Pertimbangan Memilih Sekolah

Pertimbangan Memilih Sekolah

Parenting – Setiap sekolah tidak dapat memilih latar belakang siswa dengan begitu ketatnya. Maka dari itu Ayah dan Bunda harus pandai mempertimbangkan dalam memilih sekolah untuk si kecil.

  1. Kembali pada visi keluarga

Visi keluarga benar-benar diuji begitu anak mulai menghadapi usia masuk sekolah. Di masa ini, Anda akan mengetahui seberapa tajam visi keluarga Anda, seberapa istiqamah terhadapnya, bahkan menyadari jangan-jangan selama ini memang tak pernah memiliki visi keluarga.

Keluarga lemah yang hidup tanpa visi akan memilih sekolah dengan pertimbangan klasik: sekolah yang paling mudah dijangkau lokasi dan biayanya, sekolah yang paling dekat dan murah, sekolah yang lengkap fasilitasnya, atau sekolah yang nilai gengsinya tinggi. 

Jika demikian, di manakah visi?

Visi dirumuskan untuk menjadi arah masa depan keluarga, termasuk urusan memilih sekolah. Jika visi Anda sejak awal pernikahan adalah membentuk keluarga Qur’ani, misalnya, pastilah Anda memilihkan anak sekolah yang mendukung pengajaran Al-Qur’an. Anda tidak tergiur dengan sekolah yang jaraknya dekat, fasilitasnya mewah dan murah, jika sekolah tersebut tidak mendukung pembelajaran Al-Qur’an. 

Ujilah visi keluarga Anda, dan buktikan Anda mulai mewujudkannya melalui pemilihan sekolah anak-anak. 

  1. Tak ada satupun sekolah yang sempurna 

Sayangnya, tidak pernah ada satupun sekolah yang sempurna. Sekolah-sekolah didirikan dengan ciri khas masing-masing, berjalan bersama kelemahan dan kelebihannya. Beberapa sekolah berhasil menjadikan lembaganya maju dan berkualitas, tetapi tidak benar-benar menghilangkan kelemahannya. Sebaik apapun sekolah tetap ada kelemahannya. 

Setiap sekolah tidak dapat memilih latar belakang siswa dengan begitu ketatnya. Artinya, sebaik apapun sebuah sekolah tetap akan berisiko kedatangan siswa yang nantinya akan membawa dampak buruk bagi teman-temannya, termasuk anak anda. Beberapa jenis penyakit menular yang selama ini anda takutkan, menjangkiti anak anda karena tertular oleh teman sekelasnya yang terjangkit. Selama di rumah, Anda begitu melindungi si kecil dari kata-kata kotor dan perilaku buruk. Begitu mulai bersekolah, ia mulai mendengar beberapa kosakata berkonotasi negatif dan menyaksikan perilaku buruk seorang temannya. 

Dalam komunitas sesama wali murid, Anda tidak menyangka ternyata ada wali murid yang menyebalkan, bahkan merugikan. Sebagian perilaku guru di saat tertentu mungkin saja kurang bersahabat. Beberapa kebijakan sekolah mungkin juga terkesan mengada-ada atau aneh. 

Itu semua adalah contoh kekurangan di sebuah sekolah, yang tidak mungkin semuanya bisa hilang. 

Berhentilah mencari sekolah sempurna. Pilih saja sekolah yang di dalamnya kebutuhan anak dapat terpenuhi, meskipun tidak mungkin terpenuhi semuanya juga. Pentingkan apa yang menjadi kebutuhan anak, bukan gengsi atau ego orang tua. Untuk itu, lagi-lagi orang tua harus banyak berkomunikasi dengan anak agar mengetahui kebutuhannya, dan benar-benar mengenalinya dengan amat tepat.

[Yazid Subakti]

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *