Mengajarkan Ilmu Fiqih Lebih Jauh

Mengajarkan Ilmu Fiqih Lebih Jauh

Parenting – Mengajarkan ilmu fiqih dengan lebih dalam kepada si kecil sangat penting, mulai dari yang paling dasar namun wajib.

  1. Mengajarkan taharah 

Taharah adalah ilmu yang paling awal harus anak pahami karena bersuci merupakan syarat sahnya salat, sedangkan salat sudah harus ia kerjakan sejak usianya 7 tahun. Pada masa awal-awal ia mengenal salat sebelum 7 tahun, ia hanya sekedar bersemanat dan merasa suka melakukannya. Saat usianya telah melebihi 7 tahun, ia harus  memahami tata cara taharah yang benar. 

  • Mengenalkan berbagai macam najis dan cara mensucikannya 

Ada berbagai macam pembagian najis berdasarkan sifatnya, yaitu najis berat, najis sedang, dan najis ringan. Anak harus menyadari ini semua dan mengetahui bahwa keberadaan benda najis kadang tidak manusia ketahui sehingga tidak sengaja manusia bersentuhan dengannya. Anda dapat berpesan kepadanya untuk berhati-hati bertindak karena najis bisa ada di mana-mana dan tanpa sengaja ia mengenainya. Hanya karena kurang disiplin atau kurang menjaga diri, seseorang bisa batal ibadahnya karena ternyata tubuhnya terkena najis. Oleh karena itulah manusia dianjurkan selalu menjaga diri dan bersikap hati-hati. 

  • Mengenalkan berbagai bentuk hadats dan cara bersuci 

setiap orang akan berhadats, yaitu hadats kecil dan hadats besar. Hadats kecil harus dihilangkan dengan cara mensucikannya melalui kegiatan berwudhu. Terutama pada saat hendak melakukan salat atau ibadah lain menghadap Allah. Untuk tetap berada dalam kesucian dari hadats kecil, seseorang harus menjaga sikap nya agar tidak mudah batal hanya karena kurang dapat mengontrol diri untuk buang air, buang angin, atau tidur di sembarang waktu dan tempat. Jadi, salah satu hikmah menjaga hadtas kecil ini adalah anak menjadi disiplin dan hidup penuh kehati-hatian. 

Hadats besar kenalkan kepada anak, terutama yang berhubungan dengan proses reproduksi. Ini perlu, terutama sebagai persiapan anak menghadapi masa akil baligh. Menjelang masa pubernya, anak harus sudah mengetahui bahwa haid, keluarnya mani, tau kegiatan berhubungan suami isteri menyebabkannya berhadats besar dan mengharuskan manusia mandi. Ia akan mengalami mimpi basah bagi laki-laki dan haid bagi perempuan, yang berarti menanggung hadats besar dan mengharuskannya mandi janabah. 

  • Mengenalkan berbagai macam benda untuk bersuci dan cara menggunakannya 

Tidaklah sah bersuci, kecuali menggunakan benda bersuci yang diperbolehkan. Kenalkan anak pada air sebagai benda utama bersuci, bahwa ternyata air dibagi dalam beberapa jenis sesuai statusnya; ada air suci dan mensucikan, air suci tetapi tidak menyucikan, dan air yang tidak suci alias najis. Kenalkan pula bahwa dalam keadaan tidak terdapat air, benda lain seperti debu boleh untuk bersuci.  

Pengetahuan mengenai benda untuk bersuci dan syaratnya agar bisa bersuci ini mengandung pesan agar ia tidak berbuat sembarangan terhadap air dan benda di lingkungannya. Dengan perlakuan yang kurang hati-hati, air dan benda-benda di sekelilingnya ternyata bisa berubah status menjadi tidak lagi bisa digunakan untuk bersuci.    

  • Mengenalkan hukum fiqih 

Lima hukum fiqih oleh para ulama sebagai pedoman berhukum ketika manusia menjalankan ibadah dan kegiatan muamalah yang statusnya berbeda-beda di hadapan Allah. Ada benda atau kegiatan yang hukumnya wajib dengan akibat datangnya pahala jika melakukannya dan dosa atau siksa Allah jika tidak melakukannya. Ada hukum sunnah yang mendatangkan pahala Allah tetapi tidak dosa jika meninggalkannya, ada hukum mubah yang manusia boleh melakukan atau meninggalkannya, ada hukum makruh yang sebaiknya dihindari karena Allah membenci jika manusia melakukannya, dan ada hukum haram atau terlarang yang manusia mendapatkan dosa jika melakukannya dan mendapat pahala jika meninggalkannya. 

Jadi, anak paham bahwa perbuatan manusia di hadapan Allah ternyata mendatangkan respon yang tidak sama. Ini penting untuk memotivasi anak agar menyadari keharusannya mendahulukan perbuatan yang wajib dan bersemangat menjalankan sunnah-sunnah. Serta berhati-hati untuk tidak terjerumus dalam perbuatan makruh dan haram. Tuntas melaksanakan hal-hal wajib dan memperbanyak sunnah adalah peluang surge. Sedangkan kelalaian yang membuatnya melakukan perbuatan makruh dan haram dapat menjerumuskannya ke dalam neraka. 

  1. Menjelaskan kaifiyah ibadah sesuai sunnah dan beberapa pilihannya

Kaifiyah ibadah boleh jadi belum anak ketahui, meskipun ia sudah terbiasa melaksanakan ibadah. Anak-anak kecil yang salat berdasarkan rasa senang, biasanya belum mengenal kaifiyah salat sehingga ia kadang berlarian dan tidak menunaikan salatnya dengan sempurna. 

Sampaikan pengetahuan kaifiyah salat, sebab mengetahui kaifiyah merupakan salah satu syarat ibadah. Artinya, orang yang melakukan kegiatan ibadah tanpa mengetahui kaifiyah dipastikan tata cara salatnya tidak benar sehingga berisiko tertolak di hadapan Allah. Padahal, saat akil balig datang, anak harus menanggung sendiri perbuatannya. 

Yang sangat penting untuk dipahamkan kepada anak adalah bahwa kaifiyah ibadah bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya, disebabkan adanya beberapa pilihan tata cara yang juga berbeda. Tata cara ibadah yang Imam Ahmad rumuskan terdapat perbedaan dengan Imam Syafii, Imam Hanafi dan Imam Malik.  Perbedaan ini biasanya tidak terlalu mendasar. 

Fiqih memang memungkinkan adanya beragam perbedaan, tetapi itu semua merupakan pilihan agar umat manusia dapat menyesuaikan mana yang paling ia yakini. Jika ia belum sampai pada kemampuan memilih, orang tua dapat mengarahkannya untuk memilih sepert pilihan orang tua.   

  1. Mengirim anak pada majelis kajian ilmu fiqih

Dulu, ibunda Imam Syafi’i bersabar mengirim putranya untuk belajar ilmu ke majelis demi majelis yang jaraknya amat jauh, berbulan dan tahun tidak bisa saling bertemu. Beliau khusyu’ mendo’akan Imam Syafi’i hingga meneteskan air mata.

Ketika Imam Syafi’i hendak pergi ke Madinah yang akan menjadi tujuannya menuntut ilmu, sang Ibu melepasnya dengan meyakinkan putranya bahwa Allah akan memberinya kemudahan.

Allah bersamamu. Insya Allah engkau akan menjadi bintang paling gemerlap di kemudian hari. Pergilah, ibu telah ridha melepasmu

Itu sepenggal kisah perginya Imam Syafii ketika menuntut ilmu. Mereka berpisah demi ilmu, menitipkan kepada Allah apapun yang akan terjadi.  

Rasulullah SAW bersabda,

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” [HR Muslim]

Orang tua harus ega merelakan anak, jika suatu saat, bahkan saat ini, anak harus pergi jauh demi menuntut ilmu. 

Sampaikan pesan kepada anak mengenai pentingnya  menguasai ilmu fiqih. Mungkin saja anak harus masuk ke pesantren dan tinggal di sana bertahun-tahun demi penguasaan ilmu. Dan harus menerima kenyataan perpisahan yang membuatnya bersedih. Ini adalah perpisahan sementara, untuk semua pertemuan kelak yang membahagiakan. 

Rasulullah SAW mengingatkan,

Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharapkan wajah Allah, namun ternyata ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan satu tujuan dunia, maka ia tidak akan mencium wanginya surga pada hari kiamat.” (HR Abu Daud)

 

[Yazid Subakti]

Mendekatkan dengan Anak-anak Keluarga Salih

Mendekatkan dengan Anak-anak Keluarga Salih

Jika menjalin pergaulan dengan orang-orang yang beragam keyakinan dan budaya itu dianggap penting, maka bersahabat dengan anak-anak dari keluarga salih itu jauh lebih penting. Bersilaturahim dan menjalin keakraban dengan keluarga salih atau anak-anak dari keluarga salih merupakan cerminan siapa diri kita dan seperti apa tipe keluarga kita.

Rasulullah SAW mengingatkan, 

Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud)

  1. Pentingnya menjalin hubungan dengan keluarga salih 

Islam sangat memperhatikan dengan siapa kita berteman. Dari pertemanan, manusia akan mudah terpengaruh oleh akhlak teman-temannya, terpengaruh oleh agama temannya, dan pemikiran temannya. 

Allah di dalam Al-Qur’an mengingatkan kita tentang masalah teman. Dia berfirman, 

Aduh, andaikan aku tidak menjadikan dia sebagai teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku setelah datangnya peringatan kepadaku…” (QS. Al-Furqon [25]: 28-29)

Karena temannya, kita kita bisa masuk neraka. Saat itu kita baru menyesal di dalam api neraka.

Teman yang dipilih adalah teman yang akan mengantarkan ke surga, bisa menjaga ketakwaan, dan membantu istiqomah kita di jalan Allah SWT. 

Disebutkan dalam sebuah atsar, ada seseorang bertanya, “Siapa teman yang terbaik?” Maka orang ini berkata, “Temanmu yang terbaik yaitu teman yang apabila kamu melihatnya membuat kamu ingat kepada Allah.” Yaitu teman apabila dia berbicara, bertambah keilmuanmu dan apabila ia beramal bertambah keimananmu.

Teman-teman yang shalih itu adalah perhiasan yang terindah di dunia ini selain istri yang shalihah. Bersama teman shalih kita mendapatkan manfaat, yaitu manfaat dari ilmunya, manfaat adabnya, manfaat juga dari ketakwaannya.

  1. Pribadi salih membawa syafaat

Kita tidak tahu akhir dari kehidupan dunia ini akan membawa kita pada kehidupan akhirat yang penuh kenikmatan di surga, ataukah kehidupan yang penuh kesengsaraan di neraka disebabkan dosa-dosa kita. Kita juga tidak tahu, mungkin saja di antara teman-teman yang bergaul dengan kita ada yang merupakan calon penghuni surga disebabkan oleh amal mereka dan rahmat Allah atasnya. 

Di hari kiamat nanti, teman-teman kita mendatangi Allah meminta syafaat agar kita yang masuk ke dalam api neraka bisa keluar. 

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, bahwa ketika kaum mukminin telah melewati jembatan Shirath, mereka pun datang kepada Allah dan berkata: “Wahai Rabb kami, mereka selalu berpuasa bersama kami, shalat bersama kami, dan berhaji bersama kami.”  (HR. Muslim)

Di dunia, teman salih adalah penjaga hati ini dari maksiat dan hawa nafsu untuk melanggar ketentuan Allah. Di akhrait, teman salih dapat menjadi wasilah mengalirnya syafaat. 

  1. Tali persahabatan yang membawa pengaruh baik

Bergaul dengan orang sholeh menyebabkan kita selalu mendapat kesempatan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Pengingat kebaikan yang setiap saat kita dapatkan ini dapat menjadi pengubah kepribadian. Kita yang memiliki banyak kelemahan bisa menjadi lebih kuat setelah mendapat penguatan dari keluarga salih. Kita yang mencari jalan taubat dapat mendapat bimbingan dari mereka jalan terbaik kepada Allah. 

Imam Al Bukhari meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.”

Keluarga salih, meskipun jauh tempat tinggalnya, adalah lalyak kita bersilaturahmi kepadanya karena mereka bagaikan pemilik minyak wangi. Dengan menjalin persahabatan dengan mereka, kita akan terkena bekas aroma wanginya hingga akhirnya ikut menjadi benar-benar wangi seperti mereka.

  1. Didoakan oleh mereka

Doa orang salih berbeda dengan doa orang-orang yang tidak salih. Dengan hubungannya kepada Allah yang lebih dekat, orang salih lebih memungkinkan doanya terijabah. Yang menyenangkan lagi, orang-orang salih sangat mengerti pentingnya berdoa dan biasanya gemar mendoakan orang lain. 

Inilah pentingnya bersahabat dengan keluarga orang salih. Kita akan mendapatkan doa dari mereka meskipun kita tak harus mengetahui kapan mereka berdoa dan doda apa saja yang mereka pintakkan kepada Allah untuk kita. Sebab, orang-orang yang sholeh, disebabkan kehati-hatiannya terhadap pujian manusia dan memamerkan amal, bisa jadi tidak menunjukkan secara terang-terangan mengenai doa yang dipanjatkannya untuk kita. Kita hanya bisa merasakan ketenangan dan nyaman dengan mereka setiap kali bersama. 

Di luar doa yang secara diam-diam dipanjatkan oleh orang salih untuk kita, tiidak ada salahnya kita hadir kepadanya dengan maksud terang-terangan meminta untuk mereka doakan. Minta didoakan orang salih adalah boleh, sepanjang kita tetap meyakini bahwa yang mengabulkan doa hanyalah Allah SWT. 

  1. Sebagai ikhtiar memperbaiki kesalihan 

Yang paling penting dari persahabatan dengan keluarga salih adalah agar kita belajar dari kesalihan mereka, untuk berusaha menjadi salih seperti mereka juga. 

Bersama orang salih, kita dapat mengukur kesalihan kita. Dalam hadis Imam Abu Daud dan Imam At Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.”

Jadi, jalinan hubungan dengan orang salih dapat menjadi awal proses bagi kita untuk menjadi salih juga seperti mereka. Bahkan Imam Ibnu Athaillah percaya bahwa seseorang bertemu dengan orang sholeh merupakan pertanda orang tersebut memiliki kesholehan yang Allah ridhai. 

Kenalkan anak dan seluruh keluarga kepada keluarga salih dengan cara mengunjungi tokoh-tokoh yang alim dan taat beribadah. Jaga hubungan perkenalan ini dengan tetap bersilaturahmi pada mereka. 

 

[Yazid Subakti]

Menghindarkan Anak dari Sikap Tasyabbuh

Menghindarkan Anak dari Sikap Tasyabbuh

Parenting – Tasyabbuh artinya meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. Tasyabbuh terhadap budaya berarti kita meniru budaya tersebut atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri ini kepada budaya tersebut dan mengikutinya. 

Al-Quran dan As-Sunnah melarang umat islam menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau tingkah laku yang mencirikan kekafiran mereka. Tidak termasuk tasyabbuh jika seseorang meniru segala sesuatu yang tidak termasuk ciri khusus orang-orang kafir, baik aqidahnya, adat-istiadatnya, peribadatannya, dan hal lain selama tidak bertentangan dengan nash-nash serta prinsip-prinsip syari’at, atau tidak dikhawatirkan akan membawa kepada kerusakan.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan kita dilarang bertasyabbuh dengan orang-orang kafir.

Semua perbuatan orang kafir pada dasarnya terbangun atas kesesatan aqidah. Semua perbuatan dan amalan orang-orang kafir yang berhubungan dengan keyakinannya adalah dlalal (sesat), inhiraf (menyimpang dari kebenaran), dan fasad (rusak). Perbuatan menjadi dasar keyakinan mereka, adat-istiadat, ibadah, perayaan-perayaan hari besar mereka, bahkan tingkah lakunya. Berbuat menyerupai mereka, sama maknanya dengan menyesatkan diri seperti mereka.

Bertasyabbuh terhadap orang kafir mengandung makna menjadi pengikut mereka. Jika orang kafir itu mengingkari dan menantang Allah dan rasul-Nya, maka tasyabbuh dengan mereka sama artinya bersama-sama mereka kita mengingkari atau menentang Allah dan rasul-Nya pula.

Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalannya orang-orang yang tidak beriman, Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya, kemudian Kami seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Sikap tasyabbuh adalah cerminan rasa kagum atau kecintaan terhadap yang diikuti. Bukankah salah satu tanda cinta adalah meniru dan mengagumi yang dicintai? Dengan demikian, meniru-niru orang kafir adalah bagian dari tanda mahabbah (kecintaan), kecenderungan, kagum, dan mawalah (loyalitas) terhadap orang-orang kafir beserta kekafirannya. Padahal keharusan seorang muslim adalah mencintai sunnah dan sumber datangnya sunnah, yaitu Rasulullah SAW.

Tasyabbuh menyebabkan seseorang menjadi bagian dari yang dicontoh,

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” 

Ini peringatan dari rasulullah, agar kita tidak meniru perilaku pemeluk aqidah lain hal-hal yang mencerminkan  keyakinannya. Senada dengan peringatan ini, Rasulullah juga mengingatkan agar umatnya menyelisihi kebiasaan umat penganuaqidah lain, yaitu menyelisihi umat yahudi, membedakan diri dengan umat majusi, dan menyelisihi orang-orang musyrik. 

  • Perbuatan yang dilarang dalam tasyabbuh 

Larangan bertasyabbuh berlaku untuk perbuatan yang di dalam islam telah ditetapkan syariatnya. Tasyabbuh dalam Aqidah, yaitu berkeyakinan seperti keyakinan orang-orang selain islam. Ini adalah tasyabbuh yang paling berbahaya hingga menyebabkan seseorang  keluar dari islam (Murtad).

Tasyabbuh dalam perayaan hari raya atau hari besar yang agung. Perayaan-perayaan hari besar sangat rawan dengan acara yang merupakan peniruan terhadap perilaku umat dari keyakinan atau budaya lain yang tidak bermanfaat. Peringatan tahun baru masehi dengan meniup terompet adalah contoh yang paling nyata. Tasyabbuh dalam Ibadah, yaitu menjalan syariat islam dengan kaidah dan nuansa yang tidak mencerminkan keislamannya.

Mungkinkan seorang muslim beribadah dengan tata cara yang meniru agama lain? 

Mungkin saja, yaitu merayakan pernikahan dengan sajian acara dan perjamuan yang menyerupai cara orang kafir menyajikannya. Pesta makan sambil berdiri denga iringan music yang memperyunjukkan aurat dan lagu-lagu yang melalaikan, serta dansa berpasang-pasangan yang bukan suami istri. Acara ini sangat biasa diselenggarakan oleh penganut keyakinan lain, dan dipengaruhi oleh apa yang diyakininya.

Tasyabbuh dalam tradisi dan perbuatan. Tasyabbuh yang paling tercemar adalah meniru keyakinan umat selain islam dalam menjalankan tradisi dan berperilaku. Contoh yang paling banyak adalah berpakaian dengan cara dan model meniru kebiasaan pakaian orang-orang tidak beriman yang menampakkan aurat atau jenis pakaian yang memamerkan kesombongan. Dalam perbuatan, tasyabbuh yang paling banyak terjadi tanpa kita sadari adalah berucap salam seperti salam orang tidak beriman atau bahkan menggunakan salam yang biasa oleh pemeluk selain islam. 

  • Menghindarkan anak dari perayaan menyerupai orang kafir

Suatu saat, anak akan mendapat undangan untuk menghadiri acara ulang tahun temannya. Pada pertemanan umum di masyarakat atau sekolah yang tidak berkarakter khas islam, anak akan mendapatkan nuansa pergaulan yang beragam (plural). Jika teman-temannya banyak berbeda keyakinan, maka nuansa pergaulan yang berbeda adalah wajar. Tetapi yang paling sering terjadi adalah berteman dengan sesama muslim, sedangkan pemahaman dan nuansa keislaman keluarganya kurang mendapat perhatian. 

Di pesta ulang tahun anak, acara yang paling umum adalah meniup lilin di hadapan kue tart yang sebelumnya dengan membayangkan cita-cita anak, kemudian para tamu bertepuk tangan sambil bernyanyi. 

Tidak ada yang salah dengan nyala lilin dan membayangkan cita-cita. Tetapi islam mengajarkan pentingnya muhasabah ketika seseorang berkurang usianya, serta dengan doa kepasrahan dan pertaubatan. Membayangkan cita-cita di hadapan lilin dan kue tart adalah cermin tidak adanya standar keimanan dalam meraih cita-cita. Yang lebih tidak masuk akal, ketika anak merayakan ulang tahun dengan tradisi yang mencerminkan ketiadaan iman, orang tuanya berdoa agar anaknya menjadi anak yang salih. Bagaimana mungkin orang tua di satu sisi mendoakan anaknya salih, sambil di sisi lain mengkondisikannya berpesta meniru perilaku orang kafir? 

Bagi remaja, hari yang mereka anggap spesial seperti valentines day adalah saat-saat  mereka mudah lepas kontrol dengan merayakannya menyerupai orang-orang kafir. Valentines day yang mereka artikan hari kasih sayang itu perayaannya dengan nuansa penuh kemaksiatan syahwat antara laki-laki dan perempuan. Padahal dalam sejarahnya, sejarah hari valentine jauh dari kisah seputar kasih sayang.

 

[Yazid Subakti]

Mengagumi Momen Keislaman – Bagian 2

Mengagumi Momen Keislaman – Bagian 2

Parenting – Islam memiliki hari-hari besar atau momen keislaman yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Momentum  bermakna ini berhubungan dengan suatu peristiwa penting yang pernah terjadi di  zaman Rasulullah, atau hari-hari yang memang dikhususkan oleh Allah keutamaannya. Umat islam menghadapinya sebagai hari istimewa dengan bentuk sambutan yang istimewa pula.

Lailatul Qodar jatuh pada 10 malam ganjil terakhir di bulan Ramadhan, yang memungkinkan beriringan dengan nuzulul Qur’an. Ini  merupakan malam terpenting yang terjadi hanya pada bulan Ramadhan dalam setiap tahun, dan tidak ada yang mengetahuinya di malam yang mana akan tiba. 

Malam Lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan. Artinya, amalan ibadah pada malam ini akan mendapat balasan oleh Allah dengan pahala berlipat lebih dari seribu kebaikan dari pada bulan-bulan biasa.

Laiatur Qadar dapat menjadi malam pemacu amal ibadah. Ajak anak melakukan iktikaf (berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah)  pada malam-malam yang diperkirakan akan turun lailatul qadar, yaitu di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Selama iktikaf, memperbanyak zikir kepada Allah, shalat sunnah, dan membaca All-Qur’an. 

Lailatul Qadar juga menjadi momentum bagi keluarga untuk melatih hati dan pikiran agar tidak terlalu lekat dengan urusan dunia. Manusia seharusnya lebih dekat dengan urusan akhirat daripada dunianya. 

  • Tahun Baru Islam

Momentum ini merupakan hari awal pergantian tahun hijriyah, yaitu pada tanggal 1 Muharram. Hari ini bukan menjadi perayakan, tetapi menjadi tonggak kehidupan untuk melangkah lebih baik daripada tahun sebelumnya. 

Tahun baru hijriyah adalah momentum muhasabah untuk bertaubat atas dosa dan kesalahan masa lalu yang terlanjur terjadi, kemudian memohon ampun kepada Allah  agar mengampuni. Sebagai konsekuensi dari pertobatan ini, kita akan bertekad mengisi tahun berikutnya dengan amal ibadah yang lebih baik dan menjaga diri dari dosa-dosa. 

Tidak ada ritual atau mitos tertentu yang dapat dipercayai seputar tahun baru hijriyah. Anak harus diyakinkan bahwa persiapan menuju masa depannya dapat diukur dengan momentum ini. Anda dapat mengingatkan kegagalan atau kesalahan apa saja yang pernah terjadi di tahun lalu untuk tidak diulanginya kembali. Apa saja yang ia raih selama ini harus lebih ditingkatkan di tahun mendatang. Dan tidak lupa memohon kepada Allah agar mendapat karunia usia yang berkah, yaitu usia yang senantiasa membawa kebaikan. 

  • Maulid Nabi

Maulid nabi artinya hari kelahiran nabi Muhammad SAW. Momen istimewa ini setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal setiap tahunnya. Pada saat itulah Rasulullah SAW lahir sebagai lelaki agung yang membawa keberkahan dan kemuliaan.  

Peringatan maulid nabi ini pertama kali perayaannya oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Ketika memperingatinya, beliau membacakan kisah tentang sejarah kelahiran Nabi sampai dengan perjuangan Nabi untuk Umatnya yang penuh pengorbanan. Perjuangan ini menjadi contoh yang baik bagi umatnya, agar terus dalam bentuk dakwah dan jihad menegakkan islam. 

Memperingati maulid nabi adalah aktivitas kebaikan (hasanah) yang mengandung banyak manfaat dan hikmah. 

Pada acara peringatan maulid nabi, masjid-masjid atau sekolah islam mengadakan pembacaan salawat dan barjanji sebagai pembuktian cinta kepada Nabi, menghadirkan ulama untuk memberikan motivasi berislam. Maulid nabi adalah mentum untuk mengembalikan semangat ittiba dan mengikuti sunnah Rasul, hari penuh keutamaan yang bertebar nasehat-nasehat untuk meneladani akhlak terpuji Rasulullah SAW. 

Ajak anak ke majelis pengajian atau acara maulid nabi tempat nasihat keteladanan Rasulullah. Biasakan membaca atau memperdengarkan kalimat salawat nabi untuk mempersering baginya berinteraksi dengan nama rasulullah. Sampaikan kebaikan dan kehebatan Rasulullah SAW serta cintanya kepada umat, agar di hati anak tumbuh kerinduan untuk bertemu dengannya. Dan tidaklah manusia akan bertemu dengannya, kecuali kelak di surga. 

  • Isra’ Mi’raj

Isra adalah perjalanan pada malam hari (dari masjid Al Haram Mekkah menuju Masjid AL Aqsha Palestina) sedangkan Mi’raj adalah perjalanan dari bumi (masjid al Aqsha) menuju sidratul muntaha di langit ke tujuh. 

Rasulullah melakukan isra mi’raj atas undangan Allah dengan perantara Malaikat Jibril berkendaraan buraq, untuk menerima tugas atau kewajiban sholat lima waktu kepada beliau beberapa tamsil atau contoh balasan kehidupan di akhirat atas perbuatan manusia selama hidup di dunia. 

Peristiwa isra’ mi’raj ini terjadi dalam satu malam, pada tanggal 27 Rajab. Sebagai hari mulainya salat lima waktu, peringatan isra miraj ini mengingatkan kita untuk memperbaiki kualitas salat. Kepada anak, ingatkan kembali kesungguhan salatnya karena ibadah ini adalah ibadah yang perintahnya langsung oleh Allah  kepada rasulullah SAW. Karena perintah salat ini langsung oleh Allah saat rasulullah menemui-Nya di sidratul muntaha, maka kita harus merasa terawasi langsung oleh Allah setiap kali menjalankan salat.  

  • Ada banyak perayaan atau hari besar yang lain 

Ada banyak perayaan yang berkembang di masyarakat kita. Beberapa perayaan atau haris besar berhubungan dengan sejarah bangsa (misalnya hari kemerdekaan), agenda Negara (misalnya hari libur kenaikan kelas), hari besar agama selain islam (misalnya natal atau waisya), atau hari besar lain yang memang sudah lama berlaku dan menjadi kesepakatan di seluruh dunia (misalnya tahun baru masehi). Sebagian hari yang istimewa bahkan tidak ada menurut hukum dari manapun, melainkan hanya sekedar kebiasaan masa lampau yang terus menerus hidup (misalnya valentines day atau Apri Momp). 

Kita mengikuti, dan terlibat dalam peringatan hari yang merupakan momentum sejarah perjuangan bangsa. Ini baik sebagai latihan bagi anak untuk memupuk jiwa patriot dan kesadaran mencintai bangsanya. Kita juga dapat memahami bawah pemeluk keyakinan lain memiliki hari raya yang mereka rayakan. Juga, kita tidak dapat mengelak bahwa ada kesepakatan akan tanggal tertentu yang berlaku untuk seluruh dunia semisal tahun baru masehi.

 

[Yazid Subakti]

Mengagumi Momen Keislaman – Bagian 1

Mengagumi Momen Keislaman – Bagian 1

Parenting – Islam memiliki hari-hari besar atau momen keislaman yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Momentum bermakna ini berhubungan dengan suatu peristiwa penting yang pernah terjadi di  zaman Rasulullah, atau hari-hari yang memang dikhususkan oleh Allah keutamaannya. Umat islam menghadapinya sebagai hari istimewa dengan bentuk sambutan yang istimewa pula. 

Momentum istimewa ini mengandung hikmah sebagai  sarana memperbaiki keimanan dan membangkitkan kembali semangat keislaman. Hari besar juga mengandung pelajaran, bahwa umat saat ini sebaiknya merenungkan apa yang terjadi di masa lampau.

Hari raya besar islam ada dua, yaitu Idul Fithri yang setiap tanggal 1 Syawal dan Idul Adha  yang setiap tanggal 10 Dzulhijjah. 

Salah satu hikmah ditetapkannya hari raya Oleh Rasulullah adalah agar umatnya menikmatinya sebagai momentum untuk bersenang-senang.

Sahabat Anas ra berkata, “Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai dan Ahmad).

Ketika anak-anak menjumpai hari raya, keharusan orang tua adalah mengajaknya bersenang-senang dan bergembira sebagai ungkapan syukur atas nikmat Allah. 

Kegembiraan ini boleh dengan berbagai permainan atau kesenangan di dalamnya, selama tidak bermaksiat kepada Allah dan tidak melakukan perbuatan yang meniru kebiasaan kaum jahiliyah.  

Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari).

  • Bergembira saat Idul Fitri 

Idul fitri terjadi setiap tanggal 1 syawal, atau kita kenal dengan istilah lebaran. Hari raya Idul Fitri ini merupakan hari kemenangan bagi Umat Islam yang telah melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Selama berpuasa, kaum muslimin menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya. Selain itu, selama puasa juga harus menjaga lisan, hati, pikiran, dan perbuatan yang dapat mengurangi atau merusak pahala puasa. 

Sebulan penuh menahan diri dalam haus dan lapar, hingga akhirnya tiba awal bulan Syawal sebagai hari kemenangan. Seluruh hamba wajib mengeluarkan zakat fitrah sebagai pensucian diri. Di hari ini manusia kembali dalam fitrahnya atau kembali suci seperti bayi yang baru lahir.

Selain bergembira sebagai ekspresi kemenangan melawan nafsu diri, kondisikan anak-anak untuk bersedia  saling memaafkan dan menjalin silaturahmi dengan sesama. 

  • Memetik hikmah Idul Adha

Idul Adha atau hari raya kurban atau lebaran haji. Hari mulia ini perayaannya setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Pada hari inilah kaum muslimin melakukan ibadah haji di Makkah dan di seluruh dunia umat Islam melaksanakan sholat Idul Adha. Setelah salat idul Adha, kaum muslimin melakukan penyembelihan kurban untuk membaginya kepada sesama.

Idul Adha mengingatkan kembali pada masa-masa kehidupan Nabi Ibrahim as dan puteranya, Nabi Ismail as. Hikmah hari raya ini bagi anak adalah pelajaran mengenai kecintaan kepada Allah yang tak boleh melebihi kecintaan kepada apapun, termasuk keluarga. Dengan peristiwa datangnya kibas oleh malaikat jibril untuk menggantikan Ismail sebagai kurban, anda dapat meyakinkan anak bahwa kita hanya mendapat perintah untuk taat kepada-Nya. Jika perintah ketaatan itu terasa tak masuk akal, sesungguhnya Allah memiliki rencana lain yang lebih indah daripada yang mampu kita pikirkan. Allah tidak akan membuat celaka kepada hamba yang taat kepada-Nya. 

Hikmah lainnya adalah kesediaan untuk berkurban, yaitu merelakan apa yang dimiliki untuk dibagikan kepada orang lain sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang. Kurban adalah menyembelih hewan ternak (Kambing, sapi, atau unta) dengan memilihnya yang paling baik. Hewan paling baik ini dipilih bukan untuk dimiliki, tetapi disembelih untuk dibagikan dagingnya kepada sesama. 

  • Merenungi Al-Quran di hari Nuzulul Qur’an

Nuzulul Qur’an artinya hari saat turunnya ayat Al-Qur’an pertama kali melalui perantara, yang kemudian terkumpul berupa Al-Qur’an. Momentum istimewa ini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. 

Hikmah dari nuzulul Qur’an adalah umat islam merasakan kembali saat-saat turunnya ayat pertama. Kemudian Rasulullah SAW harus menyampaikan ayat ini kepada umat manusia yang kebanyakan menentangnya. Perjuangan membumikan Al-Qur’an di awal-awal turunnya ayat sangat berbeda, penuh tantangan dan ancaman. 

Momentum Nuzul Quran adalah saat-saat meyakinkan kepada anak bahwa kitab Al-Qur’an itu benar-benar kalam Allah. Anda dapat memanfaatkan momen ini untuk memotivasi anak lebih serius mempelajari Al-Qur’an. Jika Rasulullah dan para sahabat memperjuangkan AL-Qur’an dengan penuh pengorbanan, maka saat ini pun perlukan pengorbanan untuk mempelajarinya, menghafal, dan berusaha mentaati perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. ingatkan anak jangan pernah lepas dari Al-Qur’an. Ini adalah kitab yang nanti akan mendapatkan pertanyaan di alam kubur. Kitab yang menjadi sebab manusia selamat dunia dan akhiratnya. 

 

[Yazid Subakti]

Anak yang Tidak Terbiasa dalam Toleransi

Anak yang Tidak Terbiasa dalam Toleransi

Parenting – Anak yang mengabaikan toleransi akan mudah menilai orang lain yang berbeda dengan dirinya. Ia mudah bersikap sinis dan agresif. Ketidaksukaannya dapat ditunjukkan dengan mengganggu, menyerang, mengejek, dan melakukan kekerasan dan kekacauan pada orang lain. Dalam kondisi lemah, anak yang tidak terlatih bertoleransi akan menarik mundur dirinya dari lingkungan sosial yang dihadapinya. Ia tidak mau bergaul, tidak merasa memerlukan teman, dan menganggap bahwa hubungan dengan orang lain adalah sumber masalah. Akibatnya, ia tidak memiliki teman, terkurung dalam kesendirian dan beban mental menumpuk karena tidak menemukan saluran keluar. Anak seperti ini sangat mudah tertekan atau mengalami stress. 

Anak yang tidak bertoleransi biasanya tumbuh dari keluarga yang tidak toleran, atau didik oleh orang tua dan lingkungan sekolah yang juga kurang memberi contoh toleransi. Keluarga yang menutup diri dari lingkungan masyarakat memberi peluang anak-anak juga tertutup dari pergaulan masyarakatnya. Sekolah yang eksklusif mempersempit muridnya melihat perbedaan yang beragam. Lama-lama anak tidak terbiasa dengan perbedaan, lalu menganggap semua yang berbeda itu kesalahan yang harus dikoreksi atau dijauhkan.    

Batas toleransi dalam Islam

Toleransi dapat bermakna kesabaran dan kekuatan menahan diri menyikapi perbedaan. Hasil pemahaman toleransi adalah sikap menghormati dan menghargai, menghindari terjadinya diskriminasi dan berat sebelah terhadap kelompok-kelompok atau individu yang berbeda. 

Meskipun toleransi memberi peluang untuk turut serta dalam perasaan dan pilihan orang lain yang berbeda, harus dipahami  bahwa ramah terhadap perbedaan tidaklah semakna dengan larut di dalamnya. Menghormati suatu suku beserta karakternya tidaklah bermakna meleburkan diri ini untuk menjadi suku tersebut bukan? Menghormati pemilik kulit hitam  tidak bermakna menghitamkan kulit sendiri yang awalnya kecoklatan, menghormati hobi teman tidak berarti bergabung dalam klub mereka, menghargai nasib orang tidak berarti mengubah nasib diri seperti mereka juga.  

Dalam kaitannya dengan keyakinan atau akidah, toleransi tidak mengubah keyakinan sama sekali. Bertoleransi tidak sampai pada penyesuaian aturan syariat di dalamnya, dan tidak memasukkan nuansa keyakinan lain di dalamnya. 

  • Turunnya ayat toleransi

Allah menyinggung toleransi keyakinan dalam surat Al-Kafirun dari ayat 1 sampai ayat 6. Surat ini turun pada puncak upaya bertoleransi antara orang-orang Qurays penganut keyakinan lama, dengan Rasulullah SAW beserta pengikutnya yang sudah berislam. 

Ketika itu perselisihan keyakinan terjadi antara Rasulullah bersama penganut muslimnya dengan keyakinan jahiliyah sampai pada situasi yang sangat memanas. Untuk meredakan ketegangan, kaum Quraisy meminta terhadap Nabi Muhammad SAW agar beliau mengajak kaum muslimin bergiliran penyembahan terhadap dua Tuhan: hari tertentu bersama-sama menyembah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad dan esok hari menyembah Tuhan kaum Quraisy. 

Dengan alasan keadilan, pemuka Quraisy berpendapat bahwa kompromi dalam menyembah tuhan secara bergantian adalah cara terbaik bertoleransi antar agama. Rasulullah SAW tidak langsung menyepakati perjanjian ini, hingga mendapat petunjuk dari Allah dengan turunnya surat AL Kafirun ayat 1-6. Inti dari pesan wahyu ini adalah Allah memberi penguatan kepada umat islam untuk tetap teguh pada agamanya.

Allah menegaskan larangan bagi umat islam beribadah dengan cara ibadah agama lain (la a’budu ma ta’budun), melarang kaum muslim memaksan penganut agama lain beribadah secara islam (wala antum abiduna ma a’bud), yang kemudian akhiri dengan penegasan mengenai bahwa antara agama yang satu dengan lainnya tidak boleh bercampur. Allah menghendaki bahwa islam akan tetap teguh dengan keislamannya, sedangkan yang bukan islam biarkan dengan ketidak islamannya. 

  • Lakum dinukum waliyadin 

Allah mengajarkan kepada hamba-Nya prinsip toleransi keyakinan yang paling baik, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6).

Ibnu Jarir Ath Thobari berpesan mengenai ayat ini, bahwa maknanya adalah, 

 “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425).

Inilah prinsip  toleransi yang paling sesuai dengan keadaan, yaitu tetap bertahan pada akidah, tetap dalam keislaman dan keimanan sambil berbuat baik kepada semua orang. 

Mengenai keyakinan yang mereka anut, biarlah itu urusan Allah dengan mereka. 

Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41) 

Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)

  • Tidak terlibat dalam perayaan agama mereka, tidak larut maksiat bersama mereka

Perayaan agama adalah bagian dari pembuktian iman sesuatu agama, dan merupakan rangkaian ibadah dengan keyakinan hati. Seorang muslim menghormati dan turut menjamin ketenteraman agama lain merayakan perayaan agamanya, tanpa perlu terlibat kegiatan ibadah di dalamnya. 

Dalam bekerjasama muamalah, sebagian dari kebiasaan penganut agama lain haram bagi syariat islam. Penganut agama lain tidak memandang sebuah kesalahan ketika menampakkan aurat, menghidangkan makanan dari daging babi, atau minuman mengandung alkohol karena ketentuan syariatnya memang berbeda.  Terhadap hal ini, kita tidak mencela tetapi juga tidak terlarut di dalamnya, cukup menghindar dengan mengatakan bahwa agama islam tidak memperbolehkan itu semua. 

  • Batas toleransi 

Surat Al Kafirun adalah batas toleransi yang langsung berasal dari wahyu Allah, bukan hasil pemikiran dan lisan manusia. Terhadap apa yang telah Allah tetapkan, sikap seorang hamba adalah mendengar dan taat pada-Nya. 

Jadi, anak mendapat batas toleransi menghadapi perbedaan dengan batas-atas berikut ini, 

    • Bertoleransi hanya dalam urusan muamalah, yaitu urusan keduniaan yang sama sekali tidak ada hubungannnya dengan keyakinan dan tata cara beribadah. Urusan ini misalnya dalam jual beli, urusan politik, pengembangan kebudayaan, inovasi teknologi, dan lain-lain .  
    • Kerjasama saling memberi rasa aman dalam beragama, tanpa menjadi bagian dari agama yang berbeda. 
    • Berbuat dan berprasangka baik terhadap semua perbedaan yang ada, tanpa harus mengubah identitas diri menjadi seperti yang dihadapi. 
    • Berbuat adil dan bijak kepada setiap perbedaan, yaitu tidak membanding-bandingkan atau menganggap perbedaan itu sebagai sesuatu yang buruk. 
    • Memberi pertolongan dan bantuan kepada semua orang yang membutuhkan, yaitu bantuan yang meringankan kehidupan dunianya tanpa terpengaruh keyakinan mereka. 
    • Tetap menjalin hubungan kerabat  pada orang tua atau saudara berbeda agama, berbeda budaya atau perbedaan lain. Jika ada kerabat yang menganut agama lain, mereka tetap berhak dihargai dan diperlakukan sama seperti kerbata yang lain.  
  • Menampakkan kebaikan islam 

Toleransi adalah pembuktian bahwa islam ramah dan baik bagi semua penganut keyakinan dan pemilik perbedaan. Penghormatan terhadap sesama meningkatkan simpati orang lain terhadap islam. 

Rasulullah SAW tetap menganjurkan agar kita saling memberi hadiah kepada sesama, tanpa membedakan keyakinan.  

Dari Ibnu ‘Umar ra, beliau berkata,

Umar pernah melihat pakaian yang seseorang beli lalu ia pun berkata pada Nabi SAW, “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi SAW pun berkata, 

Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah SAW didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?

Nabi SAW menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya  di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari). 

Begitulah, sahabat mulia ‘Umar bin Khattab gemar berbuat baik dengan memberi pakaian pada saudaranya yang non muslim.

 

[Yazid Subakti]

Toleransi dalam Perbedaan yang Damai

Toleransi dalam Perbedaan yang Damai

Parenting – Toleransi disebut al-samahah atau at-tasamuh. Istilah ini berarti memudahkan dan bermurah hati, atau bertenggang rasa dan memberi tempat kepada orang lain. Makna toleransi seperti ini terkandung dalam beberapa firman Allah, misalnya,

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Q.S. al-Baqarah [2]: 185).

Allah sama sekali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Q.S. al-Hajj [22]: 78).

  • Menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili toleransi dalam Islam meliputi lima nilai dasar, yaitu 
  • Persaudaraan atas dasar kemanusiaan 
  • Pengakuan dan penghormatan terhadap yang lain
  • Kesetaraan semua manusia 
  • Keadilan sosial dan hukum 
  • Kebebasan yang ada dalam undang-undang 

Setiap anak akan menemukan sekumpulan orang yang berbeda dengannya. Saat ia bersekolah sampai perguruan tinggi, ia menemukan orang-orang dengan latar belakang dan sifat yang berbeda. Saat bergaul di masyarakat, ia menjumpai orang-orang yang tidak sama status sosial dan keyakinan. Kelak pada saat ia menjadi tokoh atau pemimpin umat, ia harus dapat memahami bahwa yang ia pimpin adalah orang-orang yang tidak dapat memaksanya untuk sama dalam banyak hal. Ia harus menemukan cara untuk berdamai dalam perbedaan-perbedaan.

