Menjaga Kesehatan Mental Anak

Menjaga Kesehatan Mental Anak

Parenting – Mengiringi perubahan fisik, perkembangan mental yang pesat juga terjadi di usia ini. Berbeda dengan kesehatan fisik, kesehatan mental anak sedikit lebih sulit dipahami oleh orang tua dan sangat mungkin terlewatkan.

Kesehatan mental anak bukan sekedar menjamin anak bebas dari penyakit mental, tetapi  juga kemampuan untuk berpikir secara jernih, mengendalikan emosi, dan kemampuan bersosialisasi. Anak yang kesehatan mentalnya baik dapat beradaptasi dengan keadaan, tahan menghadapi stress, dan lebih berpeluang mampu bangkit dari keterpurukan.

  1. Membangun kepercayaan

Percaya kepada anak berarti memberinya kesempatan untuk turut mengatur kehidupannya sendiri. Orang tua memandangnya sebagai pribadi yang sudah mampu berpikir dan mencoba menentukan arah hidupnya.  Ia perlu mendapat bantuan dalam menentukan tujuan yang sesuai dengan kemampuannya atau mencoba hal-hal baru, bukan dihalangi atau dikecam. Oleh karena itu anda menghindari ucapan, sikap, dan perilaku yang membuatnya berhenti mencoba saat mereka gagal.

  1. Membiarkannya mengembangkan minat

Waktu bermain bukanlah semata untuk bersenang-senang, tetapi juga merupakan pembelajaran berbagai minat. Orang tua sebaiknya membantu atau terlibat permainan anak, karena dari proses ini lah apa yang terjadi pada saat anak bermain akan diketahui. Saat bermain, anak mengembangkan kreativitas, mempelajari cara memecahkan masalah, belajar mengendalikan diri, belajar aturan kelompok, dan latihan bekerjasama. 

  1. Mendorong anak untuk menjalin hubungan

Semakin bertambah usianya, anak memerlukan interaksi dengan orang lain. Bermain dengan teman sebaya akan membantu anak mengenali kelemahan dan kelebihan pada dirinya, serta belajar untuk hidup berdampingan dengan orang lain baik seusia maupun beda usia. Anda dapat mengajak anak mengunjungi tetangga, mengirim ke komunitas-komunitas hobi, dan membiarkannya berinteraksi dengan masyarakat sekitar tempat tinggal..

  1. Kenalkan proses demi proses

Sampaikan kepada anak bahwa tujuan bukanlah segalanya. Sebelum tujuan ada proses yang harus dilalui, sedangkan dalam proses terdapat banyak pelajaran. Jadi, proses bisa jadi lebih penting atau sama pentingnya dengan tujuan. Dalam beberapa hal, kita hanya bisa mendapat manfaat dari prosesnya karena tujuan yang kita kejar ternyata tidak seindah yang kita bayangkan. Contohnya dalam kompetisi olahraga. Bermain bagus dan selamat itu bisa sama baiknya dengan kejuaraan. Dalam kompetisi seni, keindahan karya seni dan proses penciptaannya itu jauh lebih berharga daripada kejuaraannya. Dalam menuntut ilmu, proses belajar memahami pelajaran demi pelajaran dan interaksi dengan guru itu jauh lebih berharga daripada kejuaraan kelas atau rangking. 

Oleh karena itu jadilah orang tua yang menghargai proses perjuangan anak, bukan menilai hasil perjuangannya. 

  1. Latih  disiplin 

Kedisiplinan berhubungan dengan kesehatan mental. Di balik latihan disiplin terdapat pembelajaran makna bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kesadaran untuk mandiri bersikap. 

Anak terus memerlukan kesempatan untuk mempelajari berbagai hal baru setiap harinya, tetapi ia belum memiliki banyak pengetahuan mana hal baru yang layak dipilih dan mana yang harus dijauhkan. Kehadiran orang tua ia perlukan untuk membantunya memilih atau memberi pertimbangan. 

Sampaikan nilai nilai agama terlebih dahulu sebelum nilai yang lain ketika membuat pertimbangan baik buruk suatu pilihan bagi anak. Anak memilih mode pakaian, hobi, pertemanan, atau hiburan dengan mempertimbangkan baik buruknya berdasarkan apa yang dipandang baik atau buruk dalam islam. 

  1. Jangan mencela pribadinya

Siapapun manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Di masa pencarian pada usia ini, lebih-lebih nanti menjelang masa akil baligh, anak akan banyak melakukan hal baru sehingga berisiko memulainya dengan cara yang salah. Memperluas pergaulan ia akan melakukan banyak kesalahan. Di awal mengejar prestasi ia berisiko mengalami kegagalan. Mengawali penentuan jati diri, ia berpotensi banyak salah langkah. 

Semua kesalahan itu memang merugikan, bukan hanya dirinya tetapi juga keluarga. Saat ini terjadi, Anda dapat menghukum atau mengkritik kesalahan yang ia buat, bukan pribadi anak itu. Anda hanya perlu mengingatkan anak untuk mengubah atau meninggalkan perbuatannya, bukan mencelanya.

  1. Seberapa nyaman rumah Anda?

Ini bukan tentang rumah mewah yang di dalamnya sejuk oleh AC dan indah karena taman-taman dan kolam renangnya. Juga, bukan rumah yang di dalamnya serba tersedia apapun yang anaknya inginkan. Bukan itu. 

Rumah nyaman adalah tempat paling wajar bagi anak selama proses bertumbuh. Rumah nyaman itu tempat yang enak untuk meluapkan kebahagiaan, merenungi kesedihan, melampiaskan amarah, mengungkapkan perasaan, melatih kemandirian, dan memaknai kehidupan seluruhnya. Lingkungan rumah yang nyaman lebih pada nuansa anggota keluarga yang harmonis dan mendukung perkembangan mental anak. Nuansa tenteram dan damai tetapi tak henti menyulut motivasi dan konflik-konflik.

 

[Yazid Subakti]

Penyakit dan keluhan di usia ini

Penyakit dan keluhan di usia ini

Ada risiko kesehatan yang mengintai di usia ini. Pertumbuhan terjadi sangat cepat, dan risiko serangan penyakit juga mudah.

  • Anemia

Anemia adalah penyakit yang terjadi karena anak kurang asupan zat besi. Akibat dari anemia, anak dapat mengalami penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi, kebugaran, dan produktivitas. 

Anemia yang dialami remaja perempuan berdampak lebih serius dibanding laki-laki, karena mengingat kelak mereka akan menjadi ibu. Risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur, dan berat bayi lahir rendah sangat besar pada anak perempuan yang kekurangan zat besi. 

  • Stunting

Stunting adalah kurang gizi kronis yang karena asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama. Anak menjadi kurang gizi karena mendapat makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizinya di masa awal pertumbuhan. Stunting yang tak teratasi dapat menjalar pada gangguan penyakit lain, yaitu  diabetes melitus, jantung koroner, hipertensi, dan masalah berat badan

  • Kurang Energi Kronis (KEK)

Masalah ini bisa terjadi karena pola asupan yang salah. Anak takut gemuk kemudian melakukan  diet tidak sehat dengan mengurangi makanan tanpa perhitungan yang benar. Lama-lama, ia bisa terjerumus pada penghindaran terhadap makanan tertentu dan benar-benar tidak mau memakannya.

KEK dapat mengundang datangnya berbagai penyakit infeksi karena tubuhnya kurang energy untuk melawan serangan penyakit. 

  • Obesitas

Penyebab obesitas paling banyak banyak adalah karena pola makan yang buruk. Beberapa contoh nyata penyebabnya adalah jarang sarapan sehingga suka jajan atau ngemil, kurang mengkonsumsi makanan berserat (sayur dan buah), gemar mengkonsumsi makanan yang mengandung penyedap rasa, serta kurang beraktivitas fisik yang membakar kalori. Berat badan anak menjadi terus bertambah lebih cepat dari usianya, menjadi kegemukan, dan berlanjut obesitas.

Selain mengganggu kelincahan dan gerak tubuh, obesitas yang tidak teratasi memicu gangguan kesehatan lain seperti penyakit jantung.

  • Penyakit lambung 

Penyakit lambung (maag dan asam lambung) sering dipicu oleh stress atau tekanan batin yang mengakibatkan dinding lambung memproduksi asam secara berlebihan. Lambung menjadi sangat asam, hingga dindingnya mengalami iritasi yang terasa perih. 

Pikiran anak di masa menjelang puber memang bergejolak. Ketidakpuasan, kecemasan, ketegangan, dan keingintahuan yang tak terpenuhi menjadikannya tertekan dan lambung terpicu memproduksi cairan asam yang berlebih.

[Yazid Subakti]

Penuhi Kebutuhan Gizinya

Penuhi Kebutuhan Gizinya

Parenting – Penuhi kebutuhan gizinya, sebab pilihan sumber makanan untuk memenuhi gizi anak remaja penting untuk mengimbangi perubahan yang terjadi.

  1. Kegunaan Gizi 

Makanan anak di masa ini sebaiknya mengandung zat gizi yang penting untuk pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta mendukung pertumbuhan organ reproduksinya. Di samping itu, Anda perlu memikirkan gizi sebagai pertahanan tubuh dari berbagai gangguan penyakit yang rawan terjadi di usia ini. Selebihnya, juga penting untuk terus memberi edukasi bahwa agar perlu menerapkan kebiasaan makan dan gaya hidup sehat.

Pilihan sumber makanan untuk memenuhi gizi anak remaja penting untuk mengimbangi perubahan yang terjadi, yaitu perkembangan massa tulang, lemak tubuh, tinggi badan, berat badan, hingga pematangan organ reproduksi yang sangat pesat. Ingat, para pria yang di masa dewasanya menjadi suami yang kurang perkasa berawal dari masa-masa ini. Para isteri yang menjadi ibu mandul atau tak bisa menyusui juga berawal pada seberapa perhatian orang tua memenuhi gizinya di masa-masa seperti sekarang ini.   

  • Karbohidrat

Karbohidrat sederhana dalam tubuh mengalami proses pemecahan lebih cepat dan tidak membutuhkan waktu lama setelah berhasil tercerna. Sumber energi yang berasal dari karbohidrat sederhana bisa langsung berguna bagi semua sel, jaringan, serta organ tubuh. Namun, jenis karbohidrat ini bisa membuat kadar gula dalam darah dengan cepat melonjak naik. 

Contoh makanan yang mengandung karbohidrat sederhana adalah madu, gula putih, gula merah, dan pemanis lainnya. 

  • Karbohidrat kompleks

kebalikan karbohidrat sederhana adalah karbohidrat kompleks, yaitu mengalami proses pencernaan makanan yang jauh lebih lama. Ia lebih lama menghasilkan energi tetapi kadar gula dalam darah anak dengan penyakit tertentu tidak akan meningkat tajam dalam waktu singkat.

Karbohidrat ini terdapat dalam roti, jagung, pasta, gandum, kacang-kacangan, kentang, serta nasi.

  • Protein

Protein merupakan zat gizi yang menyusun sebagian besar tubuh. Nah protein penyusun sel dan jaringan tubuh, sekaligus memperbaikinya jika terdapat kerusakan sel hidup. Jika asupan zat gizi protein tidak tercukupi dengan baik, pertumbuhan anak menjadi terhambat. 

Sumber protein hewani dengan struktur asam amino esensial yang lengkap berasa dari ikan, telur, susu dan produk olahannya, daging merah (sapi atau kambing), dan daging putih (unggas).

Protein nabati berasal dari tumbuhan dengan struktur asam amino esensial di dalamnya tidak selengkap protein hewani. Makanan dengan kandungan protein nabati didapatkan dari gandum, oat, kacang-kacangan, tahu, tempe, atau berbagai bahan dari biji-bijian.

  • Lemak

Jangan selalu berpikir menghindari lemak, karena dalam jenis dan jumlah yang sehat, lemak merupakan zat gizi makro yang berperan sebagai sumber energi untuk anak. yang harus anda lakukan adalah memastikan  anak mendapatkan lemak dari sumber makanan dalam jumlah dan jenis yang tepat.

Lemak tak jenuh tunggal bisa menurunkan kadar lemak jahat atau LDL (low density lipoprotein). Selain itu, lemak ini menjaga kadar high density lipoprotein (HDL) atau lemak baik senantiasa optimal.

Anak  bisa diberi makanan beragam sumber makanan untuk mendapat lemak ini, terutama dari buah alpukat, minyak zaitun, dan kacang-kacangan.

Lemak tak jenuh ganda tak kalah baik untuk tubuh. Bedanya, jenis lemak ini memiliki kandungan asam lemak omega-3 dan omega-6 di dalamnya. Sumber makanan yang tinggi asam lemak tak jenuh ganda adalah berbagai macam ikan, minyak nabati, telur, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Lemak yang harus dihindari adalah lemak trans yang meningkatkan kadar LDL dan menurunkan kadar HDL. Lemak ini banyak terdapat pada makanan cepat saji, makanan kemasan, serta makanan yang digoreng dengan minyak panas berulang. Dan lemak jenuh juga sama buruknya bagi kesehatan tubuh, karena juga menurunkan kadar HDL dan meningkatkan kadar LDL. Sumber makanan dengan kandungan lemak jenuh banyak terdapat pada daging merah dan daging ayam.

  • Serat

Jangan sampai anak tidak mendapat serat setiap harinya. Ini sering terjadi karena serat terdapat dalam sayuran, sedangkan anak sering tidak menyukai sayuran. Ketidaksukaan pada sayuran biasanya terjadi sejak usia dini, hingga terus berlanjut sampai remaja, bahkan dewasa.

Serat sama pentingnya seperti karbohidrat, lemak, dan protein pada anak. Asupan serat harian anak tidak boleh kekurangan karena dapat mengakibatkan pencernaan terganggu.

Serat memiliki sifat khas yakni mudah larut bersama air sehingga tidak perlu dicerna melalui sistem pencernaan saat masuk ke dalam tubuh. Buah dan sayur seperti wortel, brokoli, alpukat, apel, jeruk, serta kacang merah dan ubi mengandung serat larut air yang cukup banyak.

  • Vitamin

Ada dua kelompok Vitamin untuk anak, yaitu vitamin larut air dan vitamin larut lemak. 

Vitamin larut air bersifat larut dalam air. Tubuh tidak mampu menyimpan vitamin ini, sehingga untuk mendapatkannya kita harus mengkonsumsi  makanan harian yang mengandung zat tersebut.

Jenis vitamin larut air adalah vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (niacin), B5 (asam pantotenat), B6 (piridoksin), B7 (biotin), B9 (folat), B12 (kobalamin), dan C. Vitamin-vitamin ini semakin tahun kebutuhannya semakin meningkat karena bertambah meningkatnya  kerja jaringan tubuh anak menuju remaja.

Vitamin larut lemak tidak larut bersama air melainkan dengan lemak. Kelompok vitamin larut lemak meliputi vitamin A, D, E, dan K. Semua vitamin ini dengan mudah diserap dalam aliran darah, ketika dimakan bersamaan dengan makanan sumber lemak. Seiring bertambahnya usia anak, kebutuhan vitamin larut lemak juga semakin banyak.

  • Mineral

Mineral adalah zat gizi mikro yang kecukupannya sangat menentukan sehat tidaknya anak. Peningkatan asupan mineral dibutuhkan untuk mendukung perkembangan tubuh yang semakin komplek aktivitasnya.

Seng, mangan, selenium, kalsium, kalium, fosfor, magnesium, zat besi, fluor, kromium, natrium, iodium, dan tembaga adalah berbagai jenis mineral tubuh. Kebutuhan kalsium pada masa ini, terutama menjelang remaja, cenderung lebih besar daripada masa anak-anak dulu dan dewasa nanti. Asupan zat besi juga makin banyak bagi anak  perempuan untuk mempersiapkan terjadinya menstruasi pertama kali (menarche) saat menghadapi pubertas nanti.

Makanan sumber mineral berasal dari daging sapi atau kambing, daging ayam unggas, makanan laut, tempe, tahu, kacang-kacangan, hamper semua jenis sayuran, serta hamper semua jenis buah-buahan.

  1. Ukuran Kecukupan gizinya

Angka kecukupan gizi (AKG) harian anak akan semakin meningkat di usia ini dibanding masa sebelumnya. Ada sedikit perbedaan antara untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Menurut  Kementerian Kesehatan RI, anak di masa ini (usia 13-15 tahun) disarankan  mendapat asupan gizi seperti berikut:

  • Kebutuhan zat gizi makro

Energi : laki-laki 2475 kkal, perempuan 2125 kkal

Protein : laki-laki 72 gr, perempuan 69 gr

Lemak : laki-laki 83 gr, perempuan 71 gr

Karbohidrat : laki-laki 340 gr, perempuan 292 gr

Serat : laki-laki 35 gr, perempuan 30 gr

Air : laki-laki 2000 ml perempuan 2000 ml

  • Kebutuhan zat gizi mikro

Vitamin

A : laki-laki 600 mcg, perempuan 600 mcg

D : laki-laki 15 mcg,  perempuan 15 mcg

E : laki-laki 12 mcg, perempuan 15 mcg

K : laki-laki 55 mcg,  perempuan 55 mcg

B12 : laki-laki 2,4 mcg,  perempuan 2,4 mcg

C : laki-laki 75 mg,  perempuan 65 mg

  • Mineral 

Kalsium : laki-laki dan perempuan 1200 mg

Fosfor : laki-laki dan perempuan 1200 mg

Natrium : laki-laki dan perempuan 1500 mg

Kalium : laki-laki 4700 mg dan perempuan 4500 mg

Besi : laki-laki 19 mg dan perempuan 26 mg

Iodium : laki-laki dan perempuan 150 mcg

Seng : laki-laki 18 mg dan perempuan 16 mg

  1. Permasalahan gizi di usia ini

Masalah gizi di usia ini yang paling banyak dicemaskan biasanya berkaitan dengan postur dan berat tubuh. postur yang tetap pendek dan tubuh yang terlalu kurus atau terlalu gemuk biasanya menimbulkan kecemasan. Padahal di luar itu, masih banyak masalah lain berkaitan dengan pemenuhan gizi yang lebih serius. 

  • Anemia 

Anemia terjadi karena kurangnya persediaan zat besi di dalam tubuh. Kekurangan zat besi ini terjadi karena asupan makanan yang tidak memberikan cukup zat besi,atau zat besi di dalam makanan sulit diserap oleh tubuh. Padahal di masa ini tubuh membutuhkan kadar zat besi yang cukup untuk menyambut masa pubertas, terutama bagi perempuan yang akan mengalami menstruasi. Sebab, saat menstruasi nanti tubuh banyak mengeluarkan darah.

Anak  laki-laki juga butuh cukup asupan zat besi karena menjelang masa pubernya terjadi  peningkatan massa dan kadar hemoglobin. 

  • Gizi kurang

Kekurangan gizi pada umumnya membuat tubuh anak tidak berkembang dengan optimal. Kondisi ini biasanya akibat minimnya asupan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, serat dan lemak, serta zat gizi mikro terutama dari vitamin dan mineral. Pertumbuhan menjadi terhambat, dengan salah satu akibat tubuh menjadi pendek. Jika terus berlanjut sampai dewasa, tubuh yang pendek terutama pada perempuan, menyimpan berbagai resiko saat melahirkan karena kemungkinan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan kekurangan gizi pula.

  • Masalah pola makan 

Banyaknya perubahan anak secara fisik maupun psikologisnya mengakibatkan perubahan pula pada perilaku makannya. Semakin mendekati masa pubertas nanti, anak mulai memikirkan citra tubuh dan penampilannya sehingga lebih selektif dalam memilah-milah makanan. Terjadinya perubahan pesat pada berat dan tinggi badan, juga membuat anak menjadi tidak nyaman. Ia merasa khawatir dan tidak percaya diri, merasa akan mendapat penilaian buruk orang lain tentang bentuk tubuhnya yang terlalu gemuk, terlalu kurus, atau terlalu pendek.

Ini semua dapat mendorongnya melakukan pola makan yang salah. Ia terjerumus makan junk food karena gaya hidup; menghindari buah dan sayur; serta waktu makan yang tidak teratur.

Dalam keadaan parah ingin mengurangi berat badan, bisa jadi anak mencoba diet pengurangan berat dengan menghindari beberapa jenis makanan tertentu yang salah perhitungan. Akibatnya ia kekurangan beberapa zat gizi dan terjebak perilaku makan yang menyimpang. 

Di sisi lain, sebagian anak di usia ini juga rentan stress dan tergiur gaya hidup teman sepergaulan yang tampak keren. Mereka juga berisiko terjebak gangguan makan yang membuatnya berburu makanan, dan makan dalam jumlah banyak. asupan makanan harian melebihi  kebutuhannya dan jadilah ia kelebihan berat badan.

 

[Yazid Subakti]

Seperti ini Tahap Tumbuh Kembangnya

Seperti ini Tahap Tumbuh Kembangnya

Tahap Tumbuh – Kita telah mulai perlahan meninggalkan masa-masa si kecil ditimang dan dimanja. Ia telah beranjak besar dengan perubahan ukuran tubuh yang semakin melejit dan perilaku yang makin dapat diandalkan. Beberapa sifatnya semakin menunjukkan karakter khas dia yang sesungguhnya dan pikiran cerdasnya semakin memberi petunjuk ia sebenarnya memiliki kemampuan dalam hal apa saja. 

  1. Pertumbuhan tubuhnya 

Pertumbuhan buah hati kini bertambah dengan penambahan berat rata-rata sekitar 3-3,5 kg dan tingginya bertambah 6 cm atau 2,5 inchi per tahunnya.  Di otaknya, pertumbuhan  otak tidak secepat tahun-tahun sebelumnya karena  proses  mielinisasi (terbentuknya selaput myelin pada sel otak)  sudah sempurna pada usia 7 tahun lalu. 

Kini, anak laki-laki pada usia 7 tahunan ini  cenderung  memiliki  berat  badan  sekitar  21  kg,  kurang  lebih  1  kg lebih  berat  daripada  anak  perempuan.  Tentu saja tetap ada perbedaan kenaikan  berat  badan  karena  faktor  genetik  dan lingkungan, yaitu seberapa besar atau kecil orang tuanya dan bagaimana lingkungan (terutama kecukupan gizi) membentuknya.

Setelah  usia  12 tahun nanti, tinggi badan kurang lebih 150 cm. ini juga karena genetik orang tua dan gizi yang ia dapatkan. 

Kekuatan  otot dan  koordinasi  tubuhnya meningkat  secara terus-menerus sehingga ia tampak lebih kuat dan bertenaga.  Ia semakin lihai menampilkan  pola  gerakan-gerakan  yang  rumit  seperti bermain bola, loncat tali, atau berkelit saat kejar-kejaran.  Kemampuan  ini  adalah  hasil  dari  pertumbuhan  maupun  latihan dan merupakan bagian dari bakat bawaan  sejak  lahir.  Organ-organ  seksual  belum  matang di awal usia ini, tetapi jangan dikira, minat pada jenis kelamin yang berbeda dan tingkah laku seksual mungkin saja sudah aktif. Lama-lama, minat pada lawan jenis ini semakin meningkat sampai pada  masa puber. Anda sudah harus menyiapkan ini semua untuk menghadapinya agar kelak tidak merasa semuanya seperti terjadi dengan tiba-tiba.

  1. Gigi adik ompong?

Benar, gigi lama atau gigi susu mulai tergantikan pada masa-masa ini. Tanggalnya  gigi  susu  merupakan  tanda pendewasaan organ mulut  yang dramatis, untuk digantikan oleh gigi tetap sampai sekitar 4  tahun ke depan. Jadi, mulai saat ini sampai 4 tahun ke depan ia akan mengalami selalu ada hari-hari gusinya bersela  tanpa gigi, satu atau dua biji. 

Jangan khawatir. Keadaan sedikit ompong ini tidak akan banyak mempengaruhi asupan makannya. Ia masih akan tetap dapat menggigit atau mengunyah makanan dengan lahap asalkan makanan yang ia inginkan terpenuhi. Rasa percaya diri akan penampilan di masa-masa belum terlalu penting baginya sehingga kondisi ompong tidak terlalu ia pikirkan. 

Yang paling ditekankan adalah, Anda harus terus memberikan bimbingan mengenai perlunya menjaga kebersihan dan kesehatan gigi. Anda perlu lebih sabar lagi mengingatkan, bila perlu menuntut, agar ia lebih rajin menggosok gigi  dan memberinya asupan makanan yang banyak mengandung kalsium. Menggosok gigi adalah salah satu bentuk ikhtiar menjaga gigi yang sudah tumbuh, sedangkan makanan berkalsium adalah usaha untuk membuat giginya kuat dan tumbuh sempurna.

Lebih dari itu semua, merawat gigi adalah bagian dari pendidikan untuk menyadarkan padanya bahwa ia sudah harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ia harus diingatkan bahwa kelalaian dari tanggung jawab ini akan berdampak pada kerugian dirinya sendirinya juga, yaitu gigi menjadi kerpos, berkarang, berlobang, atau mungkin saja tumbuh tidak sempurna.

  1. Perkembangan Kognitif 

Tahap TumbuhPada usia ini, kemampuan untuk berpikir  logis  sudah dimulai, tetapi tentang  apa yang dihadapi dan saat ini,  bukan  tentang  sesuatu yang bersifat  abstrak.

  • Masa umur 7-11 tahun, ia berpikir operasional konkret 

Kemampuan berpikir meningkat  atau  bertambah  logis.  Anak mampu  mengklasifikasi  benda  dan  perintah  dan  menyelesaikan  masalah  secara nyata dan  sistematis berdasarkan  apa  yang  mereka  terima  dari  lingkungannya. 

Ia sudah  rasional,  imajinatif,  dan  mampu  menggali  objek atau situasi lebih banyak untuk memecahkan masalah. Ia juga mampu berpikir konsep tentang waktu dan mengingat kejadian yang lalu serta menyadari kegiatan yang  dilakukan  berulang-ulang. Namun demikian, pemahamannya  belum  mendalam. Untuk menjadi anak yang mudah memahami, Anda masih harus bersabar menunggunya nanti di masa awal remaja. 

Ia mengalami perubahan selama tahap ini, dari interaksi egosentris di masa lalu kini menjadi hubungan kooperatif. Maksudnya, ia semakin bisa diandalkan untuk bekerjasama dengan teman-temannya, termasuk Anda sebagai orang tuanya. Pada  usia  ini  ia juga belajar  mengenai  hubungan  sebab  akibat. Ia, seharusnya sudah semakin mengerti bahwa perbuatannya yang tidak menyenangkan akan berakibat pada balasan tidak menyenangkan pula dari orang lain. 

  • Masa umur 11-15 tahun, ia berpikir operasional formal 

Tanda yang paling penting pada masa ini adalah kemampuan  menyesuaikan diri dengan  lingkungannya. 

Nanti, di masa ini ia  dapat  berpikir  dengan  pola  yang  abstrak  menggunakan  tanda  atau simbol. Ia mulai merambah kemampuan berpikir abstrak dan  filosofis. Maka, jangan heran di awal masa puber ia akan berburu kalimat bijak (quote) atau menciptakannya sendiri. Ia semakin tertarik berpikir tentang apa yang orang lain juga memikirkannya dan memecahkan masalahnya sendiri dengan caranya sendiri. 

Kemampuan  membaca  tidak lagi sekedar mengeja huruf dan bunyinya, tetapi ia sudah tertarik aka nisi bacaannya. Mereka sebenarnya sudah mampu membuat  rencana  ke depan karena sudah memiliki kemampuan motivasi  oleh  dorongan  di  dalam  diri sendiri,  bukan karena  persaingan atau dorongan orang lain. 

Bersabarlah jika ia mulai suka mengajak berdiskusi, atau bahkan berdebat. Itu pertanda baik bahwa ia terbuka untuk mempercayai anda. Anda akan pusing dan kebingungan jika ia menjadi sangat pendiam dan terlalu patuh menunggu perintah anda. jangan-jangan, ia tertekan dan menutup diri dari Anda. 

  1. Perkembangan Moral 

Perkembangan moral berarti bertambahnya kemampuan anak untuk membedakan baik dan buruk, atau benar dan salah melalui budaya dan keyakinan yang dianut. Dalam istilah fiqih, anak yang mulai berkemampuan membedakan itu semua dikatakan telah memasuki fase mumayyiz atau masa tamyiz.  

Ada tiga tahapan dalam perkembangan moral ini. 

Pertama, ia masih mengandalkan sisa-sisa egosentrisnya, yaitu menganggap kebaikan adalah seperti apa yang  diinginkan atau merasa nyaman dengannya. Sebaliknya, keburukan adalah apa yang ia tidak inginkan atau setiap sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. 

Kedua,  ia mulai berpikir hukuman  dan ketaatan. Ia menganggap bahwa baik  dan  buruk  sebagai  suatu  konsekuensi  dan  tindakan. Jika ia berbuat baik maka imbalan baik akan ia dapatkan dan jika ia berbuat buruk maka hukuman yang ia rasakan. 

Cara berpikir ini membuatnya kadang harus memilih perbuatan baik hanya karena untuk menghindari hukuman. Pada masa-masa sekolah di tingkat Sekolah Dasar, kebanyakan anak pada usia ini berpikiran bahwa apa yang mereka lakukan di sekolah adalah karena mematuhi peraturan atau tata tertib sekolah demi menghindari hukuman atau mendapat penghargaan jika patuh. Maka, anak-anak yang merasa tidak mau dihukum atau tidak takut hukuman akan terbiasa melanggar dan menjadi sumber keonaran bagi teman-teman sekelasnya. Ia memang tidak berat atas hukuman, dan tidak terlalu memerlukan penghargaan. 

Tahap  selanjutnya,  anak  sudah mampu berfokus  pada  motif  yang  menyenangkan  atau menguntungkan sebagai suatu  kebaikan untuk dirinya sendiri. Anak  menjalankan  aturan  sebagai  sesuatu  yang  memuaskan dirinya  sendiri. Ia mencoba membuat standar kebaikan dan kebenaran menurut dirinya sendiri. Ia mulai memikirkan kebaikan les bakat atas pertimbangannya sendiri. Ia mulai memiluh teman atas pertimbangan untuk kebaikannya sendiri, dan mulai menilai kebijakan atau norma keluarga atas cara berpikirnya sendiri. 

Masa inilah masa paling tepat mengenalkan aturan. Saatnya orang tua meyakinkan manfaat ketaatan terhadap aturan dan menyampaikan konsekuensi hukuman jika melanggarnya. Ia sudah masuk waktu untuk disadarkan bahwa kehidupan bukan tentang apa yang menyenangkan untuk dirinya sendiri, tetapi ada aturan yang menyangkut kepentingan bersama. Sudah mampu berpikir abstrak, maka seharusnya sudah dapat meraba mengapa Allah memberlakukan aturan-aturan berupa perintah dan larangan. Ia sudah sampai pada tahap mengenal hukum-hukum  fikih dan adab.  

Pada masa ini, orang tua dapat memberlakukan ketegasan-ketegasan sikap atas hal-hal yang penting. Anda harus tegas melarang apa yang tidak boleh dilakukan, dan memerintahnya apa yang memang harus dilakukan.  

  1. Perkembangan Spiritual 

Tahap TumbuhPerkembangan spiritual pada masa ini masuk pada tahapan mitos–faktual. Artinya, anak-anak mencoba untuk membedakan antara khayalan  dan  kenyataan. Kenyataan  spiritual  adalah  keyakinan  yang diterima penganut keyakinan. Kita mengatakannya akidah. Sedangkan khayalan  adalah hasil gambaran  yang  terbentuk  dalam  pikiran  anak sendiri.

Anak mencoba meraba memahami fenomena atau peristiwa di sekelilingnya. Jika peristiwa atau fenomena tertentu tidak ia pahami, misalnya bagaimana langit dan bumi diciptakan, mereka menggunakan khayalan untuk menjelaskannya. Selama masa ini, ia akan terus menerus  mengajukan  banyak  pertanyaan  mengenai hal-hal yang baginya menyimpan misteri. Ia mencari jawaban tentang keberadaan dan wujud Allah serta kebaikan-kebaikan-Nya, Malaikat serta jin dan apa yang terjadi padanya. 

Ada masa-masa yang agak kritis pada tahap ini. Ketika ia berdoa, ia juga masih meraba tentang pentingnya doa dan memikirkan bagaimana doa itu terkabulkan. Jika keyakinannya tidak sampai, ia akan menyimpulkan sendiri tentang penting atau tidaknya berdoa dan masuk akal atau tidaknya pengabulan doa. Pada titik yang parah, ia bisa kecewa jika doanya tidak dikabulkan dan merasa bahwa dirinya tertolak sehingga tidak perlu lagi berdoa. 

Menurut Kozier, Erb,  Berman, & Snyder, (2011), beberapa  anak akhirnya menolak  agama  pada  usia  ini,  sedangkan  sebagian  yang  lain  terus  menerimanya. Itu tergantung pada kedekatan dan interaksi dengan orang yang paling ia percayai, yaitu orang tuanya. Jika orang tua terus mendampingi dan menguatkannya, maka ia bisa semakin yakin pada keyakinan agamanya. Jika ia jauh dari orang tua atau merasa terabaikan, maka ia akan menjadi semakin lemah keyakinan terhadap agamanya. 

Mungkin karena kondisi ini, kita sering melihat anak-anak yang pada masa kecil rajin ke masjid untuk salat jamaah dan mengikuti pengajian TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), tiba-tiba menghilang dari masjid pada usia mendekati atau di awal puber.  

  1. Perkembangan Psikoseksual 

Menurut Sugmund Freud, anak pada masa ini sampai masuk usia 12 tahun memasuki masa laten. 

Mereka  menggunakan energi fisik dan psikologis untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalamannya. Anak perempuan lebih menyukai teman dengan jenis kelamin perempuan, dan anak laki-laki lebih suka berkumpul dengan laki-laki. Pertanyaan anak  tentang  seks  semakin  banyak  dan  bervariasi,  terutama berkaitan dengan tema organ reproduksi dan proses yang terjadi di dalamnya. 

Nah, saatnya Anda bersiap menghadapi tantangan mendebarkan. Ia akan bertanya bagaimana bayi lahir, apa yang terjadi saat masih di dalam rahim, mengapa bayi bisa ada di rahim, bagaimana awalnya calon bayi tumbuh di rahim, atau apa yang telah ibu lakukan sehingga mengalami kehamilan.  Karena ia mengetahui bahwa setiap anak bukan hanya keturunan ibu tetapi juga ayahnya, mungkin ia bertanya apa yang telah ayah lakukan terhadap ibu sehingga ibu menjadi hamil.

Siapkan jawaban itu mulai sekarang!

Maksudnya, siapkan sikap bijaksana  dalam  merespon  pertanyaan-pertanyaan anak,  yaitu menjawabnya  dengan  jujur  dan  hangat, tidak terlalu vulgar tetapi juga tanpa membohongi.  Jawaban  orang tua sesuai  dengan kedewasaan dan cara berpikir anak, mudah dipahami tanpa menjadikannya membayangkan penjelasan dengan pikiran liar. 

Berhati-hatilah jika jika ia mulai bertanya detail dan mengucapkan beberapa istilah seputar aktivitas seksual. Jangan-jangan ia telah mendapat referensi lain  atau telah lebih jauh masuk pada pengetahuan seks secara liar yang tidak terkontrol. Dari buku, rekaman video, media sosial, atau teman-temannya. 

Juga, waspadalah bila  anak  tidak  pernah  bertanya  mengenai  seks. Jangan-jangan ia memiliki pengalaman buruk pelecehan seksual atau sedang dalam ketakutan Anda membongkar pengalaman seksual terlalu jauh yang  pernah ia lakukan.

Di akhir masa ini, anak masuk tahapan genital saat pubernya sudah datang. Pematangan organ reproduksi mulai terjadi dan tubuh sudah memproduksi hormon seks.

  1. Perkembangan Psikososial 

Saatnya anak  belajar  bekerjasama  dengan  anak lainnya melalui berbagai kegiatan, atau bersaing dalam hal-hal yang mereka perebutkan. Di sekolah, ia akan menuntaskan pengalaman kerjasama dan persaingan akademiknya, juga pergaulan yang di dalamnya terdapat  permainan  bersama.  

Perubahan  fisik,  emosi,  dan  sosial  pada  anak  yang  terjadi mempengaruhi  gambaran  anak  terhadap  tubuhnya  (body  image). Jalinan sosial atau pertemanan yang lebih luas membuatnya menerima umpan balik berupa kritik dan masukan dari teman atau lingkungannya. Ia mungkin mendapat bullying atau menjadi pelaku bullying, sebagai cermin penerimaan  dari  kelompok pertemanan. Ini semua  akan  membantunya dalam pembentukan  konsep  diri  yang  positif.  

Perasaan  rendah  diri  akan muncul bila anak terlalu mendapat tuntutan dari lingkungannya sedangkan ia tidak  berhasil  memenuhinya.  Harga  diri  yang  kurang  pada  fase  ini  akan mempengaruhi tugas-tugas untuk fase remaja dan dewasa.   Makanya, dukungan atau motivasi dari  orang tua  menjadi  begitu  penting untuk menguatkannya. 

Selanjutnya, ia menghadapi situasi bahwa ia harus berusaha  untuk  menyesuaikan  perannya  sebagai  anak yang  sedang  berada  pada  fase  transisi  dari  kanak-kanak  menuju  dewasa.  Ia sadar bukan lagi anak-anak, tetapi juga belum dewasa. Ia mencoba bergaya sebagai remaja yang sangat dekat dengan kelompoknya,  bergaul  dengan  mengambil  nilai  kelompok  dan  lingkungannya. Di sinilah ia akan berproses menemukan identitasnya. Jadi, pantau dan arahkanlah ia untuk berada dalam lingkungan pertemanan yang baik.

