Bermain dengan Anak

Bermain dengan Anak

Parenting – Bermain dengan Anak, ketika ayah dan bunda melihat anak-anak bermain, biarkan mereka dalam keasyikan dunianya.

  1. Rasulullah tanpa ragu memasuki dunia anak-anak

Teladan kita Rasulullah Muhammad SAW meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anak. Beliau bercanda tawa dan bermain dengan mereka, memperlihatkan ekspresi bergembira. Bahkan di depan banyak sahabat, beliau SAW tidak malu-malu untuk bertingkah kekanakan bersama anak-anak kecil.

Dari Ya’la bin Murrah ia berkata, “Kami keluar bersama Nabi lalu kami diundang untuk makan. Tiba-tiba Husain sedang bermain di jalan, maka Rasulullah segera (menghampirinya) di hadapan banyak orang. Beliau membentangkan kedua tangannya lalu anak itu lari ke sana kemari dan Nabi mencandainya agar tertawa sampai beliau (berhasil) memegangnya lalu beliau letakkan salah satu tangannya di bawah dagu anak tersebut dan yang lain di tengah-tengah kepalanya kemudian Rasulullah menciumnya,” (HR. Bukhari).

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Jabir ra., ia berkata,

“Saya masuk rumah Rasulullah saw., beliau sedang merangkak, dan di atas punggungnya Hasan dan Husain! ‘Beliau berkata, “Sebaik-baik unta adalah unta kamu berdua, dan sebaik-baik beban adalah kamu berdua”.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Jabir ra., ia berkata,

Saya masuk ke rumah Rasulullah saw. Maka, beliau mengajak kami makan, tiba-tiba beliau melihat Husain ra. sedang bermain-main di jalan bersama anak-anak lain. Dengan cepat Rasulullah saw. menghampiri mereka, kemudian mengembangkan tangannya dan beliau lari ke sana kemari. Maka Rasulullah saw. membuat Husain tertawa, hingga ia mengambilnya, dan beliau meletakkan salah satu tangannya di dagunya dan tangan lain antara kepala dan dua telinganya. Kemudian beliau memeluk dan menciumi­nya, lalu berkata, Husain adalah daripadaku dan aku adalah dari­padanya…” Allah mencintai orang yang mencintainya (Husain). Hasan dan Husain dua cucu dari sekian cucu-cucu”.

  1. Menyapa dan menghibur

Rasulullah memanggil anak-anak dengan panggilan akrab khas anak kecil. 

Anas bin Malik ra menceritakan bahwa beliau juga senang bercanda dengan Zainab. Rasulullah sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu Salamah Ra. Kepada Zainab beliau memanggilnya dengan sapaan “Ya Zuwainab, Ya Zuwainab” berulang kali. Zuwainab adalah panggilan sayang atau akrab untuk anak-anak, yang artinya Zainab kecil.

Rasulullah juga suka menghibur anak-anak yang murung. 

Dalam sebuah hadits, 

“Sesungguhnya Nabi SAW dahulu menemui Ummu Sulaim dan beliau mempunyai seorang putra dari Abu Thalhah yang diberi panggilan Abu ‘Umair. Rasulullah SAW sering bercanda dengannya. Pada suatu hari Rasulullah SAW datang mengunjunginya dan mendapati anak itu sedang sedih. Mereka berkata: Wahai Rasulullah , burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati.” Rasulullah lantas berkata: “Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

  1. Membiarkan anak dalam keasyikan 

Kebiasaan lain Rasulullah SAW ketika melihat anak-anak adalah membiarkan mereka dalam keasyikan dunianya. Kehadiran beliau tidak membuat anak terganggu dan segan dengan aktivitas bermainnya.

Dari Anas bin Malik ra. bahwa ia ber­kata,

Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Maka, pada suatu hari beliau mengutusku untuk suatu ke­butuhan. Kemudian aku berkata, “Demi Allah saya tidak akan pergi, dan dalam diriku aku berniat untuk pergi setelah Rasulullah saw. memerintahkan aku pergi. Maka, aku keluar hingga lewat kepada anak-anak kecil yang sedang bermain-main di pasar. Tiba-tiba Rasulullah saw. berada di belakangku, aku melihat kepadanya dan beliau tertawa.” Kemudian beliau berkata, “Ya Anas, apakah kamu sudah pergi sebagaimana yang saya perintah­kah tadi?” Anas berkata, “Ya, saya akan pergi wahai Rasulullah!” Anas berkata, “Demi Allah saya telah mengambil Rasulullah saw. selama sembilan tahun, tidak pernah saya mendapatkan beliau bertanya tentang perbuatan yang saya lakukan, ‘Kenapa kamu mengerjakan ini dan itu?” Atau tentang sesuatu yang saya tinggalkan tidak mengerjakannya, “Kenapa kamu tidak mengerjakan ini dan itu?”.(HR Muslim)

Suatu hari Ummul Mukminin A’isyah ra berkata, “Perhatikanlah keinginan anak-anak putri yang masih kecil.” (Muttafaqun ‘alaihi).

[Yazid Subakti]

Mengenalkan Emosi

Mengenalkan Emosi

Parenting Mengenalkan emosi lebih dini kepada si kecil. Pengenalan emosi dapat dengan cara sering menyebutkan berbagai jenis emosi kepada anak.

  1. Melatih Anak Mengenali Emosi

Kecerdasan emosi dipopulerkan oleh Daniel Goleman sejak tahun 1995. Dalam pemahaman ini, keberhasilan anak ternyata tidak cukup dengan keterampilan teknis dan pengetahuan ilmiah saja, tetapi harus dengan kemampuan pengendalian diri dan berdampingan dengan orang lain.

Kecerdasan emosi mencakup dua hal, yaitu mengenali dan mengelola emosi.

  • Mengenalkan emosi

Pengenalan emosi dapat dilakukan dengan sering menyebutkan berbagai jenis emosi kepada anak. Saat ia sedih, anda dapat mengatakan, “Adik kok sedih, apa sedang ditinggal ayah pergi?”. saat ia ceria ceria, katakana “Adik hari ini ceria sekali”, dan semacamnya. Anda juga dapat menunjukkan berbagai gambar ekspresi dan mengatakanya “Sedih”, “marah”, “bengong” dan lainnya sesuai ekspresi di gambar. 

