Membimbing Cara Bersuci

Membimbing Cara Bersuci

Parenting – Cara bersuci atau thaharah dalam istilah para ahli fiqih adalah mensucikan anggota tubuh tertentu dengan cara tertentu. Thaharah menempati bahasan sangat penting karena tanpanya beberapa ibadah utama kita kepada Allah SWT tidak diterima. 

Thaharah tidak selalu bermakna membersihkan, meskipun tetap memiliki hubungan yang kuat dengan kebersihan. Bersih atau sucinya thaharah adalah bersih atau suci di hadapan Allah, yang belum tentu dimaknai sama oleh manusia. Pada umumnya manusia menolak debu yang menempel pada benda karena tampak lusuh, apapun debu itu. Tetapi debu ternyata menjadi benda yang dapat digunakan untuk bersuci. 

Jadi, sucinya thaharah adalah suci menurut Allah, yang segala ketentuannya juga diatur oleh-Nya. 

  1. Pentingnya thaharah 

Pentingnya thaharah bukan hanya pada kebersihan yang kita dapatkan, bahkan beberapa jenis thaharah seolah tidak membersihkan di mata manusia. Melakukan thaharah adalah menaati perintah Allah dan ketentuan-Nya.

  • Dicintai oleh Allah 

Allah SWT memuji dan mencintai orang-orang yang selalu menjaga kesucian. Di dalam Al Qur’an disebutkan, 

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat dan orang-orang yang membersihan diri. (QS. Al-Baqarah : 222). 

Pribadi muslim sejati adalah mereka yang bersuci dan menjaga kesuciannya, dan tidak menyukai orang-orang yang kotor dan keji. Rasulullah SAW memberi peringatan kepada sahabatnya,

Sesungguhnya Allah tidak menyukai hal yang kotor dan keji. (HR. Ahmad) 

  • Menjadi syarat sah ibadah

Selain menjadi bagian dari tanda keimanan, kesucian adalah syarat sah ibadah. Tanpa bersuci, ibadah seorang hamba akan menjadi perbuatan tanpa makna. 

Dari Ali bin Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Kunci shalat itu adalah kesucian, yang mengharamkannya adalah takbir dan menghalalkannya adalah salam’. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah) 

Jadi, anak-anak dibimbing melakukan thaharah bukan semata untuk menjadikannya bersih, melainkan sebagai awal pengkondisian agar ia mulai terbiasa menjadi hamba yang menaati perintah Allah. 

  1. Mengenalkan jenis dan tingkatan najis dan cara bersuci dari najis

Sejak dini, kenalkan anak pada berbagai macam benda yang najis dan ajaklah untuk menghindarinya. Jika ia terlanjur terkena najis, ajarilah cara mensucikannya. 

  • Najis ringan (mukhaffafah), jenis najis ringan yang cara mensucikannya cukup dengan memercikkan air kepada bagian yang terkena najis. Contoh najis ini adalah air kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun kecuali ASI. 
  • Najis sedang (mutawasitah), yaitu jenis najis menengah yang cara mensucikannya yaitu dengan membasuh bagian yang terkena najis hingga bau, warna dan rasanya hilang dari benda yang terkena. Contoh jenis najis ini adalah air kencing dewasa, darah, dan bangkai (selain ikan dan belalang).
  • Najis berat (mughalladzah), yaitu jenis najis yang cara mensucikannya harus dengan air suci sebanyak tujuh kali, sedangkan salah satu dari pengulangan itu menggunakan tanah. Contoh najis jenis ini adalah bekas jilatan anjing atau jilatan babi karena terkena air liurnya. 
  1. Mengajarkan cara wudhu dan mengingatkan pembatalnya 

  • Berwudhu yang wajib dan sunnah

wudhu wajib oleh orang muslim sebelum melakukan sholat, tawaf memutari ka’bah dan sebelum memegang kitab suci al-quran. Hukum wudhu juga bisa sunnah jika untuk melakukan kegiatan kebaikan sehari-hari, menjelang tidur, meredakan amarah, dan mengumandangkan adzan. 

Rukun wudhu adalah urutan kegiatan yang harus saat wudhu, yang jika tidak melakukannya dengan tertib menyebabkan hukum tidak sahnya wudhu. 

  • Mengingatkan hal-hal yang membatalkan wudhu 

Ada lima penyebab batalnya wudhu. Jika salah satunya terjadi, maka wudhu batal dan kembali berada dalam hadats kecil. Untuk melakukan ibadah (misalnya salat), maka wudhu harus wudhu lagi

Pertama, apabila keluar sesuatu dari salah satu lubang kemaluan. Baik yang keluar itu adalah sesuatu yang biasa keluar seperti kencing dan tai, atau benda yang jarang keluar seperti darah dan cairan lain. 

Kedua, tidur sampai hilang kesadaran atau hilang ingatan. Ada pengecualian untuk tidur, yaitu tidur orang mutamakkin maq’adahu yaitu tidur dalam keadaan duduk rapat bagian punggung dan pantatnya dengan tempat ia duduk.

Ketiga, hilangnya kesadaran atau hilangnya akal karena mabuk, gila, atau selainnya. Hilang akal dalam keadaan ini lebih berat dari pada tidur, karena kesadarannya jauh lebih hilang daripada orang yang sekedar tertidur.

Keempat, bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan lain yang bukan mahram. Mahram adalah wanita yang haram menikahinya karena ikatan nasab, sepersusuan atau ikatan pernikahan. Sedangkan maksud dari bersentuhan adalah sentuhan yang langsung mengenai sesame kulit tanpa penghalang.

Kelima, menyentuh kemaluan orang lain atau dirinya sendiri atau menyentuh tempat pelipis dubur dengan telapak tangan atau telapak jarinya.

[Yazid Subakti]

Kesalahan Memilih Sekolah

Kesalahan Memilih Sekolah

Parenting – Kadang para orang tua masih terjebak dalam kesalahan memilih sekolah untuk anaknya. Anak yang salah masuk sekolah menghadapi pelajaran bukan sebagai kebutuhannya.

1. Salah persepsi tentang sekolah 

Masih banyak orang tua yang mengira bahwa sekolah merupakan tempat pendidikan utama yang akan membentuk semua kebaikan anak. Mereka ingin anaknya pintar dan cerdas di sekolah, berprestasi, salih, sehat, sopan, dan semua kebaikan dibentuk di sekolahnya. Mereka mengkritik pihak sekolah manakala terdapat kekurangan layanan atau hasil yang ia dapati pada diri anaknya. 

Mendidik anak itu tetap menjadi tanggung jawab orang tuanya, sehingga anak lebih berhak mendapatkan didikan dari orang tuanya sendiri. Begitu besarnya keharusan orang tua mendidik anak sampai-sampai Rasulullah mengajarkan doa anak untuk orang tua dengan mengingat jasa pendidikannya di waktu kecil,

Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, dan dosa-dosa kedua orang tuaku. Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka mendidikku semasa kecil

Jadi, syariat belum pernah berubah bahwa mendidik anak adalah tugas orang tua. Sedangkan sekolah menjadi tempat belajar mengembangkan kecerdasan dan pelajaran formal yang menyambung karakter baik anak yang sudah dikembangkan oleh orang tuanya di rumah. Orang tua mengajarkan aqidah dan dasar-dasar ibadah, pihak sekolah menyempurnakan dan memberi ragam praktiknya. Orang tua menanamkan karakter semangat, optimis, disiplin, dan bertanggung jawab sedangkan sekolah memberinya contoh nyata yang lebih beragam dan menantang. 

Persepsi lain yang perlu diperbaiki dari orang tua adalah memandang sekolah seolah sebuah industri.

Sekolah dipandang sebagai industri yang produknya berupa jasa pencetak bakat dan pencerdas anak. Maka hubungan antara orang tua dengan pihak sekolah adalah transaksi jual beli jasa. Sekolah menawarkan berbagai keunggulan jasa yang menggiurkan, dan orang tua membayar untuk pelayanan anaknya. Orang tua hanya tahu bahwa ia sudah membayar, yang artinya ia menyerahkan semua hal tentang anaknya kepada sekolah dan akan menuntut bila yang telah ditawarkan pihak sekolah tidak sesuai dengan yang diterima anaknya. 

Suasana menuntut ilmu seperti ini diam-diam bisa menumbuhkan ketidaknyamanan bagi anak, penyimpangan tujuan, dan dikhawatirkan menghilangkan keberkahan ilmu yang didapatkan. Seharusnya hubungan orang tua dengan pihak sekolah adalah mitra, yaitu sekolah menjadi perpanjangan pendidikan orang tua dan pelengkap yang oleh karenanya orang tua tetap akan terhubung dan bekerja sama dengannya. Di tingkat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, orang tua perlu mengenal guru yang mengajari anak-anaknya dan menjalin hubungan baik dengan mereka. 

2. Ambisi atas sekolah tertentu 

Setiap orang tua berhak memilih sekolah bagi anaknya, pada jenis sekolah yang paling ia idam-idamkan. Biasanya, orang tua malah berambisi menyekolahkan anaknya pada sekolah tertentu yang menurutnya paling bagus, paling bergengsi, paling populer, atau paling menjanjikan masa depan anaknya. 

Ambisi ini ada kebaikannya, tetapi harus diimbangi dengan pengetahuan yang memadai tentang dunia persekolahan. Anda harus memahami bahwa bagaimana sebuah sekolah menjadi popular atau tampak megah dan bergengsi. Jika semua terjadi akibat promosi yang digencarkan, maka tidak ada jaminan sekolah tersebut memberikan layanan seperti yang Anda harapkan. Beberapa sekolah terkesan besar karena berhasil dalam pencitraannya, bukan oleh kualitas pelayanan dan prestasi mendidiknya.

3. Akibat salah memilih sekolah 

Setiap sekolah memiliki catatan mengenai siswanya yang bermasalah atau pindah. Sebagian dari persoalan ini ternyata akibat dari ketidakcocokan siswa terhadap suasana dan apa yang ia dapatkan di sekolahnya.

  • Anak menolak aturan sekolahnya

Ia menganggap semua yang ada di sekolah adalah salah atau tidak menguntungkannya. Aturan sekolah ia rasakan sebagai kebiasaan yang aneh atau tidak menyenangkan sehingga ia menolaknya. Ia tidak menyukai warna seragamnya, tidak nyaman dengan ruangan atau halamannya, tidak dapat mengimbangi pergaulan dengan teman-temannya, atau bahkan sulit menerima interaksi gurunya. 

  • Anak menjadi agresif atau sebaliknya, menjadi pribadi yang rendah diri

Ia merasa bahwa lingkungan sekolahnya bukanlah untuk dirinya. Ia mendapati suasana yang serba cepat, sedangkan dirinya adalah tipe orang yang santai atau sebaliknya, ia sebagai orang yang terbiasa cekatan mendapati lingkungan yang serba lambat. Pelajaran yang tidak sesuai potensinya membuatnya tertekan. Dalam kondisi tertekan, hanya ada dua kepribadian yang tampak, yaitu ingin memberontak dan agresif atau tak berdaya dan rendah diri. 

  • Semangat belajar melemah

Anak yang salah masuk sekolah menghadapi pelajaran bukan sebagai kebutuhannya. Ia menganggap semua yang diajarkan adalah kebutuhan orang tuanya, sebagaimana orang tua bersikeras memilihkan sekolah itu untuknya. Kalaupun ia berprestasi, maka semua itu hanya untuk menyenangkan orang tuanya. Ia, biasanya sulit mandiri dalam belajar. Setiap haris orang tua harus membangkitkan semangatnya, bahkan dengan berbagai iming-iming imbalan kalau berprestasi. 

  • Terhentinya cita-cita

Cita-cita berhubungan dengan ketertarikan, potensi, dan orientasi anak. Si kecil yang lincah dan kreatif ingin mengembangkan kemampuan seninya, tetapi orang tua memilihkan sebuah sekolah yang hanya mementingkan prestasi akademik. Ia menjadi frustasi, seolah sekolah tidak mendukung kepintaran dan masa depannya.

Dampak yang paling fatal dari kesalahan memilih sekolah adalah terhentinya cita-cita anak. ia putus asa, dan merasa cita-citanya tak akan menjadi kenyataan kalau harus bersekolah di tempat yang ia hadapi saat ini. 

4. Mengkondisikan Anak utuk Siap Bersekolah

Anak-anak memang tidak dapat dipaksakan untuk bersekolah jika belum siap. Tetapi jika terus menerus demikian, maka ia dapat mengalami berbagai hambatan di hari depannya. Untuk itu, orang tua dapat membuat pengkondisian agar ia lebih siap bersekolah. 

  • Mengenalkan siklus waktu 

Anak-anak tidak terlalu peduli dengan waktu., dan akan terus terlena jika tidak dikenalkan pentingnya menggunakan waktu dan setiap waktu terdapat peruntukannya masing-masing. Salah satu keengganan anak untuk mulai masuk sekolah adalah karena ia belum terbiasa membagi waktu sesuai peruntukannya. 

  • Membiasakan aturan atau norma

Sekolah adalah aktivitas yang di dalamnya terdapat aturan dan norma-norma. Ada keharusan memakai seragam pada hari tertentu, Anak-anak perlu paham, dan mulai mengenalbahwa kehidupan memang memiliki peraturan dan tata cara. Termasuk ketika bersekolah dan bergaul dengan teman-temannya. 

  • Melibatkan dalam hubungan sosial

Sebagian anak menolak untuk mulai bersekolah karena tidak bersedia bertemu atau dekat dengan orang-orang baru. Padahal salah satu makna penting bersekolah adalah untuk mulai bersosialisasi dengan sesama. Anak-anak akan berkenalan dan berteman dengan anak-anak yang baru ia kenal.

  • Memberi kesempatan berpisah dari orang tua

ini adalah latihan kemandirian. Dalam sehari, anak peru berpisah beberapa jam dari orang tuanya agar pada saat mulai bersekolah ia tidak merengek meminta orang tua untuk menunggunya.

[Yazid Subakti]

Pertimbangan Memilih Sekolah

Pertimbangan Memilih Sekolah

Parenting – Setiap sekolah tidak dapat memilih latar belakang siswa dengan begitu ketatnya. Maka dari itu Ayah dan Bunda harus pandai mempertimbangkan dalam memilih sekolah untuk si kecil.

  1. Kembali pada visi keluarga

Visi keluarga benar-benar diuji begitu anak mulai menghadapi usia masuk sekolah. Di masa ini, Anda akan mengetahui seberapa tajam visi keluarga Anda, seberapa istiqamah terhadapnya, bahkan menyadari jangan-jangan selama ini memang tak pernah memiliki visi keluarga.

Keluarga lemah yang hidup tanpa visi akan memilih sekolah dengan pertimbangan klasik: sekolah yang paling mudah dijangkau lokasi dan biayanya, sekolah yang paling dekat dan murah, sekolah yang lengkap fasilitasnya, atau sekolah yang nilai gengsinya tinggi. 

Jika demikian, di manakah visi?

Visi dirumuskan untuk menjadi arah masa depan keluarga, termasuk urusan memilih sekolah. Jika visi Anda sejak awal pernikahan adalah membentuk keluarga Qur’ani, misalnya, pastilah Anda memilihkan anak sekolah yang mendukung pengajaran Al-Qur’an. Anda tidak tergiur dengan sekolah yang jaraknya dekat, fasilitasnya mewah dan murah, jika sekolah tersebut tidak mendukung pembelajaran Al-Qur’an. 

Ujilah visi keluarga Anda, dan buktikan Anda mulai mewujudkannya melalui pemilihan sekolah anak-anak. 

  1. Tak ada satupun sekolah yang sempurna 

Sayangnya, tidak pernah ada satupun sekolah yang sempurna. Sekolah-sekolah didirikan dengan ciri khas masing-masing, berjalan bersama kelemahan dan kelebihannya. Beberapa sekolah berhasil menjadikan lembaganya maju dan berkualitas, tetapi tidak benar-benar menghilangkan kelemahannya. Sebaik apapun sekolah tetap ada kelemahannya. 

