Yang Lebih Kita Harapkan Adalah Kebaikan Akhlaknya

Yang Lebih Kita Harapkan Adalah Kebaikan Akhlaknya

Parenting – Rasulullah SAW mencapai kesuksesan luar biasa berawal dari kebaikan akhlaknya yang agung lagi mulia. Di masa anak-anak, ia telah terkenal kebaikan budinya sebagai anak yang paling jujur. Di masa remaja yang seharusnya penuh pergolakan, ia mampu mengendalikan gejolak jiwanya hingga menjadi pribadi yang tetap tenang. Ia mampu mencegah dirinya dari kecurangan-kecurangan, kesombongan, foya-foya, atau sifat lain yang umum melanda anak muda. Ia adalah pribadi tak bercela sehingga orang-orang menyebutnya al amin, si anak terpercaya.

Begitupun nabi-nabi yang lain, membangun kesuksesan tugas kenabian dengan mengawali pembentukan akhlak diri yang sempurna.

Apakah kecerdasan dan kepribadian unggul tak membuat anak menjadi sukses? 

Keduanya menentukan kesuksesan, tetapi akhlak adalah penyelamatnya. Orang-orang cerdas mendapat kedudukan yang tinggi, tetapi akhlak yang buruk membuatnya berbuat korupsi sehingga kesuksesan itu berujung gelapnya kamar penjara. Orang-orang berkepribadian unggul mungkin saja sukses besar di dunia karena kerja keras dan ketekunannya, tetapi ketiadaan akhlak mulia menuntunnya hanya untuk menjadi orang kaya dan terkenal. Tak ada yang memberi jaminan hidupnya bahagia, akhirnya pun belum tentu surga. 

Pilih mana anak berprestasi tapi malas shalat, atau anak rajin shalat tapi tak berprestasi? Anda pasti memilih anak yang berprestasi dan rajin sholatnya. Tetapi sayang, dalam kondisi tertentu kita harus memilih dua hal yang sama-sama mengandung keburukan.

Akhlak itu menyelamatkan. Jika memang anak tak lagi bisa mengharap penuh potensinya dan prestasinya, maka akhlaklah yang menjadi fokus pembinaan. Dalam banyak tempat berkarir dan bekerja sama, orang berakhlak lebih baik daripada orang berprestasi. Di lembaga pemerintahan, lembaga bisnis, masyarakat, atau lingkungan profesi, orang berakhlak baik lebih dihargai dibandingkan orang cerdas. Dalam kompetisi olahraga, sportifitas permainan itu lebih dihargai daripada kejuaraannya. Artinya, bersiaplah menyesal bagi orang yang tak memiliki kebaikan akhlak. Sebab apapun kelebihan yang ia miliki, ujungnya adalah penyingkiran atau lebih kelamnya adalah hukuman. Orang berakhlak buruk memang dekat dengan hukuman.

Sekarang, apa yang paling kita inginkan dari anak remaja kita? 

Jika kita ingin anak kita menjadi populer, kaya dan disegani, maka Mush’ab bin Umair adalah sang remaja parlente yang berlimpah kesenangan, popular, dan bergelimang harta. Tetapi ia malah pergi dari rumah mewahnya, mengendap-endap menuju majelis Rasulullah yang bersahaja demi membetulkan akidah dan menempa akhlaknya. Bertahun-tahun ia mengubah diri menjadi pemuda yang amat sederhana, tetapi jauh lebih bahagia.

Apapun yang kita inginkan  untuk terjadi pada anak remaja kita, mari kita memulai dengan pembentukan akhlak mulianya. Kita merencanakan kehidupan ini akan panjang. Tidak terpisah oleh kematian yang sesaat, melainkan untuk bertemu kembali sama-sama di surga kelak.

 

[Yazid Subakti]

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *