Parenting – Dalam Islam terdapat adab safar. Ini karena perjalanan jauh safar akan mengubah sebagian hukum syariah, terutama yang berhubungan dengan ibadah.
Daftatr Isi
Tidak Sendirian
Melakukan perjalanan safar sebaiknya tidak sendirian, melainkan bersama beberapa orang yang terpercaya. Ini untuk pertimbangan keamanan dan bisa saling mengingatkan kebaikan dan melarang kemungkaran selama di perjalanan.
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar.“ (HR. Malik, Abu Daud, dan At Tirmidzi)
Lebih-lebih perjalanan malam hari, Rasulullah SAW mengingatkan agar jangan sampai sendirian,
“Andaikan orang-orang mengetahui akibat dari bersafar sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka mereka tidak akan bersafar di malam hari sendirian.“ (HR. Bukhari)
Serombongan dengan orang baik
Bersafar sebaiknya berombongan dengan orang saleh jika memungkinkan. Nabi SAW bersabda:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Teman safar yang salih akan memberi pengaruh kebaikan dan memberi peringatan jika kita lalai. Dalam acara safar keluarga, anda mestinya berhati-hati untuk tidak memasukkan orang dari luar keluarga yang tidak salih. Misalnya menyewa supir atau mengajak pembantu rumah tangga. Sering terjadi sopir sewaan ternyata perokok berat, peminum alkohol, dan tidak terbiasa salat sehingga selama mengantar dan di lokasi safar ada pemandangan mengganggu dengan kepulan asap rokok beserta baunya, minuman haram, dan sosok yang memilih tidur pada saat yang lain salat berjamaah.
Mengangkat pemimpin perjalanan
Pemimpin rombongan safar sebaiknya yang mempunyai akhlak yang baik, akrab, dan tidak egois. Untuk safar keluarga, seorang ayah adalah pemimpin rombongan yang memberi contoh seluruh keluarganya untuk memimpin. Di masa-masa berikutnya ketika anak sudah akil baligh, pemimpin bisa dari kalangan anak untuk belajar bertanggung jawab.
Perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar adalah hadits nabi SAW,
“Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu di antaranya sebagai ketua rombongan.” [HR Bukhari]
Pentingnya pemimpin perjalanan adalah agar selama safar ada satu orang yang bertanggung jawab mengarahkan, memfasilitasi musyawarah, atau mengambil keputusan. Jika terjadi situasi genting atau mendesak, maka pemimpinlah yang memutuskan rombongan harus berbuat apa.
Boleh Salat jama’
Anak-anak yang sehari-hari salat secara normal di masjid perumahan akan merasakan pengalaman salat dengan cara tidak biasa, yaitu salat jama’.
Salat jama’ adalah menggabungkan dua salat wajib dalam satu waktu salat. Misalnya zuhur dan asar dalam satu waktu, yaitu di waktu zuhur atau asarnya, dan maghrib dan isya dalam sekali waktu pada waktu maghrib atau isya. Salat subuh pada waktunya dan tidak dapat menjamak dengan salat sebelumnya atau sesudahnya.
Boleh menjama’ salat wajib ketika kita dalam perjalanan safar untuk memberi kemudahan dan kelancaran perjalanan. Menjama’ salat boleh secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas ra beliau mengatakan:
“Rasulullah SAW menjamak salat Zuhur dan salat Asar, dan menjamak salat Magrib dan Isya, di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim).
Salat Jama’ ini hanya boleh dilakukan saat perjalanan dirasa berat untuk mencari pemberhentian dan tempat yang layak untuk salat. Jika perjalanan sangat ringan dan dimungkinkan banyak tempat berhenti untuk salat dengan layak, maka tidak perlu menjama’.
Meng-qashar Salat
Qashar artinya meringkas jumlah rakaat salat, yaitu salat yang jumlah rakaatnya empat diringkas menjadi dua rakaat. Jadi, salat yang bisa diqashar adalah salat zuhur, ashar, dan isya’.
Meringkas jumlah rakaat salat atau qashar ini bukan hanya dibolehkan, tetapi dianjurkan ketika safar.
Ibnu Umar ra menceritakan: “Aku biasa menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau tidak pernah menambah salat lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, radhiallahu’anhum.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengqashar salat ketika safar hukumnya sunnah muakkadah, meskipun tetap sah jika tidak mengqasharnya (tetap dilakukan dengan empat rakaat). Jika seorang musafir bermakmum pada imam yang salatnya tidak qashar, maka makmum tidak boleh mengqashar meskipun seorang musafir.
Dengan mengikutkan safar, anak akhirnya mengalami sendiri bahwa ada praktik salat yang normalnya empat rakaat menjadi dua rakaat. Ini pengalaman dan wawasan yang sangat berguna baginya.
Persiapan pemberangkatan
Safar akan menempuh jarak jauh dengan kondisi selama perjalanan yang tak selalu dapat diperkirakan. Untuk itu, segala kemungkinan harus diantisipasi sejak awal. Libatkan anak dalam persiapan sebelum pemberangkatan agar ia memiliki pengalaman mempersiapkan perjalanan jauh.
Persiapan logistic
Yaitu bekal untuk penghidupan selama waktu-waktu tak memungkinkan membeli makanan. Pada ruas jalan tertentu aka nada tempat-tempat yang tak terdapat orang berjualan atau kalaupun ada tidak ada jaminan halalnya. Pada waktu tertentu misalnya di tengah malam sampai pagi juga sulit ditemukan penjual makanan sehingga mau tak mau harus ada bekal makanan siap konsumsi.
Makanan
Makanan untuk perjalanan jauh berbeda dengan makanan di rumah. Jikapun sama jenisnya, cara makannya akan berbeda karena kondisi darurat. Anda tak mungkin membawa semua piring dan gelas seperti di rumah, tetapi harus mengemas makanan dalam bungkus kertas atau dus dan di makan di tempat seadanya, bukan di meja seperti biasanya ketika di rumah. Jenis menu tidak banyak berkuah. Jenis makanan ringan dipilih yang kering dan praktis. Mengandung kalori dan vitamin yang tinggi.
Obat
Menyediakan obat-obatan yang selama ini sering digunakan karena penyakit tertentu. Beberapa orang menderita alergi sehingga setiap terkena debu, hawa dingin, hawa panas, atau faktor lain sehingga harus membawa obat anti alergi. Bisa jadi beberapa orang sehat-sehat saja, tetapi di saat tertentu mungkin saja sakit flu, batuk, demam, infeksi mata, maag, atau lainnya sehingga obat-obatan tetap harus disiapkan. Beberapa anak mudah mabuk perjalanan sehingga harus membawa obat anti mabuk.
Pakaian ganti yang cukup
Paitu sesuai dengan jenis aktivitas selama safar dan jumlah hari bepergiannya. Semakin padat aktivitas, semakin cepat pakaian kotor atau menuntut pergantian kostum tertentu sesuai jenis acaranya. Semakin lama bepergian, semakin banyak berganti pakaian.
Alat Komunikasi
Menyiapkan alat komunikasi dalam keadaan siap pakai baik alatnya maupun biaya operator penyelenggara saluran komunikasinya. Komunikasi ini sangat penting selama safar karena dalam keadaan tertentu ada kabar yang harus disampaikan kepada keluarga atau siapapun yang harus dihubungi.
- Uang
Jangan lupa uang atau bentuk lain dari uang untuk jual beli, misalnya kartu yang dapat digunakan untuk menarik uang atau uang elektronik yang dapat digunakan untuk jual beli di tempat yang dapat melayani secara elektronik. Namun bagaimanapun, uang tunai tetap perlu karena beberapa toko atau warung di pinggir jalan hanya akan bersedia jual beli dengan uang tunai.
Peralatan kebersihan secukupnya
Yaitu alat-alat dan bahan untuk mandi, keramas jika memungkinkan, dan menggosok gigi. Jadi, anda tetap membawa sabun, sampo, dan sikat gigi sebagai ikhtiar melanjutkan kebiasaan hidup bersih meskipun dalam perjalanan.
Alat ibadah
Yaitu alat-alat untuk salat dan mushaf untuk membaca Al-Qur’an. Tunjukkan teladan anda kepada anak bahwa sesulit apapun perjalanan, ibadah tetap akan dilakukan, bahkan memungkinkan lebih khusyu’ daripada biasanya.
Mengemas semua alat dan keperluan dengan kemasan yang rapi, praktis dan aman
Jangan biasakan bepergian dengan barang-barang yang terkemas dalam bentuk bungkusan kecil-kecil tetapi banyak. Yang praktis adalah satu atau dua bungkus besar dan agak kecil, agar tidak membingungkan. Barang yang akan diperlukan sewaktu-waktu dikumpulkan dalam tas kecil yang selalu dibawa, sementara benda lainnya di koper atau tas besar yang tidak dibuka sebelum sampai tujuan.
- Menyiapkan kondisi kendaraan
Jika safar menggunakan kendaraan pribadi, maka kendaraan harus dalam kondisi siap jalan. Sebaiknya servis kendaraan dua atau tiga hari sebelum berangkat, untuk memeriksa bagian-bagian yang berkemungkinan rusak.
Salat dua rakaat sebelum berangkat dan dua rakaat sepulangnya
Melakukan salat dua raka’at ketika hendak pergi safar adalah sunnah. Begitu pula sepulangnya dari perjalanan. Ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,
“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah” [HR Al Bazzar]
Mulai berangkat dengan membaca doa
Mulailah pemberangkatan safar dengan doa memohon kekuatan kepada Allah, memohon perlindungan dan keselamatan selama perjalanan agar sampai tujuan.
Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda:
”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)’” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi).
Ajarkan doa ini kepada anak, lalu ajak membacanya bersama atau sendiri-sendiri sebagai rasa tawakal atau menyerahkan keputusan terbaik kepada Allah.
Berpamitan
Ketika bepergian, anda mestinya berpamitan kepada orang-orang yang anda tinggalkan, yaitu keluarga, tetangga, atau kerabat. Maksud berpamitan ini adalah pemberitahuan untuk memohon doa keselamatan dan sebagai kabar bahwa anda akan meninggalkan mereka beberapa waktu. Kelak jika terjadi sesuatu pada anda, mereka akan memaklumi.
Jika ada hal-hal yang perlu dititipkan, titipkan kepada mereka. Jika ada pesan-pesan yang harus ditunaikan selama anda bepergian, sampaikan pesan itu. Atau ada kewajiban-kewajiban kepada mereka yang harus anda penuhi, sebaiknya penuhi dulu kewajiban itu.
Anda harus memastikan bahwa di hari-hari yang anda tinggalkan tidak ada janji untuk bertemu dengan seseorang. Jika ada, anda harus meminta kerelaannya untuk membatalkan atau membuat jadwal ulang.
Saat bepergian, sebaiknya semua persoalan sudah terselesaikan atau titipkan kepada orang yang terpercaya. Tidak mengapa jika anda menitipkan kunci kepada petugas keamanan, tetangga terpercaya atau kepada saudara. Ini penting agar suatu saat jika peristiwa mencurigakan atau darurat di rumah, orang-orang ini tetap dapat membuka rumah untuk melakukan penyelamatan.
Memperbanyak zikir dan doa selama di perjalanan
Waktu selama di perjalanan sebaiknya memperbanyak doa. Sebab, safar adalah salah satu waktu mustajab saat terkabulkannya doa. Ini seperti sabda Rasulullah SAW sebagai riwayat hadits Dari Abu Hurairah ra,
“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Selain berdoa, selama di perjalanan sebisa mungkin banyak berzikir. Zikir membuat kita ingat kepada Allah dan menambah rasa tawakal kepada-Nya. Sebab, kita tak pernah tahu akhir dari perjalanan ini seperti apa. Jika berakhir dengan kematian (misalnya karena kecelakaan), maka setidaknnya kita meninggal dalam keadaan sedang berzikir.
Safar seperlunya
Safar sebaiknya seperlunya saja. Maksudnya, jika semua urusan penting yang menjadi tujuan safar telah selesai, maka sebaiknya segera pulang tanpa berlama-lama lagi untuk acara yang kurang penting.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Safar adalah sepotong azab, seseorang di antara kalian ada yang terhalang untuk makan, terhalang untuk minum atau untuk tidur. Maka jika kalian sudah menyelesaikan urusannya, maka hendaknya segera kembali pada keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
[Yazid Subakti]

