Meluruskan Pemahaman atas Makhluk Ghaib

Meluruskan Pemahaman atas Makhluk Ghaib

Parenting – Meluruskan pemahaman atas makhluk ghaib, seperti misalnya Jin. Jin  & manusai memiliki beberapa kesamaan, yaitu memiliki akal dan nafsu, dan sama-sama mendapatkan beban perintah dan larangan syariat.

  1. Jangan dibingungkan oleh cerita fiksi 

Ada beberapa tokoh dalam buku-buku dongeng atau cerita fiksi yang merusak akal dan akidah anak. Buku ini memuat cerita turun temurun maupun cerita karangan baru yang di dalamnya terdapat tokoh ghaib dengan nama dan sifat yang menyesatkan, tetapi terlanjur sebagian anak muslim yakini. 

Tokoh fiksi itu misalnya tentang seorang peri yang baik hati beserta tongkat ajaibnya, atau malaikat yang tergambarkan sebagai gadis kecil bersayap. 

Bukankah peri yang dimaksudkan itu adalah sebangsa jin, sedangkan meminta pertolongan kepada jin dapat menjerumuskan kepada kesyirikan? Apakah malaikat itu sesosok gadis kecil? 

Berdasarkan nama-namanya, dan sosok yang yang pernah mengunjungi Rasulullah, malaikat bukanlah sosok gadis, melainkan sosok laki-laki meskipun tidak menyebutkan bahwa malaikat berjenis kelamin laki-laki. Inilah kesesatan khayalan  makhluk  gaib yang sudah terlanjur menjadi banyak tokoh dongeng. 

Tugas orang tua saat ini adalah meluruskan pemahaman ini, meyakinkan kepada anak dengan seterang-terangnya apa itu jin dan malaikat beserta sifat-sifatnya serta bagaimana manusia berhubungan dengannya.   

  1. Menjelaskan makna Jin

Jin adalah satu jenis makhluk ciptaan Allah dari bahan dasar api. Allah memberitahukan hal ini melalui firman-Nya,  

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar-Rahman: 14 – 15)

Berbeda dengan manusia, jin memiliki beberapa kesamaan, yaitu sama-sama memiliki akal dan nafsu, dan sama-sama mendapatkan beban perintah dan larangan syariat. Jadi, seperti manusia, ada jin yang muslim dan ada jin yang kafir. Ada jin yang baik dan ada jin yang jahat. Ada jin yang alim persoalan agama dan ada jin yang bodoh. 

Perbedaan jin dengan manusia yang paling mendasar adalah dari asal penciptaan dan kenampakannya. Makhluk ini adalah jin, karena memiliki sifat ijtinan, yaitu tersembunyi dan tidak dapat terlihat oleh mata manusia. Manusia tidak bisa melihat jin tetai  jin bisa melihat manusia. 

Ini juga telah Allah kabarkan dalam firman-Nya

“Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu di suatu keadaan yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27)

Karena sifat asli jin itu tidak dapat terlihat oleh manusia, maka hanya manusia tertentu saja yang dapat melihatnya karena ijin Allah (Misalnya seorang nabi atau orang salih). Kalangan bukan orang salih mungkin saja dapat melihat kenampakan jin, tetapi tidak dalam setiap keadaan dan semua orang. Sebagian orang awam yang dapat melihat jin adalah mereka yang sedang telah terpengaruh oleh jin juga.   

Ini seperti pendapat Imam Ibnu Taimiyah, ”Didalam Al Qur’an disebutkan bahwa mereka (jin) mampu melihat manusia dari tempat yang manusia tidak bisa melihat mereka. Ini adalah kebenaran yang menunjukkan bahwa mereka bisa melihat manusia dalam suatu keadaan yang mereka tidak bisa dilihat oleh manusia. Dan mereka tidaklah bisa dilihat oleh seorang pun dari manusia pada suatu keadaan akan tetapi terkadang mereka bisa dilihat oleh orang-orang shaleh atau pun orang-orang yang tidak shaleh namun mereka semua tidaklah bisa melihat jin di setiap keadaan”.

  1. Menjelaskan makna Setan

Jika Jin itu makhluk, maka setan adalah sifat yang melekat. Setan  merupakan sifat buruk yang melekat pada makhluk.  Oleh karena itu, kata ‘setan’ dinisbatkan pada setiap makhluk yang memiliki sifat membangkang, yaitu  sifat-sifat jahat, tidak taat, membelot, bermaksiat, melawan aturan, atau sifat buruk lainnya. Tidak ada sama sekali kebaikan dari sifat setan. 

Sebagai  sifat, maka setan bisa melekat pada diri manusia maupun pada jin yang sama-sama diberi beban syariat. Oleh sebab itu, setan ada dalam diri manusia dan juga jin sebagaimana firman Allah, 

“(setan yang membisikkan itu) dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 6).

Pahamkan kepada anak agar ia tidak takut setan. Sebab setan hanyalah sifat, yang bahkan bisa saja melekat pada manusia. 

  1. Siapakah Iblis? 

Iblis adalah nama salah satu jin yang menjadi pemimpin para pembangkang di dunia jin.

Allah telah berfirman mengenai hal ini, 

“Ingatlah ketika Kami berkata kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam!’ maka mereka semua-pun sujud kecuali Iblis. Dia dari golongan jin dan membangkang dari perintah Allah.” (QS. Al-Kahfi: 50)

Jadi, iblis adalah sejenis jin, atau nenek moyang jin yang merupakan makhluk Allah. Oleh karena itu ia juga memiliki keturunan sebagaimana umumnya jin lainnya. Allah berfirman,

“Iblis itu dari golongan jin, dan dia membangkang terhadap perintah Rab-nya. Akankah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai kekasih selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian…” (QS. Al-Kahfi: 50)

  1. Apakah hantu itu benar adanya? 

Hantu adalah makhluk Allah dari golongan jin, atau jin yang menampakkan diri di hadapan manusia dengan maksud mengganggu. Jadi, ketika makhluk jin itu menampakkan diri di hadapan manusia dengan berbagai jenisnya, maka manusia menyebutnya sebagai hantu karena tidak melihat wujud jin yang aslinya. 

Aslinya, dalam dunia jin memang terdapat jenis-jenis. Nama-nama jenis jin ini sering lebih dikenal oleh orang awam dalam istilah lokalnya. Oleh karenanya, orang mengenal jin sebagai kuntilanak, pocong, sundel bolong, banaspati, tuyul, dan sebagai di Indonesia. Nama-nama itu adalah sebuatan lokal untuk jenis-jenis bangsa jin dalam istilah orang Indonesia. Di luar negeri, penampakan makhluk jin bisa berupa jenis yang berbeda dengan sebutan yang berbeda pula. Misalnya penyebutan vampire. 

  1. Mengenal Malaikat

Malaikat adalah makhluk Allah yang bersifat ghaib, diciptakan oleh-Nya dari bahan cahaya. Malaikat adalah jamak dari kata Malak, yang secara bahasa bermakna utusan. Mereka tidak memiliki sifat ketuhanan, selalu taat kepada perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya.

Jumlah malaikat sangat banyak, tidak ada yang mengetahui selain Allah. 

Allah berfirman, “dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhan mu melainkan dia sendiri” (Qs. Al Muddatsir: 31).

Meyakini keberadaan malaikat adalah suatu keharusan. Bahkan Allah jadikan keimanan kepada malaikat sebagai salah satu rukun iman, yang tanpanya iman seseorang tidak akan diterima. 

Dengan mengenal malaikat, kita akan merasakan kasih sayang Allah yang telah melindungi kita dengan mengutus para malaikat untuk menjaga kita, mencatat amal amal kita, membisiki kita untuk berbuat baik dan lain sebagainya. 

Nama-nama malaikat yang dikenal ada sepuluh, yaitu Jibril, Mikail, israfil, Izrail, Munkar, Nakir, raqib, Atid, Ridwan, dan Malik.  

Malaikat memiliki jasad meskipun berbeda beda. Rasulullah SAW menceritakan bagaimana besarnya malaikat pemikul Arsy, “aku diizinkan untuk menceritakan salah satu malaikat Allah, yaitu malaikat pemikul Arsy, sesungguhnya antara cuping telinga dan pundaknya sejauh perjalanan tujuh ratus tahun”

Mereka juga memiliki sayap dengan jumlah yang berbeda beda setiap jenisnya. Di antara mereka ada yang memiliki dua sayap, tiga atau empat sayap, bahkan ada yang memiliki enam ratus sayap sebagaimana malaikat Jibril. 

Allah berfirman, “Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat…” (Qs. Fathir: 1).

Rasulullah SAW pernah melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya selama dua kali. Beliau melihat Jibril menampakan dirinya dalam bentuk aslinya, dengan enam ratus sayap yang menutupi ufuk. Selebihnya, Malaikat Jibril lebih sering datang dalam seorang laki laki asing yang tidak dikenal.

Malaikat memiliki akal tapi tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana manusia. 

  1. Ketika anak mengaku melihat jin

Biasanya anak  merasa sangat takut melihat penampakan jin yang ia sebut sebagai hantu. Rasa takut ini adalah wajar, karena setiap manusia memang takut dengan apapun yang dianggap membahayakan, tampak buruk rupa, atau bersifat mengancam.

Kesempatan melihat jin (tanpa disengaja) mungkin saja terjadi pada anak di saat tertentu.  Anda tidak perlu ikut cemas, asalkan peristiwa itu di luar kesengajaan. Secara umum, jin yang menampakkan diri kepada manusia ada yang bermaksud jahat dan ada yang tidak. Apapun maksud jin menampakkan diri kepada manusia, tidak ada manfaat sama sekali untuk berinteraksi atau menjalin hubungan dengannya. Oleh karena itu, sikap yang paling baik terhadap jin adalah menjauhinya. 

Ajaran kepada anak untuk sering-sering berlindung kepada Allah dengan mengucapkan ta’awudz. Ketika jin menampakkan diri, perintahkan anak membaca ayat kursi karena jin takut dengan ayat ini. 

Jika keberadaan jin itu ternyata ada di rumah, baik menetap atau sekedar singgah, anda sebaiknya mengusirnya karena suatu saat bisa saja ia akan mengganggu tanpa sepengetahuan anda dan keluarga.

  1. Manusia dapat mengalahkan jin dengan izin Allah 

Jika anak ketakutan terhadap hantu (meskipun belum pernah melihatnya), pahamkan bahwa hantu adalah sejenis makhluk dari golongan jin, sedangkan jin dapat dikalahkan oleh manusia dengan ijin Allah. 

Hantu atau jin sering tergambarkan sebagai makhluk yang memiliki kesaktian atau kehebatan. Akan tetapi Allah menjamin bahwa tipu dayanya itu lemah.

  • Kalah dengan  orang-orang yang mukhlis (yang ikhlas)

Perkataan iblis sendiri ketika berdialog dengan Allah mengakui bahwa dirinya tidak dapat mengalahkan orang mukhlis. 

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. (QS. Al- Hijr 15: 39-40).

Yang menyebabkan jin itu dapat menguasai seseorang adalah karena perbuatan dosanya. Ketika seseorang itu mukhlis, maka setan pun akan lari dan tidak akan pernah berani mendekatinya.

