Setiap Anak Memiliki Potensi yang Berbeda

Setiap Anak Memiliki Potensi yang Berbeda

Parenting – Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Ana-anak yang lahir kembarpun tampak sekilas sama atau mirip, tetapi dalam beberapa hal tetap terdapat perbedaan.

  1. Tidak ada anak yang persis sama 

Allah telah menciptakan bermilyar, bahkan bertrilyun manusia di muka bumi ini dari sejak nabi Adam sampai manusia terakhir kelak menjelang sangkakala kiamat ditiupkan. Dari sebanyak itu manusia yang Dia ciptakan, tidak ada satupun yang memiliki kesamaan persis. Ana-anak yang lahir kembarpun tampak sekilas sama atau mirip, tetapi dalam beberapa hal tetap terdapat perbedaan. Setidaknya berbeda dalam sifat, kecenderungan, dan kemampuannya. 

Kenyataan bahwa setiap manusia selalu berbeda ini mengilhami kita bahwa dalam hal potensi pun anak-anak akan berbeda. Anak satu dengan lainnya mungkin saja ada yang memiliki kesamaan bakat, tetapi ukuran atau kadarnya tetap tidak persis sama. Dengan karakter yang juga berbeda sehingga jikapun bakat itu dikembangkan tetap ada kemungkinan memberikan hasil yang berbeda. Dau anak laki-laki yang sama-sama memiliki  bakat sepak bola saat dilatih bisa memiliki kecenderungan yang berbeda: satu cenderung menjadi penyerang dan satunya lagi menjadi pemain bertahan. Dua anak perempuan yang sama-sama berbakat memasak saat dilatih bisa menunjukkan kecenderungan yang tidak sama. Satu cenderung memasak olahan kue dan roti, satunya cenderung mengolah masakan sayur dan lauk. 

Pembicaraan potensi anak mengharuskan orang tua memahami bahwa penyeragaman perlakuan terhadap anak dengan alasan keadilan justru memberi peluang ketidakadilan karena memberi hak anak tidak sesuai kebutuhannya. Menuntut anak menjadi hebat seperti teman-temannya juga bisa menjerumuskan orang tua pada tindak kezaliman dan menyalahi amanah.  

Kita harus mengetahui potensi anak dan perbedaannya dengan saudaranya serta anak-anak lain. 

  1. Kecerdasan majemuk anak dan kecenderungannya

Setiap anak adalah pintar, dengan kepintarannya masing-masing. Seorang pakar pendidikan dari Universitas Harvard, Howard Gardner  membagi kecerdasan menjadi delapan jenis, yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart  (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), musik smart (kecerdasan musikal), picture smart (kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik), dan nature smart (kecerdasan naturalis).

Setiap anak bisa saja memiliki delapan jenis kecerdasan ini. Tetapi yang paling banyak adalah kecenderungan pada satu atau lebih jenis kecerdasan tersebut. 

  • Word smart (kecerdasan bahasa)

Ini adalah kepintaran yang berkaitan dengan kemampuan anak dalam mengolah, menggunakan, dan memahami bahasa, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. Kecerdasan bahasa dapat dilihat ketika anak suka membaca, cepat bisa mengeja kata dengan baik, suka menulis, kemampuan berbicara, dan kemampuan menyimak. 

  • Number smart (kecerdasan matematis)

Anak yang memiliki jenis kecerdasan ini bisa ditandai dengan ketertarikannya pada angka-angka, menyukai matematika, perhitungan, dan hal-hal yang berbau sains dan  logika. Ia suka mengukur, membandingkan, mengurutkan, dan memperkirakan suatu perhitungan dengan tepat.

  • Self smart  (kecerdasan intrapersonal)

Kecerdasan ini berhubungan dengan kemampuan anak mengelola perasaannya, mengendalikan suasana hati dan pikirannya. Anak dengan kemampuan ini cenderung lebih suka bermain sendiri, memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan bisa mengkomunikasikan perasaannya dengan baik kepada orang lain.   

  • People smart (kecerdasan interpersonal atau kecerdasan sosial)

Anak yang memiliki tipe kecerdasan ini lebih suka bermain dengan banyak orang, suka bergaul dan menambah teman. Ia memiliki  empati yang tinggi, mampu memahami perasaan orang lain, dan cenderung menonjol sehingga suka memimpin saat bermain atau menjadi peramai.

  • Music smart (kecerdasan musikal)

Kecerdasan ini paling mudah terlihat oleh orangtua dengan ciri-ciri anak suka bernyanyi, menggoyangkan badan ketika mendengar bunyi dan irama, mengingat lagu, bahkan gemar bermain alat musik. 

  • Picture smart (kecerdasan spasial)

Ini adalah kepintaran anak dalam persepsi ruang. Anak yang cerdas spasial ini biasanya terlihat dari kesukaannya menggambar, mencoret-coret kertas, mewarnai, suka berimajinasi, merancang desain.

  • Body Smart (kecerdasan kinestetik)

Body smart adalah cerdas dalam mengelola badan, gerakan, dan memainkan setiap organ tubuh untuk tujuan tertentu yang ia inginkan. Anak seperti ini biasanya sangat aktif bergerak, menyukai banyak jenis olahraga, menyentuh atau memegang berbagai benda dan mempelajarinya.

  • Nature smart (kecerdasan alam)

Ini adalah kecerdasan yang berhubungan dengan minat atau kesungguhan anak dalam mengelola alam beserta unsur dan sifatnya. Anak-anak yang memiliki kecerdasan alam sangat suka bermain di alam, memelihara binatang, merawat tumbuhan, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, dan mungkin gemar berpetualang.

  1. Saat  potensi anak di luar cita-cita orang tua

Jangan menjadi push parent, yaitu orang tua bergaya asuh otoriter yang memaksakan cita-cita kepada anak-anaknya, atau mendukung cita-cita anak hanya jika cita-cita itu sesuai dengan kehendaknya saja kemudian melakukan pengawasan yang teramat ketat agar ambisi yang terbebankan ke anak menjadi kenyataan.

Lagi-lagi orang tua harus dapat mengendalikan ambisi agar tidak menjadi pemberat langkah bagi anak yang ingin melaju dengan potensi sesungguhnya yang mereka miliki. Orang tua ambisius ini tak jarang memeras psikologi anaknya dengan tuntutan yang tinggi hingga anak akan merasa takut, panik, dan dikejar perasaan bersalah setiap kali merencanakan masa depan yang bukan pesanan orang tuanya. Anak-anak dalam tekanan ini tertekan oleh perasaan takut gagal dan takut mengecewakan orang tua tanpa tahu yang sebenarnya apakah ketakutan itu baik atau buruk.

Dampak lebih buruk dari pemaksaan cita-cita anak adalah anak menjadi stres, mudah sakit, dan berperilaku tidak wajar karena secara psikologis ia sebenarnya mengalami gangguan. Anak bisa berubah perilaku menjadi mudah marah, membangkang, sulit mengaturnya, kasar, atau menolak norma keluarga.

Ikuti cita-cita anak sesuai minat dan potensinya, kemudian bantu kembangkan dengan cara yang wajar dan berorientasi kebaikan. Orang tua mendambakan anaknya menjadi dokter, tentara, arsitek, pengacara, pengusaha, atau birokrat itu semua baik. Tetapi jangan remehkan jika anak bercita-cita menjadi ahli bahasa daerah, imam masjid, aktivis lingkungan, guru Taman kanak-kanak, atau lurah. Tidak ada yang buruk dari cita-cita ini. Bahkan peluang untuk mulia di hadapan Allah dan memberi manfaat kepada sesama bisa jadi lebih besar.     

  1. Memberi pilihan 

Tentu saja, mengikuti potensi anak tidak berarti memberi kebebasan sebebas-bebasnya bagi anak untuk bercita-cita. Orang tua memiliki informasi yang lebih lengkap tentang cita-cita atau gambaran profesi daripada dengan anak yang masih meraba-raba. 

  • Jelaskan 

Jelaskan kepada anak bahwa di dunia ini banyak sekali profesi manusia, tidak hanya yang bisa ia sebutkan saja. Jika ia dapat menyebutkan dua puluh daftar profesi impian, Anda dapat menambahkan sebanyak dua kali atau bahkan tiga kali lipatnya.  Tidak semua profesi itu ada di Indonesia dan suatu saat akan orang Indonesia minati. 

Untuk memberi gambaran mengenai berbagai profesi, anda dapat memanfaatkan situasi ketika berada di suatu tempat penting, misalnya saat di bandara. Ada puluhan profesi yang untuk menjamin bandara berjalan dengan normal; polisi, satpam bandara, pilot, pramugari, teknisi pesawat, sopir shuttle, cleaning service, teknisi kelistrikan, juru parkir pesawat, porter, pengusaha kafe, petugas loket, dan masih banyak lainnya. Itu hanya satu tempat saja, yaitu bandara. Di pelabuhan ada banyak profesi yang lain, di gelanggang olahraga, di kampus perguruan tinggi, di sekolah, di kantor pemerintahan, di kilang minyak, di restoran, di proyek jalan tol, di dalam kapal, dan tempat-tempat lain masih ada ratusan profesi lain.

  • Beri pilihan

Dengan gambaran profesi yang ada, anda tidak perlu memberikan kebebasan untuk satu di antara semuanya. Orang tua bijak seharusnya dapat menandai beberapa profesi yang sekiranya cocok dengan minat dan potensi anak serta memperkirakan akan dapat mengangkat derajat anak di masa depannya. 

Dengan menyebut beberapa profesi yang paling anda sarankan, persilakan anak untuk memilih. Anda dapat menyebutkan sepuluh profesi mulia yang dapat mengangkat derajat anak, kemudian anak memilih salah satu di antaranya.    

  1. Jangan membandingkan

Sebagian orang tua begitu gemar membandingkan anak sendiri dengan anak lain. Membanding-bandingkan anaknya sendiri dengan anak tetangga atau teman sekolahnya dalam hal kepatuhan, prestasi sekolah, kedisiplinan, kecakapan atau lainnya. Inilah kebiasaan buruk yang sampai hari ini masih terus berlangsung dan tanpa disadari membawa dampak negatif bagi anak.  

Maksud orang tua  membandingkan anaknya sebenarnya baik, yaitu agar anaknya bisa meniru atau berubah menjadi lebih baik seperti anak lain yang menjadi pembandingnya, anaknya terpacu untuk berprestasi sehebat temannya. Tetapi orang tua lupa, bahwa apa yang ia pikirkan tak pernah sama dengan pikiran anak. Tak sama dalam fase kemampuan berpikir dan tak sama dalam orientasi pikirannya.  

Perbandingan anak dengan anak lain hanya akan menghasilkan efek negatif berupa stress pada anak, perasaan rendah diri, perasaan tidak dihargai, sikap acuh, menjauh dari orang tua, persaingan yang tak sehat, dan perasaan tidak dipercaya. 

Hanya ada dua kemungkinan anak yang dibanding-bandingkan. Yaitu ia akan menyerah pasrah dan berbuat ala kadarnya karena marasa tuntutan padanya bukan dari jiwanya. Atau ia akan berbalik menjadi penentang sebagai ekspresi protes bahwa ia memiliki hak untuk berkembang menjadi dirinya.   

Orang tua baru menyadari ketika dua dampak buruk ini  sudah terlanjur terjadi dengan parahnya, lalu sibuk berkonsultasi dan mencari-cari tips tentang cara mengatasinya. Penyesalan memang tak pernah muncul di awal.

 

[Yazid Subakti]

Meluruskan Makna ‘Kesuksesan’

Meluruskan Makna ‘Kesuksesan’

Parenting – Kesuksesan itu dibuktikan dengan besarnya manfaat seseorang bagi sesamanya. Orang yang sukses menuntut ilmu adalah yang ilmunya bermanfaat bagi manusia.

  1. Sukses itu apa?

Seseorang berdiri di depan hadirin dengan penuh percaya diri, mengajak orang-orang di depannya untuk berjuang menuju puncak sukses. Orang-orang bertepuk tangan  penuh semangat. Di akhir acara, para hadirin diminta tekad dan persaksiannya; berapa penghasilan perbulan yang menjadi target tahun depan. Para hadiri menjawab sekian ratus juta, sekian milyar, rumah mewah, dan menyebut merk mobil mahal.

Apakah sukses itu menjadi orang kaya? Menjadi sosok parlente yang memiliki banyak uang, rumah mewah dan mobil mahal? Atau jabatan tertinggi sebuah perusahaan dan karir tertentu?

Mari kita berpulang pada firman Allah ini, 

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (Qs Al Anbiya : 10)

Dan juga sabda Rasulullah ini,

“Sebaik-baik Manusia adalah manusia yang memberikan manfaatnya pada orang lain” (HR Bukhari)

Sukses itu ketika kehidupan kita menjadi mulia disebabkan kesungguhannya kita menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup. Di hadapan manusia, sukses adalah menjadi sebaik-baik manusia, yaitu ketika kita kita bermanfaat bagi mereka. Sukses yang sesungguhnya itu seberapa mulia kita di hadapan Allah, dan seberapa manfaat kita di hadapan manusia.  

Jadi, manusia yang sukses adalah ia yang selalu istiqomah berada di jalan Allah SWT dan memiliki bekal yang baik untuk hidup diakhirat kelak, sementara selama di dunianya sibuk memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat. 

Kekayaan dan ketinggian karir mungkin saja bagian dari kesuksesan, selama kekayaan dan karirnya itu menambah kemuliaannya di hadapan Allah dan memperluas manfaatnya bagi sesama manusia. Kenyataanya, biasanya itu semua saling bertolak belakang. Contoh kejadiannya terlalu banyak untuk disebutkan.  

  1. Mulia di hadapan Allah 

Apa yang dapat menjadi sebab manusia mulia di hadapan Allah?

Kemuliaan manusia di hadapan Allah diukur dari ketakwaannya. Semakin bertakwa seseorang, semakin mulia menurut penilaian Allah. 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS Al Hujurat: 13)

Orang bertakwa ditandai dengan kesungguhannya untuk menjalankan apapun yang diperintahkan oleh Allah, dan juga keseriusannya menjauhi semua larangan-Nya. Menekuni profesi apapun, seseorang dikatakan sukses jika dengan profesinya itu ia makin bersungguh-sungguh menjalani perintah Allah dan makin serius menjauhi larangannya. 

Biarkan anak menjadi apapun yang ia impikan, dengan mengingatkan bahwa puncak kesuksesannya adalah  ketika apa yang ia cita—citakan itu menambah ketakwaannya.  

  1. Bermanfaat bagi sesama 

Sukses terlihat dengan besarnya manfaat seseorang bagi sesamanya. Orang yang sukses menuntut ilmu adalah mereka yang dengan ketinggian ilmunya semakin bermanfaat bagi manusia. Orang yang sukses berkarir adalah mereka yang dengan karirnya itu semakin terasa  manfaatnya oleh umat. 

Anak-anak harus tau makna kesuksesan yang seperti ini. Sebab, banyak contoh menunjukkan kebalikannya. Orang dengan ketinggian ilmu ternyata semakin menjadi sombong karena merasa dirinya lebih intelek daripada yang lain. Ia berbicara dengan bahasa penuh pencitraan, mendebat, dan memposisikan diri sebagai manusia paling berpengetahuan. Orang dengan ketinggian karir dan jabatan banyak yang semakin merasa berkuasa. Ia berbuat semena-mena, merasa berkedudukan lebih tinggi dan cenderung membentuk kelas-kelas pergaulan sesama pejabat dan pemilik karir tinggi. Begitupun orang kaya, banyak yang hanya memikirkan kemewahan hidupnya, menjauh dari orang miskin dan merasa tidak sederajat dengan masyarakat umum kebanyakan. 

Generasi muslim harus bisa memutus rantai ini dengan pelurusan makna sukses yang sesungguhnya. Jadi, siapa yang paling bermanfaat bagi sesama, dialah orang paling sukses.       

  1. Sukses hanya datang melalui perjuangan 

Kesuksesan baik untuk urusan dunia maupun akhirat, tidak datang begitu saja seperti hujan turun dari langit. Tidak ada orang berhasil dengan sendirinya. Tidak ada orang menjadi mulia dengan sekejap mata, dan tidak ada orang tiba-tiba dihormati karena memberi manfaat.   

Jangan sampai anak-anak mengira bahwa kesuksesan itu datang dengan mudah dan cepat. 

Untuk meraih sukses, manusia harus melakukan ikhtiar. Ada cita-cita yang teguh tak tergoyahkan sehingga apapun yang memalingkannya tak pernah menggoda. Ada perencanaan yang penuh kesungguhan sehingga jelas ke mana arah dan tujuan harus melangkah. Juga ada saha keras dan penuh semangat sehingga apapun yang menjadi penghalangnya tersingkirkan. Hingga pada akhirnya ada penyerahan kepada Allah secara total bahwa apapun hasil ikhtiar manusia harus kembali kepada takdir-Nya. 

Ulama dan orang shalih bersakit-sakit menuntut ilmu dan menekuni ibadah. Para pengusaha bersusah payah memperjuangkan usahanya siang malam dengan menghilangkan semua kesenangan. Para pemilik setiap profesi berpayah-payah menempuh sekolah dan akademi kemudian memulai karir dengan semua rintangannya di awal-awal. Semuanya sengsara, mengorbankan waktu dan kesenangan, untuk suatu capaian yang mereka impikan. 

Untuk kesuksesan akhirat, Allah memberi banyak ujian sesuai tingkat keimanan hamba. 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka tertimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta tergoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al Baqarah: 214)

Etika dan kewajiban menuntut ilmu 

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan bisa menjadi jalan menuju cita-citanya kelak. Saat anak menuntut ilmu, ia perlu ingat mengenai etika dan kewajibannya

Etika menuntut ilmu

  • Mengikhlaskan niat 
  • berdoa memohon ilmu yang bermanfaat 
  • merasa butuh dan haus ilmu
  • hormat dan ta’dzim kepada guru
  • Bersungguh-sungguh dalam belajar 
  • Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat 
  • Tidak sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu
  • Mendengarkan dan memahami ilmu  yang ia sampaikan
  • Menghafalkan atau mencatat pelajaran mengamalkan setelah ia pelajari

Kewajiban setelah mendapat ilmu

  • menjaga hubungan baik dengan guru 
  • mengajarkan ilmunya kepada orang lain 
  • mengamalkan ilmunya dengan ikhlas
  • tidak berhenti menuntut ilmu lebih dalam lagi 
  • menjaga ilmunya tetap berkah dan manfaat

 

[Yazid Subakti]

Memahami Cita Cita Anak

Memahami Cita Cita Anak

Parenting – Pada umumnya, anak-anak bercita-cita tanpa mengetahui dengan benar makna cita cita anak tersebut yang mereka sebutkan. Bahkan mereka tidak mengerti dengan jelas, apa itu cita-cita. Yang mereka bayangkan adalah gambaran nyata yang pernah mereka lihat mengenai sosok tertentu atau profesi tertentu. 

