Mengenal Diri Sendiri

Mengenal Diri Sendiri

Parenting – Setelah si kecil telah menganal pencipta, Rasul hingga malaikat-Nya, Bunda juga harus mulai mengajarkan anak untuk mengenal diri sendiri.

1. Mengenalkan jenis kelaminnya 

Salah satu bencana terbesar umat ini adalah ketika manusia telah mengingkari jenis kelamin yang telah ada padanya. Anak laki-laki ingin menjadi perempuan dan akhirnya bergabung dalam golongan kaum banci meskipun ia tetap sadar dirinya laki-laki, sedangkan anak perempuan ingin menjadi laki-laki dan masuk dalam golongan kaum tomboy meskipun ia juga sadar bahwa dirinya tetap seorang perempuan. Di luar itu, ketidakpuasan jenis kelamin telah banyak memicu tindakan operasi plastic pindah kelamin; laki-laki mengubah dirinya menjadi perempuan dan perempuan mengubah dirinya menjadi laki-laki. 

Ketidakpuasan gender juga berkaitan dengan perilaku terlaknat, yaitu laki-laki yang seharusnya berhasrat kepada perempuan mengubah hasratnya kepada sesame laki-laki, dan demikian juga perempuan kepada sesama perempuan. 

Keprihatinan kita semakin menjadi-jadi, ketika penyimpangan-penyimpangan ini dengan bebas menampakkan diri atau bahkan mempengaruhi manusia secara terbuka, bahkan mendapat pembelaan dari tokoh-tokoh pegiat kebebasan. 

Tentu saja, mereka melakukan penyimpangan itu tidak dengan tiba-tiba. Maka, salah satu pendidikan mengenali diri yang pertama dilakukan untuk anak adalah mengenalkan jenis kelaminnya. 

  • Memberi pakaian sesuai jenis kelaminnya

Sebagian dari kebutuhan anak adalah berbeda antara laki-laki dengan perempuan. Saat baru lahir, sebagian besar pakaian bayi tidak berbeda dengan antara laki-laki dan anak perempuan. Semakin bertambah usia, semakin bedakan jenis pakaiannya yang menguatkan jenis kelaminnya. Jika ia anak perempuan, berikan pakaian yang berciri khas perempuan, aksesori dan motif perempuan, serta warna-warna yang bernuansa feminin. Bagi anak laki-laki, sediakan baginya pakaian yang berciri khas laki-laki dengan aksesori dan motif serta warna maskulin. 

  • Memberi mainan sesuai jenis kelaminnya

Kebutuhan lain anak-anak adalah mainan. Mainan merangsang anak untuk berimajinasi dengannya. Maka, arahkan anak agar berimajinasi tentang hall-hal yang lazimnya akan dihadapinya secara nyata kelak. 

Anak laki-laki bermain mobil-mobilan, dengan imajinasi menyetir berbagai macam mobil yang ia sukai. Lebih maskulin, mungkin ia bermain pistol-pistolan dan berfantasi menjadi seorang polisi yang memberantas kejahatan. Inilah fitrah laki-laki yang berpotensi memimpin, menjadi penjaga atau pelindung. 

Anak perempuan berfantasi mengasuh bonekanya, seolah boneka-boneka itu bisa berbicara. Ia menyuapi, menggendong, bahkan memandikan dan menghibur bonekanya itu. Sembari itu, ia menyiapkan peralatan dapur dan berfantasi dengan alat dapur mainannya itu. Inilah fitrah perempuan yang berpotensi mengatur, melayani dan menekuni urusan yang detail. 

  • Memberi peran sesuai jenis kelaminnya

Sebagian peran anak laki-laki akan berbeda dengan anak perempuan. Anak laki-laki banyak mendapat peran di luar rumah, pekerjaan yang menguras tenaga fisik atau motorik kasar, menjaga keamanan dan memberi perlindungan, serta memimpin suatu kegiatan bersama. Mereka dikenalkan semua peran, tetapi lebih diarahkan membantu atau mewakili peran ayahnya. Lazimnya, ayah adalah sosok yang merawat kendaraan, memperbaiki bagian rumah yang rusak, atau mengangkat benda-benda berat. 

Ini agak berbeda dengan perempuan. Para perempuan mendapat bagian pekerjaan yang tidak menguras tenaga fisik kasar. Tidak seberat laki-laki tetapi banyak dan detail.

Ajaklah anak perempuan ada peran yang mendekatkan dunia ibunya. Lazimnya, ibu adalah sosok yang cerdas mengatur, teliti dalam urusan yang detail. Libatkan ketika anda berbelanja, mengolah bahan makanan di dapur, atau menata rumah. 

