Kesalihan Menghendaki Kedisiplinan

Kesalihan Menghendaki Kedisiplinan

Parenting – Kedisiplinan adalah bagian dari karakter yang terbentuk melalui pembiasaan-pembiasaan dalam waktu lama. Jika tidak terbiasa mulai saat ini, anak menjadi tidak terbiasa berdisiplin dan kelak ketika dewasa rentan tumbuh menjadi pribadi yang tertekan oleh aturan, memberontak, dan kurang bertanggung jawab terhadapnya. Banyak orang berbuat kriminal berawal dari ketidaksiapannya untuk berdisiplin, kemudian melanggar undang-undang.

  • Kesalihan menghendaki kedisiplinan

Kesalihan menuntut anak rajin beribadah dengan cara yang benar, menuntut ilmu tanpa mengenal lelah, berjihad tanpa pernah menyerah, berbakti kepada orang tua tanpa pernah durhaka, dan berbuat baik terus menerus. Yang membuat ini semua akan berlangsung adalah kebiasaan disiplin. Sebab ibadah terkait penggunaan waktu yang harus tepat, menuntut ilmu berhubungan dengan kegiatan belajar yang dan jadwal yang ketat, berjihad memerlukan semangat dan kesungguhan, berbakti kepada orang tua memerlukan pengorbanan yang utuh, dan berbuat baik kepada sesama menuntut kesabaran dan tanggungjawab.  

Anak-anak sulit menemukan jati diri salihnya ketika berlatih disiplin saja sudah gagal. Anda dapat mengenalkan latihan disiplin mulai dari hal-hal paling sederhana menyangkut kebutuhan sehari-harinya, misalnya jadwal bangun dan tidur, pembagian waktu untuk belajar dan hobi, jatah istirahat dan waktu bermain, dan pemberlakuan aturan-aturan sederhana di rumah. 

  • Disiplin ibadah

Tak ada yang lebih penting dari ketaatan kepada Allah, yang salah satu wujud nyatanya terbukti dengan ibadah. Disiplin yang paling utama yang wajib diterapkan pada anak adalah disiplin mengerjakan ibadah, terutama shalat lima waktu. Ajak anak (bukan sekedar memerintahnya) untuk tepat waktu dalam solat, benar pakaiannya sebagai pakaian shalat, dan menyiapkan keperluan salatnya secara mandiri. Anda mendampingi, tetapi keperluan salatnya adalah tanggungjawabnya sendiri.

Sampaikan bahwa shalat merupakan tiang agama, maka gagalnya menegakkan shalat (kurang disiplin, kurang serius, dan sebagainya) adalah pertanda buruknya beragama. Artinya, ketidaksungguhan dalam shalat bukan pertanda anak salih. 

Dan dan sebagai orang tua, lagi-lagi harus menjadi contoh penegak shalat yang disiplin. 

  • Disiplin menuntut ilmu

Usia mulai 7 tahun ke atas adalah usia sekolah. Ini memang masa-masa anak harus bersekolah. Jika tidak, anak harus berada pada majelis ilmu yang sehari-harinya melakukan kegiatan pembelajaran (misalnya pesantren atau ma’had), tempat pelatihan-pelatihan, atau pembelajaran di rumah dengan mendatangkan guru (misalnya homeschooling).  

Biasakan anak untuk berangkat sekolah atau menepati jadwal pembelajarannya dengan tepat waktu. Sampaikan bahwa keterlambatan akan mengurangi waktu belajar dan menyebabkan nuansa belajar menjadi tidak nyaman karena berawal dengan kesalahan pelanggaran tata tertib. 

Untuk mendisiplinkannya, dapat membimbing anak mulai dari pembiasaan bangun pagi, mandi, dan penyiapan kebutuhan sekolahnya. Anda membimbing, dan memotivasi, tidak harus membantu melakukannya. 