  • Takut dan lari oleh sebagian hamba Allah

Jin akan takut dan lari melihat orang beriman yang sangat dekat dengan Allah. Jin-jin di jalan ketakutan lari ketika Umar bin Khattab lewat. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Turmudzi, Rasulullah SAW bersabda kepada Umar: “Sesungguhnya setan sangat takut olehmu, wahai Umar” (HR. Turmudzi).

Bukan hanya kepada Umar, jin juga takut melihat orang-orang beriman yang dekat dengan Allah. “Sesungguhnya Orang mukmin akan dapat mengendalikan (mengalahkan) syaitannya sebagaimana salah seorang dari kalian yang dapat mengendalikan untanya ketika bepergian,” (HR. Ahmad).

  • Takluk kepada Nabi Sulaiman as

Salah satu mukjizat Nabi Sulaiman adalah dapat menaklukan jin sehingga semuanya dapat bekerja atas perintahnya. 

Allah berfirman, 

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu” (QS. Shad ayat 36-38).

Nabi SUlaiman sebagai manusia, ternyata dapat menguasai bangsa jin. 

  • Jin tidak dapat membuka pintu yang sudah ditutup dengan menyebut nama Allah

Ketika menutup pintu ramah, bacakanlah nama Allah. Sebab jin tidak dapat membuka pintu jika pintu itu tertutupi dengan menyebut nama Allah.    

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

Tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Allah (ketika menutupnya), karena setan tidak akan membuka pintu yang sudah terkunci dengan menyebut nama Allah. Tutup jugalah tempat air minum (qirab dalam bahasa Arab adalah tempat menyimpan air minum yang terbuat dari kulit binatang) dan bejana-bejana kalian (untuk masa sekarang seperti lemari, bupet, kulkas dan lainnya) sambil menyebut nama Allah, meskipun kalian hanya menyimpan sesuatu di dalamnya dan (ketika hendak tidur), matikanlah lampu-lampu kalian” (HR. Muslim)

 

[Yazid Subakti]

Kembali Pada Rukun Islam dan Rukun Iman

Kembali Pada Rukun Islam dan Rukun Iman

Islam yang kita yakini ini terbangun atas lima tiang penegak, yaitu rukun Islam. Sebagaimana oleh rasulullah SAW sebutkan di dalam hadits-haditsnya. Maka amat perlu bagi kita untuk menyampaikan kembali kepada anak seberapa dalam pemahamannya dan sejauh mana ia telah melaksanakannya. 

Dari Ibnu Umar ra, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan”. [HR Bukhari]

Hadits lain  dari dari Thawus, bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Umar ra  : “Tidakkah Anda berperang?”, maka dia berkata: “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ’Sesungguhnya Islam dibangun di atas lima (tanggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan; dan haji’.” [HR Muslim].

Hadits ini memiliki kedudukan yang agung, karena menerangkan rukun Islam yang merupakan inti ajaran islam.  Imam an Nawawi mengatakan bahwa sesungguhnya hadits ini merupakan pokok yang besar di dalam mengenal Islam, dan agama Islam bersandar di atas hadits ini, dan hadits ini mengumpulkan rukun-rukunnya” 

  1. Tak ada Islam Tanpa dua kalimat Syahadat

Jika Islam ibarat sebuah bangunan, maka tiang-tiang bangunannya adalah lima rukun islam. Bangunan itu tidak dapat tegak kokoh, kecuali dengan kelimanya. Islam akan hilang dengan ketiadaan tiang pertama berupa dua kalimat syahadat. 

Syahadat ialah membenarkan apa yang Rasulullah SAW bawa dengan  keyakinan yang penuh. Oleh karena itu syahadat harus dengan lisan, hati dan berdasarkan Ilmu. Barangsiapa bersyahadat “Laa ilaaha illa Allah”, berarti dia meyakini dan memberitakan, bahwa tidak ada sesuatupun berhak terhadap seluruh jenis-jenis ibadah, kecuali Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Syahadat “Muhammad adalah utusan Allah”, adalah seseorang meyakini, memberitakan dan mengumumkan bahwa Muhammad (yaitu Muhammad bin Abdullah) benar-benar merupakan utusan Allah. Keyakinan mencakup rasa percaya bahwa wahyu turun kepada beliau, sehingga beliau memberitakan dengan apa yang Allah katakan.  Syahadat ”Muhammad adalah utusan Allah” juga bermakna keimanan kepadanya, bahwa beliau adalah utusan Allah sebagai basyir (pembawa berita gembira) dan nadzir (pembawa berita ancaman). Pembuktian dari keyakinan ini adalah meyakini berita-berita dari beliau, melaksanakan perintah-perintahnya, meninggalkan apa yang beliau larang, dan beribadah kepada Allah hanya dengan apa yang beliau syari’atkan.

Di masa-masa mengantar anak menuju akil baligh, pemahaman mengenai dua kalimat syahadat harus tuntas dengan bimbingan orang tua. Artinya, orang tua benar-benar memastikan keislaman anaknya dengan pemahaman yang benar atas rukun islam yang paling awal.   

  1. Shalat sebagai tiang agama 

Shalat merupakan tiang agama. Sebuah bangunan tidak berdiri, kecuali dengan tiang yang dipancangkan dengan  kokoh. Jika tiang itu roboh, maka bangunan beserta seluruh yang ada padangan akan ikut roboh. 

Rasulullah SAW bersabda, “Pokok urusan (agama) itu adalah Islam (yaitu: dua syahadat), tiangnya adalah salat, dan puncak ketinggiannya adalah jihad. [HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Yang dimaksud shalat di sini adalah salat fardu lima waktu dalam sehari, yaitu subuh, zuhur, ashar, maghrib, dan isya. Anak-anak sejak dini harus dikenalkan kebiasaan shalat, sampai pada usianya 7 tahun disampaikan pelajaran mengenai cara pelaksanaannya. Pada usia 10 tahun, orang tua memastikan anak telah menjadi pribadi yang rajin shalat sehingga hukuman harus diberikan jika ia lalai mengerjakannya. 

Meninggalkan shalat sama sekali dengan tidak meyakini kewajibannya dapat berakibat pada  kekafiran. Meninggalkan shalat sama sekali karena malas atau sibuk, tetapi tetap masih  meyakini kewajibannya tidak berakibat kekafiran tetapi merupakan dosa besar yang mendatangkan azab besar pula. 

Selain shalat wajib, pahala akan lebih sempurna jika sejak kecil anak dibiasakan menjalankan salat-salat sunnah. Ajak anak melakukan salat rawatib, salat duha, salat tahajud, dan shalat-shalat sunnah yang lain.

  1. Peduli dengan berzakat 

Membayar zakat adalah rukun islam ketiga, yaitu memberikan sebagian harta kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Allah mewajibkan zakat atas harta-harta orang yang mampu, dengan ketentuan yang dijelaskan oleh para ulama. Orang yang sudah wajib zakat tetapi menolak membayarnya mendapatkan ancaman dosa besar dan siksa yang keras, meskipun tidak dihukumi kafir. 

Rasulullah SAW bersabda, 

Pemilik emas dan pemilik perak yang tidak menunaikan haknya darinya (yaitu membayar zakat), maka jika telah terjadi hari Kiamat, dibuatkan untuknya lempengan-lempengan dari neraka, kemudian lempengan-lempengan dipanaskan di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarlah dahinya, lambungnya dan punggungnya. Setiap kali lempengan itu dingin, dikembalikan (dipanaskan di dalam Jahannam) untuk (menyiksa)nya. (Itu dilakukan pada hari Kiamat), yang satu hari ukurannya lima puluh ribu tahun, sehingga diputuskan (hukuman) di antara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat (atau, akan diperlihatkan) jalannya, kemungkinan menuju surga, dan kemungkinan menuju neraka. [HR Muslim]

Pertama-tama ketika menyampaikan ajaran zakat kepada anak adalah bahwa perbuatan ini dilakukan semata karena Allah memerintahkannya. Sebagai bukti keislaman, kita taat atas perintah Allah dan berusaha menjalaninya dengan ikhlas. Setelah itu, anda dapat menjelaskan hikmah yang terkandung dalam zakat, yaitu menumbuhkan rasa peduli kepada sesama, menghilangkan sifat kikir, dan menyucikan harta kita. 

Jangan lupa melatih anak dengan bentuk sedekah yang lain, misalnya membiasakan membawa  uang infak setiap kali berangkat ke masjid atau menyumbang korban bencana alam.

  1. Puasa sebagai tameng

Rukun Islam keempat adalah berpuasa pada bulan Ramadhan. Ini adalah ibadah kepada Allah dengan menahan hal-hal yang membatalkannya, sejak terbit fajar shadiq sampai tenggelam matahari. Umat telah sepakat tentang kewajiban puasa Ramadhan tanpa satupun yang menolak. 

Seperti ibadah yang lain, ketika menyampaikan ajaran puasa kepada anak, orang tua mengemukakan alasan paling utama orang berpuasa adalah karena  mentaati perintah Allah. 

Setelah penjelasan ini, anak dapat diberi pemahaman mengenai hikmah puasa, yaitu mengendalikan nafsu dari berbagai godaan, menjaga kesehatan. Sebagai latihan untuk turut merasakan penderitaan orang-orang miskin yang setiap hari harus menahan lapar. 

Selain ibadah puasa, bulan Ramadhan menjadi bulan yang istimewa. Ajak anak untuk mengisi bulan mulia ini dengan amalan yang mendatangkan pahala berlimpah. Yaitu shalat tarawih, tadarus, memperbanyak sedekah, dan saling bersilaturahim. 

  1. Haji melengkapi keislaman 

Haji. adalah beribadah kepada Allah dengan pergi ke kota Mekkah untuk menunaikan beberapa syarat dan rukunnya. Ibadah haji ini diwajibkan bagi orang yang memiliki kemampuan: yaitu sehat jasmani, memiliki perbekalan cukup untuk pergi dan pulang dan hidup di tanah suci,  dan keamanan selama perjalanan.

Orang Islam yang memiliki kemampuan itu semua tetapi menolak untuk berhaji diancam oleh rasulullah SAW, 

Sesungguhnya Allah berfirman : “Sesungguhnya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan badannya, dan telah Ku-lapangkan penghidupannya, telah berlalu lima tahun, dia tidak datang kepadaKu, dia benar-benar orang yang terhalang dari kebaikan”. [HR Ibnu Hibban, Abu Ya’la, dan al Baihaqi].

Sejak dini anak harus dikenalkan kewajiban haji dan keutamaannya. Orang tua membuat suasana keluarga yang merindukan baitullah, dan dengan langkah nyata merencanakan untuk pergi melaksanakannya. Langkah paling awal mewujudkan rencana ini adalah dengan membuat tabungan haji.

 

[Yazid Subakti]

Hanya Ada Satu Jalan Lurus, Nak!

Hanya Ada Satu Jalan Lurus, Nak!

Parenting – Katakan kepada anak bahwa islam telah sempurna, hanya ada satu jalan lurus. Agama ini telah diridhoi oleh Allah untuk dianut oleh segenap manusia dari kedatangannya sampai akhir zaman. 

Allah  berfirman,

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Ma’idah: 3).

Ayat ini tururn saat Nabi SAW wukuf di Arafah ketika Haji Wada’. Inilah ayat Al Qur’an yang turun terakhir kali. Beberapa waktu setelah ayat tersebut turun, Nabi SAW meninggal dunia, yaitu setelah beliau kembali ke Madinah selepas pulang dari haji terakhirnya. Jadi, ayat ini benar-benar menutup kesempurnaan islam.

  1. Menyampaikan makna sempurnanya islam 

Islam telah sempurna, berarti tidak perlu agama lain selain agama ini, dan tidak memerlukan kehadiran nabi yang lain selain Muhammad SAW. Tidak perlu keyakinan baru atau tambahan aturan untuk menjadi islam lebih lengkap. Maka apa-apa yang halal adalah yang beliau SAW halalkan dan hal-hal yang haram adalah apapun yang beliau SAW haramkan.

Anak perlu mengetahui risalah ini, agar suatu saat ketika pergaulannya meluas, ia tidak mudah terpana dengan pemikiran dan keyakinan berbeda yang ia dengar atau lihat dari orang lain. Ia telah yakin akan islam sebagai satu-satunya agama, dengan membiarkan pemeluk lain meyakini agama mereka masing-masing. 

  1. Tidak perlu ada penambahan dan pengurangan dalam ibadah

Semua ibadah yang menjadi syariat dalam agama islam ini telah selesai terrumuskan oleh dan rasulnya, dengan tata cara atau kaidah yang oleh para ulama jelaskan. Ilmu tentang hukum dan tata cara ibadah (fiqih) telah banyak disusun, yang berarti tidak ada jenis ibadah atau cara baru beribadah yang akan menjadi syariat selain itu. Selamanya syahadat akan menjadi syarat keislaman, shalat wajib akan berlaku lima waktu, dan puasa wajib akan terjadi di bulan ramadhan. Selamanya kewajiban zakat akan berlaku, dan ibadah haji akan terus menjadi rukun islam kelima. 

Sahabat Ibnu ‘Abbas ra berkata,

“Allah telah menyempurnakan islam, sehingga mereka (umat Islam) tidak perlu lagi menambah ajaran Rasul selamanya, dan Allah pun telah membuat ajaran Islam itu sempurna. Jika Allah telah ridha, maka janganlah ada yang murka dengan ajaran Islam selamanya”.

  1. Islam sudah sesuai, dan paling sesuai dengan kehidupan saat ini

Sebagian orang, sampai saat ini, masih berusaha menyudutkan islam. Ada yang berpandangan bahwa ajaran islam tertinggal dari peradaban sehingga menjadi penyebab pemeluknya tidak siap menghadapi zaman modern. Mereka ini adalah orang-orang yang belum banyak belajar tentang islam kecuali melihat hal-hal kecil dari permukaannya saja, kemudian membuat kesimpulan dengan landasan kebencian. 

Allah telah menyanggah orang-orang seperti mereka. Jika dibandingkan dengan semua agama, maka agama yang terakhirlah yang paling mutakhir dan tercukupkan, yang paling mendekat peradaban akhir zaman dan kemajuan orang-orangnya. 

Orang tua mesti memahamkan kepada anak bahwa beberapa penyudutan terhadap islam bukan karena agama islam, tetapi oleh sebagian pemeluk islam yang kurang utuh dalam berislam. Yang bermasalah adalah orangnya, dan itu tidak banyak. Seorang muslim yang berprestasi, menjadi pelopor kemajuan dan memimpin peradaban jauh lebih banyak daripada mereka yang tertinggal. 

  1. Menjadi muslim adalah karunia Allah yang sangat besar

Allah mengatakan bahwa Dia telah mencukupkan nikmatNya. Itu bermakna bahwa Islam adalah nikmat paling besar yang pernah diberikan kepada hamba-Nya. Orang-orang yang mendapat hidayah untuk istiqamah dalam islam sesungguhnya telah meneguk kenikmatan yang amat besar. 

Terhadap nikmat Allah yang agung ini, sikap terbaik seorang hamba adalah bersyukur. Kepada anak, orang tua memberi contoh bersyukur atas nikmat keislaman dengan cara menjaga kemurnian islamnya, berbangga dengan agamanya, dan menyiarkan nilai islam kepada sesama. 

  1. Hanya islam

Allah menegaskan, bahwa hanya islamlah agama mendapat pengakuan dari-Nya. 

Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).

Setelah Nabi kita Muhammad SAW datang membawa islam, maka agama lainnya seluruh agama yang pernah sebelumnya tidak lagi berlaku. 

Mengenai hal ini, Allah berfirman, 

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran: 85)

Anak yang pikirannya telah beranjak aqil (transisi menuju masa dewasa) sudah mampu berpikir untuk menerima  kebenaran ayat Allah dan membedakannya dengan ajaran lain. Maka orang tua dengan sepenuh yakin harus menyampaikannya dengan lugas. 

  1. Bagimu agamamu, bagiku agamaku 

Kuatnya keyakinan terhadap islam adalah suatu kebutuhan, sekaligus keharusan. Orang tua telah mengkondisikan keyakinan ini sejak anak masih dalam kandungan,   dan terus menerus  menjaganya sampai anak tak lagi dapat dijumpainya. 

Meskipun pada anak tertanam penguatan keyakinan islam satu-satunya yang benar, sikap terhadap pemeluk keyakinan tetap harus terjaga. Justru salah satu bentuk keimanan islam yang sempurna adalah meyakini Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat yang menyerukan saling bertoleransi. 

Terhadap keyakinan orang lain yang berbeda, kita ajarkan kepada anak untuk menghargai dan memberi kebebasan mereka meyakini dan menjalankan kewajibannya. Tetapi terhadap keyakinan kita sendiri, kita pegang kuat-kuat dan tak seorang pun akan kita biarkan untuk mengubahnya. Seperti dalam Surah AL Kafirun, prinsip kita adalah “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”. 

 

[Yazid Subakti]

Agar Pertemanan tidak Berdampak Buruk

Agar Pertemanan tidak Berdampak Buruk

Parenting – Ketika anak menjalin pertemanan, yang paling dikhawatirkan adalah dampak buruknya. Anak jadi mengenal tren negatif maupun positif berasal dari kelompoknya. Ia jadi mengikuti gaya hidup yang saat ini sedang berkembang, sementara tidak semuanya baik untuk diikuti. 

Kontrol orang tua untuk mengatasi kekhawatiran ini adalah, 

Anda dapat mengajak anak membuat point-point mengenai batasan pertemanan. Bimbing anak untuk menulis sendiri beberapa hal yang perlu ia tentukan mengenai pertemanannya, misalnya kapan saja akan keluar rumah untuk berteman, berapa lama maksimal keluar rumah, jarak paling jauh, jenis aktivitas selama berinteraksi, dan sebagainya.      

  • Menciptakan nuansa rumah yang tak kalah hangat

pertemanan yang dekat dan menyenangkan dapat membuat anak merasa lebih bahagia dengan temannya daripada suasana rumah. Oleh karena itu suasana keluarga harus dikondisikan hangat dengan komunikasi terbuka, perhatian orang tua, dan penguasaan orang tua akan dunia anak yang selama ini ingin ia sampaikan.  

  • Mengingatkan masa depan 

Anak-anak memiliki cita-cita dan rencana masa depannya. Pertemanan boleh asalkan tidak mengganggu pencapaian cita-cita dan semangat berprestasi. Orang tua mengingatkan agar anak tetap fokus mengejar masa depan, bahkan bila perlu menyemangati teman-temannya untuk sama-sama berprestasi dan bersemangat mengejar masa depan.    

  • Mengikuti perkembangan 

pertemanan terjerumus dalam ha-ha buruk terjadi karena orang tua kurang mengetahui dunia anak yang sedang berkembang saat ini. Orang tua tidak memahami apa yang menjadi trend saat ini, apa topic pembicaraan yang paling banyak dibicarakan, atau apa yang menjadi obsesi anaknya saat ini. Padahal ini semua adalah adalah tema pembicaraan yang dicari dalam pertemanan, bahkan dicoba melakukannya. Oleh karenanya, menjaga anak dari pengaruh buruk  berarti mengikuti perkembangan yang terjadi pada dunia anak.  

  • Mengenali teman-temannya  

Ketika anak belum bisa membuka diri tentang dunianya kepada orang tua, maka cara yang paling mudah mengungkap keterangan tentang apa yang terjadi dalam pertemanan adalah dengan meminta penjelasan dari teman-temannya. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tahu anaknya berteman dengan siapa saja dan mengenali mereka. Kenali teman anak, bila perlu mengenal juga orang tua mereka dan saling bersilaturahmi.

  • Tidak semua obat alami adalah thibbun nabawi? 

Obat-obatan berbahan alami saat ini terkemas dengan sangat baik dan terjual dengan cara yang sangat modern. Untuk menarik minat konsumen, penjual kadang mengaitkannya dengan thibbun nabawi. 

Tidak semua obat alami adalah thibbun nabawi. Beberapa ciri thibbun nabawi antara lain, 

  • Bahan obat  memang benar-benar ada di zaman nabi atau sudah pernah ada pada masa-masa itu untuk digunakan
  • Nabi SAW pernah menggunakan jenis obat tersebut dan merasakan atau mengakui khasiatnya, terbukti dengan adanya hadits yang terpercaya.
  • Rasulullah menganjurkan penggunaan obat tersebut atau setuju para sahabat menggunakannya, terbukti dengan hadis atau atsar para sahabat. 
  • Rasulullah menyebutkan jenis bahan obat atau jenis bahannya pernah ada keutamaannya dalam Al Qur’an. 

Meskipun suatu herbal tidak memenuhi ketentuan ini, asalkan berbahan halal dan memiliki khasiat ia tetap boleh digunakan. Hanya saja tidak ada nilai sunnah dan tidak perlu menisbatkannya sebagai obat-obatan nabi.

 

[Yazid Subakti]

Pertemanan dan Persoalannya

Pertemanan dan Persoalannya

Pertemanan – Manusia memiliki kecenderungan berkumpul dengan sesamanya berdasarkan kesamaan kebutuhan, hobi, atau sifat-sifatnya. Anak-anak cenderung menjalin keakraban dengan anak seusianya, lebih-lebih jika memiliki ketertarikan akan hal yang sama.

Anak laki-laki penyuka sepeda akan berteman dengan sesama penyuka sepeda dan saling berbagi tentang pengalaman seputar dunia sepedanya itu. Anak perempuan penggemar novel juga memiliki kecenderungan berkumpul dengan sesama penyuka bacaan novel. Anak-anak penghafal Al-Qur’an juga cenderung merasa nyaman ketika berkumpul dengan sesama penghafal AL-Qur’an.   

Teman Sebaya (Peer Group)

Teman  sebaya adalah  kawan,  sahabat  atau  orang  yang  sama-sama  bekerja  atau  berbuat dengan rentang usia yang kira-kira seumuran. Terdiri atas anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat kematangan yang kurang lebih sama, saling  berinteraksi  dengan nyaman dan saling

mempengaruhi.Mereka   memiliki beberapa  kesamaan dalam minat atau kebutuhan,  pola  berpikir,  atau  hal  yang  lain yang menjadikannya cenderung bersama.

  • Ciri-ciri Teman sebaya

Pertemanan sebaya (peer group) agak berbeda dan mendapat perhatian khusus dibandingkan dengan bentuk pertemanan yang lain. Ciri pertemanan sebaya ini antara lain, 

  • terjadi interaksi  antar  anak seusia. Mereka saling menjalin hubungan dengan  teman-teman, mengadakan pertemuan, atau agenda tertentu dengan anggota yang kurang lebih tetap. 
  • Terdapat minat atau identitas yang salam dalam kelompok. Mereka sama-sama meminati sesuatu (misalnya hobi) yang selalu menjadi tema utama dalam perbincangan.  
  • terdapat peran sosial. Masing-masing pribadi dalam pertemanan sebaya saling menempatkan dirinya sesuai peran yang dapat mereka lakukan. Mereka berbagi atas apa yang mereka miliki dan menerima apa yang mereka butuhkan. 
  • terjadi proses saling memberi pengaruh. Sisi lain dari saling berbagi adalah mereka juga saling  mempengaruhi atau dipengaruhi oleh temannya. Mereka mungkin saja saling menilai dalam kelompok, dan bersaing  dengan kelompok lain.  
  • Manfaat pertemanan sebaya  

Pertemanan sebaya adalah kebutuhan sosial anak. Dalam pergaulannya itu, anak akan dipengaruhi atau mempengaruhi teman-temannya. Jika teman mempengaruhinya dengan kepribadian baik, maka anak menjadi ikut baik. Sebaliknya jika yang ditularkan adalah keburukan, maka Dalam satu kelompok perteman akan ada keburukan yang menjadi sifat atau kebiasaan bersama. 

Beberapa manfaat pertemanan sebaya ini antara lain, 

  • Menjadi sumber informasi seputar dunia anak yang paling mereka butuhkan atau minati. Karena mereka berkumpul atas kesamaan minat, maka saling tukar informasi biasanya lebih mereka percayai. 
  • Sebagai pilihan lain tempat saling memberi dan menerima di luar sistem keluarga. Di masa puber atau mendekati puber, mungkin saja anak memendam perasaan atau pikiran tertentu yang menurutnya tidak mungkin   disampaikan kepada anggota keluarga. kepada teman sebaya lah mereka akan menyampaikannya. 
  • Tempat berlatih pemecahan masalah dan mendapatkan pengetahuan. Banyak pengetahuan di luar berkembanng sangat cepat sedngkan orang tua atau anggota keluarga lain belum tentu mengetahuinya. Dalam pertemanan sebaya anak mempelajari pengetahuan baru dari temannya, tantangan dan cara mengatasinya bersama. 
  • Mengukur kemampuan dan identitas diri. Di keluarga, tidak ada orang yang sebaya dengan anak kita kecuali jika ia terlahir kembar. Maka, untuk mengukur kemampuan dan identitasnya, ia memerlukan teman sebaya agar dapat membandingkan apa yang ia miliki atau sejauh mana ia memiliki kemampuan  daripada teman-temannya. 
  • Tempat eksplorasi dan memperbanyak pengalaman bersama. Di pertemanan ini anak banyak berlatih kerjasama dan menemukan hal-hal yang selama ini belum pernah mereka ketahui. Ia akan mendapat banyak pengalaman baru dan pandangan yang lebih luas tentang dunianya.    
  • Peluang mudarat 

Tidak semua pertemanan sebaya mendatangkan kemudaratan atau kerugian. Tetapi bagaimanapun, pertemanan ini tetap mendatangkan peluang yang merugikan bagi anak. 

Anak bisa saja membuat pendapat  dari  kelompoknya  menjadi  tolak  ukur  kebenaran. Jika kontrol keluarga kurang baik, maka apa yang ia lakukan adalah apapun yang ada dalam pertemanan mereka. Ia lebih mempercayai kebenaran yang ia dapatkan dari temannya daripada kata-kata orang tua atau guru mereka. 

Menerima  umpan  balik  yang rendah mengenai  kemampuan  mereka. Setelah beberapa lama bergaul dengan teman sebaya, anak merasa bahwa kemampuannya selalu lebih rendah daripada teman-temannya, dalam banyak hal. Ia kemudian menyimpulkan bahwa dirinya memang pribadi yang tidak mampu, kemudian menarik diri setiap mendapat peluang untuk menjalin hubungan pertemanan. 

Norma pertemanan bertentangan dengan norma keluarga.

Pertemanan sebaya lama kelamaan akan menghasilkan norma baru yang hanya berlaku untuk kelompoknya. Akan ada kesepakatan-kesepakatan yang merupakan hasil kompromi mereka, tanpa sepengetahuan keluarga  masing-masing. Jika norma ini bertentangan dengan norma keluarga, anak akan berada pada dilemma yang berat antara meninggalkan pertemanan yang terlanjur intim atau menghadapi konflik dengan orang tua.  

Anak bisa lali atau lupa dengan pembiasaan baik yang telah mereka pegang sebelumnya. Ketika anak terlalu asyik berteman, sangat harmonis dan merasa telah menemukan orang-orang yang menurutnya paling sesuai untuk menjalin hubungan, ia bisa mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang umum berlaku pada pertemanan dengan meninggalkan kebiasaan lama. Parahnya, kebiasaan baru dalam kelompoknya belum tentu bersifat membangun dan baik bagi akhlak anak. Anak perempuan yang bertahun-tahun terbiasa menutup aurat bisa menjadi enggan karena melihat teman-temannya banyak yang tanpa merasa bersalah membuka aurat.   

Mengalami tekanan atas standar yang berbeda antara kebiasaan sebelumnya dan kebiasaan teman-teman barunya. ANak dari lingkungan keluarga sederhana yang mendapat pertemanan sebaya dari anak-anak keluarga bisa merasakan jurang perbedaan status sosial di antara mereka. Ia merasakan fasilitas rumah temannya yang lebih lengkap, kendaraan yang lebih mewah, uang yang lebih banyak, pakaian yang bagus, dan semua keunggulan teman-temannya. Bisa saja anak kemudian menyesali kehidupannya, bahkan menuntut orang tuanya untuk menjadi seperti orang tua teman-temannya.   

  • Pembagian status kawan sebaya

Para  ahli  perkembangan  menyatakan bahwa ketika anak berteman, mereka memiliki posisi yang tidak selalu sama dari waktu ke waktu, atau antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Ada pembedaan status atau posisi anak dalam pertemanan. 

Anak populer, yaitu pertemanan yang sering  kali  sebagai  kawan terbaik dan jarang tidak kawan-kawannya sukai. Anak  yang  populer  ini biasanya  memiliki kemampuan  kognitif yang  baik,  pandai memecahkan  masalah  sosial di lingkungannya. Ia  memiliki  sejumlah  keterampilan  sosial  yang membuatnya  disukai, bisa memberikan  penguatan,  mendengarkan  dengan  cermat,  dan berkomunikasi  secara  terbuka  dengan  kawan-kawannya. Anak popular ini juga lebih  menaruh  perhatian teman sebaya dan mampu mempertahankan hubungan baik. 

Anak rata-rata, yaitu anak yang  diterima dalam pertemanan dengan kondisi pada umumnya, dapat dipilih secara positif maupun negatif oleh kawan-kawannya tanpa ada kepribadian yang menonjol. Ia memiliki beberapa kelebihan tidak menonjol sehingga tidak dapat terlalu diandalkan oleh temannya tetapi masih dalam batas bisa diterima, juga memiliki beberapa kelemahan atau kekurangan tidak menonjol sehingga sebagian temannya tidak sampai membencinya. Di waktu tertentu ia bisa diterima, pada situasi tertentu ia renggang tetapi tidak disingkirkan  dari hubungan.

Sebagian besar anak berada dalam posisi pertemanan seperti ini.  

Anak yang diabaikan, yaitu anak  yang keberadaannya dalam pertemanan jarang dipilih sebagai kawan terbaik dan secara tidak disukai oleh kawan-kawannya. Ia kurang menguntungkan bagi teman-temannya, kurang membawa pengaruh baik pertemanan,  atau kehadirannya kurang berarti. Anak seperti ini memiliki keterbatasan bergaul atau kurang dapat menempatkan diri pada kelompok pertemanan, kurang aktif menjalin hubungan atau memang berkepribadian tertutup sehingga teman-temannya tidak terlalu merasa harus dekat dengannya. Di satu sisi ia ingin masuk kelompok pertemanan, tetapi di sisi lain ia kurang memiliki keterampilan komunikasi dan menjalin hubungan.   

Anak  kontroversial, yaitu anak  yang kehadirannya dapat menjadi kawan  terbaik  seseorang  sedangkan  kawan-kawan lain tidak menyukainya. Ia mungkin memiliki kemampuan tertentu yang menonjol dan menjadikannya sebagai teman, sementara kepribadian lainnya juga membuat teman-teman lain terganggu. Ia hangat dan bersedia bekerja sama pada beberapa orang tertentu, tetapi agresif atau menjadi pemicu konflik bagi teman-teman lainnya.

  • Berbagai bentuk pertemanan sebaya 

Masuknya seorang anak  dalam  sebuah  status  pertemanan  sebaya  terpengaruhi  oleh  kepribadiannya masing-masing.  Anak yang terbuka,  menutup  diri,  agresif, pasif, atau  pandai menempatkan diri agar mendapat penerimaan dalam  kelompoknya. 

Ketika mereka berkelompok, akan terbentuk beberapa tipe pengelompokan yang terdiri atas orang-orang dari luar lingkungan keluarga atau pertetanggaan. 

Menurut Santrock (2003:2007),  bentuk-bentuk kelompok pertemanan sebaya ini meliputi, 

  • Persahabatan  Individual,  yaitu sekumpulan  teman-teman sebaya  yang  bersedia hadir dalam  kebersamaan,  saling  mendukung,  dan  memiliki  hubungan yang  akrab dengan jumlah anggota sangat terbatas, misalnya dua orang. Mereka sangat intim dan dekat, tetapi hanya berdua saja. 
  • Klik (kelompok  kecil),  yaitu kelompok  pertemanan dalam grup kecil  yang  jumlah anggotanya paling banyak dua  belasan individu, atau rata-rata lima hingga enam individu yang terdiri dari jenis kelamin dan umur yang sama.
  • Crowds (kerumunan),  yaitu pertemanan sebaya yang  ukurannya lebih  besar  dari  klik dan kurang bersifat personal karena jumlah anggotanya sangat banyak. Antar anggota kelompok biasanya tidak menjadi teman yang akrab, kurang kompak dan tema pembicaraan lebih bervariasi atau membicarakan hal-hal yang sifatnya umum. 

 

[Yazid Subakti]

Menyadarkan Konsekuensi atas Kesalahan

Menyadarkan Konsekuensi atas Kesalahan

Parenting – Menyadarkan konsekuensi atas kesalahan. Sampai saat ini, manusia tetaplah makhluk yang penuh kesalahan, bahkan tempat salah dan lupa.

  1. Setiap manusia melakukan kesalahan 

Jangankan manusia biasa, seorang Nabi pun melakukan kesalahan. Nabi Adam ketika masih hidup di surga melakukan kesalahan dengan melanggar aturan Allah. Allah telah mengingatkan agar Nabi Adam tidak mendekati satu pohon di sana, tetapi Nabi Adam memetik buah dari pohon itu dan memakannya atas hasutan Iblis yang tak pernah berhenti merayunya. 

Kita sebagai orang tua pasti pernah melakukan kesalahan, baik kesalahan umum sebagai seorang manusia maupun kesalahan dalam hubungan dengan peran sebagai orang tua. Menyadari hal ini, kita pun dapat memahami bahwa anak juga manusia biasa yang suatu saat akan melakukan kesalahan. Kita tidak bisa mengharap anak kita terus menerus berbuat benar, berkata benar, bersikap baik dan membanggakan orang tuanya. Ia adalah anak turun kita, yang suatu saat akan pernah melakukan  kesalahan sebagaimana orang tuanya dan manusia-manusia yang lain.

  1. Sikap ketika bersalah 

Yang paling penting dari perbuatan salah adalah sikap setelah perbuatan salah itu terjadi.  Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, yang ia lakukan adalah menyadari kesalahannya kemudian bertaubat memohon ampun kepada Allah. Selanjutnya, ia tetap bersedia menerima konsekuensi dari kesalahannya itu, yaitu turun ke bumi dengan kewajiban tetap taat beribadah kepada Allah

Sikap manusia ketika bersalah adalah mengakui kesalahannya, bukan menutupi atau bertahan dalam perasaan tidak bersalah dengan mengemukakan berbagai alasan pembelaan diri. Setelah pengakuan, sikap paling baik adalah bertaubat, yaitu kesediaan untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu dalam kondisi apapun sampai waktu kapanpun. Taubat ini beriring dengan sikap besar hati menerima hukuman atau akibat dari perbuatannya. Hukuman ini tidak mengurangi ketaatan atau menurunnya semangat untuk tetap berbuat baik. 

Biasakan anak berani mengakui  kesalahannya, dan berbesar hati menerima konsekuensi atas perbuatannya. Orang tualah yang mengawali memberi contoh pengakuan kesalahan ketika bersalah dan meminta maaf.    

  1. Kesalahan mengandung konsekuensi

Jangan membiarkan anak berbuat salah. Pembiaran terhadap perbuatan salah dapat mengakibatkan anak beranggapan bahwa perbuatannya itu memang boleh, atau ia menganggap bahwa perbuatan salah adalah kebolehan yang wajar. 

Secara bertahap, perbaiki kesalahan anak dengan, 

  • Meluruskan kesalahannya secara langsung jika memungkinkan, atau menunda beberapa saat untuk menemukan suasana yang paling tepat. Mengoreksi kesalahan pada saat anak tidak siap (misalnya sedang marah) biasanya tidak banyak berpengaruh mengubah sikap anak. Ia dalam keadaan emosi sehingga kurang dapat memahami apa yang anda sampaikan. 
  • Memberi peringatan atau nasehat. Anda mengingatkan bahwa perbuatannya salah, menunjukkan letak kesalahannya dan memintanya untuk tidak mengulanginya. Hindari menasehati atau memperingatkan anak di depan teman-teman atau banyak orang  untuk tetap menjaga harga dirinya. Bagi anak, mendapat peringatan atau nasehat di hadapan banyak orang dapat bermakna mempermalukannya. Ia akan jatuh harga dirinya, tertekan, dan boleh jadi semakin tidak mempercayai dengan Anda.
  • memberi hukuman atau sanksi. Jika beberapa kali peringatan tidak membuat anak berubah dan sadar, maka tidak ada larangan orang tua memberi sanksi kepada anaknya. Rasulullah membolehkan orang tua untuk memukul anaknya jika pada usia 10 tahun belum mau mengerjakan salat. 

Hukuman atau sanksi berdasarkan tingkat kesalahan dan kondisi anak. 

  • Dapat berupa pengurangan hak anak, misalnya mengurangi uang jajan atau fasilitas hariannya yang tidak vital (misalnya larangan menonton Televisi, larangan bermain di luar rumah, dan sebagainya). 
  • Hukuman berupa penambahan tugas rumah, misalnya tugas harian yan semua hanya menyapu halaman setiap pagi dan dengan mencuci karpet di akhir pekan.
  • Hukuman berupa tindakan fisik, misalnya memukul di bagian tubuh yang tidak membahayakan, jika bentuk pelanggarannya adalah kemaksiatan atau melanggar aturan agama. 

Tidak menjadi anjuran orang tua menghukum anak dengan luapan kemarahan seperti menghardik atau membentak, mengusir dari rumah, atau menelantarkannya. Semua perbuatan ini dapat bernilai dosa dan merupakan pengingkaran dari amanah Allah. 

  1. Selidiki dulu dan dengarkan penjelasan anak

Saat anak melakukan kesalahan, sebagian orang tua langsung memberi hukuman tanpa melalui proses penyelidikan dan mendengar alasan anaknya. 

Memberi alasan atas perbuatan salah adalah hak setiap anak, asal bukan pembelaan untuk tetap mempertahankan kesalahannya agar dimaklumi. Kuatkan bukti bahwa anak bersalah kemudian dengarkan penjelasan dari anak seputar kronologi dan alasan yang melatarbelakangi perbuatan salah itu terjadi. Ini penting bagi orang tua untuk menilai kadar kesalahan dan menentukan tindakan apa yang harus diperbuat kepadanya. Jangan sampai orang tua mendengar anaknya berkelahi di sekolah, kemudian anak langsung mendapat hukuman begitu sampai rumah. Anak yang berkelahi dengan teman sekolah karena sebelumnya disakiti (dibully) adalah bentuk pembelaan diri atas kehormatannya. Membela kehormatan diri ketika disakiti itu bukan kesalahan. 

Kesalahan menghukum dapat terhindarkan jika orang tua bersedia dengan sabar mendengarkan keterangan dari anak mengenai kesalahan yang ia lakukan. 

  1. Tegas tanpa amarah

Banyak orang tua terjebak memberi hukuman sambil meluapkan amarah. Hukuman yang diberlakukan tidak seberapa, tetapi amarah yang dilepaskan berlebihan sehingga anak merasa dimusuhi atau tidak lagi dicintai. Amarah berupa sikap kasar, bentakan, makian, atau omelan yang menyudutkan lebih sakit dirasakan oleh anak, sementara hukuman yang diberlakukan pada saat itu menjadi semakin hambar karena anak menjadi antipati terhadap orang tuanya. Dampaknya, anak bisa menaruh kebencian, ketakutan, dan ingin menjauh dari orang tuanya. Bagaimana mungkin Anda mendidik anak kalau ia membenci, takut dan menjauh? 

Tegas mendidik berarti memberlakukan aturan, pendisiplinan, atau menegakkan hukuman dengan penuh kepastian. Pernyataan hukuman diucapkan dengan nada datar biasa, tetapi eksekusinya benar-benar dilakukan. Sikap ini akan disimpulkan oleh anak sebagai kesungguhan, bahwa orang tua tidak main-main ketika memberlakukan peraturan atau mengambil keputusan. 

  1. Istiqamah 

Salah satu sikap orang tua yang menjadikannya kurang berwibawa di hadapan anak adalah tidak adanya sikap istiqamah. Yaitu orang tua yang pada suatu hari menetapkan aturan, tetapi di hari yang ain mengubahnya sendiri dengan alasan yang sulit dipahami kebenarannya. Misalnya anda menetapkan peraturan larangan jajan di warung. Pada suatu hari ketika anda merasa malas menyediakan makanan di rumah   tiba-tiba larangan itu jadi boleh. 

Istiqamah berarti teguh dalam pendirian atau pandangan, selama tidak ada alasan syar’I yang membolehkannya untuk mengubah. Istiqamah dalam tilawah pagi berarti akan terus melakukannya selama tidak ada kebutuhan mendesak yang mengubahnya. Sikap ini akan dinilai oleh anak dan menjadi catatan tersendiri bahwa orang tuanya memang layak untuk dicontoh. 

  1. Sesuai kondisi anak dan kadar kesalahannya 

Satu jenis hukuman tidak berlaku untuk anak semua umur, semua kondisi dan semua jenis kesalahan. Orang tua menghukum anak dengan mempertimbangkan usia anak. Anak-anak yang dengan sengaja meninggalkan salat pada usia sebelum 10 tahun belum saatnya mendapat hukuman dengan pukulan di badannya.  Anak-anak sudah akil baligh tetapi belum istiqamah salat wajibnya juga tidak hanya dengan memberi nasihat. Anak perempuan tidak boleh mendapat hukuman fisik misalnya dengan menyuruhnya melakukan pekerjaan mengangkat benda-benda berat. Anak yang sedang sakit kemudian melakukan kesalahan tidak selayaknya mendapat hukuman, karena hukuman akan semakin memperparah sakitnya.  

Semua hukuman harus proporsional sesuai jenis kelamin, keadaan anak, jenis pelanggaran dan kadar kesalahannya. Jangan sampai anak melakukan kesalahan ringan tetapi mendapat hukuman berat. Atau jangan juga anak melakukan pelanggaran berat tetapi mendapat hukuman terlalu ringan yang tak membuatnya sadar. 

  1. Tetap jelaskan maksud hukuman 

Menghukum anak yang mendidik adalah dengan menjelaskan kepadanya alasan mengapa ia mendapat hukuman dengan jenis hukuman tersebut. Cobalah untuk menjelaskannya dengan ekspresi biasa tanpa menampakkan kebencian atau kemarahan. 

Jelaskan jenis hukumannya dengan rinci, batas melakukannya, sampai kapan melakukannya, dan apa yang anda harapkan pada anak dengan hukuman tersebut. Jangan lupa tetap mengingatkan agar ia tidak mengulangi kesalahannya, segera memperbaiki diri, dan  ungkapkan bahwa anda tetap menyayanginya.

 

[Yazid Subakti]

Menanamkan Disiplin Dimulai dari Aturan

Menanamkan Disiplin Dimulai dari Aturan

Parenting – Hidup ini menjadi harmonis karena aturan-aturan, dimulai dari Aturan. Ada aturan tak tertulis seperti norma dan kebiasaan, juga ada aturan tertulis seperti tata tertib dan undang-undang. Anak harus paham bahwa setiap aturan ada agar manusia tertata hidupnya, terlindungi hak-haknya dan terjamin keharmonisannya. 

Di rumah ada ketentuan yang disepakati bersama, ada kebiasaan yang harus sama-sama dilakukan, ada hal-hal yang harus dihindari, dan ada rahasia yang harus dijaga.  Meskipun beberapa hal di luar tidak lazim dilakukan di luar rumah, ini adalah aturan rumah yang harus ditaati bersama. Sebab, kondisi dan apa yang dibutuhkan di dalam satu rumah (sekeluarga) tidak selalu sama dengan kondisi atau kebutuhan pada umumnya orang-orang di luar rumah. Mungkin keluarga anda memberlakukan batas kebolehan keluar rumah adalah sampai maghrib tiba. Ini adalah aturan keluarga, yang anda ciptakan dengan pertimbangan tertentu dan  tidak terjadi pada keluarga lain.

  • Aturan kelompok 

Di sekolah, di lingkungan bermain, atau komunitas tertentu, selalu ada aturan yang berlaku. Aturan tertulis berlaku dalam bentuk tata tertib dengan ancaman sanksi bila siswa melanggarnya. Di lingkungan bermain atau komunitas tertentu ada kesepakatan-kesepakatan dengan risiko tertentu jika seseorang melanggarnya. Anak harus sadar bahwa mentaati aturan ini penting tidak semata untuk menghindari hukuman, melainkan untuk menjaga keharmonisan bersama dan memberi hak kepada sesama untuk hidup tertib.  