  • Belajar mengelola emosi 

Emosi itu boleh diekspresikan, tetapi harus diolah dengan baik agar tetap bermanfaat. Latihan pengelolaan emosi pada anak untuk menghindari ledakan emosi yang berlebihan atau terlalu dalam.

Misalnya, saat mainan si kecil berantakan, tunjukkan emosi cemberut dengan memintanya merapikan mainan itu. Ketika sudah merapikan mainan, tunjukkan raut muka senyum dan katakana anda senang dengan pekerjaannya. Saat si kecil tiba-tiba tidak berani ke kamar mandi sendiri, berikan kata motivasi untuk menyemangatinya. Saat si kecil ingin marah dan agresif kepada temannya, redakan dengan mengalihkan perhatian, kemudian setelah mereda baru katakan untuk saling menyayangi sesama teman. 

  1. Melatih Kecerdasan Emosi pada Anak

Tunjukkan bahwa anda adalah figure yang layak menjadi contoh dalam hal perilaku dan ekspresi.  Setiap Kali anda melihat si kecil berbuat baik, sampaikan ucapan terima kasih kepadanya dan berikan apresiasi. Biasakan mengungkapkan perasaan anda. Misalnya dengan mengatakan “ibu sangat senang kalau Dede arajin mandi”.

Gunakan kalimat positif saat memerintah maupun melarang si kecil melakukan sesuatu dan hindari kata negatif yang memojokkan. Saat anda melakukan kesalahan jangan ragu meminta maaf, beri contoh pada anak dan lakukan dengan sungguh-sungguh.

Oleh karena itu jadilah pendengar setia. Berikan kesempatan pada asi kecil untuk menceritakan aktivitasnya sesuai kemampuannya. Anak akan terbiasa berbicara dan memperlihatkan emosinya, serta merasa mendapat perhatian yang tulus dari orang tua yang bersedia mendengar.

Ajarkan rasa empati. Saat melihat pengemis atau pengamen, ceritakan bahwa mereka orang yang nasibnya kurang beruntung, lalu berikan uang sewajarnya agar si kecil yang memberikan kepada pengemis atau pengamen itu.

Latihan kecerdasan emosi ini tidak mengenal waktu dan jadwal. Itu semua terjadi pada saat anda melakukan asuhan sehari-hari. 

[Yazid Subakti]

Melatih Motorik

Melatih Motorik

Parenting – Memperhatikan dengan seksama apakah kemampuan melatih motorik anak sesuai dengan usianya. Setiap tahapan usia diiringi dengan kemampuan motorik tertentu. Pada saat usia telah berjalan jauh sementara beberapa kemampuan fisik belum dapat ia lakukan, anda baru merasa perlu melatihnya.

  1. Seputar Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar tubuh seperti kemampuan duduk, menendang, berlari, naik turun tangga dan sebagainya. Sedangkan perkembangan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus yang banyak dipengaruhi oleh kesempatan belajar dan berlatih, seperti memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menulis atau lainnya. 

Kemampuan motorik anak secara umum bergantung pada kematangan otot dan sarafnya. Perkembangan motorik ini dipengaruhi oleh genetik, kondisi pralahir, gizi, dan kecerdasan potensialnya. Namun demikian, di luar itu ia juga dapat dirangsang dengan stimulasi. 

  1. Tentang Stimulasi Motorik 

Sebenarnya, perkembangan motorik tidak perlu dipaksakan pada anak. Perkembangan ini sangat tergantung pada kekuatan otot dan kematangan saraf. Jika otot belum kuat dan saraf belum matang menerima rangsangan, maka bayi bisa cedera kalau dipaksa berlatih. Misalnya, otot kaki belum siap belajar menendang, akan mudah cedera bila berlatih menendang dengan memaksanya. 

Lalu, bagaimana seharusnya?

Sikap orang tua terhadap motorik si kecil seharusnya adalah:

  • Amatilah si kecil, apakah ia tidak melakukan aktivitas tertentu itu akibat ketidakmampuan melakukannya atau karena malas (kurang bersemangat secara psikologi). Anda hanya perlu memberi semangat jika si kecil tidak melakukan hal tertentu karena kurang semangat. 
  • Amatilah asupan gizi selama ini. Boleh jadi anak kurang energi sehingga ia enggan atau malas melakukan gerakan tertentu yang anda tunggu-tunggu. Jika masalahnya adalah gizi, pastikan asupannya terpenuhi.
  • Apakah si kecil sakit?. Sebelum memberlakukan stimulasi dan latihan, cobalah sekali lagi amati apakah bayi anda benar-benar sehat, tidak mengidap penyakit tertentu. Anak yang terserang flek, terganggu pencernaannya, atau fungsi organ tertentu tidak normal akan kesulitan melakukan aktivitas sesuai usianya.
  • Membandingkan dengan anak lain tidaklah bijak. Kadang orang tua melatih anaknya hanya karena ingin si kecil sejajar atau lebih maju dari anak tetangga yang seusia dengannya. Setiap anak memiliki keunikan yang tidak dapat anda paksakan sesuai selera dan ambisi anda. 

Apakah ia mendapat kasih sayang? Sebagian anak tidak melakukan banyak aktivitas karena merasa kurang mendapat penghargaan. Ia mundur ke belakang dan merasa bahwa diam atau tiduran di kamar lebih nyaman daripada bertingkah yang tidak mendapat pujian atau hadiah apapun. 

  1. Memberikan stimulasi dengan fleksibel 

melatih motorikPenting bagi orang tua untuk memahami makna fleksibilitas. Anda bukan seorang komandan yang menghadapi sebarisan pasukan untuk berlatih tempur. Anda sedang menghadapi bayi, anak anda sendiri dari sebuah proses cinta yang harus anda cintai sepenuhnya.

Kegiatan sehari-hari dalam mengurus dan merawat asi kecil dapat menjadi sarana untuk memberikan beraneka jenis stimulasi.

  • Stimulasi untuk bayi 0 – 3 bulan

Bayi dalam usia masih sangat terbatas kemampuannya. Berikan stimulasi dengan memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok atau berbunyi, menggulingkan bayi ke kanan dan kiri, atau belajar memegang benda.

  • Umur 3 – 6 bulan 

Bayi di usia ini bisa bermain ‘cilukba’ untuk memunculkan ekspresinya. Berikan rangsangan dengan melihat wajahnya di cermin bersama anda, coba tengkurapkan perlahan dan posisikan duduk sambil memeganginya . 

  • Umur 6 – 9 bulan 

Ranfsang si kecil dengan memanggil namanya dan memperkenalkan anda sebagai ibunya. Rangsangan motoriknya dengan mengajak berjabat tangan, bernyanyi sambil tepuk tangan, membacakan dongeng atau cerita menarik, merangsang duduk secara mandiri, dan melatihnya berdiri berpegangan tangan anda atau benda tegak di dekatnya.

  • Umur 9 – 12 bulan 

Latih bibirnya untuk mengucapkan kata “mama”, “Papa” atau menyebutkan kata lain yang bersuku kata sederhana secara berulang-ulang. Ajak dia memasukkan mainan ke dalam wadah (misalnya memasukkan bola-bola kecil ke wadahnya, melempar bola basket mainan ke ring, dan melatihnya berdiri tegak tanpa pegangan. Jika kakinya tampak aktif anda bisa mencoba kan melangkah sambil anda pegangi untuk merangsang keinginannya berjalan. 

  • Umur 12 – 18 

Berikan ia pensil warna dan selembar kertas, lalu contohkan cara menggambar benda sederhana (misalnya bunga, kelinci, atau lainnya). Ajak permainan menyusun puzzle sederhana, mengelompokkan kubus, atau bermain peran dengan boneka tangan. Ini saatnya si kecil berlatih berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, menendang bola, dan melepas celana. 

  • Umur 18 – 24 

Pada usia ini, si kecil sudah saatnya mengenalkan nama-nama bagian tubuhnya. Tunjuklah hidungnya dan sebutkan ”hidung”, tunjuk mulut dan sebutkan ”mulut”, dan bagian organ tubuh lain. Kegiatan ini sebaiknya lakukan saat santai dan si kecil ceria. Kenalkan nama makananan kesukaannya, nama hewan dan benda-benda sekitar.

  • Umur 2 – 3 tahun 

Kenalkan jenis-jenis warna dengan cara menyebutkan warna pakaian yang dia pakai. Setiap kali membuka pakaian untuk ganti, ajaklah ia meletakkan di bak pakaian kotor sesuai warnanya. Kenalkan sifat benda : ”dingin” saat memberikan minuman dingin, ”Panas” sambil menunjuk pada api, ”tinggi” sambil menunjuk layang-layang, dan sebagainya. Biarkan ia memakai bajunya sendiri. Saat mandi, mintalah ia menyikat gigi sendiri, mengoles sabun dan sampo serta mengguyur badannya sendiri, serta buang air besar sendiri di toilet (toilet training).

  • umur 3 tahun dan setelahnya

Usia 3 tahun seharusnya anak-anak sudah mampu ke toilet sendiri (kecuali pembersihannya masih ada bantuan), mengenal perintah sederhana, belajar berbagi dengan teman, dan makan sendiri. 

Kenalkan dunia sekolah dengan mengajaknya belajar menulis lambang angka atau huruf. Kenalkan hitungan ”satu”, ”Dua”, ”Tiga” sampai sepuluh tanpa memintanya menghafal.

[Yazid Subakti]

Perkembangan Kecerdasan

Perkembangan Kecerdasan

Parenting – Perkembangan kecerdasan si kecil dimulai sejak tahap pembentukan otak ketika sedang berada dalam kandungan.

  1. Tahap pembentukan otak 

Sejak janin berusia enam belas hari dalam kandungan, bakal otak telah terbentuk berupa lembaran yang sangat lembut dan transparan. Lembaran ini merupakan sistem saraf pusat pertama kali dan berada di bagian atas bakal kepala. 

Di akhir bulan keempat, lembaran ini semakin nyata membentuk otak dan memasuki bulan ketujuh, perkembangan yang terjadi semakin dahsyat. Seiring dengan asupan gizi ibu yang cukup, otak ini semakin berkembang menuju kesempurnaan hingga bayi siap dilahirkan.

Berat otak baru lahir sekitar 350 sampai 400 gram (sekitar seperempat berat otak orang dewasa) dengan empat bagian utama. Pertama adalah batang otak (Brainstem), otak kecil (cerebellum), otak besar (cerebrum) dan dienchephalon. Dalam enam bulan berikutnya berat otak ini sudah menjadi hampir dua kali lipat berat semula.

Pada tahun-tahun pertama kehidupan, yang bekerja adalah sistem sensorik. Ia bekerja melalui kontak langsung oleh bayi dengan lingkungannya, dengan interaksi yang dilakukan terus menerus bersama orang terdekat (ibunya) dan benda-benda di sekelilingnya. 

Pada usia satu hingga dua tahun, otak motor sensorik sudah semakin berkembang sehingga anak-anak siap untuk melangkah pada tahap perkembangan selanjutnya. Pada masa ini terjadi peningkatan yang luar biasa dalam jalinan-jalinan neuron. Ketika sistem emosional kognitif sudah mulai bekerja, bayi dapat merubah perilakunya dalam waktu yang sangat singkat. Selain perubahan perilaku (sebagai bentuk perubahan emosional bayi), ia juga sedang mengembangkan intelektualitas yang lebih tinggi melalui dunia belajarnya yang kita sebut bermain. Ia mempelajari dunia dengan menirukan, mendengar cerita, dan bermain imajinatif. Ini memberikan pelajaran metaforis simbolis yang akan menjadi dasar dari perkembangan kecerdasan yang lebih tinggi ketika dewasa nanti. 

  1. Otak Kiri dan Otak Kanan

Setiap anak normal memiliki belahan otak kanan dan kiri yang memiliki perbedaan fungsi. Fungsi yang dikendalikan oleh kedua belahan otak itu dapat saling bekerja sama sehingga manusia melakukan aktivitas dengan harmonis sesuatu tujuan gerakannya. 

Tugas otak kiri adalah mengendalikan pikiran sadar, melakukan analisa dan mencerna logika. Ia bertugas menanggapi informasi secara rasional, dan bertanggung jawab terhadap kemampuan bahasa. 

Otak kanan bertugas mengendalikan pikiran bawah sadar, berperan dalam urusan perasaan (emosi) dan bertanggung jawab terhadap sifat kreatif dan intuitif manusia.

Laju perkembangan otak bayi tidak selalu nampak dari pertambahan volume otaknya. Beberapa ukuran dan bentuk kepala dianggap memiliki hubungan terhadap besarnya volume otak di dalamnya. Namun demikian, anda tidak harus khawatir bila bayi anda memiliki ukuran kepala lebih kecil dari teman-temannya. Banyak faktor yang menentukan kecerdasan bayi anda. Menurut para peneliti dari University of California, kecepatan penghantaran pesan oleh sel-sel saraf seseorang merupakan salah satu faktor penting yang menunjukkan tingkat kecerdasannya. 

Bayi yang cerdas nampak ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. Kecerdasan ini merupakan kemampuan si kecil dalam menyikapi lingkungannya. 

  1. Tahap kemampuan interaksi 

  • Gerak refleks (usia 0-4 bulan)

Bayi pada usia ini hanya dapat melakukan gerak tanpa komando untuk menyikapi lingkungan sekitar. Semakin hari seiring dengan perkembangan dan kognitifnya, gerak refleks ini perlahan akan digantikan dengan gerak yang terkontrol, yaitu hasil komunikasi dengan otak. Gerakan ini semakin sempurna hingga bayi semakin tahu tujuan ia melakukan gerakan tersebut. Misalnya ia menendang-nendang untuk menyingkirkan selimut, sampai selimut benar-benar terbuka.

  • Memahami sebab akibat (usia 4-8 bulan)

Di usia ini, bayi mulai banyak mencoba hal-hal baru. Perkembangan otak bayi menyebabkan ia semakin tahu bagaimana merespon lingkungannya. Bayi akan tertawa bila anda mengajaknya bercanda dan menangis bila anda tiba-tiba meninggalkannya. Perasaan bayi mulai muncul dan ia telah berusaha mengungkapkannya. 

  • Eksplorasi lingkungan di (usia 8 – 12 bulan)

Pada usia ini mungkin si kecil sering tidak puas dengan perbuatannya sendiri yang menghasilkan respon tidak seperti yang diinginkan. Ia merasa jengkel ketika mainan yang dipukul-pukul itu tidak berbunyi seperti yang ia inginkan. Tetapi segera ia meraih botol talk, gelas plastik, atau apapun yang ada di sekelilingnya untuk dipukul-pukulkan. Ia ingin tahu mana di antara benda-benda tersebut yang berbunyi paling menarik. Mungkin ia akhirnya memilih salah satunya yang paling nyaring suaranya. Ia berusaha melihat kejadian menarik dengan memperlakukan benda-benda itu.

  • Identifikasi (usia 12 bulan atau lebih)

Ketika telah berusia satu tahun. bayi telah mencoba mengidentifikasi benda berdasarkan pengalamannya. Jika anda sodorkan berbagai boneka lama dan baru kepadanya, ia telah tahu mana boneka miliknya yang biasa ia mainkan. Ia akan memilih biskuit bayi yang menurut pengalamannya paling nikmat. Identifikasi melalui suara juga tak mampu ia lakukan. Ia dapat membedakan mana suara ibunya, suara ayahnya, atau suara neneknya meskipun berada di balik pintu.

Di ulang tahun pertama inilah si kecil mulai mencoba mengoptimalkan memorinya. ia telah berusaha untuk berkomunikasi dengan peristiwa atau seseorang yang dilihatnya. Misalnya berteriak ketika melihat kucing, menonton tayangan kartun atau merengek manja ketika ibunya datang.

  • Kemampuan bahasa (1,5 tahun)

Bayi mulai menyebut “papa” atau “mama” dan beberapa sebutan lain atau kata-kata tidak jelas untuk menyebut sesuatu pada usia satu setengah tahunan. Ia tahu apakah percakapan ibunya itu mengajaknya bicara atau berbicara untuk orang lain. Beberapa kosakata yang ia dengar mulai tersimpan dengan baik dalam memorinya untuk berusaha ia tirukan di lain waktu saat perlu. Ia sering mengamati mulut orang yang sedang berbicara dengan harapan akan mudah menirunya dan mencari maknanya. 

Anda seharusnya sering mengajaknya bercakap-cakap. Libatkan si kecil dalam banyak perbincangan. Selain mengumpulkan kosakata dan mengoptimalkan memori, cara ini juga berlatih logika. 

  • Rasa ingin tahu (mulai usia 2 tahun)

Pada usia ini ia memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap dunia sekelilingnya. Ia mulai gemar naik kursi, meja, membongkar laci, atau ulah lain yang lucu tapi kadang menyebalkan, membuat rumah berantakan atau bahkan membahayakan baginya. 

Sesungguhnya ia tidak bermaksud apa-apa dengan semua perilakunya itu, kecuali ingin tahu seperti apa nikmatnya berdiri di atas meja, atau apa saja isi laci sehingga ayah suka mengambil benda dari dalamnya. Sekali ia mengamati ayah membongkar TV dengan obeng, maka setiap kali ia menemukan obeng akan selalu mencari sekrup pada alat elektronik lain untuk membongkae dan terlihat bagian dalamnya.

[Yazid Subakti]

Agar Si Kecil Terbiasa Berolahraga

Agar Si Kecil Terbiasa Berolahraga

Parenting – Agar si kecil terbiasa berolahraga, sebisa mungkin Ayah dan Bunda mulai mengenalkannya sejak dini. Bisa mulai dengan gerakan-gerakan sederhana.

  1. Mengapa anak-anak harus berolahraga?

Olahraga berarti menggerakkan anggota badan dengan pola gerakan tertentu. Manfaat gerakan ini sangat banyak,

Gerakan ini meningkatkan kelancaran peredaran darah, keaktifan jantung, metabolism tubuh, dan kelenturan otot-otot serta persendian. Efek dari pergerakan ini adalah anak-anak memiliki organ tubuh yang bekerja efektif dan normal sehingga ia merasa lebih bugar. Anak-anak dengan kondisi yang bugar cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi tantangan fisik dan emosi.

Anak yang berolahraga secara teratur menjadi lebih sehat, gembira, juga percaya diri sehingga lebih mudah berteman dan menyesuaikan diri. Olahraga juga bisa mencegah obesitas pada anak dan membantu mengembangkan kemampuan motoriknya.