  • Disiplin belajar dan berlatih

Sepulang dari sekolah, anak-anak memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari kembali apa yang ia pelajari di sekolah, dan menyiapkan apa yang akan ia pelajari esok harinya. Beberapa keterampilan perlu melatihnya berulang-ulang agar benar-benar menguasai, dan beberapa percobaan perlu mempraktikkan di rumah selama memungkinkan. Orang tua hadir sebagai sahabat sekaligus pembimbing yang nyaman bagi kegiatan ini semua. Pada anak yang semakin mendekati puber, biasanya mereka tidak terlalu suka digurui.   

Kegiatan belajar di rumah dan berlatih seperti ini adalah  kebiasaan baik meskipun tidak harus mengambil porsi waktu yang lama. Maksudnya, anak tidak harus berlama-lama belajar di rumah sampai-sampai melupakan aktivitas lain yang tak kalah bermanfaat. Anak tetap diberi kesempatan bergaul dengan teman-temannya, beristirahat, bahkan berhibur dengan hiburan yang aman. 

  • Disiplin merawat badan 

Pada akhirnya, badan anak adalah tanggung jawab dia sendiri untuk merawatnya. Jika pada masa balita ia dikenalkan nama organ tubuh dan fungsinya, pada pada masa-masa di atas tujuh tahun ia sudah harus mulai bertanggung jawab atas organ tubuhnya sendiri. 

  • Mandi secara teratur, pada pagi hari dan sore hari meskipun tidak sedang melakukan aktivitas berat atau bepergian. Selain membersihkan badan, mandi adalah terapi air untuk mempertahankan kesegaran dan kelembaban tubuh. Keramas setiap dua hari atau tiga hari sekali saat aktivitas normal, atau bisa setiap hari sekali jika melakukan aktivitas berat yang banyak keringat atau debu menempel di kepala.   
  • Menggosok gigi secara teratur setiap pagi dan malam menjelang tidur, ditambah setiap kali usai makan terutama makanan yang berlemak atau berbau menyengat dan rasa yang tajam. 
  • Mengenakan pakaian dengan pakaian yang bersih (termasuk pakaian dalam), berganti pakaian sesuai aktivitas dan peruntukannya. Pakaian selalu rapi dan dikenakan dengan pantas. 
  • Menyisir rambut dan merapikannya (bercukur) serta memotong kuku sebelum kukunya tumbuh panjang. 
  • Disiplin bermain

Pada usia menjelang akil baligh, anak masih menghabiskan sisa-sisa kegemarannya untuk bermain. Ini adalah kebiasaan lama saat kanak-kanak yang tidak harus dihapuskan sama sekali. Selama permainannya itu tidak membahayakan atau membuatnya lalai, orang tua tak perlu melarangnya. 

Yang harus orang tua lakukan adalah mengingatkan atau membimbing agar ia mulai disiplin dalam bermain. Jadi, dalam bermain mulai ada jatah waktu yang  dibatasi. Ketika jatah ini sudah dihabiskan, maka waktu berikutnya bukan lagi untuk bermain. 

Anda dapat mendisiplinkan anak untuk bermain sesuai waktu yang ia rencanakan, dengan lama waktu yang sudah disepakati. Jenis mainan, lokasi tempat bermain dan teman-teman sepermainan sangat penting untuk diketahui oleh orang tua. 

  • Disiplin istirahat

Tubuh memerlukan istirahat cukup agar energy yang dibentuk dari makanan terpulihkan kembali. Selain itu, jiwa anak juga memerlukan saat-saat ia tenang dan nyaman tanpa tekanan atau berpikir apapun. 

Anak harus memiliki waktu istirahat yang cukup setiap hari. Istirahat yang paling optimal adalah tidur. Usahakan ia tidur diawal malam tidak lama setelah shalat isya, dan bangun pagi-pagi untuk berjamaah shalat subuh. Tidur dengan cara seperti ini lebih menyehatkan badan dan menyegarkan pikiran daripada tidur larut malam dengan bangun yang kesiangan. 