 Manfaat Toleransi 

Bayangkan jika sekelompok orang hanya mau bertemu dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengan mereka saja: suatu suku hanya bersedia bekerjasama dengan orang-orang yang sesuku, penganut agama tertentu hanya mau bertegur sapa dengan orang-orang seagama, atau orang kaya hanya mau bergaul dengan sesama orang kaya. Kehidupan di masyarakat tidak akan berjalan dengan cara ini. Perdagangan tidak akan ramai, kebudayaan tidak berkembang, teknologi tidak mengalami kemajuan, dan keamanan menjadi terancam. Kehidupan menjadi lancer berjalan karena kesediaan orang-orang untuk saling bekerjasama, sedangkan antara satu orang dengan orang lain yang bekerjasama itu tidak mungkin mengandalkan dari satu golongan yang sama.  

Karena dalam perbedaan tersimpan peluang terjadinya konflik, maka sikap toleran berguna sebagai tali untuk  saling mempererat hubungan. 

  • Memudahkan kesepahaman

Inti dari toleransi adalah memperbesar kesediaan untuk saling memahami, dan memperkecil keinginan untuk dipahami. Semua orang ingin dipahami, dan senang ketika bekerjasama dengan orang lain yang mudah memahaminya.

Latihan toleransi paling awal bagi anak adalah memahami perbedaan perbedaan hak dan kewajibannya di rumah dibanding dengan saudara-saudaranya. Anak laki-laki mendapatkan hak sebagai anak laki-laki yang dalam beberapa hal tidak sama dengan hak anak saudara perempuannya. Seorang kakak yang kebutuhan sekolah dan pergaulannya lebih rumit memiliki fasilitas yang lebih banyak daripada adik yang tingkat sekolah dan kehidupannya lebih sederhana. Tetapi dalam pembebanan, seorang kakak menanggung tanggungjawab lebih berat dibanding adiknya. Anak yang sedang sakit mendapat perhatian lebih besar dari orang tuanya dibanding saudaranya yang sedang dalam keadaan sehat. Tetapi anak yang sehat mendapat kebebasan bermain lebih banyak dibanding saudaranya yang sedang sakit.

Orang tua harus memahamkan itu semua kepada anak, dan memerankan diri sebagai sosok yang tidak mudah mempersoalkan perbedaan.  

  • Menghindarkan perpecahan

Allah melarang perpecahan dan mewajibkan persatuan umat dengan tetap berpegang teguh pada tali agama-Nya. 

Manusia dengan berbagai kepentingannya suatu saat harus bekerjasama dengan orang lain. Sisi lain dari kerjasama atau jalinan hubungan adalah timbulnya konflik atau persaingan. Setiap kali bertemu konflik dan persaingan, semua orang ingin menjadi pemenang. Ketika kontrol diri kurang, perjuangan merebut kemenangan ini akan mudah tenjadi tindakan yang menyakiti, curang, licik, kasar, dan merusak. Mungkin saja konflik atau persaingan ini tidak sampai melanggar hukum, tetapi dampak yang timbul adalah rusaknya hubungan. 

  • Melatih diri untuk bersikap  menghargai 

Bertoleransi adalah latihan bagi anak untuk melatih dirinya untuk menghargai, yaitu memberi pandangan positif bahwa setiap manusia memiliki perbedaan-perbedaan. Ada perbedaan yang munculnya berawal dari takdir yang tidak mungkin berubah, seperti halnya suku atau ras dan semua ciri yang ada di dalamnya. manusia tidak bisa mengubah kesukuan atau rasnya dan menghilangkan ciri genetis yang ia bawa sejak lahir karena orang tua dan nenek moyangnya memang seperti itu. Perbedaan yang terjadi sebagai akibat dari proses pencarian dan nasib yang  tidak sama, seperti status sosial yang menjadikan seseorang berada di keluarga kaya dan miskin. Ada perbedaan yang disebabkan oleh pengaruh lingkungannya seperti penggunaan dialek dan gaya komunikasi dalam bergaul. Ada perbedaan yang merupakan pilihan dan selera pribadi yang tak mungkin memaksa seperti keyakinan beragama, selera makanan, selera pakaian, dan hobi. 

Semua itu sudah terjadi. Saat ini melanda pada seseorang atau sekelompok orang, yang mereka inginkan adalah dihargai sebagaimana kita juga ingin dihargai oleh mereka.      

Saat berbincang dengan anak, anda  dapat mengajaknya merenungkan bahwa Allah telah menakdirkannya sebagai suku atau etnis yang saat ini terjadi, menjelaskan nasib yang terjadi saat ini dan kemungkinan mengubahnya, kemantapan berkeyakinan terhadap islam dan tujuan panjang di alam akhirat, serta apa saja hal-hal positif pada lingkungan sekitar. 

  • Melatih kekaguman terhadap kekuasaan Allah  

Toleransi akan membuat individu dapat berpikir lebih positif terhadap apa yang ia hadapi. Pada kenyataannya, Allah menciptakan makhluknya dalam bentuk dan jenis yang berbeda-beda. Dalam satu jenis makhluk yang sama, Allah memuat beberapa keragaman di dalamnya sehingga tetap tidak ada suatu ciptaan yang  sama dalam semua hal. 

Anda dapat mengajak anak untuk mengamati ayam atau kucing yang berbeda-beda warna dan ukuran ekornya meskipun pada jenis yang sama. Pada sebuah hutan atau di suatu kebun, hewan yang bernama burung itu ternyata tidak satu bentuk dan sifat. Sama-sama burung ternyata memiliki nama yang berbeda, bentuk yang berbeda, warna bulu dan ukuran berbeda, bunyi kicau yang beragam, dan perilaku yang tidak sama. Terhadap manusia, Allah menciptakannya dalam satu suku yang sama tetapi ciri wajah dan postur tubuhnya tetap berbeda-beda. Bahkan pada anak kembar pun ternyata tetap terdapat perbedaan, yaitu selera dan sifat-sifatnya.

Ajaklah anak mengamati sebuah pohon yang rindang dan memetik beberapa lembar daunnya. Dari jauh, sekilas tampak bahwa daun-daun itu semuanya sama. Begitu dipetik dan mengamatinya dari dekat, ternyata   daun-daun itu tidak sama persis. Semakin penasaran dengan membandingkannya dengan ribuan daun yang masih di ranting, semakin terpana bahwa semua daun di pohon itu tak satupun yang sama persis ukuran dan bentuknya. Padahal itu baru satu pohon saja. Ajak buah hati untuk merenung, dari bermilyar pohon yang tumbuh pada sebuah hutan, Allah menciptakan semua daunnya dalam bentuk yang tak satupun sama. Betapa kreatifnya Allah. 

Demikianlah perbedaan sebagai sebuah keniscayaan yang akan terjadi sebagai bukti bahwa Allah maha berkuasa atas ciptaannya. Allah bisa menciptakan makhluknya dalam banyak ragam, juga bisa menciptakan makhluknya dalam kondisi yang sama jika Dia menghendaki.  

  • Melatih sifat kepemimpinan  

Salah satu karakter khas seorang pemimpin adalah adil. Dalam banyak situasi, seorang pemimpin harus mengambil jalan musyawarah untuk memutuskan persoalan yang menjadi selisih umat. Musyawarah berarti bermufakat atas suatu perkara, sebagai jalan tengah paling maslahat yang disepakati bersama. Musyawarah tidak membolehkan kecondongan pemimpin pada salah satu kubu orang-orang yang ia pimpin. 

Peristiwa batin paling berat untuk bermufakat dalam musyawarah adalah memahami perbedaan atau meletakkan keinginan pribadi  tidak lebih penting daripada keinginan orang lain. Kadang harus merelakan ambisi pribadi yang menggebu tertunda karena ada kebutuhan orang lain, kadang ada saat harus ikhlas keputusan bersama tidak sesuai kehendak pribadi. 

Itulah pemimpin. Sedangkan kita telah berkata-kali berdoa kepada Allah, memohon anak-anak kita selain menjadi penyejuk hati (Qurrota a’yun) juga Dia jadikan pemimpin orang-orang yang bertakwa (muttaqiina imaman).

 

[Yazid Subakti]

Ikhtiar Menjauhkan Anak dari Gangguan Jin

Ikhtiar Menjauhkan Anak dari Gangguan Jin

Parenting – Jin bersifat ghaib karena tidak tampak oleh manusia. Karena sifatnya yang seperti ini, manusia sering merasa kesulitan ketika harus menghadapinya saat jin mengganggu. Oleh karena itu, cara terbaik menjauhkan gangguan jin adalah melakukan ikhtiar yang menjadikan jin pergi dan melibatkan Allah agar Dia menjauhkan jin itu dari manusia. 

Bagaimana Jin mengganggu ?

Jin tidak berwujud konkret sebagaimana manusia. Jika ditinjau dari zat penciptaannya, jin dibuat dari api yang bersifat seperti senyawa gas. 

Dan dia menciptakan Jin dari nyala api” (QS Ar Rahman : 15)

Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud adalah ujung lidah nyala api, yaitu udara panas yang  dihasilkan oleh api itu. 

Ketika jin masuk ke dalam jasad, ia dapat bersembunyi di otak dan menguasai psikologis manusia, atau bersembunyi di aliran darah di manapun ia suka. 

Dalam beberapa kesempatan ruqyah, kami mengusir jin yang bersembunyi dalam aliran darah di rahim. Jin musyrik ini mengganggu wanita menghalangi keturunan dan jikapun hamil mengancam akan memain-mainkan janin. Karena tidak ada harapan ia masuk islam dan kita tidak diperkenankan secara akidah untuk bekerjasama dengannya, maka satu-satunya cara menghadapinya adalah dengan mengusirnya. 

Jin bisa saja mengganggu anak dengan beberapa alasan, misalnya; 

  • Anda menyimpan jimat atau kekuatan supranatural di rumah. Kekuatan jimat tidak lain adalah jin, yang akan menyertai dan memainkan apa yang ia suka. Termasuk mempermainkan anak.
  • Anda pernah menjadikan jin sebagai khodam (pembantu). Meskipun Anda telah memenuhi semua permintaannya, jin itu akan meminta lebih dan tetap mengganggu.
  • Anda atau keluarga punya riwayat bekerjasama dengan jin. Maka jin cenderung menuntut Anda untuk melanjutkannya sambil mengajak Anda pada kemusyrikan.
  • Anda menempati rumah atau tempat yang sebelumnya jin tempati. Jin itu marah dan mengganggu Anda beserta janin Anda.
  • Anda mengamalkan ilmu gaib dengan mantra dan wirid yang tidak disyariatkan. Jin-jin itu suka dengan wirid Anda dan selalu menyertai.
  • Anda suka dengan ritual adat menggunakan sesajen atau persembahan-persembahan. Semua benda-benda ini adalah makanan kesukaan jin. Anda akan selalu ditagih untuk terus memberinya sesaji.
  • Jin iseng saja. Salah satu sifat jin adalah semaunya sendiri. Jin kafir memang suka jahil tanpa alasan dan sifatnya sangat kejam.

Ruqyah Syar’iyyah 

Pengobatan gangguan jin dapat dengan ruqyah syar’iyyah, yaitu pengusiran jin dengan memohon perlindungan kepada Allah sambil membaca ayat-ayat AL-Qur’an yang menyinggung jati diri jin sehingga jin ketakutan dan akhirnya pergi. 

Ruqyah jenis ini bisa semua orang tua lakukan tanpa ilmu khusus.  

  • Setiap muslim yang ibadahnya benar, mampu membaca AL-Qur’an dengan baik dapat meruqyah.
  • Tidak disertai dengan syarat tertentu atau amalan tertentu. 
  • Tidak memakai benda-benda jimat atau lainnya yang orang yakini memiliki kekuatan.
  • Tak ada bacaan yang maknanya tidak dapat manusia pahami. Semua Bacaan dan do’a terbukti ada dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW.
  • Tidak ada gerakan khusus pengusiran atau penangkapan. 
  • Tak ada ritual khusus, misalnya puasa, melekan (tidak tidur) semedi, dan sebagainya.
  • Tidak ada sesuatupun yang dipersembahkan, misalnya ayam bekakak, rokok dan kopi, menanam arang, kepala binatang, dan sebagainya.

Cara melakukan Ruqyah Syar’iyyah 

Tidak ada mitos orang khusus yang punya kekuatan atau kesaktian mengusir jin. Anda berpotensi menjadi orang yang ditakuti oleh jin, jika memang Anda percaya diri dan dekat dengan Allah SWT. Sebab terapi pada dasarnya adalah memohon kepada Allah agar terjauhkan dari kejahatan jin.

Tidak ada syarat khusus yang harus anda siapkan. Secara umum, semua ayat dalam Al-Qur’an membuat jin kafir tidak nyaman dan akhirnya pergi jika Anda terus menerus membacanya. Jin kepanasan ketika mendengar bacaan ayat Al-Qur’an. 

Secara khusus Anda juga tidak menggunakan ritual tertentu. Cukup dengan menghadap anak atau sambil memegang keningnya dan membaca beberapa ayat-ayat Al-Qur’an serta do’a yang pernah Rasulullah ajarkan.

Ruqyah yang paling mudah adalah sering-sering  membacakannya surat berikut :

  • Ta’awudz dan surat Al-Fatihah
  • surat AL-Baqarah ayat 1 – 5
  • Ayat kursi, yaitu surat Al-Baqarah ayat 255
  • Surat Al-Ikhlas
  • Surah Al-Falaq
  • Surat An-Nas.
  • Membaca sholawat

Bacakan dengan sepenuh yakin, bahwa Allah memberi pertolongan dan jin akan ketakutan hingga akhirnya pergi menjauh.

 

[Yazid Subakti]

Membiasakan Dzikir Pagi dan Sore

Membiasakan Dzikir Pagi dan Sore

Dzikir artinya mengingat, yaitu mengingat Allah dan merasa selalu dekat dengan-Nya dengan cara menyebut-nyebut asma-Nya atau kalimat yang mengagungkan nama-Nya. Selain mendekatkan diri kepada Allah, dzikir adalah salah satu tanda keimanan dan ketaatan manusia kepada Rabb-nya, bukti cinta makhluk kepada penciptanya, dan penguat hati untuk selalu merasa berada dalam lindungan Allah. 

Anak yang dibiasakan berdzikir lebih tenang hatinya, lebih percaya diri dan terjaga dari perbuatan maksiat karena ia selalu menyadari sedang bersama Allah, dilihat dan disaksikan oleh Allah.   

Rasulullah SAW mengajarkan dzikir setiap pagi dan sore, dan dua waktu ini adalah waktu istirahat dan waktu orang lalai. Dua waktu ini pula adalah saat-saat pergantian suasana hari, dari gelap ke terang atau dari terang ke suasana gelap. Di masa-masa ini manusia tidak dapat mengetahui apa yang terjadi untuk keselamatannya sehingga butuh perlindungan dari Allah SWT.

Ibnul Qoyim Al jauziyah berpesan, “Dzikir pagi dan sore ibarat baju besi. Semakin banyak lapisan lempengnya, senjata tidak akan bisa menembus pemakainya. Bahkan, kekuatan baju besi bisa mencapai keadaan, di mana tombak bisa mental dan balik menyerang orang yang melemparnya”

Jadi, biasakan sekeluarga mengamalkan dzikir pagi dan sore sebagai ikhtiar perlindungan diri dari berbagai macam gangguan untuk mengatasi berbagai kemungkinan bahaya yang manusia tidak mengetahui kapan datangnya dan dalam bentuk apa. 

Dzikir mendekatkan anda sekeluarga kepada Allah sehingga dengan kedekatan ini segala permohonan memungkinkan untuk terkabulkan.

Anda dapat membaca dzikir dalam kondisi apapun sambil berdiri, berbaring atau duduk  atau sambil beraktivitas, kecuali di tempat yang terlarang untuk menyebut nama Allah, seperti di toilet. 

  • Bacaan dzikir pagi dan sore 

    • Ayat kursi

Ayat kursi adalah salah satu ayat dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah. Nah ayat ini jika dibaca dapat membuat jin merasa takut kepada Allah dan menjauh dari pembacanya. 

Dari Ubay bin Ka’ab ra, bahwa suatu ketika ada seorang jin yang mencuri kebun kurmanya. Jin itu ia tangkap untuk dilaporkan kepada Nabi SAW. Jin itu pun memelas agar dilepaskan. Sebagai gantinya, dia memberikan satu wirid kepada Ubay. Jin itu mengatakan: Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum…(ayat kursi). Barangsiapa yang membacanya ketika sore maka dia akan dilindungi dari (gangguan) kami sampai pagi.  Barangsiapa yang membacanya ketika pagi maka dia akan dilindungi dari (gangguan) kami sampai sore. Kemudian, Ubay mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian yang dia jumpai. Nabi SAW bersabda: “kali ini si makhluk buruk itu benar.” (maksud makhluk buruk adalah jin tersebut). (HR. An-Nasa’I dan At-Thabrani)

    • Surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas

Surat Al Ikhlas, Al falaq, dan An nas adalah tiga surat pendek yang berisi permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai gangguan, termasuk gangguan makhluk jahat dari golongan jin.
Dari Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ra, bahwa Nabi SAW bersabda: “Ucapkanlah: Qul huwa Allahu ahad dan al-Mu’awwidzataini ketika sore dan pagi tiga kali. Maka hal itu sudah cukup menjadi perlindungan bagimu dari (gangguan) segala sesuatu.” (HR. Abu Daud, At Turmudzi dan shahih oleh al-Albani)

Yang Al Mu’awwidzatain maksudkan adalah dua surat berisi permohonan perlindungan, yaitu AL falaq dan An nas. 