  • Menjelaskan makna nama 

Pada nama terkandung makna dan harapan, juga identitas dan jenis kelaminnya. Nama-nama tertentu memang berciri khas laki-laki, dan nama-nama yang lainnya memang berciri khas perempuan. Hanya sedikit nama yang dapat digunakan kedua jenis kelamin. 

Kenalkan anak-anak pada namanya, beserta makna dan yang diharapkan dari nama tersebut. Kepada anak laki-laki, ingatkan bahwa dengan namanya itu ia memang seorang laki-laki yang diharapkan menjadi seperti maknanya. Begitu juga kepada anak perempuan, ingatkan bahwa namanya itu mengandung makna seorang perempuan yang orang tua berharap ia akan menjadi seperti maknanya.

2. Mengenalkan bagian-bagian tubuh anak

Sebenarnya, tanpa diberitahu pun anak akan menggunakan organ tubuhnya sesuai kegunaannya. Fungsi organ tubuh akan terjadi sesuai naluri dan sangat alami. Tetapi itu saja ternyata tidak cukup. Anak-anak perlu belajar mengenai organ tubuhnya berkaitan dengan pemberlakuan adab atau etika dan perawatannya. Organ bagian tubuh kanan mungkin saja berfungsi sama dengan bagian kiri, tetapi etika mengaturnya berbeda. 

  • Nama-nama organ dan kegunaannya

Saat bayi mandi adalah kesempatan terbaik bagi orang tua mengenalkan anggota tubuhnya. Sentuh bagian tubuhnya dan sebut nama serta kegunaannya. Tangan untuk memegang yang baik-baik, kaki untuk berjalan, mata untuk melihat, dan sebagainya. Saat ceria bersantai, ajak si kecil bermain dengan mengikuti gerakan Anda menyentuh bagian tubuh sesuai yang Anda ucapkan. Jangan lupa juga menjelaskan kegunaannya. 

  • Bagian yang harus dilindungi dan cara menjaganya

Inilah bagian pendidikan yang jauh lebih penting dari sekedar mengetahui nama dan kegunaan organ tubuh. Anak-anak perlu mengetahui bahwa ada bagian tubuhnya yang perlu mendapat perhatian khusus melebihi organ yang lain, dan berbahaya jika terabaikan. 

Kenalkan cara memperlakukan kepala dan semua organ yang ada padanya. Kepala harus dilindungi dari benturan, dan panca indera harus dihindarkan dari masuknya benda yang berbahaya. Di dalam dada dan perut terdapat jantung, paru-paru, dan alat pencernaan sehingga bagian ini harus dihindarkan dari tekanan. 

Sambil mengenalkan perlindungan organ, sampaikan bahwa ada organ yang benar-benar tidak boleh ditampakkan, yaitu alat kelamin dan bagian yang disebut aurat. 

Menutupi bagian tubuh adalah bagian dari cara merawatnya. Cara lainnya adalah membersihkan, memotong kuku, menyisir rambut dan bercukur jika terlalu panjang, menggosok gigi, cuci tangan sehabis bermain dan sebelum atau setelah makan, dan rajin mandi dengan teratur.

3. Mengenalkan identitas anak 

  • Nama panggilan, nama lengkap, atau panggilan kesayangan 

Nama anak menjadi identitasnya. Kenalkan ia pada nama panggilannya, nama lengkapnya, dan bila ada panggilan kesayangannya. Sering-sering menyebut namanya dapat membantu si kecil, terutama ketika bayi, membedakan dirinya dengan anak lain. Nama panggilan mungkin sama dengan beberapa bayi lain, tetapi nama lengkap dan panggilan kesayangan akan berbeda. Biarkan si kecil memahami bahwa setiap orang memiliki nama, dan kadang nama-nama orang itu sama atau mirip. 

  • Keturunan atau nasab

Pentingnya mengenalkan keturunan atau nasab adalah juga bagian dari mengenal identitas diri anak. Anak harus kenal paling tidak kepada nama ayahnya, ibunya, kakek dan nenek dari ayahnya, serta kakek dan nenek dari ibunya. 

Jadi, tidaklah tabu anak-anak mengetahui nama asli dan nama lengkap orang tua. Ia perlu mengetahui dirinya sebagai anak siapa dan cucu siapa. Pengenalan ini penting sebagai penguat ikatan cinta bahwa ia adalah darah daging orang-orang yang menurunkannya. 

Manfaat lain pengenalan nasab adalah sebagai penjelas tambahan ketika orang lain mengenali dirinya, bahwa ia adalah anak seseorang atau cucu seseorang yang mungkin saja mereka kenal. Pada kasus anak yang terlantar atau hilang, pengenalan kepada nasab ini sangat membantu pemulangannya. 

