Kebutuhan Hobi di Usia Ini

Kebutuhan Hobi di Usia Ini

Parenting – Kebutuhan hobi menunjukkan bakat dan minat anak. Apa yang anak benar-benar nikmati dan kerjakan biasanya akan menjadi hobinya, sekalipun itu seolah tidak berhubungan dengan keterampilan hidup.

Anak yang tertarik pada dunia olah tubuh akan menampakkan hobi olahraga yang paling ia sukai. Ia mungkin akan gemar bermain bola, bulu tangkis, bela diri, senam, atau bahkan hobi lain yang memerlukan gerakan dan tidak menunjukkan jenis olahraga tertentu. Misalnya memanjat pohon. 

Karena berangkat dari kesenangan atau ketertarikan, hobi adalah aktivitas yang tulus dan anak akan merasa senang melakukannya. 

Kenyataan ini sebenarnya bermanfaat bagi anak dalam beberapa hal. 

Menjadi pelepas stress. Hobi yang dilakukan dengan suka hati mengalihkan kehidupan anak ketika ia dalam keadaan serba sibuk dan kacau. Anak menyingkirkan sejenak untuk fokus pada aktivitas yang ia cintai, menikmati dan melakukannya dengan senang.

Latihan untuk tumbuh dan berkembang. Selama kecil, anak belum mengetahui apa potensi yang ia miliki. Melalui kegemaran akan sesuatu kegiatan, ia sebenarnya sedang merintis jalan untuk menggali bakat dan mencari tahu apa keistimewaan yang ia miliki. 

  • Mengukur kualitas  pribadi

Anak yang hobi olahraga tidak hanya bersenang-senang dengan olah raganya, tetapi ia juga akan belajar seberapa mampu melakukannya dibanding teman-temannya. Jika ia hobi seni, ia juga akan mengukur kualitas karya seninya seberapa bagus dibanding karya teman-temanya. Ukuran kualitas ini tidak selalu mendorong anak untuk menjadi yang paling terdepan, tetapi setidaknya ia mengetahui kedudukan dirinya di antara teman-teman pemilik hobi yang sama. 

Sarana bersosialisasi. Hobi yang dalam kelompok, misalnya pada klub atau komunitas sesama penghobi, dapat menjadi sarana bagi anak untuk menambah teman dan  memperluas pergaulannya. Ia akan belajar bagaimana berteman dengan banyak orang yang sifatnya berbeda. Ia harus bekerjasama, memberi dan menerima untuk tetap dapat mendapat pengakuan dalam kumpulan anak-anak yang memiliki ketertarikan sama akan suatu hal. 

Kegiatan yang produktif. Anak biasanya bercita-cita setinggi langit sejak masa kecilnya. Tetapi cita-cita ini  lebih mengarah pada profesi tertentu yang akan menjadi identitas utamanya kelak; polisi dokter, guru, arsitek dan sebagainya. Dalam keadaan tertentu, apa yang dihasilkan dari profesi tidak selalu memuaskan. Manusia memerlukan aktivitas produktif lain sebagai sampingan atau bahkan akan menjadi kegiatan utama, yaitu hobi. Jika produktivitas bermakna menghasilkan uang, maka banyak hobi yang akhirnya menjadi sumber penghasil uang lebih besar daripada profesi utama. Seorang pegawai yang memiliki hobi merawat burung, memiliki penghasilan dari usaha burung jauh lebih besar daripada gaji pegawainya. Seorang karyawan yang di luar jam kerja asyik menulis, bisa jadi penghasilan dari penulisnya lebih besar daripada gaji bulanannya sebagai karyawan. 

  • Apakah hobi mengganggu sekolahnya? 

Banyak orang tua merasa khawatir bahwa hobi anaknya akan mengganggu konsentrasi sekolahnya. Mereka khawatir anak yang menekuni hobi menjadi kehabisan energi dan teralihkan perhatiannya pada hobi tersebut sehingga urusan sekolah menjadi tidak penting. Kekhawatiran ini kemudian berkembang pada ketakutan akan masa depan anak yang akan menjadi semakin tidak jelas cita-citanya. 

Akibatnya, banyak orang tua tidak membebaskan buah hatinya menekuni hobi. Mereka melarang anaknya memiliki hobi dan menyuruhnya hanya untuk belajar agar berprestasi di sekolahnya.

Kekhawatiran ini sangat berlebihan. Hobi tidak selalu menjadikan anak teralihkan fokusnya dari pelajaran sekolah, justru bisa menjadi pereda ketegangan ketika di sekolah anak-anak mendapat banyak tekanan. Orang tua yang mengarahkan anaknya hanya untuk belajar mengejar prestasi sekolahnya hanya menunjukkan kekurangpahamannya terhadap kebutuhan anak. Ini ambisi, bukan mengarahkan. Orang tua takut harga dirinya jatuh ketika anaknya tak mampu mengumpulkan nilai tinggi di sekolahnya. Padahal anaknya ingin sekolah dengan bahagia, bukan bersaing nilai. Hubungan orangtua seperti ini dengan anaknya adalah karena obsesi, bukan cinta. 

  • Memilihkan hobi yang bermanfaat 

Hobi yang cocok buat anak adalah apapun perbuatan menyenangkan yang anak senang melakukannya, tidak mudah bosan, tampak tekun mengikutinya, dan menikmati sekalipun ia tak terlalu menguasai. Biasanya anak tidak memiliki motif tertentu ketika melakukannya. Ia melakukannya karena tertarik dan suka. 

Namun demikian, orang tua tetap harus hadir  memberi petunjuk dan batas-batas hobi apa saja yang layak bagi anaknya dan bermanfaat. 

Hobi berkebun, berkesenian, olahraga, otomotif, kuliner, bepergian, menulis, bercerita, bermain peran, berpetualang, dan lain-lainnya semuanya bermanfaat jika diarahkan untuk hal yang bermanfaat. Tetapi itu semua juga bisa menjerumuskan jika terjebak dalam pertemanan yang salah dan lepas dari pengawasan.

 

[Yazid Subakti]