Setiap sekolah tidak dapat memilih latar belakang siswa dengan begitu ketatnya. Artinya, sebaik apapun sebuah sekolah tetap akan berisiko kedatangan siswa yang nantinya akan membawa dampak buruk bagi teman-temannya, termasuk anak anda. Beberapa jenis penyakit menular yang selama ini anda takutkan, menjangkiti anak anda karena tertular oleh teman sekelasnya yang terjangkit. Selama di rumah, Anda begitu melindungi si kecil dari kata-kata kotor dan perilaku buruk. Begitu mulai bersekolah, ia mulai mendengar beberapa kosakata berkonotasi negatif dan menyaksikan perilaku buruk seorang temannya. 

Dalam komunitas sesama wali murid, Anda tidak menyangka ternyata ada wali murid yang menyebalkan, bahkan merugikan. Sebagian perilaku guru di saat tertentu mungkin saja kurang bersahabat. Beberapa kebijakan sekolah mungkin juga terkesan mengada-ada atau aneh. 

Itu semua adalah contoh kekurangan di sebuah sekolah, yang tidak mungkin semuanya bisa hilang. 

Berhentilah mencari sekolah sempurna. Pilih saja sekolah yang di dalamnya kebutuhan anak dapat terpenuhi, meskipun tidak mungkin terpenuhi semuanya juga. Pentingkan apa yang menjadi kebutuhan anak, bukan gengsi atau ego orang tua. Untuk itu, lagi-lagi orang tua harus banyak berkomunikasi dengan anak agar mengetahui kebutuhannya, dan benar-benar mengenalinya dengan amat tepat.

[Yazid Subakti]

Bersama-sama, Tanamkan Prinsip Ini!

Bersama-sama, Tanamkan Prinsip Ini!

Parenting – Ada prinsip luhur yang sangat baik ditanamkan kepada anak-anak sebagai pencari ilmu. Cobalah tanamkan prinsip tersebut kepada si kecil.

  1. Menuntut ilmu adalah keharusan 

Yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah hati dan akal pikirannya. Oleh karena itu, menuntut ilmu adalah keharusan yang juga sekaligus kebutuhan. Ia menjadi kunci segala kebaikan dan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Begitu pentingnya ilmu bagi manusia, sampai Rasulullah SAW menyatakan wajibnya menuntut ilmu bagi setiap muslim. 

Beliau SAW bersabda,

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah)

Kebutuhan pada ilmu lebih besar daripada kebutuhan pada makanan dan minuman, sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad mengatakan, “Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu.”

  • Dimudahkannya jalan menuju surga

Ilmu dapat menjadi sebab seorang hamba mudah jalannya menuju surga. Sebagaimana oleh hadits Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). 

Mengajarkan atau memberi kesempatan anak untuk mempelajari ilmu mengenal Allah, ilmu tentang tata cara ibadah, ilmu seputar hukum-hukum islam, atau ilmu untuk menguasai bacaan dan mendalami Al-Qur’an berarti memberi kemudahan baginya jalan menuju surga. 

  • Sebagian Ilmu adalah kekal

Sebagian ilmu, yaitu ilmu-ilmu syar’i akan kekal oleh Allah dan tetap memberi manfaat meskipun pemiliknya telah meninggal. 

Rasulullah menyampaikan dalam haditsnya,

“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim). 

Ilmu yang dikuasai, kemudian diajarkan kepada orang lain dan tetap bermanfaat bagi manusia akan mengantarkan pemiliknya di alam kubur mendapat amal jariyah. Di alam kubur, pemilik ilmu tetap mendapat aliran pahala dari orang-orang yang mendapat manfaat atau ajaran dari ilmunya. 

  • Ilmu menuntun pada ketaatan 

Yang paling takut pada Allah adalah orang yang berilmu. Allah menyatakan demikian dalam kitab-Nya,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Para ulama adalah orang yang berilmu. Semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia memiliki sifat dan nama yang sempurna, mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya yang menuntunnya kepada ketaatan. 

  • Orang berilmu akan diangkat derajatnya

Ini sudah menjadi janji dan ketetapan Allah, seperti dalam firman-Nya,

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah : 11).

Mendorong anak-anak menuntut ilmu secara tidak langsung adalah ikhtiar orang tua mengangkat derajat mereka. 

  1. Prinsip seorang pencari ilmu 

Ada prinsip luhur yang sangat baik tanamkan kepada anak-anak sebagai pencari ilmu. Prinsip ini berisi enam pesan dari Imam Az Zarnuji yang yang tertuang dalam kitabnya, Ta’limul Muta’allim. 

“Ingatlah, Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi enam syarat. Saya akan beritahukan keseluruhannya. Yaitu kecerdasan, kemauan, sabar, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang lama ” 

  • Kecerdasan (Dzakaa-un)

Ada dua jenis kecerdasan yang harus ada bagi pencari ilmu, yaitu kecerdasan bawaan yang berasal dari Allah, dan kecerdasan yang ia dapatkan melalui ikhtiar. Kecerdasan bawaan atau potensi menjadi bekal memilih tempat mencari ilmu dan jenis ilmu yang ia cari, sedangkan kecerdasan hasil ikhtiar bisa melalui motivasi dan bimbingan.

  • Semangat yang kuat (Hirsun)

Pencari ilmu harus memiliki semangat dan dorongan yang kuat untuk menguasai ilmu yang ia cari (courious). Tidak ada perasaan puas dalam pengetahuan, selalu ingin tahu dan semakin ingin menguasainya. Selama belajar, pikiran mampu fokus pada apa yang gurunya sampaikan. 

  • Kesabaran (Ishtibarin)

Akan banyak tantangan dan kesengsaraan dalam menuntut ilmu. Kesabaran menuntut ilmu berarti tidak mudah menyerah atas tantangannya. Tantangan dari diri sendiri adalah rasa malas dan lelah atau bosan, sedangkan tantangan dari luar diri sendiri adalah tempat dan fasilitas belajar yang kurang nyaman atau cara penyampaian guru yang kurang sesuai selera.

  • Biaya (Bulghatin)

Anak-anak perlu sadar bahwa ilmu memerlukan biaya. Biaya adalah uang sebagai bentuk kewajiban untuk pembayaran, imbalan dalam bentuk apapun sebagai ungkapan balas jasa atau rasa terima kasih, perbekalan yang mendukung selama masa-masa mencari ilmu, dan apapun yang di keluarga sebagai bentuk pengorbanan demi mendapatkan ilmu. Imam Malik menjual salah satu Kayu penopang atap rumah untuk menuntut ilmu. Imam Ahmad melakukan perjalanan jauh ke tempat negara untuk mencari ilmu. Semuanya dengan satu niat, yaitu demi mendapatkan ilmu.

  • Petunjuk Guru (Irsyadu ustadzin)

Setiap penuntut ilmu adalah murid, yang mendapat ilmu dari gurunya. Meskipun seorang murid dapat membaca kitab, ia memerlukan bimbingan guru agar apa yang ia baca tidak menyesatkannya. Guru menjadi tempat bertanya, sosok yang mengarahkan, memberi penjelasan dan peneguhan atas ilmu yang ia kaji. 

Dengan jasa guru seperti ini, murid harus tahu diri dan menghargai gurunya. 

  • Waktu yang Panjang

Maksudnya adalah perlunya meluangkan waktu secara khusus, bukan belajar di waktu-waktu sisa. Ini mengandung hikmah tentang adab belajar, yaitu bahwa menuntut ilmu memerlukan penghargaan atas ilmu itu. Meluangkan waktu utama atau untuk mempelajari ilmu berarti menyediakan waktu yang cukup, kemudian menjadikan kegiatan belajar sebagai prioritas kegiatan sepenuhnya di dalamnya. Ibu adalah bukti kesungguhan dan penghormatan terhadap ilmu yang ia pelajari dan guru yang ia hadapi. Sebaliknya, belajar di waktu sisa adalah bukti ketidak sungguhan dan menyepelekan ilmu, serta tidak adanya penghormatan kepada guru. 