  • Mengenalkan orang-orang terdekat

Orang-orang terdekat anak adalah para kaum kerabatnya. Mereka adalah kakak-kakaknya, paman atau bibi dan para sepupu, saudara dari kakek atau neneknya, dan orang-orang yang menjadi tetangga dekat atau orang-orang yang akrab dengan ayah dan ibunya. 

Mengenalkan kepada mereka berarti memberi tahu nama dan kedudukannya dalam kekerabatan atau hubungan dengan orang tuanya. Pengenalan ini penting, agar anak merasa bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar yang kelak juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya tetap utuh. 

  • Alamat atau lingkungan terdekat 

Yang juga menambah penguatan identitas adalah mengenalkan alamat kepada anak. Anak-anak sebaiknya kenal dengan nama tempat tinggalnya, setidaknya nama komplek beserta nama jalan dan nomor rumah, atau nama kampung dengan dusun beserta desa atau kelurahannya. 

Sering-seringlah mengajak si kecil berjalan-jalan di sekeliling rumah. Biarkan ia berlarian, bersepeda, dan bermain dengan anak-anak tetangga pada jam-jam yang memang pantas baginya untuk bermain. Ia akan menghafal orang-orang di sekeliling beserta jalan-jalan dan benda di sekitar rumahnya. Ajak dia membuat rute jalan menuju rumah, dari berbagai penjuru dan mencoba menyusurinya. 

  • Kebiasaan baik di lingkungan terdekat 

Banyak norma atau adat di masyarakat yang bernilai kebaikan. Kenalkan si kecil pada acara-acara atau kebiasan baik ini agar ia tumbuh menjadi pribadi yang sadar bermasyarakat dan menjadi bagian dari umat sekelilingnya. Acara kerja bakti di hari libur, musyawarah RT, majelis ta’lim ibu-ibu, menjadi tenaga bantu saat tetangga hajatan, atau saling berbagi makanan kepada tetangga adalah contoh kebiasaan baik. Anda dapat melatih kecerdasan sosial anak dengan mengajaknya untuk terlibat dan menjadi bagian dari acara tersebut.

Anak-anak yang terlibat di lingkungannya akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan mudah menjalin hubungan dengan berbagai karakter orang. 

4. Mengenal atau Benda Aktivitas Beresiko

Beberapa benda atau aktivitas di rumah menarik perhatian anak, padahal sangat berisiko bagi keselamatannya. Namun demikian, benda atau aktivitas ini tidak untuk dijauhi karena suatu merupakan bagian penting dari kehidupan. 

  • Api 

Api sulit terpisahkan dari kehidupan karena sangat bermanfaat. Setiap hari anak melihat api di dapur ketika ibu memasak, atau api lain yang biasanya menarik perhatiannya. Tetapi ia adalah sumber panas yang bisa membuat anak mengalami luka bakar, bahkan benda-benda sekeliling terbakar dan akhirnya bisa memicu kebakaran besar. 

  • Benda tajam 

Benda tajam seperti pisau, gunting dan lainnya selalu ada di kehidupan manusia sebagai alat untuk memotong berbagai keperluan. Namun benda-benda ini dapat membahayakan anak jika menggunakannya tanpa bimbingan orang tua. 

  • Listrik 

Setiap rumah memerlukan listrik sebagai sumber energy untuk menjalankan berbagai keperluan. Tetapi listrik juga sangat berbahaya jika setrumnya mengenai anak-anak. 

  • Bepergian 

Tidak mungkin ada kehidupan tanpa bepergian keluar rumah. Setiap saat saat manusia memerlukan bepergian untuk berbagai keperluan. Tetapi bagi anak-anak, bepergian tanpa kendali sangat membahayakan dirinya. 

Meskipun benda atau aktivitas itu berbahaya, anak-anak tetap harus mengenalinya. Si kecil perlu medapatkan pengalaman menggunakannya. Ayah atau ibu sebaiknya mengajarkan cara penggunaan api, listrik, dan benda tajam yang aman. Juga tetap membolehkan anak bepergian dengan batasan jarak dan tujuan yang ia kunjungi. 

Setelah diajari atau dikenalkan, anak-anak seharusnya diperbolehkan mencobanya dengan syarat ayah atau ibu berada di rumah. Dengan demikian, anak-anak tetap mendapat pengalaman yang sangat penting untuk kehidupannya, sementara jaminan keamanan dan kedaruratan dari ayah dan ibu tetap siaga. 

[Yazid Subakti]