  • Aturan di masyarakat

Di masyarakat selalu ada aturan tak tertulis yang bernama adat. 

Selain adat, pada masyarakat di tingkat terkecil pun (misalnya Rukun tetangga atau RT) juga ada aturan tertulis yang menganjurkan atau melarang warganya untuk melakukan aktivitas tertentu. Anak harus paham jika di lingkungannya ada larangan bermain layang-layang karena banyak kawat listrik, maka ia harus mematuhinya. Mungkin ada adat setiap hari atau tanggal tertentu saling berbagi makanan, setiap bertemu orang yang lebih tua harus saling berjabat tangan, setiap hujan turun deras laki-laki keluar rumah membetulkan genangan air bersama, atau lainnya. 

  • Aturan Negara  

Negara memiliki peraturan yang tidak boleh melanggarnya. Naik sepeda motor harus mengenakan helm dan pengendaranya harus memiliki izin mengemudi. Setiap pendirian bangunan harus mendapatkan izin mendirikan bangunan, setiap warga harus tercatat kependudukannya, dan setiap perbuatan melanggar hukum ada hukumannya. 

Semua aturan untuk melindungi semua warga negara. Kenalkan anak dengan peraturan Negara untuk menumbuhkan perasaan bernegara, jiwa nasionalisme dan semangat berbangsa. Ia harus menyadari sejak dini bahwa kehidupan bersama akan selalu terikat dengan aturan-aturan. Di semua, aturan akan selalu ada sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan warga negaranya. 

 

[Yazid Subakti]

Kesalihan Menghendaki Kedisiplinan

Kesalihan Menghendaki Kedisiplinan

Parenting – Kedisiplinan adalah bagian dari karakter yang terbentuk melalui pembiasaan-pembiasaan dalam waktu lama. Jika tidak terbiasa mulai saat ini, anak menjadi tidak terbiasa berdisiplin dan kelak ketika dewasa rentan tumbuh menjadi pribadi yang tertekan oleh aturan, memberontak, dan kurang bertanggung jawab terhadapnya. Banyak orang berbuat kriminal berawal dari ketidaksiapannya untuk berdisiplin, kemudian melanggar undang-undang.

Kesalihan menuntut anak rajin beribadah dengan cara yang benar, menuntut ilmu tanpa mengenal lelah, berjihad tanpa pernah menyerah, berbakti kepada orang tua tanpa pernah durhaka, dan berbuat baik terus menerus. Yang membuat ini semua akan berlangsung adalah kebiasaan disiplin. Sebab ibadah terkait penggunaan waktu yang harus tepat, menuntut ilmu berhubungan dengan kegiatan belajar yang dan jadwal yang ketat, berjihad memerlukan semangat dan kesungguhan, berbakti kepada orang tua memerlukan pengorbanan yang utuh, dan berbuat baik kepada sesama menuntut kesabaran dan tanggungjawab.  

Anak-anak sulit menemukan jati diri salihnya ketika berlatih disiplin saja sudah gagal. Anda dapat mengenalkan latihan disiplin mulai dari hal-hal paling sederhana menyangkut kebutuhan sehari-harinya, misalnya jadwal bangun dan tidur, pembagian waktu untuk belajar dan hobi, jatah istirahat dan waktu bermain, dan pemberlakuan aturan-aturan sederhana di rumah. 

  • Disiplin ibadah

Tak ada yang lebih penting dari ketaatan kepada Allah, yang salah satu wujud nyatanya terbukti dengan ibadah. Disiplin yang paling utama yang wajib diterapkan pada anak adalah disiplin mengerjakan ibadah, terutama shalat lima waktu. Ajak anak (bukan sekedar memerintahnya) untuk tepat waktu dalam solat, benar pakaiannya sebagai pakaian shalat, dan menyiapkan keperluan salatnya secara mandiri. Anda mendampingi, tetapi keperluan salatnya adalah tanggungjawabnya sendiri.

Sampaikan bahwa shalat merupakan tiang agama, maka gagalnya menegakkan shalat (kurang disiplin, kurang serius, dan sebagainya) adalah pertanda buruknya beragama. Artinya, ketidaksungguhan dalam shalat bukan pertanda anak salih. 

Dan dan sebagai orang tua, lagi-lagi harus menjadi contoh penegak shalat yang disiplin. 

  • Disiplin menuntut ilmu

Usia mulai 7 tahun ke atas adalah usia sekolah. Ini memang masa-masa anak harus bersekolah. Jika tidak, anak harus berada pada majelis ilmu yang sehari-harinya melakukan kegiatan pembelajaran (misalnya pesantren atau ma’had), tempat pelatihan-pelatihan, atau pembelajaran di rumah dengan mendatangkan guru (misalnya homeschooling).  

Biasakan anak untuk berangkat sekolah atau menepati jadwal pembelajarannya dengan tepat waktu. Sampaikan bahwa keterlambatan akan mengurangi waktu belajar dan menyebabkan nuansa belajar menjadi tidak nyaman karena berawal dengan kesalahan pelanggaran tata tertib. 

Untuk mendisiplinkannya, dapat membimbing anak mulai dari pembiasaan bangun pagi, mandi, dan penyiapan kebutuhan sekolahnya. Anda membimbing, dan memotivasi, tidak harus membantu melakukannya. 

  • Disiplin belajar dan berlatih

Sepulang dari sekolah, anak-anak memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari kembali apa yang ia pelajari di sekolah, dan menyiapkan apa yang akan ia pelajari esok harinya. Beberapa keterampilan perlu melatihnya berulang-ulang agar benar-benar menguasai, dan beberapa percobaan perlu mempraktikkan di rumah selama memungkinkan. Orang tua hadir sebagai sahabat sekaligus pembimbing yang nyaman bagi kegiatan ini semua. Pada anak yang semakin mendekati puber, biasanya mereka tidak terlalu suka digurui.   

Kegiatan belajar di rumah dan berlatih seperti ini adalah  kebiasaan baik meskipun tidak harus mengambil porsi waktu yang lama. Maksudnya, anak tidak harus berlama-lama belajar di rumah sampai-sampai melupakan aktivitas lain yang tak kalah bermanfaat. Anak tetap diberi kesempatan bergaul dengan teman-temannya, beristirahat, bahkan berhibur dengan hiburan yang aman. 

  • Disiplin merawat badan 

Pada akhirnya, badan anak adalah tanggung jawab dia sendiri untuk merawatnya. Jika pada masa balita ia dikenalkan nama organ tubuh dan fungsinya, pada pada masa-masa di atas tujuh tahun ia sudah harus mulai bertanggung jawab atas organ tubuhnya sendiri. 

  • Mandi secara teratur, pada pagi hari dan sore hari meskipun tidak sedang melakukan aktivitas berat atau bepergian. Selain membersihkan badan, mandi adalah terapi air untuk mempertahankan kesegaran dan kelembaban tubuh. Keramas setiap dua hari atau tiga hari sekali saat aktivitas normal, atau bisa setiap hari sekali jika melakukan aktivitas berat yang banyak keringat atau debu menempel di kepala.   
  • Menggosok gigi secara teratur setiap pagi dan malam menjelang tidur, ditambah setiap kali usai makan terutama makanan yang berlemak atau berbau menyengat dan rasa yang tajam. 
  • Mengenakan pakaian dengan pakaian yang bersih (termasuk pakaian dalam), berganti pakaian sesuai aktivitas dan peruntukannya. Pakaian selalu rapi dan dikenakan dengan pantas. 
  • Menyisir rambut dan merapikannya (bercukur) serta memotong kuku sebelum kukunya tumbuh panjang. 
  • Disiplin bermain

Pada usia menjelang akil baligh, anak masih menghabiskan sisa-sisa kegemarannya untuk bermain. Ini adalah kebiasaan lama saat kanak-kanak yang tidak harus dihapuskan sama sekali. Selama permainannya itu tidak membahayakan atau membuatnya lalai, orang tua tak perlu melarangnya. 

Yang harus orang tua lakukan adalah mengingatkan atau membimbing agar ia mulai disiplin dalam bermain. Jadi, dalam bermain mulai ada jatah waktu yang  dibatasi. Ketika jatah ini sudah dihabiskan, maka waktu berikutnya bukan lagi untuk bermain. 

Anda dapat mendisiplinkan anak untuk bermain sesuai waktu yang ia rencanakan, dengan lama waktu yang sudah disepakati. Jenis mainan, lokasi tempat bermain dan teman-teman sepermainan sangat penting untuk diketahui oleh orang tua. 

  • Disiplin istirahat

Tubuh memerlukan istirahat cukup agar energy yang dibentuk dari makanan terpulihkan kembali. Selain itu, jiwa anak juga memerlukan saat-saat ia tenang dan nyaman tanpa tekanan atau berpikir apapun. 

Anak harus memiliki waktu istirahat yang cukup setiap hari. Istirahat yang paling optimal adalah tidur. Usahakan ia tidur diawal malam tidak lama setelah shalat isya, dan bangun pagi-pagi untuk berjamaah shalat subuh. Tidur dengan cara seperti ini lebih menyehatkan badan dan menyegarkan pikiran daripada tidur larut malam dengan bangun yang kesiangan. 

Untuk mengkondisikan istirahat anak yang disiplin, mengganggu istirahat seperti televisi atau acara lain yang menggoda harus ditiadakan. Tidak ada larangan menonton TV atau berhibur, tetapi kebolehan ini harus dengan batas yang tegas. 

  • Disiplin makan

Makan yang tidak disiplin dapat memicu masalah pencernaan, yaitu munculnya asam lambung yang berlebihan. Akibat berikutnya adalah penyerapan gizi dan buang air besarnya juga bisa terganggu. Berawal dari kebiasaan makan yang tidak disiplin, tubuh menjadi berisiko tidak sehat. 

Makan yang normal adalah sehari tiga kali. Pastikan anak mendapat sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Sarapan dapat meningkatkan kinerja otak dan stamina tubuh selama masa-masa belajar di sekolah. Siang hari anak harus mendapat makan siang dengan porsi yang lebih besar daripada sarapan, dan malam hari atau menjelang malam mendapat makan malam.  Berhubung usia anak saat ini sudah sampai pada masa-masa belajar mandiri, ia seharusnya mengambil makan dan  mengatur waktu makannya sendiri tanpa orang tua. Anda hanya sesekali mengingatkan dan memotivasi bila suatu saat ia lalai. 

Makan secara teratur memudahkan orang tua memantau kesehatan anak sehari-harinya. Di hari tertentu ketika anak menampakkan ketidakteraturan makan, misalnya tidak bernafsu atau enggan ke meja makan, orang tua dengan mudah mencarinya sebagai salah satu tanda anak sedang kurang sehat. Anda dapat mendekatinya untuk memeriksa suhu tubuh dan lain-lain yang kemungkinan besar menampakkan gejala sakit. 

  • Disiplin olahraga

Olahraga penting bagi anak untuk menjaga kebugaran tubuh dan kesegaran pikiran. Olahraga apapun baik bagi anak asal tidak membahayakan. Pada prinsipnya, berolahraga adalah kegiatan apapun yang menggerak-gerakkan tubuhnya. Dengan cara ini, otot-otot terlatih mengalami kelenturan, tulang terbantu mengalami pembentukan, dan aliran darah menjadi lancar. 

Keadaan ini memungkinkan aliran Oksigen berjalan lancar ke seluruh bagian tubuh, terutama otak dan organ-organ vital. Inilah yang menjadikan tubuh sehat, karena organ-organ dapat berfungsi dengan optimal  dan berbagai kuman tidak bertahan lama. Pikiran menjadi segar karena metabolisme dalam tubuh  berjalan baik dan tidak ada keluhan sakit. 

Olah raga memang memerlukan niat dan dorongan semangat. Karena keasyikan tertentu, beberapa anak malas keluar rumah atau menggerakkan badan untuk berolahraga. Disiplin berolahraga berarti melakukan olahraga secara terjadwal, meskipun fleksibel, karena menganggap penting dan merasa butuh.    

  • Disiplin membantu orang tua

Orang tua tidak selayaknya menuntut anak-anak untuk membantu pekerjaannya. Anda tidak sepenuhnya memaksa anak untuk membantu pekerjaan untuk meringankan beban anda sebagai orang tua. Namun demikian, anak perlu melatih mengenali tugas kerumahtanggaan yang biasa oleh orang Tuanya. Ia perlu merasakan dengan terlibat langsung sebagai aktivitas orang tua sebagai pembiasaan agar kelak tidak merasa asing ketika harus menjalani kehidupan berumah tangga. 

Berikan bagian tertentu pekerjaan rumah tangga yang memungkinkan oleh anak sesuai usianya. Mengepel lantai setiap pagi, mencuci piring, menyajikan makanan, membersihkan kendaraan, adalah pekerjaan yang bisa bersama anak atau bahkan mewakilkan sepenuhnya kepadanya.

Selain menjadi terbiasa dan terampil mengerjakannya, anak menjadi paham akan tanggung jawab dan terbiasa membagi waktu yang sempit dengan berbagai aktivitas.

 

[Yazid Subakti]

Mencukupkan masa bermain, mengalihkan masa pencarian ilmu

Mencukupkan masa bermain, mengalihkan masa pencarian ilmu

Masa pencarian ilmu – Masa-masa bermain di usia ini masih sangat diminati anak. Anak laki-laki masih suka memainkan mobil-mobilan atau robot-robotnya. Anak perempuan masih menginginkan boneka dan bermain masak-masakan bersama teman-temannya. Di sekolah, mereka masih akan bermain kejar-kejaran dan aneka permainan lain dengan asyik. 

Apakah masih pantas?

Sebenarnya tidak ada buruknya anak bermain di masa ini. Ia masih harus mencukupkan masa-masa bersenang dan bersuka cita atas permainan ala kanak-kanaknya itu. 

Menjelang akhir masa sekolah dasar, kegemaran bermain akan segera berkurang dengan sendirinya. Anak memiliki fokus pada pelajaran sekolah dan mempersiapkan masa-masa yang ia anggap berat menjelang ujian akhir sekolah atau kelulusan. 

  1. Mengalihkan anak pada kesenangan menuntut ilmu dan belajar menguasai keterampilan

Ketika anak masih dalam masa-masa keasyikan bermain, anda dapat mulai mengalihkan perhatiannya pada kecintaan menuntut ilmu. Ia harus mengenal ilmu aqidah dan akhlak, memahami fiqih mengenai hukum ibadah dan tata cara melakukannya, dan ilmu tentang mengenali dirinya sendiri.  

Mulailah mengajak banyak membaca, mengikuti kajian-kajian atau taklim khusus anak dan pelatihan-pelatihan yang memang diperuntukkan bagi anak. Pelatihan memotivasi diri, atau pelatihan yang meningkatkan keterampilan sehari-hari berkaitan dengan hobi adalah penting untuk memperbaiki citra dirinya dan kemahiran dalam bidang yang ia sukai. Jika ia berminat dalam ajang prestasi, misalnya suka mengikuti perlombaan, melatihnya untuk menjadi optimal dalam bidang lomba yang ia sukai adalah sangat baik. 

Yang perlu dipahami oleh orang tua pada saat ini adalah membedakan mana di antara keinginan orang tua dan kebutuhan anak, mana yang termasuk penggalian bakat anak dan eksploitasi, serta kejelian mengukur kemampuan anak berlatih dalam batas-batas ia tetap merasa bahagia. Maksudnya, jangan sampai anak mempelajari sesuatu hanya karena ingin menyenangkan orang tuanya atau bahkan tertekan atas paksaan orang tuanya, jangan sampai prestasi anak ia dapatkan dengan perasaan dipaksa, dan jangan sampai ia mengikuti berbagai latihan atau menghadiri majelis ilmu hanya sekedar takut dimarahi orang tuanya.  

  1. Mumpung masih belum dewasa

Tidak ada satupun agama yang kitab suci dan nabinya menyerukan menuntut ilmu mulai dari masa anak-anak seperti dalam Islam. Islam menjadikan seorang muslim memiliki semangat yang sangat tinggi untuk belajar dan mengajar. Menuntut ilmu dianjurkan bahkan mulai saat bayi dalam gendongan sampai tepat sebelum masuk liang lahat. Menuntut ilmu dihukumi wajib, yang oleh karenanya akan berdosa jika seseorang menolak untuk menuntut ilmu, sama-sama wajibnya baik bagi laki-laki maupun perempuan. Inilah islam, dan anak kita seorang muslim.

Orang yang mempelajari ilmu pada waktu kecil diibaratkan seperti memahat batu, sedangkan perumpamaan mempelajari ilmu ketika dewasa seperti menulis di atas air. (HR ath-Thabrani dari Abu Darda’).

Maksudnya, masa anak-anak merupakan masa yang paling subur untuk melakukan pembinaan keilmuan dan membentuk pemikiran. Pada masa ini daya serap otak mereka berada pada kemampuan yang sangat baik. Mereka lebih mudah menghafal terhadap apa yang mereka dengar, mudah mengingat terhadap apa yang mereka lihat. 

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang mempelajari al-Quran ketika masih muda, maka al-Quran itu akan menyatu dengan daging dan darahnya. Siapa yang mempelajarinya ketika dewasa, sedangkan ilmu itu akan lepas darinya dan tidak melekat pada dirinya, maka ia mendapatkan pahala dua kali. (HR al-Baihaqi, ad-Dailami, dan al-Hakim).

  1. Terus menerus menyemangati dan membersamai

  • Sampaikan bahwa menuntut ilmu adalah perintah Allah Swt

Sampaikan kepada anak bahwa manusia menuntut ilmu disebabkan Allah memerintahkan demikian. Artinya, jika kita menuntut ilmu, berarti telah menaati Allah yang oleh karenanya mendapat kasih sayang dan pahala dari-Nya. Dengan demikian, kemalasan menuntut ilmu adalah salah satu tanda kemasalan memenuhi perintah Allah yang dikhawatirkan mendatangkan kemurkaan Allah dan dosa.  

  • Sampaikan kita membutuhkan  ilmu 

Manusia membutuhkan sejak pertama kali lahir ke dunia sampai menjelang ajalnya. Anak memerlukan ilmu tentang cara berbicara pada awal kehidupannya, belajar berjalan, membaca dan menulis, berhitung, sampai ilmu yang jauh lebih tinggi lai untuk berbagai kebutuhan di masa depan. Semua itu mulai sejak saat ini dan akan terus berjalan sampai waktu yang tidak kita ketahui. 

  • ilmu meningkatkan derajat manusia 

Anak perlu meyakini bahwa derajat manusia dilihat keimanan dan ketinggian ilmunya. Ini jaminan dari Allah yang tak pernah salah. 

Pada profesi atau pekerjaan yang sama, orang yang ilmunya lebih tinggi akan mendapat kedudukan lebih tinggi dan lebih terpercaya. Ia lebih menguasai dan lebih ahli sehingga berkemungkinan lebih berkembang menuju puncak kemuliaannya. Sama-sama bertani, petani yang bercocok tanam tanpa ilmu akan kalah derajatnya dengan sarjana pertanian yang telah melakukan banyak penelitian. Sama-sama mendirikan bangunan, tukang bangunan yang bekerja hanya berdasarkan pengalaman akan kalah derajat dengan arsitek yang memiliki banyak teknik dan dukungan. 

  • Jangan lupa meyakinkan Al Quran sebagai sumber ilmu utama       

Al Qur’an adalah sumber utama kebenaran sebelum sumber-sumber yang lain. Semua yang benar menurut al-Quran adalah benar. APa yang diperintahkan dalam Al Quran adalah kehendak Allah, dan larangan-larangan di dalamnya adalah larangan Allah. 

Memasuki masa remaja, anak akan lebih kritis ketika mengetahui beberapa arti ayat AL-Qur’an. Orang tua berperan sebagai pendamping untuk menjelaskan, atau mengirim anak kepada guru, agar jiwa kritis terhadap beberapa ayat tidak membuatnya semakin ragu. Misi anda adalah meyakinkan bahwa dalam kitab Allah   tidak ada keraguan jika terdapat beberapa yang seolah tidak masuk akal, itu karena akal manusia  memang sangat terbatas memahaminya. 

  • Pilihkan guru dan sekolah

Saat berada di rumah, anak berteladan kan orang tuanya. Saat berada di sekolah, anak akan meneladani gurunya. Guru akan menjadi cermin yang anak-anak lihat. kata-kata dan sikapnya akan membekas di dalam jiwa dan pikiran mereka. Bahkan, bisa jadi apa yang ada pada guru lebih mudah anak-anak tiru. Imam Mawardi berpesan mengenai pentingnya memilih guru, “Wajib bersungguh-sungguh di dalam memilihkan guru dan pendidik bagi anak, seperti kesungguhan dalam memilihkan ibu dan ibu susuan baginya, bahkan lebih dari itu. Seorang anak akan mengambil akhlak, perilaku, adab dan kebiasaan dari gurunya melebihi dari orangtuanya sendiri”

Sekolah bagi anak bukan sekedar tempat yang lengkap fasilitasnya dan biaya bulanan yang bersahabat, melainkan guru dan lingkungan yang terbangun di dalamnya. Anak akan menghabiskan banyak waktu di sekolah bersama teman-teman dan gurunya. Perlakuan guru, tata tertib yang berlaku, dan keadaan sesama wali murid adalah pertimbangan penting memilih sekolah. 

  1. Ajarkan anak memuliakan ulama

Ulama adalah sumber ilmu dan tuntunan adab yang darinya manusia akan terbimbing menuju akhlak mulia dan jalan kebenaran. Mereka adalah pewaris Nabi yang melanjutkan risalah agar tetap tersampaikan kepada umat manusia. 

Memuliakan dan menghormati ulama, bersikap santun dalam bergaul dengan mereka, adalah di antara adab yang harus terbiasa sejak kanak-kanak. Selain itu memuliakan ulama menjadikan anak akan memuliakan ilmu yang ia terima, yang dengannya Allah menghidupkan hati hamba-Nya. 

Memuliakan ulama adalah salah satu tanda terbebasnya seorang muslim dari sifat munafik. Abu Umamah ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda : Ada tiga manusia, tidak ada yang meremehkan mereka kecuali orang munafik. Mereka adalah orang tua, ulama, dan pemimpin yang adil. (HR ath-Thabrani).

Abu Umamah ra. juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Luqman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, engkau harus duduk dekat dengan ulama. Dengarkanlah perkataan para ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan deras.” (HR Ath-Thabrani).

Kenalkan anak pada ulama, yaitu dengan menghadirkan anak atau memperkenalkannya kepada ulama saat seorang ulama hadir di lingkungan terdekat Anda. Misalnya pada acara pengajian di masjid atau acara keislaman di kantor. 

  1. Ajak anak menghadiri majelis-majelis ilmu

Orang tua seharusnya banyak belajar, dan makin haus ilmu seiring dengan usianya dan usia anak-anaknya. Semakin bertumbuh anak, semakin banyak referensi kajian keislaman, semakin rajin menghadiri  taklim-taklim dan semakin bersemangat dalam majelis-majelis yang bermanfaat. Selama menghadiri itu semua, anak sebaiknya mulai dilibatkan atau diajak turut serta.    

Nabi saw. ketika masih kecil turut menghadiri majelis-majelis kaum dewasa untuk berbagai keperluan masyarakat. Beliau mengatakan: “Aku biasa menghadiri pertemuan-pertemuan para pemuka kaum bersama paman-pamanku….” (HR. Abu Ya’la).

Manfaat membawa anak-anak ke majelis orang dewasa adalah untuk mengasah akalnya dan menambah wawasan, agar kelak kecintaannya kepada ilmu akan semakin kuat dan terlatih untuk peduli pada urusan umat.

  1. Buatlah perpustakaan rumah

Salah satu sumber pengetahuan adalah buku. Buku atau kitab adalah lembar-lembar pengikat ilmu, dari penulisnya untuk dipersembahkan kepada siapapun yang mau membacanya. Membaca buku berarti memindahkan ilmu dari penulis ke otak pembaca. Oleh karena itu, dengan membaca, pengetahuan dan wawasan menjadi bertambah. 

Jadi, buku adalah salah satu kebutuhan ilmu bagi anak dan juga seluruh keluarga. Keberadaan perpustakaan rumah menjadi sangat penting untuk menciptakan kedekatan  anak-anak terhadap sumber ilmu.

Buatlah perpustakaan keluarga, sekalipun sangat sederhana. Sediakan beberapa koleksi buku yang sekiranya anak akan tertarik membacanya, yaitu buku anak. di samping itu, jangan lupa koleksi buku untuk umum bukan untuk anak dengan tema aqidah, pengembangan diri, sejarah Islam, kisah inspirasi, biografi ulama dan orang salih, buku-buku akhlak, buku hikmah, atau kitab-kitab karangan para ulama.

Buatlah program yang unik dengan perpustakaan keluarga ini, misanya hari baca setiap jumat sore, atau hari resensi setiap sepekan sekali. 

  1. Sisihkan anggaran untuk belanja buku  

Buku bukanlah benda yang secara materi dapat menjadi aset bernilai ekonomi. Ia dibeli, mungkin dengan harga mahal, tetapi setelah itu tak akan dapat dijual kecuali sebagai kertas kiloan. Inilah penyebab mengapa banyak keluarga tidak tertarik membeli buku, yaitu keluarga materialistis yang berpikir semua yang terbeli adalah aset ekonomi. 

Kecuali jika anda tidak bersungguh-sungguh menciptakan nuansa rumah pecinta ilmu, belajar buku seharusnya tidak lebih kecil anggarannya daripada belanja pakaian, piknik, dan perlengkapan rumah tambahan. 

Jika setiap bulan ada destinasi wisata atau restoran yang hendak dikunjungi, jenis baju atau aksesoris yang dibeli, perlengkapan rumah yang diburu, seharusnya  selalu ada juga judul buku yang menjadi target untuk dibeli. Membeli buku tidak semahal pakaian sedangkan manfaat pengetahuan di dalamnya akan berlangsung seumur hidup. 

Para pencari ilmu sejati bahkan lebih mementingkan membeli buku daripada kebutuhan lain sekalipun dalam kondisi keuangan yang amat terdesak. Mereka, dengan kerasnya keinginan membeli buku, terbawa keinginan keras pula untuk membaca dan menguasai pengetahuan di dalamnya. 

  1. Jangan membuat museum buku 

Ketika anda membeli buku dalam jumlah banyak dan mengoleksinya di rak-rak perpustakaan keluarga, itu artinya anda juga berkeharusan memberi contoh memanfaatkannya. Buat apa membangun perpustakaan, tetapi sang pembangun itu sendiri meninggalkannya? 

Jangan menjadi orang tua yang memberi fasilitas kepada anak sambil di sisi lain menularkan kebiasaan buruk  mengabaikan manfaat fasilitas itu. Maksudnya, orang tua seharusnya menjadi contoh sosok di rumah yang gemar membaca. Membaca adalah aktivitas yang sangat santai, bisa dengan pasif dan dalam keadaan yang tidak memerlukan kondisi khusus. Anda tetap dapat membaca saat lelah, saat marah, saat bergembira, saat sakit, menunggu aktivitas tertentu, bahkan sambil melakukan aktivitas ringan. 

Apapun yang Anda dapatkan dari membaca, setidaknya anda telah menjadi figure gemar membaca di hadapan anak. Bukkan kesalahan anak jika mereka membenci bacaan, bila orang tuanya sendiri adalah figure pecandu televisi dan kerasukan gadget.

 

[Yazid Subakti]

Kebutuhan Hobi di Usia Ini

Kebutuhan Hobi di Usia Ini

Parenting – Kebutuhan hobi menunjukkan bakat dan minat anak. Apa yang anak benar-benar nikmati dan kerjakan biasanya akan menjadi hobinya, sekalipun itu seolah tidak berhubungan dengan keterampilan hidup.

Anak yang tertarik pada dunia olah tubuh akan menampakkan hobi olahraga yang paling ia sukai. Ia mungkin akan gemar bermain bola, bulu tangkis, bela diri, senam, atau bahkan hobi lain yang memerlukan gerakan dan tidak menunjukkan jenis olahraga tertentu. Misalnya memanjat pohon. 

Karena berangkat dari kesenangan atau ketertarikan, hobi adalah aktivitas yang tulus dan anak akan merasa senang melakukannya. 

Kenyataan ini sebenarnya bermanfaat bagi anak dalam beberapa hal. 

Menjadi pelepas stress. Hobi yang dilakukan dengan suka hati mengalihkan kehidupan anak ketika ia dalam keadaan serba sibuk dan kacau. Anak menyingkirkan sejenak untuk fokus pada aktivitas yang ia cintai, menikmati dan melakukannya dengan senang.

Latihan untuk tumbuh dan berkembang. Selama kecil, anak belum mengetahui apa potensi yang ia miliki. Melalui kegemaran akan sesuatu kegiatan, ia sebenarnya sedang merintis jalan untuk menggali bakat dan mencari tahu apa keistimewaan yang ia miliki. 

  • Mengukur kualitas  pribadi

Anak yang hobi olahraga tidak hanya bersenang-senang dengan olah raganya, tetapi ia juga akan belajar seberapa mampu melakukannya dibanding teman-temannya. Jika ia hobi seni, ia juga akan mengukur kualitas karya seninya seberapa bagus dibanding karya teman-temanya. Ukuran kualitas ini tidak selalu mendorong anak untuk menjadi yang paling terdepan, tetapi setidaknya ia mengetahui kedudukan dirinya di antara teman-teman pemilik hobi yang sama. 

Sarana bersosialisasi. Hobi yang dalam kelompok, misalnya pada klub atau komunitas sesama penghobi, dapat menjadi sarana bagi anak untuk menambah teman dan  memperluas pergaulannya. Ia akan belajar bagaimana berteman dengan banyak orang yang sifatnya berbeda. Ia harus bekerjasama, memberi dan menerima untuk tetap dapat mendapat pengakuan dalam kumpulan anak-anak yang memiliki ketertarikan sama akan suatu hal. 

Kegiatan yang produktif. Anak biasanya bercita-cita setinggi langit sejak masa kecilnya. Tetapi cita-cita ini  lebih mengarah pada profesi tertentu yang akan menjadi identitas utamanya kelak; polisi dokter, guru, arsitek dan sebagainya. Dalam keadaan tertentu, apa yang dihasilkan dari profesi tidak selalu memuaskan. Manusia memerlukan aktivitas produktif lain sebagai sampingan atau bahkan akan menjadi kegiatan utama, yaitu hobi. Jika produktivitas bermakna menghasilkan uang, maka banyak hobi yang akhirnya menjadi sumber penghasil uang lebih besar daripada profesi utama. Seorang pegawai yang memiliki hobi merawat burung, memiliki penghasilan dari usaha burung jauh lebih besar daripada gaji pegawainya. Seorang karyawan yang di luar jam kerja asyik menulis, bisa jadi penghasilan dari penulisnya lebih besar daripada gaji bulanannya sebagai karyawan. 

  • Apakah hobi mengganggu sekolahnya? 

Banyak orang tua merasa khawatir bahwa hobi anaknya akan mengganggu konsentrasi sekolahnya. Mereka khawatir anak yang menekuni hobi menjadi kehabisan energi dan teralihkan perhatiannya pada hobi tersebut sehingga urusan sekolah menjadi tidak penting. Kekhawatiran ini kemudian berkembang pada ketakutan akan masa depan anak yang akan menjadi semakin tidak jelas cita-citanya. 

Akibatnya, banyak orang tua tidak membebaskan buah hatinya menekuni hobi. Mereka melarang anaknya memiliki hobi dan menyuruhnya hanya untuk belajar agar berprestasi di sekolahnya.

Kekhawatiran ini sangat berlebihan. Hobi tidak selalu menjadikan anak teralihkan fokusnya dari pelajaran sekolah, justru bisa menjadi pereda ketegangan ketika di sekolah anak-anak mendapat banyak tekanan. Orang tua yang mengarahkan anaknya hanya untuk belajar mengejar prestasi sekolahnya hanya menunjukkan kekurangpahamannya terhadap kebutuhan anak. Ini ambisi, bukan mengarahkan. Orang tua takut harga dirinya jatuh ketika anaknya tak mampu mengumpulkan nilai tinggi di sekolahnya. Padahal anaknya ingin sekolah dengan bahagia, bukan bersaing nilai. Hubungan orangtua seperti ini dengan anaknya adalah karena obsesi, bukan cinta. 

  • Memilihkan hobi yang bermanfaat 

Hobi yang cocok buat anak adalah apapun perbuatan menyenangkan yang anak senang melakukannya, tidak mudah bosan, tampak tekun mengikutinya, dan menikmati sekalipun ia tak terlalu menguasai. Biasanya anak tidak memiliki motif tertentu ketika melakukannya. Ia melakukannya karena tertarik dan suka. 

Namun demikian, orang tua tetap harus hadir  memberi petunjuk dan batas-batas hobi apa saja yang layak bagi anaknya dan bermanfaat. 

Hobi berkebun, berkesenian, olahraga, otomotif, kuliner, bepergian, menulis, bercerita, bermain peran, berpetualang, dan lain-lainnya semuanya bermanfaat jika diarahkan untuk hal yang bermanfaat. Tetapi itu semua juga bisa menjerumuskan jika terjebak dalam pertemanan yang salah dan lepas dari pengawasan.

 

[Yazid Subakti]