[Yazid Subakti]

Mengenal Diri Sendiri

Mengenal Diri Sendiri

Parenting – Setelah si kecil telah menganal pencipta, Rasul hingga malaikat-Nya, Bunda juga harus mulai mengajarkan anak untuk mengenal diri sendiri.

1. Mengenalkan jenis kelaminnya 

Salah satu bencana terbesar umat ini adalah ketika manusia telah mengingkari jenis kelamin yang telah ada padanya. Anak laki-laki ingin menjadi perempuan dan akhirnya bergabung dalam golongan kaum banci meskipun ia tetap sadar dirinya laki-laki, sedangkan anak perempuan ingin menjadi laki-laki dan masuk dalam golongan kaum tomboy meskipun ia juga sadar bahwa dirinya tetap seorang perempuan. Di luar itu, ketidakpuasan jenis kelamin telah banyak memicu tindakan operasi plastic pindah kelamin; laki-laki mengubah dirinya menjadi perempuan dan perempuan mengubah dirinya menjadi laki-laki. 

Ketidakpuasan gender juga berkaitan dengan perilaku terlaknat, yaitu laki-laki yang seharusnya berhasrat kepada perempuan mengubah hasratnya kepada sesame laki-laki, dan demikian juga perempuan kepada sesama perempuan. 

Keprihatinan kita semakin menjadi-jadi, ketika penyimpangan-penyimpangan ini dengan bebas menampakkan diri atau bahkan mempengaruhi manusia secara terbuka, bahkan mendapat pembelaan dari tokoh-tokoh pegiat kebebasan. 

Tentu saja, mereka melakukan penyimpangan itu tidak dengan tiba-tiba. Maka, salah satu pendidikan mengenali diri yang pertama dilakukan untuk anak adalah mengenalkan jenis kelaminnya. 

  • Memberi pakaian sesuai jenis kelaminnya

Sebagian dari kebutuhan anak adalah berbeda antara laki-laki dengan perempuan. Saat baru lahir, sebagian besar pakaian bayi tidak berbeda dengan antara laki-laki dan anak perempuan. Semakin bertambah usia, semakin bedakan jenis pakaiannya yang menguatkan jenis kelaminnya. Jika ia anak perempuan, berikan pakaian yang berciri khas perempuan, aksesori dan motif perempuan, serta warna-warna yang bernuansa feminin. Bagi anak laki-laki, sediakan baginya pakaian yang berciri khas laki-laki dengan aksesori dan motif serta warna maskulin. 

  • Memberi mainan sesuai jenis kelaminnya

Kebutuhan lain anak-anak adalah mainan. Mainan merangsang anak untuk berimajinasi dengannya. Maka, arahkan anak agar berimajinasi tentang hall-hal yang lazimnya akan dihadapinya secara nyata kelak. 

Anak laki-laki bermain mobil-mobilan, dengan imajinasi menyetir berbagai macam mobil yang ia sukai. Lebih maskulin, mungkin ia bermain pistol-pistolan dan berfantasi menjadi seorang polisi yang memberantas kejahatan. Inilah fitrah laki-laki yang berpotensi memimpin, menjadi penjaga atau pelindung. 

Anak perempuan berfantasi mengasuh bonekanya, seolah boneka-boneka itu bisa berbicara. Ia menyuapi, menggendong, bahkan memandikan dan menghibur bonekanya itu. Sembari itu, ia menyiapkan peralatan dapur dan berfantasi dengan alat dapur mainannya itu. Inilah fitrah perempuan yang berpotensi mengatur, melayani dan menekuni urusan yang detail. 

  • Memberi peran sesuai jenis kelaminnya

Sebagian peran anak laki-laki akan berbeda dengan anak perempuan. Anak laki-laki banyak mendapat peran di luar rumah, pekerjaan yang menguras tenaga fisik atau motorik kasar, menjaga keamanan dan memberi perlindungan, serta memimpin suatu kegiatan bersama. Mereka dikenalkan semua peran, tetapi lebih diarahkan membantu atau mewakili peran ayahnya. Lazimnya, ayah adalah sosok yang merawat kendaraan, memperbaiki bagian rumah yang rusak, atau mengangkat benda-benda berat. 

Ini agak berbeda dengan perempuan. Para perempuan mendapat bagian pekerjaan yang tidak menguras tenaga fisik kasar. Tidak seberat laki-laki tetapi banyak dan detail.

Ajaklah anak perempuan ada peran yang mendekatkan dunia ibunya. Lazimnya, ibu adalah sosok yang cerdas mengatur, teliti dalam urusan yang detail. Libatkan ketika anda berbelanja, mengolah bahan makanan di dapur, atau menata rumah. 

  • Menjelaskan makna nama 

Pada nama terkandung makna dan harapan, juga identitas dan jenis kelaminnya. Nama-nama tertentu memang berciri khas laki-laki, dan nama-nama yang lainnya memang berciri khas perempuan. Hanya sedikit nama yang dapat digunakan kedua jenis kelamin. 

Kenalkan anak-anak pada namanya, beserta makna dan yang diharapkan dari nama tersebut. Kepada anak laki-laki, ingatkan bahwa dengan namanya itu ia memang seorang laki-laki yang diharapkan menjadi seperti maknanya. Begitu juga kepada anak perempuan, ingatkan bahwa namanya itu mengandung makna seorang perempuan yang orang tua berharap ia akan menjadi seperti maknanya.

2. Mengenalkan bagian-bagian tubuh anak

Sebenarnya, tanpa diberitahu pun anak akan menggunakan organ tubuhnya sesuai kegunaannya. Fungsi organ tubuh akan terjadi sesuai naluri dan sangat alami. Tetapi itu saja ternyata tidak cukup. Anak-anak perlu belajar mengenai organ tubuhnya berkaitan dengan pemberlakuan adab atau etika dan perawatannya. Organ bagian tubuh kanan mungkin saja berfungsi sama dengan bagian kiri, tetapi etika mengaturnya berbeda. 

  • Nama-nama organ dan kegunaannya

Saat bayi mandi adalah kesempatan terbaik bagi orang tua mengenalkan anggota tubuhnya. Sentuh bagian tubuhnya dan sebut nama serta kegunaannya. Tangan untuk memegang yang baik-baik, kaki untuk berjalan, mata untuk melihat, dan sebagainya. Saat ceria bersantai, ajak si kecil bermain dengan mengikuti gerakan Anda menyentuh bagian tubuh sesuai yang Anda ucapkan. Jangan lupa juga menjelaskan kegunaannya. 

  • Bagian yang harus dilindungi dan cara menjaganya

Inilah bagian pendidikan yang jauh lebih penting dari sekedar mengetahui nama dan kegunaan organ tubuh. Anak-anak perlu mengetahui bahwa ada bagian tubuhnya yang perlu mendapat perhatian khusus melebihi organ yang lain, dan berbahaya jika terabaikan. 

Kenalkan cara memperlakukan kepala dan semua organ yang ada padanya. Kepala harus dilindungi dari benturan, dan panca indera harus dihindarkan dari masuknya benda yang berbahaya. Di dalam dada dan perut terdapat jantung, paru-paru, dan alat pencernaan sehingga bagian ini harus dihindarkan dari tekanan. 

Sambil mengenalkan perlindungan organ, sampaikan bahwa ada organ yang benar-benar tidak boleh ditampakkan, yaitu alat kelamin dan bagian yang disebut aurat. 

Menutupi bagian tubuh adalah bagian dari cara merawatnya. Cara lainnya adalah membersihkan, memotong kuku, menyisir rambut dan bercukur jika terlalu panjang, menggosok gigi, cuci tangan sehabis bermain dan sebelum atau setelah makan, dan rajin mandi dengan teratur.

3. Mengenalkan identitas anak 

  • Nama panggilan, nama lengkap, atau panggilan kesayangan 

Nama anak menjadi identitasnya. Kenalkan ia pada nama panggilannya, nama lengkapnya, dan bila ada panggilan kesayangannya. Sering-sering menyebut namanya dapat membantu si kecil, terutama ketika bayi, membedakan dirinya dengan anak lain. Nama panggilan mungkin sama dengan beberapa bayi lain, tetapi nama lengkap dan panggilan kesayangan akan berbeda. Biarkan si kecil memahami bahwa setiap orang memiliki nama, dan kadang nama-nama orang itu sama atau mirip. 

