang wanita muslimah boleh menampakkan sebagian auratnya kepada sesama muslimah, tetapi tidak boleh menampakkan auratnya kepada wanita yang bukan muslimah.  

    • Wanita di hadapan mahram

Mahram adalah laki-laki yang haram untuk menikah dengannya. Aurat wanita terhadap laki-laki mahramnya adalah semua badannya selain muka, kepala, kedua tangan, dan kedua kaki. Bagian badan yang selain itu adalah haram tampak, dan mahramnya pun haram melihatnya. 

Sebagian ulama membolehkan mahram melihat anggota-anggota tubuh wanita yang biasa tampak seperti anggota tubuh yang dibasuh ketika berwudhu yaitu muka, kuduk, kepala, dua tangan, kaki, dan betis.

Namun demikian, kebolehan ini hanya sekedar melihatnya sekilas dalam keadaan yang tidak memungkinkan menghindarinya, tanpa pandangan syahwat. 

Wanita di hadapan laki laki yang telah menjadi suaminya boleh memperlihatkan seluruh bagian tubuh tanpa ada batasnya. 

    • Aurat Anak-Anak

Apakah tubuh anak-anak juga termasuk aurat?

Bayi dan anak-anak yang masih kecil sebelum berusia 7 tahun belum memiliki bagian tubuh yang terhukumi aurat kecuali kedua farjinya sebagai adab ketika bergaul. Ketika anak perempuan telah mencapai sembilan tahun, sedangkan anak laki-laki sepuluh tahun, maka pemberlakuan aurat sudah mulai dengan membelikannya pakaian yang syar’i. 

Meskipun anak-anak belum memiliki aurat, pemberlakuan pakaian syar’I penting bagi mereka sebagai pengenalan dan pembiasaan agar kelak ketika hukum aurat berlaku.

[Yazid Subakti]

Muslim Itu Menghargai Tetangga

Muslim Itu Menghargai Tetangga

Parenting – Telah berabad-abad Islam membuktikan diri sebagai agama kasih sayang, rahmatan lil alamin.  Allah dan rasul-Nya telah mengajarkan kepada umat manusia untuk berbuat baik kepada sesama, termasuk menghargai tetangga. Tetangga memiliki hak untuk dikasih sayangi dan dihargai hingga beberapa hadits bertema khusus tentang tetangga.  

Setelah menyeru beribadah dan larangan berbuat syirik, Allah memerintahkan manusia untuk berbuat kepada sesama manusia, termasuk kepada tetangga. 

Allah berfirman,

Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim,  orang miskin, tetangga atau kerabat dekat, tetangga atau kerabat jauh, rekan di perjalanan, Ibnu Sabil, dan kepada budak yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan apa yang dia miliki.” (QS. An-Nisa: 36).

Yang dimaksud berbuat baik kepada tetangga dalam ayat ini adalah untuk semua tetangga, yaitu tetangga muslim maupun kafir. Siapapun tetangga yang keberadaannya sah sebagai bagian dari warga berhak untuk dihargai dan mendapat perhatian. Sebab, mereka adalah orang paling dekat jaraknya dengan kita. 

Anak-anak harus dipahamkan bahwa tetangga adalah bagian dari kehidupan sosial kita yang harus dihormati.   

Sebagai orang yang paling dekat, tetangga bahkan berhak untuk merasakan hidangan yang kita rasakan. 

Abu Dzar ra mengatakan, “Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah), mewasiatkan kepadaku, “Apabila kamu memasak, perbanyaklah kuahnya. Kemudian perhatian penghuni rumah tetanggamu, dan berikan sebagian masakan itu kepada mereka dengan baik.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, salah satu cara merawat hubungan dengan tetangga adalah dengan saling berbagi makanan. Jika anda memasak makanan dengan aroma yang tersebar sampai tetangga menciumnya, ada baiknya jumlah  masakan diperbanyak. Sisihkan sebagian dan anda dapat meminta anak mengantarkannya kepada tetangga sebagai sedekah.   

  • Paling dekat pintunya, paling berhak mendapat lebih banyak

Tetangga berhak mendapatkan hadiah atau pemberian apapun yang akan kita sedekahkan. Pada saat menggelar hajatan atau syukuran, kita berbagi makanan kepada tetangga. Pada saat mendapat kegembiraan atau memiliki kelebihan makanan, kepada tetangga pemberian itu kita alirkan. Mereka yang paling berhak atas pemberian kita adalah yang jaraknya paling dekat. 

Ini seperti jawaban rasulullah SAW ketika Aisyah bertanya, 

Dari A’isyah ra, beliau bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, saya memiliki dua tetangga dekat. Kemanakah saya akan memberikan hadiah?” beliau menjawab, “Ke rumah yang paling dekat pintunya denganmu.” (HR. Bukhari)

Maksudnya, paling dekat dengan pintu rumah. Di beberapa kompleks perumahan, banyak rumah dibangun dengan tembok belakang saling berhimpit tetapi dengan arah hadap saling membelakangi dan tidak terdapat jalur penghubung langsung. Dalam keadaan ini, yang dianggap paling dekat dengan pintu rumah bukan tetangga yang menghadap ke belakang itu, tetapi tetangga samping kanan kiri dan depan rumah (seberang jalan) jika memang jaraknya dekat.   

  • Ada hubungannya dengan iman dan kebahagiaan

Bertetangga adalah bagian dari cermin keimanan kita. Seberapa baik dengan tetangga, adalah cermin seberapa baik keimanan kita. Oleh karena itu rasulullah mengingatkan, 

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan berbuat zalim kepada tetangga adalah salah satu dosa besar.

Seseorang yang berzina dengan 10 wanita, dosanya lebih ringan dibandingkan dia berzina dengan satu orang istri tetangganya… seseorang yang mencuri 10 rumah, dosanya lebih besar dibandingkan dia mencuri satu rumah tetangganya.” (HR. Ahmad)

Sedangkan tetangga yang baik akan menjadi bagian dari kebahagiaan atau kesengsaraan kita. 

Dari Sa’d bin Abi Waqqash ra, Rasulullah SAW bersabda,

Empat hal yang menjadi sumber kebahagiaan: Istri solehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan tunggangan yang nyaman. Empat hal sumber kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang durhaka, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang tidak nyaman.” (HR. Ibn Hibban).

  • Tanda muslim sejati 

Jika manusia ingin menjadi muslim sejati, maka salah satu syaratnya adalah berbuat baik kepada tetangganya. 

Jadilah orang yang wara’, kamu akan menjadi manusia ahli ibadah. Jadilah orang yang qanaah, kamu akan menjadi orang yang paling rajin bersyukur. Berikanlah yang terbaik untuk orang lain, sebagaimana kamu memberikan yang terbaik untuk dirimu, niscaya kamu menjadi mukmin sejati. Bersikaplah yang baik kepada tetangga, kamu akan menjadi muslim sejati…” (HR. Ibn Majah)

Itu artinya, kita belum pantas disebut muslim sejati jika hubungan dengan tetangga masih belum baik. 

  • Bersabar atas ketidaknyamanannya

Beberapa tetangga di saat tertentu melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan. Ada tetangga yang mengganggu ketenteraman dengan membunyikan suara musik yang keras, menerima tamu dengan banyaknya kendaraan yang menutupi jalan, atau memelihara hewan yang mengganggu penghuni rumah sekelilingnya. 

Maka terhadap ketidaknyamanan ini kita harus bersabar.

“Tiga orang yang Allah cintai…., orang yang memiliki tetangga, dan tetangganya suka menyakitinya. Diapun bersabar terhadap gangguannya sampai dipisahkan dengan kematian atau safar” (HR. Ahmad).

Kesabaran ini mendatangkan cinta Allah sementara tetangga yang zalim akan mendapat peringatan dengan cara yang Allah kehendaki. 

  • Tetangga adalah saksi  

Tetanggalah saksi perilaku kita. Apa yang kita lakukan setiap hari dan bagaimana sikap kita diketahui oleh tetangga sehingga orang lain berhak bertanya kepada tetangga ketika ia memberikan penilaian terhadap kita. 

Dari Ibn mas’ud ra, bahwa ada seorang yang bertanya kepada Nabi SAw, “Bagaimana saya bisa mengetahui, apakah saya orang baik ataukah orang jahat?” beliau SAW menjawab, “Jika tetanggamu berpandangan kamu orang baik, maka berarti engkau orang baik. Sementara jika mereka menilai engkau orang tidak baik, berarti kamu tidak baik.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

 

[Yazid Subakti]

Ajarkan Adab Bertetangga

Ajarkan Adab Bertetangga

Parenting – Siapapun orang yang tinggal di sekeliling tempat tinggal kita adalah tetangga. Maka sejak dini ajarkan adab bertetangga kepada anak-anak.

Kata tetangga mencakup semua orang muslim maupun kafir, ahli ibadah maupun ahli maksiat, teman dekat maupun musuh, pendatang maupun penduduk asli, yang suka membantu maupun yang suka merepotkan, yang dekat maupun yang jauh, yang rumahnya berhadapan maupun yang yang bersingkuran. Demikian menurut Al-Hafidz Ibn Hajar.

Jadi, siapapun orang yang tinggal di sekeliling tempat tinggal kita adalah tetangga. Mereka berhak atas hak-hak pertetanggaan dari kita, dan kita pun akan memperlakukannya sebagaimana kewajiban kita terhadap tetangga. 

Lalu, sampai sejauh mana orang-orang sekeliling rumah dianggap sebagai tetangga? 

Para ulama memberi pendapat yang beragam mengenai hal ini. Adan yang berpendapat bahwa tetangga adalah semua orang yang tinggal satu kampung bersama kita. Dasar pendapat ini didasarkan atas  firman Allah,

 “Jika orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu) tidak menghentikan aksinya, niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 60)

Ada juga yang berpendapat bahwa semua orang yang menempati 40 rumah dari semua penjuru arah itulah yang termasuk tetangga. Jadi, tetangga itu orang-orang  yang tinggal di dalam 40 rumah ke depan, kanan, kiri, dan belakang dari rumah kita. Ini bila dalam perkampungan jumlah dan jarak rumah wajar, tidak terlalu jarang atau padat. Pada perumahan yang amat padat, 40 rumah sangatlah sedikit. Ada pedesaan yang sangat renggang, menemukan 40 rumah dalam satu penjuru bisa menempuh jarak berkilo-kilometer, bahkan sudah di luar desa. 

  • Tidak boleh mengganggu tetangga

Anak-anak harus diingatkan agar tidak mengganggu tetangga. Sebab Rasulullah SAW telah memberikan ancaman bagi umatnya yang demikian.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda,

“Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu pentingnya berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai Jibril mengira tetangga adalah ahli waris. 

Dari A’isyah ra, Nabi SAW bersabda,

“Jibril selalu berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira, tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya.” (HR. Bukhari  dan Muslim ).

  • Allah melaknat

Abu Hurairah ra menceritakan, bahwa seseorang mengadu kepada Nabi SAW tentang kezaliman yang dilakukan tetangganya. Setiap kali orang ini mengadu, Rasulullah menasehatinya untuk bersabar. Ini terjadi sampai tiga kali. Sampai pengaduan yang keempat, Nabi SAW bersabda,

“Letakkan semua isi rumahmu di pinggir jalan.”

Orang ini pun melakukannya. Setiap ada orang yang melewati orang ini, mereka bertanya: “Apa yang terjadi denganmu. (sampai kamu keluarkan isi rumahmu).” Dia menjawab: “Tetanggaku menggangguku.” Mendengar jawaban ini, setiap orang yang lewat pun mengucapkan: “Semoga Allah melaknatnya!” sampai akhirnya tetangga pengganggu itu datang, dia mengiba: “Masukkan kembali barangmu. Demi Allah, saya tidak akan mengganggumu selamanya.” (HR. Ibnu Hibban).

  • Jangan biarkan tetangga kelaparan

Rasulullah SAW melarang kita membiarkan tetangga dalam keadaan kelaparan. Kita diperintahkan untuk memberinya makan sampai mereka merasa kenyang.

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Bukanlah mukmin sejati, orang yang kenyang, sementara tetangga di sampingnya kelaparan.” (HR. Abu Ya’la)

Haram hukumnya bagi orang yang memiliki makanan sementara ia membiarkan tetangganya dalam kondisi lapar. Ia wajib memberikan makanan kepada tetangganya yang cukup untuk mengenyangkannya. Ini tidak hanya berlaku untuk makanan dan rasa lapar tetangga, melainkan juga dalam hal pakaian dan kebutuhan pokok lainnya.

Jika anak membawa makanan keluar rumah, titipkan pesan agar ia berbagi makanannya itu kepada anak tetangga. Ia dapat membawa makanan dalam jumlah lebih banyak, agar sebagiannya dapat dimakan bersama anak-anak tetangga.

  • Tidak boleh meremehkan pemberian tetangga

Rasulullah mengingatkan kepada wanita agar ketika mendapat pemberian tetangga tetap bersyukur apapun bentuk pemberian itu, berguna atau tidak, disukai maupun tidak disukai. 

Sebuah hadits dari Abu Hurairah ra mengisahkan bahwa Nabi SAW bersabda,

 “Wahai para wanita muslimah, janganlah satu tetangga meremehkan pemberian tetangga yang lainnya, meskipun hanya kikil yang tak berdaging.” (HR. Bukhari  dan Muslim).

Maka ini artinya, kita tidak boleh mencela atau menganggap pemberian tetangga itu buruk. Semua pemberian tetangga harus kita pandang niat baik pemberinya. Ketika tetangga memberi, itu artinya ia berniat baik menjalin hubungan dengan kita. 

  • Perselisihan tetangga diselesaikan pertama di akhirat

Dari Uqbah bin Amir ra, Nabi SAW bersabda,

“Sengketa pertama pada hari kiamat adalah sengketa antar tetangga.” (HR. Ahmad)

Jika amal ibadah yang mendapat antrian hisab pertama kali adalah mengenai salat, maka perselisihan yang pertama kali akan diadili oleh Allah di hari kiamat adalah tentang pertetanggaan. Artinya, orang yang banyak masalah dengan tetangga akan memiliki beban perhitungan lebih berat dan dapat menjerumuskannya ke dalam neraka. 

Sebab, menyakiti tetangga adalah salah satu penyebab manusia masuk neraka. 

Dari Abu Hurairah ra, bahwa ada seseorang yang melapor kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita itu rajin shalat, rajin sedekah, rajin puasa. Namun dia suka menyakiti tetangga dengan lisannya.” Nabi SAW bersabda,  “Dia di neraka.”

Para sahabat bertanya lagi, “Ada wanita yang dikenal jarang berpuasa sunah, jarang shalat sunah, dan dia hanya bersedekah dengan potongan keju. Namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah SAW bersabda, “Dia ahli surga.” (HR. Ahmad).

 

[Yazdi Subakti]

Jauhkan Anak dari Sifat Tercela

Jauhkan Anak dari Sifat Tercela

Parenting – Ada oleh nafsu dan syaitan yang selalu menggoda, manusia selalu memiliki risiko untuk tergelincir dalam sifat tercela. Sebagai makhluk yang imannya bisa bertambah dan berkurang, manusia rawan terjerumus dalam kemaksiatan dan keburukan-keburukan sifat. Oleh karenanya, anak harus mengetahui bahwa ada sifat-sifat tercela yang ia harus waspada jangan sampai terjadi padanya.  

Jika itsar adalah sikap mementingkan orang lain karena menghargai, maka ananiyah merupakan sifat yang mengutamakan kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Sifat ananiyah disebut juga sifat egois.

Sifat ini berbahaya bagi anak, karena merusak hubungan dengan sesama. Selain itu, ananiyah membuat anak terjauhi dari temannya, orang lain jadi enggan membantu jika dia membutuhkan bantuan, terkucilkan, dan berisiko terputusnya tali silaturahmi.

  • Gadhab

Gadhab atau amarah, yaitu meluapnya emosi secara negatif ketika keinginan tidak tercapai. Seseorang yang memiliki perilaku gadab pada hakikatnya adalah orang yang lemah, sebab mengendalikan dirinya sendiri saja tak kuasa. 

Sebenarnya, marah adalah perilaku manusiawi. Tetapi meluapkannya dalam emosi negatif adalah perbuatan setan yang menyebabkan seorang hamba tidak dapat berpikir mengenai kebenaran.  

Meskipun tampak sepele, ternyata ghadab berhubungan dengan keimanan. Amarah dapat menyebabkan seseorang mendapat murka Allah pada hari kiamat, menjadi sumber konflik, penyebab dendam, dan tersingkirnya seseorang dari pergaulan. Rasulullah bahkan mengingatkan agar umatnya tidak mudah marah, agar surga tetap menjadi haknya. Artinya, orang yang mudah marah berarti mengecilkan peluangnya mendapatkan surga.  

Cara meredakan amarah yang terlanjur muncul adalah memohon perlindungan kepada Allah swt, dan duduk dengan tenang. Jika duduk juga belum mereda sebaiknya berbaring, dan  jika berbaring juga belum mereda, sebaiknya berwudu atau mandi.

  • Hasad

Istilah lain dari hasad adalah dengki atau iri hati, yaitu mengharapkan hilangnya kebahagiaan atau kenikmatan dari orang yang ia dengki atau mengharapkan nikmat yang orang lain terima beralih kepadanya. Orang yang memiliki sifat hasad merasa bahagia ketika orang lain sengsara, dan merasa sengsara ketika melihat orang lain bahagia.

Dengki atau hasad biasanya berhubungan dengan permusuhan dan kebencian, sifat sombong atau merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain dan kurangnya kurangnya bersyukur atas nikmat Allah. Pemilik sifat hasad sering melakukan kejahatan diam-diam tanpa diketahui orang lain sehingga dianggap sangat berbahaya. Itulah sebabnya, Dalam surat Al Falaq Allah mengajarkan manusia untuk berdo’a memohon perlindungan dari orang hasad. 

Hasad yang terus disimpan dalam hati lama kelamaan dapat menjadi sumber munculnya penyakit psikis, yang kemudian menjalar menjadi penyakit fisik. 

  • Ghibah

Ghibah bukan sifat, tetapi perbuatan, yaitu menggunjing atau  menyampaikan sesuatu yang terjadi pada seseorang yang jika orang yang dibicarakan tersebut mendengarnya akan merasa

tidak suka. Hal-hal yang dibicarakan adalah keburukan dan cela mengenai fisik, akhlak, keturunan, ucapan, dan perbuatan.

Dalam banyak peristiwa kriminal atau pertikaian di masyarakat, sebagiannya mulai dengan ghibah dari mulut ke mulut. Berita menyebar semakin tak terkendali dan tanpa dapat mempertanggungjawabkan kebenarannya hingga akhirnya sebagian orang yang tersinggung berbuat kejahatan.

Penyebab ghibah biasanya berhubungan dengan dendam di dalam hati, perasaan dengki atau buruk sangka kepada orang yang dighibah. Kadang ghibah bermula dari pembicaraan ringan dan candaan yang berlanjut serius. 

  • Namimah

Namimah atau  mengadu domba adalah  berusaha mengajak seseorang atau kelompok tertentu untuk dipertentangkan dengan pribadi atau kelompok lain sehingga menyebabkan perpecahan atau pertikaian. 

Para pelaku namimah tidak menginginkan kedamaian. Ia justru mengambil keuntungan dari pertikaian sehingga suasana adu domba terus ada.

Orang tua harus mengkondisikan anak agar terhindar dari perilaku namimah ini dengan senantiasa menjaga diri dari persahabatan dengan orang-orang yang memiliki catatan perilaku buruk.    

  • Dendam

Dendam artinya berkeinginan keras untuk membalas karena rasa marah atau benci. Sebelum dendam, biasanya ada peristiwa yang menyebabkan seseorang menyimpan sakit hati atau kecewa berat. Karena peristiwa belum terselesaikan atau penyelesaiannya kurang memuaskan, ia terus menyimpan keinginan untuk tetap membalas kapanpun waktunya jika ada kesempatan.    

Para pendendam tidak pernah merasa tenang sebelum dendamnya itu terlampiaskan. Oleh karenanya, sebaiknya pendendam bertaubat kepada Allah agar Allah menghapuskan ganjalan jiwanya itu. 

  • Nifak

Nifak adalah sifat menampakkan yang baik di wajah dan perbuatanya  dan menyembunyikan yang buruk di hati dan pikirannya. Orang yang memiliki sifat nifak ini adalah orang munafik. 

Seorang munafik sangat berbahaya karena kepandaiannya menyamarkan sifat asli membuat orang-orang mengiranya baik-baik, sehingga tidak menyangka bahwa sebenarnya ia memiliki hati yang jahat dan merusak.  

Ciri-ciri munafik yang paling nyata adalah jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika mendapat kepercayaan ia berkhianat. 

Orang yang berlaku nifak sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri. Ia tidak akan lagi mendapat kepercayaan karena kebiasaannya berbohong, berkhianat, dan ingkar janji. Rasulullah memberi peringatan keras bahwa perilaku nifak dapat menyeret pelakunya ke dasar neraka yang paling dalam (kerak neraka)

  • Takabur

Takabur atau sombong artinya menganggap diri lebih dari orang lain. Maksudnya adalah suatu sikap mental yang memandang rendah terhadap orang lain, sementara ia memandang tinggi dan mulia terhadap dirinya sendiri. Sifat takabur merupakan sifat asli diwariskan oleh Iblis dan mengakibatkan ia diusir dari surga dan diturunkan derajatnya hingga menjadi makhluk yang sangat rendah. 

Orang yang takabur suka membanggakan kemuliaan diri, harta, ilmu, keturunan, atau asal daerahnya dengan menganggap orang lain lebih rendah.  Seorang yang takabur juga suka mencela dan mengkritik orang lain dengan nada hinaan, tidak mau berteman dengan orang yang lebih rendah dan selalu berlagak seolah ia adalah manusia paling mulia.

 Mereka umumnya pemboros dan berlebih-lebihan dalam penampilan karena memang suka memamerkan kelebihannya kepada orang lain 

Sifat takabur lebih berbahaya lagi jika sudah menjalar pada kesombongannya kepada Allah dengan cara enggan berdoa dan tak mau mensyukuri nikmat-Nya, takabur kepada Para Rasul Allah dengan mencela atau merendahkan ajaran Rasul dan lebih bangga dengan pemikirannya sendiri. 

  • Su’udzan 

Su’udzan artinya berburuk sangka. Maksudnya adalah sikap dan cara pandang terhadap sesuatu dengan pandangan negatif dan menilai sisi buruknya. 

Kebalikan su’udzan adalah  husnudzan atau berbaik sangka. Orang yang di hatinya tersimpan sifat ini selalu berusaha menemukan sisi buruk dari apa yang ia hadapi,  mengedepankan tuduhan negatif terhadap hal-hal yang belum ia ketahui dengan pasti dan berusaha mencari biang kesalahan dari setiap kejadian.  

Suudzan tidak hanya terjadi antara manusia dengan sesama manusia, melainkan juga kepada Allah. Misalnya menganggap Allah membebani manusia dengan kewajiban-kewajiban yang memberatkan, tidak bersyukur dan menuduh nikmat Allah  masih kurang, mencela musibah dengan menyangka bahwa Allah menyakiti hamba-Nya,  atau menganggap ciptaan Allah tidak sempurna dan tidak adil. 

Berawal dari suudzan, manusia bisa rusak masa perjalanan hidup dan depannya karena sifat ini akan diikuti dengan rasa pesimis akan kemampuan diri sendiri,  membiarkan diri terkekang oleh keadaan dan tak mau berkembang, takut  mencoba hal-hal yang baru, tertutup dan kaku  terhadap perbaikan diri  dan akhirnya mudah putus asa padahal ikhtiar yang dilakukan belum optimal 

  • Riya’ 

Riya artinya melihat atau penglihatan. Maksudnya adalah  sikap atau perilaku yang selalu ingin mendapat perhatian orang lain dengan harapan memperoleh pujian, penghargaan, atau imbalan. Riya’ menjadi penyakit ibadah karena menyertai seseorang yang sedang berusaha ikhlas beramal karena Allah. Hadirnya riya’ menyebabkan keikhlasan hilang dan amal yang ia perbuat tak lagi tercatat sebagai ibadah karena bukan untuk mengharap ridha Allah. 

Orang yang riya merasa bersemangat melakukan ibadah ketika mendapat pujian, dan malas atau berhenti beribadah ketika mendapat celaan. Di tengah banyak orang yang melihatnya, orang riya tampak salih dan penuh kesungguhan dalam beramal, tetapi saat sepi ia berhenti dari amal. 

  • Aniaya (zalim)

Aniaya adalah  perbuatan sewenang-wenang atau perbuatan yang melanggar hak orang lain, melampaui batas, atau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. 

Bentuk-bentuk aniaya (zalim) dapat berupa zalim kepada Allah Swt (makar dan mengabaikan perintah Allah), Zalim terhadap anggota tubuh pemberian Allah SWT (misalnya menyia-nyiakan tubuh), zalim terhadap Harta (boros, menggunakan harta untuk maksiat), zalim kepada sesama manusia (menyakiti hati sesama), bahkan zalim terhadap semua makhluk (misalnya menyiksa binatang dan merusak lingkungan).

  • Isyraf 

Israf artinya sikap yang berlebih-lebihan atau melebih-lebihkan tindakan melebihi kadar wajar yang dibutuhkan. 

Berbagai macam israf yang dapat terjadi sehari-hari adalah,   

    • Israf dalam makanan dan minuman, yaitu makan atau minum dengan cara yang berlebihan baik jenis maupun jumlahnya.  
    • Dalam menjalin hubungan, yaitu menjalin hubungan melebihi kebutuhan sehingga urusannya dengan sesama manusia menjadi sangat banyak dan rumit. 
    • Israf dalam berpakaian, yaitu mengenakan pakaian lebih dari kewajaran pakaian (menutup aurat, sopan, dan melindungi)
    • Israf dalam menuntut hak, yaitu menuntut hak lebih besar daripada hak yang seharusnya ia dapat.
    • Dalam berbicara, yaitu berbicara dengan nada, roman muka, dan bahasa yang berlebihan padahal isi pembicaraan biasa-biasa saja. 

Munculnya isyraf biasanya berhubungan dengan keinginan untuk mendapatkan pujian orang lain atau  ngin menunjukkan citra diri yang lebih tinggi daripada aslinya.  Selain itu, isyraf juga bermula dari jiwa sombong atau yaitu merasa lebih baik daripada orang lain, serakah, dan hati yang memang tidak terbiasa bersyukur atas karunia Allah.  

  • Tabzir

Tabzir atau boros, yaitu  sikap seseorang yang mempergunakan sesuatu secara berlebih-lebihan tanpa mempedulikan manfaatnya atau melebihi kebutuhan yang seharusnya.  

Perilaku tabzir ini mirip dengan perilaku isyraf. Bedanya, kalau isyraf barang itu masih pelakunya gunakan meskipun berlebihan, sedangkan pada tabzir, pelaku tidak peduli barang itu bermanfaat atau tidak. 

Ada dua pengertian tabzir, yaitu tabzir dalam menggunakan harta dan tabzir dalam menggunakan potensi untuk bermaksiat kepada Allah 

Anak-anak harus terhindar dari tabzir dengan bersahabat bersama orang-orang yang sederhana dan tawadhu, membiasakan untuk tidak berbelanja atau berbuat sesuatu yang tidak berguna, dan pembiasaan berpuasa sunnah.

 

[Yazid Subakti]

Mengenakan Karakter Unggul

Mengenakan Karakter Unggul

Parenting – Karakter unggul turut menyumbang keberhasilan anak menggapai masa depannya kelak. Ini adalah sikap mental positif yang mengiringi perjuangannya menuju cita-cita. Anak dengan karakter unggul berpeluang disukai banyak orang dan mudah bekerjasama.   

  1. Kerja keras 

Kerja keras adalah bekerja dengan  mengerahkan semua kemampuan yang dimiliki sampai pekerjaan tersebut tuntas. 

Islam sangat menganjurkan agar umatnya bekerja keras, sebab hanya dengan bekerja keras ikhtiar akan menjadi optimal. 

Ketentuan dalam bekerja 

    • Akhirat adalah lebih  utama, tetapi kita tidak boleh melupakan urusan dunia
    • Dianjurkan untuk membuat perencanaan dalam setiap pekerjaan.
    • Ketika melakukan muamalah hendaknya memberikan kesempatan kepada orang lain.
    • Sekeras apapun bekerja harus mematuhi aturan yang berlaku.
    • Dapat melakukan pekerjaan dengan baik jika memiliki bekal iman dan ilmu yang memadai.
    • Niat bekerja harus tetap untuk mendapatkan rida dari Allah Swt
    • Muslim yang berkualitas selalu mencoba meningkatkan produktivitas kerja.
    • Kerja keras tidak pernah menjadi penghalang untuk tetap taat beribadah kepada Allah 

Hikmah bekerja keras 

    • Bekerja adalah bagian dari ibadah yang berpahala jika ikhlas karena Allah.
    • Menjaga kehormatan diri agar terhindar dari ketergantungan pada orang lain.
    • Bekerja adalah cara terbaik memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga.
    • Bekerja adalah bagian dari pembentukan karakter pribadi yang tangguh dan sabar. 

Cara meningkatkan produktivitas kerja

    • Selalu mencari terobosan,  inovasi dan kreativitas.
    • Selalu  rajin, ulet, dan tidak mudah putus asa dalam berbagai keadaan.
    • Bersedia terus  belajar dari pengalaman.
    • Selalu mengasah kemampuan diri.
    • Selalu optimis bahwa masa depan akan cerah
    • Tak pernah lupa Berdoa dan bertawakal kepada Allah sebagai Dzat pemberi kesuksesan.
  • Tekun 

Tekun atau rajin adalah  sikap seseorang yang setiap kali melakukan sesuatu tidak pernah mengurangi kadarnya, dan dengan melakukannya terus sampai keberhasilan itu datang. 

Orang yang tekun akan dengan senang hati melakukan apa yang biasa ia lakukan seperti sebuah kebiasaan. 

Manfaat sikap tekun 

    • Sikap tekun adalah salah satu kunci kesuksesan
    • Ketekunan membuat seseorang memiliki banyak pengalaman hidup 
    • Dengan tekun, seseorang menjadi terampil dan terasah kemampuannya
    • Ketekunan adalah cara mengukur tingkat kesabaran dalam melakukan sesuatu. 
  • Ulet 

Ulet adalah sikap mental seseorang yang tidak mudah menyerah ketika melakukan ikhtiar, meskipun berbagai gangguan atau godaan menerpa. Maka orang yang ulet semakin merasa tertantang ketika menghadapi masalah dan akan mencoba menyelesaikannya.

Manfaat sifat ulet 

    • Keuletan adalah cara terbaik membentuk mental tahan banting
    • Dengan bersikap ulet, berbagai cobaan dan pengganggu akan teratasi 
    • Keuletan adalah benteng yang melindungi cita-cita dari berbagai godaan 
    • Keuletan membawa nilai tersendiri, yaitu bertambahnya rasa percaya diri dan pengalaman hidup 
  • Hemat 

Hemat adalah sikap menggunakan apa yang ia miliki seperlunya saja, tidak berlebih-lebihan. Lawan kata hemat adalah boros, yaitu menggunakan apa yang ia miliki secara berlebih-lebihan di luar kebutuhan. 

Jenis-jenis hemat

    • Hemat dalam membelanjakan harta (hanya membelanjakan untuk hal-hal yang diperlukan saja)
    • Hemat dalam memanfaatkan karunia Allah (menggunakan air, tanah dan alam ini seperlunya saja)
    • Sifat hemat dalam menggunakan fasilitas umum (menggunakan fasilitas umum tidak berlebihan)
    • Hemat dalam waktu dan tenaga (menggunakan waktu dan tenaga untuk urusan yang memang bermanfaat)
    • Hemat dalam berkata-kata (hanya berkata dengan kata-kata yang baik saja, tidak mengumbar kata )

Hikmah sifat hemat 

    • Sebagai sarana untuk bersyukur, bahwa sekecil apapun pemberian Allah adalah nikmat 
    • Memahami bahwa nikmat Allah itu ada pada kecukupan, bukan pada jumlah 
    • Dapat menjaga simpanan lebih bertahan lama karena suatu saat akan digunakan lagi
    • Dengan hemat kita bisa berbagi kepada lebih banyak orang
  • Optimis

Optimis adalah sikap selalu merasa bahwa apa yang dihadapi atau dilakukan akan berakhir dengan baik. Lawan optimis adalah pesimis, yaitu memandang apa yang ia hadapi akan berakhir dengan buruk. 

Pentingnya sikap optimis 

    • Sikap optimis akan melahirkan semangat dalam melakukan ikhtiar 
    • Dengan optimis, apa yang kita lakukan menjadi terasa lebih mudah
    • Optimis adalah obat penawar ketika ikhtiar menemukan kesulitan 
    • Optimis adalah salah satu wujud prasangka baik kepada Allah dan diri sendiri 
    • Sikap optimis adalah pengendali diri sendiri untuk selalu berada di jalan yang benar
    • Optimis adalah tanda keimanan (sebaliknya, pesimis adalah tanda kekafiran)
  • Teliti 

Teliti adalah sikap hati-hati dan cermat  mengamati atau melakukan perbuatan sampai pada hal-hal yang terkecil. Orang yang teliti tidak pernah menganggap remeh hal-hal yang sepele bagi orang lain. 

Selain itu, sikap teliti dapat mencegah diri sendiri dari penipuan atau kejahatan orang lain. Bahaya besar berasal dari hal-hal kecil. Maka dengan bersikap teliti, kita dapat menyelamatkan hal-hal besar yang tidak ia sadari.

  • Tanggap 

Tanggap adalah sikap peduli terhadap apa yang dilihat disertai dengan kemauan untuk bergerak dan terlibat ke dalamnya. Orang yang tanggap sangat mudah menolong orang lain tanpa membeda-bedakan

manfaat sikap tanggap 

    • Sikap tanggap menjadi penggerak utama ketika dibutuhkan bantuan pada saat terjadi musibah 
    • Tanggap akan menyelamatkan kerusakan-kerusakan yang ada di sekitar
    • Sikap tanggap dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk sama-sama berbuat kebaikan
    • Sikap tanggap adalah salah satu ciri orang yang bertakwa

[Yazid Subakti]

Mengenalkan Sifat Terpuji

Mengenalkan Sifat Terpuji

Parenting – Perilaku atau sifat terpuji dikenalkan kepada anak agar ia memiliki gambaran mengenai akhlak seperti apa yang harus ia praktikkan setiap harinya. Pengetahuan ini juga penting saat ia memilih teman bergaul, agar mampu membedakan mana teman yang akhlaknya baik dan mana yang buruk.  

Tawadhu adalah sikap tunduk kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka. Lawan Dari sifat tawadhu adalah takabur (sombong).

Perilaku Tawadhu dalam kehidupan sehari-hari ada yang terpuji dan ada yang dibenci. Ketawadhuan seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri dihadapan hamba-hamba Allah adalah jenis tawadhu yang disukai oleh Allah. Contoh sikap ini antara lain  

    • Merendahkan nada suaranya ketika berbicara 
    • Tidak berlebihan dalam berpakaian 
    • Santun dalam bertindak dan bersikap

Sedangkan sikap tawadhu yang dibenci adalah tawadhu seseorang kepada Allah karena menginginkan hal-hal yang bersifat duniawi atau dorongan nafsu semata.  

Contoh tawadhu yang dibenci ini adalah:

    • Bersikap sopan karena ingin menjilat atasan
    • Selalu memakai kendaraan murahan karena takut dipinjam 
    • Menolong orang yang terkena musibah karena berharap mendapat imbalan 

Lebih tepatnya, itu bukan sikap tawadhu tetapi menampakkan kerendahan hati untuk pamrih. 

  • Taat

Taat atau patuh adalah perilaku yang selalu mengikuti petunjuk Allah dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ada tiga macam jenis ketaatan:

  • Patuh, yaitu mematuhi perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.
  • Penurut, yaitu menuruti semua aturan yang bersumber dari ajaran Islam.
  • Tunduk, yaitu tunduk terhadap qada dan qadar yang datangnya dari Allah SWT

Contoh sikap taat yang hendaknya dibiasakan pada anak dan diteladankan oleh orang tua adalah, 

    • Rajin salat fardu lima waktu dengan ikhlas
    • Membayar zakat atau sebagian hartanya di jalan Allah
    • Semangat berpuasa di bulan Ramadhan
    • Berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua
  • Qana’ah

Menurut bahasa, Qanaah artinya cukup. Menurut istilah, qanaah adalah merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan menjauhkan diri dari sifat ketidakpuasan atau merasa kurang. Unsur pokok sifat qanaah adalah berikut ini,

    • Menerima ketentuan Allah dengan ikhlas
    • Membentuk pribadi yang selalu bersyukur
    • Memohon tambahan yang pantas kepada Allah serta usaha dan ikhtiar;
    • Bertawakal kepada Allah sepenuhnya
    • Tidak terlena  oleh tipu daya dunia yang gemerlap
  • Sabar

Menurut bahasa, sabar artinya ikatan. Menurut istilah, sabar adalah sikap teguh dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan dengan terus melakukan ikhtiar atau usaha tanpa kenal putus asa.

Jenis kesabaran ada tiga yaitu  

    • Kesabaran Dalam Menjalankan Ketaatan Kepada Allah
    • Bersabar Untuk Tidak Melakukan hal-hal Yang Diharamkan Allah
    • Bersabar Ketika Menghadapi Musibah Atau Cobaan Yang menimpanya

Setiap orang yang bersabar akan diuji oleh Allah sesuai dengan derajat kesabarannya. Misalnya, 

    • Memiliki kemuliaan, tetapi dihina orang 
    • berlaku jujur, tetapi dianggap lemah
    • Menyeru orang-orang menuju kebenaran, tetapi malah dibantah
    • ketika ter zalimi, ia tidak melakukan kejahatan apapun
    • ketika ia menuntut haknya, orang-orang tidak memedulikannya.
  • Zuhud

Zuhud adalah sifat berpaling dan meninggalkan hal-hal  yang bersifat materiil atau kemewahan duniawi dengan mengharap suatu wujud yang lebih baik dan berupa kebahagiaan akhirat. 

Ada beberapa tingkatan zuhud yang melekat pada kepribadian manusia.

    • Tingkat mubtadi, yaitu orang yang tidak memiliki sesuatu dan hatinya pun tidak ingin memilikinya.
    • Tingkatan mutahaqqiq, yaitu orang yang bersikap tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari harta benda duniawi karena ia tahu dunia ini tidak mendatangkan keuntungan baginya.
    • Tingkat ‘alim muyaqqin, yaitu orang yang tidak lagi memandang dunia ini mempunyai nilai, karena baginya dunia hanyalah sesuatu yang melalaikan orang dari mengingat Allah.

Zuhud tidak sama dengan menyukai kemiskinan atau memilih hidup dalam kekurangan. Bahkan mungkin saja orang kaya hidup zuhud dan dalam penampilannya tidak tampak tanda-tanda seorang yang miskin..  

Beberapa ciri zuhud itu antara lain, 

    • Tidak terlalu senang jika memiliki sesuatu dan tidak bersedih ketika kehilangannya. 
    • Menganggap sama antara pujian dan celaan
    • Hati orang zuhud penuh dengan kecintaan kepada Allah, namun masih memiliki kecintaan kepada sesama.
  • Tawakal

Tawakal adalah penyerahan segala urusan, ikhtiar, dan usaha kepada Allah swt. serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk mendapatkan kemaslahatan atau menolak kemudaratan. 

Jadi, tawakal adalah menyerahkan urusan kepada Allah sehingga yang ada pada diri ini adalah hamba yang berikhtiar saja. 

Di  antara sifat orang yang  Tawakal adalah, 

    • akan datang kepadanya sifat ‘aziz (mulia dan terhormat) dari Allah swt. Ia tidak takut lagi menghadapi maut. 
    • tidak akan berkeluh kesah karena Hatinya selalu dalam keadaan tenang, tenteram, dan gembira. 
    • Orang yang tawakal memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan berani menghadapi setiap persoalan. 
  • Husnudzdzan 

Husnudzdzan artinya berbaik sangka, maksudnya adalah sikap dan cara pandang terhadap sesuatu dengan pandangan positif dan menilai sisi baiknya. Kebalikan husnudzdzan adalah su’udzdzan atau berburuk sangka. 

Ciri-ciri orang husnudzdzan

    • Selalu berusaha menemukan sisi baik dari apa yang ia hadapi
    • Menghindari praduga negatif terhadap hal-hal yang belum diketahui dengan pasti
    • Berusaha mengambil manfaat dan hikmah dari setiap kejadian 
    • Tidak mencela terhadap hal-hal yang kurang ia sukai 
    • Ramah dalam menjalin hubungan dengan sesama 
  • Adil 

Adil artinya lurus, sama berat, tidak berat sebelah, atau tidak memihak. Secara istilah, adil berarti sikap menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Jadi, adil tidak selalu bermakna berbagi sama rata. Ketika kita mendamaikan orang bertikai, berbuat adil padanya memang tidak memihak, tetapi bukan berarti tidak berdekatan sama sekali dengan salah satu atau keduanya. Jika salah satunya bersalah, kita harus meluruskan dan melindungi pihak yang benar.     

Contoh perilaku adil

    • Memenuhi hak Allah, diri sendiri, dan orang lain
    • Tidak pilih kasih dalam pergaulan 
    • Menjunjung kebenaran
  • Rida

Rida adalah sikap menerima secara sungguh-sungguh dari dalam hati atas pemberian Allah dengan selalu berbaik sangka bahwa Allah telah memberikan kenikmatan sesuai ukuran kebutuhan kita.

Berperilaku rida dalam hidup sehari-hari

    • Selalu Berpikir Positif terhadap apa yang ia hadapi
    • Tak pernah berhenti berikhtiar dan berharap kepada Allah Swt.
    • Mengambil Hikmah dari Segala Ketentuan Allah Swt.
    • Selalu Bersyukur atas Segala Sesuatu yang ia terima
  • Itsar 

Itsar adalah sikap mengutamakan kepentingan orang lain karena memandang bahwa orang tersebut lebih membutuhkan daripada dirinya, sekalipun dirinya sebenarnya juga memerlukan. 

Selain itu, anak yang memiliki sifat itsar mudah berbagi atau merelakan apa yang ia miliki kepada orang lain jika ada orang lain itu membutuhkan. Sikap itsar ini sangat terpuji oleh Allah dan menjadi penguat ikatan persaudaraan dalam iman. Pada masa-masa perjuangan rasulullah, sikap itsar para sahabat membuat perjuangan sangat kokoh.

 

[Yazid Subakti]

Tetap dalam Kesederhanaan

Tetap dalam Kesederhanaan

Parenting – Ternyata, kesederhanaan itu berhubungan dengan keimanan. Bersikap wajar, tidak berlebihan dalam menyikapi persoalan, tidak berboros harta, tidak berpamer kedudukan, dan tidak main-main dalam perkataan adalah sifat orang beriman. 

  1. Memaknai kesederhanaan 

Abu Umamah Iyash bin Tsa’labah al-Anshariy al-Haritsy RA berkata, “Pada suatu hari Rasulullah SAW membicarakan masalah dunia. Kemudian, Rasulullah SAW bersabda, ‘Apakah kalian tidak mendengar? Apakah kalian tidak mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman, sesungguhnya’ kesederhanaan itu bagian dari iman.” (HR Abu Daud).

Beliau SAW sampai dua kali mengulang kalimat  ‘kesederhanaan itu bagian dari iman’, mengisyaratkan betapa penting bagi mukmin untuk hidup sederhana. 

Inti dari kesederhanaan adalah tidak berlebihan atau tidak melampaui batas. Sikap melampaui batas (berlebihan) sangat tidak Allah SWT sukai. 

Allah berfirman, 

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS al-A’raaf: 31).

  1. Bukan mengajak hidup dalam kemiskinan

Mengajarkan hidup sederhana sama sekali tidak untuk merencanakan hidup dalam kesengsaraan atau kemiskinan. Kita merencanakan hidup sejahtera dengan limpahan rizki, tetapi tidak berlebihan dan tidak ada yang melebih-lebihkan.

Kita hanya berusaha menikmati hidup yang singkat ini dengan penuh kesadaran bahwa hidup bukan untuk berlebihan, tetapi untuk sebuah kebahagiaan. Hidup dengan kecukupan dan keseimbangan antara apa yang kita butuhkan dan seberapa rizki yang Allah berikan. 

Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga hal yang mengikuti kepergian jenazah, yaitu keluarga, harta, dan amalnya. Dua di antaranya akan kembali, hanya satu yang tetap menyertainya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan yang tetap adalah amalnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kita tidak menolak banyaknya rizki. Jika terdapat begitu banyak rizki, itu adalah baik agar kita lebih leluasa bersedekah dan menjadi wasilah kemakmuran bagi orang-orang di sekeliling kita. Bukan menjadi alasan untuk hidup dalam gemerlap kemewahan yang dibanggakan.   

  1. Mengajarkan anak melihat kondisi orang di bawah 

Perlu menjelaskan kepada anak bahwa di saat kita menikmati kecukupan rizki, ada begitu banyak orang yang bernasib kekurangan. Mereka itu adalah orang-orang yang entah karena nasibnya atau hal lain, menjadikan hidupnya seba dalam kekurangan. 

Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah orang yang berada di bawahmu dan jangan kamu memperhatikan orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih pantas agar kamu semua tidak menganggap sepele nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadamu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Mereka memerlukan perhatian. Jika bukan sesama mukmin yang memperhatikannya, maka akan datanglah orang kafir membantunya dan perlahan akan mengikis keimanannya. Mereka adalah orang fakir yang dalam kondisi tergoda akan semakin lemah imannya. Maka benarlah bahwa kefakiran itu amat dekat dengan kekafiran. Dengan bantuan kesejahteraan, mereka akan mengikuti apa yang diinginkan dari pemberi bantuan. Bahkan jika harus mengubah keyakinan.    

  1. Pelajaran tentang menahan nafsu

Ada dua golongan manusia berdasarkan sikapnya terhadap nafsu. Pertama, manusia yang berhasil dikuasai, dihancurkan, dan dikalahkan oleh nafsu. Mereka ini tunduk di bawah dorongan nafsunya. Dasar perbuatannya semata karena nafsu dan ambisi terbesar hidupnya pun didorong oleh nafsu. Kedua, manusia yang berhasil mengalahkan dan mengendalikan nafsunya, sehingga nafsu itu tunduk di bawah perintah dirinya. Ia mengendalikan nafsu sehingga nafsu dikeluarkan atau tidak atas perintahnya.

Untuk mencari jalan menuju Allah, manusia harus berhasil mengalahkan nafsu. Yang berhasil mengalahkan nafsunya akan beruntung, dan yang dikalahkan oleh nafsunya akan merugi.

Allah SWT berfirman: “Ada pun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 37-41)

  • Mengenalkan jenis dan sifat nafsu 

nafsu ada didalam setiap diri manusia, yang mempengaruhi sikap dan perilakunya. Allah menyifati nafsu dengan tiga sifat: muthmainnah (tenang), lawwamah (pencela), dan ammarah bis-suu’ (penyuruh berbuat buruk).

    • Nafsu Muthmainnah

“Nafsu muthmainnah ialah nafsu yang membenarkan”, demikian kata sahabat Ibnu Abbas ra. 

Jenis nafsu jenis ini membuat manusia merasa damai dengan Allah, merasa tentram dan tenang dengan mengingat-Nya, merasa rindu berjumpa dengannya, dan merasa senang berdekatan denganNya.

Nafsu muthmainnah tidak akan hadir kecuali pada diri orang mukmin yang jiwanya merasa tenteram dengan apa yang dijanjikan Allah. Mereka  tenteram dengan takdir Allah, pasrah kepada-Nya, dan rela menerima ketentuan-Nya. Ia tidak merasa kecewa terhadap apa yang dilewatkannya dan tidak bangga dengan apa yang diterimanya. 

    • Nafsu Lawwamah

Nafsu lawwamah adalah nafsu yang berubah-ubah antara ingat dan lalai, menghadap dan berpaling, cinta dan benci, senang dan sedih, suka dan marah, patuh dan menghindar.

Ada kalanya, nafsu lawwamah bersifat tercela dan di saat tertentu menjadi nafsu lawwamah tidak tercela. Nafsu lawwamah menjadi tercela ketika mendorong seseorang dalam kebodohan dan kezaliman, dan tidak tercela jika mendorong seseorang mencela dirinya sendiri dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. 

Meskipun sebagiannya tercela, nafsu lawwamah memungkinkan seseorang melakukan perbaikan diri. 

    • Nafsu Ammarah Bissuu’

Inilah nafsu  tercela, yang selalu mendorong seseorang melakukan perbuatan yang buruk dan membuatnya jauh dari Allah. Setan menjadi teman setianya,  membuatnya menjadi panjang angan-angan dan dekat dengan kemaksiatan. 

Nafsu ini adalah bagian dari karakter asli manusia juga, yang kalau bukan karena pertolongan dan hidayah Allah manusia akan benar-benar terjerumus dalam keburukan. 

  • Melatih anak mengendalikan nafsu 

Anak harus berlatih mengendalikan nafsunya, agar kehidupannya kelak terbiasa berada dalam kontrol yang baik. Pengendalian nafsu juga penting sebagai bekal bagi anak untuk menemukan tujuan hidup dan perjuangan meraihnya.

    • Tidak semua keinginan akan terpenuhi

Anak harus paham bahwa ketika menginginkan sesuatu, tidak selalu yang tersedia. Jikapun tersedia, harus pertimbangkan terlebih dulu seberapa perlu keinginannya itu untuk terpenuhi. Jadi, tidak semua keinginan akan selalu ia dapatkan, karena belum tentu yang itu yang terbaik. 

    • Biasakan anak berhemat dan menabung

Menabung bagi anak bukan semata praktik mengumpulkan uang pada suatu tempat yang kelak akan membukanya untuk suatu keperluan. Makna tersirat dari menabung adalah belajar mengendalikan keinginan untuk tidak berbelanja ketika uang sudah ada di tangan. Jika tidak ada keperluan yang mendesak, uang dalam tabungan untuk keinginan membelanjakannya. Selanjutnya, uang yang sudah ditabung menumbuhkan harapan bahwa pada suatu saat akan ada sekumpulan uang dalam jumlah lebih besar untuk berjaga-jaga barangkali ada keperluan lain yang lebih bermanfaat.  

    • Merawat barang yang dimiliki

Anak harus menghargai barang-barang miliknya, merawat dan menjaganya.  Ketika tas masih terlihat bagus, Anda dapat meminta menjaganya dari dengan berhati-hati setiap kali memperlakukannya agar tidak mudah rusak. Anda dapat menolak keinginan anak untuk membeli tas yang baru selama tas yang lama masih layak. Ini berlaku untuk sepatu, sepeda, dan semua barang pribadi miliknya. 

    • Mengajarkan jiwa kreatif memperbaiki atau mencari pengganti

Ketika barang rusak, mengatasinya dengan langsung membeli barang baru adalah yang paling mudah. Tetapi kebiasaan ini tidak mengajarkan nilai apapun kepada anak, sedangkan tindakan apapun yang orang tua lakukan akan menjadi contoh untuk anaknya. 

Rusaknya barang adalah kesempatan untuk mengajarkan kepada anak bahwa kita dapat memperbaiki barang tersebut atau mencari alternatif penggantinya. Anda dapat mengajarkan kreativitas dengan menjahit sol sepatunya yang mulai rusak, mencoba membongkar bagian sepeda yang rusak dan mengajaknya memperbaiki. Tidak semua masalah akan berakhir dengan mendatangi orang atau menelpon orang untuk meminta bantuan, tidak semua kerusakan harus menggantinya dengan membeli yang baru.

    • Memahamkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan

Tidaklah sama antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan harus terpenuhi sehingga mengabaikannya akan berdampak serius pada kehidupan. Makanan pokok, tempat tinggal, pendidikan, obat saat sakit, keamanan, berolahraga, itu semua adalah contoh kebutuhan.  Keinginan adalah dorongan yang semata berdasarkan nafsu sesaat untuk mendapatkan atau melakukannya. Jika tidak terpenuhi, keinginan tidak berdampak serius pada kehidupan dan tidak membahayakan. 

Berganti-ganti tas dan sepatu adalah keinginan, yang hanya oleh gengsi atau mengikuti trend. Mengoleksi perhiasan dan kendaraan adalah keinginan, yang kalau tidak ada sebenarnya tidak berdampak serius bagi kehidupan. 

Anak harus paham apa saja yang merupakan kebutuhannya, dan apa saja yang yang merupakan keinginan yang tidak harus terpenuhi.

 

[Yazid Subakti]

Anjuran Memilih Bahasa yang Baik di Keluarga

Anjuran Memilih Bahasa yang Baik di Keluarga

Parenting – Kebiasaan menggunakan bahasa yang baik dan santun akan berimplikasi terhadap pembentukan karakter anak. Keluarga yang terbiasa berkomunikasi dengan santun umumnya memiliki karakter yang baik.

Dalam keadaan jiwa yang tidak stabil, lidah manusia tersulut untuk  berkata kasar dan menyakiti hati orang lain. Padahal Allah melarang hamba-Nya menyakiti dengan mengucapkan kata-kata kasar yang dapat memicu permusuhan dan pertengkaran.

Al Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlak yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.” (HR At Tirmidzi).

Rasulullah SAW mengaitkan antara akhlak yang mulia dengan lisan yang kotor. Ini membuktikan  bahwa orang yang memiliki akhlak mulia selalu menjaga lisannya dari perkataan yang kotor. Begitu pentingnya menjaga lisan, sampai-sampai Rasulullah menganjurkan bagi orang yang tidak bisa berkata baik agar diam. 

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di keluarga, anjuran ini semua juga berlaku. Orang tua memberi contoh kepada anak untuk menjaga lisan agar tidak berkata kecuali yang baik-baik. 

  • Membiasakan komunikasi Qur’ani

Setidaknya terdapat 5 prinsip komunikasi Islam yang dalam Al-Qur’an. Semuanya berada pada ayat yang menyebar dengan konteks  penggunaan yang berbeda-beda. Dalam istilah Al-Qur’an, komunikasi adalah qaul atau qaulan. Di antara qaul yang ada adalah  Qaulan Sadida, Qaulan Baligha, Qaulan Maisura, Qaulan Layyina, dan Qaulan Ma’rufa.

  • Qaulan Baligha 

Kata baligha berarti sampai, atau sampainya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Kata tersebut mengandung tiga makna sekaligus, yaitu bahasanya tepat, sesuai dengan yang dikehendaki, dan isi perkataannya mengandung kebenaran. 

Seorang yang berbicara secara sengaja ingin menyampaikan sesuatu dengan cara yang benar dan tepat (jelas) agar dapat membekas atau diterima oleh mereka yang diajak bicara.

Jadi, qaulan baligha artinya perkataan yang berbekas, tepat sasaran, atau perkataan yang tersampaikan dengan akurat. Prinsip ini ada pada surat An-Nisa’ ayat  63. 

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS. An-Nisa’: 63) 

Perkataan qaulan baligha yang efektif dapat disampaikan dengan,  

    • Pembuktian dari pesan kebenaran yang disampaikan
    • Data-data atau persaksian yang mendukung kelengkapan informasi
    • Pengakuan atau testimoni yang membuat orang menjadi yakin kebenarannya
    • Ilustrasi atau perumpamaan sebagai pengantar logika agar lawan bicara membenarkan
  • Qaulan Maisura 

Kata Maisura merupakan bentuk masdar dari yassara, yang artinya mudah. Qaulan maisura berarti perkataan yang mudah atau perkataan yang memudahkan. Pada prinsipnya, qaulan maisura adalah segala bentuk perkataan yang mudah diterima, mudah dipahami, baik dan melegakan, atau juga pernyataan untuk menjawab dengan cara yang paling mudah dipahami.

Prinsip ini ada dalam QS. Al-Isra’ ayat 28; 

Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang mudah. (QS. Al-Isra’: 28) 

Jadi, qaulan maisura berupa pembicaraan yang disampaikan dengan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, dan dimaklumi disertai dengan sikap atau ekspresi yang  membuat lawan bicara mudah mencerna isi pesannya. 

Anda dapat mempraktikkan qaulan maisura dalam banyak pembicaraan ringan dengan anak-anak, atau percakapan sehari-hari ketika mengasuhnya. Agar mudah dipahami, qaulan maisura disampaikan dengan, 

    • Kalimat pendek dengan pemilihan kata sederhana (kata-kata yang paling lazim diucapkan) 
    • Menggunakan istilah atau bahasa yang kira-kira paling disukai oleh lawan bicara dan menghindari istilah yang menyulitkannya. 
    • Mengulang-ulang perkataan agar mudah diingat
    • Mengatakannya sambil menampilkan ekspresi atau gesture tubuh untuk membantu pemahaman
    • Menyesuaikan kadar akal lawan bicara
  • Qaulan Karima 

Kata Karima berarti mulia. Bila kata ini dirangkai dengan qaul, maka qaulan karima berarti perkataan yang menjadikan atau menempatkan pihak lain tetap dalam kemuliaan dan penuh penghormatan, atau perkataan yang bermanfaat bagi orang lain dengan cara meninggikan derajat atau menghargai  orang yang diajak berbicara. 

Prinsip ini adalah dalam QS. Al-Isra’ ayat 23; 

Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra’: 23)  

Qaulan Karima adalah cara komunikasi yang paling baik, tingkatan tertinggi yang harus seorang anak lakukan kepada orang tuanya. Qaulan karima bisa kepada anak-anak atau anggota keluarga lain dengan cara, 

    • Menggunakan bahasa yang memiliki tingkat kehalusan atau kemuliaan. Misalnya kita memberi contoh berbahasa krama dalam budaya komunikasi orang Jawa agar anak mencontohnya. 
    • Memperlihatkan adab atau etika menghargai lawan bicara, yaitu tidak memotong pembicaraan sampai ia selesai mengemukakan pendapatnya.
    • Menyimak dan memberi respon empati atas apa yang lawan bicara sampaikan agar ia merasa mendapat perhatian. 
    • Fokus pada tema pembicaraan dan tidak mengalihkannya agar lawan bicara merasa dihargai.   
  • Qaulan Ma’rufa 

Kata Ma’rufa berasal dari kata ‘arafa, yang artinya secara baik, ramah atau perkataan yang penuh kesantunan sesuai standar kesopanan yang berlaku.  

Dalam AlQuran, prinsip ini terdapat dalam beberapa ayat.

    • Al-Baqarah ayat 83; 

Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. (QS. Al-Baqarah: 83) 

    • An-Nisa’ ayat 8; 

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (QS. An-Nisa’: 8) 

Ada tanda-tanda yang khas dari qaulan ma’rufa, yaitu, 

    • Beberapa pemilihan kata mungkin hanya berlaku atau dapat dimengerti oleh mereka yang terlibat pembicaraan. Misalnya panggilan kesayangan, sapaan akrab dan lainnya. 
    • Diwarnai dengan penggunaan bahasa hati yang mencerminkan kedekatan hubungan. 
    • Sampaikan dengan luwes dan akrab, mungkin berkontak badan dan 
    • Bernuansa norma atau adat setempat dengan menghindari sikap formal atau terlalu kaku.
  • Qaulan Layyina 

Kata Layyina berarti lunak, lemas, lemah lembut, atau memiliki kehalusan sifat. Layyina juga semakna dengan sahlan latifa, yaitu mudah, atau lemah lembut.

Jadi, qaulan layyina adalah perkataan yang mengandung anjuran, ajakan kepada kebaikan dan kebenaran (jalan Allah Swt), dengan bahasa yang lemah lembut dan halus agar orang yang diajak bicara tidak merasa direndahkan atau dijatuhkan. 

Dalam Al-Quran, prinsip ini ada dalam QS. Taha ayat 43-44; 

Artinya; Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Taha 43-44) 

Yang menjadi ciri khas dari jenis perkataan ini adalah, 

    • Pemilihan bahasa yang paling aman, tidak membuat lawan bicara tersinggung 
    • Pesan disampaikan tidak selalu lugas, melainkan bisa dengan sindiran dan penuh kehati-hatian 
    • Menggunakan pendahuluan untuk mengkondisikan kesiapan lawan bicara
    • Sampaikan dengan penuh perasaan sebagai bentuk empati terhadap lawan bicara.  
  • Qaulan Sadida 

Sadida artinya tepat, benar, atau sesuatu yang tepat dan mengandung kebenaran. Qaulan sadida suatu pendapat atau perkataan yang tepat dan benar sehingga tidak dapat terbantahkan lagi. Menurut As-Suyuti, qaulan sadida itu setiap perkataan yang menciptakan kemaslahatan kepada sesama manusia dan ketaatan kepada Allah Swt.

Jadi, ia adalah perkataan mengandung kebenaran yang kalau terucap menimbulkan kemauan orang untuk taat kepada Allah.  

Prinsip ini ada dalam QS. An-Nisa’ ayat 9; 

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa’: 9) 

Dengan demikian qaulan sadida memiliki ciri khas, 

    • Berhubungan dengan pesan yang berisi perintah agama, ketentuan syariat, atau aturan-aturan
    • Lugas, tidak melalui sindiran atau kalimat panjang yang bertele-tele
    • Langsung, tanpa harus menunda atau mempertimbangkan waktu paling cocok. 
    • Logis dan sulit dibantah kebenarannya karena yang disampaikan memang sudah diketahui atau pernah disepakati bersama.
  • Menjauhkan diri dari Qaul az-Zur 

Az-Zur artinya menyimpang, menyeleweng, palsu, atau mengandung kedustaan. Qaul az-Zur berarti perkataan yang mengandung kedustaan atau kebohongan, tidak jujur, dan menyimpang dari yang seharusnya. 

Qaul az-Zur juga dapat bermakna sumpah palsu.Sedangkan sumpah palsu itu sebanding dengan perbuatan syirik, karena syirik adalah seburuk-buruk kedustaan dan kebohongan.

Komunikasi yang harus kita jauhi ini disampaikan oleh Allah sebagai peringatan, dalam QS. Al-Hajj ayat 30. 

Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (QS. Al-Hajj: 30) 

Ayat ini berkaitan dengan urusan menyapih anak, tapi sesungguhnya apa yang terdapat dalam urusan ini dapat menjadi petunjuk untuk keseluruhan urusan dalam keluarga. Allah mengingatkan agar manusia menghindari perkataan dusta, atau perkataan yang sia-sia dalam berkomunikasi. 

Jadi, qaul az zuur dapat berupa semua yang buruk-buruk dalam perkataan. 

  • Mengandung kedustaan atau kebohongan, penipuan, dan semua yang mencerminkan ketidakjujuran
  • Isi informasi yang dapat merugikan atau mencelakai orang lain, atau menimbulkan kekecewaan dan sakit hati.
  • Perkataan sia-sia yang pengucapannya tidak membawa manfaat dan  tidak mengandung kebaikan, mengundang syahwat dan tindak kekerasan, meskipun membuat terlena
  • Mencerminkan suasana lalai dari mengingat Allah, tiadanya keimanan, dan keberanian untuk menentang aturan Allah  

Dalam praktiknya, qaul Az zuur tidak selugas yang kita bayangkan. Ia dikemas oleh orang-orang pandai, digencarkan melalui media-media dan pergaulan, dan disukai oleh kalangan anak-anak hingga dewasa. Ia berupa nyanyian-nyanyian yang mengundang syahwat dan mengajak kepada kemaksiatan, ujaran-ujaran kasar yang akrab terus populer, serta perkataan tanpa adab yang modern dan kekinian. 

Qaul Az Zuur, bahkan telah melanda para orang tua. Melalui seminar-seminar, para orang tua terbawa arus pengasuhan sekuler yang meyakinkan tawaran baru prinsip komunikasi keluarga yang pelan-pelan menjauhkannya dari pesan Al-Qur’an. Sangat memukau dan menarik. Setelah itu, teladan komunikasi Nabi Ibrahim, Luqman Al hakim, keluarga Imran, Zakariya, Ya’qub, pelan tapi pasti anti kemajuan dan terbelakang.

Kita harus mengembalikan anak-anak ke pangkuan keluarga, melindunginya dari qaul Az Zuur. Kembali hidup dalam naungan Al-Qur’an.

 

[Yazid Subakti]

Biasakan Penggunaan Bahasa yang Baik

Biasakan Penggunaan Bahasa yang Baik

Parenting – Kebiasaan menggunakan bahasa yang baik dan santun akan berimplikasi terhadap pembentukan karakter anak. Keluarga yang terbiasa berkomunikasi dengan santun umumnya memiliki karakter yang baik.

  1. Pentingnya Bahasa bagi pendidikan anak 

Bahasa merupakan sistem lambang bunyi untuk berkomunikasi. Bahasa juga bisa untuk menyampaikan pesan sosial tertentu bagi para pemakainya selain menjelaskan akal budi penuturnya. Oleh karenanya, pemakaian bahasa yang santun dan penuh etika dapat mempengaruhi watak dan karakter anak, atau sebaliknya mengindikasikan watak dan karakter seseorang.

Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepat. Keberhasilan tahun-tahun pertama sangat menentukan hari depan anak, termasuk karakternya. Oleh karena itu, bahasa sangat berarti bagi dalam membentuk karakter anak sampai ketika ia dewasa nanti.

  1. Bahasa anak terbentuk dari orang terdekatnya

Anda pasti berharap agar kelak anak menemukan kesuksesan dan dihormati di lingkungannya. Setiap orang tua mengharapkan kelak anaknya menjadi orang yang berguna bagi sesamanya, sedangkan seseorang itu dapat berguna jika memiliki karakter yang mulia. 

Kebiasaan berbahasa yang lembut dan santun akan berimplikasi terhadap pembentukan karakter anak. Keluarga yang terbiasa berkomunikasi dengan santun umumnya memiliki karakter yang baik. Begitu pula kedisiplinan orang tua dalam menggunakan kata-kata dan pemakaian kalimat yang teratur mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter anak. Anda dapat membuktikan dengan melihat orang-orang atau masyarakat di sekitar Anda. rata-rata, anak-anak yang santun berasal dari keluarga yang santun pula. Begitu pula anak yang kasar biasanya tumbuh dari keluarga yang kasar. 

Anak menggunakan bahasa tertentu pada dasarnya hanya meniru apa yang orang dewasa lakukan dan ucapkan oleh orang dewasa yang menjadi panutannya.

Bahasa yang anak gunakan sehari-hari banyak meniru dari lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Jika keluarga atau tetangga dekatnya sering ia dengar berbicara dengan bahasa yang kasar, besar kemungkinan anak juga akan mengikutinya dengan bahasa yang kasar dan kotor. Ia belum merasa penting untuk menyaring pentingnya memilih kata.

Inilah kesempatan bagi orang tua, untuk memberikan contoh berbahasa yang santun dalam setiap komunikasi. Orang tua harus mampu berkomunikasi dengan bahasa yang wajar di depan anak,  selalu  menyadari apapun perkataan yang dilontarkan akan direkam oleh anak dan suatu saat akan dipergunakannya ketika ia berkomunikasi.

Selain membuat bahasa di rumah tetap terjaga, orang tua perlu mengawasi saat anak bergaul dengan tetangga dan memilih sekolah. Orang tua ia harus tahu anaknya bergaul dengan siapa saja dan seperti apa bahasa teman-temannya. Ketika anak berpindah jenjang sekolah (misalnya dari TK menuju SD ), ia akan dengan cepat mengubah penggunaan beberapa kosakata yang bahkan tidak pernah oloeh orang tua di rumah. Jikapun bahasa di rumah terkondisikan dengan baik, anak tetap mengenal kata-kata berkonotasi buruk, pengucapan dengan intonasi tidak nyaman, atau ujaran baru yang ia dapatkan dari teman-temannya. 

  1. Memberi contoh kepada anak menggunakan bahasa santun 

Kesantunan komunikasi ayah dan ibu dapat melunakkan hati anak. Sehingga karakter positif yang ada pada anak akan semakin baik dan kelak membentuk karakternya yang sabar, ikhlas dan penyayang. Sebaliknya, kata-kata kasar yang orang tua kepada anaknya akan membentuk karakter negatif yang akan melekat pada diri anak. anak menjadi  tempramen, reaktif dan kasar. 

Kesantunan berbahasa berguna untuk menghindari konflik dalam proses komunikasi. Artinya, bahasa yang dalam proses komunikasi dapat membuat kita mempunyai banyak teman, tetapi bisa juga sebaliknya. 

Prinsip utama agar mulai dapat berbahasa secara santun adalah berprasangka baik kepada setiap orang. Maksudnya, kita harus memahami bahwa setiap orang ingin dihormati, maka menghargai mereka adalah awal yang baik menjalin kehangatan berkomunikasi.

Ada beberapa hal agar anak terbiasa berbahasa santun dalam komunikasi. 

