Menjadi Teladan Ketaatan

Menjadi Teladan Ketaatan

Parenting Al-Kautsar – Apa yang Anda lakukan selama hamil adalah pengalaman hidup dan menjadi teladan bagi janin dalam rahim. Kata-kata anda, pergerakan, perasaan dan pikiran menjadi bagian yang juga dibersamai oleh janin. Kebiasaan ini terekam dalam memori dan ritme kehidupannya, hingga membawa pengaruh kepadanya kelak ketika lahir.

Oleh karenanya anda adalah teladan pembimbing perilaku dan karakter bagi janin. Berikut ini adalah contoh keteladanan ibu dan ayah dalam ketaatan mulai dari hal-hal kecil yang mudah dan sederhana.

  • Sholat tepat waktu

Sebaik-baik shalat adalah yang dilakukan tepat waktu. Menunda-nunda shalat adalah pengaruh setan yang menyebabkan datangnya kemalasan. Akhir dari kebiasaan menunda waktu shalat adalah keberanian meninggalkan shalat karena tidak lagi menganggapnya penting.

Sholat tepat waktu melibatkan gerakan tubuh, ucapan-ucapan, dan penjadwalan yang terjadi secara ritmis berulang setiap hari. Selama perbuatan ini berlangsung, bayi sejak awal penciptaannya turut serta terlibat dan menjadi kebiasaan. Kelak ketika telah lahir diharapkan kebiasaan ini akan lebih mudah dijaga hingga memasuki kehidupannya yang mandiri.

  • Memperbanyak shalat sunnah

Shalat sunnah adalah kebiasaan Rasulullah SAW di luar Shalat lima waktu yang diwajibkan. Shalat ini menjadi penyempurna pahala salat-salat wajib kita, serta menambah kemuliaan dan keutamaan-keutamaan yang tidak kita dapatkan selain darinya.

Pertama, menjaga diri dari api neraka. Shalat sunnah rawatib sebelum dan setelah zuhur adalah penjaga api neraka sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ummu Habibah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa menjaga shalat sunnah empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat lagi sesudahnya, maka Allah mengharamkan orang itu atas neraka.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kedua, membuka pintu-pintu langit. Dari Abdullah bin as-Saib ra, bahwasanya Rasulullah saw Shalat empat rakaat sunnah setelah matahari tergelincir (sebelum shalat Zuhur) dan bersabda: “Ini adalah saat terbukanya pintu-pintu langit, maka aku senang kalau amalan shalihku naik di situ.” (HR Tirmidzi)

Ketiga, menambah kebaikan rumah di dalamnya. Dalam hadits dari Jabir ra, Bahwa Rasulullah saw bersabda: “Jika seseorang di antara engkau semua telah menyelesaikan salatnya di masjid, maka hendaklah memberikan sekedar bagian dari sebagian shalatnya – yakni yang sunnah-sunnah – untuk rumahnya, karena sesungguhnya Allah membuat kebaikan dalam rumahnya itu karena shalatnya tadi.” (Riwayat Muslim)

Keempat, agar Allah membalasnya dengan bangunan rumah di surga. Disebtkan dari Ummul mu’minin yaitu Ummu Habibah ra, bahwa Ramlah binti Abu Sufyan ra mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tiada seorang hambapun yang Muslim yang salat karena Allah Ta’ala setiap hari dua belas rakaat sebagai shalat sunnah yang bukan diwajibkan, melainkan Allah akan mendirikan untuknya sebuah rumah dalam syurga, atau: melainkan untuknya akan didiri-kanlah sebuah rumah dalam syurga.” (HR. Muslim)

Kelima, agar mendapat kebaikan dunia dan seisinya. Ini seperti yang disampaikan dalam hadits dari Aisyah ra, bahwa Nabi saw, bersabda: “Dua rakaat sunnah fajar (sebelum Subuh) adalah lebih baik nilainya daripada dunia dan apa saja yang ada di dalamnya ini (dunia dan seisinya).” (HR. Muslim)

Masih banyak keutamaan salat sunnah yang lain. Ibu hamil yang membiasakan diri dengan salat-salat sunnah ini akan dengan sendirinya mengajarkan kepada bayi dalam kandungan kecintaan pada panggilan Allah, kegemaran meniru Rasulullah, dan turut serta berburu pahala Sunnah.

  • Menjawab adzan

menjadi teladan

Di masyarakat muslim seperti kebanyakan daerah di Indonesia ini, setiap datang waktu salat fardhu akan terdengar suara adzan berkumandang. Suara adzan sangat biasa dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Begitu mendengarkan suara adzan, salah satu kebiasaan kecil yang mudah namun amat bermakna adalah menjawab suara adzan itu serta dengan doa dan salawat.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra, bahwasa ia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Jika engkau mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, kemudian bacalah shalawat untukku, karena sesungguhnya barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali shalawatan, maka Allah akan memberikan kerahmatan padanya sepuluh kali, selanjutnya mohonlah wasilah kepada Allah untukku, sebab sesungguhnya wasilah itu adalah suatu tingkat dalam syurga yang tidak patut diberikan melainkan kepada seseorang hamba dari sekian banyak hamba-hamba Allah dan saya mengharapkan agar sayalah hamba yang memperoleh tingkat wasilah tadi. Maka dari itu barangsiapa yang memohonkan wasilah untukku – kepada Allah, wajiblah ia memperoleh syafaatku.” (Riwayat Muslim)

Jawablah kumandang adzan meski dalam bisikan-bisikan pelan. Ucapan ini penuh makna tauhid dan ajakan ketaatan. Kalimat-kalimat inilah yang kelak menjadi bekal anak-anak untuk kehidupan dunia sampai akhiratnya.

  • Menutup aurat

Kata aurat menurut bahasa berarti an naqshu (kekurangan). Artinya, sesuatu (bagian dari tubuh) yang wajib ditutup dan haram dilihat. Para ulama telah bersepakat tentang kewajiban menutup aurat baik dalam shalat maupun di luar shalat.

Menutup aurat adalah aturan Allah dan Rasul-Nya. Meskipun telah menjadi kebiasaan, dalam keadaan terterntu seseorang lalai atau ingin mengabaikannya. Ini akibat longgarnya hati yang menjadikan syetan berhasil menyusup dan memmengarhui jiwa seseorang.

Pelanggaran membuka aurat adalah salah satu dosa yang paling awal terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Keberhasilan pertama kali yang iblis dapatkan dalam menggoda manusia setelah ia mendapat vonis terusir dari surga adalah dengan melucuti pakaian Adam dan Hawa sehingga terbuka auratnya.

Allah berfirman yang artinya, “Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga… (QS. Al A’raf: 22)

Ketika aurat telah terbuka, maka keburukan akan muncul sebagai akibatnya. Selanjutnya, runtuhlah kehormatan dan kemulian seseorang. Maka Allah swt memperingatkan manusia agar berhati-hati menjaga auratnya.

Menutup aurat selama masa hamil adalah bagian mendidik bayi akan perasa malu dan ketaatan kepada Allah. kelak seorang ibu atau ayah yang telah terbiasa dengan ketaatan ini akan lebih mudah menyampaikan kepada anak-anaknya, sekaligus menjadi teladan dengan sendirinya.

  • Menjaga kebersihan

Seorang muslim itu bersih. Bersih badannya, bersih pakaiannya, juga bersih tepat tinggalnya. Rasulullah saw. pernah bersabda: “Menjadi bersihlah kamu, karena sesungguhnya Islam itu bersih.“ (HR. Ibnu Hiban)

Dalam hadits yang lain, beliau SAW mengatakan, “Kebersihan itu dapat mengajak seseorang kepada iman. Sedang iman itu akan bersama pemiliknya ke Surga.” (HR. Thabarani)

Pernah Nabi SAW melihat seseorang yang pakainnya kotor. Maka beliau SAW mengatakan “Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dipakai untuk mencuci pakainnya?” (HR. Abu Daud)

Selain anjuran yang bernilai sunnah, menjaga kebersihan adalah bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan, menyamankan diri dan orang lain ketika berinteraksi.