    • Membaca Doa perlindungan pagi hari

dzikirArtinya,

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan milik Allah selalu abadi, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, semata-mata Dia, tiada sekutu baginya, semua kerajaan hanya milikNya, segala puji hanya milikNya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rab-ku, aku mohon kepada-Mu kebaikan yang ada di hari ini dan kebaikan yang ada pada sesudahnya. Dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang ada pada hari ini dan kejahatan yang ada pada sesudahnya. Wahai Rab-ku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kondisi yang buruk di hari tua. Wahai Rab-ku, Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan siksa di kubur”

Doa ini baca tiga kali setiap hari. 

    • Membaca  doa untuk sore hari

dzikirArtinya,

Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan milik Allah selalu abadi, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, semata-mata Dia, tiada sekutu baginya, semua kerajaan hanya milikNya, segala puji hanya milikNya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rab-ku, aku mohon kepada-Mu kebaikan yang ada di hari ini dan kebaikan yang ada pada sesudahnya. Dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang ada pada hari ini dan kejahatan yang ada pada sesudahnya. Wahai Rab-ku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kondisi yang buruk di hari tua. Wahai Rab-ku, Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan siksa di kubur”

Seperti halnya doa pagi, doa ini juga baca dengan mengulangnya tiga kali.

Doa ini seperti yang dari Abdullah bin Mas’ud ra. riwayatkan, beliau  menceritakan, “Ketika masuk waktu pagi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca: “Ashbah-na wa ash-bahal mulku lillaah…dst. dan ketika masuk waktu sore, beliau membaca, amsai-na wa amsal mulku lillaah…dst.” (HR. Muslim)

    • Membaca doa penyerahan diri kepada Allah 

Pada pagi hari, bunyi doa penyerahan itu adalah seperti ini, 

menghindari-jin-bagian-2-doa-penyerahan-sore-hari

Artinya, 

Ya Allah, dengan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati. Dan hanya kepadaMu kebangkitan (semua makhluk)

Untuk sore harinya, kalimatnya menjadi,

menghindari-jin-bagian-2-doa-penyerahan-sore-hari

Artinya, 

Ya Allah, dengan-Mu kami memasuki waktu sore, dan dengan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati. Dan hanya kepadaMu kebangkitan (semua makhluk)

Doa ini sesuai dengan hadits yang dari Abu Hurairah ra, beliau berkata: Ketika masuk waktu pagi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca: “Allahumma bika ashbahnaa….dst.” (HR. At-Tirmidzi)

    • Sayyidul Istighfar

dzikir

Artinya, 

Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu dan keyakinanku terhadap apa yang Engkau janjikan, sekuat kemampuanku. aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau

Sayyidul istighfar artinya pemimpin atau yang menjadi inti dari dari istighfar. Karena dzikir ini mengandung ungkapan makna taubat yang menyeluruh. Di bagian awal, dzikir ini menyebutkan pujian untuk Allah dengan sanjungan yang sangat mulia. Kemudian, lanjutkan dengan menyebutkan kondisi hamba pada keadaan yang paling lemah.  Sehingga, orang yang membaca dzikir ini, berada di puncak sikap menundukkan diri kepada Dzat Yang Maha Agung. 

Dari Syaddad bin Aus ra, Nabi SAW bersabda, “Sayyidul istighfar adalah bacaan: Allahumma anta rabbii….dst. Barangsiapa yang membacanya di siang hari dengan meyakini isinya, kemudian dia meninggal di hari itu sebelum masuk waktu sore maka dia termasuk penduduk surga. Barangsiapa yang membacanya di awal malam dengan meyakini isinya, kemudian dia meninggal sebelum masuk waktu pagi maka dia termasuk penduduk surga.” (HR. Ahmad, Bukhari dan yang lainnya).

 

[Yazid Subakti]

Kebiasaan Buruk Anak yang Dapat Mendatangkan Jin

Kebiasaan Buruk Anak yang Dapat Mendatangkan Jin

Jin bisa hadir dan dekat atau bahkan masuk mempengaruhi kehidupan manusia. Sengaja atau tidak, kehadirannya dapat mengganggu dan menjerumuskan manusia.

Kebanyakan jin datang kepada manusia karena sebagian buruk yang terdapat pada manusianya. Kebiasaan ini karena tidak terbiasa memperhatikan adab-adab sederhana sejak kecil. Tanpa kita sadari, ternyata beberapa kebiasaan buruk tersebut jin sukai hingga akhirnya jin dating dan nyaman berdekatan. 

Saat manusia menguap tanpa menutup mulutnya dengan tangan, jin bisa memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk menyelinap ke dalam. Terutama menguap saat sedang salat.  Rasulullah SAW mengingatkan, “Apabila seseorang menguap dalam salatnya, hendaknya ia berusaha menahan kuapannya sebisa mungkin karena setan bisa masuk.” (H.R Muslim)

Dalam  hadist lain mengatakan, “Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, maka hendaklah ia menahannya sedapat mungkin.” (H.R Muslim)

  • Memakai sesuatu dari bagian kiri tubuh

Islam mengajarkan adab umatnya untuk mengenakan atau memulai segala sesuatu yang baik-baik dari kanan dan  melepas sesuatu atau memulai sesuatu yang jelek dari bagian kiri.

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW sangat menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, ketika menyisir rambut dan ketika bersuci, juga dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ini adalah adab islami sesuai sunnah, yang jika ditinggalkan dapat menjadikan jin berani mendekati manusia.  

  • Makan dan minum tanpa mengucapkan bismillah

Ketika hendak makan dan minum, dianjurkan untuk mengucap, “Bismillah” agar makanan itu bisa menjadi sebab datangnya berkah.

Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia mengatakan, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah SAW, tanganku berseliweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah SAW bersabda,

Wahai Ghulam, sebutlah nama Allah (bacalah “Bismillah”), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (H.R. Bukhari dan Muslim)

  • Makan dan minum dengan tangan kiri

Adab islami ketika makan dan minum adalah menggunakan tangan kanan dan melarang dengan tangan kiri. Ini seperti pesan Rasulullah SAW, “Jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena Setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (H.R Muslim)

  • Tidak mengibas kasur sebelum tidur 

Membersihkan tempat tidur dengan cara mengibaskan sambil membaca Basmalah adalah salah satu sunnah yang mengandung hikmah agar jin tidak datang mengganggu.

Rasulullah SAW telah bersabda,  “Apabila salah seorang dari kalian hendak berbaring di tempat tidurnya, hendaklah ia kibas-kibas tempat tidurnya itu dengan kain. Sebab dia tidak tahu apa yang terjadi pada tempat tidurnya setelah ia tinggalkan sebelumnya.” (H.R Bukhari dan Muslim)

  • Masuk ke dalam kamar mandi tak membaca doa

Salah satu tempat yang setan sukai adalah kamar mandi. Maka kita mendapat anjuran membaca doa memohon kepada Allah agar jauh dari gangguan jin.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan, “Rasulullah SAW ketika memasuki jamban, beliau mengucapkan Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan)” (H.R. Bukhari Muslim)

Anak-anak sebaiknya sejak dini diajarkan doa ini untuk dibacanya setiap kali masuk kamar mandi. 

  • Buang air sembarangan

Islam melarang pemeluknya membuang air sembarangan karena bertentangan dengan kesopanan umum, merusak lingkungan, dihukumi dosa, dan disukai oleh jin. 

Rasulullah SAW bersabda, “Jangan buang air di lubang binatang, di jalan tempat orang lewat, di tempat berteduh, di sumber air, di tempat pemandian, di bawah pohon yang sedang berbuah atau di air yang mengalir ke arah orang-orang yang sedang mandi atau mencuci.” (HR Muslim, Tirmidzi)

Dalam pergaulan dengan teman-teman sebaya, anak-anak (terutama laki-laki) yang sedang bermain kadang tidak tahan untuk kencing lalu menepi dan mengeluarkan air seninya di sembarang tempat. Inilah salah satu perilaku yang menjadi penyebab datangnya jin mengganggu. 

  • Tidur tanpa memohon perlindungan kepada Allah 

Ajarkan kepada  anak ketika tidur untuk tidak lupa berwudhu, kemudian saat berbaring membaca ayat surat Al Ikhlas, surat Al falaq, surat AN nas, dan ayat kursi. Setelah itu, ingatkan agar membaca doa sebelum tidur dan berusaha untuk tidur dengan tenang. 

Ini adalah ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan jin. Maka jin tekut kepada Allah untuk mendatangi manusia yang telah memohon perlindungan kepada-Nya. 

[Yazid Subakti]