Ajarkan Amanah dan Tanggungjawab

Ajarkan Amanah dan Tanggungjawab

Parenting – Amanah itu terpercaya ketika dibebani suatu kepercayaan. Amanah berarti mampu mengemban titipan yang diberikan kepadanya sesuai keinginan yang menitipkan.  

  1. Rasulullah mendapat gelar Al Amin  

Rasulullah SAW digelari al-Amin (terpercaya) oleh masyarakat Arab atas kepribadiannya. Gelar ini melekat pada diri Nabi Muhammad SAW jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Pada saat remaja, sudah banyak orang yang mempercayainya. Banyak di antara mereka yang menitipkan barang kepada beliau saat mereka bepergian dalam waktu lama.

Sifat terpercaya yang paling terkenal adalah saat beliau dimintai pendapat oleh masyarakat mengenai siapa yang harus meletakkan batu hitam (Hajar Aswad) di dinding ka’bah. Beliau mampu dengan adil dan bijak memutuskan perselisihan terkait siapa yang paling berhak menempatkan kembali Hajar Aswad pada tempatnya. Orang-orang berseru “Kami ridha dengan keputusan al-Amin (Nabi Muhammad SAW).” 

Gelar al-Amin pada Rasulullah SAW merupakan bukti mulianya perangai beliau SAW, baik saat belum diangkat menjadi nabi dan Rasul maupun setelah menjadi Nabi.

Allah SWT berfirman, 

“Dan sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung”. (QS al-Qalam: 4). 

  1. Menjelaskan kepada anak sifat-sifat al amin 

Mengapa masyarakat begitu percaya kepada Rasulullah sampai-sampai memberikan gelar al amin kepadanya? 

Itu karena sejak masih kecil, ada beberapa kepribadian Rasulullah SAW yang saat itu tidak atau jarang dimiliki oleh anak anak lain di kota Mekkah. 

  • Amanah. 

Amanah itu terpercaya ketika mendapat suatu kepercayaan, juga berarti mampu mengemban titipan yang ia dapatkan sesuai keinginan yang menitipkan.  

Ummul Mukminin Aisyah ra berkata, “Seandainya Rasulullah mau menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan Allah kepadanya, pasti beliau akan menyembunyikan firman Allah SWT Surah al-Ahzab (33, ayat 37). (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah mendapat banyak kepercayaan, baik dari manusia maupun dari allah, tetapi tak satupun dari beban itu ia khianati meskipun amat berat. 

  • Rendah hati 

Sebenarnya, Rasulullah berasal dari garis keturunan orang terpandang di kalangan suku Quraisy. Pada zaman itu, orang-orang pada umumnya masih berpikir kesukuan sebagai again dari kebanggaan dan harga diri. Jika mau, bisa saja Rasulullah membanggakan diri dengan kesukuannya itu. Tetapi yang terjadi sebaliknya, beliau bersikap rendah diri dan melayani siapapun yang menjalin hubungan dengannya. 

Anas bin Malik ra menceritakan bahwa suatu hari datang seorang wanita menjumpai Rasulullah SAW dan berkata, ‘Sesungguhnya aku membutuhkan sesuatu darimu (wahai Rasulullah)’.

Lalu Rasulullah menjawab, ‘Pilihlah di jalan mana yang engkau kehendaki di Kota Madinah ini, tunggulah aku di sana, aku akan menemuimu (memenuhi keperluanmu)’. (HR Abu Daud). 

  • Jujur 

Kejujuran nabi Muhammad sudah terkenal sejak kecil. Tidak ada satupun orang yang mengenalnya pernah menyaksikan beliau berbohong ketika berkata. Sifat ini bertahan sampai remaja, bahkan dewasa dan akhir hayat beliau. 

Suatu saat beliau mengumpulkan orang-orang quraisy untuk berkumpul padanya karena ingin menyampaikan sebuah berita. Setelah masyarakat Quraisy berkumpul, beliau bersabda, “Saudara-saudaraku, jika aku memberi kabar kepadamu, di balik bukit ini ada musuh yang sudah siap siaga hendak menyerang kalian, apakah kalian semua percaya? Tanpa ragu mereka menjawab, “Percaya!, Engkau sekalipun tidak pernah berbohong, wahai Al- Amin.”

  • Pemalu untuk hal-hal yang buruk

Di satu sisi Rasulullah adalah seorang pemberani untuk mengatakan kebenaran, tetapi di sisi lain beliau SAW adalah pribadi yang pemalu. Abu Sa’id Al-Khudri ra  menceritakan “Rasulullah SAW itu lebih pemalu daripada gadis dalam pingitan. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, niscaya kami dapat mengetahui ketidaksukaan beliau itu dari wajahnya. (HR Bukhari). 

  • Santun. 

Pada umumnya, orang-orang quraisy memiliki jiwa yang keras. Banyak di antara mereka yang kasar dan mudah tersulut amarah. 

Namun tidak demikian dengan pria bernama Muhammad.  Perangai Rasulullah sangat santun, murah senyum dan mudah membantu sesama. 

Suatu ketika, setiap kali Rasulullah pergi ke masjid selalu diludahi seseorang yang tampak membencinya. Di hari yang lain, orang yang meludahinya itu tak tampak lagi karena sakit. Rasul pun bergegas untuk menjenguknya. 

Betapa terharu orang itu, ternyata orang yang pertama kali menjenguknya adalah orang yang selama ini ia benci. 

  1. Melatih tanggung jawab atas suatu tugas 

Semua manusia, laki-laki maupun perempuan, adalah pemimpin yang kelak akan ada pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. 

Setiap pribadi muslim harus tumbuh jiwa tanggung jawabnya. Setiap anak laki-laki kelak akan menjadi suami bagi istrinya dan ayah bagi anak-anaknya, juga menjadi pemimpin kaumnya yang semuanya membutuhkan latihan tanggung jawab sejak dini. Semua anak perempuan kelak akan menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya, serta mempersiapkan diri menjadi pencerah bagi para wanita di kaumnya yang semuanya memerlukan latihan tanggung jawab dari sekarang. 

Anak-anak dan remaja sudah harus menumbuhkan jiwa tanggung jawab agar kelak mereka terbiasa menerima beban amanah.    

  • Membuat peraturan bersama

Sebagian aturan di rumah sebenarnya bisa disusun bersama. Aturan yang ringan dan menyangkut aktivitas harian anak dapat disusun bersama anak. bersama anak, Anda menjelaskan aturan apa saja yang dapat dirumuskan, mengapa perlu aturan tersebut dan meminta kesediaan anak untuk mematuhi aturan tersebut. Jangan lupa membuat sanksi atau ketentuan yang disepakati jika anak ternyata mengingkarinya. 

Contoh aturan ini misalnya tentang batas waktu bermain di luar rumah, saat-saat boleh membunyikan bebunyian di rumah, bagian ruang rumah yang boleh teman-temannya masuki, dan batas jumlah belanja jajan setiap hari. 

  • Tugas menjaga adik

Mengasuh adik adalah tugas kakak sebagai bentuk tanggung jawab kepada adiknya dan membantu meringankan kesibukan orang tua. 

Berikan tugas kepada anak tertua untuk menjaga adiknya dengan pesan-pesan seputar apa saja yang harus ia lakukan selama membersamai adiknya. Misalnya mengganti popok saat basah oleh ompol dan membersihkannya, menenangkan ketika adik menangis, dan menjaga situasi kamar tetap tenang saat adiknya tidur.

  • Memelihara binatang

Memelihara binatang adalah salah satu kebiasaan para nabi. Para sahabat yang tangguh juga banyak yang menggembala hewan ternak.  

Hikmah dari memelihara binatang adalah melatih tanggung jawab atas kehidupan makhluk yang ia pelihara karena bagaimanapun hewannya harus tetap hidup layak. Anak yang memelihara hewan kesayangan atau hewan ternak terlatih tanggung jawabnya untuk menjamin peliharaannya tetap makan dan minum menjaga kebersihan kandangnya, hingga merawat kesehatannya jangan sampai sakit.    

  • Memecahkan masalah sendiri

Semakin bertambah usia, anak harus terdorong untuk memecahkan masalahnya sendiri, mulai dari hal-hal yang paling sederhana menyangkut kebutuhannya. Pada anak menjelang atau di awal-awal akil baligh, ia seharusnya sudah mampu memecahkan masalah pribadi seperti bangun pagi dengan mandiri atau jadwal membersihkan badan dan urusan seputar pelajaran sekolahnya.

Biarkan anak mencuci dan menyetrika pakaiannya sendiri, menyimpan dan memilih jenis wewangiannya sendiri. Jika ada pakaian atau barang milik pribadinya rusak, biarkan ia mengatasinya sendiri. Ia seharusnya sudah memiliki cara untuk mengatasi konflik dengan teman-temannya tanpa bantuan orang tua, dan menemukan metode belajarnya sendiri yang  paling ia sukai.

  • Ajarkan ia mengakui kesalahan dan menerima kekalahan 

Hidup tak selamanya menemukan kebenaran dan beruntung dengan kemenangan. Manusia adalah makhluk tempat salah dan lupa, sehingga suatu saat memang terjerumus dalam kesalahan. Kesalahan bertindak itu terjadi pada siapapun sehingga sesekali berbuat salah adalah manusiawi. 

Anak takut mengakui kesalahan karena menghindari hukuman. Oleh karena itu, jika anak berbuat salah, perlu disampaikan bahwa kesalahan itu bisa diperbaiki dan diusahakan untuk tidak terjadi lagi. Oleh karena itu tidak ada gunanya berbohong atau menuduh orang lain bersalah  untuk menutupi kesalahan sendiri. Mengakui kesalahan secara terbuka, dan keberanian untuk menerima konsekuensinya.  

Pada saat tertentu, anak berkompetisi dengan teman-temannya. Di sekolah, di lingkungan pergaulan, atau di manapun memungkinkan ada persaingan. Dalam persaingan selalu ada yang menang dan kalah. Yang harus siap pada mental anak adalah kesiapan menerima kekalahan jika memang kemenangan belum menjadi haknya.

[Yazid Subakti]

Memberi Dorongan Ibadah Haji

Memberi Dorongan Ibadah Haji

Parenting – Anak-anak sudah menghafal bahwa rukun islam ada lima, yang salah satunya adalah menunaikan ibadah haji. Ingatan ini perlu diperkuat lagi dengan mengingatkannya bahwa tanpa haji, keislaman seseorang menjadi tidak sempurna. Bahkan jika tidak hajinya seseorang tu disebabkan pengingkaran atau penolakannya terhadap haji sebagai rukun islam, maka keislamannya bisa batal.

Ibadah  haji  hukumnya fardhu ‘ain  bagi  setiap  muslim  yang  sudah mukallaf  dan memiliki kemampuan untuk berangkat.  Tidak seorangpun ulama yang berselisih pendapat mengenai wajibnya haji. 

Oleh sebab itu, sejak kecil anak harus kenal dengan ibadah haji, ditanamkan kerinduan kepada baitullah dan selalu diingatkan bahwa haji ini harus menjadi agenda penting dalam hidupnya. 

Memahamkan ibadah haji 

Anak-anak belum banyak bergaul dengan orang dewasa, belum banyak menyelami kisah-kisah mengenai ibadah haji dari orang-orang dewasa yang sudah menjalaninya. Oleh karena itu, pengetahuan pertama yang memungkinkan ia dapatkan adalah dari orang tuanya. 

  • Menjelaskan pengertian haji 

Secara  bahasa,  haji  kurang lebih bermakna menyengaja  untuk  melakukan sesuatu yang agung. Haji juga berarti mendatangi sesuatu atau seseorang. 

Sedangkan secara istilah, haji berarti mendatangi  Ka’bah  untuk  mengadakan ritual tertentu atau berziarah ke tempat tertentu, pada waktu tertentu dan dengan amalan-amalan tertentu  dengan niat ibadah. 

Jadi, haji adalah ritual ibadah yang di dalamnya terdapat beberapa hal yang harus ada, yaitu 

    • Ziarah, yaitu mengadakan perjalanan  (safar)  dengan  menempuh  jarak  yang biasanya  cukup  jauh  hingga  meninggalkan  negeri atau  kampung  halaman (kecuali  buat  penduduk Mekkah). 
    • Tempat tertentu, yaitu Ka’bah di Baitullah Kota  Makkah  Al-Mukarramah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. 
    • Waktu tertentu, yaitu ibadah  haji  hanya  pada  bulan atau musim haji (bulan Dzulhijjah). 
    • Amalan Tertentu, yaitu amalan yang termasuk  ke  dalam rukun haji, wajib haji dan sunnah seperti tawaf, wukuf, sa’i, mabit di Mina dan Muzdalifah.  
    • Niat tertentu, yaitu meniatkan khusus sebagai ibadah haji, dengan mengikhlaskannya karena Allah. 

 

  • Menjelaskan keutamaan ibadah haji

Sebagai motivasi atau dorongan semakan kepada anak-anak, orang tua perlu menyampaikan apa saja keutamaan haji sehingga Allah dan rasulullah mewajibkan. 

  • Menjauhkan kefakiran dan menghapus dosa.
  • Nilai pahalanya sebanding dengan Jihad Jihad fi sabilillah.  
  • Mendapat balasan surga.
  • Terhapus dosa seperti bayi baru lahir yang suci. 
  • Haji adalah amal terbaik yang manusia lakukan. 
  • Menjadi tamu Allah yang mulia.   
  • Dibanggakan di depan para Malaikat. 

Agar anak merindukan haji 

Merindukan berarti menginginkan sesuatu untuk terjadi atau ia alami pada suatu waktu nanti.  Semua muslim seharusnya merindukan untuk pergi ke baitullah dalam rangka ibadah haji memenuhi rukun islam kelima. Jika saat ini masih belum memungkinkan, setidaknya telah ada tekad dalam hati bahwa suatu saat nanti akan berangkat ke sana. 

  • Mengikuti latihan manasik haji 

Dorong anak mengikuti latihan manasik haji yang ada di sekolahnya atau di masyarakat. Jika di sekolah atau masyarakat tidak ada, ajak anak menonton rekaman video haji atau video tutorial manasik haji  yang banyak tersedia di saluran internet.  

  • Mengunjungi orang yang berangkat atau pulang haji 

Di Indonesia, orang yang hendak berangkat haji biasanya tetangga dan masyarakat umum ketahui. Pada musim haji biasanya ada kerabat, teman, atau tetangga yang berpamitan berangkat haji dengan mengundang pada acara perjamuan. Ajak anak untuk hadir di undangan ini, atau pada saat penyambutan pulang haji. 

  • Memasang atau menggunakan atribut haji 

hiasan dinding, gantungan kunci, penghias meja, dan sebagainya dapat dibuat bernuansa haji yaitu dengan gambar ka’bah, masjidil haram, atau masjid Nabawi. Nuansa ini sedikit banyak mempengaruhi apa yang ia rindukan untuk terjadi atau bertemu suatu saat nanti.  

  • Mengadakan tabungan haji 

Bukti kerinduan ibadah haji yang  paling nyata adalah memulai tabungan haji. Buatlah rekening khusus untuk tabungan haji, dan sisihkan uang setiap bulan untuk menabung sekecil apapun. Setiap kali mendapat rejeki yang belum terbayangkan pembelanjaannya masukkan ke dalam tabungan ini.

Kartu kontrol ibadah anak 

Anak dapat dikontrol disiplin ibadahnya dengan mengisi kartu kontrol ibadah. Kartu ini tidak dijual di toko, tetapi anda dapat membuat sendiri sambil mendiskusikannya dengan anak. 

Isi kartu kontrol ini dapat meliputi catatan ibadah harian anak, yaitu:

  • Salat lima waktu berjamaah dan tepat waktu (misalnya minimal setiap hari tiga kali) 
  • Puasa sunnah senin dan kamis (misalnya minimal sekali dalam sepekan)
  • Membaca AL-Qur’an setiap hari (misalnya minimal satu halaman)
  • Menyisihkan uang jajan untuk bersedekah (misalnya minimal dua ribu rupiah sepekan)
  • Shalat sunnah rawatib (misalnya mimal dua salat sehari)
  • Shalat dhuha (misalnya minimal tiga kali sepekan)
  • Salat tahajjud (misalnya minimal dua kali sepekan)

Kartu ini untuk melihat perkembangan kemajuan ibadah anak dari pekan ke pekan. Jika pada suatu pekan ia banyak melanggar, berarti di pekan tersebut ia sedang dalam keadaan mengalami penurunan semangat ibadah. Anda dapat mencari faktor penyebabnya dan mengupayakan cara menyemangatinya kembali.

 

[Yazid Subakti]

Membuat Program Sedekah

Membuat Program Sedekah

Parenting – Allah telah berjanji bahwa bersedekah tidak membuat kita menjadi miskin. Justru sebaliknya, sedekah adalah pembersihan jiwa yang mendatangkan keberkahan Allah. Salah satunya adalah dengan melipat gandakan harta yang sudah kita sedekahkan. 

  1. Mulianya sedekah 

Allah berfirman,

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah : 245)

Di ayat yang lain, Allah menjanjikan kelipatan tujuh dikalikan seratus pahala. 

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 261)

  1. Bersedekah adalah latihan untuk peduli

Bersedekah berarti berbuat kebaikan dengan menyenangkan kaum fakir dan dhuafa. Mereka menjadi bahagia atas rezeki yang kita bagikan. Pemberian dengan cara sembunyi-sembunyi adalah lebih baik, meskipun memberikannya dengan terang-terangan juga tidak dilarang.

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah : 271)

“Kamu tidak akan sampai pada kesempurnaan sampai kamu menginfakkan harta yang kamu cintai.” (QS. Al-Imran : 92)

Di ayat yang lain, Allah mengingatkan kita,

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang beriman; ‘Hendaklah mereka mendirikan shalat, menginfakkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan sebelum datang suatu hari yang tidak ada jual beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim : 31)

  1. Mengenalkan anak pada mustahik sedekah agar dapat mencintai mereka 

Anak perlu kenal dengan kaum duafa dan menyelami kehidupan mereka, agar ia dapat memahami bahwa tidak semua manusia hidupnya menyenangkan. Ada kaum lemah yang Allah uji dalam kesengsaraan dan pantas mendapatkan kasih sayang dari sesama. 

Di antara para mustahik ini antara lain adalah mereka yang berhak menerima zakat.  Mereka ini ada delapan golongan, yaitu:

  1. Fakir, yaitu orang yang tidak memiliki harta dan tidak mampu berikhtiar untuk memenuhi untuk keperluan hidup sehari-hari.
  2. Miskin, yaitu orang yang mampu berikhtiar tetapi penghidupan sehari-harinya tidak mencukupi (karena penghasilan kecil atau banyaknya tanggungan orang). 
  3. ‘Amil (panitia zakat), yaitu orang-orang yang bertugas mengumpulkan dan membagi-bagikan zakat kepada orang yang berhak menerimanya. 
  4. Muallaf, yaitu orang yang baru masuk Islam dan imannya masih lemah. 
  5. Hamba sahaya (budak), yaitu orang yang belum merdeka dari perbudakan (hanya ada pada zaman dahulu). 
  6. Gharim, yaitu orang yang mempunyai banyak hutang sedangkan ia tidak mampu untuk membayarnya. 
  7. Sabilillah, yaitu orang-orang yang sedang berjuang di jalan Allah. 
  8. Ibnu Sabil, yaitu orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) seperti dalam (misalnya dakwah dan menuntut ilmu di perantauan yang berisiko kekurangan).
  1. Membuat program sedekah keluarga 

Keluarga hendaknya memiliki satu program untuk merangsang kegemaran bersedekah bagi seluruh anggota keluarga, termasuk anak. 

Anda dapat membuat program sedekah dalam bentuk yang sederhana, misalnya;

  1. Menyediakan kotak infak keluarga. kotak ini ditaruh di tempat yang mudah dilihat atau sering dilewati (misalnya di meja kecil dekat pintu), dan akan dibongkar setiap akhir bulan. Uang hasil pengumpulan ini seberapapun sedekahkan ke masjid atau langsung ke kaum duafa yang menjadi sasaran penerima. 
  2. Memberi anak uang khusus sedekah setiap kali ke masjid, agar uang masuk ke kotak infaq masjid.
  3. Mengumpulkan mainan, pakaian, atau alat-alat dan benda kesayangan yang masih bermanfaat tetapi tidak digunakan lagi. Barang-barang ini disumbangkan ke panti asuhan atau tempat lain, atau dijual dan uang hasil penjualan diserahkan kepada sasaran yang berhak. 

 

[Yazid Subakti]

Mengenalkan Itikaaf

Mengenalkan Itikaaf

Parenting – Itikaaf berasal dari kata ‘akafa yang berarti al habsu, yaitu mengurung diri, tinggal, atau menetap. I’tikaf secara bahasa adalah berdiam di suatu tempat dan mengikat diri kepadanya.

  1. Apa itu itikaf?

Menurut Syaikh Wahbah Az Zuhaili, i’tikaf adalah berdiam dan bertaut pada sesuatu, baik maupun buruknya secara terus menerus. Secara istilah, itikaf adalah berdiam diri dan menetap di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

I’tikaf dapat kapanpun, tetapi yang paling banyak keutamaannya adalah pada sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan. Jadi, I’tikaf dalam bahasan ini adalah I’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Anak-anak harus kenal sunnah ini, karena mengandung banyak kemuliaan dan keutamaan di dalamnya. 

  1. Hukum I’tikaf

Ada I’tikaf wajib, dan ada I’tikaf yang sifatnya sunnah. Itikaf wajib adalah i’tikaf seseorang karena kewajibannya, misalnya karena nadzar. Contohnya seseorang yang pernah mengatakan, “Jika aku jadi pilot nanti, aku bernadzar akan beri’tikaf selama tujuh hari.” Suatu saat ketika ia benar-benar menjadi pilot, kata-kata ini membuat yang mengatakan wajib menunaikan I’tikafnya.

Jadi, wajibnya I’tikkaf ini bukan karena hokum asal itikaf, melainkan karena nazarnya. Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa yang telah bernazar akan melakukan suatu kebaikan pada Allah, hendaklah dipenuhi nazar itu.” (HR. Bukhari)

Nazar harus lunas ketika apa yang ternazarkan benar-benar terjadi, bahkan meskipun nazarnya itu pada masa jahiliyah. Umar bin Khattab ra pernah mengalaminya.

Umar bertanya kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, dulu aku di masa jahiliyah pernah bernazar untuk beritikaf satu malam di masjidil haram.” Rasulullah lantas bersabda, “Maka penuhilah nadzarmu itu.” (HR. Bukhari)

Itikaf sunnah adalah itikaf secara sukarela untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT seperti beri’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan. Hukum itikaf seperti ini adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat menjadi anjuran.

  1. Keutamaan Itikaf

Semua yang menjadi kebiasaan Nabi adalah sebaik-baik perbuatan.  I’tikaf adalah salah satu kebiasaan Nabi yang mengandung banyak keutamaan. 

  • Menjaring pahala 

Itikaf di dalam masjid pada bulan Ramadhan. Diamnya seorang mukmin di masjid dalam rangka berzikir dan mendekatkan diri kepada Allah adalah ibadah. Saat bangkit, ia mengisi waktunya dengan shalat, tilawah, atau berdoa. Biasanya di acara itikaf juga ada ta’lim mengkaji kitab atau ilmu syariah sehingga menambah kebaikan itikaf. 

Karena di bulan ramadhan, maka pahala ibadah ini akan lebih besar daripada amal yang sama pada bulan-bulan biasa. 

  • Sunnah Rasul

Rasulullah terbiasa melakukan I’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan. Oleh karena itu, perbuatan  ini adalah sunnah Rasulullah. Beliau tidak pernah meninggalkannya. Bahkan di Ramadhan terakhir sebelum wafat, Rasulullah beri’tikaf selama 20 hari.

Kebasaan ini terus berlangsung pada zaman  para sahabat Nabi, tabiin, tabiut tabiin, hingga para ulama. 

  • menggapai keutamaan lailatul qadar

Di bulan Ramadhan ada satu malam yang keutamaannya lebih daripada seribu bulan. Malam itu adalah lailatul qadar. 

Datangnya lailatul qadar adalah rahasia Allah. Tetapi para ulama berpendapat bahwa peluang datangnya malam lailatul qadar ada di bulan ramadhan di sepertiga malam terakhirnya, terutama pada malam-malam ganjil. 

Untuk mendapatkan keutamaan lailatul qadar, manusia bisa memburunya dengan cara mengisi malam penuh ibadah agar mendapat pahala ibadah yang melebihi seribu bulan. 

  • I’tikaf adalah kebiasaan Rasulullah SAW dan isterinya 

Setiap datang sepertiga terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersiap untuk tinggal di masjid. Beliau SAW tidak pernah meninggalkan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan ini. Setelah beliau wafat, para istri melanjutkan kebiasaan ini. 

Dari Aisyah ra. bahwa Nabi SAW biasa i’tikaf sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sesudah beliau wafat.” (HR. Bukhari)

Ini adalah alasan kuat bahwa para wanita pun dianjurkan melakukan i’tikaf di masjid. 

  1. Waktu dan tempat Itikaf

Setiap aktifitas berdiam diri di masjid dapat bermakna I’tikaf. Tetapi I’tikaf yang kita maksudkan di sini adalah tinggal di masjid di bulan suci Ramadhan.

  • Itikaf Ramadhan

Pada sepuluh hari terakhir setiap datang bulan Ramadhan, yaitu mulai hadir berdiam di  masjid ketika matahari terbenam pada malam ke-21 (atau ke-20 jika Ramadhannya 29 hari) sampai habisnya bulan Ramadhan. Jadi, itikaf berakhir saat matahari terbenam malam satu syawal atau pada malam takbir hari raya Idul Fitri. 

  • Tempat Itikaf

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa tempat itikaf adalah di masjid. Tidak sah melakukan itikaf di mushala atau surau, juga tidak sah melakukannya di dalam rumah meskipun dengan aktivitas ibadah yang padat.

Masjid yang menjadi tempat i’tikaf adalah masjid yang di dalamnya didirikan salat Jumat, dan sifatnya terbuka untuk umum (bukan masjid pribadi seseorang atau keluarga tertentu). Namun beberapa ulama membolehkan itikaf di masjid mana saja yang pernah didirikan salat berjamaah.  

  1. Apakah wanita juga itikaf?

Tidak ada larangan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf, baik sendiri maupun bersama suaminya. Jika ia sendiri tanpa mahram, maka ia harus mendapat ijin dari wali atau suaminya dan memastikan bahwa tempat itikafnya  aman dari fitnah. 

‘Aisyah ra mengatakan, “Nabi SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sampai Allah mewafatkan beliau. Kemudian para istri beliau beri’tikaf setelah beliau meninggal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain bahkan membolehkan wanita sedang istihadhah untuk melakukan itikaf. 

Dari ‘Aisyah ra; beliau mengatakan, “Salah seorang istri Nabi SAW yang sedang istihadhah beri’tikaf bersama beliau SAW. Terkadang wanita ini melihat darah kekuningan dan darah kemerahan ….” (HR. Bukhari)

  1. Itikaf sekeluarga. 

Itikaf sekeluarga dapat menjadi pendidikan ruhiyah yang baik bagi seluruh anggota keluarga. Ayah memimpin dan menentukan, ibu mempersiapkan, dan anak-anak mengikuti dari awal hari sampai akhir. 

  • menyiapkan perlengkapan 

Perlengkapan yang paling penting saat itikaf adalah alat atau pakaian salat. Jika anda terbiasa salat dengan sajadah, maka sajadah adalah perlengkapan lain selain mukena, sarung, peci atau surban. Sebaiknya perlengkapan ini tidak hanya satu lembar agar suatu saat ketika kotor bisa berganti. 

  • Mushaf Al Quran 

Selama itikaf, jamaah dianjurkan banyak-banyak membaca Al-Quran. Oleh karena itu benda yang harus dibawah adalah mushaf Al Qur’an. Jenis mushaf yang dibawa adalah yang paling nyaman atau terbiasa dibaca. Untuk jamaah yang tidak memahami bahasa arab, baik juga membawa mushaf yang ada terjemahannya agar dapat membaca sambil merenungi artinya. 

  • Pakaian 

Pakaian beberapa setel dan penggantinya harus dibawa selama itikaf, yaitu pakaian yang sopan dan menutup aurat, tidak mengganggu jamaah lain dan bersih. 

  • Perlengkapan tidur 

Diperbolehkan tidur di masjid selama melakukan itikaf. Untuk itu, dianjurkan membawa jaket atau pakaian penghangat badan untuk menjaga kemungkinan datangnya hawa dingin. 

  • Peralatan kebersihan 

Dianjurkan tetap menjaga kebersihan selama itikaf. Oleh karenanya, sekumpulan alat yang dibawa adalah sabun mandi, sampo, pembersih muka bila perlu, sikat gigi beserta pastanya, dan handuk.

 

[Yazid Subakti]

Mulai Berpuasa Penuh

Mulai Berpuasa Penuh

Parenting – Imam Syafi’i dan ulama pengikutnya kebanyakan berpandangan bahwa anak-anak diperintah berpuasa penuh ketika mereka sudah mampu melakukannya.

  1. Sejenak mengesampingkan ‘cinta lembut’

Semua orang tua mencintai anak-anaknya. Ada perasaan yang diungkapkan dalam bentuk ‘cinta lembut’, ada pula perasaan yang diungkapkan berupa ‘cinta keras’. 

‘cinta lembut’ adalah pengungkapan cinta yang disertai sikap selalu ingin membuat yang dicintai senang dan menikmati. Rasulullah SAW sering mencurahkan ‘cinta lembut’ beliau kepada cucunya, Hasan dan Husein dan pada umumnya anak kecil. Contoh nyata praktik ‘cinta lembut’ Rasulullah SAW adalah beliau memperlama sujud gara-gara ingin menyenangkan seorang anak kecil yang saat itu duduk di punggung beliau. 

Sementara itu, ada pula ‘cinta keras’ atau cara mencintai yang ditampakkan dengan sikap tegas atau keras kepada yang cintai, demi sesuatu yang kelak akan berdampak baik baginya. Pada umumnya, proses mendidik atau melatih selalu disisipi dengan ‘cinta keras’ kepada yang dididik atau dilatih. Nabiyullah Ibrahim as menerapkan ‘cinta keras’ beliau kepada putranya bahkan sejak putera pertamanya itu masih bayi. Ismail ditinggalkan bersama ibunya, Hajar, di lembah tak berpenghuni. Ibunda Imam Asy Syafi’I menunjukkan ‘cinta keras’ kepada anaknya, saat menyuruhnya untuk menuntut ilmu ke negeri yang jauh, dan tidak kembali sebelum menjadi alim.

Ketika hendak melatih anak untuk berpuasa, ada saat-saat ‘cinta keras’ harus diberlakukan. Yaitu untuk sementara hati ini menaruh rasa tega terhadap penderitaan yang ia hadapi. Artinya, sejenak kita menjadi orang tua yang tidak dengan mudah menaruh rasa kasihan kepada anak. Rasa kasihan kepada anak yang menangis dalam keadaan pucat sambil memegangi perutnya karena lapar dikesampingkan dulu, karena ada rasa kasihan yang jauh lebih besar dari itu, yaitu membayangkan ketika ia menjadi anak yang meronta-ronta kesakitan disiksa malaikat dalam kobaran api neraka. 

  1. Melatih puasa 

  • Mulai mengenalkan seperti halnya ibadah lain 

Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan anak mulai diperintahkan untuk berpuasa penuh. Imam Syafi’i dan ulama pengikutnya kebanyakan berpandangan bahwa anak-anak diperintah berpuasa ketika mereka sudah mampu melakukannya. Ukuran kemampuan ini adalah ketika mereka mencoba berpuasa tiga hari berturut-turut dan tidak merasa lemas ketika itu. Ini adalah tahap pengenalan, sekaligus latihan awal dengan langsung mempraktikkannya.