Ini pembiasaan yang sangat agung bagi orang tua beserta bayi dalam kandungannya. Ketika ibu mendisiplinkan diri hidup bersih, maka hati dan pikirannya penuh dengan kehati-hatian untuk selalu menghindarkan diri dari kotoran-kotoran. Kelak saat bayi terlahir dengan lebih mudah ibu, dan juga ayah, mencontohkan kebiasaan ini. Mengajak bersama-sama mencintai kebersihan.

  • Menjaga wudhu

menjadi teladan

Wudhu adalah bersuci dari hadas kecil. Menjaga wudhu berarti mempertahankan diri selalu dalam keadaan suci dari hadats kecil. Kesucian ini menjadikan anda merasa lebih dekat dengan Allah dan terjaga dari perbuatan yang membuat-Nya murka.

Lebih dari itu, balasan bagi orang yang berwudhu adalah Allah membersihkan dosa-dosanya. Dalam sebuah hadits, dari shahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. lApabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu’ atau bersama tetesan akhir air wudhu’, hingga ia selesai dari wudhu’nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa.” (HR Muslim).

 

[Yazid Subakti]

Mendidik Dengan Kedermawanan

Mendidik Dengan Kedermawanan

Mendidik dengan Kedermawanan. Salah satu amal soleh yang tak terhalangi oleh kehamilan adalah sedekah. Dalam keadaan hamil, anda tetap dapat menjaring pahala dan kebaikan sedekah. Bahwa orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah dengan benar-benar ikhlas, tanpa ada keinginan untuk orang lain ketahui. Bayangkan, Anda yang merasa lemah menanggung beban kehamilan dipandang oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang kuat karena bersedekah.

Dikisahkan bahwa ketika Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi ini pun bergetar. Kemudian Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah ada kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”

Allah menjawab,

Ada, yaitu besi” (Gunung batu bisa menjadi rata ketika dikeruk oleh buldozer dari besi). Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?” Allah yang Maha Suci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi menjadi cair jika dibakar api). Bertanya kembali para malaikat itu, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?” Allah yang Maha Agung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api akan padam jika disiram air). “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikat. Allah yang Mahatinggi dan Maha sempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas bergelombang karena kekuatan angin). Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

Allah yang Maha Perkasa dan Maha Dahsyat menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.” Demikian Imam Turmudzi dan Ahmad meriwayatkan.

Di luar hikmah ini, sedekah adalah membentuk kebiasaan peduli dan murah hati kepada sesama, menghilangkan nafsu mementingkan diri sendiri. Pembentukan kebiasaan ini berlangsung pada diri Anda sebagai ibu, yang kelak akan bermakna bagi akhlak janin dalam kandungan. Sebab ia menerima nutrisi dari makanan yang berasal dari harta yang telah suci. Ia juga turut merasakan suasana hati anda saat bersedekah. Kelak ia dapat mengingat bahwa sejak masa ia dalam kandungan, sedekah telah terbiasa melakukannya. 

[Yazid Subakti]

Mulai Mendidik si Kecil dengan Rasa Syukur

Mulai Mendidik si Kecil dengan Rasa Syukur

Parenting Al-Kautsar – Bersyukurnya ibu dan ayah ketika datang kehamilan adalah bagian dari mulai mendidik bayi dalam kandungan. Kehadiran bayi disambut dengan rasa suka cita dan sikap berterima kasih kepada Allah karena hanya dengan kekuasaan-Nya ini penciptaan bayi ini terjadi. Arti syukur paling sederhana adalah berterima kasih dengan memuji kepada Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan kebaikan ini.