 

[Yazid Subakti]

Melatih Tawanan Agung

Melatih Tawanan Agung

Parenting – Sayyidina Ali ra mengibaratkan anak di usia tujuh tahun kedua ini bagai seorang tawanan. Tawanan adalah seseorang yang diambil untuk dilindungi karena diharapkan saat besarnya nanti bisa bermanfaat. Tidak boleh memperlakukan tawanan dengan sembarangan karena ia biasanya dalam keadaan jiwa yang tidak stabil, tetapi bisa memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan. Perlakuan terbaik kepada tawanan adalah memberikan pembinaan dengan ketegasan aturan. 

Anda sedang membina tawanan yang agung, ketika buah hati hari ini berumur antara 8 sampai 14 tahun. Kepada anak di usia ini, orang tua menghadapinya dengan sikap antara seorang pengajar, pendidik, pembimbing, sekaligus pelatih. Anak harus mulai terbentuk kepribadiannya karena beberapa saat kemudian ia akan memperjuangkan sendiri masa depannya.    

  • Mengajar dengan arif

Mengajar maksudnya adalah pemberian bahan ajar dalam bentuk ilmu pengetahuan. Prosesnya dapat dengan memberi contoh atau mempraktikkan sikap tertentu kepadanya agar ia memiliki pengetahuan yang dapat terpakai dalam kehidupan sehari – hari.  Dalam  mengajar, ada tuntutan untuk mengatur lingkungan supaya yang ia mau belajar karena ia merupakan pusat dari kegiatan ini. 

Anda  memberi bantuan, menentukan arah kegiatan dan menciptakan kondisi lingkungan yang dapat menjadi sumber bagi yang diajar untuk melakukan kegiatan belajar. Perbuatan ini memerlukan tanggung jawab moral. Oleh karenanya , berhasilnya terletak pada tanggung jawab pengajarnya.

Inilah yang Anda lakukan kepada anak. Anda berbagi ilmu dengannya, mempraktikkan kemampuan praktik dan sikap yang menjadi contoh. Anda mengikat diri secara moral dengannya, karena hasil dari semua proses ini sangat tergantung kesungguhan Anda. 

  • Mendidik dengan bijak 

Mendidik itu bagian dari usaha untuk mengantarkan yang dididik ke arah kedewasaan, baik itu secara jasmani maupun rohani. Oleh karenanya, mendidik merupakan upaya pembinaan pribadi, mental, akhlak dan sikap. Mendidik tidak sekedar berbagi ilmu, tetapi lebih dari itu adalah transfer nilai. Oleh karenanya kegiatan mendidik harus melibatkan aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik agar yang dididik tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkepribadian.

  • Membimbing dengan hati

Kegiatan membimbing sangat berkaitan dengan norma dan juga tata tertib. Dalam prosesnya, membimbing dapat dengan cara menyampaikan ilmu pengetahuan, strategi dan seni menggunakan cara yang paling sesuai dengan individu yang terbimbing. 

Jadi, membimbing lebih berupa pemberian motivasi dan pembinaan yang mengharuskan pembimbing dekat dengan yang dibimbing dan melakukannya dengan cara sebijak-bijaknya.

Anda saat ini membimbing anak, yang berarti kedekatan Anda dengannya tidak boleh ada tawar-menawar. Anda mengatasinya, memperhatikan perubahan-perubahannya, dan memberi dorongan agar ia menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.   

  • Melatih dengan tekun 

Melatih adalah memberi tuntunan kepada seseorang agar ia memiliki kemampuan yang ia butuhkannya, memiliki keterampilan atau kecakapan hidup yang ia inginkan. Dalam prosesnya, melatih dengan menjadi contoh, menyampaikan pemahaman, melakukan simulasi, memberi kesempatan mencoba, dan menuntun untuk mengulang-ulang sampai menjadi kebiasaan atau keahlian.  

Seorang pelatih memiliki ukuran keberhasilan terhadap hasil pelatihannya dan memiliki catatan perkembangan mengenai seberapa jauh materi pelatihan sudah terkuasai. Yang tak kalah penting, melatih berarti memiliki aturan yang tegas, bahkan ketat, agar yang mendapat pelatihan dapat menjalani latihannya dengan tertib. Semua pelatih profesional menerapkan target dan disiplin tinggi agar hasil pelatihan sesuai target.   

Melatih adalah aktivitas paling khas menghadapi  anak di usia tujuh tahun keduanya. Kepada anak di usia remaja awal, Anda menjadi pelatih kehidupan baginya siang dan malam. Anda kini tak lagi mengasuh si kecil dengan nyanyian-nyanyian dan dongeng menjelang tidur, tetapi  menjadi figur contoh bagi remaja  tentang apa yang harus ia lakukan, menyampaikan pemahaman, memberinya kesempatan mencoba dan menuntunnya beberapa pembiasaan baik yang akan membentuk kepribadian dan kecakapan hidupnya.

Tidak ada yang mudah dari melatih tawanan agung ini. Ia tidak kecil lagi tetapi juga belum sepenuhnya besar. ITak bisa lagi memperlakukannya sebagai kanak-kanak lemah dan penurut, tetapi juga belum masanya menganggapnya sebagai orang dewasa yang pengertian.

Jangan sampai salah memperlakukan tawanan. Memperlakukan tawanan secara kasar membuatnya berontak dan menjadi sumber fitnah. Sedangkan perlakuan yang terlalu longgar membuatnya lupa diri dan terlena. Membiarkan tawanan dalam kebebasan bahkan bisa membentuknya menjadi musuh dan sumber fitnah. 

Tawanan harus diperlakukan dengan cinta, yaitu jenis cinta keras yang disampaikan dengan ketegasan aturan dan kesungguhan menjalani syariat Allah. 

Kini kita telah sampai pada fase ini.

 

[Yazid Subakti]

Sebelum Menuntut Keshalihan Anak

Sebelum Menuntut Keshalihan Anak

Parenting – Semua orang tua menginginkan keshalihan anak, anak yang ketaatannya utuh kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim mendoakan anak dan seluruh keturunannya salih. 

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Ash Shaffat: 100).

Sikap Nabi Ibrahim ini menjadi inspirasi bagi semua orang tua, sampai hari ini. Ketika seorang isteri mengandung, maka ia bersama suaminya berdoa untuk kesalehan bayinya. Ketika bayi lahir hingga besar dalam didikan, masih juga tanpa lelah orang tua mendoakan kesalahannya.

Tidak ada yang salah, bahkan amat mulia, ketika orang tua mengharap kesalehan kepada anaknya. Bukan hanya mengharap, tetapi menuntunnya menuju kesalehan yang nyata. 

Akan tetapi Allah mengingatkan, 

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS At tahrim: 6)

Penjagaan api neraka itu ternyata awalnya dengan diri sendiri orang tua, sebelum kemudian melakukan penjagaan kepada anak-anaknya. Nabi Ibrahim mengucap doa ini dalam keadaan sudah sangat salih. Beliau mendahului kesalahannya, kemudian membentuk kesalehan keturunanya. Beliau sudah terbentengi dari api neraka, kemudian menjaga keturunanya dari api neraka. 

Jika hari ini orang tua menuntut kesalahan kepada anak-anak, mestinya yang salah adalah dia terlebih dahulu. Mestinya orang tua terus belajar dan berproses membentuk dirinya menjadi pribadi yang taat, agar ia dapat menjadi contoh dan mengarahkan anak-anaknya untuk taat. 

Sebelum anak-anak terlahir, mestinya orang tua memetakan unsur kesalahan apa saja yang ia harapkan akan terjadi pada anaknya sebagai penjagaan api neraka, kemudian semua unsur itu ia lekatkan padanya dulu saat ini. Jika ia ingin membentuk anak-anak ahli ibadah, sebelum anak itu lahir atau mengiringi kelahirannya, orang tua telah menjadi sosok ahli ibadah. Jika ia ingin anaknya menjadi pribadi yang santun, mestinya saat ini ayah dan ibu telah melatih diri untuk menjadi manusia santun. Dan jika Anda menginginkan anak-anak nanti menjadi sahabat Al-Qur’an, mestinya mulai saat ini pun anda telah berproses untuk dekat dengan Al-Qur’an. Jika tidak, kelak Anda akan menjadi orang tua menyebalkan; setiap hari menanyakan perkembangan hafalan Al Quran anaknya, sementara Anda sendiri tak pernah mau menghafal. 

Menjauhi api neraka itu sarat dengan sikap menjauhi perbuatan tercela. Orang tua dululah yang membersihkan diri dari perbuatan tercela, baru kemudian meminta anaknya untuk sama-sama menjauhinya. Hanya orang tua yang berhenti merokok yang pantas melarang anaknya merokok. Hanya orang tua jauh dari riba yang layak melarang anaknya menjauhi riba. Orang tua yang terjaga mulutnya yang dapat mengingatkan anaknya untuk menjaga mulut. 

“…jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah pesan Allah untuk sebisa mungkin para orang tua mendahului perbaikan dirinya sebelum menyampaikan tuntutan kepada anak-anak. Tidak orang tua sempurna, memang, tetapi setidaknya memiliki kemauan kuat untuk terus belajar dan berproses menjadi salih. Agar dengan kesalehan ini anak-anak mendapat kebaikannya. 

 

[Yazid Subakti]

Menanamkan Kerinduan akan Baitullah

Menanamkan Kerinduan akan Baitullah

Parenting – Pergi menuju baitullah artinya melaksanakan haji sebagai bagian dari rukun islam. Tetapi ibadah ini berbeda dengan ibadah yang lain karena di samping aktivitas berhaji juga terdapat banyak hikmah yang menyertainya. 

1. Mengapa harus rindu baitullah?

Pertama, mengunjungi kiblat dan rumah Allah. Setiap kali kita shalat, kita sedang mengarah pada satu titik, yaitu Ka’bah. Bangunan ini telah tetap oleh Allah untuk menyatukan arah hadap ketika umat islam seluruh dunia melakukan shalat dan berdoa. Ka’bah adalah pusat arah ibadah dan titik paling penting yang menjadi simbol penyatu ketika manusia menghadap Allah. 

Kedua, menapakkan kaki di tanah yang suci. Jauh sebelum nabi Muhammad SAW lahir, kota Mekkah telah tetap oleh nabi-nabi sebelumnya bagai rumah yang suci (bait al haram). Pergi haji berarti pengalaman menginjakkan kaki dan merasakan suasana di tanah yang suci. Di tanah ini, Allah meletakkan banyak keistimewaan. Di masjid Al haram, Allah melipatgandakan keutamaan kita seseorang beribadah di dalamnya. 

Ketiga, menyaksikan langsung tempat bersejarah. Apa yang kita lakukan saat beribadah haji adalah cuplikan peristiwa masa lampau yang oleh Rasulullah lakukan. Semua gerakan dan bagian ibadah memiliki sejarah dan kisah sendiri. Tawaf, Sa’I, melempar jumrah dan berkurban adalah mempraktikkan cuplikan sejarah. Di samping itu, tempat haji dan sekitarnya adalah tempat yang menjadi latar masa lalu Rasulullah SAW. Di sinilah letak rumah beliau, jalan-jalan atau kampung yang pernah terlalui, gua yang pernah tersinggahi, masjid yang pernah terbangun, hingga makam tempat beliau terkuburkan. Semuanya masih tampak nyata, menjadi bukti bahwa apa yang kita kisahkan dalam islam itu benar-benar terjadi. Jadi, pergi ke baitullah adalah pembuktian sejarah. 

Mengapa harus ditanamkan kerinduan

Jika shalat dapat dilihat oleh anak setiap hari lima kali dan semua orang melakukannya, maka ibadah haji dilakukan seumur hidup biasanya hanya sekali dan belum tentu dari keluarga dekat atau masyarakat sekitar ada yang melakukannya di masa-masa kehidupan si kecil. Banyak anak yang sampai usia remaja belum pernah sekalipun menyaksikan orang berangkat menunaikan ibadah haji.

Jarangnya pemandangan langsung mengenai peristiwa haji inilah yang menuntut kita untuk aktif mengenalkan kepada anak, agar ia tidak melupakan atau menganggap sepele rukun islam kelima ini. 

2. Mengenalkan ibadah haji

Kapan Ibadah Haji dikenalkan kepada Anak?

Tidak ada ukuran kapan anak-anak harus mulai mengenal ibadah haji. Usia paling ideal untuk memperkenalkan ibadah haji adalah setelah melewati usia 3 tahun. Pada usia ini mereka sudah mulai banyak bertanya dan menunjukkan keingintahuan yang besar tentang apapun. Inilah kesempatan bagi orang tua memperkenalkan ibadah haji kepadanya. 

Di sekolah-sekolah, mulai dari kelompok bermain dan TK sampai Sekolah Dasar biasanya sudah kenalkan dengan tata cara haji dengan mengadakan praktek manasik haji. 

  • Dimulai dengan pengenalan rukun islam 

Ibadah haji adalah rukun islam yang ke lima. Mengenalkan haji kepada anak mulai dengan mengenalkan rukun islam, sedangkan haji adalah bagian darinya yang harus ia kerjakan agar keislaman menjadi sempurna. 

  • Gambar dan pernak-pernik

Gambar atau benda konkrit dapat memberi informasi cukup efektif kepada anak, sekaligus merangsang rasa ingin tahu lebih dalam. Anda dapat mengoleksi gambar-gambar atau poster masjidil haram, ka’bah, dan aktivitas seputar ibadah haji. Letakkan gambar-gambar ini sebagai hiasan dinding, stiker, kalender, atau hiasan meja yang memungkinkan anak sering melihatnya.

  • Berkisah

Berkisah sangat efektif mempengaruhi jiwa anak, terutama jika disampaikan saat menjelang tidur. Anda dapat menyampaikan kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail kecil di letakkan di lembah yang sekarang menjadi kota Mekkah dan awal munculnya air Zam-zam, tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memulai pembuatan pondasi ka’bah, atau kisah kelahiran nabi Muhammad SAW yang bertepatan penyerangan tentara bergajah hendak menghancurkan Ka’bah yang digagalkan oleh Allah dengan dikirimnya burung ababil. Banyak kisah menarik lain seputar ka’bah. 

  • Memutarkan video 

Banyak beredar video edukasi haji untuk anak yang berisi sejarah Ka’bah dan kota Mekkah, kisah perjuangan rasulullah di kota Mekkah dengan latar Ka’bah, kisah pasukan Abrahah menghancurkan Ka’bah, atau video cara manasik haji. 

Dalam video manasik haji, ada kalimat talbiyah yang terucap berulang-ulang, dan orang-orang mengenakan pakaian ihram. Berikan penjelasan singkat mengenai kalimat talbiyah dan maknanya, serta kain ihram dan keunikannya. 

3. Agar Anak-Anak Tidak Tertekan Menerima Pembiasaan Ibadah

Ibadah bagi anak-anak memang belum wajib hukumnya. Oleh karenanya, bisa saja anak-anak merasa terbebani dengan pembiasaan-pembiasaan ini yang mungkin menurutnya cukup memberatkan.

Agar tidak memberatkan anak, orang tua perlu mengkondisikan, 

  • Pembiasaan bersifat ajakan, bukan perintah atau paksaan. Ajakan berarti orang tua melakukan atau memberi contoh, kemudian berikan anak kesempatan atau terdorong untuk mengikuti atau terlibat. 
  • Setiap ibadah yang disampaikan dibuat dengan suasana gembira. Shalat dengan gembira, puasa gemira, sedekah juga bisa dengan gembira. 
  • Jika anak sudah berhasil melakukannya, orang tua memberi pujian atau penghargaan seperlunya yang membuat anak merasa terhargai dan bersemangat untuk mengulanginya kembali.
  • Tidak perlu menuntut untuk melakukan semua pembiasaan ibadah ini dengan sempurna. jika anak telah melakukannya, itu artinya ia sudah sungguh-sungguh berlatih dan perlu berulang kali. 
  • Yang tumbuh dari pembiasaan awal ini adalah anak merasa senang melakukannya, meskipun tidak semuanya bisa dengan benar. Pembenaran secara bertahap ketika sudah saatnya memberikan pemahaman. 

[Yazid Subakti]

Mengenalkan Ibadah Puasa

Mengenalkan Ibadah Puasa

Parenting – Anak-anak harus dikenalkan ibadah puasa karena amalan ini merupakan salah satu rukun islam yang tanpanya keislaman menjadi tidak sempurna. Puasa yang paling penting untuk dikenalkan adalah puasa wajib setiap bulan Ramadhan. 

Selain menjadi penyempurna rukun islam, puasa adalah terapi jiwa bagi anak-anak untuk mengendalikan diri. Bulan Ramadhan menjadi madrasah untuk memperbaiki kesalahan dan perlombaan ketaatan kepada Allah. 

1. Menciptakan suasana gembira atas datangnya bulan Ramadhan

Datangnya bulan Ramadhan sebisa mungkin menjadi kabar gembira bagi keluarga. Ayah dan ibu menciptakan suasana rumah yang berbeda, lebih istimewa daripada bulan-bulan biasa. 

  • Menghias atau merapikan rumah dengan menambah lampu di taman atau pagar dekat jalan, membuat aksesoris di dalam rumah atau hiasan di dinding yang menjadikan rumah lebih terang dan semarak. 
  • Menyemarakkan suasana rumah dengan bebunyian murattal atau bacaan Al-Qur’an, salawat nabi, ceramah-ceramah bertema ramadhan dan motivasi untuk beribadah di dalamnya. Jika memungkinkan, pilih bebunyian yang bernuansa anak-anak atau disuarakan dari rekaman anak-anak.
  • Menyediakan menu yang khas di bulan Ramadhan, menu yang menggambarkan keistimewaan atau penghargaan bagi orang yang berpuasa. Jika si kecil menginginkan atau menyukai jenis makanan tertentu, maka makanan inilah yang disajikan untuk berbuka di bulan Ramadhan, di samping juga makanan yang disunnahkan. 
  • Menyediakan fasilitas ibadah tambahan untuk persiapan ibadah bulan Ramadhan. Anak-anak akan sangat gembira mendapatkan alat salat baru, atau mushaf Al Quran baru untuk digunakan mulai Ramadhan dan seterusnya. 
  • Membuat program keluarga khusus untuk bulan Ramadhan. Membuat safari tarawih di beberapa masjid yang lebih meriah pada beberapa malam tertentu, acara buka puasa keluarga di tempat yang mengesankan, menghadiri acara kajian Ramadhan yang diisi penceramah berkualitas, atau mendatangi acara kemeriahan Ramadhan khusus untuk anak-anak. 

Selama menyambut ramadhan, anak-anak sebaiknya diringankan beban rutin hariannya dibanding hari-hari biasa. Beberapa penugasan rumah dibebaskan atau diringankan karena energi dan perhatiannya akan diarahkan untuk menyemangatinya berpuasa. 

2. Puasa memang berat bagi anak 

Dunia anak sangat erat dengan kesenangan terhadap makanan. Ketika tiba saatnya harus mengenalkan puasa, yang membuat anak-anak merasa berat adalah karena harus menghentikan kesenangan utamanya itu, yaitu berhenti makan. Mereka bisa saja menolak karena kenyataannya, berhenti makan dan minum tidak sekedar berhenti dari kesenangan, melainkan juga harus menderita rasa perih di perut saat lapar, kering di mulut saat berlama-lama haus, serta lemasnya badan karena tidak makan dan minum. 

Itu terjadi karena kebanyakan orang tua menyampaikan pelajaran puasa kepada anak-anak dengan menggambarkannya seolah puasa itu ibadah yang dilakukan dengan menghentikan makan dan minum saja. Mestinya, anak-anak mendapat penjelasan bahwa yang harus dihentikan saat puasa bukan hanya makan dan minum. 

Jelaskan kepadanya dengan bahasa paling sederhana bahwa puasa itu artinya menahan; yaitu tidak makan dan minum, juga tidak melakukan perbuatan lain yang dapat membuat puasanya batal, serta melakukan amal ibadah lain yang akan menjadi penyempurna puasanya itu. Sampaikan pesan bahwa selain menahan lapar, juga tidak boleh menyakiti orang lain dan tidak mengucapkan kata-kata buruk. Agar pahala menjadi sempurna, puasa harus dilengkapi dengan sering mengaji, memperbanyak shalat sunnah, dan gemar berbagi. 

3. Melatih si kecil berpuasa 

Keluarga salih terbiasa berpuasa dari yang paling tua sampai yang paling muda, selama memiliki kemampuan. Ini telah berlangsung pada zaman nabi, para sahabat, dan tabi’in hingga orang-orang shalih setelahnya. 

Keluarga Umar bin Khattab terbiasa berpuasa, hingga anak-anak kecilnya. Suatu hari, beliau pernah menegur seorang pemabuk yang tidak berpuasa pada siang bulan Ramadhan. Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan, 

“Umar ra berkata kepada orang yang mabuk-mabukan pada siang hari bulan Ramadhan, ‘Celaka kamu! Anak-anak kami yang masih kecil saja berpuasa!‘ Kemudian beliau memukul orang itu.”

Biarkan si kecil menikmati kesenangan dan kemeriahan bulan puasa. Biarkan ia bersama teman-temannya turut dalam berbagai permainan khas puasa, bermain sambil menunggu pengajian di masjid dan acara meriah lainnya.

Bangunkan sahur dan menikmati menu makan sahur agar ia mengenal aktivitas yang mengawali hari puasa. Biarkan ia merasakan pengalaman suasana makan sahur yang tidak terdapat pada hari-hari biasanya. Agar mudah bangun di waktu ini, sebelumnya ia harus tidur tidak terlalu malam, yaitu tepat setelah tarawih. 

Setelah makan sahur, ajak ia menahan makan dan minum sekuatnya. Untuk mendukung ajakan ini, semua jenis makanan dan minuman di rumah memang harus ditiadakan atau disembunyikan. Ia tidak melihat makanan dan minuman, dan melihat ayah ibunya juga tidak makan dan tidak minum.

  • Menjelang siang, anak mulai berat merasakan haus dan lapar yang melilit.

Ia mungkin menangis atau merengek meminta minum dan makan. Anda dapat mengalihkan perhatian dengan mengajaknya bermain, bepergian melihat pemandangan atau objek yang menakjubkan.

Jika rasa haus dan lapar benar-benar tak tertahankan, ajaklah sekali lag bertahan sampai terdengar adzan dzuhur berkumandang. Begitu adzan berkumandang, berikan kesempatan untuk melepas haus dan laparnya, tetapi setelahnya kembali menahan sampai turut buka bersama saat adzan maghrib berkumandang. Saat maghrib tiba, ajak si kecil berbuka bersama agar merasakan pengalaman berbuka dengan suasana sebagaimana berbukanya orang berpuasa.

Lakukan latihan setiap hari tanpa memaksa atau menakut-nakuti. jika ia berhasil melakukan tahap paling ringan, yaitu menahan sampai dzuhur, anda dapat memberinya penghargaan berupa hadiah yang nilainya akan lebih besar lagi jika mampu menahannya sampai maghrib suatu hari nanti.

4. Hambatan-hambatan saat melatih anak berpuasa 

Anda akan mengalami hambatan atau tantangan begitu latihan puasa mulai diterapkan kepada anak-anak.

Hambatan pertama adalah budaya atau norma setempat yang belum tentu mendukung anak-anak balita belajar puasa. Beberapa masyarakat, sekalipun kebanyakan beragama islam, memandang bahwa puasa boleh bagi orang dewasa atau anak-anak saat menginjak remaja. Anda yang mulai menerapkan latihan puasa bagi anak balita mungkin terlihat aneh atau berlebihan, kemudian mendapat komentar tidak menyenangkan. Tidak jarang komentar ini datangnya dari orang terdekat, yaitu orang tua atau mertua dan kerabat Anda.

Anda tidak perlu membuang energy dengan membantah mereka atau menjelaskan secara detail. Cukuplah Anda lakukan apa yang anda yakini, yaitu tetap melatihnya berpuasa, sambil terus menjaga kedekatan dengan si kecil agar penghambat ini tidak berpengaruh padanya. Si kecil lebih mempercayai anda, dan mengikuti apapun Anda.

Hambatan kedua adalah kondisi anak yang lemah secara fisik.

Sebagian anak rentan terhadap penyakit, atau fisiknya lemah sehingga mudah sakit jika terlambat makan atau mendapat sedikit tekanan dalam hidupnya. Kondisi ini biasanya tidak terus menerus terjadi, kecuali pada anak yang memiliki kelainan organ atau memang sedang menderita gangguan kesehatan tertentu. Pada anak yang normal, kondisi rentan sakit berhubungan dengan asupan gizi dan gaya hidupnya yang kurang sehat. Oleh karena itu, persiapan sebelum melatihnya puasa adalah dengan cara menyehatkannya dulu jauh hari sebelum bulan Ramadhan datang. siapkan satu atau dua bulan bulan sebelum Ramadhan dengan memperbaiki asupan makan, menjaga istirahat, tetap berolahraga, dan tenang pikirannya. Jangan sampai di bulan ramadhan si kecil kekurangan berat badan yang mengakibatkan energinya cepat habis dan jatuh sakit saat masih di hari-hari awal berlatih puasa.

Hambatan ketiga adalah perasaan kasihan atau tak tega. Ini bukan masalah anak, tetapi manajemen pikiran orang tua yang bermasalah. Mestinya, orang tua tidak terkuasai oleh perasaannya, tetapi perasaan itu berimbang dengan pikiran. Emosi mestinya berimbang dengan rasionalitasnya.

Rasa kasihan itu ada tempatnya. Meletakkan rasa kasihan di tempat yang salah akan membawa dampak yang merusak dalam jangka yang panjang. Orang tua mengasihani anak saat belajar berpuasa karena menganggap bahwa latihan ini menyakitkan. Orang tua tidak tega melihat anak yang terkulai lemas karena menahan lapar dan haus. 

Perasaan kasihan yang seperti ini mendorong orang tua menunda latihan puasa anaknya kelak ketika anak sudah besar. Begitu sudah besar, tidak ada jaminan anak akan lebih mudah berpuasa. Ketika berpuasa pun, ia baru melalui tahap awal latihan, yaitu menahan makan dan minum saja. ia masih membutuhkan waktu beberapa musim puasa lagi untuk melengkapi latihannya. Sementra itu anak yang sejak dini berlatih telah menuntaskan seluruh latihannya di usia ini.

[Yazid Subakti]

Mengenalkan Sedekah

Mengenalkan Sedekah

Mengenalkan Sedekah – Sedekah artinya membenarkan, yaitu meyakini kebenaran Allah dan Rasul-Nya serta ajaran yang disampaikan. Bukti pembenaran ini ditunjukkan dengan menyisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk diberikan kepada orang lain yang memerlukannya. Dengan bersedekah, harta dan jiwa kita menjadi bersih sehingga sebagian dari sedekah juga disebut zakat yang artinya pensucian diri.

Sedekah menjadi salah satu amalan utama orang beriman. Anak-anak muslim seharusnya tumbuh menjadi pribadi yang gemar berderma, gemar berbagi, atau gemar bersedekah sejak dini. Rasulullah SAW dan para sahabat merupakan pelopor dan teladan terbaik terhadap sifat pemurah ini. Beliau sangat serius dan berulang kali mendidik sahabatnya untuk menjadi pribadi yang gemar bersedekah, dengan memberikan jaminan bahwa harta tidak akan berkurang dengan sedekah.

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

  1. Melatih kepekaan jiwa

Hikmah sedekah adalah mengasah kepekaan jiwa terhadap kondisi sesama manusia, kemudian tergerak untuk peduli kepada mereka dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. 

Asma` binti Abu Bakar ra pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki harta kecuali apa yang dimasukkan Az-Zubair kepadaku. Apakah boleh aku menyedekahkannya?’” Beliau SAW bersabda: “Bersedekahlah. Jangan engkau kumpul-kumpulkan hartamu dalam wadah dan enggan memberikan infak, niscaya Allah akan menyempitkan rezekimu.” (Terjemahan HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan kepada seorang wanita yang dalam keadaan terbatas pun Rasulullah SAW tetap memberikan motivasi untuk bersedekah. Beliau bersabda,

“Wahai wanita-wanita muslimah! Janganlah seorang tetangga meremehkan untuk memberikan sedekah kepada tetangganya, walaupun hanya sepotong kaki kambing” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hikmah lain sedekah adalah merekatkan hubungan antar sesama dan sebagai bentuk nyata menyelamatkan sesama muslim dari ancaman kekafiran. Dengan disedekahi, mereka yang terhimpit menjadi merasa memiliki saudara seiman yang menolongnya, terhindar dari meminta-minta dan terbantu dari kefakirannya. Sedangkan kefakiran sangat dekat dengan kekafiran.

Anak-anak dilatih bersedekah agar tidak tumbuh padanya sifat kikir. Sedekah memberi harapan kebaikan dan menghapus kekikiran. 

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tidak satu haripun di mana seorang hamba berada padanya kecuali dua Malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata,“Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

  1. Agar anak gemar bersedekah 

Setiap manusia memiliki ego untuk mempertahankan apa yang ia miliki, terlebih pada masa kanak-kanak. Namun demikian, latihan sedekah dapat dengan suasana yang menyenangkan. 

  • Dimulai dari ayah dan ibu 

Pertama-tama adalah teladan ayah dan ibu. Anak-anak memerlukan model, yaitu seseorang yang ia saksikan langsung melakukan perbuatan itu berulang-ulang. Ayah dan ibu harus memperlihatkan dirinya menjadi contoh nyata pada anak agar ditiru. 

  • Menyisihkan tabungan 

Ajak anak-anak menyisihkan tabungannya. Sebagian tabungan itu ia gunakan untuk keperluannya, dan sebagian yang lain berikan dengan sukarela kepada fakir miskin yang memerlukan, memasukkannya di kotak infak masjid, atau turut menyumbang kegiatan sosial di sekolahnya. 

  • Berbagi makanan 

Memberi makan adalah salah satu bentuk sedekah paling utama. Sebagian dari yang termakan itu adalah makanan ringan yang dapat emakannya kapanpun dan tidak terikat tempat. Saat ia berkumpul dengan teman-temannya, berikan bekal makanan yang lebih dari biasanya agar ia dapat membagi sebagiannya untuk teman-temannya. Begitu juga saat ia memakan sesuatu kemudian temannya datang, mintalah membagi sebagian makanannya itu untuk diberikan temannya. 

Saat temannya datang ke rumah doronglah si kecil menjamu tamunya itu dengan menyuguhkan makanan dan minuman. Saat tamu dewasa dating dan anda sibuk menyiapkan perjamuan atau suguhan, libatkan si kecil menyiapkan atau mengantarnya ke meja tamu dan mempersilahkan tamu itu menyantapnya. 

  • Menyumbangkan barang miliknya 

Sebenarnya, sedekah bukanlah membuang harta atau barang hak milik yang memang ia tidak butuh atasnya. Jika anda bersedekah makanan, yang disedekahkan bukanlah sisa makanan basi atau bagian dari makanan yang karena anda tidak layak memakannya kemudian diberikan kepada orang lain. 

Sedekah yang membekas dalam jiwa adalah berbagi atas barang milik kita, sedangkan kita masih berhajat menggunakannya atau memerlukannya, bahkan sesuatu yang enggan kita berikan karena kita sendiri menyukainya. 

Tawarkan kepada si kecil menyumbangkan salah satu barang mainannya, pakaiannya, atau benda lain kesukaannya untuk diberikan kepada orang lain temannya yang membutuhkan. 

  • Berkunjung ke panti sosial 

Ada banyak panti sosial yang menampung anak-anak yatim atau anak dari kaum duafa yang tidak mendapat jaminan penghidupan dari orang tuanya karena orang tuanya tiada atau tidak mampu. Anak-anak di panti ini dalam proses belajar mandiri tetapi di masa-masa awal kehidupannya membutuhkan pemberian dari orang lain. 

Ajaklah anak mengunjungi panti untuk berkenalan dengan penghuninya, menyaksikan dan berinteraksi langsung dengan anak-anak yang memerlukan bantuan. Dalam kunjungan ini, jangan lupa membawa sesuatu yang dapat menyenangkan hati anak-anak penghuni panti. 

  • Mendatangi korban bencana

Negeri kita sering terkena bencana. Gempa bumi, tanah longsor, banjir, dan bencana lain mengakibatkan para korban yang hidup kehilangan penghidupan. Mereka tinggal di tempat pengungsian dan memerlukan bantuan. 

Ajaklah si kecil mengunjungi tempat pengungsian untuk bertemu korban bencana dengan membawa sumbangan semampu Anda. Ia akan melihat secara langsung kondisi orang-orang yang menderita, kerusakan akibat bencana, dan para relawan bekerja keras memberi bantuan. Pemandangan ini sangat mendukung jika pada saat itu juga anda memberi pengertian padanya tentang pentingnya berbagi.

 

[Yazid Subakti]

Mengajarkan Shalat

Mengajarkan Shalat

Parenting – Shalat adalah penghubung seorang hamba dengan yang disembahnya. Maka dari itu, orang tua harus mengajarkan shalat kepada buah hati sejak dini.

  1. Kenalkan shalat sedini mungkin

Shalat adalah penghubung seorang hamba dengan yang ia sembah. Shalat juga merupakan kegiatan penyembahan yang tidak ada ibadah paling penting selainnya. Dengan melakukan shalat, seorang hamba menjadi terhubung dengan Allah dan membuktikan ketundukan serta ketaatan kepada-Nya. 

Anak-anak harus menjadi pribadi yang menegakkan shalat, karena salat adalah kewajiban yang tak dapat terwakili, dan menjadi amal yang pertama kali terhitung kelak di hari kiamat. 

Apakah ketika bayi atau balita, anak-anak tidak dapat memahami makna shalat? 

Ia mungkin telah ikut-ikutan mengerjakan shalat dan menikmatinya, tetapi baru dapat memahaminya pada usia-usia menjelang sekolah, yaitu menjelang tujuh tahun. Yang ia pahami dari aktivitas shalat adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan, atau rutin dilakukan sebagai sebuah kebiasaan. Ia menganggap suatu kegiatan itu baik jika orang tua biasa melakukannya. 

Oleh karenanya, anak dikenalkan ibadah shalat sejak awal usianya, sejak ia mampu melihat dan mendengarkan. Ini merupakan pengenalan bahwa sebagian dari rutinitas kehidupan yang tidak boleh ditinggalkan adalah shalat. Ia akan mengamati dan akhirnya meniru apa yang yang dilakukan orang tuanya, kemudian mengulang-ulang hingga menjadi kebiasaan yang kelak tanpa melakukannya akan merasa ada yang kurang. Seiring dengan pertambahan usia dan kemampuan akalnya, ia nanti dapat dipahamkan mengenai perintah Allah yang mengharuskan setiap mukmin shalat, dan semua ketentuan tentang shalat. 

  1. Agar Anak Rajin Shalat

  • Menjadi teladan kedisiplinan shalat

Anak memperhatikan perilaku orang tuanya. Otaknya berkembang dan mulai mengamati, kemudian meniru. Jadi, anak adalah peniru yang ulung tanpa menyaring apa yang baik dan apa yang buruk karena logika berpikirnya belum sampai ke sana. Saat ia menyaksikan Ayah selalu melakukan sesuatu yang sama setiap sehari, ia pun tergerak untuk menirunya. Oleh karenanya, cara mengajarkan anak melakukan shalat adalah dengan cara memberi contoh, sebelum mengatakan atau memperlakukan apapun kepada anak.

  • Mulai mengajak shalat

Saat si kecil mulai bergerak mandiri, mengenali bagian organ tubuhnya dan berjalan atau berdiri dengan berbagai gerakan, mulailah mengajaknya shalat setiap kali waktu salat tiba. 

Rasulullah SAW mengingatkan, 

“Apabila seorang anak dapat membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahkanlah dia untuk mengerjakan shalat” (HR Ath-Thabari)

Kemampuan membedakan kanan dan kiri menandakan otak anak sudah cukup berkembang. Ia sudah mampu memahami bahwa shalat adalah kegiatan kebaikan. Ajak si kecil mengerjakan shalat tanpa pernah berhenti dan tanpa memberi sanksi bila ia menolak atau benar-benar tidak mau melakukannya. Mungkin ia tertarik ikut tanpa benar-benar melakukan gerakan shalat, melainkan berlarian kesana kemari dalam masjid. Ini tidak mengapa, bahkan menjadi awal yang baik bahwa ia menyaksikan, ikut atau setidaknya bersama orang tuanya yang shalat dan bersuka ria berada di tempat shalat. Kesenangan seperti ini seharusnya bertahan sambil terus mengajaknya lebih serius melakukan gerakan salat.

  • Mengajarkan ilmu shalat saat usia anak sudah 7 tahun

Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak kecil untuk shalat apabila sudah berusia tujuh tahun…” (HR Abu Dawud dan al-Hakim)

Pada usia 7 tahun ini pelajaran shalat sudah harus orang tua ajarkan. Si kecil harus sudah mulai paham alasan shalat, rukun shalat dan tata cara melakukannya. Ajarkan bacaan shalat mulai dari yang paling mudah, sampai lengkap beserta dzikir setelahnya dan adab-adabnya. Ia tidak lagi berlarian atau bermain ketika waktu salat tiba. 

Jadi, mulai usia 7 tahun anak sudah menjadi pengamal shalat dan belajar membiasakan diri untuk tepat waktu dan berjamaah.

[Yazid Subakti]