  • Keturunan atau nasab

Pentingnya mengenalkan keturunan atau nasab adalah juga bagian dari mengenal identitas diri anak. Anak harus kenal paling tidak kepada nama ayahnya, ibunya, kakek dan nenek dari ayahnya, serta kakek dan nenek dari ibunya. 

Jadi, tidaklah tabu anak-anak mengetahui nama asli dan nama lengkap orang tua. Ia perlu mengetahui dirinya sebagai anak siapa dan cucu siapa. Pengenalan ini penting sebagai penguat ikatan cinta bahwa ia adalah darah daging orang-orang yang menurunkannya. 

Manfaat lain pengenalan nasab adalah sebagai penjelas tambahan ketika orang lain mengenali dirinya, bahwa ia adalah anak seseorang atau cucu seseorang yang mungkin saja mereka kenal. Pada kasus anak yang terlantar atau hilang, pengenalan kepada nasab ini sangat membantu pemulangannya. 

  • Mengenalkan orang-orang terdekat

Orang-orang terdekat anak adalah para kaum kerabatnya. Mereka adalah kakak-kakaknya, paman atau bibi dan para sepupu, saudara dari kakek atau neneknya, dan orang-orang yang menjadi tetangga dekat atau orang-orang yang akrab dengan ayah dan ibunya. 

Mengenalkan kepada mereka berarti memberi tahu nama dan kedudukannya dalam kekerabatan atau hubungan dengan orang tuanya. Pengenalan ini penting, agar anak merasa bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar yang kelak juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya tetap utuh. 

  • Alamat atau lingkungan terdekat 

Yang juga menambah penguatan identitas adalah mengenalkan alamat kepada anak. Anak-anak sebaiknya kenal dengan nama tempat tinggalnya, setidaknya nama komplek beserta nama jalan dan nomor rumah, atau nama kampung dengan dusun beserta desa atau kelurahannya. 

Sering-seringlah mengajak si kecil berjalan-jalan di sekeliling rumah. Biarkan ia berlarian, bersepeda, dan bermain dengan anak-anak tetangga pada jam-jam yang memang pantas baginya untuk bermain. Ia akan menghafal orang-orang di sekeliling beserta jalan-jalan dan benda di sekitar rumahnya. Ajak dia membuat rute jalan menuju rumah, dari berbagai penjuru dan mencoba menyusurinya. 

  • Kebiasaan baik di lingkungan terdekat 

Banyak norma atau adat di masyarakat yang bernilai kebaikan. Kenalkan si kecil pada acara-acara atau kebiasan baik ini agar ia tumbuh menjadi pribadi yang sadar bermasyarakat dan menjadi bagian dari umat sekelilingnya. Acara kerja bakti di hari libur, musyawarah RT, majelis ta’lim ibu-ibu, menjadi tenaga bantu saat tetangga hajatan, atau saling berbagi makanan kepada tetangga adalah contoh kebiasaan baik. Anda dapat melatih kecerdasan sosial anak dengan mengajaknya untuk terlibat dan menjadi bagian dari acara tersebut.

Anak-anak yang terlibat di lingkungannya akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan mudah menjalin hubungan dengan berbagai karakter orang. 

4. Mengenal atau Benda Aktivitas Beresiko

Beberapa benda atau aktivitas di rumah menarik perhatian anak, padahal sangat berisiko bagi keselamatannya. Namun demikian, benda atau aktivitas ini tidak untuk dijauhi karena suatu merupakan bagian penting dari kehidupan. 

  • Api 

Api sulit terpisahkan dari kehidupan karena sangat bermanfaat. Setiap hari anak melihat api di dapur ketika ibu memasak, atau api lain yang biasanya menarik perhatiannya. Tetapi ia adalah sumber panas yang bisa membuat anak mengalami luka bakar, bahkan benda-benda sekeliling terbakar dan akhirnya bisa memicu kebakaran besar. 

  • Benda tajam 

Benda tajam seperti pisau, gunting dan lainnya selalu ada di kehidupan manusia sebagai alat untuk memotong berbagai keperluan. Namun benda-benda ini dapat membahayakan anak jika menggunakannya tanpa bimbingan orang tua. 

  • Listrik 

Setiap rumah memerlukan listrik sebagai sumber energy untuk menjalankan berbagai keperluan. Tetapi listrik juga sangat berbahaya jika setrumnya mengenai anak-anak. 

  • Bepergian 

Tidak mungkin ada kehidupan tanpa bepergian keluar rumah. Setiap saat saat manusia memerlukan bepergian untuk berbagai keperluan. Tetapi bagi anak-anak, bepergian tanpa kendali sangat membahayakan dirinya. 

Meskipun benda atau aktivitas itu berbahaya, anak-anak tetap harus mengenalinya. Si kecil perlu medapatkan pengalaman menggunakannya. Ayah atau ibu sebaiknya mengajarkan cara penggunaan api, listrik, dan benda tajam yang aman. Juga tetap membolehkan anak bepergian dengan batasan jarak dan tujuan yang ia kunjungi. 

Setelah diajari atau dikenalkan, anak-anak seharusnya diperbolehkan mencobanya dengan syarat ayah atau ibu berada di rumah. Dengan demikian, anak-anak tetap mendapat pengalaman yang sangat penting untuk kehidupannya, sementara jaminan keamanan dan kedaruratan dari ayah dan ibu tetap siaga. 

[Yazid Subakti]

Mengenal Malaikat Allah

Mengenal Malaikat Allah

Parenting – Setelah mengajarkan anak agar mengenal Allah dan mengenalkan Rasul-Nya, maka berikutnya adalah mengajarkannya mengenal Malaikat Allah.

  1. Ada Malaikat yang ghaib di sekeliling kita

Secara bahasa, Malaikat berarti utusan. Mereka adalah makhluk ghaib yang Allah yang ciptakan dari cahaya, selalu taat kepada perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat atau menolak-Nya. Keberadaan malaikat telah Allah kabarkan kepada manusia. Bahkan, Dia jadikan keimanan kepada malaikat sebagai salah satu rukun iman, yang tanpanya iman seseorang tidak diterima. 

Mengenal malaikat menjadikan kita lebih mengetahui kebesaran Allah, karena para malaikat adalah tentara-tentara-Nya. Dengan mengenal malaikat pula, kita merasakan perlindungan dan jaminan Allah yang menjaga, mencatat amal, dan menjamin penghidupan. 

Rasulullah SAW bersabda, 

Malaikat diciptakan dari cahaya arsy, dan jin diciptakan dari nyala api, dan adam dari apa yang sudah diceritakan kepada kalian. Jumlah seluruhnya sangat banyak, tetapi tidak ada yang mengetahui selain Allah SWT. 

Allah berfirman, 

“dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan dia sendiri” (Qs. Al Muddatsir: 31).

  1. Mengenalkan malaikat 

Rasulullah SAW menceritakan bagaimana besarnya malaikat pemikul Arsy, 

“aku diizinkan untuk menceritakan salah satu malaikat Allah, yaitu malaikat pemikul Arsy, sesungguhnya antara cuping telinga dan pundaknya sejauh perjalanan tujuh ratus tahun” (HR Abu Dawud)

Mereka juga memiliki sayap, dengan jumlah yang berbeda-beda antara malaikat satu dengan lainnya. 

Allah berfirman, 

“Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat…” (Qs. Fathir: 1).

Malaikat tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana manusia, dan tidak membutuhkan makan dan minum sebagaimana. Sebagaimana dalam kisah Nabi Ibrahim yang didatangi oleh malaikat yang menyerupai manusia, ketika dihidangkan makanan kepada mereka, mereka tidak mau menyentuhnya.

Anda dapat mengenalkan sepuluh nama-nama malaikat yang wajib diketahui beserta tugasnya. 