Ibadah dan kewajiban memang baru dikenakan ketika anak mencapai telah baligh. Namun kebanyakan ulama sudah menganjurkan agar para orang tua mendidik anaknya untuk berpuasa sejak kecil, sebagaimana praktik ibadah lainnya. Ini mengandung hikmah agar anak terbiasa melakukannya sejak kecil, sehingga ketika akil baligh ia tidak merasa berat dan asing menanggung beban sebagai mukallaf. 

Umar ra pernah memarahi  orang yang mabuk-mabukan pada siang hari bulan Ramadhan, ‘Celaka kamu! Anak-anak kami yang masih kecil saja berpuasa!‘ Kemudian beliau memukulnya.” (HR Bukhari)

  • Yang paling tahu kemampuan anak adalah orang tuanya

Tidak ada orang yang paling mengetahui kemampuan anak, kecuali orang tuanya sendiri. Jika ternyata ada sepasang orang tua yang tidak mengetahui kemampuan anaknya, maka telah cukuplah bukti bahwa mereka tidak sungguh-sungguh mencintai anaknya. Tidak ada kedekatan, menjalin ikatan lekat (bonding), dan tidak serius memberi perhatian.  

Anak yang satu tidaklah sama kemampuannya dengan anak yang lain meskipun usianya sama. Orang tua seharusnya memiliki catatan dalam ingatan bahwa anaknya memiliki kemampuan untuk menahan lapar dan haus sampai berapa lama dan dalam kondisi seperti apa. Ada anak yang di usia 7 tahun hanya mampu menahan haus dan lapar sampai pertengahan hari, ada pula yang mampu sampai maghrib.  Ada anak usia taman kanak-kanak yang mampu menahan sampai magrib, juga ada anak yang menjelang akil baligh hanya bertahan sampai dzuhur. Beberapa anak memiliki kemampuan menahan bukan karena rasa lapar dan hausnya, melainkan karena kemampuan menjaga harga diri dan niatnya. Anak-anak tertentu sangat menjaga harga diri dan niatnya sehingga berjuang menahan sampai maghrib, sementara anak lain di usia yang sama tidak memiliki rasa malu dan kurang teguh niatnya sehingga adzan dzuhur sudah membuatnya menyerah. 

Ini semua mestinya ada dalam catatan orang tua. Dengan pengetahuan ini, orang tua dapat membuat rencana, perlakuan apa yang harus diterapkan pada anaknya setiap kali menghadapi latihan puasa.

  • Menghibur dengan mainan 

Salah satu cara untuk melatih anak berpuasa adalah dengan memberinya hiburan yang membuatnya lupa akan rasa haus dan laparnya. Ada kisah menarik mengenai latihan puasa bagi anak yang dicontohkan oleh Ar Rubayyi binti Mu’awwidz. 

Dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata, “Nabi SAW pernah mengutus seseorang ke salah satu suku Anshar di pagi hari Asyura.” Beliau bersabda, “Siapa yang di pagi hari dalam keadaan tidak berpuasa, hendaklah ia berpuasa. Siapa yang di pagi harinya berpuasa, hendaklah berpuasa” 

Ar Rubayyi’ mengatakan, “Kami berpuasa setelah itu. Lalu anak-anak kami pun turut berpuasa. Kami sengaja membuatkan mereka mainan dari bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis, merengek-rengek minta makan, kami memberi mainan padanya. Akhirnya pun mereka bisa turut berpuasa hingga waktu berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika itu, mainan dari bulu sangat menarik bagi anak sehingga menjadi penghibur. Pada saat ini, mainan apapun yang sangat anak minati asal tidak membawa dampak buruk.  

  • Ia tetaplah seorang anak 

Latihlah berpuasa bagi anak sejak awal sebagaimana orang tua menyampaikan perintah shalat. Setelah itu, libatkan anak  langsung dalam praktik sampai ia menjadi terbiasa. 

Meskipun ada anjuran mengajarkan demikian, orang tua tetap harus menyadari bahwa ia adalah seorang anak yang sedang dalam tahap belajar. Selama ia belum akil baligh, ia belum terbebani oleh kewajiban untuk menjalankannya sehingga pemaksaan atau bersikap keras kepadanya  adalah sebuah kezaliman. 

Sampaikan dengan gembira dan citakan nuansa yang menyenangkan ketika bulan ramadhan tiba untuk mengimbangi perut lapar dan hausnya anak-anak yang berlatih puasa.

  • Yang kita latih adalah kesadarannya untuk taat 

Latihan menjalankan puasa, sebagaimana halnya latihan menjalankan ibadah lain pada anak yang belum mukallaf, mengandung satu maksud utama, yaitu untuk mulai menyadarkan anak bahwa manusia adalah hamba yang harus taat kepada Rabb-nya. Yang paling utama dalam upaya ini adalah agar pada anak segera tumbuh jiwa menghamba atau jiwa taat menjalani perintah Allah. Semangat dan kesadaran untuk taat inilah nanti yang membuatnya mudah menerima penyempurnaan dan beban ibadah lainnya. 

Jika belum baligh, saat ini ia masih terbebas dari tuntutan kesempurnaan. Tetapi sebuah keuntungan yang amat besar jika dalam jiwanya telah tumbuh semangat untuk taat.  

Pena diangkat dari tiga orang (di antaranya), dari anak kecil hingga ia ihtilam (baligh).” (H.R. Muslim)

  1. Menghadapi anak yang berlatih puasa 

  • Tidur tidak larut malam 

Di Indonesia, umumnya suasana malam bulan Ramadhan cukup meriah sehingga anak-anak tidak segera tidur begitu shalat tarawih selesai. Mereka terhubung lagi dengan teman-temannya sesama jamaah tarawih dan mungkin bermain beberapa waktu. 

Tidak ada yang salah dari permainan yang menggembirakan itu, tetapi orang tua  tetap harus memberi batasan waktu untuk tidur tidak terlalu larut malam. Ini penting untuk memberi peluang bagi anak agar mereka mudah bangun saat sahur. 

  • Membangunkan sahur 

Beberapa anak tidak mudah bangun di waktu yang tidak biasa ia bangun. Kebanyakan anak tidur ada puncak lelapnya di tengah malam sampai menjelang subuh, padahal di saat menjelang subuh itulah anak harus bangun untuk makan sahur. 

Meskipun tidak mudah bagi beberapa tipe anak, mereka tetap bisa bangun dan tidak membahayakan kesehatannya. 

Ingatkan anak setiap menjelang tidur, bahwa ia harus bangun untuk makan sahur. Anda dapat mengajaknya untuk mengatur jam weker atau alarm di handphone pada jam sahur. Dengan cara ini, anak yang memang kesulitan bangun tetap tertidur meskipun sejenak membuka mata begitu mendengar alarm berbunyi. Oleh karenanya, orang tua harus hadir dan terus memotivasinya untuk bangun. Untuk menghilangkan rasa kantuk agar ia tidak ingin tidur lagi, anda dapat menyuruhnya berwudhu atau setidaknya mencuci muka, tangan, dan kaki. 

  • Sahur dengan menu kesukaan dan bergizi

Sebulan berpuasa tidak membuat anak kekurangan gizi, selama saat sahur dan berbuka dengan menu yang padat gizi. 

Sebagai pembangkit semangat anak untuk bangun sahur, sediakan menu bergizi yang ia sukai. Ini perlu sedikit kesabaran karena mungkin anda akan repot dengan banyaknya pergantian menu setiap hari, dan sebagian dari menu itu sesuai selera orang tua.   

  • Meningkatkan nuansa kebersamaan 

Bagaimanapun anak memerlukan penguatan ketiak sedang berlatih. Di satu sisi orang tua harus tega membiarkannya bertahan dalam lapar dan haus, tetapi disisi lain juga harus mendampinginya untuk menguatkan latihan ini. Maksudanya adalah hadirnya orang untuk membersamai, terus memberi motivasi di saat anak mulai ingin menyerah dan tetap tegas tidak memberi kesempatan baginya untuk berbuka sebelum waktunya jika memang tidak ada tanda-tanda yang membahayakan baginya. 

Temani anak saat makan sahur bersama, berbuka, dan di saat-saat lain ia memerlukan kehadiran Anda. 

  • Bersabar dalam tahapan-tahapan

Tahapan berlatih puasa dapat mulei dengan cara paling ringan yang mampu ia lakukan. Yang paling mudah adalah memberlakukan tahapan berdasarkan hitungan waktu, yaitu mulai dengan menahan sampai zuhur, hingga beberapa  hari lamanya. Setelah berhasil menahan sampai dzuhur, beberapa hari sampai ashar. Setelah berhasil menahan sampai ashar, hari-hari berikutnya berlatih untuk menahan sampai maghrib.

Latihan bertahap seperti ini mungkin tidak berhasil dalam satu bulan ramadhan, melainkan harus berlanjut pada ramadhan tahun berikutnya. Jadi, mungkin pada ramadhan kali ini hanya bertahan sampai zuhur dan beberapa hari berhasil sampai ashar. Tahun berikutnya harus bertahan sampai ashar dan meningkat sampai maghrib.    

  • Apakah tetap terlibat buka bersama saat maghrib meskipun gagal puasanya?

Anak yang hanya berhasil menahan sampai dzuhur atau ashar tidak berarti bahwa ia berbuka di saat dzuhur atau ashar dengan kualitas buka puasa seperti mereka yang berbuka saat maghrib. Jika ia hanya kuat menahan sampai dzuhur, maka makanan dan minuman cukup sekedar menghilangkan haus dan mengusir lapar saja, bukan dengan berpesta seperti makan besar. Kondisikan rumah tetap dalam nuansa puasa, yaitu tidak tersedia hidangan kecuali beberapa makanan dan minuman pembatal puasa darurat. Jadi, anak tidak merasa kenyang dan belum terpuaskan dengan bukan puasanya di saat dzuhur dan ashar. Sebab buka puasa yang sesungguhnya dan penuh kenikmatan tetaplah ketika adzan maghrib berkumandang. 

Meskipun anak tidak berhasil menuntaskan puasa, ia sebaiknya tetap terlibat buka puasa maghrib dalam suasana hangat dan menyenangkan. Ini sangat bermanfaat baginya agar ia turut merasakan pengalaman berbuka puasa yang sesungguhnya. Pengalaman indah ini akan menjadi motivasi baginya untuk semakin bersemangat menuntaskan puasanya esok hari.  

Selain itu, melibatkan anak pada acara buka puasa maghrib adalah bentuk pengakuan atas perjuangan dia yang telah membuktikan ketaatannya untuk menahan, meskipun hanya sampai dzuhur atau ashar. Ia terlibat dalam nikmatnya buka bersama sebagai penghargaan atas bukti taatnya terhadap perintah Allah.  

  • Hentikan bila tampak tanda-tanda membahayakan. 

Anak yang terlalu menjaga harga diri bisa sangat gigih bertahan untuk puasa bahkan dalam kondisi yang paling ekstrim dan membahayakan dirinya. Anak seperti ini harus didekati, dan diberi permakluman bahwa ia boleh membatalkan puasanya karena memang tidak kuat. 

Beberapa tanda yang mengkhawatirkan antara lain, 

  • Dehidrasi, dengan tanda-tanda lemas, mata cekung, dan kulit kering hingga saat dicubit gelambir kulit tidak kembali rata seperti semula.
  • Badan lunglai, dengan ukuran tak kuat lagi berjalan meskipun hanya beberapa langkah. 
  • Tidak merespon atau sulit merespon pembicaraan karena terjadi penurunan kemampuan untuk berfokus. 
  • Demam atau sakit perut yang melilit yang biasanya terlihat dengan kecenderungan melingkarkan badan sambil memegang perut
  • Menangis dalam waktu lama, melebihi sepuluh menit dengan tatapan mata kosong atau setengah memejam dan suara melemah.
  • Muncul gejala sakit seperti mual atau muntah, mimisan dalam jumlah banyak, sesak napas, perut kembung, mencret, demam, atau mengaku sakit kepala.  

Ia benar-benar dalam keadaan tidak mampu lagi menahan lapar dan haus atau dalam kondisi tidak sehat. Oleh karena itu latihan puasanya harus berhebti agar tidak membahayakan tubuh. 

  • Beri hadiah bila memenuhi target

berikan penghargaan kepada anak bila ia berhasil memenuhi target latihan. Jika pada hari-hari awal targetnya sampai dzuhur, maka ia berhak mendapat penghargaan jika ternyata berhasil menahan sampai dzuhur. 

Penghargaan dapat berupa hadiah, penambahan fasilitas harian, atau setidak-tidaknya berupa pujian dan pengakuan bahwa ia sudah berhasil.

 

[Yazid Subakti]

Menyampaikan Hikmah Shalat

Menyampaikan Hikmah Shalat

Hikmah Shalat – Diperintahkannya shalat di satu sisi adalah sebagai pembuktian ketundukan diri kepada Allah, dan di sisi lain merupakan tanda syukur terhadap nikmat dari-Nya. Di luar itu semua, salat sebenarnya mengandung hikmah yang akan dirasakan manusia baik di dunia dan di akhirat kelak, apabila melaksanakannya dengan sempurna.

Shalat diatur atas waktu-waktu yang sangat bermakna. Shalat subuh melatih untuk bangun pagi memulai hari. Salat zuhur mengingatkan istirahat agar tidak tubuh tidak terzalimi oleh kegiatan terus menerus. Shalat ashar mengingatkan akan tibanya sore hari agar  bersiap memeriksa kembali pekerjaan sebelum diakhiri. Shalat maghrib menandai awal malam agar manusia bersiap menuju aktivitas malam. Salat isya mengingatkan bahwa gelap malam sudah datang agar manusia bersiap ibadah atau istirahat. 

Orang yang shalat tepat pada waktunya mudah menggunakan waktu dengan efektif.

  • Mencintai kebersihan

Salah satu syarat shalat sah shalat adalah harus suci badan, pakaian, dan tempat. Sebelum salat, tubuh harus bebas dari najis dan hadats. Orang yang menjadikan shalat sebagai aktivitas pentingnya akan menjaga kesuciannya. Badannya bersih, pakaiannya bersih, dan tempat tinggalnya juga bersih. 

Karena sesuatu yang bersih belum tentu suci, maka keharusan bersuci setiap kali shalat adalah agar manusia juga menjaga kesucian batinnya.   

  • Belajar hidup tertib 

Rukun shalat dan penyempurna rukunnya dipenuhi oleh ketentuan yang harus dijalankan dengan teratur. Ada urutan bacaan dan gerakan, ada pengulangan bacaan dan gerakan, juga ada arah hadap yang semuanya telah ditentukan. Dalam shalat berjamaah, ada shaf yang harus lurus dan dirapatkan. 

Semua itu merupakan latihan hidup teratur dan tertib, agar terbentuk kepribadian yang terbiasa hidup dalam keteraturan. 

  • Latihan membentuk jiwa tawadhu dan rendah hati

Shalat berjamaah tidak mengenal kasta atau kedudukan sosial. Siapapun yang datang lebih dahulu berhak untuk menempati shaf pertama paling depan. Setinggi apapun kedudukan orang di dunia harus rela menempati shaf belakang jika datang terlambat. 

Gerakan shalat mengajarkan kesejajaran dan menghendaki manusia menundukkan egonya. Semua gerakan sama tanpa memandang kedudukan. Semua orang ruku’ dan sujud membungkukkan badan, dan sujud menyungkurkan kepala untuk merasa rendah di hadapan Allah.  Ketika sujud, kepala dan kaki sama derajatnya. 

  • Baik untuk kebugaran 

Gerakan shalat dapat melenturkan urat syaraf dan mengaktifkan sistem keringat. Ini seperti pemanasan pada saat setiap kali memulai olahraga atau aktivitas yang memerlukan banyak gerakan. Gerakan-gerakan shalat juga berpeluang memperbaiki pernapasan sehingga membuka lebih banyak penyerapan oksigen ke otak, membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta menyehatkan jantung. Banyak gerakan sholat yang melibatkan persendian jemari kaki, tumit, lutut, pinggul, pundak dan siku memberi peluang kesehatan persendian agar terhindar dari pengapuran. 

  • Kepemimpinan 

Dalam shalat jamaah, imam adalah pemimpin yang harus ditaati selama ia memimpin shalat sesuai aturan. Semua jamaah wajib patuh dan mengikuti tanpa boleh menawar. Saat imam bertakbir, semua makmum bertakbir. Saat imam membaca surat, semua jamaah mendengarkan. Dan saat imam mengakhiri al fatihah, semua makmum serentak mengaminkan. 

Meskipun harus taat pada imam, ketika diketahui bahwa imam melakukan kesalahan, makmum harus berani mengingatkan. Makmum mengucap tasbih atau menepuk tangan (bagi perempuan) untuk mengingatkan kesalahan imam. Imam harus taat kepada peringatan makmum dan meluruskan kesalahannya atau melakukan sujud sahwi di akhir shalat.

Itu semua adalah prinsip kepemimpinan. Anak yang rajin shalat dan menjiwainya terbiasa taat untuk dipimpin dan memiliki keberanian untuk mengingatkan. Suatu saat, ia juga harus siap memimpin    

Mendorong anak laki-laki untuk berani mengumandangkan adzan 

Adzan adalah seruan mengundang orang untuk datang ke masjid mengerjakan salat berjamaah, sekaligus menjadi penanda  bahwa waktu shalat telah tiba. Adzan juga menjadi syiar islam yang menandai bahwa di masyarakat tersebut ada sekelompok umat islam yang menegakkan shalat. Selama suatu masjid masih berkumandang adzan di setiap waktu shalat, selama itu pula kemakmuran masjid masih bisa diharapkan, minimal berupa salat berjamaah. Jika suatu masyarakat sudah tak lagi mendengar adzan, maka saat-saat menyedihkan akan segera tiba. Tanda bahwa islam akan segera tenggelam karena orang tak lagi menegakkan shalat berjamaah dan enggan bersyiar.

  • Anak laki-laki harus berani mengumandangkan adzan

Berikan dorongan kepada anak laki-laki untuk berani mengumandangkan adzan. Sampaikan kemuliaan—kemuliaan seorang muadzin, dan harapan bahwa dirinya kelak akan menjadi salah satu orang yang yang gemar menyerukan shalat. Berceritalah tentang kebaikan dan penilaian positif orang–orang yang selama ini berjasa mengumandangkan adzan sehingga seluruh masyarakat bergerak untuk salat. Jika mendengar suara adzan dari orang yang sudah lanjut usia, ajak anak berdiskusi bagaimana nasib masjid seandainya orang tua tersebut meninggal  dunia. 

Untuk mendorong anak mengumandangkan adzan, orang tua tak perlu lebih dahulu menyampaikan tuntutan-tuntutan. Yang pertama-tama harus dimiliki anak adalah hapalan secara lengkap kalimat adzan, dan keberanian mengumandangkannya. 

  • Perbuatan mulia 

Seorang  muadzin  memiliki  keutamaan  yang  sangat besar.  Ia  akan  diampuni  dosa-dosanya  sejauh  jarak dengar  suara  adzannya,  dan  ia  akan  mendapat  pahala sebesar  pahala  orang  yang  mengerjakan    shalat bersamanya.  

Dari  Al-Barra’ bin Azib ra bahwa Nabi SAW bersabda; 

Sesungguhnya  Allah  dan  para  malaikat-Nya mendoakan  orang-orang  yang  berada  di  shaf  terdepan. Muadzin  akan  diampuni  dosa-dosanya  sejauh  jarak dengar suara adzannya, ia dibenarkan (disaksikan) oleh setiap  yang  basah  (yang  tidur)  dan  yang  kering  (benda mati) yang  mendengarnya  dan  ia  mendapat  pahala sebesar  pahala  orang  yang  mengerjakan  shalat bersamanya.” HR. Ahmad dan Nasa’i )

Seorang  muadzin  juga  akan  mulia pada  hari  Kiamat  kelak,  yaitu  ia  akan  menjadi  orang  yang  paling panjang  lehernya  pada  hari  Kiamat.  

Ini seperti hadits dari Mu’awiyah  bin  Abi  Sufyan ra,  ia  berkata,  Aku mendengar Rasulullah a bersabda; “Muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada Hari Kiamat.” HR. Muslim.

maksud dari yang paling  panjang lehernya adalah orang yang membawa   amalan   paling banyak.  

Demikian kemuliaan seorang muadzin. Jika saja semua orang mengetahui rahasia ini,  mereka akan berlomba-lomba  untuk mengumandangkan adzan, meskipun harus dengan undian. 

Dari Abu Hurairah y bahwa Rasulullah a bersabda; 

Seandainya manusia mengetahui pahala yang ada di dalam  adzan  dan  shaf  (barisan)  pertama,  kemudian mereka  tidak  bisa  mendapatkannya  kecuali  dengan mengadakan  undian,  niscaya  mereka  akan  mengadakan undian.” ( HR. Bukhari dan Muslim )

  • Menyampaikan kriteria Muadzin  

setelah anak bersemangat atau berani mengumandangkan adzan, sampaikan secara bertahap kriteria seorang muadzin. 

Di antara kriteria itu adalah, 

  • Muslim, yaitu seorang yang beragama islam saja yang boleh mengumandangkan adzan. Orang  non  muslim  tidak  sah mengumandangkan adzan.
  • Mumayyiz, yaitu seorang anak yang sudah mampu membedakan antara manfaat dan mudharat, dan menilai antara yang benar dan salah.  Anak kecil yang mumayyiz sah mengumandangkan adzan, meskipun  belum  akil baligh. Biasanya, anak sudah mumayyiz sejak usia 7 tahun.
  • Laki-laki,  bukan perempuan. Adzan yang berkumandang untuk umum adalah kewajiban (fardhu kifayah) bagi laki-laki,  bukan  wanita sebagaimana  Rasulullah a bersabda;  “Tidak ada adzan dan iqamah bagi para wanita.” (HR. Baihaqi). Wanita boleh adzan dan iqamah untuk kalangan sesama wanita. 
  • Suaranya merdu, yaitu suara yang dapat terdengar dengan jelas dan keras, serta dapat menarik perhatian orang untuk mendatangi suara tersebut. Nabi SAW pernah kagum  dengan  suara Abu  Mahdzurah, kemudian beliau mengajarkan adzan. 
  • Mengetahui waktu shalat dengan baik, yaitu mengetahui jam dan menit ke berapa masuk waktu shalat fardhu setiap kali menjelang adzan berkumandang.

 

[Yazid Subakti]

Membiasakan Anak Shalat Berjamaah 

Membiasakan Anak Shalat Berjamaah 

Shalat  fardhu lima waktu sah dilakukan apabila syarat dan rukunnya telah dipenuhi. Tetapi ada keutamaan di luar syarat dan rukun yang menjadikan shalat lebih sempurna dan berlipat keutamaan, yaitu jika melakukan shalat berjamaah. 

Mestinya, anak menjelang dan di awal masa aqil baligh sudah dapat memahami hukum syariat. Orang tua juga tidak perlu ragu untuk menyampaikan ketentuan mengenai hal-hal wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. 

Mengenai hukum shalat berjamaah, sampaikan kepada anak dengan obyektif bahwa hukumnya  bagi laki-laki  adalah sunnah muakkad  atau sunnah yang sangat  ditekankan. Maksudnya, ini adalah sunnah yang tidak  boleh  untuk  diabaikan meskipun bukan wajib.  Ini sebagaimana pendapat  para ulama madzhab Hanafi dan kebanyakan ulama pengikut madzhab Maliki. 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda 

“Demi (Allah)  yang  jiwaku  berada  di  tangan-Nya, sesungguhnya  aku  ingin  memerintahkan  (seseorang untuk) mengumpulkan  kayu  bakar  hingga  terkumpul. Kemudian aku perintahkan shalat dan (dilakukan) adzan.  Lalu  aku  perintahkan  seseorang  untuk  mengimami manusia. Kemudian aku (akan mendatangi orang-orang)  yang  tidak  menghadiri (shalat  berjamaah),  dan  akan kubakar rumah-rumah mereka. Demi (Allah) yang jiwaku  berada  di  tangan-Nya,  seandainya  salah  seorang diantara  mereka  mengetahui  bahwa  ia  akan  mendapatkan  daging  gemuk  atau (akan  mendapatkan) dua tulang  paha  yang  baik,  niscaya  ia  akan  hadir (berjamaah dalam Shalat) Isya‟ (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata; 

“Seorang  laki-laki tuna  netra mendatangi  Nabi a dan berkata,  ”Wahai Rasulullah,  sungguh  aku  ini  tidak  mempunyai seorang penuntun yang dapat menuntunku ke  masjid.” Ia meminta kepada Rasulullah  agar diberikan  keringanan  untuk  melaksanakan  shalat  (fardhu)  di  rumahnya. Maka Rasulullah  memberikan keringanan kepadanya.  Ketika  ia  akan  pergi,  Rasulullah  SAW memanggilnya  dan  bertanya,  ”Apakah  engkau mendengar  panggilan  adzan  untuk  shalat?”  Ia menjawab,  ”Ya.” (Maka)  beliau  bersabda,  ”(Kalau begitu), datangilah panggilan tersebut.”(HR Muslim) 

Terhadap hadits ini, para ulama sepakat mengenai amat pentingnya shalat berjamaah bagi laki-laki. Bahkan sebagian berani menyimpulkan hukumnya wajib. 

  • Pahalanya lebih banyak 

Salah satu bahan untuk memotivasi anak agar rajin  beribadah adalah dengan alasan berlipatnya pahala.  Begitu juga ketika menyampaikan alasan pentingnya shalat berjamaah,  berlipatnya pahala adalah alasan yang mudah ia pahami. Sebab, yang mampu anak pikirkan adalah dengan banyaknya pahala, Allah akan memasukkannya ke surga. 

Shalat berjama’ah  lebih  utama  dua  puluh  tujuh derajat  daripada  shalat  sendirian.  Ini seperti yang   Ibnu Umar ra riwayatkan, bahwa  Rasulullah SAW bersabda; 

“Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian” (HR Muslim)

Selain berlipatnya pahala, langkah menuju masjid adalah langkah penuh kebaikan yang dengannya Allah memberikan pahala. 

Rasulullah bersabda, 

Dari Abu Hurairah  ia berkata, Rasulullah a bersabda; “Barangsiapa bersuci  di  rumahnya,  kemudian  berjalan  kaki ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (yaitu;  masjid) untuk  melaksanakan  salah  satu fardhu  dari  fardhu-fardhu  (yang  telah)  Allah  tetapkan  (padanya),  maka setiap  langkah  (kaki)nya  yang  satu  menghapus kesalahan dan yang lain mengangkat derajat.”(HR Muslim)

  • Mendapat kesempatan bertemu Allah di hari kiamat

Orang-orang yang menjaga shalatnya selalu berjamaah berpeluang oleh Allah kesempatan untuk bertemu dengan-Nya kelak di hari kiamat. Rasulullah menjelaskan ini dalam haditsnya, 

“Barangsiapa  yang  ingin  meninggal  dunia  dalam  keadaan  sebagai  seorang  muslim  dan  bertemu  dengan  Allah SWT  sebagai  seorang  muslim,  maka  hendaklah  ia  menjaga  shalat fardhunya secara berjama’ah di  masjid. (HR Muslim)

Sedangkan Abdullah bin Mas’ud ra mengatakan, “Barangsiapa yang (ingin) bertemu dengan Allah besok  (pada  Hari  Kiamat)  sebagai  seorang  muslim,  maka hendaklah ia menjaga shalat (fardhu) di tempat dimana ia  diseru (yaitu di masjid).”

Semua orang tentu saja ingin bertemu Allah, dzat yang menciptakannya. Dan akan merasa sedih jika Allah menolak untuk menemuinya. 

  • Terhindar dari kesulitan di hari kiamat 

Saat hari kiamat tiba nanti, manusia menghadapi banyak kesulitan. Allah memerintahkan para malaikat untuk mengatur manusia, menghitung amal dan memilih di antara mereka mana yang layak masuk surga dan siapa saja yang harus masuk ke neraka. Malaikat menggiring manusia dari satu tempat ke tempat berikutnya, juga menyuruh mereka untuk bersujud di saat tertentu. Maka  Allah SWT telah mengingatkan, mengancam  orang-orang  yang  senantiasa  meninggalkan  shalat  berjama’ah,  bahwa mereka  nanti  tidak  akan  dapat  bersujud  ketika  Hari  Kiamat.  Allah SWT  berfirman; 

Pada  hari  betis  disingkapkan dan  mereka diseru untuk bersujud,  maka  mereka  tidak dapat  (melakukannya).  Pandangan mereka tunduk ke bawah, dan mereka diliputi  kehinaan.  Dan  sesungguhnya  mereka  dahulu  (ketika di dunia)  diseru  untuk  bersujud,  dan  mereka  dalam keadaan sejahtera.”(QS. Al-Qalam : 42 – 43) 

Mengenai ayat ini, Ka’ab Al-Ahbar mengatakan bahwa tidaklah ayat ini turun, kecuali berkenaan dengan  orang-orang yang meninggalkan shalat berjama’ah.

  • Wanita tidak dilarang ke masjid 

Para wanita tetap mendapat keutamaan yang sama ketika shalatnya berjamaah, hanya saja tidak hukumnya sunnah muakkadah untuk berjamaah di masjid. 

Meskipun demikian, tidak ada larangan bagi wanita pergi ke masjid. Rasulullah memerintahkan para sahabat agar tidak menghalangi wanita pergi ke masjid. 

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah a bersabda; 

“Janganlah kalian  menghalangi  para  hamba  wanita  Allah  menghadiri  masjid-masjid  Allah. Tetapi  jika  mereka  hendak  keluar (ke  masjid), (hendaklah) mereka  tidak mengenakan wangi-wangian.”(HR Abu dawud)

Jadi, anak perempuan sebaiknya tetap boleh ke masjid, jika memang kebaikan mendapatkan lebih banyak kebaikan di masjid daripada di rumah. Jika ibadah di masjid membuatnya lebih khusyu dan bersemangat, dan jika di masjid ia bisa belajar lebih banyak tentang hal-hal lain yang mendukung pemahaman agamanya. 

Anak perempuan harus mengetahui beberapa hal ini ketika mereka pergi ke masjid :

    • Di  tempat  yang  terpisah  dari  laki-laki  dengan  tabir  penutup  yang sempurna
    • Tidak berinteraksi bebas dengan jamaah laki-laki sebelum atau setelah melakukan shalat 
    • Tetap menghindari  hal-hal  yang dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan fitnah kepada jamaah laki-laki
    • Tidak memakai wangi-wangian  yang dapat menimbulkan godaan bagi jamaah laki-laki 
    • Tidak  memakai  perhiasan yang membuat laki-laki terpesona memandangnya.
    • Tak banyak berbicara yang menyebabkan jamaah laki-laki penasaran dan ingin membalas pembicaraan 
    • Menutup aurat dengan sempurna, dengan jenis pakaian yang tidak menimbulkan syahwat bagi laki-laki.  
  • Udzur  untuk meninggalkan shalat berjama’ah 

Shalat berjamaah boleh tidak dilakukan dalam keadaan udzur atau terhalang oleh kondisi tertentu yang membuatnya tidak memungkinkan dilakukan. 

  • Hujan 

Pada  zaman Rasulullah, masjid terbangun dengan kondisi yang sangat sederhana. Dindingnya dari tumpukan batu dan pasir atau tanah, atapnya terbuka atau atau tertutup tidak sempurna, dan lantainya berupa hamparan tanah atau pasir. Dalam keadaan ini, hujan menyebabkan tempat menjadi berlumpur, becek atau muncul genangan air sehingga tidak layak untuk huni, apalagi untuk shalat. Di daerah bergurun, hujan dan cuaca buruk  menjadikan orang yang keluar rumah terancam petir, misalnya saat mereka berangkat ke masjid, terutama jika jarak rumahnya jauh. Mereka berjalan kaki dan tubuhnya menjadi basah kuyup. 

Pada zaman sekarang, masjid-masjid sangat nyaman dengan atap yang tertutup, dinding yang kokoh dan lantai keramik berkarpet yang bersih dan kering. Hujan yang turun tidak mempengaruhi kualitas tempat shalat untuk tetap shalat berjamaah karena lantai masjid tetap kering dan nyaman. Jarak dari rumah menuju masjid yang rata-rata dekat pun tidak terlalu menjadi masalah bagi jamaah untuk berangkat. Orang-orang dapat pergi ke masjid menggunakan kendaraan tertutup (mobil), berjalan kaki, atau roda dua dengan mengenakan jas hujan sehingga badan dan pakaian tetap kering. Ancaman cuaca berupa petir juga tidak berat karena tinggal di pemukiman yang banyak bangunan di sekelilingnya. 

Jadi, kondisi hujan yang menjadi udzur untuk shalat berjamaah ke masjid adalah jika hujannya sangat deras dan membahayakan, seperti hujan badai atau hujan yang yang menyebabkan banjir.   

  • Cuaca ekstrim 

Cuaca ekstrim adalah kondisi alam yang sangat dingin, terjadi angin kencang, petir terus menerus bersahutan menyambar, atau  hujan  yang  memberatkan bagi manusia untuk bepergian keluar rumah. 

Dalam keadaan ini, perjalanan ke masjid dapat membahayakan keselamatan. Oleh sebab itu boleh untuk tidak melakukan shalat berjamaah di masjid. 

  • Menderita sakit 

Orang sakit boleh untuk meninggalkan salat berjamaah. Sebab, ia tidak mampu menirukan gerakan imam dengan sempurna, perjalanan ke masjid dapat menjadikannya lelah dan menambah parah penyakitnya, atau khawatir penyakitnya menular kepada jamaah yang lain.

  • Rasa takut saat kondisi mencekam

Dalam keadaan tertentu, masyarakat yang berada dalam keadaan yang mencekam. Orang-orang takut keluar rumah karena terancam keselamatannya akibat peperangan atau serangan dari kelompok tertentu, kerusuhan, atau bentuk kejahatan lain yang memicu keadaan menjadi genting. Situasi ini dapat dimaklumi jika seseorang tidak melakukan shalat berjamaah di masjid. 

  • Makanan terlanjur dihidangkan  atau saat menahan hadats

Saat waktu salat tiba, kadang makanan telah terlanjur datang sedangkan perut dalam kondisi lapar.  Dalam keadaan ini, kita boleh untuk tidak mendatangi shalat berjamaah di masjid dan mendahulukan pemenuhan kebutuhan makan. 

Ini juga berlaku pada saat sedang menahan keinginan buang air. Ketika adzan berkumandang sedangkan kita menahan keinginan buang air, yang lebih utama adalah melakukan buang air dengan tenang dan wajar. Sebab salat berjamaah tidak akan mencapai derajat khusyu ketika kita menahan buang hajat. 

Dari  Aisyah  ra, ia  berkata,  aku mendengar Rasulullah a bersabda;  “Tidak  sempurna  shalat  yang  dikerjakan  setelah dihidangkan  makanan  (bagi orang yang  lapar) dan shalat seseorang yang menahan buang air kecil dan air besar.” (HR Muslim)

  • Tempat salat berjamaah 

Shalat  berjamaah  paling baik adalah di masjid. 

Dari Zaid bin Tsabit ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda; 

“Sesungguhnya  shalat  yang  paling  utama  adalah shalatnya  seseorang  di rumahnya,  kecuali  shalat  fardhu (yang utama adalah dilakukan di masjid).” (HR Bukhari dan Muslim)

Masjid sebagai rumah Allah, khusus untuk kepentingan umat khususnya kegiatan shalat berjamaah. Selain masjid, tempat yang bisa sebagai kegiatan yang kurang lebih sama adalah musholla atau surau.

Jika tidak memungkinkan untuk shalat berjamaah di masjid, mushola atau surau, semua tempat  yang  suci di muka bumi ini adalah boleh untuk shalat berjamaah. 

Dari Jabir  bin  Abdillah ra, bahwa  Nabi SAW bersabda; “Dijadikan  bumi  ini untukku  sebagai  masjid  (tempat shalat)  dan  alat  untuk bersuci  (pengganti  air),  maka siapapun dari  umatku  yang menemui  waktu  shalat hendaklah ia (segera) shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, rumah sebaiknya terkondisikan dengan ruangan yang selalu suci atau secara khusus menyediakan ruang untuk melakukan shalat berjamaah (mushola keluarga).

 

[Yazid Subakti]

Memastikan Gerakan Shalatnya Sahih

Memastikan Gerakan Shalatnya Sahih

Parenting – Memastikan gerakan shalatnya sahih, sebab shalat merupakan tiang agama. Jadi pastikan Ayah/Bunda mengajarinya sejak dini.

  1. Mengapa shalatnya harus benar? 

  • Amal yang pertama dihisab di hari kiamat adalah salat

Kelak di hari kiamat, para malaikat mendapat perintah dari Allah untuk menghitung semua amal manusia untuk menjadi pertimbangan mereka masuk neraka ataukah surga. Para malaikat itu bersiap siaga, dan memanggil manusia untuk diperiksa dengan teliti amal-amalnya selama hidup di dunia. 

Pertanyaan amal yang paling awal adalah mengenai shalatnya. 

Rasulullah SAW mengingatkan, 

“Amalan  yang  yang  pertama  kali  akan  dihisab  dari seorang  hamba  pada  hari  Kiamat  adalah  shalat(nya). Jika  shalatnya  baik,  maka  sungguh  ia  akan  sukses  dan  selamat. Dan jika kurang, maka sungguh ia telah celaka  dan merugi.” (HR At Tirmidzi)

Jangan sampai kita terlanjur banyak beramal baik di dunia, amalan ini menjadi sia-sia hanya karena di tahap awal perhitungan sudah tertolak karena shalat ada permasalahan serius dalam shalat kita. 

  • Shalat adalah pembeda antara keislaman atau kekafiran seseorang 

Di mata Allah, seseorang berbeda status kehambaannya sebagai orang beriman atau orang kafir berdasarkan shalatnya, yaitu ia mengerjakan shalat ataukah tidak. Jika seseorang terbiasa dengan shalatnya maka ia membuktikan  tanda keimanannya, dan jika menolak untuk mengerjakan shalat berarti membuktikan kekafirannya. 

Dari Jabir bin Abdillah ra, ia berkata, aku mendengar Rasulullah a bersabda; “Sesungguhnya  (jarak)  antara  seseorang  dengan  kesyirikan  dan  kekufuran  (adalah)  meninggalkan  shalat.”(HR Muslim)

Dalam kitab Al Kabair bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah berkata; “Barangsiapa  yang  tidak  shalat,  maka  ia  tidak mempunyai agama.”

Sedangkan Abdullah bin Syaqiq mengatakan,  “Para sahabat Rasulullah SAW tidak  melihat  suatu amalan  jika  ditinggalkan  (menjadikan)  kafir  (pelakunya)  selain  shalat

  1. Shalat dengan ikhlas dan ittiba’ 

Memasuki masa mumayyiz, anak sudah saatnya paham bagaimana salat dengan benar. Ia harus mengetahui bahwa ada dua kunci utama agar semua amal ibadah yang kita lakukan diterima Allah SWT, yaitu ikhlas dan ittiba’. 

  • Ikhlas 

Ikhlas berarti melakukan ibadah semata-mata karena Allah. Hanya karena taat kepada perintah Allah, bukan sebab-sebab yang lain. Artinya, tidak ada riya’ atau keinginan untuk mendapat pujian oleh makhluk, tidak ada dorongan atau motivasi mendapatkan imbalan berupa hadiah atau pencitraan baik baginya, juga bukan karena paksaan atas kondisi tertentu, atau ketakutan pada tekanan seseorang. 

Tetapi bagi anak-anak, makna ikhlas yang seperti itu tidaklah mudah ia pahami. Maka yang dapat kita lakukan adalah mengajarkannya shalat (juga ibadah lain) dengan menyempurnakan kaidah fiqihnya saja; yaitu ia mengerjakan sesuai dengan syaratnya hingga sempurna,   dan mengamalkan rukun-rukunnya sesempurna mungkin. 

Karena keikhlasan adalah persoalan hati, maka saat-saat paling tepat penanaman sifat ini ketika orang tua membicarakan akidah bersama anak. Keikhasalan dapat anda sampaikan saat memberi pemahaman mengenai  sifat Allah yang Maha Melihat, malaikat yang mendapat tugas mencatat semua amal, dan amal manusia yang tak satupun luput dari pengawasan Allah beserta malaikat-Nya. 

  • ittiba’ 

Makna ittiba adalah mengikuti cara ibadah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Nabi SAW berpesan, 

Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR.Bukhari dan Ad-Darimi)

Inilah hadits yang menjadi dasar keharusan kita untuk menyampaikan kepada anak bahwa salat yang kita lakukan harus ittiba’ dengan mengikuti cara beliau melakukannya. 

Dalam ittiba, kita tidak pernah melihat langsung Rasulullah SAW salat. Tetapi kalimat Beliau SAW “sebagaimana kalian melihat” menunjukkan bahwa dalam ittiba’ kita mengikuti orang yang pernah melihat Rasulullah shalat, yaitu mereka yang hidup bersama Nabi (istri dan para sahabat beliau). Boleh jadi hasil penglihatan seseorang akan berbeda dengan penglihatan seorang lainnya karena fokus perhatian dan suasana saat melihat juga tidak selalu sama.

Para sahabat (juga istri-istri Rasulullah) juga tidak sekedar melihat dengan pandangan mata (karena saat menjadi makmum tidak mungkin memandang Rasulullah yang menjadi imamnya) sehingga makna ‘melihat’ juga mencakup penghayatan bacaan salat, kualitas bacaan, ketenangan gerakan demi gerakan, bahkan pengaruh shalat dalam kehidupan sehari-hari. Ini memungkinkan terjadinya keragaman praktik shalat dalam batas tertentu, sehingga para ulama yang menyusun fiqih shalat juga mengemukakan tata cara yang di dalamnya terdapat beberapa keragaman. 

Tidak ada salahnya orang tua menyampaikan kepada anak bahwa dalam shalat terdapat sedikit keragaman mengenai tata cara mengerjakannya. Tetapi ada usia menjelang baligh seperti saat ini belum perlu diajarkan jenis keragaman tersebut. Anda cukup mengajarkan satu saja tata cara shalat seperti yang anda yakini dan praktekkan sehari-hari, sambil tetap meningkatkan bahwa mungkin saja ada teman-temannya yang melakukan salat dengan gerakan atau bacaan sedikit berbeda. 

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian diperintahkan pada sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari, dan Muslim)

 

[Yazid Subakti]

Memperbanyak Hafalan

Memperbanyak Hafalan

Parenting – Keutamaan memperbanyak hafalan AL Qur’an. Salah satu ciri orang yang luas ilmu agamanya adalah mereka yang memiliki banyak hafalan al-Quran. Sebab, ilmu-ilmu itu sumber utama memang berasal dari AL-Qur’an. 

