Sesungguhnya, Engkau tak Sendiri dan Penantian bukan Kesedihan

Sesungguhnya, Engkau tak Sendiri dan Penantian bukan Kesedihan

Pra Nikah – Tenanglah, engkau tak sendiri. Allah selalu bersamamu.

  • Sesungguhnya, engkau tak sendiri

Tidak ada sanjungan bagi seseorang yang membujang. Ia hanya akan membuat seseorang sengsara dan merasa makin kesepian.

Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata : “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).

Bukankah anda mencintai Rasulullah dan selalu mengikuti sunnahnya?

Beliau  SAW memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah.

Beliau bersabda, “Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat”. (HR. Ahmad).

Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau, kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata: “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus”. Dan yang lain berkata: “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya “….

Ketika hal itu terdengar oleh Nabi SAW, beliau keluar seraya bersabda:

“Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku“. (HR Bukhari dan Muslim).

Hidup membujang membuat anda kering dan gersang, kehilangan makna dan tujuan. Orang yang membujang mementingkan sifat egoisnya, karena ingin hidup hanya untuk dirinya sendiri. Mereka melawan fitrahnya yang bergelora,  memendam gairahnya yang membara hingga keruhlah hatinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Ibnu Mas’ud ra pernah berkata : “Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah sebagai seorang bujangan”. Demikian disebutkan dalam Ihya Ulumuddin. 

  • Penantian bukan kesepian

Perasaan sepi berada di hati. Ia muncul karena manusia memunculkannya dan tidak akan terjadi jika manusia tidak memunculkannya. Anda merasa sepi ini disebabkan oleh cara memandang diri Anda yang seolah diasingkan, lalu menyimpulkan anda sedang berada dalam kesendirian.

Seseorang yang menanti datangnya jodoh akan merasa kesepian jika ia membiarkan dirinya menganggap tidak ada orang lain yang memersamai masa-masa penantian itu. Ia tidak berbagi dan menutup diri dari kebersamaan orang-orang di sekeliling.

Hindarilah cara pandang yang sempit ini. Saat anda dalam penantian jodoh, hadirkanlah orang-orang tercinta yang selama ini menemani hidup anda. Terimalah perhatian dari orang tua, saudara, kerabat, dan sahabat-sahabat anda. Pandanglah diri anda sebagai pribadi yang mendapat curahan perhatian dari banyak orang. Rasakan betapa banyak orang mencintai anda.

Penantian tidak akan menjadikan anda merasakan kesepian jika anda selalu sadar sedang dibersamai oleh Allah. Berusahalah untuk terus terhubung dengan-Nya. 

  • Penantian adalah kesempatan untuk perbaikan diri

Sejak Anda terlahir Anda tahu bahwa sehari adalah 24 jam. Dan sejam dihitung 60 menit. Itu akan berlaku sampai Anda meninggal nanti, juga tetap berlaku pada saat anda menanti ataupun mereka yang sudah mendapat jodohnya.

Mengapa orang yang paling sibuk dalam sejarah, Muhammad saw, sempat melakukan banyak hal (memimpin negara, mengurus banyak isteri, menampung keluhan sahabat, mencari nafkah, mendidik masyarakat, 80 kali menjadi panglima perang, mengunjungi beberapa negara dan sebagainya) selama masa kenabiannya yang hanya 22 tahun?

Itu karena beliau sadar, bahwa waktu tidak dapat diganti. Semua tugas harus selesai dengan jadwal yang tepat. Allah memberi peringatan dalam Firman-Nya yang artinya,  

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al’Ashr : 1-3)

Saat menanti adalah saat luangnya waktu sebelum datangnya jodoh yang dinanti menjadikan anda sibuk. Nikmati perjalanan waktu dengan kesabaran yang kreatif, melakukan kebiasaan produktif yang bermanfaat.

  • Bayangkan jika satu bulan satu Juz dan  satu judul kitab

Mengapakah Anda tidak berpikir bahwa masa penantian menunggu jodoh adalah waktu dari Allah bagi hambanya untuk menambah ilmu dan menumpuk amal?

Bayangkan jika selama masa penantian itu anda menghafal al-Qur’an, mengkaji kitab-kitab, dan mempelajari bahasa asing. Dan bayangkan jika setiap sebulan penantian anda memuat target hafal satu juz, maka kurang dari tiga tahun masa penantian anda telah menjadi seorang penghafal AL-Qur’an. Bayangkan jika setiap satu bulannya anda mengkaji satu kitab, maka satu tahun anda telah mengkaji duabelas kitab.

Selama anda menghafal dan mengkaji kitab, pikiran tercurah ke dalamnya hingga tidak ada lamunan liar tentang ratapan hati yang sepi. Di akhir masa penantian, anda telah mendapati diri anda sosok pribadi yang jauh lebih baik daripada saat awal penantian.

  • Jangan bersedih selama menanti

Tidak perlu meratapi masa penantian dan jangan menjadikan masa-masa menanti sebagai alasan untuk merubah karakter dari periang menjadi pemurung dan cengeng. Jangan memelihara kesedihan di dalam dada anda, kesedihan bagaikan serangga yang jika terpelihar akan terus beranak pinak berates bahkan beribu kali lipat dari semula. Ia beterbangan memenuhi ruangan, kemudian menyerang secara bersama-sama.

Basmilah kesedihan dengan mendengarkan bacaan  AL-Qur’an. Karena AL-Qur’an dapat menjadi penenang jiwa dan sebab turunnya rahmat Allah. 

Al A’raf 204. Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

Alihkan kesedihan dengan membaca kisah para sahabat, tai’in, dan orang-orang saleh setelahnya. Mereka tidak larut dalam kesedihan meskipun penghalang-penghalang dakwah terus mengancam.

Dengarkanlah nasyid-nasyid penggugah semangat. Bacalah buku-buku pembakar motivasi. Hadiri ceramah-ceramah yang memberi pencerahan.

[Yazid Subakti]

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *