Pra Nikah – Perbaiki dan benahi dirimu ke arah yang lebih baik, dan jadilah kumbang yang paling mempesona.
Daftatr Isi
Jadilah laki-laki yang memiliki gambaran calon isteri
Jadilah seorang pangeran yang memiliki gambaran seorang putri idaman. Jangan menjadi laki-laki yang tak memiliki criteria, karena itu mencerminkan kekosongan anda dari perencanaan.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih saying di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum: 21).
Perempuan atau laki-laki yang hendak menempuh pernikahan harus mempelajari secara benar ciri-ciri calon jodoh yang baik untuk menjadi pasangannya.
Anda memiliki karakter tertenti, dan menginginkan karakter tertentu pula untuk melengkapi. Anda memiliki rencana besar dalam keluarga, dan memiliki pula tenaga tambahan untuk mewujudkannya.
Milikilah informasi dan jalur yang benar
Jangan asal mencari jodoh. Jangan menemukan jodoh di tempat yang salah.
Tempat mencari jodoh yang salah berpeluang menghasilkan jodoh yang salah pula. Jodoh yang dicari di pasar tidak sama dengan jodoh yang ditemukan di majelis ilmu dan jodoh yang ditemukan di diskotik tidak akan sama dengan jodoh yang ditemukan di kampus. Jodoh yang anda temukan di lingkungan kerja anda akan berbeda jika anda menemukannya di tempat pengungsian.
Rasulullah menikahkah para sahabat melalui jalur Beliau atau sahabat lain yang Beliau percayai. Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hasan bin Ali, ‘Saya mempunyai seorang putri. Siapakah yang patut menjadi suaminya menurut Anda?’ Ia menjawab, ‘Nikahkanlah dia dengan seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika ia senang, ia akan menghormatinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya.” (Fiqhus Sunnah II, bab Nikah).
Teliti dan sabar dalam ikhtiar
Jangan mencari jodoh dengan cara yang tergesa-gesa. Syetan selalu memisikkan kegusaran kepada orang yang hati dan pikirannya tidak tenang.
Hadirkanlah kesabaran untuk meneliti dengan seksama, tanpa menyertakan rasa curiga dan hal-hal lain yang merepotkan.
Dari Mughirah bin Syu’bah, ia pernah meminang seorang perempuan, lalu Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Sudahkah kamu lihat dia?” Ia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Lihatlah dia lebih dahulu agar nantinya kamu berdua bisa hidup bersama lebih langgeng (dalam keserasian berumah tangga).” [HR Nasai, Ibnu Majah, dan Tirmizi].
Meneliti ialah melakukan pengamatan langsung kepada calon pasangan, agar tidak ada penyesalan kelak ketika anda telah menytu dengannya.
Namun demikian, telitilah seperlunya dengan cara yang saling menghargai dan menjaga kehormatannya.
“Jangan sekali-kali seorang laki-laki menyendiri dengan perempuan yang tidak halal baginya karena orang ketiganya nanti adalah setan, kecuali kalau ada mahramnya.” (HR Ahmad).
Mintalah Nasehat dan Pertimbangan
Fathimah binti Qais didatangi oleh dua orang laki-laki untuk melamarnya, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm. Ia tidak kuasa membedakan mana di antaranya yang paling baik. Maka, iapun datang kepada Rasulullah saw dan meminta pertimbangan.
Rasulullah saw. Kemudian bersabda, “Abu Jahm orangnya tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya, sedangkan Muawiyah seorang yang miskin, tidak berharta. Oleh karena itu, nikahlah dengan Usamah bin Zaid!“
Akan tetapi, Fathimah merasa tidak menyukai pilihan yang ditawarkan oleh rasulullah itu. Dia menyampaikan hal itu hingga Rasulullah saw mengulangi sabdanya,
“Nikahlah dengan Usamah bin Zaid!“
Akhirnya, Fathimah memantapkan hatinya untuk menerima tawaran Rasulullah itu. Setelah pernikahan, ia menjadi wanita yang sangat mencintai suaminya hingga banyak wanita di sekitar yang merasa cemburu atas romantisme mereka.
Mintalah pertimbangan atas pilihan yang ditawarkan kepada anda. Datanglah kepada orangtua, sahabat yang memahami agama, atau guru anda untuk mendapatkan saran. Boleh jadi apa yang anda tetapkan tidak seperti pandangan mereka yang telah memiliki banyak pengalaman.
Dirikanlah Istikharah
Jangan meninggalkan Allah selama anda beriman kepada-Nya. Jangan menjauh dari-Nya selama anda merasa butuh terhadapnya. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat sifat seseorang yang tidak tampak secara lahir. Dia datang dengan penuh teka-teki. Dia hadir dengan segala rahasia yang terselubung.
MIntalah kepada Allah pertimbangan untuk memilih atau tidak memilih calon jodoh ANda.
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, Rasulullah saw. biasa mengajari kami melakukan istikharah dalam setiap urusan, seperti beliau mengajari kami suatu surat dari Alquran. Beliau bersabda,
“Bila seseorang bertekad melakukan suatu urusan, hendaklah ia melakukan dua rakaat bukan wajib, lalu berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau pilihan kebaikan untukku dengan pengetahuan-Mu; aku memohon pertolongan-Mu dengan kekuasaan-Mu; dan aku memohon kepada-Mu (mendapatkan) karunia-Mu, Tuhan Maha Agung, karma Engkaulah yang berkuasa, sedangkan aku tidak. Engkau Maha tahu, sedangkan aku tidak dan Engkau Maha mengetahui yang gaib. Ya Allah, kalau Engkau mengetahui urusan ini baik bagiku, agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku,’ atau sabdanya, ‘pada awal-awal urusanku dan akhir-akhirnya, tentukanlah dia untukku dan mudahkanlah dia untukku, kemudian berkahilah untukku dalam urusan ini. Bila Engkau tahu urusan ini tidak baik bagiku dalam urusan agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku ini,’ atau sabdanya, ‘pada awal-awal urusanku dan akhir-akhirnya, jauhkan ia dariku dan jauhkanlah aku dari urusan ini dan tetapkanlah kebaikan bagiku di mana pun adanya, kemudian ridailah aku dengan urusan itu.‘ Ia berkata, ‘Dengan menyebutkan apa keperluannya’.” (HR An-Nasai).
Istikharah berarti memohon dipilihkan yang terbaik, agar diberi petunjuk untuk memutuskan atau menolak pilihan yang sedang Anda hadapi.
Pilihlah dengan tawakkal
Tawakkal adalah kekuatan jiwa anda. Tawakkal adalah pembuktian bahwa anda yakin akan pertolongan Allah.
”Dari Yahya bin Sa’id bahwa Qasim bin Muhammad telah menceritakan kepadanya tentang seorang laki-laki bernama Khidzam, yang menikahkan salah seorang anak perempuannya, tetapi anak perempuan tersebut enggan dinikahkan oleh ayahnya. Lalu, ia datang kepada Rasulullah saw dan menceritakan kejadian tersebut. Rasulullah saw. mengembalikan kepadanya pernikahan yang telah dilakukan oleh ayahnya dan anak perempuan itu memilih menikah dengan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir. Menurut Yahya, kejadian ini terjadi pada perempuan janda.” (HR Ibnu Majah).
Letakkanlah tawakkal di seluruh rangkaian ikhtiar anda. Sertakan Allah dan rasakan pertolongan-Nya yang nyata.
[Yazid Subakti]