  1.   Cara bersyukur

Ada tiga rukun syukur, yang seorang hamba tidak belum bersyukur kecuali dengan ketiganya.

Pertama, Al-I’tiraaf, yaitu pengakuan bahwa seluruh kenikmatan itu datangnya dari Allah dan semuanya adalah penting. Sikap ini memunculkan jiwa tawadhu dan rendah diri di hadapan-Nya, merasa butuh dan berhajat kepada-Nya.

Pengakuan ini sekaligus menghilangkan keangkuhan diri bahwa semua kenikmatan adalah semata akibat dari perbuatan sendiri, lalu bangga dengan kemampuannya. Sifat seperti ini terdapat pada Qarun hingga Allah menyindir dengan penuh celaan, “Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali dari hasil kehebatan ilmuku” (QS Al-Qashash 78).

I’tiraaf adalah pengakuan yang tulus, bahwa Allah itu ada, berkehendak dan kekuasaannya meliputi langit dan bumi yang kita rasakan dan lebih banyak lagi yang belum kita rasakan.

Kedua, At-Tahadduts, yaitu mengucapkan atau mengutarakan pengakuan akan nikmat Allah dengan lisan. Seorang yang beriman minimal mengucapkan hamdalah (Alhamdulillah) ketika mendapatkan kenikmatan sebagai refleksi syukur dan terima kasihnya kepada Allah.

Tahadduts atau mengucap syukur secara lisan ini adalah perintah ALlah, seperti dalam surat Ad Dhuha 11, yang artinya,

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan” (QS Ad-Duhaa 11)

Mengenai syukur secara lisan ini, Abi Nadhrah berkata, “Dahulu umat Islam melihat bahwa di antara bentuk syukur nikmat adalah dengan mengucapkannya”. Sedangkan Rasulullah saw. Pernah bersabda, “Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih pada manusia” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Berkata Al-Hasan bin Ali: “Perbanyaklah menyebut nikmat-nikmat ini, karena sesungguhnya menyebutnya merupakan rasa syukur, dan sungguh Allah telah memerintahkan Nabi-Nya agar menceritakan nikmat Rabbnya.”

Sedangkan Ibnu Ishak mengatakan, “Sesuatu yang datang padamu dari Allah berupa kenikmatan dan kemuliaan kenabian, maka ceritakan dan dakwahkan kepada manusia

Ketiga, At-Tha’ah, yaitu ketaatan kepada Allah. Para nabi adalah hamba-hamba Allah yang paling bersyukur. Rasa syukur mereka ini dibuktikan dengan melaksanakan ketaatan dan pengorbanan.

Tentang ketaatan Rasulullah saw, Aisyah ra menceritakan bahwa suatu saat beliau saw. melakukan shalat malam sehingga kakinya terpecah-pecah. Berkata Aisyah ra.,”Engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang ?” Berkata Rasulullah saw, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?“ (HR Muslim)

Ketika nabi Sulaiman as. dilimpahi kenikmatan dunia, beliau mengatakan, “Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS An-Naml 40).

Maka demikianlah, ketika kehamilan itu datang, puncak rasa syukur sebagai ekspresi bahagia ibu dan ayah adalah dengan menambah ketaatan kepada-Nya.

  1.   Bersyukur bersama bayi dalam kandungan

mulai mendidik

Melibatkan bayi dalam kandungan untuk bersyukur dilakukan dengan menjalankan bentuk-bentuk ekspresi syukur ibu dan ayahnya. Bentuk syukurnya kedua mata, kedua telinga, perut dan kemaluan, serta kedua kaki dijelaskan seperti dalam riwayat berikut ini,

Berkata seseorang kepada Abu Hazim: “Bagaimana bentuk syukurnya kedua mata ya Abu Hazim?” Maka dia menjawab: “Jika engkau melihat kebaikan, engkau mengumumkannya (memberitahukan kepada yang lainnya) dan sebaliknya jika engkau melihat kejelekan, engkau menyembunyikannya.” Laki-laki tadi bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kedua telinga?” Beliau menjawab: “Jika engkau mendengar kebaikan maka engkau menjaganya dan jika engkau mendengar kejelekan, engkau menolaknya.” Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kedua tangan?” Beliau menjawab: “Janganlah engkau mengambil apa-apa yang bukan milik keduanya dan janganlah engkau tahan hak untuk Allah apa yang ada pada keduanya.” Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya perut?” Beliau menjawab: “Jadikanlah makanan di bawahnya dan ilmu di atasnya.” Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kemaluan?” Beliau menjawab dengan membacakan ayat:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mukminuun: 5-7)

Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kedua kaki?” Beliau menjawab: “Jika engkau mengetahui suatu mayat yang engkau iri kepadanya (karena ketika hidupnya melakukan ketaatan kepada Allah), maka pergunakan keduanya sebagaimana dia amalkan.”

Jadi, ibu hamil dan ayah bayi dalam kandungan kandungan menjaga organ-organ tubuhnya dari keburukan-keburukan, lalu menggunakannya hanya untuk kebaikan.

  1. Menjauhkan diri dari syetan

Iblis mengetahui betapa tingginya kedudukan syukur. Maka, cara tujuan utama menjerumuskan manusia adalah dengan mengalihkan manusia dari syukur.

Dia berkata, “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at).” (Al-A’raaf:17)

Maka jauhkanlah bayi dari pengaruh syetan. Ibu dan ayah mestinya bersih dari mitos dan kepercayaan tahayul yang berkembang. Keyakinan menyesatkan itu berbungkus nasehat dan tuntutan tradisi yang selain tidak bermanfaat bagi kebaikan janin, juga memberi peluang datangnya syetan-syetan.

[Yazid Subakti]

Seperti Ini Buah Hati Dalam Rahim

Seperti Ini Buah Hati Dalam Rahim

Prenting Al-Kautsar – Ada kejadian penciptaan yang menakjubkan dalam rahim. Buah hati dalam rahim tidak bunda sadari, dan bunda juga tidak memiliki kemampuan untuk mengamatinya.

  1. Kejadian di awal penciptaan

Proses bersatunya ovum dan sperma kita kenal juga denga istilah konsepsi atau pembuahan. Selanjutnya berlanjutlah proses berikut :

  • Ovum yang telah dibuahi (zygote) terdiri atas 46 kromosom.
  • Dua hari kemudian zygote mulai membelah diri sambil bergerak menuju rahim. Mula-mula membelah diri menjadi 2, lalu 4, 8, 16, 32, 64 dan seterusnya.
  • Seminggu setelah pembuahan, zygote yang terus tumbuh itu telah menempel di dinding uterus. Proses perlekatan zygote pada dinding uterus dinamakan nidasi.
  • Zygote terus menerus membelah diri secara besar-besaran menjadi embrio, dan tanpa disadari kehamilan pun mulai terasa. Setelah 12 minggu, bentuk janin sudah dapat dilihat.
  • Setiap sel embrio mengandung informasi genetik di dalam 46 kromosomnya. Masing-masing adalah 23 dari ayah dan lainnya dari ibunya. Kromosom ini terbentuk dari bagian-bagian lebih kecil yang disebut gen. Setiap gen membawa sifat pertumbuhan embrio, misalnya warna rambut dan warna kulit sedangkan beberapa kelompok gen menentukan tingkat kecerdasannya.
  • Selanjutnya janin memperoleh makanan dan mendapatkan suplai darah dari sang ibu melalui plasenta atau ari – ari. Plasenta ini dilepaskan beberapa saat setelah melahirkan.
  1. Perkembangan otak bayi di awal kehidupannya

Di dalam rahim, pembentukan otak bayi sudah mulai pada awal usia kehamilan sampai bayi siap lahir ke dunia. Jadi, sejak mulai awal terbentuknya, otak ini terus mengalami perkembangan sampai benar-benar sempurna yang berarti si kecil sudah saatnya terlahir. Selama masa perkembangan inilah stimulus atau rangsangan perlu  agar ia tumbuh lebih baik.

Pada tiga bulan pertama, otak bayi mengalami perkembangan seperti ini,

  • Sekitar 16 hari setelah pembuahan, dasar sumsum tulang belakang dan otak janin mulai terbentuk. Bagian ini terus tumbuh hingga berubah menjadi tabung saraf. Berikutnya, tabung saraf menutup pada usia kehamilan antara 5-8 pekan. Pada saat ini otak bayi sudah terbagi atas otak depan, otak tengah, dan otak belakang. Bagian otak belakang ini nantinya akan membentuk sumsum tulang belakang.
  • Pada pekan ke-5 usia kehamilan, sel-sel bayi semakin berkembang pesat membentuk fungsi-fungsi tertentu. Di usia ini bagian otak, sumsum tulang belakang, dan jantung bayi mulai menampakkan wujud dan fungsinya semakin jelas. Saat ini adalah masa-masa kritis bayi pada tiga bulan pertama ini. Bayi sangat berisiko mengalami gangguan pertumbuhan pada masa ini. Bayi-bayi yang lahir dalam kondisi cacat diduga berawal dari gangguan atau salah perlakuan pada masa ini.
  • Memasuki minggu ke 6-7 kehamilan, pertumbuhan otak bayi telah sampai pada pembentukan bagian yang lebih rinci, yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), batang otak, kelenjar hipofisis, dan hipotalamus. Inilah bagian otak yang masing-masing memiliki peran dan fungsi vital dalam kehidupan di alam lahir nanti.
  • Sampai pada pekan ke-8 masa kehamilan, otak si kecil semakin bertumbuh. Pada pekan ke-10 atau pertengahan bulan ke-3, otak bayi sudah mulai berfungsi. Organ lain (ginjal, usus, dan hati) juga mulai menampakkan fungsinya sebagaimana umumnya manusia, meskipun masih sangat terbatas.

Jadi, sejak usia 16 hari sampai masuk pekan ke-10 adalah masa-masa awal pembentukan otak bayi. Sedangkan mulai dari pecan ke-10, otak ini telah mulai menjalankan fungsi yang sesungguhnya meskipun belum sempurna.

Otak sudah mulai merekam. Tetapi dengan kondisi seperti itu, pendidikan untuk janin masih berkisar pada pembiasaan baik oleh orang tuanya, terutama ibu yang mengandungnya.

Jika anda memahami keadaan ini dengan pikiran jernih, maka tidak ada waktu lagi untuk berlama-lama dalam kebiasaan buruk. Seluruh ucapan dan perbuatan Anda telah bersama si kecil, sedangkan otaknya siap merekam.

  1. Kecepatan saraf dan respon

Saraf bekerja dengan sinyal listrik alami tubuh yang luar biasa cepatnya. Sinyal ini terdiri atas gelombang sebesar 0,1 Volt dengan kecepat hantar kurang dari 0,001 detik sekali hantar. Pergerakan sinyal sepanjang sel saraf sangat singkat, yaitu 270 mil/jam atau 120 meter/detik.

Perilaku ibu sangat penting bagi bayinya. Sebab otak bayi ikut ’memikirkan’ dan berlatih merespon apa yang ibunya lakukan. Jika Anda sering marah-marah, suara dan gerakan emosional Anda direspon oleh bayi dalam kandungan. Ini sama saja Anda mengajari bayi cara marah-marah. Sebaliknya jika akhlak ada terjaga dengan baik, respon otak bayi Anda juga terjaga dengan baik. Perilaku Anda adalah pendidikan sepenuhnya bagi bayi dalam kandungan.

Oleh sebab itu latihlah respon otak bayi hanya dengan perilaku yang baik Anda.

 

 

[Yazid Subakti]