Pra Nikah – Tidaklah cukup seseorang mengatakan diri beriman sebelum hatinya dipenuhi oleh rasa cinta mengalir kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Daftatr Isi
Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
Rasulullah SAWbersabda,
“Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, sehingga aku lebih ia cintai daripada hartanya, anaknya, dan semua manusia.“ (Muttafaq ‘alaih)
Di dalam Ash-Shahih menyebutkan dari Anas bin Malik ra, dia berkata,
“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Tiga perkara, siapa yang apabila tiga perkara ini ada padanya, maka dia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada (cintanya kepada) selain keduanya, dia mencintai seseorang dan tidak mencintainya melainkan karena Allah, dan dia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu, sebagaimana dia benci masuk ke neraka.”
Cinta seharusnya mengalir ke hadapan Allah sebagai dzat yang lebih cinta daripada makhluk-Nya.
Merindukan Allah
Cinta selalu beriring dengan rindu. Ia seperti dua sayap yang mengepak bersama dan saling menguatkan.
Orang-orang yang mencintai Allah adalah mereka yang merindukan wajah-Nya. Mereka yakin perjumpaan itu akan menimbulkan kenikmatan. Mari kita renungi doa rasulullah saw sebagaimana dalam Shahih Ibnu Hibban,
“Ya Allah, dengan pengetahuan-Mu tentang yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku selagi hidup ini baik bagiku, dan matikanlah aku selagi mati itu baik bagiku. Aku memohon ketakutan kepada-Mu saat sepi dan ramai. Daku memohon kepada-Mu kalimat yang benar saat marah dan ridha. lAku memohon kepada-Mu kesederhanaan saat fakir dan kaya. iAku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak habis. iAku memohon kepada-Mu kesenangan hati yang tidak terputus. Aku memohon kepada-Mu ridha setelah qadha’ dan hidup yang dingin setelah kematian. Aku memohon kepada-Mu kenikmatan memandang Wajah-Mu. dan aku memohon kepada-Mu kerinduan berjumpa dengan-Mu, tanpa ada kesempitan dan mudharat, tanpa ada cobaan yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami pemberi petunjuk orang-orang yang mengikuti petunjuk.”
Itulah kerinduan. Itulah kenikmatan memandang Wajah Allah dan kerinduan berjumpa dengan-Nya dan itulah kerinduan yang tertanam pada hati orang-orang beriman dan pemiliki cinta sejati.
Pembuktian Cinta
Pengakuan cinta anda tidaklah cukup sebelum anda membuktikan kepada kekasih anda. Begitu banyak orang yang mengaku memiliki cinta, maka mereka pun harus untuk membuktikan pengakuan itu.
Ketika Anda mengaku mencintai Allah, maka anda harus untuk membuktikannya dengan mencintai Rasul-Nya.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,
“Katakanlah, jika kalian (bcnar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah meugasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian’.” (QS. Ali Imran: 31).
Mencintai Rasulullah, menjadikannya sebagai kekasih, dan larit dalam sunnahnya adalah syarat cinta. Inilah ujian yang dari oleh Allah kepada para hamba yang mengaku beriman. Bertanyalah kepada diri sendiri, apakah ujian itu telah anda buktikan kelulusannya di hadapan Allah.
Cinta itu ketika Anda bersama Allah
Ibnu Qayyim Al Jauziyah menulis dalam Madarijus Salikin tentang apa yang oleh Abu Bakar Al- Kattany berikut ini,
“Di Makkah diadakan dialog tentang masalah cinta, tepatnya pada musim haji. Banyak syaikh yang mengungkapkan pendapatnya tentang cinta ini. Sementara Al-Junaid saat itu merupakan orang yang paling muda di antara mereka.
Orang-orang berkata kepadanya,”Sampaikan pendapatmu wahai penduduk dari Irak.”
Beberapa saat Al-Junaid menundukkan pandangannya dan air matanya pun menetes perlahan-lahan.
Dia berkata, “Cinta ialah jika seorang hamba lepas dari dirinya, senantiasa menyebut nama Rabb-nya, memenuhi hak-hak-Nya, memandang kepada-Nya dengan sepenuh hati, seakan hatinya terbakar karena cahaya ketakutan kepada-Nya, yang minumannya berasal dari gelas kasih sayang-Nya, dan Allah Yang Maha Perkasa menampakkan Diri dari balik tabir kegaiban-Nya. Jika berbicara atas pertolongan Allah, jika berucap berasal dari Allah, jika bergerak atas
perintah Allah, jika dia beserta Allah, dia dari Allah, bersama Allah dan milik Allah.”
Mendengar ungkapannya ini semua syaikh yang hadir di sana menangis, dan mereka berkata, “Ungkapan ini sudah tidak memerlukan tambahan lagi. Semoga Allah melimpahkan pahala kepadamu wahai mahkota orang-orang yang arif”
Cinta itu ada ketika anda bersama Allah. Dia tidak ada atau seperti nihil ketika anda meniadakan Allah dalam hati yang kosong.
Kaum yang mencintai Allah
Di antara sebagian ciri orang yang mencintai Allah adalah mereka yang tersebutkan dalam firman-Nya yang artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela.” (Al-Maidah: 54).
Para pecinta Allah adalah mereka bersikap lemah lembut terhadap orangorang Mukmin. Sementara itu terhadap orang kafir amat tegas dan keras. Orang yang mencintai Allah akan berjuang membela agama-Nya, berjihad dengan apapaun yang mereka miliki sebagai perwujudan pengakuan cinta. Mereka tidak peduli terhadap celaan orang yang suka mencela karena urusan Allah.
[Yazid Subakti]

