Akil Baligh – Bagian 2

Akil Baligh – Bagian 2

Parenting Akil atau perkembangan kognitif anak kadang tidak sejalan dengan baligh atau pertumbuhan fungsi organ biologisnya.

  • Perkembangan yang tak sejalan 

Idealnya, anak mengalami masa akil bersamaan dengan balighnya. Jadi ia memulai pendewasaan pikirannya bersamaan dengan kematangan organ reproduksinya sehingga perilaku dan sifatnya tampak sesuai dengan usianya. 

Tetapi kenyataan tidak selalu demikian. Beberapa anak sudah terlebih dahulu menampakkan akilnya padahal belum baligh. Artinya, ia sudah memiliki kearifan berpikir, mampu mengambil keputusan dengan baik dan memiliki tanggung jawab, tetapi belum mengeluarkan sperma bagi laki-laki atau belum haid bagi perempuan. 

Yang perlu diwaspadai adalah anak sudah masuk masa baligh sepentara pikirannnya belum sampai akil. Anak laki-laki sudah mimpi basah dan suaranya berubah atau anak perempuan sudah mengalami haid dan bentuk tubuhnya mulai berubah tetapi pikiran mereka masih kekanak-kanakan. Mereka sudah saling tertarik secara seksual antara laki-laki dan perempuan, belum mampu berpikir tentang tanggungjawab dan risiko perbuatannya. Akibatnya, mereka riskan melakukan perbuatan asusila hanya sekedar mencoba atau memenuhi rasa penasaran saja. Di beberapa lembaga pemasyarakatan anak yang pernah kami jumpai, salah satu kejahatan terbanyak yang menyebabkan mereka masuk penjara adalah pelecehan seksual dengan berbagai macam bentuk perbuatan dan tingkatannya. Mereka ini rata-rata berusia sekitar akhir sekolah dasar dan awal sekolah menengah pertama atau di awal-awal puber. Sebuah cermin anak-anak yang mencapai baligh duluan sebelum datang akil.     

Tetapi anda tak perlu khawatir secara berlebihan. Jika anak anda ternyata anak anda baligh duluan sebelum akil, cara paling mudah dan aman mengatasinya adalah menjadi orang tua yang dekat dengannya. Dekat berarti ada kehadiran yang bermakna, ada perhatian yang sungguh-sungguh, dan ada bukti kasih sayang yang dicurahkan. Dekat berarti menjadi sahabat yang selalu ada untuk membimbing dan mengarahkan. 

  • Menghadapi anak memasuki masa akil baligh  

    • Menerima keadaannya 

Pertama yang harus anda lakukan ketika menghadapi masa akil baligh anak adalah menerimanya. Menerima berarti mengakui fase ini sebagai sebuah keniscayaan bahwa semua orang akan mengalaminya. Menerima, juga berarti siap memahami semua yang akan terjadi berkaitan dengan datangnya masa akil baligh ini. Anda bersiap menerima kenyataan bahwa ia akan  menjadi anak yang kritis dan mungkin suatu saat akan mengoreksi kebijakan orang tua, suatu saat ia mungkin menggugat norma keluarga, sikapnya dan pandangannya sekarang jadi berubah, atau bisa jadi tiba-tiba ia mengubah pola hubungan dengan orang tua.  

Orang tua tak perlu panic dengan datangnya haid anak perempuan yang lebih cepat atau lebih lambat, atau perubahan suara anak laki-laki yang tidak bersamaan dengan teman-teman seusianya. Semua itu adalah bagian dari dinamika datangnya masa akil baligh.

Pemahaman dan penerimaan  yang baik dari orang tua dapat mengantarkan anak menjalani masa akil balighnya secara positif menuju masa dewasa secara matang.

    • Memberi kepercayaan 

Salah satu kebutuhan anak di usia remajanya adalah dipercaya. Ia memerlukan kepercayaan terutama dari orang yang ia percayai. Dalam keluarga, mesti orang yang paling ia percayai adalah orang tuanya, sehingga kepercayaan yang paling ia butuhkan sebenarnya adalah dari orang tuanya. 

Memercayai anak di fase ini berarti memberi peran kepadanya untuk berkontribusi positif dalam keluarga. Peran ini akan menjadi jalan baginya untuk mengembangkan sikap bertanggung jawab dan meningkatkan rasa percaya diri bahwa mereka menjadi anggota keluarga yang dihargai dan diperlukan keberadaannya. 

    • Menghargai ide dan pendapatnya 

Hargai pendapat anak remaja seolah Anda menghargai pendapat orang dewasa. Ia sedang memulai masa-masa memproduksi ide dan membutuhkan tanggapan  positif. Tidak harus menyetujui semua yang dikemukakan, tetapi memberi waktu dan tempat untuk mengungkapkan kemudian memberi respon secara bijak. Beberapa idenya mungkin sangat brilian untuk diterapkan menjadi bagian dari norma keluarga, tetapi ide-ide lainnya terdengar aneh dan tak masuk akal. 

Dalam hal tertentu ia cenderung bersikukuh dengan pendapatnya karena merasa paling benar. Anda tak perlu reaktif dengan memotong pembicaraan atau berbalik menyerangnya, tetapi cukup mendengarkan dan meluruskan jika situasi emosinya memungkinkan.

    • Menjadi teman dekat. 

Para remaja yang terjerumus dalam tindakan kriminal adalah mereka yang tidak berteman dekat dengan orang tuanya. Mereka tidak memiliki tempat mencurahkan rasa, dan tidak menemukan orang yang menghargainya. 

Kedekatan hubungan membuat mereka lebih mudah melepaskan emosi negatif atas permasalahan yang dihadapinya. Pada saat anda dekat dengannya, tidak semua masalah akan anda pecahkan, karena anda sendiri harus melatihnya untuk memecahkan masalahnya sendiri. Tetapi kehadiran anda dengannya memberi pengaruh penguatan batin baginya untuk terus berjuang. 

    • Mengenali lingkungan sosialnya

Kadang kontrol terhadap anak remaja tidak bisa dilakukan secara langsung berhadapan. Ini terjadi karena dalam hal tertentu ia sangat sensitif dan menghindari kontak dengan orang tua. Remaja yang bersalah, misalnya, memiliki kecenderungan menghindari perbincangan orang tua karena mengira bahwa perbincangan itu akan membuatnya harus berterus terang, sedangkan keterusterangan atas kesalahan dapat berakibat penolakan. 

Inilah pentingnya orangtua mengetahui siapa teman-teman dekat anak. Anda dapat mengenal atau berkomunikasi dengan mereka dengan cara yang santai dan akrab tanpa memperlihatkan kesan memata-matai atau melakukan interogasi.

    • Selaraskan Bahasa

Sebagai orang tua, apakah anda akan terus menerus berbicara dengan gaya tua Anda dengan anak yang cara berbicaranya satu generasi lebih muda? 

Salah satu perubahan yang mungkin mencolok dengan datangnya masa puber adalah berubahnya selera bahasa. Si remaja ini berbicara seperti cara teman-teman seusianya berbicara, yang mungkin meniru tokoh muda idola mereka di televisi atau tayangan internet. Induk bahasa mereka bukan lagi sepenuhnya dari lingkungan keluarga masyarakat sekeliling, melainkan  bahasa yang diproduksi dan banyak digunakan di media. Anda menemukan beberapa kosakata baru dari mulutnya, dan ia mulai menggunakan beberapa istilah yang berbeda dengan yang Anda sekeluarga biasa gunakan selama ini. 

Anda tak harus mengubah bahasa Anda, tetapi setidaknya mengikuti alurnya dan memahami makna dari semua perubahan pola bahasa dan kosakata barunya itu. 

    • Makin lancar berkomunikasi

Orang tua dianjurkan mulai mengubah gaya komunikasi satu arah atau dominan kepada anak remajanya, menjadi komunikasi dua arah (saling timbal balik) dengan memberinya kesempatan berbicara yang seluas-luasnya. Anda kini menjadikannya teman berdiskusi yang bijak meskipun di sisi lain tetap tegas memberi aturan.

Jadi, Anda tak lagi berkomunikasi kepada anak, tetapi dengan anak. maksudnya, anak terlibat komunikasi dan merasakan kebutuhan yang sama akan komunikasi itu. Orang tua butuh mengamati kondisi anak dan mengukur perkembangannya, sedangkan anak butuh curahan hati dan penguatan batin untuk berjuang. 

    • Mengamati perubahannya 

Salah satu kewajiban Anda sampai hari ini adalah tetap mengamati perubahan anak dari waktu ke waktu. Amati perubahan bentuk tubuh dan apa saja yang baru darinya, perubahan aroma keringat dan pola gerakannya.  Amati dengan teliti kosakata baru yang diucapkan dan cara ia mengungkapkannya, cara matanya memandang anda dan intonasi suaranya. Teliti seleranya yang berubah, cara memilih baju dan makanan, bahkan komentarnya tentang guru-guru di sekolahnya. Semuanya memberi informasi kepada anda seberapa jauh ia sudah berkembang. 

 

[Yazid Subakti]

Akil Baligh – Bagian 1 : Fase Tumbuh Kembang Anak

Akil Baligh – Bagian 1 : Fase Tumbuh Kembang Anak

Akil Baligh – Setelah masa kanak-kanak pergi, banyak orang tua hanya mengenal istilah pubertas saja untuk fase setelahnya. Padahal dalam islam, pembagian fase ini lebih detail dan memudahkan orang tua untuk mengasuh dan mendampinginya.  

  • Masa Tamyiz 

Tamyis atau mumayyiz adalah fase anak di usia 7-10 tahun yang ditandai dengan dimulainya kemampuan anak membedakan baik dan buruk berdasarkan nalarnya sendiri. Ia sudah dapat menjatuhkan pilihan di antara dua hal yang benar dan yang salah. Dengan kemampuan ini,  anak sudah harus dikenalkan hukum syariat meskipun belum dibebankan.

