Perjalanan Safar – Bagian 1

Perjalanan Safar – Bagian 1

Parenting – Safar secara bahasa artinya membuka atau menyingkap. Para Ulama mendefinisikan perjalanan safar dengan keluar dari negeri tempat bermukim menuju suatu tempat dengan jarak tempuh tertentu yang membolehkan seseorang untuk mengerjakan salat secara qashar atau jama’. Orang yang melakukan safar disebut musafir.

Bepergian jauh ini dinamai safar karena dapat menyingkap wajah dan karakter para musafir. Saat safar, sifat-sifat asli musafir yang selama ini tersembunyi akan tampak lebih jelas. 

Berapa jarak yang menyebabkan bepergian disebut safar?

Ada beragam pendapat mengenai hal ini. Sahabat Ibnu Abbas mengumpamakan bahwa safar itu jika perjalanan menempuh jarak sejauh dari Usfan ke Mekkah, Thaif ke Mekkah, atau Jeddah ke mekkah. Ada juga yang membuat ukuran jarak sejauh dari Mekkah ke Mina, yaitu sekitar 30 mil. Sebab rasulullah pernah melakukan perjalanan dan salat qashar bersama sahabat dan menyebut sahabat yang dari Mekah sebagai musafir.  Para Ulama madzhab Ahmad menganggap safar jika perjalanan melebihi jarak 16 farsakh atau 48 mil atau sekitar 80 kilometer. Ulama yang lain berpendapat jarak safar harus 83 kilometer, juga ada yang 85 kilometer. 

Beberapa ulama mengaitkan safar dengan jarak tempuh, sementara ulama lain mendasarkan pada waktu tempuh perjalanan sehari semalam atau tiga hari tiga malam. Ada juga yang menyatakan bahwa pengertian safar dikembalikan pada kebiasaan adat (urf) warga setempat itu sendiri. Jadi, kalau menurut masyarakat perjalanan tersebut memang berat, jauh  dan penting, maka hukum safar sudah berlaku. Jika menurut masyarakatnya ringan dan biasa-biasa saja berarti bukan termasuk safar.   

Safar pada asalnya merupakan aktivitas yang bersifat duniawi, tetapi dapat bernilai ibadah jika diawali dengan niat ibadah dan dilakukan berdasar ketentuan islam. Jadi, safar dapat menjadi ladang pahala jika kita melakukannya dengan sunnah-sunnah yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 

  • Tujuan safar

Manusia dalam hidupnya memiliki banyak keperluan. Perjalanan jauh akan terjadi pada siapapun, terutama orang-orang penting yang memiliki kebutuhan luas atau keahliannya dibutuhkan banyak orang. Selain karena kegiatan, safar juga berhubungan dengan jalinan keluarga atau kekerabatan, yaitu keharusan memenuhi undangan keluarga yang jaraknya jauh, bersilaturahmi, atau pulang ke kampung halaman pada saat-saat tertentu.

Pada zaman Nabi, safar sering berhubungan dengan kegiatan mencari nafkah, berdakwah menyebarkan islam, urusan politik ke Negara tetangga, atau menjelajah tempat-tempat untuk mencari peluang penghidupan di masa mendatang. Saat ini, safar dengan tujuan seperti itu masih terjadi ditambah dengan tujuan-tujuan lain yang semakin beragam.

Pada hari-hari libur panjang, orang Indonesia banyak yang melakukan perjalanan jauh dengan istilah mudik atau kembali ke kampung halaman yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat mukim.

  • Jangan sampai anak tidak pernah mengalami safar 

Jangan mengurung anak dalam tembok-tembok rumah dan pagar halaman saja. Serta jangan mengekang pandangan anak dengan hanya memberinya kesempatan melihat gedung sekolahnya dan rumah-rumah tetangga saja. Berilah ia pengalaman safar yang menakjubkan dampaknya. 

Menguatkan keyakinan akidah dengan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah secara langsung dan nyata. Orang yang melakukan safar mendapatkan peluang melihat langsung berbagai fenomena alam, berbagai tipe manusia berdasarkan suku bangsa dan budaya, berbagai peristiwa sosial yang menyenangkan maupun menyedihkan. 

Safar adalah kegiatan yang sangat padat muatan pendidikan bagi anak. Banyak pelajaran kehidupan dan hikmah didapatkan dari safar. 

    • Memberi pengalaman perjalanan di muka bumi

Pengalaman ini sangat penting untuk memahami hakikat diri sebagai makhluk yang ternyata sangat terbatas pengetahuannya. Dengan safar, kita dapat berkesempatan menyaksikan dan merasakan secara nyata pergantian waktu. Anda dapat mengalami warn langit dan suara alam semesta dari sore menuju malam, malam sampai pertengahan malam, hingga menit-menit pergantian menuju pagi yang ternyata sangat menakjubkan. Kebanyakan manusia tidak mengetahui ini karena tidur dalam rumah. Tahunya hanya dari gelap menuju terang saja. 

    • Melihat karakter sesama

Karakter asli akan muncul selama perjalanan jauh. Orang dengan tingkat kesabaran yang rendah akan tampak mudah mengeluh dan putus asa, kemudian memandang negative perjalanannya atau menyalahkan orang lain. Orang yang egois langsung terlihat dengan jelas keengganannya berbagi, berbeda dengan orang dermawan yang mudah memberi. anak dengan sifat-sifat keras kepala, pemalu, periang, pendengki, optimis, penyendiri, pemberani, penakut, peragu, dan sifat lainnya mudah ia amati pada saat perjalanan safar.

    • Melatih ketangguhan fisik dan mental

Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam membutuhkan ketahanan fisik yang prima sebab apa yang pada saat normal di rumah tidak semuanya akan terpenuhi. Jika selama ini tak pernah terlambat sarapan pagi, maka pada saat safar jam sarapan mungkin akan bergeser. Jika selama ini tidur malam di kasur bersama bantal, maka saat safar harus beristirahat dengan kondisi menyesuaikan. Dengan safar, fisik tertempa untuk merasakan suhu ekstrim, cuaca buruk, atau situasi jalan yang menegangkan yang selama di rumah tidak pernah ia rasakan.      

    • Membuka wawasan dan inspirasi untuk berpikir jauh

Safar meluaskan cakrawala berpikir, bahwa di luar yang kita hadapi sehari-hari masih ada dunia  luas yang memberi banyak peluang. Anak akan melihat bahwa di luar rumahnya ada begitu banyak perkampungan yang jauh lebih padat atau jauh lebih renggang, ada masyarakat yang jauh lebih maju atau lebih terbelakang. Di luar sekolah tempatnya belajar ternyata ada sekolah yang jauh lebih bagus dan ada pula yang jauh lebih buruk. Di tempat yang jauh, ada desa yang gersang, ada kota yang gemerlap, dan ada begitu banyak pekerjaan atau profesi yang menjanjikan. Ada banyak tempat di muka bumi ini yang diciptakan oleh Allah untuk kebaikan hidup manusia.

  • Dalam safar ada latihan kecerdasan 

Ada satu jenis kecerdasan yang Paul G. Stoltz rumuskan, yaitu Adversity Quotient. Ini adalah jenis kecerdasan menghadapi persoalan hidup. Jadi, ukuran kecerdasan ini menunjukkan seberapa mampu anak menghadapi kesulitan dan tantangan dalam hidupnya, seberapa kuat anak bertahan dalam tekanan-tekanan yang ia hadapi. 

Ilustrasi bahwa ada sekelompok orang sedang ramai-ramai melakukan pendakian gunung. Dalam rombongan itu, akan ada tiga kelompok anak sesuai kecenderungannya menghadapi tantangan pendakian.

Pertama, kelompok quitter yang mudah menyerah setelah tahu bahwa gunung itu tinggi dan mendakinya penuh perjuangan. Ia memilih berhenti di kaki gunung tanpa pernah mencoba mendaki. 

Kedua, kelompok camper yang tetap mencoba mendaki tetapi berhenti di lereng untuk beristirahat membuat kemah. Ia merasa sudah berjuang dan cukup sampai lereng saja karena takut resiko jika harus menuju puncak.   

Ketiga, kelompok climbing yang terus tidak akan menghentikan pendakian sebelum sampai ke puncak sebagai tujuan utama. Ia mengetahui risiko dan tantangan, tetapi mencoba mengatasinya sambil terus berjalan ke puncak. 

Perjalanan safar adalah latihan kecerdasan, yaitu mengenalkan anak pada tantangan-tantangan yang selama ini tidak terjadi di rumah. Atas tantangan ini, anak mendapat pengalaman mencari solusi untuk menaklukkannya. Anak harus bertahan dan tetap melanjutkan misi safarnya dalam keadaan makanan terbatas, cuaca tidak nyaman, beribadah dalam kondisi tidak normal, atau menghadapi masyarakat yang adatnya berbeda. Setidaknya, safar memberi anak pengalaman meninggalkan kebiasaan rutin dan nyaman di rumah. Bisa jadi di perjalanan akan menemukan hal baru yang lebih menyenangkan, atau sebaliknya lebih menantang.

 

[Yazid Subakti]