  1. Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua anggota keluarga, termasuk anak. 
  2. Gunakanlah pemilihan kata (diksi) yang sesuai budaya dan norma keluarga, tidak menggunakan pemilihan kata yang asing 
  3. Sisipkan kata-kata yang menambah kesantunan kalimat, yaitu kata ajaib ‘tolong’, ‘maaf’, dan ‘terima kasih’
  4. kemukakan topik yang dimengerti dan diminati oleh keluarga. Bukan topik asing yang bukan ranah keluarga (misalnya membicarakan konflik kantor, situasi politik dan sebagainya) 
  5. Kenali kondisi sasaran saat berbicara, terutama yang berkaitan dengan emosi pribadi dan kondisi jiwanya saat itu.
  6. Perhatikan konteks dan situasinya, yaitu menyesuaikan apa yang menjadi pembicaraan sampai tuntas, baru beralih pada pembicaraan lain dari awal.

 

[Yazid Subakti]

Memulai Kemandirian

Memulai Kemandirian

Parenting – Setiap makhluk mengawali kehidupannya dalam keadaan tak berdaya. Anda, dan semua manusia lahir dalam kondisi tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di lingkungannya. Seiring dengan berlalunya waktu, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari ketergantungannya dan belajar untuk memulai kemandirian. Inilah proses yang dialami oleh semua manusia.

Mandiri adalah kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain karena memiliki rasa tanggung jawab atas apa yang dilakukannya. 

  1. Sampai kapan ketergantungan akan berlangsung?

Inilah pertanyaan semua orang tua, sampai kapan anak akan terus bergantung?

Tidak ada ketentuan khusus yang mengatur kapan anak harus mulai berpisah dengan orang tuanya atau mulai melapas ketergantungannya dari orang tua. Jika bayi menyusu hingga usia 2 tahun sebagaimana ketentuan dalam Al-Qur’an dan keumuman saran ahli kesehatan, maka anak terklepas dari ketergantungan tidak pernah ada ketentuannya. 

Yang paling masuk akal untuk melepas anak dari ketergantungan adalah,

  1. Masuknya fase tamyiz, yaitu di usia lebih dari 7 tahun ketika anak sudah mampu membedakan antara yang salah dan benar, antara yang buruk dan yang baik. Itu berarti ia sudah masuk masa-masa memberinya kepercayaan untuk mengambil keputusan, setidaknya yang menyangkut keperluan pribadinya. 
  2. Masa mulai mengerjakan salat, yaitu paling muda usia  7 tahun dan selambat-lambatnya usia 10 tahun. Ajaran salat mengandung hikmah bahwa anak sudah mendapat tugas beribadah beserta rukun dan syaratnya, juga mendapat kepercayaan untuk mandiri menjalin hubungannya dengan Allah.
  3. Kondisi mental dan fisiknya, yaitu orang tua memperhatikan kondisi anak apakah ia memang sudah saatnya dilepas dari ketergantungan dan dalam hal apa ia sudah harus mandiri. Pada usia yang sama, anak satu dengan yang lainnya memiliki kesiapan untuk mandiri yang tidak sama. Anak laki-laki dan perempuan, atau sehat dan anak yang sakit-sakitan juga beda perlakuannya dalam latihan kemandiriannya.  

Jadi, sampai kapan anak harus mulai terlepas ketergantungannya, adalah ukuran subyekif orang tua berdasarkan pengamatannya setiap hari. Ini hanya dapat disimpulkan oleh orang tua, sebab orang tualah yang paling mengetahui ini semua.  

  1. Siap jadi remaja, siap mandiri 

Saat memasuki masa remaja nanti, tuntutan terhadap kemandirian anak sangat besar. Jika tidak mendapat respon secara tepat, anak dapat mengalami dampak yang merugikan perkembangan psikologis untuk masa-masa mendatang. 

Betapa banyak remaja masa kini yang mengalami kekecewaan dan frustasi terhadap orang tua karena tidak kunjung mendapatkan kemandirian. Kebingungan-kebingungan dan keluh kesah remaja banyak berkenaan dengan kehidupan mereka yang masih orangtuanya atur, atau rasa bersalah dan menyesal karena di masa lalunya terlambat belajar untuk mandiri. Banyak remaja usia SMA atau bahkan mahasiswa masih mengeluhkan ketidakmandiriannya, kesulitannya mengambil keputusan,  dan keraguannya untuk melangkah dalam hal-hal besar karena sebelumnya tidak mendapat kesempatan untuk belajar mandiri. Mereka terus menerus mendapat campur tangan orang tuanya. 

  • Menjelang usia mukallaf, kemandirian harus sudah dimulai

Ini adalah masa-masa menyiapkan diri menjadi remaja yang berkualitas. Siap menjadi remaja, berarti siap mandiri. Orang tua harus rela melepaskan anak kesayangannya tidak lagi bergantung dan meminta keputusan padanya dalam banyak hal. Ketika anak telah sampai di gerbang masa remaja, orang tua harus ikhlas bahwa penguasaan dan ambisi terhadap anak dengan cara terus menerus melayani dan terlibat mencampurtangani urusannya harus ia akhiri. 

Anak akan memilih seleranya sendiri, beri ia kesempatan menghadapi tantangannya, biarkan mereka meraba nasib dan masa depannya, bahkan beri pengalaman hidup dalam perjuangan yang penuh kepahitan.     

Biarkan  anak menemukan caranya untuk mengembangkan kemampuan yang ia miliki, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin ia lakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dengan  demikian anak akan dapat mengurangi tergantung pada orang tuanya.  

  1. Makna kemandirian 

Kemandirian meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan atau masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam makna yang lain, kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri. 

Jadi, anak mandiri biasanya memenuhi kondisi berikut ini, 

  • Memiliki hasrat atau semangat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya dan masa depannya
  • Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang ia hadapi 
  • Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya  
  • Bertanggung Jawab terhadap apa yang ia lakukan 

Kemandirian ini diperoleh selama proses perkembangan anak. Anak akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, hingga akhirnya mampu berpikir dan bertindak sendiri. 

Oleh karena itu, untuk dapat mandiri, seorang anak membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari orang tua serta lingkungan terdekatnya. Peran orang tua dan respon dari lingkungan sangat perlu bagi anak sebagai penguat untuk terhadap perilaku yang telah ia lakukan. 

Karena kemandirian adalah kondisi psikologis, maka ia dapat berkembang dengan baik jika mendapat kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang ia lakukan secara terus-menerus. 

Dengan memberikan latihan dan dengan bertambahnya usia akan bertambah pula kemampuan anak untuk berfikir secara objektif, tidak mudah terpengaruh, berani mengambil keputusan sendiri, tumbuh rasa percaya diri, dan tidak tergantung kepada orang lain. 

  • Kemandirian adalah kebutuhan 

latihan kemandirian menyebabkan anak harus belajar membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas perbuatannya. Ini adalah latihan bagi anak yang hasilnya ia akan berangsur-angsur dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua. 

Di masa-masa pencarian identitas diri, anak cenderung untuk melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan psikis orang tuanya. Bagaimanapun, mereka pada akhirnya ingin diperlakukan dan dihargai sebagai orang dewasa. Ada keinginan mereka untuk mengukur kedudukannya dalam keluarga dan lingkungannya. 

  • Sisi lain kemandirian adalah penolakan

Sebagai suatu kebutuhan, kemandirian menyebabkan anak (mulai remaja) merasa hidup atas pendiriannya. Proses sosialisasi yang terjadi dengan teman sebaya membuatnya belajar berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima bahkan dapat juga menolak pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga. 

Teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama anak belajar untuk hidup bersama di luar anggota keluarganya. Ia melakukan itu untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok dan bercermin mengenai siapa dirinya.  

  • Rindu masa-masa bergantung

Keinginan anak untuk mandiri kadang terdapat dengan keraguan. Ia ragu apakah keberaniannya memutuskan sesuatu mengandung risiko yang mampu ia hadapi. Ia juga kadang lelah dan merasa merasa ditinggalkan oleh keluarga. keadaan ini membuat latihan kemandirian sedikit terhambat karena anak akan mundur ke belakang, rindu saat-saat bergantung pada keluarga yang hangat dan tanpa resiko. 

Selama usianya belum dewasa dan masih dalam tanggungan orang tua, kerinduan untuk kembali bergantung adalah wajar. Bagaimanapun, ia masih memiliki kebutuhan untuk tetap tergantung pada orang lain. Pikirannya masih diliputi dilema antara mengikuti kehendak orang tua atau mengikuti keinginannya sendiri. 

  • Sikap Orang tua 

Apa yang harus orang tua berikan selama masa-masa melatih kemandirian anak? 

Orang tua tetap menjadi pihak yang selalu hadir. Bukan untuk melayani, tetapi menguatkan hati dan membaca suasana. Jadi, melatihnya mandiri bukan berarti meninggalkannya. Tegas memberi tanggung jawab bukan bermakna tidak mencintainya.   

  • Menjaga komunikasi tetap lancar. Komunikasi berupa diskusi dua arah, saling mendengarkan dan berbagai pandangan. Orang tua mulai menyelami kerangka berpikir anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat mengetahui apa yang orangtuanya inginkan.
  • Memberi kesempatan. Berikan kesempatan kepada anak untuk membuktikan kemampuannya  mengambil keputusan, lalu melaksanakan keputusan yang telah ia ambil. Biarkan ia mengusahakan sendiri apa yang ia perlukan dan biarkan ia belajar mengatasi sendiri resikonya. 
  • Biarkan ia bertanggung jawab dengan caranya. Salah satu kunci penting berhasilnya latihan kemandirian adalah ketika anak sudah mampu bertanggungjawab. Biarkan ia membuktikan tanggung jawab dengan caranya sendiri. Keberanian bertanggung jawab membuatnya akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang mengandung risiko buruk dan mempertahankan perbuatan yang membuatnya merasakan manfaatnya. 
  • Tetap konsistensi melatih. Seorang pelatih harus lebih disiplin daripada yang dilatih. Orang tua harus lebih konsisten dalam bersikap karena konsistensi ini adalah bagian dari nilai yang akan anak tiru.

 

[Yazid Subakti]