  • Olahraga di bawah sinar matahari pagi sangat baik untuk pertumbuhan tulang si kecil, karena matahari pagi membantu pembentukan vitamin D.
  • Dengan berolahraga secara rutin, anak-anak akan mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik. Ini berhubungan dengan kelancaran metabolisme tubuhnya.
  • Olahraga melatih kekuatan fisik secara keseluruhan. Otot dan tulang yang dilatih dengan pergerakan lebih kuat dan siap menghadapi tantangan fisik.
  • Dengan olahraga meningkatkan koordinasi otak dan seluruh anggota tubuh. Dengan kemampuan ini, anak lebih gesit dan cekatan dalam melakukan aktivitas.
  • Olah raga menambah kecerdasan karena suplai oksigen ke otak menjadi lancar. Oksigen ini berfungsi menjaga ketahan otak untuk terus aktif dan waspada.
  • Dengan berolahraga, ketahanan tubuh alami anak meningkat karena pergerakan anggota badan meningkatkan aktivitas hormone dan produksi banyak sekali enzim pertahanan.
  • Olahraga melatih mental sportif dan dan menumbuhkan semangat untuk berprestasi. Mental dan semangat ini sangat penting dalam pengembangan karakter diri kelak.
  1. Mengajak anak berolahraga

Mengajak Anak balita berolahraga tidak seperti mengajak remaja atau orang dewasa, karena dunia anak adalah dunia bermain. Anak-anak harus dikondisikan dengan jenis olahraga yang mudah ia lakukan.

Sediakan fasilitas olahraga yang disukai atau membuatnya tertarik, misalnya berbagai macam bola, sepatu olahraga, raket bulu tangkis, dan sebagainya. Kenalkan berbagai fasilitas olah raga. Ajak si kecil jalan-jalan di stadion, lapangan tenis, kolam renang, dan tempat lain. Luangkan waktu terjadwal, misalnya setiap hari minggu pagi anda sekeluarga rutin melakukannya bersama-sama.

Pilih jenis olahraga yang ada unsur bermainnya. Misalnya main kasti, lompat tali, senam musikal, atau jogging ringan. Olahraga yang dilakukan anak adalah olahraga yang dapat membantu meningkatkan fleksibilitas, dan membuat otot-otot sendi mudah bergerak.

Tidak mengapa jika memilih olahraga ketahanan diri, seperti berlari, melompat, bersepeda, hingga berenang. Jenis olahraga tersebut merupakan langkah awal pembentukan fondasi untuk mendapatkan kebugaran fisik dan ketahanan otot-otot anak. . Pilih olahraga yang disukai. Ajak si kecil menonton berbagai siaran olah raga di TV, maka ia akan berkecenderungan pada jenis oleh tertentu yang menarik baginya.

Awasi si kecil selama melakukan aktivitas, atau minimal anda membersamainya. Jenis olahraga tertentu dapat mengundang cedera. Anda harus membatasi agar si kecil tidak melakukan gerakan yang terlalu berlebihan. 

[Yazid Subakti]

Kebutuhan Nutrisi Balita yang Sesungguhnya

Kebutuhan Nutrisi Balita yang Sesungguhnya

Nutrisi Balita – Anak-anak balita mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat. Perkembangan dan pertumbuhan fisik, intelektual dan sosial terjadi pada usia ini. Jika kekurangan zat gizi, maka daya tahan tubuhnya akan lemah sehingga rentan terserang penyakit.

Akibatnya, anak-anak akan mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya. Jika asupan makan anak sesui dengan kebutuhannya, maka mereka akan memiliki status gizi yang baik. Salah satu pemantauan status gizi yang paling mudah adalah dengan pengukuran antropometri, yaitu dengan mengukur berat badan dan tinggi badan.

Nafsu makan di usia anak-anak juga akan naik turun. Peran orang tua sangat besar terutama dalam menyediakan makanan yang disukai si kecil dan memotifasinya. Lingkungan yang nyaman, makanan yang lezat dapat membantu meningkatkan nafsu makannya. aktivitas fisik anak akan mulai meningkat, mereka tidak akan berhenti berlarian, bermain bongkar pasang atau sekedar mengejar seekor kucing.

Aktifitas fisik yang berlebihan dan kurangnya istirahat pun dapat menyebabkan kurangnya asupan makan. Kebiasaan lainnya adalah, memilih – milih makanan, menolak makanan tertentu atau hanya mau makan dengan makanan tertentu saja. Kebiasaan ini juga biasa terjadi diantara usia 1 – 5 tahun. Penyakit akibat virus, bakteri atau sakit gigi juga dapat menurunkan asupan si kecil.

Agar anak memiliki status gizi yang baik, asupan zat gizi dalam satu hari harus cukup. 

Asupan zat gizi harus diterima si kecil sesuai dengan kebutuhannya. Jika tidak, ia akan mengalami gizi kurang. Sedangkan jika bahan makanan yang melebihi kebutuhan tubuhnya maka ia akan mengalami obesitas. Kurang gizi maupun obesitas akan menyebabkan gangguan kesehatan. ia menjadi sangat rentan terserang penyakit infeksi, bahkan dampak lebih jauh adalah kematian.

Pantaulah status gizi si kecil dengan rajin menimbang dan mengukur berat serta tinggi badannya. Waspadalah jika si kecil memiliki berat badan yang kurang dari seharusnya. Segera cari penyebab dan solusinya. Berkonsultasilah kepada tim medis.

Selain berat badan kurang, banyak pula anak- anak yang memiliki berat badan berlebih, bahkan mengalami obesitas. Anak- anak yang mengalami kelebihan berat badan lambat laun akan mengalami obesitas. Jika si kecil dari usia dini mengalami obesitas maka setelah dewasa ia akan kesulitan menurunkan berat badannya. Jika demikian, dikhawatirkan penyakit degeneratif akan mengancam jiwanya.

Orang tua yang tidak paham sering berbangga hati jika memiliki anak yang gemuk, overweight atau obesitas. Padahal seharusnya kita ikut berperan dalam menghambat laju kenaikan berat badannya. Ingat, sehat tidak identik dengan gemuk, tetapi berat badan yang ideal.

Obesitas disebabkan pola makan yang tidak seimbang serta pola hidup yang tidak sehat. Anak yang obesitas selalu mengkonsumsi makanan tinggi lemak, dan tinggi kalori serta serat yang sedikit bahkan mungkin tidak ada. Mereka juga jarang bahkan tidak pernah olahraga.

Televisi menjadi salah satu penyebab obesitas pada anak-anak. Televisi yang menayangkan berbagai iklan makanan menggiurkan membuat anak-anak tergoda untuk mencicipinya. Sayangnya tidak semua makanan dalam iklan termasuk makanan yang menyehatkan. Tingginya jam menonton TV, membuat mereka semakin asyik ngemil. Permainan yang tidak mengeluarkan banyak energi, seperti bermain games di komputer dan PS juga sebagai salah satu penyebab obesitas.

[Yazid Subakti]

Gizi yang Sehat

Gizi yang Sehat

Parenting – Pemenuhan gizi yang sehat sangat penting untuk kehidupan yang sehat dan cerdas. Dari gizi pula si kecil tumbuh dan berkembang secara optimal. Anak-anak mendapatkan kecukupan gizinya ini melalui makanan. Oleh karenanya, kita akan memberi perhatian lebih pada makanan karena dari sinilah si kecil mendapatkan zat-zat terpenting untuk kehidupannya.

  1. Bergizi

Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung berba­gai macam zat gizi yang tubuh perlukan . Sebenarnya, zat gizi yang anak-anak dan orang dewasa perlukan secara mendasar sama. Anak-anak kita memerlukan zat gizi yang bisa terbagi ke dalam 5 (lima) bagian, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vi­tamin dan mineral. Secara garis besar, kelima kelompok zat gizi tersebut dapat digolongkan dalam 3 (tiga) fungsi, yaitu :

  • Sebagai sumber energi. Zat ini berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Energi berfungsi untuk semua aktifitas organ tubuh.
  • Sebagai sumber pembangun. Zat ini berasal dari protein, mineral dan air. Zat pembangun perlu untuk seluruh pertumbuhan dan perkembangan tubuh, serta untuk meng­ganti sel-sel yang rusak.
  • Sebagai sumber pengatur/pelindung. Zat ini berasal dari protein, vitamin, mineral dan air. Zat pengatur/pelindung di­perlukan untuk mengatur semua pekerjaan tubuh dan melindungi tubuh dari penyakit.
  1. Beraneka ragam

Makanan dikatakan bergizi jika mengandung berba­gai macam zat gizi yang diperlukan tubuh, bukan hanya satu atau dua zat gizi saja. Zat gizi yang diper­lukan oleh anak- anak maupun orang dewasa secara mendasar sama. Alasan makanan harus beraneka ragam adalah:

Tidak ada satu bahan makanan pun yang memiliki ragam dan kualitas zat gizi yang lengkap. Ma­sing-masing bahan makanan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Manusia melakukan banyak sekali aktivitas dan bera­gam, mulai dari aktivitas fisik (bergerak), pertahanan, sampai otak (berpikir). Masing-masing aktivitas ini memiliki kebutuhan nutrisi tersendiri.

Dengan rumitnya aktivitas manusia, banyak organ yang harus anda jaga untuk selalu prima dan berfungsi normal.

  1. Berimbang

Makanan yang mengandung gizi seimbang adalah makanan yang mengandung zat gizi sesuai dengan yang tubuh butuhkan, tidak lebih dan tidak kurang. Makanan yang bergizi seimbang dapat membuat anak memiliki badan yang sehat, tidak mudah sakit dan tentunya berprestasi. Ciri- ciri anak sehat dapat terlihat  melalui pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai usianya.

Ada beberapa ciri lainnya yang menggambarkan kesehatan anak. Ciri ini sangat mudah untuk mengamatinya. Berikut adalah ciri anak sehat :

  • Berat dan tinggi badan sesuai usianya.
  • Tampak aktif/lincah, gembira.
  • Matanya bersih dan bersinar
  • Bibir dan lidahnya merah
  • Rambut hitam
  • Bersih dan tidak mudah dicabut
  • Kulit bersih
  • Pencernaannya baik
  • Nafasnya segar

Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu indikator penentuan status gizi. Jika asupan nutrisi anak kurang dari kebutuhan maka akan menyebabkan kurang gizi, namun sebaliknya jika asupan gizi anak berlebihan maka Ia anak mengalami obesitas.

  1. Aman

Pastikan semua makanan yang kita berikan pada anak kita aman. Aman dari bahan tambahan pangan yang berlebihan, aman dari pestisida dan zat berbahaya lainnya. Penggunaan BTP yang berlebihan (baik kadar maupun frekuensinya) dapat menimbulkan reaksi alergi, ketergantungan, dan akibat buruk lainnya yang tak terduga.

Selain itu untuk menjaga keamanan makanan anda harus memperhatikan sanitasi makanan. Sanitasi adalah upaya pencegahan agar makanan atau minuman terbebas dari segala bahaya yang dapat mengganggu, bahkan merusak kesehatan. Upaya tersebut bermula dari pemilihan bahan yang benar, pengolahan, penyiapan, penyimpanan serta penyajian yang baik pula. Sekalipun Anda mengolah sendiri makanan yang akan si kecil konsumsi, prinsip pengolahan tersebut tetap harus benar.

[Yazid Subakti]

Saat si Kecil Mulai Berdiri dan Berjalan

Saat si Kecil Mulai Berdiri dan Berjalan

Parenting – Saat si kecil mulai berdiri dan berjalan, Anda harus memantau dengan teliti untuk mengetahui kapan sebaiknya bayi diajari berjalan.

  1. Tahapan Bayi Mulai Berdiri dan Berjalan

Pada usia sekitar 28 minggu, kekuatan dan koordinasi gerak otot-otot pada tubuh bayi Anda akan semakin kuat. Aia menampakkan keinginan untuk berdiri dengan cara selalu berusaha untuk berdiri ketika menemukan benda yang dapat membantunya untuk berdiri. Saat menemukan bantal besar atau dekat dengan dinding, ia akan mulai berpegangan dan mengangkat tubuhnya hingga tegak. Bila dibantu, ia sudah mulai kuat berdiri. Tetapi ketika bantuan dilepaskan, ia akan jatuh.

Berdirikan si kecil dengan cara memegang kedua ketiaknya hingga posisi menjadi tegak. Biarkan ia dengan bebas menggerakkan kakinya untuk melatih kekuatan otot kakinya. Tungkai kaki bayi Anda sedang berlatih agar lebih kuat menyangga tubuhnya.

  1. Melatih Bayi Berjalan

Anda harus memantau dengan teliti untuk mengetahui kapan sebaiknya bayi diajari berjalan. Sebenarnya, tanpa diajari pun kemampuan berjalan alami bayi akan tumbuh dengan alami. Jika demikian, mengapa ia harus tetapi dilatih?