  • Masa Amrad 

Masa ini terjadi pada saat anak masuk di usia 10-15 tahun yang ditandai dengan dimulainya kemampuan mengembangkan potensi dirinya untuk mencapai kedewasaan. Ia sudah memiliki kemampuan bertanggung jawab dan berpikir obyektif.  Saat inilah biasanya anak perempuan sudah mulai menstruasi dan anak laki-laki sudah keluar sperma (mimpi basah atau dalam keadaan sadar). Karena sudah mencapai baligh, maka hukum syariat baginya bukan lagi dikenalkan, tetapi sudah menjadi kebiasaan. Beberapa anak mungkin saja belum mengalami tanda biologis masuk masa baligh sehingga masih bisa dimaklumi kalau belum menjalani hukum syariat. 

  • Masa Taklif 

Ini adalah masa di usia 15-18 tahun ketika anak sudah sampai pada fase taklif atau kewajiban menjalankan hukum syariat. Anak laki-laki tidak lagi dipandang sudah keluar sperma atau belum, dan anak perempuan tak lagi diperhatikan sudah menstruasi atau belum semuanya sudah dianggap baligh.  

Mulai fase ini, anak sudah menanggung sendiri semua perbuatannya. ia mendapatkan pahala atas perbuatan baiknya, dan berdosa atas perbuatan buruknya. Ia sudah berkewajiban menjalankan salat lima waktu, puasa ramadhan, zakat, dan haji. Ia sudah wajib menutup aurat dan menjaga hubungan yang ketat dengan lawan jenis.   

  • Memahami masa akil baligh 

Jika sebelumnya yang kita sebut adalah istilah pubertas, maka kali ini kita menyebut istilah akil baligh untuk anak dengan fase pertumbuhan dan perkembangan yang kurang lebih sama. 

Apa itu akil baligh?

Akil artinya akal atau pikiran, maksudnya adalah anak yang sudah sampai ada akal pikiran yang siap meninggalkan masa kanak-kanak menuju kedewasaan. Akil atau orang yang berakal adalah lawan dari ma’tuh (bodoh), majnun (orang gila), dan muskir (orang mabuk).

Orang yang berakal adalah orang yang sehat sempurna pikirannya, dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah, mengetahui kewajiban, apa yang boleh dan apa yang tidak, serta yang bermanfaat dan yang merusak.

Sedangkan baligh berarti sampai, yaitu sampai pada usia dewasa. Maksudnya adalah anak telah sampai pada masa organ tubuh beserta fungsinya menjadi seperti organ dewasa. 

Jadi, akil berhubungan dengan perkembangan, sedangkan baligh berhubungan dengan pertumbuhan. Akil menyangkut masalah cara berpikir atau kognitif dan perasaan, sementara baligh berkaitan dengan kematangan biologis terutama sistem reproduksinya. Dalam makna yang lebih luas, baligh juga bermakna ‘sampai dan mengenal serta memahami, setelah habisnya masa kanak-kanak. 

Masuknya anak menuju masa akil baligh mendapat perhatian begitu besar karena ada kaitannya dengan perubahan hukum syariah yaitu dengan adanya pembebanan (taklif) dan kemandirian tanggung jawab. Hukum islam telah mulai berlaku baginya dan aturan-aturan yang ada dalam Al-Quran dan sunnah mulai harus ia terapkan dengan benar. Ia telah menanggung sendiri akibat dari dosa yang ia perbuat, dan mengambil keuntungan sendiri akibat dari ibadah yang ia amalkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Diangkatkan pena (tidak dibebani hukum) atas tiga (kelompok manusia), yaitu anak-anak hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga sembuh.” (HR Abu Dawud).

  • Batasan akil baligh

Ada batasan dan tanda-tanda khusus yang menyertai seorang anak hingga ia telah mencapai usia baligh. 

Seorang anak laki-laki bisa mencapai masa baligh jika telah berumur sembilan tahun dan pernah mengalami mimpi basah (mimpi mengalami sensasi seksual hingga keluar sperma). 

Mimpi basah ternyata mencakup keluarnya mani atau sperma dari kemaluan, baik dalam kondisi tidur atau dalam kondisi terjaga (tidak tidur). Hal ini berdasarkan firman Allah,

“Dan apabila anak-anakmu telah ihtilaam, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin” (QS. An-Nuur: 59)

Untuk anak perempuan, bila telah datang menstruasi pada waktu berumur sembilan tahun atau lebih, maka masa balighnya telah tiba. Haid merupakan tanda baligh paling utama bagi wanita yang semua ulama sepakati. 

Selain haid, hamil juga menandakan seseorang sudah baligh meskipun sebelumnya tidak pernah menampakkan haid. Hal ini karena hamil tidaklah terjadi, kecuali karena adanya air mani laki-laki (sperma) dan perempuan (sel telur) yang saling bertemu. 

Bila anak tidak menunjukkan tanda-tanda baligh (mimpi basah bagi laki-laki dan menstruasi bagi perempuan), maka umur menjadi batasannya. Jumhur ulama berbeda pendapat tentang batasan kesempurnaan usia baligh, Abu Hanifah menyatakan batas kesempurnaan baligh untuk perempuan adalah 17 tahun, dan bagi laki-laki adalah 18 tahun. Sementara Imam Syafii, dan Imam Ahmad bin Hambal tidak membedakan batasan itu antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai batasan yang sama yaitu 15 tahun. Sedangkan menurut Imam Malik, anak mencapai batas baligh jika usianya 17 tahun.

Jadi, jika anak sudah sampai pada umur tersebut, ia telah masuk usia baligh meskipun tidak menampakkan tanda-tanda baligh secara biologis. 

 

[Yazid Subakti]

Selamat datang Masa Amrad

Selamat datang Masa Amrad

Masa AmradPeralihan masa dari kanak-kanak menuju masa puber kadang menyisakan perasaan campur aduk di hati orang tua.

  1. Ketika masa kanak-kanak telah pergi 

Satu sisi orang tua gembira karena anaknya tumbuh beranjak dewasa seperti yang selalu dibayangkan, tetapi disisi lain juga sedih karena masa kanak-kanaknya yang lucu dan menggemaskan telah pergi. Sebentar lagi orang tua akan kehilangan teman yang selama ini menjadi pemicu tawa gembira, tetapi segera menemukan pendamping baru yang bijak dan pengertian. Masa kanak-kanak akan pergi dan seorang calon remaja sudah di hadapan. Suara percakapannya berubah, bahasanya berbeda, postur dan bentuk tubuh tak lagi sama, serta sifat-sifatnya juga tak seperti dulu lagi. 

Ini keniscayaan yang telah disadari oleh semua orang tua. Anehnya, meskipun para orang tua menanti-nanti datangnya masa puber anaknya, mereka juga yang merasa cemas menghadapinya. Hamper semua orang tua mengaku khawatir, merasa serba salah, dan kebingungan menghadapi pubertas anak pertamanya. Mereka takut salah memperlakukannya. 

Jika ada adalah orang yang merasa khawatir menghadapi anak puber, makan anda termasuk tipe orang yang bertanggung jawab jika kekhawatiran itu mendorong anda untuk berburu pengetahuan dan terus belajar. Kekhawatiran atau kecemasan yang tidak bertanggung jawab adalah jika hanya mendorong seseorang pada sikap abai dan putus asa, lalu menganggap bahwa perubahan fase dari anak-anak menuju remaja tak lain hanyalah peristiwa alami biasa, seperti air mengalir yang akan berjalan dengan sendirinya.    

Kita harus dapat memaknai bahwa berlalunya  masa kanak-kanak membawa konsekuensi baru. Kita akan menjadi orang tua baru juga, yaitu ayah dan ibu yang bukan lagi mengasuh, tetapi mendampingi seorang anak yang sudah mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya. Ada perubahan cara menghadapinya, juga perubahan tekanan. di masa awal puber ini, kita lebih tegas dan terbuka kepadanya. 

  1. Apa itu puber?   

Puber atau pubertas berasal dari bahasa Inggris puberty. Kata asalnya adalah bahasa Latin Pubescence  dari  kata  pubis  ( pubic  hair)  yang  berarti  rambut  (bulu)  pada daerah  kemaluan  (genital). Jadi, pubescence  berarti  perubahan  yang dibarengi   dengan tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan atau pubis pada saat anak sudah mulai masuk fase remaja awal.   

Jadi,  pada masa pubertas ini  seorang  anak  mengalami  perubahan  fisik,  psikis  dan kematangan  fungsi  seksual.  Pertumbuhan  dan perkembangan  berlangsung  dengan  cepat.  Anak  perempuan ditandai   dengan  menstruasi  pertama,  sedangkan  pada  laki- laki  ditandai    dengan  mimpi basah.  

Stanley  Hall  (1991) menganggap puber  sebagai masa topan badai dan stress ( Storm and  Stress).  Karena  mereka  telah  memiliki  keinginan  bebas  untuk  menentukan nasib  sendiri,  kalau  terarah dengan  baik  maka  ia  akan  menjadi  seorang  individu yang  memiliki  rasa  tanggung  jawab,  tetapi  kalau  tidak  terbimbing  maka  bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan  dengan baik. 

  1. Memutus lingkaran setan: mulailah menjadi orang tua yang belajar 

Semua orangtua pernah mengalami masa-masa awal puber. Tetapi tidak semuanya mendapat perlakuan baik dari lingkungan atau orang tuanya dan mendapatkan pelajaran indah di masa-masa itu. Bahkan banyak trauma psikologis masa lalu justru terjadi pada masa-masa puber sehingga tidak menganggap fase ini sebagai bagian dari catatan kehidupan yang indah. 

Itulah sebabnya, para orang tua di masa kini masih banyak yang awam, cemas,  atau diliputi perasaan  bersalah ketika mendampingi anaknya menghadapi masa awal puber. Para orang tua memang dulunya di masa awal puber tidak mendapat pelajaran tentang pubertas yang memadai, sehingga saat ini pun menjadi orang tua yang kurang percaya diri mendampingi anaknya puber. Lingkaran setan ini akan terus berputar jika hari ini Anda tidak bertekad menjadi orang tua pendamping puber yang baik bagi anak Anda. Jika hari ini belajar dan memberi perlakuan dan pelajaran pubertas kepada anak dengan baik, maka kelak anaknya akan melakukan hal yang sama. Ia mendapatkan perlakuan dan pelajaran berharga dari Anda, lalu kelak memberi perlakuan dan pelajaran pubertas yang baik bagi anak-anaknya. 

Anda dapat menghadiri seminar-seminar atau kajian tentang pubertas, berkonsultasi atau bertanya kepada psikolog dan praktisi pubertas. Atau setidaknya membaca buku-buku yang mengulas cara mendampingi anak menghadapi masa puber.

  1. Badai pubertas  

Mari kita menjadi orang tua yang mudah memahami bahwa di masa puber anak mengalami gejolak yang serba tidak menentu baginya. Ada gejolak perasaan, pemikiran, ideology, harga diri, bahkan sampai pada identitasnya. Ia merasakan beberapa hal yang memuncak dan butuh penyelesaian. 

  • Khayalan dan fantasi 

para remaja laki-laki sering menghayal atau berfantasi tentang prestasi atau karir. Pada remaja putri, yang dikhayalkan adalah rumah tangga atau hubungan. Khayalan dan fantasi sering terjadi sebagai pelarian dari situasi yang tidak memuaskan remaja. Tentu saja bisa negatif bisa positif. Khayalan atau fantasi berlebihan sampai lepas kontrol membuat anak kehilangan jati diri dan akhirnya bisa menjadi gangguan jiwa.  

  • Gelisah  

Remaja mengalami kegelisahan karena banyak keinginan yang akhirnya tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka juga mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi sehingga hatinya tidak tenang. Perasaan selalu kurang puas, hasrat selalu kurang tersalurkan, kata hati selalu tak tersampaikan atau komunikasi tersumbat sering menyelimuti diri mereka.  

  • Pertentangan 

terhadap keinginannya sendiri, remaja sering mengalami pertentangan batin. Ia mengalami   kebingungan  bahwa apa yang dianggapnya kurang baik masih juga ingin ia tinggalkan. Sebaliknya bisa jadi ia sudah mengetahui keburukan tetapi masih juga tak berhenti melakukannya. 

Di luar konflik batin, remaja juga sering bertentangan dengan orang lain. Ia menjadi kritis dan berani mengoreksi kebijakan orang tua jika tidak bersesuaian dengan kebenaran yang ia yakini. Ia mengkritik kebiasaan masyarakat, mengingkari peraturan  sekolah dan ingin mengubah pola pertemanan. 

  • Keingintahuan 

Anak remaja memiliki keinginan besar untuk mengetahui  apapun yang belum mereka ketahui, keinginan merasakan, atau keinginan mengalami. Mereka  ingin  mengetahui anatomi tubuh lawan jenis dan apa yang terjadi dengannya, lalu iseng membuka gambar atau video yang ternyata porno. Keingintahuan juga berujung pada keinginan untuk mencoba. Mereka ingin merasakan apa yang biasa ia lihat dilakukan orang dewasa seperti  merokok, lalu ia pun mencoba merokok  secara sembunyi- sembunyi. Mereka juga ingin merasakan seperti apa pria dicintai wanita dan wanita dicintai pria, kemudian diam-diam menjalin hubungan asmara.  

Keingintahuan ini sangat penting baginya, orang tualah yang menjadi pengarah agar semua itu tidak menjadikan anak remaja terjerumus perbuatan negatif yang dilarang oleh Allah.  

  • Kenekatan 

Ciri lain yang khas pada remaja adalah nekat. Anak remaja sudah menjangkau pikiran seperti orang dewasa, tetapi kurang peka dengan risiko yang akan ia hadapi. Nekat kabur dari rumah karena konflik dengan orang tua, nekat kabur dari sekolh karena konflik dengan guru, nekat bunuh diri, nekat menjalin hubungan cinta terlarang, tawuran, atau geng motor adalah wujud nekatnya remaja. 

Jika terarah secara positif, remaja pula yang akan nekat menjadi penghafal Al-Qur’an, nekat menjadi atlet internasional, atau nekat mengikuti kompetisi sains.

 

[Yazid Subakti]

Perjalanan Safar – Bagian 3 : Anak tak memiliki pengalaman safar

Perjalanan Safar – Bagian 3 : Anak tak memiliki pengalaman safar

Parenting – Anak yang tak memiliki pengalaman safar atau tak pernah dilatih melakukan perjalanan jauh tumbuh berbeda dengan anak yang terbiasa mengalami perjalanan jauh. Mereka tetap tumbuh sebagai pribadi yang normal tetapi memiliki beberapa kelemahan yang dapat menyulitkan kehidupannya kelak ketika dewasa. 

  • Mudah mabuk perjalanan

Salah satu tanda anak yang tidak terbiasa bepergian dari kecil adalah mudah mabuk kendaraan. Ia tidak kuat dengan guncangan badan dalam keadaan sedang melaju kencang sehingga system keseimbangan tubuhnya bereaksi atau sistem pencernaannya terganggu. Bahkan beberapa anak baru beberapa menit naik kendaraan dan mencium bau AC atau mencium bau bahan bakar sudah mual-mual dan muntah-muntah. Anak yang dari kecil, bahkan sejak bayi sudah biasa menjalani safar akan kebal dari semua ini.

  • Mudah mengalami disorientasi

Disorientasi adalah kehilangan atau kebingungan arah mata angin setelah seseorang mengalami perpindahan  posisi. Anak yang jarang bepergian berpotensi mudah mengalami kebingungan arah hanya dengan menyusuri beberapa ruas jalan, ia tidak terlatih instink medannya untuk menemukan arah jika lokasi dirinya berubah dari biasanya. 

  • Berpeluang mudah tersesat

Karena mudah mengalami disorientasi, maka anak juga menjadi mudah tersesat ketika bepergian. Tidak terlatihnya bepergian sejak kecil membuat anak tidak terbiasa menyusuri berbagai macam jalan dengan penanda dan karakternya yang berbeda-beda. Anak tidak mengenali jalan dan perkampungan sehingga kesulitan menemukan tujuan atau arah pulang. Saat dalam kondisi seperti ini, bertanya kepada orang pun tetap tidak mudah jika ia sendiri jalur yang akan ia tuju atau arah pulang yang akan ia tempuh. 

  • Kurang percaya diri menghadapi berbagai tipe orang

Jarang bepergian berarti jarang bertemu orang asing selain yang ia kenal selama ini. Sedangkan pada saat tertentu nanti pergaulan yang semakin uas membuat anak akan bertemu dengan banyak orang, terlebih jika cita-citanya sangat tinggi. Ia akan kesulitan menghadapi berbagai ragam dialek atau bahasa orang, mudah percaya atau sebaliknya mudah curiga kepada setiap orang baru yang ia temui. Bahaya anak yang mudah percaya dengan orang baru adalah minim kewaspadaan sehingga mudah tertipu jika ternyata orang baru tersebut bukan orang baik-baik. Bahaya anak yang mudah curiga terhadap orang baru adalah menjadi tertutup dan sempit pergaulannya sehingga peluang kerjasama dengan orang-orang penting menjadi hilang. 

  • Mudah putus asa menghadapi tantangan

Selama perjalanan anak bisa saja menghadapi banyak kondisi darurat yang mengharuskannya terus berjuang melanjutkan perjalanan. Mobil mogok, perbekalan menipis, perut lapar, tenggorokan haus, hujan deras ataupun panas menyengat dan ketegangan-ketegangan lain semuanya sudah biasa dihadapi.       

  • Tidak fleksibel menghadapi situasi

Bagi anak yang terbiasa melakukan perjalanan jauh, menghadapi keadaan yang tidak normal sudah terbiasa. Ia fleksibel dan mudah mengerti bahwa tidak semua yang kita inginkan akan mudah terpenuhi. Ia terlatih menghadapi kenyataan di perjalanan bahwa jika tak ada makanan enak, makanan lain pun  bisa menjadi pengganti, pakaian tidak harus selalu bagus jika memang tidak tersedia, tidur di manapun adalah nikmat tak harus di kasur bersama bantal dan guling, 

  • Mudah mengeluh dan berburuk sangka

Mengeluh adalah respon negatif terhadap suatu kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan. Biasanya ini terjadi dalam bentuk ketidaksabaran menghadapi suatu proses atau penolakan terhadap hal-hal yang tak menyenangkan. Ia tidak pernah berlatih safar yang melelahkan dan penuh proses yang tidak semuanya menyenangkan.

  • Sempit wawasan

Anak yang terkurung di rumah dan kampung halamannya mengira bahwa dunianya sela ini sudah yang paling luas dan indah. Ia menjadi fanatic buta dengan lingkungan kecilnya seolah itu adalah yang paling baik, kurang bisa menerima perbedaan yang amat beragam, dan mudah terheran dengan hal-hal besar yang baru ia lihat. Ia tidak pernah melakukan salat jama’ lalu terheran dan mengira orang yang salat jama’ itu beraliran sesat. Saat pertama kali melihat orang asing, ia seperti terhipnotis terus-terusan memandangi sesosok bule yang warna kulit, rambut, mata,  dan postur tubuhnya sangat berbeda dengan dirinya.        

Itu semua tidak hanya  akan terjadi pada anak-anak, melainkan juga remaja dan bahkan orang dewasa. Oleh karenanya, safar harus orang tua kenalkan sejak kecil, jika tidak memungkinkan, setidaknya saat remaja atau menjelang dewasa sudah mendapat pengalaman perjalanan jauh. Bila perlu, anak harus merantau dalam rangka menuntut ilmu atau mencari rejeki. Hamper semua ulama masyhur adalah para perantau ulung selama masa-masa mencari pencarian ilmunya. Mereka tidak hanya mendapatkan ilmu yang luas, tetapi juga kepribadian yang tangguh dan arif menghadapi umat. 

  • Waktu yang disunnahkan untuk safar 

Ada anjuran melakukan safar pada waktu terbaik, yaitu waktu yang memberi peluang keamanan atau kecilnya risiko perjalanan.

  • Rasulullah SAW mensunnahkan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan beliau, Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata, “Nabi SAW keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis.” [HR Bukhari]
  • Ada anjuran memulai bepergian pada pagi hari karena pagi adalah waktu yang penuh berkah. Nabi SAW pernah mendoakan keberkahan pagi dalam sabdanya, Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”[HR Abu Dawud dan At tirmidzi]
  • Waktu terbaik untuk melakukan safar lainnya adalah di waktu duljah, yaitu di awal malam. Perjalanan di waktu malam hari baik karena ketika itu jarak bumi seolah-olah dekat. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.” [HR Abu Dawud dan Al baihaqi]

 

[Yazid Subakti]

Mendorongnya Berprestasi

Mendorongnya Berprestasi

Parenting – Berprestasi adalah hasil yang telah dicapai dari apa-apa yang telah dilakukan atau diusahakan. Prestasi antara anak satu dengan lainnya tidak selalu sama.

  1. Memaknai prestasi anak

Apakah prestasi adalah kemenangan dalam sebuah lomba yang dibuktikan dengan piala dan hadiah?

Ada anak yang memiliki prestasi dalam bidang  olahraga, sastra, kepemimpinan, ilmu pengetahuan, seni, teknologi, dan pelajaran sekolah. Prestasi  ini muncul sebagai hasil kerja keras mengerahkan potensi diri, dan berkaitan  dengan kemampuan dasar yang dimilikinya. Dengan kejujuran dan perjuangan sendiri, prestasi itu akan datang sebagai sunnatullah, hukum Allah yang Dia tetapkan atas orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ikhtiar. 

Orang yang berprestasi selalu mengawali prestasinya dengan bekerja atau berusaha keras. Para atlet dunia telah mulai mengenal olahraga dan berlatih sejak usia belasan atau bahkan sejak usia kanak-kanak. Para  ilmuwan-ilmuwan besar dari masa mudanya tekun belajar dan melakukan penelitian yang berkali-kali gagal tanpa putus asa. 

Perlu menyempaikannya kepada anak, agar ia tidak menganggap bahwa keberhasilan itu dapat hanya dengan berdiam diri tanpa usaha. Anak-anak harus jauh dari praktik para pemalas yang ingin langsung berprestasi dengan membeli gelar, membeli ijazah, membayar joki saat ujian, atau membeli suatu jabatan dengan cara menyuap. 

  1. Manfaat prestasi 

Orang tua sangat bangga jika anaknya menjuarai suatu perlombaan. Pada adu kompetisi tertentu, orang tua terkesan memperalat anaknya untuk turut dalam ajang tersebut dan memaksanya untuk menjadi juara sementara sang anak tampak tak bahagia dan terbebani. Inilah contoh ambisi orang tua yang salah mendidik. Ia hanya ingin orang-orang menilainya sebagai orang tua hebat yang telah berhasil mendidik anak, atau melampiaskan impian masa kecilnya yang tak terwujud di masa lalu.    

Orang tua boleh berbangga atas prestasi anaknya, dan tidak ada yang salah jika prestasi anak menjadi bagian dari pengangkat derajat keluarga. Tetapi  yang seharusnya adalah, prestasi membawa manfaat nyata bagi perkembangan anak, bukan semata mengangkat gengsi dan kebanggaan orang tua. 

  • Menjadikan anak mengetahui ukuran kemampuannya daripada teman-teman atau pesaingnya. Ini ada manfaatnya agar ia terus bertahan dengan kemampuannya itu, bahkan meningkatkannya agar tetap berpeluang di genggaman.   
  • Menunjukkan bidang keunggulan atau potensi kuat yang anak miliki. Manfaatnya, anak menjadi tahu bahwa ia memiliki potensi yang sudah terbukti unggul.   
  • Meningkatkan rasa percaya diri anak di hadapan teman-temannya. Anak menjadi yakin atas kemampuannya dan tumbuh keberanian untuk menjadikannya bagian dari jati dirinya. 
  • Mendapat pengalaman berharga, yaitu pernah menjadi anak yang telah memuncaki suatu perjuangan pada kompetisi yang ia ikuti. Ia dapat belajar dari apa yang ia alami sendiri mengatasi berbagai rintangan dan menembus peluang untuk mendapatkan posisi puncaknya. 
  • Menjadikan anak merasa bermakna. Ia sadar memiliki sumbangsih atas prestasinya itu kepada pihak yang mengirimnya ke ajang kompetisi (sekolah, pemerintah atau masyarakatnya). Perasaan bermakna dapat mendorong anak menjaga citra baiknya dengan menghindari perbuatan yang tercela.   
  1. Setiap anak adalah para pejuang islam

Ada perlombaan yang sangat mulia di hadapan Allah, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan. Ada prestasi yang sangat harum di hadapan Allah, yaitu menjadi pejuang islam

Abdullah bin Abbas saat masih kecil sudah mendapat nasehat perjuangan dari Rasulullah SAW. Ia diingatkan agar menjadi pejuang  tauhid. 

Dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Aku dahulu suatu hari berada di belakang Rasulullah SAW, lalu beliau berkata, “Hai, Nak, kuajarkan kepadamu beberapa pelajaran; Jagalah Allah, maka Dia akan menjaga-Mu. Jagalah Allah, engkau akan dapatkan Dia berada di hadapan-Mu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau minta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya umat ini, jika mereka berkumpul untuk mendatangkan suatu manfaat untukmu, niscaya mereka tidak dapat mendapatkan manfaat untukmu kecuali apa yang Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mendatangkan bahaya untukmu, niscaya mereka tidak dapat mendatangkan suatupun bahwa untukmu selain apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan catatan telah kering” (HR Muslim)

Sejak anak mampu membedakan kebaikan dan keburukan, ia telah menjadi bagian dari pejuang islam bersama keluarganya, sekolahnya, atau masyarakatnya. Biarkan anak menjadi bagian dari kemeriahan masjid, menjadi bagian dari semarak hari-hari besar islam, atau mengisi ruang-ruang pergaulan di masyarakat dengan memberi contoh kebaikan melalui sikapnya. 

Itu juga prestasi, meskipun tanpa gelar juara. Tak ada medali dan piala, apalagi hadiah. Sebab Allah telah menyediakan yang lebih besar dari itu semua dengan cara-Nya dan di saat yang dikehendaki-Nya.

 

[Yazid Subakti]

Rihlah, Perjalanan Bermakna

Rihlah, Perjalanan Bermakna

Parenting – Banyak Manfaat perjalanan sesuai tujuannya. Misalnya perjalanan ke sebuah tempat wisata jelas bertujuan menikmati tempat tersebut. Jadi, apa makna sebenarnya dari rihlah?

  1. Bukan sekedar plesir 

Rihlah adalah menempuh perjalanan dari rumah menuju suatu tempat dengan kegiatan atau maksud tertentu di tempat yang dituju. Dalam bahasa sehari-hari kita sering menyebutnya piknik. Dalam acara piknik, nuansa selama perjalanan sampai tujuan biasanya dipenuhi oleh kesenangan-kesenangan, pelampiasan kegembiraan dan semua hal yang menyenangkan. Oleh karenanya disebut juga plesir (pleasure), yaitu bepergian untuk bersenang-senang. 

Tidak ada larangan untuk plesir, bahkan merupakan terapi menenangkan atau meredam gejolak jiwa bagi orang-orang yang terlalu lama suntuk dalam kejenuhan. Plesir atau piknik dapat menjadi penyegar dan pembangkit kembali energi yang terkuras selama berhari-hari bekerja. 

Namun demikian, jika perjalanan ini dimaksudkan untuk memberi edukasi bagi anak, maka yang lebih tepat adalah rihlah. Rihlah keluarga tidak jauh berbeda dengan piknik. Hanya saja didalamnya disisipkan pesan-pesan kebaikan dan berbagai latihan yang sengaja dirancang untuk membentuk kepribadian anak. 

  1. Manfaat rihlah 

Ada begitu banyak Manfaat rihlah sesuai tujuannya. Menempuh perjalanan ke sebuah tempat wisata  jelas bertujuan menikmati tempat tersebut. Jika rihlah ini dalam rangka mendidik anak, maka orang tua dapat memasukkan nilai-nilai kepribadian baik selama perjalanan dan saat di tempat tujuan sesuai objek yang dikunjungi. 

  • Menikmati keindahan alam

Main ke gunung bertujuan menikmati keindahan alam pegunungan. Wisata ke pantai menikmati suasana pantai dengan segala yang ada di sana. Wisata ke taman safari atau kebun binatang berarti menyaksikan keunikan satwa-satwanya. Saat menikmati keindahan, anak diajak bersyukur kepada Allah dan bertasbih sebagai ungkapan kagum atas kebesaran-Nya. 

  • Menambah wawasan

Anda dapat mengajak anak ke museum peninggalan benda bersejarah (benteng, benda-benda perjuangan masa lampau, peninggalan kerajaan masa lalu dan lain-lain) untuk menambah wawasan sejarah. Ini penting penting untuk menumbuhkan kebanggaan anak terhadap bangsanya dan menyadari bahwa bangsa ini merdeka karena sebuah perjuangan. Anda dapat menyampaikan betapa pentingnya menghargai jasa pahlawan, minimal dengan cara mendoakannya.   

  • Mengambil inspirasi

Ada perjalanan wisata yang ketika datang anak mendapat inspirasi dalam pikirannya. Wisata seperti berupa tempat-tempat unjuk keterampilan atau produksi barang-barang kreatif. Anda dapat mengajak anak ke lokasi pembuatan batik dan biarkan ia mencoba praktik membatik, atau kunjungan ke tempat perakitan pesawat untuk mengamati bagaimana  sebuah pesawat yang tampak sederhana itu dirakit dengan amat rumit. Tempat-tempat yang dapat menjadi sumber inspirasi lainnya misalnya ke stasiun ruang angkasa, stasiun teropong bintang, perkebunan modern, pusan tenun sarung, pameran karya kreatif dan sebagainya.      

  • Berpetualang

Ada kalanya keasyikan tidak dengan cara yang sepenuhnya nyaman. Dalam wisata petualangan, anda mengajak anak menaklukkan rasa takut dan menguji ketangguhan fisik dan mental melalui berbagai keadaan alam dan rintangan. And dapat mengajak anak menyusuri gua atau sungai bawah tanah, arung jeram di sungai berair deras, menjelajah hutan rumba, atau pendakian gunung. Tumbuhkan jiwa beraninya, tekad kuatnya, dan semangat membaranya.  

  • Menikmati sajian

Ini adalah jenis kunjungan yang tidak banyak pengorbanan dan biasanya murni hanya untuk bersenang-senang. Wisata seperti ini bisa dengan mendatangi pusat pusat kuliner untuk menikmati berbagai hidangan, menonton pentas atau pertunjukan kesenian, atau menghadiri pameran seni budaya.   

  1. Hindari hal-hal yang terlarang 

Pergi untuk berhibur atau bersenang-senang hukumnya mubah atau boleh asalkan tidak melakukan hal-hal terlarang atau mendatangi tempat dan peristiwa yang haram. Menikmati alam, menikmati sajian, mempelajari proses kreatif, menempa diri dengan berpetualang dan mengunjungi pusat makanan lezat adalah diperbolehkan. Perbuatan ini dapat meningkatkan rasa bahagia, melepas kejenuhan dan mengembalikan tenaga agar setelahnya dapat kembali melakukan aktivitas dengan fokus penuh. 

Hindari melakukan perbuatan terlarang, misalnya terlalu asyik bersenang-senang hingga hati menjadi lalai membuka aurat atau meninggalkan salat. Perlu antisipasi agar sebelum berangkat pastikan bahwa di tempat tujuan tidak sedang ada acara yang mengandung kemaksiatan misalnya pentas yang mempertontonkan lagu atau tarian vulgar dengan kerumunan penonton yang mabuk oleh minuman keras.   

  1. Agar tetap nyaman dan asyik 

Jangan sampai perjalanan mencari keasyikan berbuah kesedihan karena tertimpa  masalah yang menyebalkan. Bukannya mendapatkan kesenangan dan penyegaran jiwa, tetapi malah stress dan kekecewaan. 

  1. Tentukan waktu yang tepat, yaitu hari atau tanggal ketika anak libur sekolah dan Anda juga dalam keadaan luang atau sengaja meluangkan.  
  2. Batasi waktu dan durasi yang cukup, yaitu berapa lama perjalanan atau berapa lama akan berada di lokasi tujuan. Ini penting untuk menghindari anak lupa diri ketika terlalu asyik menikmati.  
  3. Biarkan anak ikut memilih lokasi atau tujuan. Acara ini bertujuan untuk kesenangan anak, maka anak berhak turut menentukan ke mana yang ia inginkan. 
  4. Siapkan perbekalan secukupnya, yaitu bekal yang tidak kurang dan tidak terlalu berlebih. Perbekalan makanan dan uang yang cukup untuk keperluan selama perjalanan dan di lokasi. 
  5. Nikmati tanpa harus memaksa diri bergaya mewah. Di lokasi keramaian wisata sering terjadi tindak kejahatan yang biasanya mengincar perhiasan atau harta pengunjung yang tampak memamerkan kemewahannya.  
  6. Pertimbangkan cuaca pada hari keberangkatan. Jika memungkinkan, pilih hari yang kemungkinan kecil akan terjadi  cuaca buruk (turun hujan, angin, petir dan lainnya)
  7. Siap siagakan segala kemungkinan darurat selama perjalanan dan di tempat tujuan, setidaknya dengan membawa  kotak pertolongan pertama.

 

[Yazid Subakti]

Menanamkan Kesukaan Membaca

Menanamkan Kesukaan Membaca

Parenting – membaca adalah kebiasaan anak-anak dan pemuda muslim sejak zaman dahulu yang terbukti menghasilkan generasi cendekia.

  1. Membaca adalah kebiasaan umat islam sejak lampau 

Di zaman Rasulullah, sudah ada rumah baca yang disebut Darul Qurra’  (rumah para pembaca).  Budaya baca tulis bangsa arab yang sebelumnya lambat menjadi berkembang secara luas di Madinah dalam waktu yang cukup singkat. Banyaknya jumlah sahabat yang dapat membaca ini sangat menakjubkan hingga di kalangan anshar terdapat 70 orang muda yang dikenal dengan sebutan al-Qurra (orang yang pandai membaca).

Di masa-masa setelah  itu, membaca (juga menulis) sudah menjadi kegemaran anak-anak dan pemuda muslim. Maka wajar jika dalam kurung beberapa generasi setelahnya islam menampilkan wajah inteleknya dengan kemunculan para pakar dari kalangan kaum muslimin: ahli kedokteran, ahli fisika, ahli ilmu bumi, ahli matematika, ahli filsafat, ahli sejarah dan sebagainya. Para pakar ini menulis buku dan menyebarkan ilmunya hingga namanya masyhur sampai hari ini. 

Maka janganlah hari ini tradisi itu digantikan oleh anak-anak muslim dengan menonton TV dan bermain game. Anak-anak harus gemar membaca karena kepemimpinan dunia mungkin kelak ada di pundaknya.

  1. Membaca apa dan bagaimana?

Ajak anak meningkatkan kegemaran membaca apa saja bacaan yang mengandung informasi bermanfaat. Yang dimaksud bacaan bermanfaat adalah jika menambahkan pengetahuan baru, meningkatkan pemahaman, mendatangkan kesenangan atau hiburan, memberi inspirasi dan membangkitkan semangat untuk berbuat baik. 

Jadi, bukan media apa yang dibaca, melainkan isi dari bacaannya. Medianya bisa berupa buku-buku cetak, buku bergambar atau komik, novel, majalah, surat kabar, buku elektronik, bahkan bacaan dari website di saluran internet yang tersaring dari serangan-serangan konten negatif.

Tentang cara membaca, setiap anak memiliki gaya dan caranya masing-masing. Satu anak akan memiliki kecenderungan yang berbeda dengan anak lain. Sebagian anak suka membaca dengan suara keras (aloud reading), sebagian dengan diam (silent reading). Ada anak yang nyaman membaca sambil menyendiri di dalam kamar, sebagian anak terbiasa membaca dalam keramaian. Anak tertentu menunggu saat benar-benar luang untuk membaca satu buku sekali baca, anak lain memilih membaca sehalaman atau memilih bab paling menarik dan kapanpun membacanya dalam waktu pendek-pendek.

Sebagai pemantik setiap harinya, orang tua memang diharapkan menampakkan diri melakukan aktivitas membaca di hadapan anak. Jadikan baca adalah kebiasaan sekeluarga dengan sosok orang tua sebaga contohnya, bukan aturan keluarga yang  hanya berlaku bagi anak. 

Untuk menguatkan suasana seperti ini, hal-hal yang melemahkannya memang harus disingkirkan, misalnya televisi dan alat-alat game seperti playstation. 

  1. Manfaat membaca 

  • Mengaktifkan  sel-sel otak 

Baca berhubungan dengan perkembangan otak anak. Saat anak sedang membaca, sel-sel otaknya aktif mengolah huruf-huruf menjadi kata dan kalimat. Saat itu pula sel-sel otak menghubungkan antara huruf dan makna kalimat yang dirangkai. Kalimat ini tentu saja masih berkaitan dengan kalimat lain sehingga sel-sel otak harus mengolah lagi  untuk menemukan kesatuan utuh dari informasi yang tersampaikan oleh bahan bacaan yang ia baca. 

  • Merangsang kecintaan terhadap pengetahuan

Membaca berarti berburu pengetahuan. Semakin banyak yang baca, semakin berpeluang banyak hal akan kita ketahui. Biasanya anak yang sudah mulai merasakan kenikmatan membaca akan terus membaca. Ia menjadi suka dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang datang dari bacaan. 

  • memperkaya kosakata 

anak anak yang jarang membaca biasanya terlihat dari cara berbicaranya yang terbatas dalam penggunaan kosakata. Pada saat menulis kalimat paragraf ia mengulang-ulang kata yang sudah ia gunakan. Saat berbicara di depan umum sering tercekat atau seperti tidak menemukan suatu maksud yang ingin ia katakan. Akhirnya ia dinilai tidak cakap.  

  • meningkatkan rasa percaya diri 

kegemaran baca membuat anak banyak memiliki wawasan dan cadangan informasi dalam memori otaknya. Ia seperti memindah isi bacaan ke sel-sel otak untuk suatu saat dapat keluar jika butuh. Anak menjadi percaya diri dan berani mengemukakan pendapat. 

Berlomba-lomba dalam kebaikan

Allah memerintahkan hamba-Nya agar gemar berlomba dalam kebaikan. Setinggi apapun cita-cita anak, ia harus termotivasi bahwa semuanya dalam rangka berlomba dalam  kebaikan. Kebaikan adalah segala sesuatu yang membawa kemaslahatan atau manfaat bagi manusia, berdampak menyenangkan atau membuat bahagia. Berlomba artinya berusaha melakukan suatu kegiatan dengan tingkatan yang paling tinggi atau terdepan.

Sebagai pembiasaan berlomba dalam kebaikan, anak dapat melakukannya di rumah, lingkungan masyarakatnya, dan di sekolahnya.

Berlomba dalam kebaikan di rumah dapat dengan, 

  • melakukan pekerjaan di rumah sebelum menyuruh orang lain
  • berusaha bangun pagi paling awal sebelum yang lain bangun
  • melakukan kegiatan ibadah lebih banyak daripada anggota keluarga lain

Berlomba dalam kebaikan di lingkungan masyarakat dapat dengan,

  • menjadi penggerak masyarakat, tanpa menunggu perintah 
  • peduli pada lingkungan sekitar ketika orang lain membiarkannya
  • menjadi orang paling awal dalam hal menolong sesama

Berlomba dalam kebaikan di sekolah dapat memulainya dengan 

  • Berusaha menjadi siswa terbaik di sekolah dengan prestasi tertinggi
  • Menjadi siswa paling menguasai ilmu di sekolah 
  • Aktif dalam organisasi sekolah dan mempelajari kepemimpinan 

 

[Yazid Subakti]

Mengjarkan Keterampilan Berenang, Berkuda, dan Memanah

Mengjarkan Keterampilan Berenang, Berkuda, dan Memanah

Parenting – Keterampilan berenang, berkuda, dan memanah merupakan sunnah yang dianjurkan. Maka anak perlu dikenalkan sejak dini.

  1. Mengajak anak berlatih memanah

Memanah adalah olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Beliau mengingatkan dengan nada yang sangat menekankan, 

Rasulullah SAW berada di atas mimbar berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!” (HR Abu Dawud)

Pada masa Rasulullah SAW, memanah  adalah keahlian yang memberi sumbangsih besar kepada kaum muslimin dalam memetik kemenangan di berbagai medan perjuangan. Oleh karenanya, dalam setiap peperangan selalu disiapkan barisan pasukan pemanah sebagai pelapis barisan lain.  

Pada masa penaklukan Konstantinopel di abad 14, keterampilan memanah bahkan menjadi kunci kemenangan pasukan Sultan Muhammad Alfatih. Pasukan Sultan Muhammad terlebih dahulu berenang mengarungi Selat Bosphorus, kemudian berkuda sambil terus melepaskan ribuan anak panah menyerang pasukan musuh. Dan akhirnya,  Konstantinopel yang sinis dengan islam itu pun takluk. 

Panah adalah salah satu alat pertama kali bagi manusia di awal-awal peradaban. Ada kisah di zaman nabi Adam bahwa Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk memberikan busur dan dua anak panah kepada Nabi Adam. Oleh nabi Adam, panah inilah yang ia gunakan untuk berburu burung yang mengganggu tanaman. 

Selain berhubungan dengan peradaban islam, memanah mengandung manfaat bagi kesehatan sebagai latihan koordinasi tangan dan mata, meningkatkan keseimbangan motorik, memperbaiki fokus pikiran dan menambah kepercayaan diri. 

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hiburan kecuali dalam tiga hal; seorang laki-laki yang melatih kudanya, candaan seseorang terhadap isterinya, dan lemparan anak panahnya. Dan barangsiapa yang tidak memanah setelah ia mengetahui ilmunya karena tidak menyenanginya, maka sesungguhnya hal itu adalah kenikmatan yang ia kufuri.” (NASAI – 3522)

Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah,” (HR Bukhari dan  Muslim).

Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda).”(HR Muslim)

  1. Memfasilitasi anak belajar berkuda 

Berkuda adalah keterampilan yang membutuhkan banyak kecakapan khas. Kecakapan ini tidak hanya membuktikan kepandaiannya naik kuda, melainkan sisi lain dari ketangguhan dan kuatnya kepribadian. Oleh karena itu tidak semua berminat menguasai keterampilan ini. Padahal Allah dan rasul-Nya sangat menganjurkan, 

Allah berfirman, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari (pemeliharaan) kuda-kuda yg ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah.” (QS Al Anfal:60).

Rasulullah SAW bersabda, “Semua hal yang melalaikan dibenci Allah, kecuali tiga hal: kemesraan suami istri, memanah , dan berkuda.” (HR Thabrani).

Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah.” (HR Bukhari Muslim).

keterampilan berkuda selain membawa kebaikan sunnah juga mengandung manfaat bagi anak, yaitu belajar mengendalikan emosi dan bekerjasama dengan sesama makhluk, juga melatih kesabaran menghadapi keinginan yang tidak selalu sama. Yang tak kalah penting, berkuda mengajarkan penunggangnya untuk bertindak dengan rasa. Kuda sangat sensitif dengan sentuhan dan perintah, memiliki kesetiaan, dan juga dapat memberontak.   

  1. Melatih berenang 

Berenang adalah olahraga yang juga ada dalam hadits Nabi. 

Dari Jabir bin Abdillah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasa’i).

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mengajarkan renang bukan termasuk perbuatan yang sia-sia, sebagaimana beberapa perbuatan lainnya, meskipun tidak memerintahkan atau menekankan kesunnahannya atau mencontohkan perbuatannya. 

Sahabat Umar bin Al-Khattab pernah berkata,”Ajari anak-anakmu berenang, memanah dan naik kuda”.

Berenang mengandung banyak makna bagi manusia. Ini adalah aktivitas di atas air yang memerlukan keterampilan khusus untuk mengapung dan mengolah gerakan sedemikian rupa sehingga badan yang seharusnya tenggelam menjadi tidak tenggelam. Berenang adalah cara manusia mencoba kehidupan di luar kebiasaannya yang semula di darat menjadi di air dengan mengubah sikap tubuh. selama berenang, hampir semua organ gerak manusia terpakai mulai dari kepala sampai kaki. Itulah sebabnya, para atlet renang memiliki bentuk badan yang ideal karena semua bagian ototnya terlatih, semua lemaknya juga terbakar. 

Anjuran seorang muslim berenang mengandung hikmah pentingnya manusia menguasai alam selain daratan, yaitu alam air untuk beberapa saat hidup di atasnya. Pada situasi darurat misalnya banjir atau kapal tenggelam. Kemampuan berenang adalah harapan besar untuk bertahan sampai mendapat pertolongan atau menemukan daratan. Setidaknya ada kesempatan menyelamatkan diri sendiri beberapa saat.     

  1. Diajarkan sejak kecil

Memanah, berkuda, dan berenang sebaiknya sudah sejak usia masih kecil, atau setidaknya mulai pada usia menjelang remaja. Sebab belajar menguasai sesuatu akan menjadi lebih mudah bila dikerjakan di usia awal, dan semakin sulit jika dimulai di masa-masa tua. Otot-otot dan sikap tidak mudah lagi untuk dibentuk. 

Di samping itu, masa anak-anak memungkinkan adanya waktu yang lebih luang dan pikiran lebih tenang untuk berlatih daripada ketika sudah dewasa. Saat dewasa, membagi waktu dan konsentrasi semakin sempit.

 

[Yazid Subakti]

Perjalanan Safar – Bagian 2 : Mengenalkan adab safar 

Perjalanan Safar – Bagian 2 : Mengenalkan adab safar 

Parenting – Dalam Islam terdapat adab safar. Ini karena perjalanan jauh safar akan mengubah sebagian hukum syariah, terutama yang berhubungan dengan ibadah.

  • Tidak Sendirian

Melakukan perjalanan safar sebaiknya tidak sendirian, melainkan bersama beberapa orang yang terpercaya. Ini untuk pertimbangan keamanan dan bisa saling mengingatkan kebaikan dan melarang kemungkaran selama di perjalanan. 

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar.“ (HR. Malik, Abu Daud, dan At Tirmidzi)

Lebih-lebih perjalanan malam hari, Rasulullah SAW mengingatkan agar jangan sampai sendirian, 

 “Andaikan orang-orang mengetahui akibat dari bersafar sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka mereka tidak akan bersafar di malam hari sendirian.“ (HR. Bukhari)

  • Serombongan dengan orang baik

Bersafar sebaiknya berombongan dengan orang saleh jika memungkinkan. Nabi SAW bersabda:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Teman safar yang salih akan memberi pengaruh kebaikan dan memberi peringatan jika kita lalai. Dalam acara safar keluarga, anda mestinya berhati-hati untuk tidak memasukkan orang dari luar keluarga yang tidak salih. Misalnya menyewa supir atau mengajak pembantu rumah tangga. Sering terjadi sopir sewaan ternyata perokok berat, peminum alkohol, dan tidak terbiasa salat sehingga selama mengantar dan di lokasi safar ada pemandangan mengganggu dengan kepulan asap rokok beserta baunya, minuman haram, dan sosok yang memilih tidur pada saat yang lain salat berjamaah.    

  • Mengangkat pemimpin perjalanan 

Pemimpin rombongan safar sebaiknya yang mempunyai akhlak yang baik, akrab, dan tidak egois. Untuk safar keluarga, seorang ayah adalah pemimpin rombongan yang memberi contoh seluruh keluarganya untuk memimpin. Di masa-masa berikutnya ketika anak sudah akil baligh, pemimpin bisa dari kalangan anak untuk belajar bertanggung jawab. 

Perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar adalah hadits nabi SAW,

“Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu di antaranya sebagai ketua rombongan.” [HR Bukhari]

Pentingnya pemimpin perjalanan adalah agar selama safar ada satu orang yang bertanggung jawab mengarahkan, memfasilitasi musyawarah, atau mengambil keputusan. Jika terjadi situasi genting atau mendesak, maka pemimpinlah yang memutuskan rombongan harus berbuat apa. 

  • Boleh Salat jama’

Anak-anak yang sehari-hari salat secara normal di masjid perumahan akan merasakan pengalaman salat dengan cara tidak biasa, yaitu salat jama’.

Salat jama’ adalah menggabungkan dua salat wajib dalam satu waktu salat. Misalnya zuhur dan asar dalam satu waktu, yaitu di waktu zuhur atau asarnya, dan maghrib dan isya dalam sekali waktu pada waktu maghrib atau isya. Salat subuh pada waktunya dan tidak dapat menjamak dengan salat sebelumnya atau sesudahnya.

Boleh menjama’ salat wajib ketika kita dalam perjalanan safar untuk memberi kemudahan dan kelancaran perjalanan. Menjama’ salat boleh secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas ra beliau mengatakan:

“Rasulullah SAW menjamak salat Zuhur dan salat Asar, dan menjamak salat Magrib dan Isya, di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim).

Salat Jama’ ini hanya boleh dilakukan saat perjalanan dirasa berat untuk mencari pemberhentian dan tempat yang layak untuk salat. Jika perjalanan sangat ringan dan dimungkinkan banyak tempat berhenti untuk salat dengan layak, maka tidak perlu menjama’.

  • Meng-qashar Salat

Qashar artinya meringkas jumlah rakaat salat, yaitu salat yang jumlah rakaatnya empat diringkas menjadi dua rakaat. Jadi, salat yang bisa diqashar adalah salat zuhur, ashar, dan isya’. 

Meringkas jumlah rakaat salat atau qashar ini bukan hanya dibolehkan, tetapi dianjurkan ketika safar. 

Ibnu Umar ra  menceritakan: “Aku biasa menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau tidak pernah menambah salat lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, radhiallahu’anhum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengqashar salat ketika safar hukumnya sunnah muakkadah, meskipun tetap sah jika tidak mengqasharnya (tetap dilakukan dengan empat rakaat). Jika seorang musafir bermakmum pada imam yang salatnya tidak qashar, maka makmum tidak boleh mengqashar meskipun seorang musafir.

Dengan mengikutkan safar, anak akhirnya mengalami sendiri bahwa ada praktik salat yang normalnya empat rakaat menjadi dua rakaat. Ini pengalaman dan wawasan yang sangat berguna baginya. 

  • Persiapan pemberangkatan 

Safar akan menempuh jarak jauh dengan kondisi selama perjalanan yang tak selalu dapat diperkirakan. Untuk itu, segala kemungkinan harus diantisipasi sejak awal. Libatkan anak dalam persiapan sebelum pemberangkatan agar ia memiliki pengalaman mempersiapkan perjalanan jauh. 

    • Persiapan logistic

Yaitu bekal untuk penghidupan selama waktu-waktu tak memungkinkan membeli makanan. Pada ruas jalan tertentu aka nada tempat-tempat yang tak terdapat orang berjualan atau kalaupun ada tidak ada jaminan halalnya. Pada waktu tertentu misalnya di tengah malam sampai pagi juga sulit ditemukan penjual makanan sehingga mau tak mau harus ada bekal makanan siap konsumsi. 

    • Makanan

Makanan untuk perjalanan jauh berbeda dengan makanan di rumah. Jikapun sama jenisnya, cara makannya akan berbeda karena kondisi darurat. Anda tak mungkin membawa semua piring dan gelas seperti di rumah, tetapi harus mengemas makanan dalam bungkus kertas atau dus dan di makan di tempat seadanya, bukan di meja seperti biasanya ketika di rumah. Jenis menu tidak banyak berkuah. Jenis makanan ringan dipilih yang kering dan praktis. Mengandung kalori dan vitamin yang tinggi. 

    • Obat

Menyediakan obat-obatan yang selama ini sering digunakan karena penyakit tertentu. Beberapa orang menderita alergi sehingga setiap terkena debu, hawa dingin, hawa panas, atau faktor lain sehingga harus membawa obat anti alergi. Bisa jadi beberapa orang sehat-sehat saja, tetapi di saat tertentu mungkin saja sakit flu, batuk, demam, infeksi mata, maag, atau lainnya sehingga obat-obatan tetap harus disiapkan. Beberapa anak mudah mabuk perjalanan sehingga harus membawa obat anti mabuk.

    • Pakaian ganti yang cukup

Paitu sesuai dengan jenis aktivitas selama safar dan jumlah hari bepergiannya. Semakin padat aktivitas, semakin cepat pakaian kotor atau menuntut pergantian kostum tertentu sesuai jenis acaranya. Semakin lama bepergian, semakin banyak berganti pakaian.

    • Alat Komunikasi

Menyiapkan alat komunikasi dalam keadaan siap pakai baik alatnya maupun biaya operator penyelenggara saluran komunikasinya. Komunikasi ini sangat penting selama safar karena dalam keadaan tertentu ada kabar yang harus disampaikan kepada keluarga atau siapapun yang harus dihubungi. 

    • Uang

Jangan lupa uang atau bentuk lain dari uang untuk jual beli, misalnya kartu yang dapat digunakan  untuk menarik uang atau uang elektronik yang dapat digunakan untuk jual beli di tempat yang dapat melayani secara elektronik. Namun bagaimanapun, uang tunai tetap perlu karena beberapa toko atau warung di pinggir jalan hanya akan bersedia jual beli dengan uang tunai. 

    • Peralatan kebersihan secukupnya

Yaitu alat-alat dan bahan untuk mandi, keramas jika memungkinkan, dan menggosok gigi. Jadi, anda tetap membawa sabun, sampo, dan sikat gigi sebagai ikhtiar melanjutkan kebiasaan hidup bersih meskipun dalam perjalanan. 

    • Alat ibadah

Yaitu alat-alat untuk salat dan mushaf untuk membaca Al-Qur’an. Tunjukkan teladan anda kepada anak bahwa sesulit apapun perjalanan, ibadah tetap akan dilakukan, bahkan memungkinkan lebih khusyu’ daripada biasanya.

    • Mengemas semua alat dan keperluan dengan kemasan yang rapi, praktis dan aman

Jangan biasakan bepergian dengan barang-barang yang terkemas dalam bentuk bungkusan kecil-kecil tetapi banyak. Yang praktis adalah satu atau dua bungkus besar dan agak kecil, agar tidak membingungkan. Barang yang akan diperlukan sewaktu-waktu dikumpulkan dalam tas kecil yang selalu dibawa, sementara benda lainnya di koper atau tas besar yang tidak dibuka sebelum sampai tujuan.

    • Menyiapkan kondisi kendaraan

Jika safar menggunakan kendaraan pribadi, maka kendaraan harus dalam kondisi siap jalan. Sebaiknya servis kendaraan dua atau tiga hari sebelum berangkat, untuk memeriksa bagian-bagian yang berkemungkinan rusak.      

  • Salat dua rakaat sebelum berangkat dan dua rakaat sepulangnya 

Melakukan salat dua raka’at ketika hendak pergi safar adalah sunnah. Begitu pula sepulangnya dari perjalanan. Ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,

“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah” [HR Al Bazzar]

    • Mulai berangkat dengan membaca doa 

Mulailah pemberangkatan safar dengan doa memohon kekuatan kepada Allah, memohon perlindungan dan keselamatan selama perjalanan agar sampai tujuan. 

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda:

”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)’” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi).

Ajarkan doa ini kepada anak, lalu ajak membacanya bersama atau sendiri-sendiri sebagai rasa tawakal atau menyerahkan keputusan terbaik kepada Allah. 

    • Berpamitan 

Ketika bepergian, anda mestinya berpamitan kepada orang-orang yang anda tinggalkan, yaitu keluarga, tetangga, atau kerabat. Maksud berpamitan ini adalah pemberitahuan untuk memohon doa keselamatan dan sebagai kabar bahwa anda akan meninggalkan mereka beberapa waktu. Kelak jika terjadi sesuatu pada anda, mereka akan memaklumi.  

Jika ada hal-hal yang perlu dititipkan, titipkan kepada mereka. Jika ada pesan-pesan yang harus ditunaikan selama anda bepergian, sampaikan pesan itu. Atau ada kewajiban-kewajiban kepada mereka yang harus anda penuhi, sebaiknya penuhi dulu kewajiban itu. 

Anda harus memastikan bahwa di hari-hari yang anda tinggalkan tidak ada janji untuk bertemu dengan seseorang. Jika ada, anda harus meminta kerelaannya untuk membatalkan atau membuat jadwal ulang.

Saat bepergian, sebaiknya semua persoalan sudah terselesaikan atau titipkan kepada orang yang terpercaya. Tidak mengapa jika anda menitipkan kunci kepada petugas keamanan, tetangga terpercaya atau kepada saudara. Ini penting agar suatu saat jika peristiwa mencurigakan atau darurat di rumah, orang-orang ini tetap dapat membuka rumah untuk melakukan penyelamatan.    

    • Memperbanyak zikir dan doa selama di perjalanan

Waktu selama di perjalanan sebaiknya memperbanyak doa. Sebab, safar adalah salah satu waktu mustajab saat terkabulkannya doa. Ini seperti sabda Rasulullah SAW sebagai riwayat hadits Dari Abu Hurairah ra, 

Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Selain berdoa, selama di perjalanan sebisa mungkin banyak berzikir. Zikir membuat kita ingat kepada Allah dan menambah rasa tawakal kepada-Nya. Sebab, kita tak pernah tahu akhir dari perjalanan ini seperti apa. Jika berakhir dengan kematian (misalnya karena kecelakaan), maka setidaknnya kita meninggal dalam keadaan sedang berzikir. 

    • Safar seperlunya 

Safar sebaiknya seperlunya saja. Maksudnya, jika semua urusan penting yang menjadi tujuan safar telah selesai, maka sebaiknya segera pulang tanpa berlama-lama lagi untuk acara yang kurang penting. 

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Safar adalah sepotong azab, seseorang di antara kalian ada yang terhalang untuk makan, terhalang untuk minum atau untuk tidur. Maka jika kalian sudah menyelesaikan urusannya, maka hendaknya segera kembali pada keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

[Yazid Subakti]

Perjalanan Safar – Bagian 1

Perjalanan Safar – Bagian 1

Parenting – Safar secara bahasa artinya membuka atau menyingkap. Para Ulama mendefinisikan perjalanan safar dengan keluar dari negeri tempat bermukim menuju suatu tempat dengan jarak tempuh tertentu yang membolehkan seseorang untuk mengerjakan salat secara qashar atau jama’. Orang yang melakukan safar disebut musafir.

Bepergian jauh ini dinamai safar karena dapat menyingkap wajah dan karakter para musafir. Saat safar, sifat-sifat asli musafir yang selama ini tersembunyi akan tampak lebih jelas. 

Berapa jarak yang menyebabkan bepergian disebut safar?

Ada beragam pendapat mengenai hal ini. Sahabat Ibnu Abbas mengumpamakan bahwa safar itu jika perjalanan menempuh jarak sejauh dari Usfan ke Mekkah, Thaif ke Mekkah, atau Jeddah ke mekkah. Ada juga yang membuat ukuran jarak sejauh dari Mekkah ke Mina, yaitu sekitar 30 mil. Sebab rasulullah pernah melakukan perjalanan dan salat qashar bersama sahabat dan menyebut sahabat yang dari Mekah sebagai musafir.  Para Ulama madzhab Ahmad menganggap safar jika perjalanan melebihi jarak 16 farsakh atau 48 mil atau sekitar 80 kilometer. Ulama yang lain berpendapat jarak safar harus 83 kilometer, juga ada yang 85 kilometer. 

Beberapa ulama mengaitkan safar dengan jarak tempuh, sementara ulama lain mendasarkan pada waktu tempuh perjalanan sehari semalam atau tiga hari tiga malam. Ada juga yang menyatakan bahwa pengertian safar dikembalikan pada kebiasaan adat (urf) warga setempat itu sendiri. Jadi, kalau menurut masyarakat perjalanan tersebut memang berat, jauh  dan penting, maka hukum safar sudah berlaku. Jika menurut masyarakatnya ringan dan biasa-biasa saja berarti bukan termasuk safar.   

Safar pada asalnya merupakan aktivitas yang bersifat duniawi, tetapi dapat bernilai ibadah jika diawali dengan niat ibadah dan dilakukan berdasar ketentuan islam. Jadi, safar dapat menjadi ladang pahala jika kita melakukannya dengan sunnah-sunnah yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 

  • Tujuan safar

Manusia dalam hidupnya memiliki banyak keperluan. Perjalanan jauh akan terjadi pada siapapun, terutama orang-orang penting yang memiliki kebutuhan luas atau keahliannya dibutuhkan banyak orang. Selain karena kegiatan, safar juga berhubungan dengan jalinan keluarga atau kekerabatan, yaitu keharusan memenuhi undangan keluarga yang jaraknya jauh, bersilaturahmi, atau pulang ke kampung halaman pada saat-saat tertentu.

Pada zaman Nabi, safar sering berhubungan dengan kegiatan mencari nafkah, berdakwah menyebarkan islam, urusan politik ke Negara tetangga, atau menjelajah tempat-tempat untuk mencari peluang penghidupan di masa mendatang. Saat ini, safar dengan tujuan seperti itu masih terjadi ditambah dengan tujuan-tujuan lain yang semakin beragam.

Pada hari-hari libur panjang, orang Indonesia banyak yang melakukan perjalanan jauh dengan istilah mudik atau kembali ke kampung halaman yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat mukim.

  • Jangan sampai anak tidak pernah mengalami safar 

Jangan mengurung anak dalam tembok-tembok rumah dan pagar halaman saja. Serta jangan mengekang pandangan anak dengan hanya memberinya kesempatan melihat gedung sekolahnya dan rumah-rumah tetangga saja. Berilah ia pengalaman safar yang menakjubkan dampaknya. 

Menguatkan keyakinan akidah dengan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah secara langsung dan nyata. Orang yang melakukan safar mendapatkan peluang melihat langsung berbagai fenomena alam, berbagai tipe manusia berdasarkan suku bangsa dan budaya, berbagai peristiwa sosial yang menyenangkan maupun menyedihkan. 

Safar adalah kegiatan yang sangat padat muatan pendidikan bagi anak. Banyak pelajaran kehidupan dan hikmah didapatkan dari safar. 

    • Memberi pengalaman perjalanan di muka bumi

Pengalaman ini sangat penting untuk memahami hakikat diri sebagai makhluk yang ternyata sangat terbatas pengetahuannya. Dengan safar, kita dapat berkesempatan menyaksikan dan merasakan secara nyata pergantian waktu. Anda dapat mengalami warn langit dan suara alam semesta dari sore menuju malam, malam sampai pertengahan malam, hingga menit-menit pergantian menuju pagi yang ternyata sangat menakjubkan. Kebanyakan manusia tidak mengetahui ini karena tidur dalam rumah. Tahunya hanya dari gelap menuju terang saja. 

    • Melihat karakter sesama

Karakter asli akan muncul selama perjalanan jauh. Orang dengan tingkat kesabaran yang rendah akan tampak mudah mengeluh dan putus asa, kemudian memandang negative perjalanannya atau menyalahkan orang lain. Orang yang egois langsung terlihat dengan jelas keengganannya berbagi, berbeda dengan orang dermawan yang mudah memberi. anak dengan sifat-sifat keras kepala, pemalu, periang, pendengki, optimis, penyendiri, pemberani, penakut, peragu, dan sifat lainnya mudah ia amati pada saat perjalanan safar.

    • Melatih ketangguhan fisik dan mental

Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam membutuhkan ketahanan fisik yang prima sebab apa yang pada saat normal di rumah tidak semuanya akan terpenuhi. Jika selama ini tak pernah terlambat sarapan pagi, maka pada saat safar jam sarapan mungkin akan bergeser. Jika selama ini tidur malam di kasur bersama bantal, maka saat safar harus beristirahat dengan kondisi menyesuaikan. Dengan safar, fisik tertempa untuk merasakan suhu ekstrim, cuaca buruk, atau situasi jalan yang menegangkan yang selama di rumah tidak pernah ia rasakan.      

    • Membuka wawasan dan inspirasi untuk berpikir jauh

Safar meluaskan cakrawala berpikir, bahwa di luar yang kita hadapi sehari-hari masih ada dunia  luas yang memberi banyak peluang. Anak akan melihat bahwa di luar rumahnya ada begitu banyak perkampungan yang jauh lebih padat atau jauh lebih renggang, ada masyarakat yang jauh lebih maju atau lebih terbelakang. Di luar sekolah tempatnya belajar ternyata ada sekolah yang jauh lebih bagus dan ada pula yang jauh lebih buruk. Di tempat yang jauh, ada desa yang gersang, ada kota yang gemerlap, dan ada begitu banyak pekerjaan atau profesi yang menjanjikan. Ada banyak tempat di muka bumi ini yang diciptakan oleh Allah untuk kebaikan hidup manusia.

  • Dalam safar ada latihan kecerdasan 

Ada satu jenis kecerdasan yang Paul G. Stoltz rumuskan, yaitu Adversity Quotient. Ini adalah jenis kecerdasan menghadapi persoalan hidup. Jadi, ukuran kecerdasan ini menunjukkan seberapa mampu anak menghadapi kesulitan dan tantangan dalam hidupnya, seberapa kuat anak bertahan dalam tekanan-tekanan yang ia hadapi. 

Ilustrasi bahwa ada sekelompok orang sedang ramai-ramai melakukan pendakian gunung. Dalam rombongan itu, akan ada tiga kelompok anak sesuai kecenderungannya menghadapi tantangan pendakian.

Pertama, kelompok quitter yang mudah menyerah setelah tahu bahwa gunung itu tinggi dan mendakinya penuh perjuangan. Ia memilih berhenti di kaki gunung tanpa pernah mencoba mendaki. 

Kedua, kelompok camper yang tetap mencoba mendaki tetapi berhenti di lereng untuk beristirahat membuat kemah. Ia merasa sudah berjuang dan cukup sampai lereng saja karena takut resiko jika harus menuju puncak.   

Ketiga, kelompok climbing yang terus tidak akan menghentikan pendakian sebelum sampai ke puncak sebagai tujuan utama. Ia mengetahui risiko dan tantangan, tetapi mencoba mengatasinya sambil terus berjalan ke puncak. 

Perjalanan safar adalah latihan kecerdasan, yaitu mengenalkan anak pada tantangan-tantangan yang selama ini tidak terjadi di rumah. Atas tantangan ini, anak mendapat pengalaman mencari solusi untuk menaklukkannya. Anak harus bertahan dan tetap melanjutkan misi safarnya dalam keadaan makanan terbatas, cuaca tidak nyaman, beribadah dalam kondisi tidak normal, atau menghadapi masyarakat yang adatnya berbeda. Setidaknya, safar memberi anak pengalaman meninggalkan kebiasaan rutin dan nyaman di rumah. Bisa jadi di perjalanan akan menemukan hal baru yang lebih menyenangkan, atau sebaliknya lebih menantang.

 

[Yazid Subakti]