 Allah berfirman,

Bahkan, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.(QS. al-Ankabut: 49).

Kita mendorong anak menghafal Al-Qur’an kerana Allah memberikan banyak keutamaan bagi hamba-Nya yang bersedia menjadi penghafal Al-Qur’an 

Salah satu kemuliaan yang seorang penghafal Al-Qur’an dapatkan adalah ia berhak untuk memimpin shalat berjamaah daripada dengan muslim yang lain. 

Dari Abu Mas’ud ra, Nabi SAW bersabda,

Yang paling berhak jadi imam adalah yang paling banyak hafalan al-Quran-nya. Jika dalam hafalan quran mereka sama, maka dahulukan yang paling paham dengan sunnah… dan seseorang tidak boleh menjadi imam di wilayah orang lain.” (HR. Ahmad, Muslim, dan yang lainnya)

Dalam hadits lain, dari Ibnu Umar, beliau bercerita, ketika para muhajirin pertama tiba di Quba, sebelum kedatangan Rasulullah SAW, yang menjadi imam mereka shalat adalah Salim mantan budak Abu Hudzaifah. Dan beliau adalah orang paling banyak hafalan qurannya. (HR. Bukhari )

  • Ketika meninggal, mayatnya tetap berhak dimuliakan 

Bahkan sudah meninggal pun, jenazah penghafal Al-Qur’an memiliki status lebih mulia daripada jenazah lain yang bukan penghafal. 

Ada kisah di zaman perang uhud yang membuktikan bahwa Rasulullah lebih memuliakan jenazah penghafal Al-Qur’an. Ketika itu, banyak korban gugur sebagai syuhada. Ketika hendak menguburkan, Rasulullah SAW lebih mengutamakan  jenazah penghafal Al-Qur’an. 

Kemudian Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan, Nabi SAW menggabungkan dua jenazah uhud dalam satu kain kafan. Setiap hendak memakamkan, beliau tanya, “Siapa yang paling banyak hafalan qurannya?

Kemudian Nabi SAW memposisikan yang paling banyak hafalannya di posisi paling dekat dengan lahat. Lalu beliau bersabda, ‘Saya akan menjadi saksi bagi mereka kelak di hari kiamat’. (HR. Bukhari dan at Tirmidzi)

  • Diutamakan untuk menjadi pemimpin 

Kepemimpinan umat  menempatkan penghafal Al-Qur’an pada kedudukan lebih tinggi daripada yang lainnya. Jika dalam pemilihan pemimpin terdapat beberapa orang yang sama-sama memiliki kemampuan, maka yang berhak terpilih adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur’an-nya. 

Ada sebuah kisah, ketika Umar ra menjadi khalifah, beliau menunjuk Nafi’ bin Abdul Harits untuk menjadi gubernur di Mekah. Suatu ketika, Umar bertemu Nafi’ di daerah Asfan.

Siapa yang menggantikanmu di Mekah?” tanya Umar.

Ibnu Abza.” Jawab Nafi’.

Siapa Ibnu Abza?” tanya Umar.

Salah satu mantan budak di Mekah.” Jawab Nafi’.

Mantan budak kamu jadikan sebagai pemimpin?” tanya Umar.

Dia hafal al-Quran, dan paham tentang ilmu faraid.” Jawab Nafi’.

Kemudian Umar mengatakan, bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat sebagian kaum berkat kitab ini (al-Quran), dan Allah menghinakan kaum yang lain, juga karena al-Quran.” (HR. Ahmad dan  Muslim)

  • Mendapat kedudukan lebih baik di surga 

Kedudukan manusia kelak di surga ternyata menyesuaikan dengan banyaknya ayat yang ia hafal. Semakin banyak ayat yang dihafal, semakin tinggi dan mulia kedudukannya. Jadi, ada harapan besar anak akan mendapat kedudukan tinggi di surga jika ia adalah seorang penghafal Al-Qur’an.  

Dari Abdullah bin Amr ra, Nabi SAW bersabda,

ditawarkan kepada penghafal al-Quran, “Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Quran ketika di dunia. Karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

  • Penghafal Al-Qur’an berteman Malaikat

Tidak semua orang memiliki pesona yang membuat malaikat bersedia untuk berteman dengannya. Tetapi Nabi menjamin bahwa pembaca sekaligus penghafal Al-Qur’an akan mendapat teman malaikat dalam hidupnya. 

Dari Aisyah ra, Nabi SAW bersabda,

Orang yang membaca dan menghafal al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia. Sementara orang yang membaca al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu menjadi beban baginya, maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari)

  • Mendapat mahkota dan pakaian kemuliaan di akhirat 

Dalam suasana yang sangat menegangkan di akhirat, orang-orang kebingungan dan panic. Mereka mencari pertolongan dan berharap Allah bermurah hati kepadanya. Tetapi penghafal Al-Qur’an justru mendapat mahkota dan pakaian kemuliaan dari-Nya. 

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda,

Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca.” (HR. At Tirmidzi).

  • Orang tuanya akan diberi mahkota cahaya kelak di akhirat

Anak yang menghafal Al-Qur’an dapat membawa kemuliaan bagi orang tuanya kelak di  akhirat. Orang tua mulia di hadapan Allah karena telah mendidik anaknya mencintai Al-Qur’an, kemudian mendapat mahkota cahaya sebagai penghargaan. 

Dari Buraidah ra, Nabi SAW bersabda,

Barang siapa menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa aku sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim).

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda,

Al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu… ” kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya, dan kedua orang tuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Quran.” (HR. Thabrani).

  • Hatinya senantiasa terawat  

Maksud hati yang terawatt adalah hati yang dalam keadaan sehat dan terhindar dari kotoran serta penyakit hati. Hati sehat ini memungkkinkan seorang hamba mudah menerima, memahami, mengambil hikmah dari semua ketentuan ALlah. Hati yang terawatt juga bermakna hati yang terjaga dari kotoran dan kerusakan-kerusakan yang menjerumuskan.   

Dalam hadits yang oleh Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, 

“Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh”. (HR at Tirmidzi).

  • Mendapat penghormatan dari Rasulullah SAW

Di hadapan rasulullah SAW, orang yang dihargai adalah pemilik hafalan Al-Quran paling banyak. Semakin banyak hafalan, Rasulullah SAW semakin menyukainya. 

Dari Abi Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian beliau SAW mengecek kemampuan membaca dan hafalan Al Qur’an mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hafalan Al-Qur’an-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW :”Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hafal, hai Fulan?” ia menjawab: aku telah menghafal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah. Rasulullah SAW kembali bertanya: “Apakah engkau hafal surah Al-Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah SAW bersabda: ”Berangkatlah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. 

Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafal surah Al-Baqarah semata karena takut aku tidak dapat menjalankan isinya. Mendengar komentar itu, Rasulullah SAW bersabda: “Pelajarilah Al Qur’an dan bacalah, karena perumpamaan orang mempelajari Al Quran  dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian dia tidur -dan dalam dirinya terdapat hafalan Al Qur’an- adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik.” (HR At Tirmidzi).

  • Penghafal Al Qur’an adalah keluarga Allah 

Selain di hadapan Rasulullah, penghafal Al-Qur’an sangat mulia kedudukannya di hadapan Allah. Allah bahkan menjadikan mereka dalam keluarga-Nya, yaitu golongan yang dekatk dengan-Nya seolah mereka adalah keluarga-Nya. 

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Masih banyak lagi keutamaan menghafal Al-Qur’an. Kita telah meyakini bahwa Al-qur’an sebagai kitab suci merupakan kalam Allah yang akan menambah kebaikan jika melekat di hati, yaitu dengan menghafalkannya.  Kita memberi contoh menghafal, sambil mendorong anak untuk menjadi penghafal. 

[Yazid Subakti]

Memastikan Bacaan Al Quran si Kecil Fasih

Memastikan Bacaan Al Quran si Kecil Fasih

Parenting – Sampaikan pesan kepada anak mengenai pentingnya menguasai ilmu fiqih. Dan sebagai orang tua memastikan bacaan Al Quran si kecil fasih. Mungkin saja anak harus masuk ke pesantren dan tinggal di sana bertahun-tahun demi penguasaan ilmu, dan harus menerima kenyataan perpisahan yang membuatnya bersedih. Ini adalah perpisahan sementara, untuk semua pertemuan kelak yang membahagiakan. 

Rasulullah SAW mengingatkan,

Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharapkan wajah Allah, namun ternyata ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan satu tujuan dunia, maka ia tidak akan mencium wanginya surga pada hari kiamat.” (HR Abu Daud)

  1. Mengajarkan anak membaca Al-Qur’an 

Adalah sebuah kemuliaan besar jika orang tua mengajarkan anaknya Al Quran. Sebab, orang tua adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Guru pertama bagi anak tentang Al-Qur’an dan pengetahuan lainnya adalah orang tuanya sendiri.

Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak tidak berarti mengajari anak semua ilmu tentang Al-Qur’an, sebab tidak semua orang tua memiliki pengetahuan dan penguasaan ilmu Al-Quran secara mendalam. Namun demikian, tetap dianjurkan mengajari anaknya Al-Qur’an meskipun hanya mengenalkan dasar-dasar cara membacanya atau membimbing hafalannya. 

Bagaimana dengan orang tua yang teramat sibuk? 

Tidak ada orang tua yang tak memiliki waktu, kecuali memang tak memprioritaskannya. Kesibukan itu hakikatnya tidak ada. Orang menjadi sibuk atas perbuatan tertentu, hanya karena memprioritaskan apa yang diperbuat itu dengan cara mengabaikan perbuatan lain, bukan karena tidak memiliki waktu luang.  Apakah Anda termasuk orang tua yang hanya memprioritaskan apa yang ingin Anda perbuat dengan cara mengabaikan pertemuan dengan anak? 

Tidak ada tips jitu untuk mengurai persoalan seperti itu karena solusinya teramat mudah, yaitu hanya dengan mengubah atau berbagi prioritas saja. Dan itu mudah, kecuali bagi orang yang hatinya menolak.    

  1. Mendatangkan guru atau mengirimkan anak ke majelis belajar Al-Qur’an 

Setelah mendapat dasar-dasar ilmu Al-Qur’an dari orang tuanya, anak harus mendapat ilmu lanjutkan yang mendalam mengenai Al-Quran. Ia harus menguasai perbaikan bacaan (tahsin), hafalan, dan pemahaman mengenai makna ayat-ayat Al-Qur’an. Untuk menguasai ini semua, anda dapat mendatangkan guru atau mengirimkan anak ke majelis ilmu di luar rumah. Anda dapat mendaftarkan anak ke ma’had, pesantren, atau lembaga  tempat pembelajaran Al-Qur’an.  

 

[Yazid Subakti]