  • Jibril, bertugas untuk menyampaikan wahyu kepada para nabi dan para rasul utusan Allah swt.
  • Mikail, bertugas untuk menyampaikan rezeki kepada makhluk-makhluk Allah.
  • Raqib, bertugas untuk mencatat amal baik manusia
  • ‘Atid, bertugas untuk mencatat amal buruk manusia
  • Izrail, bertugas untuk mencabut nyawa
  • Munkar dan Nakir, dua malaikat ini bertugas untuk memberi pertanyaan kepada manusia di alam kubur
  • Israfil, bertugas untuk meniup sangkakala, kelak ketika Hari Kiamat telah tiba.
  • Ridwan, bertugas untuk menjaga surga
  • Malik, bertugas untuk menjaga neraka
  1. Menghindarkan kesalahpahaman tentang malaikat 

Orang-orang barat menyebut malaikat sebagai angel. Mereka menyebut bidadari juga dengan kata yang sama, yaitu Angel juga. Jadi, malaikat dan bidadari dianggap sama oleh mereka, yang dalam dongeng atau cerita-cerita bergambar dilukiskan dalam wujud seorang gadis kecil bersayap. Gambar atau ilustrasi ini sangat umum, terpublikasikan di buku-buku atau masalah, terutama bacaan yang memuat cerita mistis atau cerita fantasi. 

Benarkah malaikat itu sama dengan bidadari, dan berwujud gadis kecil bersayap? 

Malaikat tidaklah sama dengan bidadari. Malaikat adalah utusan Allah yang mendapat tugas sesuai kehendak-Nya. Sedangkan bidadari adalah makhluk Allah di surga yang menjadi teman, pelayan dan penggembira bagi penghuninya. Tidak ada satupun penjelasan yang menyatakan bahwa malaikat itu sesosok perempuan. Menurut pendapat yang kuat, malaikat tidak berjenis kelamin. Bahkan, ketika bertamu Nabi Idris, malaikat berwujud sosok laki-laki yang gagah. Saat bertamu kepada Rasulullah, Malaikat Jibril juga menampakkan sosok laki-laki. 

Saat pertama kali berbicara dengan Rasulullah SAW, suara malaikat Jibril membuat beliau SAW gemetaran. Itu tandanya malaikat Jibril juga bukan makhluk yang kecil. Anak-anak harus jauh dari buku-buku atau tontonan yang memuat cerita atau dongeng yang mengaburkan sosok malaikat yang sebenarnya. 

  1. Melatih keimanan terhadap malaikat 

Setelah mengenal siapa malaikat dan apa saja tugas yang mereka emban dari Allah, anak-anak dapat meyakini bahwa setiap saat malaikat itu tak pernah lalai dari tugasnya. Malaikat Raqib dan Atid tidak pernah terlambat mencatat apapun perbuatan yang manusia lakukan. Malaikat Mikail tak pernah lupa membagikan rezeki, kepada siapa saja sesuai yang Allah perintahkan. 

Untuk memantapkan keyakinannya, si kecil dapat terbimbing langsung dalam bentuk amal perbuatan.

  • Gemar melakukan amal kebaikan karena malaikat akan mencatatnya, kemudian melaporkannya kepada Allah agar ia mendapat pahala. Amal kebaikan ini misalnya bersekolah, mengerjakan shalat, mengaji, menjenguk teman sakit, atau menyapa dengan ramah.
  • Gemar berbagi atau bersedekah. Yakinkan bahwa keberadaan malaikat membuat anak mendapatkan oleh malaikat saat bersedekah. Ini seperti dalam sabda Nabi saw. “Tidak ada satu pun dimana di pagi harinya seorang hamba bersedekah melainkan ada padanya dua malaikat yang turun kepadanya, (maka) berkatalah salah satu diantaranya: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’ dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, binasakan atau hancurkanlah (harta) orang yang kikir” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
  • Berhati-hati dan menghindari perbuatan tercela karena sadar dan malu perbuatan tersebut terawasi oleh para malaikat. Tidak berbohong, berbuat curang, menipu, mengambil hak milik orang lain, berkata kasar, atau menyakiti temannya karena semua itu langsung tercatat dan terlaporkan kepada Allah. 

[Yazid Subakti]

Mengenal Rasulullah, Idola Sepanjang Hayat

Mengenal Rasulullah, Idola Sepanjang Hayat

Parenting – Setelah mengajarkan anak agar mengenal Allah, maka berikutnya adalah mengajarkannya mengenal Rasulullah SAW.

Mengenalkan Rasulullah SAW berarti mengajaknya beriman atas keberadaannya beserta tugas yang beliau bawa. Nabi adalah teladan, yang kepadanya kita jadikan penunjuk jalan menuju hidup yang sempurna. Mengenal Nabi berarti mengenal penunjuk jalan, arah hidup, tujuan, dan cara untuk menuju ke sana. 

  1. Gemar mengikuti sunnahnya 

Menjadikan Rasulullah teladan berarti mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai perilaku rasulullah, kemudian meniru dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, meneladani Rasulullah adalah mengikuti sunnahnya. 

Bagaimana mengajarkan anak gemar mengikuti sunnah? 

Apa yang diteladankan oleh rasulullah SAW untuk ditiru umat manusia sangat banyak, mulai dari yang paling sederhana sampai yang rumit. Kepada anak-anak, kenalkan sunnah-sunnah yang paling sederhana, yaitu perbuatan nabi yang paling mudah ditirukan. 

  • Membaca bismillah setiap kali akan melakukan perbuatan yang bernilai kebaikan. Membaca kalimat ini sangat mudah bagi anak kecil, menjadi sunnah, dan akan mendapat keberkahan dan pahala dari Allah SWT. 
  • Makan dan minum, mengulurkan pemberian, serta memegang benda-benda atau mengerjakan sesuatu dengan tangan kanan. 
  • Mengucapkan salam ketika masuk rumah atau bertemu dengan orang-orang, dan menjawab salam ketika orang mengucapkannya.
  • Membersihkan rumah atau tempat tinggal, berpakaian dengan bersih and rapi, mandai dan menggosok gigi, serta menyisir rambut dan memotong kuku.

Dan masih banyak yang lain. Kenalkan sunnah-sunnah ini sebagai kebiasaan harian dan sampaikan bahwa itu semua adalah sebagian dari yang oleh Rasulullah SAW lakukan. 

  1. Membaca Shalawat 

Membaca shalawat adalah bagian dari tanda cinta atas Nabi. Sholawat yang berisi pujian, sanjungan, atau doa untuk Rasulullah SAW. 

Bersalawat kepada Nabi Saw adalah salah satu bentuk ibadah, karena ini perintah dari Allah seperti terdapat dalam firman-Nya di surat Al Ahzab ayat 56,

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang – orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.

Karena bershalawat adalah perintah Allah, maka mengamalkannya mendapat pahala dan mendatangkan cinta Allah padanya.

Rasulullah SAW bersabda, 

“Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i). 

Jika anak menyukai music atau lagu-laguan, pilihlah yang syair atau isi lagu tersebut adalah shalawat nabi. Pilih yang mengajak manusia kepada kecintaan kepada Rasulullah dan mengidolakannya. 

[Yazid Subakti]

Mengenal Allah

Mengenal Allah

Banyak orang mengaku mengenal Allah, tetapi mereka tidak cinta kepada-Nya. Buktinya, mereka masih melanggar perintah dan larangan-Nya. Itu karena mereka tidak benar-benar mengenal Allah.

Kita menginginkan anak-anak kita mengenal Allah dengan sebenarnya, yaitu pengenalan yang membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan taat dengan penuh ketundukan hanya kepada-Nya. 

  1. Mengenalkan Nama Allah 

Nabi Adam belajar dari nama-nama, karena nama adalah identitas pertama akan keberadaan sesuatu. Maka, yang awa-awal diajarkan kepada anak adalah juga tentang nama Allah. 

Jadi, kita membimbing anak untuk beriman kepada Allah beserta nama-nama-Nya.

