Kesalahan Memilih Sekolah

Kesalahan Memilih Sekolah

Parenting – Kadang para orang tua masih terjebak dalam kesalahan memilih sekolah untuk anaknya. Anak yang salah masuk sekolah menghadapi pelajaran bukan sebagai kebutuhannya.

1. Salah persepsi tentang sekolah 

Masih banyak orang tua yang mengira bahwa sekolah merupakan tempat pendidikan utama yang akan membentuk semua kebaikan anak. Mereka ingin anaknya pintar dan cerdas di sekolah, berprestasi, salih, sehat, sopan, dan semua kebaikan dibentuk di sekolahnya. Mereka mengkritik pihak sekolah manakala terdapat kekurangan layanan atau hasil yang ia dapati pada diri anaknya. 

Mendidik anak itu tetap menjadi tanggung jawab orang tuanya, sehingga anak lebih berhak mendapatkan didikan dari orang tuanya sendiri. Begitu besarnya keharusan orang tua mendidik anak sampai-sampai Rasulullah mengajarkan doa anak untuk orang tua dengan mengingat jasa pendidikannya di waktu kecil,

Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, dan dosa-dosa kedua orang tuaku. Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka mendidikku semasa kecil

Jadi, syariat belum pernah berubah bahwa mendidik anak adalah tugas orang tua. Sedangkan sekolah menjadi tempat belajar mengembangkan kecerdasan dan pelajaran formal yang menyambung karakter baik anak yang sudah dikembangkan oleh orang tuanya di rumah. Orang tua mengajarkan aqidah dan dasar-dasar ibadah, pihak sekolah menyempurnakan dan memberi ragam praktiknya. Orang tua menanamkan karakter semangat, optimis, disiplin, dan bertanggung jawab sedangkan sekolah memberinya contoh nyata yang lebih beragam dan menantang. 

Persepsi lain yang perlu diperbaiki dari orang tua adalah memandang sekolah seolah sebuah industri.

Sekolah dipandang sebagai industri yang produknya berupa jasa pencetak bakat dan pencerdas anak. Maka hubungan antara orang tua dengan pihak sekolah adalah transaksi jual beli jasa. Sekolah menawarkan berbagai keunggulan jasa yang menggiurkan, dan orang tua membayar untuk pelayanan anaknya. Orang tua hanya tahu bahwa ia sudah membayar, yang artinya ia menyerahkan semua hal tentang anaknya kepada sekolah dan akan menuntut bila yang telah ditawarkan pihak sekolah tidak sesuai dengan yang diterima anaknya. 

Suasana menuntut ilmu seperti ini diam-diam bisa menumbuhkan ketidaknyamanan bagi anak, penyimpangan tujuan, dan dikhawatirkan menghilangkan keberkahan ilmu yang didapatkan. Seharusnya hubungan orang tua dengan pihak sekolah adalah mitra, yaitu sekolah menjadi perpanjangan pendidikan orang tua dan pelengkap yang oleh karenanya orang tua tetap akan terhubung dan bekerja sama dengannya. Di tingkat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, orang tua perlu mengenal guru yang mengajari anak-anaknya dan menjalin hubungan baik dengan mereka. 

2. Ambisi atas sekolah tertentu 

Setiap orang tua berhak memilih sekolah bagi anaknya, pada jenis sekolah yang paling ia idam-idamkan. Biasanya, orang tua malah berambisi menyekolahkan anaknya pada sekolah tertentu yang menurutnya paling bagus, paling bergengsi, paling populer, atau paling menjanjikan masa depan anaknya. 

Ambisi ini ada kebaikannya, tetapi harus diimbangi dengan pengetahuan yang memadai tentang dunia persekolahan. Anda harus memahami bahwa bagaimana sebuah sekolah menjadi popular atau tampak megah dan bergengsi. Jika semua terjadi akibat promosi yang digencarkan, maka tidak ada jaminan sekolah tersebut memberikan layanan seperti yang Anda harapkan. Beberapa sekolah terkesan besar karena berhasil dalam pencitraannya, bukan oleh kualitas pelayanan dan prestasi mendidiknya.

3. Akibat salah memilih sekolah 

Setiap sekolah memiliki catatan mengenai siswanya yang bermasalah atau pindah. Sebagian dari persoalan ini ternyata akibat dari ketidakcocokan siswa terhadap suasana dan apa yang ia dapatkan di sekolahnya.

  • Anak menolak aturan sekolahnya

Ia menganggap semua yang ada di sekolah adalah salah atau tidak menguntungkannya. Aturan sekolah ia rasakan sebagai kebiasaan yang aneh atau tidak menyenangkan sehingga ia menolaknya. Ia tidak menyukai warna seragamnya, tidak nyaman dengan ruangan atau halamannya, tidak dapat mengimbangi pergaulan dengan teman-temannya, atau bahkan sulit menerima interaksi gurunya. 

  • Anak menjadi agresif atau sebaliknya, menjadi pribadi yang rendah diri

Ia merasa bahwa lingkungan sekolahnya bukanlah untuk dirinya. Ia mendapati suasana yang serba cepat, sedangkan dirinya adalah tipe orang yang santai atau sebaliknya, ia sebagai orang yang terbiasa cekatan mendapati lingkungan yang serba lambat. Pelajaran yang tidak sesuai potensinya membuatnya tertekan. Dalam kondisi tertekan, hanya ada dua kepribadian yang tampak, yaitu ingin memberontak dan agresif atau tak berdaya dan rendah diri. 

  • Semangat belajar melemah

Anak yang salah masuk sekolah menghadapi pelajaran bukan sebagai kebutuhannya. Ia menganggap semua yang diajarkan adalah kebutuhan orang tuanya, sebagaimana orang tua bersikeras memilihkan sekolah itu untuknya. Kalaupun ia berprestasi, maka semua itu hanya untuk menyenangkan orang tuanya. Ia, biasanya sulit mandiri dalam belajar. Setiap haris orang tua harus membangkitkan semangatnya, bahkan dengan berbagai iming-iming imbalan kalau berprestasi. 

  • Terhentinya cita-cita

Cita-cita berhubungan dengan ketertarikan, potensi, dan orientasi anak. Si kecil yang lincah dan kreatif ingin mengembangkan kemampuan seninya, tetapi orang tua memilihkan sebuah sekolah yang hanya mementingkan prestasi akademik. Ia menjadi frustasi, seolah sekolah tidak mendukung kepintaran dan masa depannya.

Dampak yang paling fatal dari kesalahan memilih sekolah adalah terhentinya cita-cita anak. ia putus asa, dan merasa cita-citanya tak akan menjadi kenyataan kalau harus bersekolah di tempat yang ia hadapi saat ini. 

4. Mengkondisikan Anak utuk Siap Bersekolah

Anak-anak memang tidak dapat dipaksakan untuk bersekolah jika belum siap. Tetapi jika terus menerus demikian, maka ia dapat mengalami berbagai hambatan di hari depannya. Untuk itu, orang tua dapat membuat pengkondisian agar ia lebih siap bersekolah. 

  • Mengenalkan siklus waktu 

Anak-anak tidak terlalu peduli dengan waktu., dan akan terus terlena jika tidak dikenalkan pentingnya menggunakan waktu dan setiap waktu terdapat peruntukannya masing-masing. Salah satu keengganan anak untuk mulai masuk sekolah adalah karena ia belum terbiasa membagi waktu sesuai peruntukannya. 

  • Membiasakan aturan atau norma

Sekolah adalah aktivitas yang di dalamnya terdapat aturan dan norma-norma. Ada keharusan memakai seragam pada hari tertentu, Anak-anak perlu paham, dan mulai mengenalbahwa kehidupan memang memiliki peraturan dan tata cara. Termasuk ketika bersekolah dan bergaul dengan teman-temannya. 

  • Melibatkan dalam hubungan sosial

Sebagian anak menolak untuk mulai bersekolah karena tidak bersedia bertemu atau dekat dengan orang-orang baru. Padahal salah satu makna penting bersekolah adalah untuk mulai bersosialisasi dengan sesama. Anak-anak akan berkenalan dan berteman dengan anak-anak yang baru ia kenal.

  • Memberi kesempatan berpisah dari orang tua

ini adalah latihan kemandirian. Dalam sehari, anak peru berpisah beberapa jam dari orang tuanya agar pada saat mulai bersekolah ia tidak merengek meminta orang tua untuk menunggunya.

[Yazid Subakti]