Dengan keadaan ini, dapat dimaklumi jika cita-cita anak mudah berubah. Anak perempuan yang masih di taman kanak-kanak mungkin bercita-cita menjadi penyanyi, pramugari, atau dokter. Karena ia pernah melihat apa yang disebutkan. Anak laki-laki sangat mungkin bercita-cita menjadi tentara, pilot, atau pembalap. Ini semua karena kekagumannya pada tokoh-tokoh yang mereka lihat sebelumnya juga. 

Semakin bertambah usia, kemampuan berpikir abstraknya semakin baik dan pengalaman melihat berbagai profesi semakin banyak. Pada saat awal masa akil baligh mungkin cita-citanya itu sudah berubah lebih masuk akal.  Ia mulai berpikir membandingkan antara kemampuan atau minat, manfaat profesi tertentu, dan peluang untuk menggapainya.   

  1. Hanya profesi tertentu yang diidamkan 

Meskipun berpengalaman melihat banyak profesi, anak-anak cenderung hanya memilih profesi tertentu untuk diidamkan. Anak perempuan banyak yang mendambakan profesi dokter, bidan, atau guru. Anak laki-laki ingin menjadi polisi atau tentara, arsitek, atau mekanik. Seolah-olah tidak ada profesi lainnya yang baik dan menjanjikan masa depan. 

Itu terjadi karena mereka merasakan jasanya, atau mengalami saat-saat mendapat pertolongan dari profesi tersebut sehingga mengakui kehebatannya. Dokterlah yang menolongnya ketika ia atau keluarganya sakit, maka ia menganggap  dokter memang hebat. Begitu juga bidan kurang lebih sama. Guru memberi ilmu setiap hari di sekolah dan darinya seluruh anggota keluarga dididik menjadi pintar. Maka guru memang orang hebat yang pernah ia lihat. Bagi anak laki-laki, tentara tampak gagah dan menjaga negeri sehingga kita semua merasa aman. Arsitek dengan jelas tampak gagah membangun rumah dan kantor yang ia saksikan sendiri, dan mekanik adalah orang yang berjasa merawat kendaraan ayahnya setiap kali membutuhkan perawatan. 

Dengan keterbatasan memandang profesi ini, orang tua harus lebih berjuang memperluas wawasan anak. masih banyak profesi lain yang harus dikenalkan tanpa harus merasakan langsung jasa mereka. Ada pengusaha, pilot, pelatih, olahragawan, psikolog, peneliti, ahli bahasa, wartawan, desainer, penulis, konsultan, dan lain-lain. 

  1. Pengaruh cita-cita pada anak

Cita-cita memberi bayangan model figure dalam benak anak yang ingin ia tiru di masa mendatang. Dengan gambaran model ini, gaya dan perjalanan kehidupannya akan dipengaruhi oleh apa yang ia inginkan untuk terwujud nyata. 

Anak yang bercita-cita menjadi dokter menemukan sosok dokter sebagai model suksesnya. Ia bisa memulai perilakunya cenderung meniru model dokter. Jika model nyata yang jadi panutan itu adalah dokter berkepribadian baik, ia pun akan terpengaruh kebaikannya. Tetapi ketika modelnya bukan tokoh yang baik,  maka yang didapat adalah  berdampak negatifnya. 

Anak laki-laki yang bercita-cita menjadi pembalap, kemudian suatu saat melihat figure pembalap idolanya berbuat maksiat, maka bisa saja ia terinspirasi untuk berbuat maksiat pula. Inilah dahsyatnya cita-cita. oleh karena itu, jika anak telah menyebut suatu cita-cita, anda dapat menelisik lebih dalam tokoh idola nyata yang ia gambarkan sebenarnya siapa. Jika tokoh tersebut ternyata kurang dapat menjadi panutan, Anda dapat mempengaruhinya dengan mengalihkan tokoh nyata yang lebih baik.

  1. Dukungan orang tua

Sementara anak menggebu dengan cita-citanya, orang tua mengarahkan mereka dengan memainkan berbagai peran. 

  • Menjadi motivator

Orang tua menjadi sumber dorongan semangat bag anak untuk terus memperjuangkan cita-cita. Seorang motivator tidak boleh kehilangan bahan bakar untuk menyemangati anaknya, tidak boleh kehilangan cara untuk meyakinkan bahwa cita cita yang sudah menjadi tekad itu akan terwujud dengan izin Allah.  Tentu saja, sebagai pemberi semangat, orang tua tidak boleh kalah semangat dibanding anak yang disemangati. 

  • Menjadi fasilitator

Fasilitator memainkan peran sebagai pemberi kebutuhan. Anak menempuh cita-cita melalui jalan yang tidak singkat dan bukan tanpa hambatan. Selama perjalanan ini, banyak kebutuhan yang harus dipenuhi oleh orang tua. Bukan hanya kebutuhan materi dan sarana bendawi, tetapi juga bekal mental menghadapi tantangannya. Orang tua mesti tampil sebagai sosok yang kuat, menularkan jiwa teguh kepada anak. 

  • Menjadi pengarah bakat 

Salah satu persoalan klasik tetapi selalu berulang adalah sulitnya membedakan antara minat dan bakat. Beberapa anak berminat atas suatu cita-cita karena kagum, sementara bakat yang sesungguhnya kurang memungknkan meraihnya. Contohnya, seorang anak berminat  menjadi seorang atlet, mengharuskan ia juga bakat dalam olahraga (memiliki kecerdasan fisik yang baik). 

Orang tualah yang menjelaskan ini semua. Cita-cita yang paling masuk akal adalah yang berangkat dari minat dan sekaligus berbakat. Oleh karenanya, anak perlu dikondisikan untuk mengetahui bakatnya, bukan hanya minat atau keinginannya.     

  • Menjadi pengendali 

Bagaimanapun pikiran anak tidak akan sama seperti pikiran orang dewasa. Anak-anak berpikir tanpa banyak pertimbangan sehingga dalam perjalanan cita-cita mungkin saja berubah, tiba-tiba mengaku tak memiliki cita-cita,  bahkan merasa bahwa cita-cita itu tidak perlu. Beberapa anak mungkin mengubah cita-cita hanya karena sesaat melihat sosok yang ia kagumi kemudian ingin menjadi seperti itu tanpa berpikir kebaikan atau keburukannya. 

Orang tua mengendalikan ketidakstabilan cara berpikir anak-anak, mengembalikan perjalanan cita-cita seperti awalnya. Jika anak memang ingin berganti cita-cita karena wawasannya yang semakin luas, itu adalah haknya. Orang tua harus memahami ini, dan kembali menjadi pengendali agar cita-cita barunya itu ia kejar dengan sungguh-sungguh.       

  • Menjadi pendamping 

Peran utama seorang pendamping adalah hadir. Maksudnya, hadir secara fisik dan terutama  hadir dalam jiwa. Kehadiran ini dapat membantu orang tua mengidentifikasi apakan cita-cita anak itu berasal dari dirinya sendiri, ikut-ikutan temannya, atau hanya untuk menyenangkan orang tua yang memang menginginkan demikian. 

Orang tua menyelami jiwa anak sehingga benar-benar mengetahui alasan anak menentukan  cita-citanya: mengapa ia bercita-cita seperti itu dan apa yang paling ia inginkan dari cita-cita itu. Orang tua perlu mengetahui bagaimana kondisi jiwa anak ketika menetapkan cita-cita dan mengejarnya dan apa saja kondisi yang menjadikan ia lemah dan kuat dalam perjalanan mengejar cita-citanya itu. 

Kehadiran dengan jiwalah yang menjadikan orang tua mengetahui mengapa suatu saat anak malas membicarakan cita-cita, ingin beralih cita-cita, bahkan membuang cita-citanya. 

  1. Dukungan yang salah 

Masih banyak orang tua yang mengawal cita-cita anaknya dengan nada memaksa dan mendorong melampaui batas kemampuan dan tujuan anak yang sebenarnya. 

Dengan ambisi tertentu, orang tua telah menetapkan cita-cita anak-anaknya satu persatu. Merasa sebagai orang tua yang telah berjasa menghidupi dan membiayai sekolah, orang tua merasa berhak menguasai kehidupan anak dan mengatur target masa depannya. 

Inilah bentuk dukungan yang salah.  Ketika anak semakin luas bergaul dan banyak pengetahuan, ia mulai sadar bahwa cita-citanya yang telah orang tuanya tetapkan itu di luar kemampuannya, di luar bakat atau di luar tujuan hidup yang ia bayangkan. Hanya ada dua kemungkinan besar hasilnya, ia tetap patuh sampai dewasa dalam ketergantungan, atau ia memberontak dan akhirnya meregang hubungan dengan keluarga.

 

[Yazid Subakti]

Cita-cita Bersama: Masuk Surga Sekeluarga

Cita-cita Bersama: Masuk Surga Sekeluarga

Parenting – Sebelum membicarakan cita-cita, setiap keluarga mesti memiliki visi besar yang hendak diraih bersama, yaitu masuk surga bersama-sama.

  1. Merancang visi dan cita-cita bersama sekeluarga

Sebelum membicarakan cita-cita, setiap keluarga mesti memiliki visi besar yang hendak meraihnya bersama. Ini bukan sekedar apa yang ingin tercapai bersama dalam keluarga dan waktu sekian tahun ke depan. Ini tentang masa depan keluarga jangka sangat panjang yang keluarga non muslim tak pernah pikirkan, yaitu kesejahteraan di kampung akhirat

Jadi, visi keluarga muslim adalah kebaikan apa yang akan kita capai di dunia dengan kebaikan-kebaikan, demi kebaikan akhirat nanti sebagai puncak tujuan utama. 

  • Keluarga qurrata a’yun 

Ada satu di dalam Al-Qur’an yang berisi permohonan sangat visioner kepada Allah SWT. Doa itu memohon agar kita mendapat karunia pasangan dan anak-anak yang qurrata a’yun. Doa ini ada dalam Surat Al-Furqan ayat 74 

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al Furqan: 74)

Qurrata a’yun adalah pasangan dan anak-anak yang menyejukkan pandangan mata, dengan keshalihan diri dan kesiapannya menjadi pemimpin  masyarakat bertaqwa. Ini adalah visi menjadikan keluarga harmonis yang siap menjadi pemimpin umat. ANak-anak keturunan keluarga muslim harus bersiap menjadi pemimpin dunia.  

  • Keluarga surga 

Semua keluarga muslim mestinya memiliki orientasi untuk menuju surga bersama, semua anggotanya. Maka ayah adalah pemimpin proyek surga, ibu mengatur dan anak-anak menjadi pendukung yang semua saling menguatkan. 

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka  dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS Ath Thur : 21)

Jadi, sekeluarga tidak ada yang salih sendiri, merasa paling suci atau paling dekat dengan Allah sambil membiarkan lainnya berada dalam kelalaian. Seluruh keluarga berada dalam keimanan yang lurus dan ibadah yang tiada pernah terputus. 

  • Keluarga yang terbebas dari siksa neraka 

Mengimbangi ikhtiar menuju keluarga surge, sisi lainnya adalah menjauhi apapun yang menjerumuskan keluarga ke neraka. 

Firman Allah dalam Surat At-Tahrim ayat 6, 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6)

Selain itu, keluarga harus memiliki tekad yang sama untuk menghindari  kemungkaran, meninggalkan apa yang haram, dan apapun yang mendekatkan manusia ke neraka.  

  1. Visi harus disampaikan kepada anak

Visi keluarga seharusnya telah ada sejak awal pernikahan. Pada masa-masa sepasang suami isteri berbulan madu, salah satu agenda paling pentingnya adalah merumuskan visi bersama. Visi isteri bersatu dengan visi suami menjadi visi keluarga. 

Maka ketika anak-anak lahir, mereka harus mengetahui isi visi ini. Sejak anak mulai mengenal logika berpikir, mengetahui mana yang benar dan mana yang salah (usia mumayyiz), Anda harus mengenalkan visi ini dengan bahasa paling mudah yang bisa mereka pahami.

Sampaikan terus menerus seiring perkembangan usia dan kemampuannya, kemudian jelaskan bahwa berdasarkan pertimbangan  visi inilah orang tua memilih nama anak, memilih sekolah,  memilih pergaulan, dan menetapkan cita-cita. 

Jadi, arah perjalanan keluarga harus berdasarkan oleh visi, agar tidak tersesat menuju kehancuran.

 

[Yazid Subakti]

Berpisah Tempat Tidur

Berpisah Tempat Tidur

Parenting – Ketika anak mulai memasuki usia 7 tahun lebih, orang tua dan anak sudah harus berpisah tempat tidur. Di usia ini anak sudah bersiap memasuki masa akil baligh.

  1. Mengapa anak harus tidur terpisah?

Anak-anak terus tumbuh. Dari masa awal kanak-kanak, ia beranjak memasuki pubertas atau masa akil baligh dengan sifat dan kebutuhan yang berubah. 

Ketika anak mulai memasuki usia 7 tahun lebih, tempat tidurnya sudah harus saling terpisah. di usia ini anak sudah bersiap memasuki masa akil baligh (sebagian anak bahkan mungkin sudah memasukinya) sehingga hasrat seksual sudah mulai muncul. Dalam keadaan yang bagiannya belum memungkinkan untuk dilampiaskan dengan cara berjodoh (menikah) dan pikiran yang masih belum dewasa, maka cara apapun bisa ia lakukan. Mungkin ia melakukan masturbasi (melampiaskan kenikmatan seksual dengan gerakan tangannya pada kemaluan), menonton gambar dan tayangan yang merangsang, atau bahkan menjadikan saudaranya sendiri sebagai sasaran.   

Jadi, pemisahan tempat tidur merupakan salah satu bagian dari pendidikan seks anak. Dengan cara ini, anak memahami batas interaksi dengan lawan jenis. Pemisahan tempat tidur juga memberikan ruang privasi kepada anak yang semakin bertambah usia akan semakin memiliki urusan yang khas hanya untuk dirinya. 

Lebih khusus lagi, anak dipisah tempat tidurnya untuk memberikan beberapa pelajaran penting sebagai bagian dari persiapan masa dewasanya. 

  1. Rasulullah SAW memerintahkan demikian 

Rasulullah  Muhammad saw mengajarkan umatnya untuk memisahkan tempat tidur anak-anak bahkan sejak usia 7 tahun, yaitu bersamaan dengan mulai disampaikannya ajaran salat. 

Beliau saw bersabda, “Perintahkanlah anak-anaku untuk salat ketika mereka umur tujuh tahun, dan pukullah jika mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)

Mengenai usia pemisahan ini, sebagian ahli fiqih ada yang berpendapat lebih longgar yaitu mulai umur sepuluh tahun yaitu ketika ajaran salat yang disampaikan sudah berdampak sanksi (dipukul) bila dilalaikan. Artinya, pada masa ini anak sudah mulai dididik secara lebih ketat untuk membentuk kedisiplinannya. Pada usia sepuluh tahun, anak sudah mulai tertarik pada lawan jenis dan imajinasi seksualnya sudah mendekati apa yang dibayangkan orang dewasa. 

  1. beberapa hikmah pemisahan tempat tidur anak 

  • Menyadari perbedaan jenis kelamin

Saat masih kecil, anak belum terlalu merasa penting dengan jenis kelaminnya sehingga dalam banyak hal mereka akan berbaur antara laki-laki dan perempuan. Mereka bermain bersama, berkelompok, belajar, bahkan tidur pun berbaur meskipun dengan anggota keluarga. 

Pemisahan tempat tidur bermanfaat untuk mengajarkan kepada anak tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan dan mengetahui batasan-batasan dalam berinteraksi yang kelak akan semakin tegas.

  • Mengenalkan privasi 

Anak-anak secara semakin bertambah usia akan semakin meningkat privasinya. Ketika mereka sudah menyadari perbedaan antara laki-laki dan perempuan serta batasan-batasan pergaulan diantara keduanya, maka privasi menjadi semakin dibutuhkan. Membuka aurat, bersolek, berganti pakaian, bahkan kepemilikan benda-benda pribadi menjadi penting untuk dilindungi dari pandangan atau penglihatan orang lain. 

Anak remaja atau masa awal akil baligh akan memulai fase ini dengan keinginan kuat memiliki kamar sendiri yang semua kebutuhannya ada di dalam. Namun demikian, seberapapun pribadinya kamar anak, orang tua tetap harus memiliki cara untuk dapat masuk dan mengetahui apa saja yang ada di dalamnya. 

  • Meningkatkan kemandirian 

Tidur di kasur terpisah dari saudara dan orang tua membuat anak harus mengambil keputusan sendiri ketika ada yang ia butuhkan  tengah tidurnya. Ia menjadi berlatih untuk berani dari bayangan-bayangan yang selama ini membuatnya takut di malam hari sampai pagi, merapikan kasur dan sprei beserta bantal dan guling nya sendiri, hingga mengkondisikan lampu dan kerapian ruangannya sendiri.   

  • Bagian dari pendidikan seks

Bagaimanapun, syahwat seksual anak di masa awal remaja harus diantisipasi oleh orang tua. Anda mestinya peka kapan anak laki-laki mulai bermimpi basah meskipun belum tentu mengakui, dan kapan anak perempuan mulai pertama kali menstruasi meskipun masih mau-malu dan belum lancar.

Pada masa-masa ini, ia sebenarnya sudah matang secara seksual. Artinya, hubungan seksual sudah dapat menghasilkan kehamilan. Anak laki-laki sudah dapat menjadi penyebab kehamilan wanita, dan anak wanita sudah dapat hamil oleh laki-laki. 

Yang kita khawatirkan bukan sekedar kehamilannya, tetapi pelampiasan syahwatnya. Di masa awal akil baligh syahwat laki-laki maupun perempuan bergejolak dengan peningkatan yang tidak menentu, ditambah keadaan mental yang belum stabil pula. Mereka belum waspada atas risiko perbuatannya, sehingga hasrat apapun yang menggoda terlalu mudah diikuti. 

Yang kita cegah dengan cara tidur terpisah adalah peluang incest, yaitu terjadi hubungan sedarah di rumah. 

  • Apakah anak sesama jenis kelamin aman tidur sekamar? 

Sesama jenis kelamin tetap tidak aman satu kamar tidur kakak beradik. Banyak berita dua anak laki-laki kakak beradik terlibat perbuatan zina sejenis (gay), begitu juga kasus anak perempuan kakak adik saling menyalurkan hasrat syahwat sesama perempuan (lesbian).  Kita berlindung kepada Allah agar dijauhkan dari perbuatan yang dilaknat ini.   

Jika Pun terpaksa kakak beradik sesama jenis kelamin bersatu dalam kamar, maka ranjangnya terpisah untuk mencegah mereka tidur berdua dalam satu selimut. 

  1. Dukungan orang tua agar anak tidur terpisah

Lagi-lagi orang tua akan menjadi pemain utama dalam kebijakan memisahkan tempat tidur anak ini dengan beberapa hal yang harus disiapkan. 

Pertama, jangan memberlakukan dengan tiba-tiba. Jangan menjadi orang tua yang membaca buku, mendengar ceramah atau menghadiri seminar mengenai pentingnya pemisahan tempat tidur anak kemudian malamnya langsung mengubah formasi kamar dan memberlakukan aturan baru bagi anak. Anak akan terheran, terguncang, dan menganggap Anda tiba-tiba berubah menjadi aneh.

Sampaikan  secara bertahap dengan lebih dulu menjelaskan, bahwa buah hati sudah mulai beranjak besar. Sebagai penyesuaian atas persiapan dewasanya, ia akan semakin mandiri dan memiliki kebebasan dengan tidur di kamar terpisah. 

Kedua, berikan fasilitas atau kondisi kamar yang memang mendukung bagi anak untuk menyukainya. Kamar tidak harus mewah dan lengkap, tetapi anak merasa nyaman dan terlindung di dalamnya. Kelak yang paling ia perlukan adalah kamar yang bisa tertutup dan terselamatkan kebutuhan pribadi atau privasinya.

Ketiga, tidak langsung meninggalkannya sendirian. Berpisah tidur dengan cara ekstrim dapat menimbulkan prasangka negatif anak bahwa orang tuanya menjauh atau tidak lagi mencintainya.  Anda dapat membersamai anak untuk menempati ruangan atau kamar pribadinya dalam beberapa hari sampai anak siap untuk tinggal sendiri. 

Keempat, tetap miliki kunci cadangan atau apapun yang menjamin bahwa orang  tua selalu bisa memasuki kamar anak kapanpun. Bahaya kamar pribadi yang tertutup dan terkunci adalah adanya peluang perbuatan mencurigakan anak di dalamnya atau anak menyimpan benda-benda yang membahayakan. Obat-obatan terlarang, benda tajam, rokok, rekaman video dan gambar kemaksiatan memungkinkan ada di kamar anak yang tak terakses oleh orang tuanya. 

Keempat, berlakukan aturan mengenai kamar barunya. Kamar baru tidak bermakna penguasaan tanpa batas bagi anak, tetapi sarana untuk melatih tanggung jawab. Anda dapat bersepakat membuat aturan mengenai penggunaan alat-alat listrik di dalamnya, jadwal pembersihan dan perapihan, kriteria teman yang boleh masuk dan waktunya, dan lain-lain sesuai kebutuhan. 

       5. Beberapa adab bertamu dan menerima tamu

Bertamu itu hukumnya boleh atau mubah. Jika bertamu itu sebagai silaturahmi, maka hukumnya adalah sunnah. Rasulullah SAW dan para sahabat sering bertamu untuk mempererat  persaudaraan.

  1. Adab bertamu 

  • Memilih waktu yang tepat (jangan sampai mengganggu tuan rumah atau bertamu saat tuan rumah tidak ada di rumah)
  • Niat silaturahmi untuk mempererat persaudaraan dan memperlancar urusan 
  • Memberitahu tujuan kedatangannya kepada tuan rumah 
  • Mengenakan pakaian yang bersih dan sopan
  • Mengucap salam dan Meminta izin masuk 
  • Bercakap-cakap  dengan nada bicara dan kata-kata yang wajar
  • Membatasi lamanya waktu berkunjung (tidak terlalu lama kecuali tuan rumah menghendaki demikian)
  • Menghadapi tuan rumah dengan wajah ceria dan ramah 
  • Saling memberi kabar, kemudian berwasiat atau menyampaikan pesan kebaikan. Menyantap jamuan  dengan cara yang wajar setelah tuan rumah persilahkan
  1. Adab menerima tamu 

  • Menjawab salam dan mempersilahkan masuk 
  • Menerima tamu dengan wajah ceria dan senyum
  • Saling memberi kabar dan berpesan kebaikan 
  • Memakai pakaian yang rapi dan sopan 
  • Menghidangkan suguhan makanan atau minuman kepada tamu 
  • Menghindarkan diri dari munculnya fitnah tetangga
  • Tuan rumah perempuan yang sendirian tidak menerima tamu laki-laki

 

[Yazid Subakti]

Menutup Aurat – Bagian 3

Menutup Aurat – Bagian 3

Parenitng – Hikmah menutup aurat yang perlu Ayah Bunda ajarkan kepada anak sejak dini. Sehingga anak bisa ikhlas dan terbiasa dengan menutup aurat.

Hikmah Menutup Aurat

Aurat adalah bagian tubuh yang kalau ditampakkan dapat menimbulkan sahwat bagi yang melihatnya. Menutup aurat berarti menjaga diri sendiri dari keinginan untuk dilihat dan menjaga orang lain dari keinginan untuk melihat agar hati tetap terjaga dari nafsu syahwat. Jadi, selain menghargai diri sendiri, menutup aurat adalah menghormati orang lain agar kesucian pandangan mereka terjaga dari kemaksiatan dan murka Allah.   

  • Menghindari pandangan buruk 

Pakaian  mempengaruhi kepribadian manusia. Seorang wanita yang membuka serta mengumbar auratnya secara terang-terangan bisa jadi ia memang menginginkan auratnya dilihat. Artinya, ia harus menerima resiko dituduh sebagai wanita yang siap dipandang dengan syahwat. Semakin berani bagian auratnya dibuka, semakin berisiko mendapat tuduhan sebagai wanita yang tidak menjaga harga dirinya.  

  • Menghindarkan diri dari dosa 

mengumbar aurat itu dosa, sebab menutupnya adalah perintah Allah yang hukumnya wajib. Salah satu penyebab neraka lebih banyak dihuni oleh kaum wanita adalah karena selama hidupnya mereka menampakkan aurat di hadapan orang-orang yang bukan mahramnya. Dengan menutup aurat, seseorang berarti telah menaati perintah Allah sehingga terhindar dari dosa. 

  • Melindungi tubuh 

Tubuh yang tertutup oleh kain pakaian lebih aman daripada dibiarkan terbuka. Yaitu aman dari angin dan cuaca dingin atau panas, aman dari gigitan serangga, aman dari sengatan matahari, dan aman dari hembusan debu. Dengan menutup menutup aurat berarti semakin banyak bagian tubuh yang terlindungi. Jadi, menutup aurat mengandung hikmah perawatan kulit agar tetap lembab secara alami. 

  • Mengurangi gangguan kesehatan

Banyak jenis penyakit menyebar melalui udara, karena oleh udara yang buruk di sekeliling kehidupan kita. Dengan  pakaian yang melindungi tubuh, dan berbagai penyakit seperti flu atau masuk angin dapat terhindari. 

Pada saat tubuh sedang sakit dalam masa pemulihan sakit, melindungi tubuh dengan pakaian tertutup juga baik untuk menjaga suhu ekstrem yang dapat memperparah penyakit. 

  • Menghindarkan resiko kejahatan

Terutama bagi wanita, bagian tubuh yang tertutupi oleh pakaian sebagian besar adalah bagian yang mengundang syahwat laki-laki. Membiarkannya dalam keadaan terbuka dapat mengundang laki-laki yang tak bertanggung jawab untuk berbuat kejahatan seksual dan bentuk kriminal lainnya. Dengan menutup aurat, risiko itu berkurang karena laki-laki tidak langsung terpancing syahwatnya. 

  • Menutupi aib 

Pada bagian tubuh yang harus tertutup, kadang terdapat aib atau sesuatu yang menjadi rahasia dari pandangan orang lain karena jika sampai terlihat akan memunculkan celaan atau hinaan.  Misalnya ada bentuk kulit tidak normal atau mengalami cedera, belang-belang bekas luka, terkena jamur kulit dan sebagainya akan tertutupi dengan ketika pakaian yang dikenakan memenuhi standar penutup aurat. 

Membiasakan anak sejak dini

Anak-anak harus menutup aurat sejak dini, agar menjadi kebiasaan sampai masa dewasanya nanti. Dengan kebiasaannya ini, anak tidak mudah terpengaruh jika suatu saat bergaul dengan teman-temannya yang belum tentu semuanya menutup aurat. 

  • Anak perempuan mulai berjilbab sejak usia balita

Di usia ini, anak perempuan belum wajib menutup auratnya, tetapi pengenalan praktik syariat mulai pada saat ini. Karena baru tahap pengenalan, maka orang tua tidak perlu memaksa jika pada saat-saat tertentu anak menolak mengenakannya. 

Pada usia di atas 7 tahun hingga menjelang akil balligh, penggunaan jilbab bukan lagi pengenalan, tetapi sudah pada tahap pembiasaan. Artinya, dalam keadaan ia tidak menyukai atau ingin menolaknya, orang tua tidak serta merta menurutinya. Orang tua harus memberikan dorongan dan mencari cara agar ia tetap mengenakan jilbabnya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, sekalipun ia ingin melepasnya karena suatu alasan. 

Untuk memudahkan pengenalan dan pembiasaan ini, anak sebaiknya sejak sejak usia ini sudah harus berada dalam lingkungan anak-anak berjilbab. Misalnya dengan mengirimkannya di sekolah islami yang semua teman perempuan dan gurunya berjilbab. 

  • Menaruh simpati kepada penutup aurat 

Orang tua mesti menaruh simpati terhadap orang –orang yang menutup aurat dan menampakkan simpatinya ini di hadapan anak. anda dapat mengungkapkan rasa takjub atau memuji seorang saudara yang berjilbab, teman, atau tetangga yang jilbabnya rapi dengan mengatakan mereka itu anak salihah atau anak yang Allah sayang.

Pujian atau ungkapan rasa takjub di hadapan anak ini setidaknya membuat anak berpikir bahwa jika ia ingin menjadi pribadi salihah dan disayang Allah, setidaknya harus menutup aurat dengan jilbab yang rapi. 

Begitu pula kepada anak laki-laki. Anda dapat menampakkan rasa simpati dan takjub kepada anak-anak yang pakaiannya menutup aurat, rapi dan sopan. Anda dapat mengatakannya anak yang salih dan taat kepada Allah. Sebab menutup aurat bukanlah keinginan orang tua, melainkan semata mematuhi perintah Allah. 

  1. Tunjukkan contoh seorang tokoh muslim  yang sukses dan mereka tetap istiqomah menutup aurat. Anda dapat mengambil contoh beberapa anak muda yang ia idolakan dan mereka tetap berpakaian sopan.
  2. Pilihkan pakaian syar’i yang nyaman dan model atau bentuk dan warnanya anak sukai. banyak anak menolak menutup auratnya dengan alasan tidak menyukai pakaiannya, yaitu bahannya tidak nyaman atau bentuk modelnya tidak ia sukai.  
  3. Melatih apapun kepada anak secara bertahap, termasuk melatih kebiasaan menutup  aurat. Pada tahap awal, sampaikan bahwa menutup aurat merupakan perintah Allah. Mematuhi semua yang merupakan perintah Allah agar mendapatkan kasih sayang dari-Nya.

 

[Yazid Subakti]

Menutup Aurat – Bagian 2

Menutup Aurat – Bagian 2

Parenting – Secara bahasa, aurat artinya bagian yang ditutupi manusia karena jika ditampakkan dapat menimbulkan rasa malu. Sedangkan secara istilah, aurat  adalah bagian tubuh yang diwajibkan Allah untuk ditutupi. Jadi, menutup aurat bukan lagi mempeprtimbangkan pemlik aurat malu atau bukan malu ketika terbuka, melainkan karena taat kepada perintah Allah.

  • Memilihkan pakaian syar’i untuk anak 

Banyak anak muslim tidak berpakaian syar’I karena orang tuanya tidak membelikannya pakaian syar’i. Alasan yang paling banyak mengapa orang tua membelikan pakaian tidak syar’I adalah karena selera orang tuanya sendiri memang belum sampai pada selera yang memenuhi aturan syar’i. Banyak orang tua memaksakan selera pribadi ketika memilihkan pakaian untuk anaknya, dengan bersandar pada keumuman mode atau trend yang berkembang saat itu. 

Orang tua mestinya paham bahwa memilih jenis dan ragam pakaian adalah bagian dari pendidikan anak. Jikapun anak yang meminta sendiri jenis pakaian tertentu yang tidak syar’I, orang tua seharusnya bisa menjadi pengendali: memahamkan kepada anak fungsi pakaian yang sebenarnya, yaitu menutup aurat. 

Bukankah uang untuk membeli pakaian berasal dari orang tua? Anak tetap boleh memilih pakaian kesukaannya, tetapi orang tua tetap dapat memberlakukan syarat, yaitu menutup aurat. 

  • Syarat pakaian syar’i

Menutupi seluruh tubuh kecuali yang diperbolehkan untuk tampak. Allah SWT berfirman: Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang  nampak dari padanya.” (terj. An Nuur: 31)

Bukan sekedar perhiasan atau mode untuk dipamerkan. Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga golongan yang kamu tidak perlu tanyakan tentang mereka –yakni mereka orang-orang yang akan binasa-: (Pertama) orang yang berlepas diri dari jamaah (kaum muslimin), mendurhakai pemimpin dan meninggal dalam keadaan durhaka; (Kedua) budak wanita atau laki-laki yang lari dari tuannya lalu ia meninggal; dan (Ketiga) seorang istri yang ditinggal pergi suami, padahal sudah diberikan kecukupan ekonomi, lalu ia keluar dari rumahnya bertabarruj, kamu tidak perlu bertanya tentang mereka (HR. Hakim dan Ahmad)

Tidak terlalu tipis atau transparan, dan tidak menampakkan lekuk tubuh. Rasulullah SAW telah mengingatkan laknat Allah kepada orang yang berpakaian tipis membentuk tubuhnya. “Akan ada di akhir umatku kaum wanita yang berpakaian namun telanjang, di atas kepala mereka ada seperti punuk unta, laknatlah mereka, karena mereka wanita yang dilaknat.” (HR. Thabrani).

Maksudnya adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tipis yang mensifati tubuhnya dan tidak menutupi, merekalah yang disebut berpakaian namun sebenarnya telanjang.

Dalam hadits lain Usamah bin Zaid ra berkata: “Rasulullah SAW memberikan kepadaku pakaian Mesir yang tebal hadiah dari Dihyah Al Kalbiy, lalu aku pakaikan untuk istriku, maka Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak memakai baju Mesir?” Aku menjawab, “Aku sudah pakaikan kepada istriku”, Beliau pun bersabda, “Suruhlah istrimu memakai ghilalah (pakaian dalam/tambahan di balik baju agar tidak membentuk tubuh) di baliknya, karena saya khawatir pakaian tersebut membentuk tulangnya (tubuhnya).” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Tidak memakai wewangian yang dapat mengundang syahwat. Wewangian adalah salah satu penarik perhatian laki-laki terhadap perempuan yang dengannya memungkinkan timbulnya syahwat. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja wanita yang memakai wewangian, lalu keluar ke suatu kaum agar mereka mencium wanginya, maka dia adalah pezina.” (HR. Nasa’i, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Wewangian boleh jika hanya untuk kalangan keluarga sendiri atau pada saat beribadah dan memilih jenis aroma yang tidak mengundang nafsu. 

Tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Laki-laki tidak boleh memakai pakaian menyerupai wanita, dan wanita juga tidak boleh mengenakan pakaian menyerupai laki-laki. Abu Hurairah ra meriwayatkan, bahwa  “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian lelaki.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim). Termasuk dalam hal ini adalah wanita yang mengenakan celana kaum lelaki, dan laki-laki yang mengenakan baju bermotif layaknya motif baju perempuan. 

Tidak menyerupai pakaian khas orang kafir. Menyerupai orang kafir atau tasyabbuh bil kuffat, yaitu berbuat atau bersikap sesuatu (termasuk berpakaian) dengan meniru kebiasaan orang kafir. Mengenakkan pakaian khas orang kafir (misalnya perempuan mengenakan gaun ala biarawati) atau laki-laki mengenakan pakaian biksu adalah tasyabbuh  bil kuffar. Sebab kedua jenis pakaian tersebut bercirikan agama lain. 

Tidak bermaksud untuk bersombong diri dan menjadikan pemakainya merasa lebih utama dari yang lain.  

Rasulullah SAW telah mengingatkan, “Barang siapa memakai pakaian ketenaran di dunia, niscaya Allah akan memakaikan pakaian kerendahan pada hari kiamat, kemudian akan dinyalakan api di dalamnya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). 

Pakaian ketenaran adalah pakaian untuk membanggakan atau menyombongkan diri di hadapan orang lain. Yaitu pakaian yang mencolok karena berbeda dengan yang biasa orang pakai di kalangannya.

Tidak mubazir bahannya untuk tujuan menyombongkan diri. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melabuhkan kainnya (isbal) dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”, lalu Ummu Salamah berkata, “Bagaimana dengan wanita yang panjang ujung kainnya?”, Beliau menjawab, “Cukup ia melebihkan kainnya sejengkal’. Maka Ummu Salamah berkata, “Kalau begitu akan nampak kakinya”, Beliau menjawab, “Kalau begitu sehasta, dan tidak boleh lebih.” (HR. Tirmidzi)

 

[Yazid Subakti]

Menutup Aurat – Bagian 1

Menutup Aurat – Bagian 1

Parenting – Secara bahasa, aurat artinya bagian yang ditutupi manusia karena jika ditampakkan dapat menimbulkan rasa malu. Sedangkan secara istilah, aurat  adalah bagian tubuh yang diwajibkan Allah untuk ditutupi. Jadi, menutup aurat bukan lagi mempeprtimbangkan pemlik aurat malu atau bukan malu ketika terbuka, melainkan karena taat kepada perintah Allah. 

Dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman,

“Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Qs. Al A’raaf: 31)

Ayat ini turun berkaitan dengan kebiasaan kaum jahiliyah yang bertawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. Mereka beranggapan bahwa pakaian yang biasa mereka pakai biasa digunakan untuk maksiat sehingga saat menghadap baitullah mereka tanggalkan.  Maka turunlah ayat Allah yang memerintahkan agar manusia menutup aurat.

  • Harus ditutup, kecuali bagi beberapa orang yang diperbolehkan melihat 

Aurat tidak boleh ditampakkan ke hadapan orang-orang secara umum karena dapat menimbulkan dampak buruk. Namun untuk orang-orang tertentu aurat bukan bagian yang harus ditutupi, yaitu kepada suami dan istri. 

Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, “Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami perbuat terhadap aurat kami?” Beliau SAW menjawab, “Jagalah (tutuplah) auratmu kecuali terhadap istrimu atau budak yang kamu miliki.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah jika antara sesama kami?” Rasulullah menjawab, “Jika engkau mampu untuk tidak memperlihatkannya, maka jangan perlihatkan.” Aku bertanya kembali, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang di antara kami sedang sendiri?” Beliau menjawab, “Allah lebih berhak untuk malu kepada-Nya daripada kepada manusia.” (Hr. Abu Dawud) 

Meskipun sesama laki-laki, aurat tetap harus ditutup. Begitu juga perempuan terhadap sesama perempuan. 

Rasulullah SAW mengingatkan,

“Laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki, wanita tidak boleh melihat aurat wanita. Laki-laki tidak boleh telanjang dengan laki-laki lainnya dalam satu selimut, dan wanita tidak boleh telanjang dengan wanita dalam satu selimut.” (Hr. Muslim)

  • Perbedaan aurat laki-laki dan perempuan

Orang tua harus menjelaskan kepada anak bahwa aurat laki-laki dan perempuan tidak sama. Perempuan lebih banyak bagian tubuhnya yang ditutup dibandingkan dengan laki-laki.  

    • Aurat Laki-Laki

Yang termasuk aurat laki-laki adalah bagian badan sepanjang antara pusar ke bawah sampai  lututnya. Ini seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya ketika seseorang bertanya tentang batas aurat laki-laki,

Antara pusar dan lutut adalah aurat.” (HR. Hakim).

Suatu ketika, Nabi SAW pernah menjumpai seorang sahabat yang pahanya terbuka. Maka beliau bersabda, “Tutuplah pahamu. Sesungguhnya ia bagian dari aurat.” (HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi).

Itu batasan aurat di luar salat. Pada saat mengerjakan salat, sebagian ulama mengharuskan laki-laki menutup pundaknya ketika mampu menutupnya. 

Ini seperti yang disampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya, 

 “Janganlah salah seorang di antara kalian shalat dengan satu kain, sedangkan di pundaknya tidak ada sesuatu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa menutupi pundak saat salat ini sunah, namun Imam Ahmad berpendapat bahwa hal itu hukumnya wajib sehingga tidak sah salat seorang laki-laki yang membiarkan pundak terbuka sedangkan ia mampu menutupinya. 

    • Aurat Wanita 

Aurat wanita adalah seluruh badannya. Sebagian ulama berpendapat seluruh badannya kecuali muka dan telapak tangannya. 

Wanita itu aurat. Jika keluar, maka setan akan menghiasnya (di mata laki-laki).” (Hr. Tirmidzi)

Dalam keadaan salat, tubuh wanita seluruhnya adalah aurat sehingga wajib ditutup kecuali muka dan telapak tangan. Allah SWt berfirman,

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya.” (QS. An Nuur: 31)

Maksudnya, tidak boleh bagi wanita menampakkan bagian-bagian perhiasan kecuali muka dan kedua telapak tangan. 

Dari Aisyah ra, bahwa ia pernah ditanya, “Berapa pakaian yang dipakai wanita untuk shalat?” Aisyah menjawab, “Bertanyalah kepada Ali bin Abi Thalib, kemudian kembalilah menemuiku dan sampaikanlah jawabannya kepadaku,” maka  ia mendatangi Ali dan bertanya kepadanya tentang hal itu, lalu Ali menjawab, “Yaitu dengan memakai  kerudung dan gamis yang lebar.” Kemudian orang ini kembali menemui Aisyah dan memberitahukan jawabannya, maka Aisyah berkata, “Benar.” (HR. Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah).

Menutup seluruh tubuh (kecuali jah dan telapak tangan) maksudnya adalah menutup dari pandangan dan mengusahakan agar pandangan pada tubuh yang sudah tertutup tetap aman. Artinya, kain penutup tidak boleh terlalu tipis atau menggunakan model yang membentuk lekukan bagian tubuh.   Jika pakaian penutup badan masih memberi peluang terlihat atau tergammbarkannya bentuk tubuh, maka syarat menutup aurat belum terpenuhi. 

    • Aurat wanita dengan sesama wanita

Sesama wanita muslimah auratnya antara pusar dan lutut, baik wanita tersebut ada hubungan kerabat maupun tidak. Tetapi jika wanita muslimah berada di antara wanita kafir, maka auratnya adalah seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan. 

Allah  berfirman mengenai hal ini,

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam.” (Qs. An Nuur: 31) 

Jadi, seorang wanita muslimah boleh menampakkan sebagian auratnya kepada sesama muslimah, tetapi tidak boleh menampakkan auratnya kepada wanita yang bukan muslimah.  

    • Wanita di hadapan mahram

Mahram adalah laki-laki yang haram untuk menikah dengannya. Aurat wanita terhadap laki-laki mahramnya adalah semua badannya selain muka, kepala, kedua tangan, dan kedua kaki. Bagian badan yang selain itu adalah haram tampak, dan mahramnya pun haram melihatnya. 

Sebagian ulama membolehkan mahram melihat anggota-anggota tubuh wanita yang biasa tampak seperti anggota tubuh yang dibasuh ketika berwudhu yaitu muka, kuduk, kepala, dua tangan, kaki, dan betis.

Namun demikian, kebolehan ini hanya sekedar melihatnya sekilas dalam keadaan yang tidak memungkinkan menghindarinya, tanpa pandangan syahwat. 

Wanita di hadapan laki laki yang telah menjadi suaminya boleh memperlihatkan seluruh bagian tubuh tanpa ada batasnya. 

    • Aurat Anak-Anak

Apakah tubuh anak-anak juga termasuk aurat?

Bayi dan anak-anak yang masih kecil sebelum berusia 7 tahun belum memiliki bagian tubuh yang terhukumi aurat kecuali kedua farjinya sebagai adab ketika bergaul. Ketika anak perempuan telah mencapai sembilan tahun, sedangkan anak laki-laki sepuluh tahun, maka pemberlakuan aurat sudah mulai dengan membelikannya pakaian yang syar’i. 

Meskipun anak-anak belum memiliki aurat, pemberlakuan pakaian syar’I penting bagi mereka sebagai pengenalan dan pembiasaan agar kelak ketika hukum aurat berlaku.

[Yazid Subakti]

Muslim Itu Menghargai Tetangga

Muslim Itu Menghargai Tetangga

Parenting – Telah berabad-abad Islam membuktikan diri sebagai agama kasih sayang, rahmatan lil alamin.  Allah dan rasul-Nya telah mengajarkan kepada umat manusia untuk berbuat baik kepada sesama, termasuk menghargai tetangga. Tetangga memiliki hak untuk dikasih sayangi dan dihargai hingga beberapa hadits bertema khusus tentang tetangga.  

Setelah menyeru beribadah dan larangan berbuat syirik, Allah memerintahkan manusia untuk berbuat kepada sesama manusia, termasuk kepada tetangga. 

Allah berfirman,

Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim,  orang miskin, tetangga atau kerabat dekat, tetangga atau kerabat jauh, rekan di perjalanan, Ibnu Sabil, dan kepada budak yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan apa yang dia miliki.” (QS. An-Nisa: 36).

Yang dimaksud berbuat baik kepada tetangga dalam ayat ini adalah untuk semua tetangga, yaitu tetangga muslim maupun kafir. Siapapun tetangga yang keberadaannya sah sebagai bagian dari warga berhak untuk dihargai dan mendapat perhatian. Sebab, mereka adalah orang paling dekat jaraknya dengan kita. 

Anak-anak harus dipahamkan bahwa tetangga adalah bagian dari kehidupan sosial kita yang harus dihormati.   

  • Berbagi dengan tetangga

Sebagai orang yang paling dekat, tetangga bahkan berhak untuk merasakan hidangan yang kita rasakan. 

Abu Dzar ra mengatakan, “Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah), mewasiatkan kepadaku, “Apabila kamu memasak, perbanyaklah kuahnya. Kemudian perhatian penghuni rumah tetanggamu, dan berikan sebagian masakan itu kepada mereka dengan baik.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, salah satu cara merawat hubungan dengan tetangga adalah dengan saling berbagi makanan. Jika anda memasak makanan dengan aroma yang tersebar sampai tetangga menciumnya, ada baiknya jumlah  masakan diperbanyak. Sisihkan sebagian dan anda dapat meminta anak mengantarkannya kepada tetangga sebagai sedekah.   

  • Paling dekat pintunya, paling berhak mendapat lebih banyak

Tetangga berhak mendapatkan hadiah atau pemberian apapun yang akan kita sedekahkan. Pada saat menggelar hajatan atau syukuran, kita berbagi makanan kepada tetangga. Pada saat mendapat kegembiraan atau memiliki kelebihan makanan, kepada tetangga pemberian itu kita alirkan. Mereka yang paling berhak atas pemberian kita adalah yang jaraknya paling dekat. 

Ini seperti jawaban rasulullah SAW ketika Aisyah bertanya, 

Dari A’isyah ra, beliau bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, saya memiliki dua tetangga dekat. Kemanakah saya akan memberikan hadiah?” beliau menjawab, “Ke rumah yang paling dekat pintunya denganmu.” (HR. Bukhari)

Maksudnya, paling dekat dengan pintu rumah. Di beberapa kompleks perumahan, banyak rumah dibangun dengan tembok belakang saling berhimpit tetapi dengan arah hadap saling membelakangi dan tidak terdapat jalur penghubung langsung. Dalam keadaan ini, yang dianggap paling dekat dengan pintu rumah bukan tetangga yang menghadap ke belakang itu, tetapi tetangga samping kanan kiri dan depan rumah (seberang jalan) jika memang jaraknya dekat.   

  • Ada hubungannya dengan iman dan kebahagiaan

Bertetangga adalah bagian dari cermin keimanan kita. Seberapa baik dengan tetangga, adalah cermin seberapa baik keimanan kita. Oleh karena itu rasulullah mengingatkan, 

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan berbuat zalim kepada tetangga adalah salah satu dosa besar.

Seseorang yang berzina dengan 10 wanita, dosanya lebih ringan dibandingkan dia berzina dengan satu orang istri tetangganya… seseorang yang mencuri 10 rumah, dosanya lebih besar dibandingkan dia mencuri satu rumah tetangganya.” (HR. Ahmad)

Sedangkan tetangga yang baik akan menjadi bagian dari kebahagiaan atau kesengsaraan kita. 

Dari Sa’d bin Abi Waqqash ra, Rasulullah SAW bersabda,

Empat hal yang menjadi sumber kebahagiaan: Istri solehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan tunggangan yang nyaman. Empat hal sumber kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang durhaka, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang tidak nyaman.” (HR. Ibn Hibban).

  • Tanda muslim sejati 

Jika manusia ingin menjadi muslim sejati, maka salah satu syaratnya adalah berbuat baik kepada tetangganya. 

Jadilah orang yang wara’, kamu akan menjadi manusia ahli ibadah. Jadilah orang yang qanaah, kamu akan menjadi orang yang paling rajin bersyukur. Berikanlah yang terbaik untuk orang lain, sebagaimana kamu memberikan yang terbaik untuk dirimu, niscaya kamu menjadi mukmin sejati. Bersikaplah yang baik kepada tetangga, kamu akan menjadi muslim sejati…” (HR. Ibn Majah)

Itu artinya, kita belum pantas disebut muslim sejati jika hubungan dengan tetangga masih belum baik. 

  • Bersabar atas ketidaknyamanannya

Beberapa tetangga di saat tertentu melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan. Ada tetangga yang mengganggu ketenteraman dengan membunyikan suara musik yang keras, menerima tamu dengan banyaknya kendaraan yang menutupi jalan, atau memelihara hewan yang mengganggu penghuni rumah sekelilingnya. 

Maka terhadap ketidaknyamanan ini kita harus bersabar.

“Tiga orang yang Allah cintai…., orang yang memiliki tetangga, dan tetangganya suka menyakitinya. Diapun bersabar terhadap gangguannya sampai dipisahkan dengan kematian atau safar” (HR. Ahmad).

Kesabaran ini mendatangkan cinta Allah sementara tetangga yang zalim akan mendapat peringatan dengan cara yang Allah kehendaki. 

  • Tetangga adalah saksi  

Tetanggalah saksi perilaku kita. Apa yang kita lakukan setiap hari dan bagaimana sikap kita diketahui oleh tetangga sehingga orang lain berhak bertanya kepada tetangga ketika ia memberikan penilaian terhadap kita. 

Dari Ibn mas’ud ra, bahwa ada seorang yang bertanya kepada Nabi SAw, “Bagaimana saya bisa mengetahui, apakah saya orang baik ataukah orang jahat?” beliau SAW menjawab, “Jika tetanggamu berpandangan kamu orang baik, maka berarti engkau orang baik. Sementara jika mereka menilai engkau orang tidak baik, berarti kamu tidak baik.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

 

[Yazid Subakti]

Ajarkan Adab Bertetangga

Ajarkan Adab Bertetangga

Parenting – Siapapun orang yang tinggal di sekeliling tempat tinggal kita adalah tetangga. Maka sejak dini ajarkan adab bertetangga kepada anak-anak.

  • Siapakah tetangga itu?

Kata tetangga mencakup semua orang muslim maupun kafir, ahli ibadah maupun ahli maksiat, teman dekat maupun musuh, pendatang maupun penduduk asli, yang suka membantu maupun yang suka merepotkan, yang dekat maupun yang jauh, yang rumahnya berhadapan maupun yang yang bersingkuran. Demikian menurut Al-Hafidz Ibn Hajar.

Jadi, siapapun orang yang tinggal di sekeliling tempat tinggal kita adalah tetangga. Mereka berhak atas hak-hak pertetanggaan dari kita, dan kita pun akan memperlakukannya sebagaimana kewajiban kita terhadap tetangga. 

Lalu, sampai sejauh mana orang-orang sekeliling rumah dianggap sebagai tetangga? 

Para ulama memberi pendapat yang beragam mengenai hal ini. Adan yang berpendapat bahwa tetangga adalah semua orang yang tinggal satu kampung bersama kita. Dasar pendapat ini didasarkan atas  firman Allah,

 “Jika orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu) tidak menghentikan aksinya, niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 60)

Ada juga yang berpendapat bahwa semua orang yang menempati 40 rumah dari semua penjuru arah itulah yang termasuk tetangga. Jadi, tetangga itu orang-orang  yang tinggal di dalam 40 rumah ke depan, kanan, kiri, dan belakang dari rumah kita. Ini bila dalam perkampungan jumlah dan jarak rumah wajar, tidak terlalu jarang atau padat. Pada perumahan yang amat padat, 40 rumah sangatlah sedikit. Ada pedesaan yang sangat renggang, menemukan 40 rumah dalam satu penjuru bisa menempuh jarak berkilo-kilometer, bahkan sudah di luar desa. 

  • Tidak boleh mengganggu tetangga

Anak-anak harus diingatkan agar tidak mengganggu tetangga. Sebab Rasulullah SAW telah memberikan ancaman bagi umatnya yang demikian.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda,

“Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu pentingnya berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai Jibril mengira tetangga adalah ahli waris. 

Dari A’isyah ra, Nabi SAW bersabda,

“Jibril selalu berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira, tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya.” (HR. Bukhari  dan Muslim ).

  • Allah melaknat

Abu Hurairah ra menceritakan, bahwa seseorang mengadu kepada Nabi SAW tentang kezaliman yang dilakukan tetangganya. Setiap kali orang ini mengadu, Rasulullah menasehatinya untuk bersabar. Ini terjadi sampai tiga kali. Sampai pengaduan yang keempat, Nabi SAW bersabda,

“Letakkan semua isi rumahmu di pinggir jalan.”

Orang ini pun melakukannya. Setiap ada orang yang melewati orang ini, mereka bertanya: “Apa yang terjadi denganmu. (sampai kamu keluarkan isi rumahmu).” Dia menjawab: “Tetanggaku menggangguku.” Mendengar jawaban ini, setiap orang yang lewat pun mengucapkan: “Semoga Allah melaknatnya!” sampai akhirnya tetangga pengganggu itu datang, dia mengiba: “Masukkan kembali barangmu. Demi Allah, saya tidak akan mengganggumu selamanya.” (HR. Ibnu Hibban).

  • Jangan biarkan tetangga kelaparan

Rasulullah SAW melarang kita membiarkan tetangga dalam keadaan kelaparan. Kita diperintahkan untuk memberinya makan sampai mereka merasa kenyang.

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Bukanlah mukmin sejati, orang yang kenyang, sementara tetangga di sampingnya kelaparan.” (HR. Abu Ya’la)

Haram hukumnya bagi orang yang memiliki makanan sementara ia membiarkan tetangganya dalam kondisi lapar. Ia wajib memberikan makanan kepada tetangganya yang cukup untuk mengenyangkannya. Ini tidak hanya berlaku untuk makanan dan rasa lapar tetangga, melainkan juga dalam hal pakaian dan kebutuhan pokok lainnya.

Jika anak membawa makanan keluar rumah, titipkan pesan agar ia berbagi makanannya itu kepada anak tetangga. Ia dapat membawa makanan dalam jumlah lebih banyak, agar sebagiannya dapat dimakan bersama anak-anak tetangga.

  • Tidak boleh meremehkan pemberian tetangga

Rasulullah mengingatkan kepada wanita agar ketika mendapat pemberian tetangga tetap bersyukur apapun bentuk pemberian itu, berguna atau tidak, disukai maupun tidak disukai. 

Sebuah hadits dari Abu Hurairah ra mengisahkan bahwa Nabi SAW bersabda,

 “Wahai para wanita muslimah, janganlah satu tetangga meremehkan pemberian tetangga yang lainnya, meskipun hanya kikil yang tak berdaging.” (HR. Bukhari  dan Muslim).

Maka ini artinya, kita tidak boleh mencela atau menganggap pemberian tetangga itu buruk. Semua pemberian tetangga harus kita pandang niat baik pemberinya. Ketika tetangga memberi, itu artinya ia berniat baik menjalin hubungan dengan kita. 

  • Perselisihan tetangga diselesaikan pertama di akhirat

Dari Uqbah bin Amir ra, Nabi SAW bersabda,

“Sengketa pertama pada hari kiamat adalah sengketa antar tetangga.” (HR. Ahmad)

Jika amal ibadah yang mendapat antrian hisab pertama kali adalah mengenai salat, maka perselisihan yang pertama kali akan diadili oleh Allah di hari kiamat adalah tentang pertetanggaan. Artinya, orang yang banyak masalah dengan tetangga akan memiliki beban perhitungan lebih berat dan dapat menjerumuskannya ke dalam neraka. 

Sebab, menyakiti tetangga adalah salah satu penyebab manusia masuk neraka. 

Dari Abu Hurairah ra, bahwa ada seseorang yang melapor kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita itu rajin shalat, rajin sedekah, rajin puasa. Namun dia suka menyakiti tetangga dengan lisannya.” Nabi SAW bersabda,  “Dia di neraka.”

Para sahabat bertanya lagi, “Ada wanita yang dikenal jarang berpuasa sunah, jarang shalat sunah, dan dia hanya bersedekah dengan potongan keju. Namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah SAW bersabda, “Dia ahli surga.” (HR. Ahmad).

 

[Yazdi Subakti]