Mengenalkan Ibadah Puasa

Mengenalkan Ibadah Puasa

Parenting – Anak-anak harus dikenalkan ibadah puasa karena amalan ini merupakan salah satu rukun islam yang tanpanya keislaman menjadi tidak sempurna. Puasa yang paling penting untuk dikenalkan adalah puasa wajib setiap bulan Ramadhan. 

Selain menjadi penyempurna rukun islam, puasa adalah terapi jiwa bagi anak-anak untuk mengendalikan diri. Bulan Ramadhan menjadi madrasah untuk memperbaiki kesalahan dan perlombaan ketaatan kepada Allah. 

1. Menciptakan suasana gembira atas datangnya bulan Ramadhan

Datangnya bulan Ramadhan sebisa mungkin menjadi kabar gembira bagi keluarga. Ayah dan ibu menciptakan suasana rumah yang berbeda, lebih istimewa daripada bulan-bulan biasa. 

  • Menghias atau merapikan rumah dengan menambah lampu di taman atau pagar dekat jalan, membuat aksesoris di dalam rumah atau hiasan di dinding yang menjadikan rumah lebih terang dan semarak. 
  • Menyemarakkan suasana rumah dengan bebunyian murattal atau bacaan Al-Qur’an, salawat nabi, ceramah-ceramah bertema ramadhan dan motivasi untuk beribadah di dalamnya. Jika memungkinkan, pilih bebunyian yang bernuansa anak-anak atau disuarakan dari rekaman anak-anak.
  • Menyediakan menu yang khas di bulan Ramadhan, menu yang menggambarkan keistimewaan atau penghargaan bagi orang yang berpuasa. Jika si kecil menginginkan atau menyukai jenis makanan tertentu, maka makanan inilah yang disajikan untuk berbuka di bulan Ramadhan, di samping juga makanan yang disunnahkan. 
  • Menyediakan fasilitas ibadah tambahan untuk persiapan ibadah bulan Ramadhan. Anak-anak akan sangat gembira mendapatkan alat salat baru, atau mushaf Al Quran baru untuk digunakan mulai Ramadhan dan seterusnya. 
  • Membuat program keluarga khusus untuk bulan Ramadhan. Membuat safari tarawih di beberapa masjid yang lebih meriah pada beberapa malam tertentu, acara buka puasa keluarga di tempat yang mengesankan, menghadiri acara kajian Ramadhan yang diisi penceramah berkualitas, atau mendatangi acara kemeriahan Ramadhan khusus untuk anak-anak. 

Selama menyambut ramadhan, anak-anak sebaiknya diringankan beban rutin hariannya dibanding hari-hari biasa. Beberapa penugasan rumah dibebaskan atau diringankan karena energi dan perhatiannya akan diarahkan untuk menyemangatinya berpuasa. 

2. Puasa memang berat bagi anak 

Dunia anak sangat erat dengan kesenangan terhadap makanan. Ketika tiba saatnya harus mengenalkan puasa, yang membuat anak-anak merasa berat adalah karena harus menghentikan kesenangan utamanya itu, yaitu berhenti makan. Mereka bisa saja menolak karena kenyataannya, berhenti makan dan minum tidak sekedar berhenti dari kesenangan, melainkan juga harus menderita rasa perih di perut saat lapar, kering di mulut saat berlama-lama haus, serta lemasnya badan karena tidak makan dan minum. 

Itu terjadi karena kebanyakan orang tua menyampaikan pelajaran puasa kepada anak-anak dengan menggambarkannya seolah puasa itu ibadah yang dilakukan dengan menghentikan makan dan minum saja. Mestinya, anak-anak mendapat penjelasan bahwa yang harus dihentikan saat puasa bukan hanya makan dan minum. 

Jelaskan kepadanya dengan bahasa paling sederhana bahwa puasa itu artinya menahan; yaitu tidak makan dan minum, juga tidak melakukan perbuatan lain yang dapat membuat puasanya batal, serta melakukan amal ibadah lain yang akan menjadi penyempurna puasanya itu. Sampaikan pesan bahwa selain menahan lapar, juga tidak boleh menyakiti orang lain dan tidak mengucapkan kata-kata buruk. Agar pahala menjadi sempurna, puasa harus dilengkapi dengan sering mengaji, memperbanyak shalat sunnah, dan gemar berbagi. 

3. Melatih si kecil berpuasa 

Keluarga salih terbiasa berpuasa dari yang paling tua sampai yang paling muda, selama memiliki kemampuan. Ini telah berlangsung pada zaman nabi, para sahabat, dan tabi’in hingga orang-orang shalih setelahnya. 

Keluarga Umar bin Khattab terbiasa berpuasa, hingga anak-anak kecilnya. Suatu hari, beliau pernah menegur seorang pemabuk yang tidak berpuasa pada siang bulan Ramadhan. Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan, 

“Umar ra berkata kepada orang yang mabuk-mabukan pada siang hari bulan Ramadhan, ‘Celaka kamu! Anak-anak kami yang masih kecil saja berpuasa!‘ Kemudian beliau memukul orang itu.”

Biarkan si kecil menikmati kesenangan dan kemeriahan bulan puasa. Biarkan ia bersama teman-temannya turut dalam berbagai permainan khas puasa, bermain sambil menunggu pengajian di masjid dan acara meriah lainnya.

Bangunkan sahur dan menikmati menu makan sahur agar ia mengenal aktivitas yang mengawali hari puasa. Biarkan ia merasakan pengalaman suasana makan sahur yang tidak terdapat pada hari-hari biasanya. Agar mudah bangun di waktu ini, sebelumnya ia harus tidur tidak terlalu malam, yaitu tepat setelah tarawih. 

Setelah makan sahur, ajak ia menahan makan dan minum sekuatnya. Untuk mendukung ajakan ini, semua jenis makanan dan minuman di rumah memang harus ditiadakan atau disembunyikan. Ia tidak melihat makanan dan minuman, dan melihat ayah ibunya juga tidak makan dan tidak minum.

  • Menjelang siang, anak mulai berat merasakan haus dan lapar yang melilit.

Ia mungkin menangis atau merengek meminta minum dan makan. Anda dapat mengalihkan perhatian dengan mengajaknya bermain, bepergian melihat pemandangan atau objek yang menakjubkan.

Jika rasa haus dan lapar benar-benar tak tertahankan, ajaklah sekali lag bertahan sampai terdengar adzan dzuhur berkumandang. Begitu adzan berkumandang, berikan kesempatan untuk melepas haus dan laparnya, tetapi setelahnya kembali menahan sampai turut buka bersama saat adzan maghrib berkumandang. Saat maghrib tiba, ajak si kecil berbuka bersama agar merasakan pengalaman berbuka dengan suasana sebagaimana berbukanya orang berpuasa.

Lakukan latihan setiap hari tanpa memaksa atau menakut-nakuti. jika ia berhasil melakukan tahap paling ringan, yaitu menahan sampai dzuhur, anda dapat memberinya penghargaan berupa hadiah yang nilainya akan lebih besar lagi jika mampu menahannya sampai maghrib suatu hari nanti.

4. Hambatan-hambatan saat melatih anak berpuasa 

Anda akan mengalami hambatan atau tantangan begitu latihan puasa mulai diterapkan kepada anak-anak.

Hambatan pertama adalah budaya atau norma setempat yang belum tentu mendukung anak-anak balita belajar puasa. Beberapa masyarakat, sekalipun kebanyakan beragama islam, memandang bahwa puasa boleh bagi orang dewasa atau anak-anak saat menginjak remaja. Anda yang mulai menerapkan latihan puasa bagi anak balita mungkin terlihat aneh atau berlebihan, kemudian mendapat komentar tidak menyenangkan. Tidak jarang komentar ini datangnya dari orang terdekat, yaitu orang tua atau mertua dan kerabat Anda.

Anda tidak perlu membuang energy dengan membantah mereka atau menjelaskan secara detail. Cukuplah Anda lakukan apa yang anda yakini, yaitu tetap melatihnya berpuasa, sambil terus menjaga kedekatan dengan si kecil agar penghambat ini tidak berpengaruh padanya. Si kecil lebih mempercayai anda, dan mengikuti apapun Anda.

Hambatan kedua adalah kondisi anak yang lemah secara fisik.

Sebagian anak rentan terhadap penyakit, atau fisiknya lemah sehingga mudah sakit jika terlambat makan atau mendapat sedikit tekanan dalam hidupnya. Kondisi ini biasanya tidak terus menerus terjadi, kecuali pada anak yang memiliki kelainan organ atau memang sedang menderita gangguan kesehatan tertentu. Pada anak yang normal, kondisi rentan sakit berhubungan dengan asupan gizi dan gaya hidupnya yang kurang sehat. Oleh karena itu, persiapan sebelum melatihnya puasa adalah dengan cara menyehatkannya dulu jauh hari sebelum bulan Ramadhan datang. siapkan satu atau dua bulan bulan sebelum Ramadhan dengan memperbaiki asupan makan, menjaga istirahat, tetap berolahraga, dan tenang pikirannya. Jangan sampai di bulan ramadhan si kecil kekurangan berat badan yang mengakibatkan energinya cepat habis dan jatuh sakit saat masih di hari-hari awal berlatih puasa.

Hambatan ketiga adalah perasaan kasihan atau tak tega. Ini bukan masalah anak, tetapi manajemen pikiran orang tua yang bermasalah. Mestinya, orang tua tidak terkuasai oleh perasaannya, tetapi perasaan itu berimbang dengan pikiran. Emosi mestinya berimbang dengan rasionalitasnya.

Rasa kasihan itu ada tempatnya. Meletakkan rasa kasihan di tempat yang salah akan membawa dampak yang merusak dalam jangka yang panjang. Orang tua mengasihani anak saat belajar berpuasa karena menganggap bahwa latihan ini menyakitkan. Orang tua tidak tega melihat anak yang terkulai lemas karena menahan lapar dan haus. 

Perasaan kasihan yang seperti ini mendorong orang tua menunda latihan puasa anaknya kelak ketika anak sudah besar. Begitu sudah besar, tidak ada jaminan anak akan lebih mudah berpuasa. Ketika berpuasa pun, ia baru melalui tahap awal latihan, yaitu menahan makan dan minum saja. ia masih membutuhkan waktu beberapa musim puasa lagi untuk melengkapi latihannya. Sementra itu anak yang sejak dini berlatih telah menuntaskan seluruh latihannya di usia ini.

[Yazid Subakti]

Mengenalkan Sedekah

Mengenalkan Sedekah

Mengenalkan Sedekah – Sedekah artinya membenarkan, yaitu meyakini kebenaran Allah dan Rasul-Nya serta ajaran yang disampaikan. Bukti pembenaran ini ditunjukkan dengan menyisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk diberikan kepada orang lain yang memerlukannya. Dengan bersedekah, harta dan jiwa kita menjadi bersih sehingga sebagian dari sedekah juga disebut zakat yang artinya pensucian diri.

Sedekah menjadi salah satu amalan utama orang beriman. Anak-anak muslim seharusnya tumbuh menjadi pribadi yang gemar berderma, gemar berbagi, atau gemar bersedekah sejak dini. Rasulullah SAW dan para sahabat merupakan pelopor dan teladan terbaik terhadap sifat pemurah ini. Beliau sangat serius dan berulang kali mendidik sahabatnya untuk menjadi pribadi yang gemar bersedekah, dengan memberikan jaminan bahwa harta tidak akan berkurang dengan sedekah.

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

  1. Melatih kepekaan jiwa

Hikmah sedekah adalah mengasah kepekaan jiwa terhadap kondisi sesama manusia, kemudian tergerak untuk peduli kepada mereka dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. 

Asma` binti Abu Bakar ra pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki harta kecuali apa yang dimasukkan Az-Zubair kepadaku. Apakah boleh aku menyedekahkannya?’” Beliau SAW bersabda: “Bersedekahlah. Jangan engkau kumpul-kumpulkan hartamu dalam wadah dan enggan memberikan infak, niscaya Allah akan menyempitkan rezekimu.” (Terjemahan HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan kepada seorang wanita yang dalam keadaan terbatas pun Rasulullah SAW tetap memberikan motivasi untuk bersedekah. Beliau bersabda,

“Wahai wanita-wanita muslimah! Janganlah seorang tetangga meremehkan untuk memberikan sedekah kepada tetangganya, walaupun hanya sepotong kaki kambing” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hikmah lain sedekah adalah merekatkan hubungan antar sesama dan sebagai bentuk nyata menyelamatkan sesama muslim dari ancaman kekafiran. Dengan disedekahi, mereka yang terhimpit menjadi merasa memiliki saudara seiman yang menolongnya, terhindar dari meminta-minta dan terbantu dari kefakirannya. Sedangkan kefakiran sangat dekat dengan kekafiran.

Anak-anak dilatih bersedekah agar tidak tumbuh padanya sifat kikir. Sedekah memberi harapan kebaikan dan menghapus kekikiran. 

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tidak satu haripun di mana seorang hamba berada padanya kecuali dua Malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata,“Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

  1. Agar anak gemar bersedekah 

Setiap manusia memiliki ego untuk mempertahankan apa yang ia miliki, terlebih pada masa kanak-kanak. Namun demikian, latihan sedekah dapat dengan suasana yang menyenangkan. 

  • Dimulai dari ayah dan ibu 

Pertama-tama adalah teladan ayah dan ibu. Anak-anak memerlukan model, yaitu seseorang yang ia saksikan langsung melakukan perbuatan itu berulang-ulang. Ayah dan ibu harus memperlihatkan dirinya menjadi contoh nyata pada anak agar ditiru. 

  • Menyisihkan tabungan 

Ajak anak-anak menyisihkan tabungannya. Sebagian tabungan itu ia gunakan untuk keperluannya, dan sebagian yang lain berikan dengan sukarela kepada fakir miskin yang memerlukan, memasukkannya di kotak infak masjid, atau turut menyumbang kegiatan sosial di sekolahnya. 

  • Berbagi makanan 

Memberi makan adalah salah satu bentuk sedekah paling utama. Sebagian dari yang termakan itu adalah makanan ringan yang dapat emakannya kapanpun dan tidak terikat tempat. Saat ia berkumpul dengan teman-temannya, berikan bekal makanan yang lebih dari biasanya agar ia dapat membagi sebagiannya untuk teman-temannya. Begitu juga saat ia memakan sesuatu kemudian temannya datang, mintalah membagi sebagian makanannya itu untuk diberikan temannya. 

Saat temannya datang ke rumah doronglah si kecil menjamu tamunya itu dengan menyuguhkan makanan dan minuman. Saat tamu dewasa dating dan anda sibuk menyiapkan perjamuan atau suguhan, libatkan si kecil menyiapkan atau mengantarnya ke meja tamu dan mempersilahkan tamu itu menyantapnya. 

  • Menyumbangkan barang miliknya 

Sebenarnya, sedekah bukanlah membuang harta atau barang hak milik yang memang ia tidak butuh atasnya. Jika anda bersedekah makanan, yang disedekahkan bukanlah sisa makanan basi atau bagian dari makanan yang karena anda tidak layak memakannya kemudian diberikan kepada orang lain. 

Sedekah yang membekas dalam jiwa adalah berbagi atas barang milik kita, sedangkan kita masih berhajat menggunakannya atau memerlukannya, bahkan sesuatu yang enggan kita berikan karena kita sendiri menyukainya. 

Tawarkan kepada si kecil menyumbangkan salah satu barang mainannya, pakaiannya, atau benda lain kesukaannya untuk diberikan kepada orang lain temannya yang membutuhkan. 

  • Berkunjung ke panti sosial 

Ada banyak panti sosial yang menampung anak-anak yatim atau anak dari kaum duafa yang tidak mendapat jaminan penghidupan dari orang tuanya karena orang tuanya tiada atau tidak mampu. Anak-anak di panti ini dalam proses belajar mandiri tetapi di masa-masa awal kehidupannya membutuhkan pemberian dari orang lain. 

Ajaklah anak mengunjungi panti untuk berkenalan dengan penghuninya, menyaksikan dan berinteraksi langsung dengan anak-anak yang memerlukan bantuan. Dalam kunjungan ini, jangan lupa membawa sesuatu yang dapat menyenangkan hati anak-anak penghuni panti. 

  • Mendatangi korban bencana

Negeri kita sering terkena bencana. Gempa bumi, tanah longsor, banjir, dan bencana lain mengakibatkan para korban yang hidup kehilangan penghidupan. Mereka tinggal di tempat pengungsian dan memerlukan bantuan. 

Ajaklah si kecil mengunjungi tempat pengungsian untuk bertemu korban bencana dengan membawa sumbangan semampu Anda. Ia akan melihat secara langsung kondisi orang-orang yang menderita, kerusakan akibat bencana, dan para relawan bekerja keras memberi bantuan. Pemandangan ini sangat mendukung jika pada saat itu juga anda memberi pengertian padanya tentang pentingnya berbagi.

 

[Yazid Subakti]

Mengajarkan Shalat

Mengajarkan Shalat

Parenting – Shalat adalah penghubung seorang hamba dengan yang disembahnya. Maka dari itu, orang tua harus mengajarkan shalat kepada buah hati sejak dini.

  1. Kenalkan shalat sedini mungkin

Shalat adalah penghubung seorang hamba dengan yang ia sembah. Shalat juga merupakan kegiatan penyembahan yang tidak ada ibadah paling penting selainnya. Dengan melakukan shalat, seorang hamba menjadi terhubung dengan Allah dan membuktikan ketundukan serta ketaatan kepada-Nya. 

Anak-anak harus menjadi pribadi yang menegakkan shalat, karena salat adalah kewajiban yang tak dapat terwakili, dan menjadi amal yang pertama kali terhitung kelak di hari kiamat. 

Apakah ketika bayi atau balita, anak-anak tidak dapat memahami makna shalat? 

Ia mungkin telah ikut-ikutan mengerjakan shalat dan menikmatinya, tetapi baru dapat memahaminya pada usia-usia menjelang sekolah, yaitu menjelang tujuh tahun. Yang ia pahami dari aktivitas shalat adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan, atau rutin dilakukan sebagai sebuah kebiasaan. Ia menganggap suatu kegiatan itu baik jika orang tua biasa melakukannya. 

Oleh karenanya, anak dikenalkan ibadah shalat sejak awal usianya, sejak ia mampu melihat dan mendengarkan. Ini merupakan pengenalan bahwa sebagian dari rutinitas kehidupan yang tidak boleh ditinggalkan adalah shalat. Ia akan mengamati dan akhirnya meniru apa yang yang dilakukan orang tuanya, kemudian mengulang-ulang hingga menjadi kebiasaan yang kelak tanpa melakukannya akan merasa ada yang kurang. Seiring dengan pertambahan usia dan kemampuan akalnya, ia nanti dapat dipahamkan mengenai perintah Allah yang mengharuskan setiap mukmin shalat, dan semua ketentuan tentang shalat. 

  1. Agar Anak Rajin Shalat

  • Menjadi teladan kedisiplinan shalat

Anak memperhatikan perilaku orang tuanya. Otaknya berkembang dan mulai mengamati, kemudian meniru. Jadi, anak adalah peniru yang ulung tanpa menyaring apa yang baik dan apa yang buruk karena logika berpikirnya belum sampai ke sana. Saat ia menyaksikan Ayah selalu melakukan sesuatu yang sama setiap sehari, ia pun tergerak untuk menirunya. Oleh karenanya, cara mengajarkan anak melakukan shalat adalah dengan cara memberi contoh, sebelum mengatakan atau memperlakukan apapun kepada anak.

  • Mulai mengajak shalat

Saat si kecil mulai bergerak mandiri, mengenali bagian organ tubuhnya dan berjalan atau berdiri dengan berbagai gerakan, mulailah mengajaknya shalat setiap kali waktu salat tiba. 

Rasulullah SAW mengingatkan, 

“Apabila seorang anak dapat membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahkanlah dia untuk mengerjakan shalat” (HR Ath-Thabari)

Kemampuan membedakan kanan dan kiri menandakan otak anak sudah cukup berkembang. Ia sudah mampu memahami bahwa shalat adalah kegiatan kebaikan. Ajak si kecil mengerjakan shalat tanpa pernah berhenti dan tanpa memberi sanksi bila ia menolak atau benar-benar tidak mau melakukannya. Mungkin ia tertarik ikut tanpa benar-benar melakukan gerakan shalat, melainkan berlarian kesana kemari dalam masjid. Ini tidak mengapa, bahkan menjadi awal yang baik bahwa ia menyaksikan, ikut atau setidaknya bersama orang tuanya yang shalat dan bersuka ria berada di tempat shalat. Kesenangan seperti ini seharusnya bertahan sambil terus mengajaknya lebih serius melakukan gerakan salat.

  • Mengajarkan ilmu shalat saat usia anak sudah 7 tahun

Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak kecil untuk shalat apabila sudah berusia tujuh tahun…” (HR Abu Dawud dan al-Hakim)

Pada usia 7 tahun ini pelajaran shalat sudah harus orang tua ajarkan. Si kecil harus sudah mulai paham alasan shalat, rukun shalat dan tata cara melakukannya. Ajarkan bacaan shalat mulai dari yang paling mudah, sampai lengkap beserta dzikir setelahnya dan adab-adabnya. Ia tidak lagi berlarian atau bermain ketika waktu salat tiba. 

Jadi, mulai usia 7 tahun anak sudah menjadi pengamal shalat dan belajar membiasakan diri untuk tepat waktu dan berjamaah.

[Yazid Subakti]

Membimbing Cara Bersuci

Membimbing Cara Bersuci

Parenting – Cara bersuci atau thaharah dalam istilah para ahli fiqih adalah mensucikan anggota tubuh tertentu dengan cara tertentu. Thaharah menempati bahasan sangat penting karena tanpanya beberapa ibadah utama kita kepada Allah SWT tidak diterima. 

Thaharah tidak selalu bermakna membersihkan, meskipun tetap memiliki hubungan yang kuat dengan kebersihan. Bersih atau sucinya thaharah adalah bersih atau suci di hadapan Allah, yang belum tentu dimaknai sama oleh manusia. Pada umumnya manusia menolak debu yang menempel pada benda karena tampak lusuh, apapun debu itu. Tetapi debu ternyata menjadi benda yang dapat digunakan untuk bersuci. 

Jadi, sucinya thaharah adalah suci menurut Allah, yang segala ketentuannya juga diatur oleh-Nya. 

  1. Pentingnya thaharah 

Pentingnya thaharah bukan hanya pada kebersihan yang kita dapatkan, bahkan beberapa jenis thaharah seolah tidak membersihkan di mata manusia. Melakukan thaharah adalah menaati perintah Allah dan ketentuan-Nya.

  • Dicintai oleh Allah 

Allah SWT memuji dan mencintai orang-orang yang selalu menjaga kesucian. Di dalam Al Qur’an disebutkan, 

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat dan orang-orang yang membersihan diri. (QS. Al-Baqarah : 222). 

Pribadi muslim sejati adalah mereka yang bersuci dan menjaga kesuciannya, dan tidak menyukai orang-orang yang kotor dan keji. Rasulullah SAW memberi peringatan kepada sahabatnya,

Sesungguhnya Allah tidak menyukai hal yang kotor dan keji. (HR. Ahmad) 

  • Menjadi syarat sah ibadah

Selain menjadi bagian dari tanda keimanan, kesucian adalah syarat sah ibadah. Tanpa bersuci, ibadah seorang hamba akan menjadi perbuatan tanpa makna. 

Dari Ali bin Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Kunci shalat itu adalah kesucian, yang mengharamkannya adalah takbir dan menghalalkannya adalah salam’. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah) 

Jadi, anak-anak dibimbing melakukan thaharah bukan semata untuk menjadikannya bersih, melainkan sebagai awal pengkondisian agar ia mulai terbiasa menjadi hamba yang menaati perintah Allah. 

  1. Mengenalkan jenis dan tingkatan najis dan cara bersuci dari najis

Sejak dini, kenalkan anak pada berbagai macam benda yang najis dan ajaklah untuk menghindarinya. Jika ia terlanjur terkena najis, ajarilah cara mensucikannya. 

  • Najis ringan (mukhaffafah), jenis najis ringan yang cara mensucikannya cukup dengan memercikkan air kepada bagian yang terkena najis. Contoh najis ini adalah air kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun kecuali ASI. 
  • Najis sedang (mutawasitah), yaitu jenis najis menengah yang cara mensucikannya yaitu dengan membasuh bagian yang terkena najis hingga bau, warna dan rasanya hilang dari benda yang terkena. Contoh jenis najis ini adalah air kencing dewasa, darah, dan bangkai (selain ikan dan belalang).
  • Najis berat (mughalladzah), yaitu jenis najis yang cara mensucikannya harus dengan air suci sebanyak tujuh kali, sedangkan salah satu dari pengulangan itu menggunakan tanah. Contoh najis jenis ini adalah bekas jilatan anjing atau jilatan babi karena terkena air liurnya. 
  1. Mengajarkan cara wudhu dan mengingatkan pembatalnya 

  • Berwudhu yang wajib dan sunnah

wudhu wajib oleh orang muslim sebelum melakukan sholat, tawaf memutari ka’bah dan sebelum memegang kitab suci al-quran. Hukum wudhu juga bisa sunnah jika untuk melakukan kegiatan kebaikan sehari-hari, menjelang tidur, meredakan amarah, dan mengumandangkan adzan. 

Rukun wudhu adalah urutan kegiatan yang harus saat wudhu, yang jika tidak melakukannya dengan tertib menyebabkan hukum tidak sahnya wudhu. 

  • Mengingatkan hal-hal yang membatalkan wudhu 

Ada lima penyebab batalnya wudhu. Jika salah satunya terjadi, maka wudhu batal dan kembali berada dalam hadats kecil. Untuk melakukan ibadah (misalnya salat), maka wudhu harus wudhu lagi

Pertama, apabila keluar sesuatu dari salah satu lubang kemaluan. Baik yang keluar itu adalah sesuatu yang biasa keluar seperti kencing dan tai, atau benda yang jarang keluar seperti darah dan cairan lain. 

Kedua, tidur sampai hilang kesadaran atau hilang ingatan. Ada pengecualian untuk tidur, yaitu tidur orang mutamakkin maq’adahu yaitu tidur dalam keadaan duduk rapat bagian punggung dan pantatnya dengan tempat ia duduk.

Ketiga, hilangnya kesadaran atau hilangnya akal karena mabuk, gila, atau selainnya. Hilang akal dalam keadaan ini lebih berat dari pada tidur, karena kesadarannya jauh lebih hilang daripada orang yang sekedar tertidur.

Keempat, bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan lain yang bukan mahram. Mahram adalah wanita yang haram menikahinya karena ikatan nasab, sepersusuan atau ikatan pernikahan. Sedangkan maksud dari bersentuhan adalah sentuhan yang langsung mengenai sesame kulit tanpa penghalang.

Kelima, menyentuh kemaluan orang lain atau dirinya sendiri atau menyentuh tempat pelipis dubur dengan telapak tangan atau telapak jarinya.

[Yazid Subakti]

Kesalahan Memilih Sekolah

Kesalahan Memilih Sekolah

Parenting – Kadang para orang tua masih terjebak dalam kesalahan memilih sekolah untuk anaknya. Anak yang salah masuk sekolah menghadapi pelajaran bukan sebagai kebutuhannya.

1. Salah persepsi tentang sekolah 

Masih banyak orang tua yang mengira bahwa sekolah merupakan tempat pendidikan utama yang akan membentuk semua kebaikan anak. Mereka ingin anaknya pintar dan cerdas di sekolah, berprestasi, salih, sehat, sopan, dan semua kebaikan dibentuk di sekolahnya. Mereka mengkritik pihak sekolah manakala terdapat kekurangan layanan atau hasil yang ia dapati pada diri anaknya. 

Mendidik anak itu tetap menjadi tanggung jawab orang tuanya, sehingga anak lebih berhak mendapatkan didikan dari orang tuanya sendiri. Begitu besarnya keharusan orang tua mendidik anak sampai-sampai Rasulullah mengajarkan doa anak untuk orang tua dengan mengingat jasa pendidikannya di waktu kecil,

Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, dan dosa-dosa kedua orang tuaku. Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka mendidikku semasa kecil

Jadi, syariat belum pernah berubah bahwa mendidik anak adalah tugas orang tua. Sedangkan sekolah menjadi tempat belajar mengembangkan kecerdasan dan pelajaran formal yang menyambung karakter baik anak yang sudah dikembangkan oleh orang tuanya di rumah. Orang tua mengajarkan aqidah dan dasar-dasar ibadah, pihak sekolah menyempurnakan dan memberi ragam praktiknya. Orang tua menanamkan karakter semangat, optimis, disiplin, dan bertanggung jawab sedangkan sekolah memberinya contoh nyata yang lebih beragam dan menantang. 

Persepsi lain yang perlu diperbaiki dari orang tua adalah memandang sekolah seolah sebuah industri.

Sekolah dipandang sebagai industri yang produknya berupa jasa pencetak bakat dan pencerdas anak. Maka hubungan antara orang tua dengan pihak sekolah adalah transaksi jual beli jasa. Sekolah menawarkan berbagai keunggulan jasa yang menggiurkan, dan orang tua membayar untuk pelayanan anaknya. Orang tua hanya tahu bahwa ia sudah membayar, yang artinya ia menyerahkan semua hal tentang anaknya kepada sekolah dan akan menuntut bila yang telah ditawarkan pihak sekolah tidak sesuai dengan yang diterima anaknya. 

Suasana menuntut ilmu seperti ini diam-diam bisa menumbuhkan ketidaknyamanan bagi anak, penyimpangan tujuan, dan dikhawatirkan menghilangkan keberkahan ilmu yang didapatkan. Seharusnya hubungan orang tua dengan pihak sekolah adalah mitra, yaitu sekolah menjadi perpanjangan pendidikan orang tua dan pelengkap yang oleh karenanya orang tua tetap akan terhubung dan bekerja sama dengannya. Di tingkat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, orang tua perlu mengenal guru yang mengajari anak-anaknya dan menjalin hubungan baik dengan mereka. 

2. Ambisi atas sekolah tertentu 

Setiap orang tua berhak memilih sekolah bagi anaknya, pada jenis sekolah yang paling ia idam-idamkan. Biasanya, orang tua malah berambisi menyekolahkan anaknya pada sekolah tertentu yang menurutnya paling bagus, paling bergengsi, paling populer, atau paling menjanjikan masa depan anaknya. 

Ambisi ini ada kebaikannya, tetapi harus diimbangi dengan pengetahuan yang memadai tentang dunia persekolahan. Anda harus memahami bahwa bagaimana sebuah sekolah menjadi popular atau tampak megah dan bergengsi. Jika semua terjadi akibat promosi yang digencarkan, maka tidak ada jaminan sekolah tersebut memberikan layanan seperti yang Anda harapkan. Beberapa sekolah terkesan besar karena berhasil dalam pencitraannya, bukan oleh kualitas pelayanan dan prestasi mendidiknya.

3. Akibat salah memilih sekolah 

Setiap sekolah memiliki catatan mengenai siswanya yang bermasalah atau pindah. Sebagian dari persoalan ini ternyata akibat dari ketidakcocokan siswa terhadap suasana dan apa yang ia dapatkan di sekolahnya.

  • Anak menolak aturan sekolahnya

Ia menganggap semua yang ada di sekolah adalah salah atau tidak menguntungkannya. Aturan sekolah ia rasakan sebagai kebiasaan yang aneh atau tidak menyenangkan sehingga ia menolaknya. Ia tidak menyukai warna seragamnya, tidak nyaman dengan ruangan atau halamannya, tidak dapat mengimbangi pergaulan dengan teman-temannya, atau bahkan sulit menerima interaksi gurunya. 

  • Anak menjadi agresif atau sebaliknya, menjadi pribadi yang rendah diri

Ia merasa bahwa lingkungan sekolahnya bukanlah untuk dirinya. Ia mendapati suasana yang serba cepat, sedangkan dirinya adalah tipe orang yang santai atau sebaliknya, ia sebagai orang yang terbiasa cekatan mendapati lingkungan yang serba lambat. Pelajaran yang tidak sesuai potensinya membuatnya tertekan. Dalam kondisi tertekan, hanya ada dua kepribadian yang tampak, yaitu ingin memberontak dan agresif atau tak berdaya dan rendah diri. 

  • Semangat belajar melemah

Anak yang salah masuk sekolah menghadapi pelajaran bukan sebagai kebutuhannya. Ia menganggap semua yang diajarkan adalah kebutuhan orang tuanya, sebagaimana orang tua bersikeras memilihkan sekolah itu untuknya. Kalaupun ia berprestasi, maka semua itu hanya untuk menyenangkan orang tuanya. Ia, biasanya sulit mandiri dalam belajar. Setiap haris orang tua harus membangkitkan semangatnya, bahkan dengan berbagai iming-iming imbalan kalau berprestasi. 

  • Terhentinya cita-cita

Cita-cita berhubungan dengan ketertarikan, potensi, dan orientasi anak. Si kecil yang lincah dan kreatif ingin mengembangkan kemampuan seninya, tetapi orang tua memilihkan sebuah sekolah yang hanya mementingkan prestasi akademik. Ia menjadi frustasi, seolah sekolah tidak mendukung kepintaran dan masa depannya.

Dampak yang paling fatal dari kesalahan memilih sekolah adalah terhentinya cita-cita anak. ia putus asa, dan merasa cita-citanya tak akan menjadi kenyataan kalau harus bersekolah di tempat yang ia hadapi saat ini. 

4. Mengkondisikan Anak utuk Siap Bersekolah

Anak-anak memang tidak dapat dipaksakan untuk bersekolah jika belum siap. Tetapi jika terus menerus demikian, maka ia dapat mengalami berbagai hambatan di hari depannya. Untuk itu, orang tua dapat membuat pengkondisian agar ia lebih siap bersekolah. 

  • Mengenalkan siklus waktu 

Anak-anak tidak terlalu peduli dengan waktu., dan akan terus terlena jika tidak dikenalkan pentingnya menggunakan waktu dan setiap waktu terdapat peruntukannya masing-masing. Salah satu keengganan anak untuk mulai masuk sekolah adalah karena ia belum terbiasa membagi waktu sesuai peruntukannya. 

  • Membiasakan aturan atau norma

Sekolah adalah aktivitas yang di dalamnya terdapat aturan dan norma-norma. Ada keharusan memakai seragam pada hari tertentu, Anak-anak perlu paham, dan mulai mengenalbahwa kehidupan memang memiliki peraturan dan tata cara. Termasuk ketika bersekolah dan bergaul dengan teman-temannya. 

  • Melibatkan dalam hubungan sosial

Sebagian anak menolak untuk mulai bersekolah karena tidak bersedia bertemu atau dekat dengan orang-orang baru. Padahal salah satu makna penting bersekolah adalah untuk mulai bersosialisasi dengan sesama. Anak-anak akan berkenalan dan berteman dengan anak-anak yang baru ia kenal.

  • Memberi kesempatan berpisah dari orang tua

ini adalah latihan kemandirian. Dalam sehari, anak peru berpisah beberapa jam dari orang tuanya agar pada saat mulai bersekolah ia tidak merengek meminta orang tua untuk menunggunya.

[Yazid Subakti]

Pertimbangan Memilih Sekolah

Pertimbangan Memilih Sekolah

Parenting – Setiap sekolah tidak dapat memilih latar belakang siswa dengan begitu ketatnya. Maka dari itu Ayah dan Bunda harus pandai mempertimbangkan dalam memilih sekolah untuk si kecil.

  1. Kembali pada visi keluarga

Visi keluarga benar-benar diuji begitu anak mulai menghadapi usia masuk sekolah. Di masa ini, Anda akan mengetahui seberapa tajam visi keluarga Anda, seberapa istiqamah terhadapnya, bahkan menyadari jangan-jangan selama ini memang tak pernah memiliki visi keluarga.

Keluarga lemah yang hidup tanpa visi akan memilih sekolah dengan pertimbangan klasik: sekolah yang paling mudah dijangkau lokasi dan biayanya, sekolah yang paling dekat dan murah, sekolah yang lengkap fasilitasnya, atau sekolah yang nilai gengsinya tinggi. 

Jika demikian, di manakah visi?

Visi dirumuskan untuk menjadi arah masa depan keluarga, termasuk urusan memilih sekolah. Jika visi Anda sejak awal pernikahan adalah membentuk keluarga Qur’ani, misalnya, pastilah Anda memilihkan anak sekolah yang mendukung pengajaran Al-Qur’an. Anda tidak tergiur dengan sekolah yang jaraknya dekat, fasilitasnya mewah dan murah, jika sekolah tersebut tidak mendukung pembelajaran Al-Qur’an. 

Ujilah visi keluarga Anda, dan buktikan Anda mulai mewujudkannya melalui pemilihan sekolah anak-anak. 

  1. Tak ada satupun sekolah yang sempurna 

Sayangnya, tidak pernah ada satupun sekolah yang sempurna. Sekolah-sekolah didirikan dengan ciri khas masing-masing, berjalan bersama kelemahan dan kelebihannya. Beberapa sekolah berhasil menjadikan lembaganya maju dan berkualitas, tetapi tidak benar-benar menghilangkan kelemahannya. Sebaik apapun sekolah tetap ada kelemahannya. 

Setiap sekolah tidak dapat memilih latar belakang siswa dengan begitu ketatnya. Artinya, sebaik apapun sebuah sekolah tetap akan berisiko kedatangan siswa yang nantinya akan membawa dampak buruk bagi teman-temannya, termasuk anak anda. Beberapa jenis penyakit menular yang selama ini anda takutkan, menjangkiti anak anda karena tertular oleh teman sekelasnya yang terjangkit. Selama di rumah, Anda begitu melindungi si kecil dari kata-kata kotor dan perilaku buruk. Begitu mulai bersekolah, ia mulai mendengar beberapa kosakata berkonotasi negatif dan menyaksikan perilaku buruk seorang temannya. 

Dalam komunitas sesama wali murid, Anda tidak menyangka ternyata ada wali murid yang menyebalkan, bahkan merugikan. Sebagian perilaku guru di saat tertentu mungkin saja kurang bersahabat. Beberapa kebijakan sekolah mungkin juga terkesan mengada-ada atau aneh. 

Itu semua adalah contoh kekurangan di sebuah sekolah, yang tidak mungkin semuanya bisa hilang. 

Berhentilah mencari sekolah sempurna. Pilih saja sekolah yang di dalamnya kebutuhan anak dapat terpenuhi, meskipun tidak mungkin terpenuhi semuanya juga. Pentingkan apa yang menjadi kebutuhan anak, bukan gengsi atau ego orang tua. Untuk itu, lagi-lagi orang tua harus banyak berkomunikasi dengan anak agar mengetahui kebutuhannya, dan benar-benar mengenalinya dengan amat tepat.

[Yazid Subakti]

Bersama-sama, Tanamkan Prinsip Ini!

Bersama-sama, Tanamkan Prinsip Ini!

Parenting – Ada prinsip luhur yang sangat baik ditanamkan kepada anak-anak sebagai pencari ilmu. Cobalah tanamkan prinsip tersebut kepada si kecil.

  1. Menuntut ilmu adalah keharusan 

Yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah hati dan akal pikirannya. Oleh karena itu, menuntut ilmu adalah keharusan yang juga sekaligus kebutuhan. Ia menjadi kunci segala kebaikan dan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Begitu pentingnya ilmu bagi manusia, sampai Rasulullah SAW menyatakan wajibnya menuntut ilmu bagi setiap muslim. 

Beliau SAW bersabda,

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah)

Kebutuhan pada ilmu lebih besar daripada kebutuhan pada makanan dan minuman, sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad mengatakan, “Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu.”

  • Dimudahkannya jalan menuju surga

Ilmu dapat menjadi sebab seorang hamba mudah jalannya menuju surga. Sebagaimana oleh hadits Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). 

Mengajarkan atau memberi kesempatan anak untuk mempelajari ilmu mengenal Allah, ilmu tentang tata cara ibadah, ilmu seputar hukum-hukum islam, atau ilmu untuk menguasai bacaan dan mendalami Al-Qur’an berarti memberi kemudahan baginya jalan menuju surga. 

  • Sebagian Ilmu adalah kekal

Sebagian ilmu, yaitu ilmu-ilmu syar’i akan kekal oleh Allah dan tetap memberi manfaat meskipun pemiliknya telah meninggal. 

Rasulullah menyampaikan dalam haditsnya,

“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim). 

Ilmu yang dikuasai, kemudian diajarkan kepada orang lain dan tetap bermanfaat bagi manusia akan mengantarkan pemiliknya di alam kubur mendapat amal jariyah. Di alam kubur, pemilik ilmu tetap mendapat aliran pahala dari orang-orang yang mendapat manfaat atau ajaran dari ilmunya. 

  • Ilmu menuntun pada ketaatan 

Yang paling takut pada Allah adalah orang yang berilmu. Allah menyatakan demikian dalam kitab-Nya,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Para ulama adalah orang yang berilmu. Semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia memiliki sifat dan nama yang sempurna, mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya yang menuntunnya kepada ketaatan. 

  • Orang berilmu akan diangkat derajatnya

Ini sudah menjadi janji dan ketetapan Allah, seperti dalam firman-Nya,

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah : 11).

Mendorong anak-anak menuntut ilmu secara tidak langsung adalah ikhtiar orang tua mengangkat derajat mereka. 

  1. Prinsip seorang pencari ilmu 

Ada prinsip luhur yang sangat baik tanamkan kepada anak-anak sebagai pencari ilmu. Prinsip ini berisi enam pesan dari Imam Az Zarnuji yang yang tertuang dalam kitabnya, Ta’limul Muta’allim. 

“Ingatlah, Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi enam syarat. Saya akan beritahukan keseluruhannya. Yaitu kecerdasan, kemauan, sabar, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang lama ” 

  • Kecerdasan (Dzakaa-un)

Ada dua jenis kecerdasan yang harus ada bagi pencari ilmu, yaitu kecerdasan bawaan yang berasal dari Allah, dan kecerdasan yang ia dapatkan melalui ikhtiar. Kecerdasan bawaan atau potensi menjadi bekal memilih tempat mencari ilmu dan jenis ilmu yang ia cari, sedangkan kecerdasan hasil ikhtiar bisa melalui motivasi dan bimbingan.