Pertama, nama Allah itu sendiri dengan lafadz jalaalah. Ajarkan anak mengucapkan lafal Allah dengan pengucapan yang benar, mantap, dan nyaman. Menyebutnya dengan makhraj atau artikulasi yang benar, bukan memberi contoh penyebutan dengan dialek yang terlanjur salah dan diterus-teruskan. Juga bukan menyebutkan istilah penggantinya; misalnya “Yang di atas” atau “Yang Kuasa”. Penyebutan dengan kata pengganti seperti ini mencerminkan keraguan menyebut Allah, seolah ada jarak di hati dengan Allah.

Kedua, nama-nama Allah yang merupakan sifat diri-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi. 

Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Al-A’raf: 180).

Nama-nama Allah ini terkenal dengan istilah al asmaul husna. Kenalkan anak-anak dengan asmaul husna sejak dini, melalui pengucapan yang diulang-ulang atau bahkan dilagukan. 

  1. Mengenalkan kekuasaan Allah

Maksudnya adalah meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, dan memelihara semua ciptaan-Nya. Allah juga yang memberi rizki, mendatangkan manfaat dan dan meniadakan mudharat, serta menentukan apapun yang Dia diciptakan.

Si kecil mungkin suka berkhayal dan mempercayai hal-hal mistis yang pernah ia dengar dari teman-temannya. Mungkin, ia berkhayal bahwa mimpi tertentu dapat menimbulkan datangnya bahaya, ada pohon atau tempat tertentu yang keramat. Juga, ia mungkin terpengaruh dengan cerita-cerita khayalan tentang tokoh fiktif sang peri yang dapat mengabulkan permintaan orang teraniaya. 

Ini adalah kesempatan untuk menjelaskan bahwa tidak ada yang berkuasa atas semua kejadian kecuali Allah. Yang menguasai nasib manusia atau yang menguasai pohon atau tempat tertentu adalah Allah. Agar tidak terpengaruh pikiran yang membahayakannya, jauhkan si kecil dari dongeng yang membawa hayalnya ke alam mistik. Misalnya dongeng tentang peri, kisah manusia sakti, atau cerita-cerita mitos yang. 

Saat si kecil sakit, yakinkan bahwa Allah berkuasa menyembuhkan. Ia dapat bernafas meskipun tidur dalam keadaan tidak sadar. Itu karena Allah menjalankan nafasnya. Ajaklah ia meraba dadanya untuk merasakan detak jantungnya. Jantung adalah pusat kehidupan. Dalam keadaan tidak sengaja dan tanpa usahanya, jantung itu tetap dan terus berdenyut. Itu semua oleh Allah, sebagai tanda bahwa Allah benar-benar berkuasa.

[Yazid Subakti]

Bolehkah Anak-Anak Bermain Boneka?

Bolehkah Anak-Anak Bermain Boneka?

Salah satu jenis mainan yang dekat di dunia anak adalah bermain boneka. Benda ini selalu ada di rumah yang dihuni anak-anak, terutama anak perempuan. 

Dibanding anak laki-laki, anak perempuan memang membutuhkan perhatian yang khas dari orang tuanya. Mendidik mereka dengan baik memiliki keutamaan tersendiri di dalam Islam. Nabi SAW bersabda,

“Barangsiapa yang memiliki tiga orang anak perempuan, kemudian ia bersabar atas mereka, memenuhi pangan dan sandangnya dari hasil pencariannya sendiri, maka anak-anaknya tersebut akan menjadi dinding penutup antara dirinya dan api neraka” (HR. Ahmad dan Bukhari).

Jadi, ada cara pengasuhan yang agak berbeda bagi anak perempuan mengenai hak-haknya, cara berinteraksi, dan pemenuhan kebutuhannya. Salah satu kekhususan itu adalah tentang diperbolehkannya bermain boneka. 

Jadi, bolehkah bermain boneka? 

‘Aisyah ra menceritakan bagaimana Rasulullah SAW memperlakukannya.

“Dahulu aku sering bermain dengan boneka anak perempuan di sisi Nabi SAW. Dahulu aku juga memiliki teman-teman yang biasa bermain denganku. Ketika Rasulullah SAW masuk ke rumah, teman-temanku pun berlari sembunyi. Beliau pun meminta mereka untuk keluar agar bermain lagi, maka mereka pun melanjutkan bermain bersamaku” (HR. Bukhari dan Muslim).

Abu Dawud juga meriwayatkan sebuah hadits dari Ibunda kaum mukminin ‘Aisyah ra,

“Suatu hari, Rasulullah pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar (perawi hadits ragu, pen.) sementara di kamar (‘Aisyah) ada kain penutup. Ketika angin bertiup, tersingkaplah boneka-boneka mainan ‘Aisyah, lalu Rasulullah SAW bertanya, ‘Apa ini wahai ‘Aisyah?’ Dia (‘Aisyah) pun menjawab, ‘Boneka-boneka (mainan) milikku.’ Beliau melihat di antara boneka mainan itu ada boneka kuda yang punya dua helai sayap. Kemudian beliau pun bertanya kepada ‘Aisyah, ‘Yang aku lihat di tengah-tengah itu apanya?’ ‘Aisyah menjawab, ‘Kuda.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apa itu yang ada pada bagian atasnya?’ ‘Aisyah menjawab, ‘Kedua sayapnya.’ Beliau menimpali, ‘Kuda punya dua sayap?’ ‘Beliau menjawab, “’Tidakkah Engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?’ Beliau pun tertawa hingga aku melihat gigi beliau” (HR. Abu Dawud).

Menurut Al-Khathabi, hadits ini menunjukkan bahwa boneka mainan anak-anak tidak termasuk mainan bergambar (makhluk bernyawa) yang terdapat larangannya dalam hadits. Diberikan keringanan hukum (rukhshoh) bagi ‘Aisyah bermain boneka karena pada saat itu belum baligh. 

Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i mengatakan dengan mengutip pendapat Al-Qadhi, bahwa hadis ini merupakan dalil bolehnya bermain dengan boneka. Ini merupakan pengkhususan dari dalil tentang gambar (makhluk bernyawa) yang dilarang. Beliau berdalil dengan hadis ini mengenai perlunya latihan bagi anak perempuan ketika masih kecil sebagai persiapan kelak mengurusi diri mereka sendiri, rumah tangga, dan anak-anak mereka.

Waktu Tidur Anak

Manfaat tidur bagi anak adalah sebagai sarana pengistirahatan tubuh. Selama seharian anak beraktivitas sehingga memerlukan jam-jam berhenti dari aktivitas ini. Tidur juga mengembalikan energi. Pada saat tidur, penyerapan kalori berjalan optimal untuk menyimpan kembali cadangan.

Waktu yang diperlukan untuk tidur. 

  • Bayi baru lahir sampai 4 minggu

Durasi tidur bayi yang baru lahir umumnya pendek tetapi sering. Bayi di usia ini tidur sekitar 15 sampai 18 jam dalam sehari, dengan pola tidur yang belum teratur. 

  • Usia 1-4 Bulan

Pola tidur bayi mulai terbentuk dengan durasi terpanjang mencapai 4 sampai 6 jam. Dalam sehari, jumlah kebutuhan tidurnya mencapai 14 sampai 15 jam. 

  • Usia 4-12 Bulan

Bayi memiliki 3 atau 2 waktu tidur siang, dan satu tidur malam. Pada rentang usia ini mereka secara fisik telah mampu tidur hanya malam hari saja. Selam sehari, ia perlu tidur setidaknya 13 jam.

  • Usia 4-12 Bulan

Bayi sudah mulai memiliki pola tidur teratur. Ia memerlukan waktu sekurang-kurangnya 12 jam untuk tidur selama sehari, meskipun kebanyakan bayi di usia ini tidur antara 13 sampai 15 jam. 

  • Usia 1-3 Tahun

Si kecil mulai mengurangi jadwal tidur siangnya hingga menjadi satu kali tidur siang dalam sehari dan berlangsung sekitar 1 sampai 3 jam. Total waktu tidur yang butuhkan adalah minimal 12 jam sehari. Ia mulai mengatur jadwal tidur seperti orang dewasa.

  • Usia 3-6 Tahun

Anak sudah tidur dengan pola sama dengan orang dewasa. Ia mulai tidur sekitar jam 7 malam dan bangun sekitar jam 6 pagi.Total waktu yang dibutuhkan untuk tidur adalah sekitar 10 sampai 12 jam.

  • Usia 7-12 Tahun

Anak telah mengalami kehidupan sosial, sekolah, dan terlibat aktivitas keluarga. Ia sama persis pola tidurnya dengan orang dewasa. Ia akan mengantuk dan pergi tidur sekitar pukul 9 malam dan mampu bangun jam 5 pagi. Oleh sebab itu, Rasulullah menganjurkan pelajaran shalat bagi anak usia 7 tahun karena memang ia sudah mampu dibangunkan untuk shalat subuh. Total kebutuhan tidurnya antara 9 sampai 11 jam seharian.
 

[Yazid Subakti]

Memilih Mainan dan Permainan yang Mencerdaskan

Memilih Mainan dan Permainan yang Mencerdaskan

Parenting – Ayah dan Bunda, pilih jenis mainan yang sesuai dengan kebutuhan si kecil. Sebisa mungkin memilih permainan yang mencerdaskan.

  1. Memilih Mainan

Mainan anak perempuan kadang berbeda dengan mainan anak laki-laki, sehingga anda tidak perlu membeli boneka Barbie untuk anak lagi-laki. Sesuaikan pula dengan usia si kecil yang akan memainkannya, sehingga anda belum perlu membeli mobil-mobilan remote control untuk anak usia dua bulan. Hindari membeli mainan yang tidak jelas manfaatnya

Sebelumnya, lebih dulu baca label dan petunjuk penggunaan. Banyak mainan yang tidak dilengkapi dengan label. Dari sinilah anda akan mendapatkan cara menggunakan, cara merawat, dan hal-hal lain berkaitan dengan mainan. 

Selain itu, jangan terpengaruh harga. Harga mahal belum tentu aman, dan harga murah belum tentu tidak aman. Pilih mainan yang harganya menurut anda sesuai dengan kualitas dan manfaatnya.

Periksa fisik mainan. Penting untuk melihat dan memeriksa kondisi permukaan mainan, apakah aman atau tidak bagi anak, karena serpihan mainan berbahan kayu yang tidak mulus misalnya bisa masuk ke tangan anak-anak atau bahkan ikut termakan. Pilih mainan yang tidak mudah rusak atau copot, hal ini juga untuk keamanan balita Anda agar tidak melukainya saat bermain.

  1. Mainan yang Mencerdaskan Anak 

  • Mainan yang mengenalkan konsep dasar

Dari mainan, anak-anak belajar tentang bentuk, warna, tekstur, dan ukuran mainan. Ini penting bagi anak untuk bisa mengenal dan mengembangkan kemampuan dasar seperti bentuk, warna, tekstur, dan besaran. 

  • Mainan untuk dapat dilihat

Untuk bayi, perkenalkan mainan yang dapat ia lihat terlebih dulu, untuk melatih kemampuan visual bayi. Misalnya, belikan mainan yang dapat tergantung di atas boks tempat tidur si kecil. Sejajarkan arah mainan tersebut dengan mata si kecil. Dengan demikian, ia dapat memperhatikannya dengan baik.

  • Mainan untuk mengenalkan bunyi

selain visual, perlu kenalkan bayi dengan sumber indera auditorial, yaitu bunyi-bunyian yang tertangkap oleh telinga. Perkenalkan mainan yang mengeluarkan u suara berbagai binatang, suara kendaraan, suara air, dan lainnya yang dapat mengundang perhatian anak (di bawah tiga tahun). Dengan mendengarkan berbagai bunyi, pendengaran si kecil terstimulasi untuk mengingat berbagai jenis suara itu.

  • Tunda dengan Mainan yang dapat Dibongkar

Sebelum usianya cukup (lebih dari 7 tahun), jangan belikan anak Anda mainan yang bagian-bagian kecilnya dapat terbongkar-bongkar, karena jenis mainan ini sangat berisiko untuk tertelan atau sebagian hasil bongkaran yang tajam akan melukai kakinya saat terinjak.

  • Beli mainan secukupnya 

Mainan yang terlalu banyak untuk sekali waktu tidak mendidik anak. Pemilihan mainan dan materi bermain sangat menyesuaikan dengan manfaatnya untuk pertumbuhan otak si kecil. Berikan mainan yang dapat memberikan kenikmatan tanpa si kecil mendapat mainan edukatif yang terlalu banyak.

  1. Mengambil manfaat dari permainan

Anak-anak bermain bukan hanya untuk kesenangan, tetapi merupakan bagian dari aktivitas belajarnya. Dengan bermain, ia mempelajari aturan tertentu, mengendalikan emosi dan melakukan eksplorasi sebanyak-banyaknya. Dengan bermain pola, anak-anak melihat dunianya yang kelak juga akan terjadi pada kehidupannya. Ia melepaskan energi yang berlebihan, melatih dan menyempurnakan nalar berpikir, dan tentu saja sebagai hiburan yang menyenangkan.

Sejak mula pertama mampu bermain, anak-anak mendapat manfaat dari permainan itu untuk perkembangan di masa yang akan datang. 

  • Menyempurnakan perkembangan fisik 

Anak-anak bermain aktif dengan melompat, berlari, berguling, memanjat, mencoret-coret, berteriak, atau memukul-mukul. Ini semua penting baginya sebagai latihan mengembangkan motorik seluruh bagian tubuhnya yang mengiringi pertumbuhan otot dan tulangnya. 

  • Menyeimbangkan energi tubuh 

Anak-anak memiliki energi yang melimpah. Dalam keadaan energinya terus terpendam, ia bisa menjadi anak yang gelisah atau menampakkan perilaku berlebihan yan justru dapat membahayakan dirinya. Bermain dapat menjadi cara penyaluran tenaga yang berlebihan ini agar ia lebih teratur dan tenang. 

  • Bagian dari rangsangan komunikasi

Saat bermain, anak-anak berbicara dan mengirimkan isyarat, berteriak, serta menampakkan ekspresi kepada teman mainnya. Ini adalah latihan komunikasi yang nyata, mengungkapkan perasaan dan pikiran. Ia berdebat, marah, bahagia, berbangga, kecewa, dan semua yang ia rasakan. 

  • Rangsangan kreativitas 

Dengan bermain, anak-anak mengembangkan kemampuannya berkreasi. Ia mengamati cara temannya bermain dan berpikir menciptakan sesuatu yang berbeda, memperlakukan mainannya kemudian mencoba susunan atau bentuk yang berbeda. 

  • Mengukur kemampuan 

Selama bermain, anak sebenarnya sedang mengukur kemampuannya dalam mengelola emosi, kecepatan bertindak, kecermatan, dan kegigihan. Ia akan tahu sendiri dan membandingkannya dengan teman-teman yang lebih baik atau lebih buruk darinya.

  • Belajar bersosialisasi

Hubungan menghasilkan kerjasama, sekaligus konfliknya. Permainan adalah pelajaran tentang cara membentuk hubungan sosial dan memecahkan masalah yang muncul dalam hubungan tersebut. Anak memiliki pengalaman membagi makanan, berdamai dari pertengkaran, atau bersepakat dalam peran tertentu. 

  • Mempelajari moral

Dalam permainan selalu ada aturan tak tertulis, atau nilai yang ia pegang bersama. Dengan bermain, anak membiasakan diri mengenal standar moral. Ia belajar mengalami kekalahan dan kemenangan, merasakan akibat dari kecurangan dan kejujuran, dan terlibat dalam membuat aturan kelompok.

  • Melihat kepribadian

Dalam permainan terkandung unsur kompetisi, kerjasama, kejelian, kreativitas, ketahanan, dan keberanian. Dengan bermain, anak melihat kepribadian dirinya sebagai seorang yang pemberani, temperamen, penakut, kreatif, atau pengalah. Ia juga belajar mengamati kepribadian teman-temannya yang ternyata berbeda dengan dirinya. 

[Yazid Subakti]