Tujuan melatih bukan untuk mempercepat bayi berjalan, tetapi menjamin ia berjalan dengan cara yang aman dan terawasi. Tujuan lain melatih bayi berjalan adalah untuk memberi semangat bilamana terjadi tanda-tanda bayi terlambat perkembangannya (sudah usia harus berjalan ternyata belum menunjukkan minat berjalan).

  • Melatih bayi berdiri

Jangan terus menerus membiarkan bayi dalam gendongan. Latih berdiri dengan memegang kedua tangannya untuk membuatnya tegak dan menahan beban tubuh pada kedua kakinya. Ajak si kecil untuk berusaha memegang tiang atau benda lainnya dan kemudian belajar berdiri sendiri. Biarkan ia menikmati masa-masa latihan berdiri sampai saat harus beristirahat dan duduk kembali.

Berikan perangsang berupa bantal yang tertumpuk atau kursi kecil yang aman di dekat bayi. Ia akan memegang tumpukan bantal atau kursi itu dan akhirnya mengangkat badannya menjadi tegak. Saat Anda harus melatih ia tegak, mungkin ia akan melepaskan pegangan anda. Biarkan ia terlepas dan jagalah agar jika jatuh tidak menjadikannya cedera.

  • Melatih si kecil berjalan

Melatih bayi berjalan pada saat ia telah mampu untuk berdiri secara mandiri. Ini penting karena kemampuan berdiri mengindikasikan otot-ototnya sudah kuat dan gerak koordinasinya sudah baik.

Beri kebebasan setiap kali bayi berjalan merambat sambil berpegang pada perabot di dalam rumah. Anda cukup mengawasi bayi agar tidak jatuh dan memegang benda yang berbahaya. Amati si kecil mulai bisa melangkahkan kaki kiri dan kanan secara bergantian walaupun masih sambil berpegangan. Pancinglah dengan benda menarik perhatiannya. Letakkan benda tersebut di lokasi jauh dari benda-benda yang ia pegang sewaktu berjalan. Rayulah si kecil untuk mendekati benda menarik itu.

Latihan berjalan juga bisa dengan bantuan benda berupa pegangan kayu atau gawang di halaman rumah. Biarkan ia memegangi gawang untuk merambat menuju arah yang ia inginkan. Beri perangsang dengan benda kesayangannya agar ia meraihnya dengan posisi yang jauh dari posisi ia berdiri semula.

Saat sedang berdiri sendiri, mendekatlah dengan membawa benda kesukaannya tetapi jangan sampai bersentuhan. Mundurlah perlahan hingga si kecil tertarik untuk mengejar anda untuk mendapatkan benda kesayangannya.

Tidak perlu memberikan dorongan fisik kepada bayi agar ia maju melangkah. Ia akan secara alami mencoba melangkah sesuai kekuatan otot dan kemampuan koordinasinya.

[Yazid Subakti]

Mengenalkan Makanan Pendamping ASI

Mengenalkan Makanan Pendamping ASI

Bayi harus mulai diperkenalkan makanan pendamping ASI setelah masa penyusuan eksklusif selesai (6 bulan).

Makanan Pendamping Asi (MPASI) adalah makanan semi padat dengan tekstur lembut untuk bayi menemani pemberian ASI. Kenalkan MPASI untuk merangsang keterampilan motorik alat pencernaan mekanisnya, yaitu menggerakkan mulut dan lidah untuk mengolah makanan. Dengan memperkenalkan MPASI, bayi akan mengenal tekstur, warna, serta rasa makanan yang baru. Ini penting untuk merangsang perkembangan fungsi pencernaannya hingga besar nanti.

  1. Memulai pemberian MPASI

Bayi di awal-awal memakan selain ASI masih belajar mencerna. Pada mulutnya belum tumbuh banyak gigi dan saluran pencernaannya belum terbiasa dengan makanan seperti orang dewasa. Makanan yang belum bersahabat baginya adalah yang teksturnya kasar atau keras, serta aroma dan rasanya ekstrim.

  • Pahami seputar bahan MPASI

Pemberian MPASI tidak seperti memberi makan anak-anak yang sudah mandiri. Pahami bahan yang paling cocok bagi si kecil, yaitu bahan yang ia sukai, dalam kondisi masih segar dan aman, serta dalam jumlah yang cukup.

  • Sediakan bahan dan olah dalam keadaan higienis

Hygiene makanan ini mulai dari pemilihan bahan (bahan yang segar dan bersih), penyimpanan, pengolahan, sampai pada saat penyajian (penyuapan kepada si kecil). Pada saat memberikan makan, tangan anda harus dalam keadaan bersih.

  • Berikan MPASI secara bertahap

Berikan MPASI sedikit demi sedikit kepada si kecil, tidak langsung dalam jumlah banyak karena lambung dan kemampuan mencerna si kecil masih terbatas. Anda dapat memulai dengan 2 -3 sendok makanan pada saat pertama ia makan. Jumlah ini ditambah seiring perkembangan bayi.

  • Berikan di sela-sela pemberian ASI dan secara bertahap pula

Bayi masih sangat tergantung pada ASI sebagai makanan utama. Ia akan kaget jika mendapat makanan pendamping kemudian harus absen lama dengan ASI. Pada tahap awal, berikan ia satu kali sehari MPASI, kemudian besoknya dua atau tiga kali, dan kemudian makin sering.

  • Berikan makanan yang tidak menimbulkan efek alergi

Makanan dari tepung beras sangat baik karena sangat kecil kemungkinannya menyebabkan alergi pada bayi. Makanan ini dapat ditambah dengan susu, sereal, atau sayuran lunak untuk menambah variasi zat gizinya.

  • Kenalkan sayuran dan buah-buahan

Makanan ini sangat penting bagi anak karena mengandung banyak zat gizi alami (sumber vitamin dan mineral). Sayuran yang telah dipotong kecil atau dirajang, dan buah yang dipotong kecil memudahkan bayi memakannya.

  • Berikan makanan pendamping ASI ini dalam variasi yang sederhana pada awalnya

Misalnya, pada awal-awal, anda cukup mengenalkan havermut dan buah pisang saja, kemudian besoknya makanan yang lain tanpa dicampur-campur terlalu banyak.

  • Hindari penggunaan zat penambah rasa terlalu berlebihan

Penggunaan garam dan gula adalah wajar, tetapi sebisa mungkin dihindari pada awal pengenalan. Ia sudah cukup menikmati rasa tepung beras atau havermut dengan kaldu (kaldu sapi, ayam, atau ikan) atau bubur dengan tambahan jus buah.

  • Uji reaksi bayi terhadap jenis makanan tertentu

Pada awal mengenal makanan, kadang bayi sensitif terhadap jenis makanan tertentu dengan menunjukkan penolakan atau ia mual bahkan sampai muntah. Misalnya, ia sensitive terhadap buah yang ada rasa masamnya, atau makanan yang aromanya kuat. Bayi seperti ini sebaiknya tidak dipaksa dan segera diganti dengan makanan lain yang lebih cocok.

  • Perhatikan reaksi alergi bayi terhadap makanan tertentu

Ikan laut sering memunculkan alergi bayi dengan gejala gatal dan seperti bengkak di gusi atau bibirnya. Selain ikan, makanan yang memicu alergi adalah telur, jenis kacang tertentu, dan gandum.

  1. Tahap-Tahap Pengenalan Makanan Pendamping ASI

  • Makanan semi cair (Mulai usia 6 bulan)

Makanan lunak seperti biskuit yang mengencerkannya menggunakan air atau susu cocok untuk awal pemberian MPASI. Bubur susu yang bisa dari tepung beras yang tercampur dengan ASI atau susu formula dapat juga sedikit demi sedikit memberikannya. Bubur ini bisa dengan dengan tepung beras merah, kacang hijau, atau labu kuning untuk menambah rasa.

Pemberian sayuran mulai dengan jus sayuran, kemudian buah yang terlebih dahulu usdah halus. Buah pilihan di awal ini adalah pisang, alpukat, atau jeruk yang manis.

  • Bubur tim saring (Mulai usia 7 bulan)

Kadang bayi menolak atau meronta dengan jenis makanan saring ini karena teksturnya lebih kasar dari sebelumnya. Anda tidak dapat memaksanya, tetapi terus mencoba memberinya. Ini adalah tahapan awal yang memerlukan perjuangan anda.

Setelah secara bertahap pemberian tim saring, bisa kenalkan bayi dengan nasi tim tanpa menyaringnya.

Pilihan untuk jenis sayur dan buah adalah asparagus, wortel, bayam, sawi, bit, lobak, mangga, melon, atau pepaya. Untuk lauk, pilihan di masa-masa ini adalah ayam, sapi, hati ayam/sapi, tahu, dan tempe.

  • Bubur beras atau nasi lembek, lauk pauk dengan sayuran (Mulai usia 9 bulan)

Mulia usia ini, anak sudah bisa mengkonsumsi makanan yang seluruh keluarga konsumsi.

Pilihan makanan pada saat ini adalah makanan dengan sayur sop, daging cincang, sayur bening, perkedel, skutel, aneka jenis kue, dan jus. Meskipun sudah dapat menyantap makanan keluarga, menu yang ekstrim sebaiknya belum diberikan atau dibantu saat makan. Menu yang ekstrim misalnya sate (harus dibantu melepas dari tusuknya), menu bersambal, atau menu yang harus disantap saat masih panas.

Makanan olahan yang berpengawet dan makanan ringan yang ada di warung sebaiknya tidak bunda kenalkan.

[Yazid Subakti]

Merangsang Kemampuan Bicara

Merangsang Kemampuan Bicara

Parenting – Merangsang kemampuan bicara atau komunikasi anak dengan lingkungan akan membantunya untuk melakukan hubungan sosial. Kadang si kecil menunjukkan keinginannya untuk menjalin hubungan dengan orang di sekelilingnya, tetapi kemampuan berkomunikasinya sangat terbatas. Dalam hal ini, anda dapat melatihnya agar ia mulai berkata untuk menyampaikan maksudnya.

Latihan ini dapat lakukan dengan cara mengajak si kecil berbicara sesering mungkin, meskipun dia belum waktunya berbicara. Kata-kata anda akan masuk kedalam memorinya dan tersimpan. Berkomunikasi bersama bayi dengan menggunakan suara yang lembut dan kosakata yang jelas, karena bayi lebih suka mendengar suara yang lembut. Jika suara anda kasar, bayi menjadi tidak tertarik untuk menirukannya.

Berbicara dengan kontak mata (menatap mata si kecil), karena kontak mata akan diartikan olehnya sebagai bentuk perhatian. Si kecil merasa diajari atau diajak berbicara dengan kontak mata ini. Heningkan suasana dengan cara mematikan suara pembising (radio, TV, dan sebagainya) pada saat kita menjalin komunikasi dengan bayi. Suara bising dapat mengganggu konsentrasi dan mengacaukan kata-kata yang anda ucapkan.

  • Memilih rangkaian kalimat sederhana dan mudah diucapkan

Anda dapat menunjukkan benda dengan dua atau tiga kata, “ini namanya bola”, “Ikannya lucu”, “Mana bonekanya” dan sebagainya.

Mengajak si kecil terlibat dalam permainan. Permainan yang penuh riang dan tawa memancing si kecil untuk mengucapkan kalimat yang mencerminkan ekspresi perasaan hatinya atau ikut-ikutan berseru. Misalnya main sembunyi-sembunyian, lalu ia terpancing berucap “Aku di sini”, “Bunda di mana?” dan sebagainya.

Menyampaikan kata-kata positif secara berulang. Ulangi apa yang anda ingin ia katakan. Misalnya kalimat-kalimat doa, anda harus membacakannya berulang dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Memperjelas apa yang dia katakan. Misalnya, ia telah mengatakan “dede ingin pipis”, dengan artikulasi yang kurang jelas. Untuk hal ini, anda mengulangi hasil rangkaian doa dengan kata yang lebih jelas lagi agar ia merasa mendapat dukungan.

Menghindari kata-kata yang kasar dan negative. Kata yang kasar juga tersimpan di memori otak anak, dan suatu saat kata-kata buruk dan kasar akan mereka tiru. Menceritakan apa yang sedang dilakukan bersama anda. Misalnya saat anda menemaninya makan, selalu ceritakan tentang kegiatan itu dengan mengatakan “ini sayur bayam, sangat nikmat dan bergizi”, “kita jalan-jalan, lihat bunga dan kupu-kupu”.

Jangan sekali-kali menyalahkan setiap kekurangan bahasa si kecil. Misalnya ia salah mengucap kata tertentu yang menjadikan maknanya berubah. Anda hanya perlu meluruskan dan membimbingnya untuk menirukan.

[Yazid Subakti]