  • Semangat yang kuat (Hirsun)

Pencari ilmu harus memiliki semangat dan dorongan yang kuat untuk menguasai ilmu yang ia cari (courious). Tidak ada perasaan puas dalam pengetahuan, selalu ingin tahu dan semakin ingin menguasainya. Selama belajar, pikiran mampu fokus pada apa yang gurunya sampaikan. 

  • Kesabaran (Ishtibarin)

Akan banyak tantangan dan kesengsaraan dalam menuntut ilmu. Kesabaran menuntut ilmu berarti tidak mudah menyerah atas tantangannya. Tantangan dari diri sendiri adalah rasa malas dan lelah atau bosan, sedangkan tantangan dari luar diri sendiri adalah tempat dan fasilitas belajar yang kurang nyaman atau cara penyampaian guru yang kurang sesuai selera.

  • Biaya (Bulghatin)

Anak-anak perlu sadar bahwa ilmu memerlukan biaya. Biaya adalah uang sebagai bentuk kewajiban untuk pembayaran, imbalan dalam bentuk apapun sebagai ungkapan balas jasa atau rasa terima kasih, perbekalan yang mendukung selama masa-masa mencari ilmu, dan apapun yang di keluarga sebagai bentuk pengorbanan demi mendapatkan ilmu. Imam Malik menjual salah satu Kayu penopang atap rumah untuk menuntut ilmu. Imam Ahmad melakukan perjalanan jauh ke tempat negara untuk mencari ilmu. Semuanya dengan satu niat, yaitu demi mendapatkan ilmu.

  • Petunjuk Guru (Irsyadu ustadzin)

Setiap penuntut ilmu adalah murid, yang mendapat ilmu dari gurunya. Meskipun seorang murid dapat membaca kitab, ia memerlukan bimbingan guru agar apa yang ia baca tidak menyesatkannya. Guru menjadi tempat bertanya, sosok yang mengarahkan, memberi penjelasan dan peneguhan atas ilmu yang ia kaji. 

Dengan jasa guru seperti ini, murid harus tahu diri dan menghargai gurunya. 

  • Waktu yang Panjang

Maksudnya adalah perlunya meluangkan waktu secara khusus, bukan belajar di waktu-waktu sisa. Ini mengandung hikmah tentang adab belajar, yaitu bahwa menuntut ilmu memerlukan penghargaan atas ilmu itu. Meluangkan waktu utama atau untuk mempelajari ilmu berarti menyediakan waktu yang cukup, kemudian menjadikan kegiatan belajar sebagai prioritas kegiatan sepenuhnya di dalamnya. Ibu adalah bukti kesungguhan dan penghormatan terhadap ilmu yang ia pelajari dan guru yang ia hadapi. Sebaliknya, belajar di waktu sisa adalah bukti ketidak sungguhan dan menyepelekan ilmu, serta tidak adanya penghormatan kepada guru. 

[Yazid Subakti]

Mengenal Diri Sendiri

Mengenal Diri Sendiri

Parenting – Setelah si kecil telah menganal pencipta, Rasul hingga malaikat-Nya, Bunda juga harus mulai mengajarkan anak untuk mengenal diri sendiri.

1. Mengenalkan jenis kelaminnya 

Salah satu bencana terbesar umat ini adalah ketika manusia telah mengingkari jenis kelamin yang telah ada padanya. Anak laki-laki ingin menjadi perempuan dan akhirnya bergabung dalam golongan kaum banci meskipun ia tetap sadar dirinya laki-laki, sedangkan anak perempuan ingin menjadi laki-laki dan masuk dalam golongan kaum tomboy meskipun ia juga sadar bahwa dirinya tetap seorang perempuan. Di luar itu, ketidakpuasan jenis kelamin telah banyak memicu tindakan operasi plastic pindah kelamin; laki-laki mengubah dirinya menjadi perempuan dan perempuan mengubah dirinya menjadi laki-laki. 

Ketidakpuasan gender juga berkaitan dengan perilaku terlaknat, yaitu laki-laki yang seharusnya berhasrat kepada perempuan mengubah hasratnya kepada sesame laki-laki, dan demikian juga perempuan kepada sesama perempuan. 

Keprihatinan kita semakin menjadi-jadi, ketika penyimpangan-penyimpangan ini dengan bebas menampakkan diri atau bahkan mempengaruhi manusia secara terbuka, bahkan mendapat pembelaan dari tokoh-tokoh pegiat kebebasan. 

Tentu saja, mereka melakukan penyimpangan itu tidak dengan tiba-tiba. Maka, salah satu pendidikan mengenali diri yang pertama dilakukan untuk anak adalah mengenalkan jenis kelaminnya. 

  • Memberi pakaian sesuai jenis kelaminnya

Sebagian dari kebutuhan anak adalah berbeda antara laki-laki dengan perempuan. Saat baru lahir, sebagian besar pakaian bayi tidak berbeda dengan antara laki-laki dan anak perempuan. Semakin bertambah usia, semakin bedakan jenis pakaiannya yang menguatkan jenis kelaminnya. Jika ia anak perempuan, berikan pakaian yang berciri khas perempuan, aksesori dan motif perempuan, serta warna-warna yang bernuansa feminin. Bagi anak laki-laki, sediakan baginya pakaian yang berciri khas laki-laki dengan aksesori dan motif serta warna maskulin. 

  • Memberi mainan sesuai jenis kelaminnya

Kebutuhan lain anak-anak adalah mainan. Mainan merangsang anak untuk berimajinasi dengannya. Maka, arahkan anak agar berimajinasi tentang hall-hal yang lazimnya akan dihadapinya secara nyata kelak. 

Anak laki-laki bermain mobil-mobilan, dengan imajinasi menyetir berbagai macam mobil yang ia sukai. Lebih maskulin, mungkin ia bermain pistol-pistolan dan berfantasi menjadi seorang polisi yang memberantas kejahatan. Inilah fitrah laki-laki yang berpotensi memimpin, menjadi penjaga atau pelindung. 

Anak perempuan berfantasi mengasuh bonekanya, seolah boneka-boneka itu bisa berbicara. Ia menyuapi, menggendong, bahkan memandikan dan menghibur bonekanya itu. Sembari itu, ia menyiapkan peralatan dapur dan berfantasi dengan alat dapur mainannya itu. Inilah fitrah perempuan yang berpotensi mengatur, melayani dan menekuni urusan yang detail. 

  • Memberi peran sesuai jenis kelaminnya

Sebagian peran anak laki-laki akan berbeda dengan anak perempuan. Anak laki-laki banyak mendapat peran di luar rumah, pekerjaan yang menguras tenaga fisik atau motorik kasar, menjaga keamanan dan memberi perlindungan, serta memimpin suatu kegiatan bersama. Mereka dikenalkan semua peran, tetapi lebih diarahkan membantu atau mewakili peran ayahnya. Lazimnya, ayah adalah sosok yang merawat kendaraan, memperbaiki bagian rumah yang rusak, atau mengangkat benda-benda berat. 

Ini agak berbeda dengan perempuan. Para perempuan mendapat bagian pekerjaan yang tidak menguras tenaga fisik kasar. Tidak seberat laki-laki tetapi banyak dan detail.

Ajaklah anak perempuan ada peran yang mendekatkan dunia ibunya. Lazimnya, ibu adalah sosok yang cerdas mengatur, teliti dalam urusan yang detail. Libatkan ketika anda berbelanja, mengolah bahan makanan di dapur, atau menata rumah. 

  • Menjelaskan makna nama 

Pada nama terkandung makna dan harapan, juga identitas dan jenis kelaminnya. Nama-nama tertentu memang berciri khas laki-laki, dan nama-nama yang lainnya memang berciri khas perempuan. Hanya sedikit nama yang dapat digunakan kedua jenis kelamin. 

Kenalkan anak-anak pada namanya, beserta makna dan yang diharapkan dari nama tersebut. Kepada anak laki-laki, ingatkan bahwa dengan namanya itu ia memang seorang laki-laki yang diharapkan menjadi seperti maknanya. Begitu juga kepada anak perempuan, ingatkan bahwa namanya itu mengandung makna seorang perempuan yang orang tua berharap ia akan menjadi seperti maknanya.

2. Mengenalkan bagian-bagian tubuh anak

Sebenarnya, tanpa diberitahu pun anak akan menggunakan organ tubuhnya sesuai kegunaannya. Fungsi organ tubuh akan terjadi sesuai naluri dan sangat alami. Tetapi itu saja ternyata tidak cukup. Anak-anak perlu belajar mengenai organ tubuhnya berkaitan dengan pemberlakuan adab atau etika dan perawatannya. Organ bagian tubuh kanan mungkin saja berfungsi sama dengan bagian kiri, tetapi etika mengaturnya berbeda. 

  • Nama-nama organ dan kegunaannya

Saat bayi mandi adalah kesempatan terbaik bagi orang tua mengenalkan anggota tubuhnya. Sentuh bagian tubuhnya dan sebut nama serta kegunaannya. Tangan untuk memegang yang baik-baik, kaki untuk berjalan, mata untuk melihat, dan sebagainya. Saat ceria bersantai, ajak si kecil bermain dengan mengikuti gerakan Anda menyentuh bagian tubuh sesuai yang Anda ucapkan. Jangan lupa juga menjelaskan kegunaannya. 

  • Bagian yang harus dilindungi dan cara menjaganya

Inilah bagian pendidikan yang jauh lebih penting dari sekedar mengetahui nama dan kegunaan organ tubuh. Anak-anak perlu mengetahui bahwa ada bagian tubuhnya yang perlu mendapat perhatian khusus melebihi organ yang lain, dan berbahaya jika terabaikan. 

Kenalkan cara memperlakukan kepala dan semua organ yang ada padanya. Kepala harus dilindungi dari benturan, dan panca indera harus dihindarkan dari masuknya benda yang berbahaya. Di dalam dada dan perut terdapat jantung, paru-paru, dan alat pencernaan sehingga bagian ini harus dihindarkan dari tekanan. 

Sambil mengenalkan perlindungan organ, sampaikan bahwa ada organ yang benar-benar tidak boleh ditampakkan, yaitu alat kelamin dan bagian yang disebut aurat. 

Menutupi bagian tubuh adalah bagian dari cara merawatnya. Cara lainnya adalah membersihkan, memotong kuku, menyisir rambut dan bercukur jika terlalu panjang, menggosok gigi, cuci tangan sehabis bermain dan sebelum atau setelah makan, dan rajin mandi dengan teratur.

3. Mengenalkan identitas anak 

  • Nama panggilan, nama lengkap, atau panggilan kesayangan 

Nama anak menjadi identitasnya. Kenalkan ia pada nama panggilannya, nama lengkapnya, dan bila ada panggilan kesayangannya. Sering-sering menyebut namanya dapat membantu si kecil, terutama ketika bayi, membedakan dirinya dengan anak lain. Nama panggilan mungkin sama dengan beberapa bayi lain, tetapi nama lengkap dan panggilan kesayangan akan berbeda. Biarkan si kecil memahami bahwa setiap orang memiliki nama, dan kadang nama-nama orang itu sama atau mirip. 

  • Keturunan atau nasab

Pentingnya mengenalkan keturunan atau nasab adalah juga bagian dari mengenal identitas diri anak. Anak harus kenal paling tidak kepada nama ayahnya, ibunya, kakek dan nenek dari ayahnya, serta kakek dan nenek dari ibunya. 

Jadi, tidaklah tabu anak-anak mengetahui nama asli dan nama lengkap orang tua. Ia perlu mengetahui dirinya sebagai anak siapa dan cucu siapa. Pengenalan ini penting sebagai penguat ikatan cinta bahwa ia adalah darah daging orang-orang yang menurunkannya. 

Manfaat lain pengenalan nasab adalah sebagai penjelas tambahan ketika orang lain mengenali dirinya, bahwa ia adalah anak seseorang atau cucu seseorang yang mungkin saja mereka kenal. Pada kasus anak yang terlantar atau hilang, pengenalan kepada nasab ini sangat membantu pemulangannya. 

  • Mengenalkan orang-orang terdekat

Orang-orang terdekat anak adalah para kaum kerabatnya. Mereka adalah kakak-kakaknya, paman atau bibi dan para sepupu, saudara dari kakek atau neneknya, dan orang-orang yang menjadi tetangga dekat atau orang-orang yang akrab dengan ayah dan ibunya. 

Mengenalkan kepada mereka berarti memberi tahu nama dan kedudukannya dalam kekerabatan atau hubungan dengan orang tuanya. Pengenalan ini penting, agar anak merasa bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar yang kelak juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya tetap utuh. 

  • Alamat atau lingkungan terdekat 

Yang juga menambah penguatan identitas adalah mengenalkan alamat kepada anak. Anak-anak sebaiknya kenal dengan nama tempat tinggalnya, setidaknya nama komplek beserta nama jalan dan nomor rumah, atau nama kampung dengan dusun beserta desa atau kelurahannya. 

Sering-seringlah mengajak si kecil berjalan-jalan di sekeliling rumah. Biarkan ia berlarian, bersepeda, dan bermain dengan anak-anak tetangga pada jam-jam yang memang pantas baginya untuk bermain. Ia akan menghafal orang-orang di sekeliling beserta jalan-jalan dan benda di sekitar rumahnya. Ajak dia membuat rute jalan menuju rumah, dari berbagai penjuru dan mencoba menyusurinya. 

  • Kebiasaan baik di lingkungan terdekat 

Banyak norma atau adat di masyarakat yang bernilai kebaikan. Kenalkan si kecil pada acara-acara atau kebiasan baik ini agar ia tumbuh menjadi pribadi yang sadar bermasyarakat dan menjadi bagian dari umat sekelilingnya. Acara kerja bakti di hari libur, musyawarah RT, majelis ta’lim ibu-ibu, menjadi tenaga bantu saat tetangga hajatan, atau saling berbagi makanan kepada tetangga adalah contoh kebiasaan baik. Anda dapat melatih kecerdasan sosial anak dengan mengajaknya untuk terlibat dan menjadi bagian dari acara tersebut.

Anak-anak yang terlibat di lingkungannya akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan mudah menjalin hubungan dengan berbagai karakter orang. 

4. Mengenal atau Benda Aktivitas Beresiko

Beberapa benda atau aktivitas di rumah menarik perhatian anak, padahal sangat berisiko bagi keselamatannya. Namun demikian, benda atau aktivitas ini tidak untuk dijauhi karena suatu merupakan bagian penting dari kehidupan. 

  • Api 

Api sulit terpisahkan dari kehidupan karena sangat bermanfaat. Setiap hari anak melihat api di dapur ketika ibu memasak, atau api lain yang biasanya menarik perhatiannya. Tetapi ia adalah sumber panas yang bisa membuat anak mengalami luka bakar, bahkan benda-benda sekeliling terbakar dan akhirnya bisa memicu kebakaran besar. 

  • Benda tajam 

Benda tajam seperti pisau, gunting dan lainnya selalu ada di kehidupan manusia sebagai alat untuk memotong berbagai keperluan. Namun benda-benda ini dapat membahayakan anak jika menggunakannya tanpa bimbingan orang tua. 

  • Listrik 

Setiap rumah memerlukan listrik sebagai sumber energy untuk menjalankan berbagai keperluan. Tetapi listrik juga sangat berbahaya jika setrumnya mengenai anak-anak. 

  • Bepergian 

Tidak mungkin ada kehidupan tanpa bepergian keluar rumah. Setiap saat saat manusia memerlukan bepergian untuk berbagai keperluan. Tetapi bagi anak-anak, bepergian tanpa kendali sangat membahayakan dirinya. 

Meskipun benda atau aktivitas itu berbahaya, anak-anak tetap harus mengenalinya. Si kecil perlu medapatkan pengalaman menggunakannya. Ayah atau ibu sebaiknya mengajarkan cara penggunaan api, listrik, dan benda tajam yang aman. Juga tetap membolehkan anak bepergian dengan batasan jarak dan tujuan yang ia kunjungi. 

Setelah diajari atau dikenalkan, anak-anak seharusnya diperbolehkan mencobanya dengan syarat ayah atau ibu berada di rumah. Dengan demikian, anak-anak tetap mendapat pengalaman yang sangat penting untuk kehidupannya, sementara jaminan keamanan dan kedaruratan dari ayah dan ibu tetap siaga. 

[Yazid Subakti]

Mengenal Malaikat Allah

Mengenal Malaikat Allah

Parenting – Setelah mengajarkan anak agar mengenal Allah dan mengenalkan Rasul-Nya, maka berikutnya adalah mengajarkannya mengenal Malaikat Allah.

  1. Ada Malaikat yang ghaib di sekeliling kita

Secara bahasa, Malaikat berarti utusan. Mereka adalah makhluk ghaib yang Allah yang ciptakan dari cahaya, selalu taat kepada perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat atau menolak-Nya. Keberadaan malaikat telah Allah kabarkan kepada manusia. Bahkan, Dia jadikan keimanan kepada malaikat sebagai salah satu rukun iman, yang tanpanya iman seseorang tidak diterima. 

Mengenal malaikat menjadikan kita lebih mengetahui kebesaran Allah, karena para malaikat adalah tentara-tentara-Nya. Dengan mengenal malaikat pula, kita merasakan perlindungan dan jaminan Allah yang menjaga, mencatat amal, dan menjamin penghidupan. 

Rasulullah SAW bersabda, 

Malaikat diciptakan dari cahaya arsy, dan jin diciptakan dari nyala api, dan adam dari apa yang sudah diceritakan kepada kalian. Jumlah seluruhnya sangat banyak, tetapi tidak ada yang mengetahui selain Allah SWT. 

Allah berfirman, 

“dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan dia sendiri” (Qs. Al Muddatsir: 31).

  1. Mengenalkan malaikat 

Rasulullah SAW menceritakan bagaimana besarnya malaikat pemikul Arsy, 

“aku diizinkan untuk menceritakan salah satu malaikat Allah, yaitu malaikat pemikul Arsy, sesungguhnya antara cuping telinga dan pundaknya sejauh perjalanan tujuh ratus tahun” (HR Abu Dawud)

Mereka juga memiliki sayap, dengan jumlah yang berbeda-beda antara malaikat satu dengan lainnya. 

Allah berfirman, 

“Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat…” (Qs. Fathir: 1).

Malaikat tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana manusia, dan tidak membutuhkan makan dan minum sebagaimana. Sebagaimana dalam kisah Nabi Ibrahim yang didatangi oleh malaikat yang menyerupai manusia, ketika dihidangkan makanan kepada mereka, mereka tidak mau menyentuhnya.

Anda dapat mengenalkan sepuluh nama-nama malaikat yang wajib diketahui beserta tugasnya. 

  • Jibril, bertugas untuk menyampaikan wahyu kepada para nabi dan para rasul utusan Allah swt.
  • Mikail, bertugas untuk menyampaikan rezeki kepada makhluk-makhluk Allah.
  • Raqib, bertugas untuk mencatat amal baik manusia
  • ‘Atid, bertugas untuk mencatat amal buruk manusia
  • Izrail, bertugas untuk mencabut nyawa
  • Munkar dan Nakir, dua malaikat ini bertugas untuk memberi pertanyaan kepada manusia di alam kubur
  • Israfil, bertugas untuk meniup sangkakala, kelak ketika Hari Kiamat telah tiba.
  • Ridwan, bertugas untuk menjaga surga
  • Malik, bertugas untuk menjaga neraka
  1. Menghindarkan kesalahpahaman tentang malaikat 

Orang-orang barat menyebut malaikat sebagai angel. Mereka menyebut bidadari juga dengan kata yang sama, yaitu Angel juga. Jadi, malaikat dan bidadari dianggap sama oleh mereka, yang dalam dongeng atau cerita-cerita bergambar dilukiskan dalam wujud seorang gadis kecil bersayap. Gambar atau ilustrasi ini sangat umum, terpublikasikan di buku-buku atau masalah, terutama bacaan yang memuat cerita mistis atau cerita fantasi. 

Benarkah malaikat itu sama dengan bidadari, dan berwujud gadis kecil bersayap? 

Malaikat tidaklah sama dengan bidadari. Malaikat adalah utusan Allah yang mendapat tugas sesuai kehendak-Nya. Sedangkan bidadari adalah makhluk Allah di surga yang menjadi teman, pelayan dan penggembira bagi penghuninya. Tidak ada satupun penjelasan yang menyatakan bahwa malaikat itu sesosok perempuan. Menurut pendapat yang kuat, malaikat tidak berjenis kelamin. Bahkan, ketika bertamu Nabi Idris, malaikat berwujud sosok laki-laki yang gagah. Saat bertamu kepada Rasulullah, Malaikat Jibril juga menampakkan sosok laki-laki. 

Saat pertama kali berbicara dengan Rasulullah SAW, suara malaikat Jibril membuat beliau SAW gemetaran. Itu tandanya malaikat Jibril juga bukan makhluk yang kecil. Anak-anak harus jauh dari buku-buku atau tontonan yang memuat cerita atau dongeng yang mengaburkan sosok malaikat yang sebenarnya. 

  1. Melatih keimanan terhadap malaikat 

Setelah mengenal siapa malaikat dan apa saja tugas yang mereka emban dari Allah, anak-anak dapat meyakini bahwa setiap saat malaikat itu tak pernah lalai dari tugasnya. Malaikat Raqib dan Atid tidak pernah terlambat mencatat apapun perbuatan yang manusia lakukan. Malaikat Mikail tak pernah lupa membagikan rezeki, kepada siapa saja sesuai yang Allah perintahkan. 

Untuk memantapkan keyakinannya, si kecil dapat terbimbing langsung dalam bentuk amal perbuatan.

  • Gemar melakukan amal kebaikan karena malaikat akan mencatatnya, kemudian melaporkannya kepada Allah agar ia mendapat pahala. Amal kebaikan ini misalnya bersekolah, mengerjakan shalat, mengaji, menjenguk teman sakit, atau menyapa dengan ramah.
  • Gemar berbagi atau bersedekah. Yakinkan bahwa keberadaan malaikat membuat anak mendapatkan oleh malaikat saat bersedekah. Ini seperti dalam sabda Nabi saw. “Tidak ada satu pun dimana di pagi harinya seorang hamba bersedekah melainkan ada padanya dua malaikat yang turun kepadanya, (maka) berkatalah salah satu diantaranya: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’ dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, binasakan atau hancurkanlah (harta) orang yang kikir” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
  • Berhati-hati dan menghindari perbuatan tercela karena sadar dan malu perbuatan tersebut terawasi oleh para malaikat. Tidak berbohong, berbuat curang, menipu, mengambil hak milik orang lain, berkata kasar, atau menyakiti temannya karena semua itu langsung tercatat dan terlaporkan kepada Allah. 

[Yazid Subakti]

Mengenal Rasulullah, Idola Sepanjang Hayat

Mengenal Rasulullah, Idola Sepanjang Hayat

Parenting – Setelah mengajarkan anak agar mengenal Allah, maka berikutnya adalah mengajarkannya mengenal Rasulullah SAW.

Mengenalkan Rasulullah SAW berarti mengajaknya beriman atas keberadaannya beserta tugas yang beliau bawa. Nabi adalah teladan, yang kepadanya kita jadikan penunjuk jalan menuju hidup yang sempurna. Mengenal Nabi berarti mengenal penunjuk jalan, arah hidup, tujuan, dan cara untuk menuju ke sana. 

  1. Gemar mengikuti sunnahnya 

Menjadikan Rasulullah teladan berarti mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai perilaku rasulullah, kemudian meniru dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, meneladani Rasulullah adalah mengikuti sunnahnya. 

Bagaimana mengajarkan anak gemar mengikuti sunnah? 

Apa yang diteladankan oleh rasulullah SAW untuk ditiru umat manusia sangat banyak, mulai dari yang paling sederhana sampai yang rumit. Kepada anak-anak, kenalkan sunnah-sunnah yang paling sederhana, yaitu perbuatan nabi yang paling mudah ditirukan. 

  • Membaca bismillah setiap kali akan melakukan perbuatan yang bernilai kebaikan. Membaca kalimat ini sangat mudah bagi anak kecil, menjadi sunnah, dan akan mendapat keberkahan dan pahala dari Allah SWT. 
  • Makan dan minum, mengulurkan pemberian, serta memegang benda-benda atau mengerjakan sesuatu dengan tangan kanan. 
  • Mengucapkan salam ketika masuk rumah atau bertemu dengan orang-orang, dan menjawab salam ketika orang mengucapkannya.
  • Membersihkan rumah atau tempat tinggal, berpakaian dengan bersih and rapi, mandai dan menggosok gigi, serta menyisir rambut dan memotong kuku.

Dan masih banyak yang lain. Kenalkan sunnah-sunnah ini sebagai kebiasaan harian dan sampaikan bahwa itu semua adalah sebagian dari yang oleh Rasulullah SAW lakukan. 

  1. Membaca Shalawat 

Membaca shalawat adalah bagian dari tanda cinta atas Nabi. Sholawat yang berisi pujian, sanjungan, atau doa untuk Rasulullah SAW. 

Bersalawat kepada Nabi Saw adalah salah satu bentuk ibadah, karena ini perintah dari Allah seperti terdapat dalam firman-Nya di surat Al Ahzab ayat 56,

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang – orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.

Karena bershalawat adalah perintah Allah, maka mengamalkannya mendapat pahala dan mendatangkan cinta Allah padanya.

Rasulullah SAW bersabda, 

“Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i). 

Jika anak menyukai music atau lagu-laguan, pilihlah yang syair atau isi lagu tersebut adalah shalawat nabi. Pilih yang mengajak manusia kepada kecintaan kepada Rasulullah dan mengidolakannya. 

[Yazid Subakti]