Untuk mengkondisikan istirahat anak yang disiplin, mengganggu istirahat seperti televisi atau acara lain yang menggoda harus ditiadakan. Tidak ada larangan menonton TV atau berhibur, tetapi kebolehan ini harus dengan batas yang tegas. 

  • Disiplin makan

Makan yang tidak disiplin dapat memicu masalah pencernaan, yaitu munculnya asam lambung yang berlebihan. Akibat berikutnya adalah penyerapan gizi dan buang air besarnya juga bisa terganggu. Berawal dari kebiasaan makan yang tidak disiplin, tubuh menjadi berisiko tidak sehat. 

Makan yang normal adalah sehari tiga kali. Pastikan anak mendapat sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Sarapan dapat meningkatkan kinerja otak dan stamina tubuh selama masa-masa belajar di sekolah. Siang hari anak harus mendapat makan siang dengan porsi yang lebih besar daripada sarapan, dan malam hari atau menjelang malam mendapat makan malam.  Berhubung usia anak saat ini sudah sampai pada masa-masa belajar mandiri, ia seharusnya mengambil makan dan  mengatur waktu makannya sendiri tanpa orang tua. Anda hanya sesekali mengingatkan dan memotivasi bila suatu saat ia lalai. 

Makan secara teratur memudahkan orang tua memantau kesehatan anak sehari-harinya. Di hari tertentu ketika anak menampakkan ketidakteraturan makan, misalnya tidak bernafsu atau enggan ke meja makan, orang tua dengan mudah mencarinya sebagai salah satu tanda anak sedang kurang sehat. Anda dapat mendekatinya untuk memeriksa suhu tubuh dan lain-lain yang kemungkinan besar menampakkan gejala sakit. 

  • Disiplin olahraga

Olahraga penting bagi anak untuk menjaga kebugaran tubuh dan kesegaran pikiran. Olahraga apapun baik bagi anak asal tidak membahayakan. Pada prinsipnya, berolahraga adalah kegiatan apapun yang menggerak-gerakkan tubuhnya. Dengan cara ini, otot-otot terlatih mengalami kelenturan, tulang terbantu mengalami pembentukan, dan aliran darah menjadi lancar. 

Keadaan ini memungkinkan aliran Oksigen berjalan lancar ke seluruh bagian tubuh, terutama otak dan organ-organ vital. Inilah yang menjadikan tubuh sehat, karena organ-organ dapat berfungsi dengan optimal  dan berbagai kuman tidak bertahan lama. Pikiran menjadi segar karena metabolisme dalam tubuh  berjalan baik dan tidak ada keluhan sakit. 

Olah raga memang memerlukan niat dan dorongan semangat. Karena keasyikan tertentu, beberapa anak malas keluar rumah atau menggerakkan badan untuk berolahraga. Disiplin berolahraga berarti melakukan olahraga secara terjadwal, meskipun fleksibel, karena menganggap penting dan merasa butuh.    

  • Disiplin membantu orang tua

Orang tua tidak selayaknya menuntut anak-anak untuk membantu pekerjaannya. Anda tidak sepenuhnya memaksa anak untuk membantu pekerjaan untuk meringankan beban anda sebagai orang tua. Namun demikian, anak perlu melatih mengenali tugas kerumahtanggaan yang biasa oleh orang Tuanya. Ia perlu merasakan dengan terlibat langsung sebagai aktivitas orang tua sebagai pembiasaan agar kelak tidak merasa asing ketika harus menjalani kehidupan berumah tangga. 

Berikan bagian tertentu pekerjaan rumah tangga yang memungkinkan oleh anak sesuai usianya. Mengepel lantai setiap pagi, mencuci piring, menyajikan makanan, membersihkan kendaraan, adalah pekerjaan yang bisa bersama anak atau bahkan mewakilkan sepenuhnya kepadanya.

Selain menjadi terbiasa dan terampil mengerjakannya, anak menjadi paham akan tanggung jawab dan terbiasa membagi waktu yang sempit dengan berbagai aktivitas.

 

[Yazid Subakti]

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *