Muliakan dengan Aqiqah

Muliakan dengan Aqiqah

Muliakan dengan aqiqah – Kata ‘Aqiqah’ berarti ‘memutus’ atau memotong. Kata ini semakna dengan kata dzabihah atau nasikah, yang intinya pemotongan atau penyembelihan.

Jadi, Aqiqah berarti “menyembelih kambing pada hari ketujuh (dari kelahiran seorang bayi) sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat Allah berupa kelahiran seorang anak”.

Sebagai salah satu bentuk ibadah, ada niat dan syarat tertentu dalam melakukan aqiqah. Yang dimaksud niat tertentu adalah, bahwa ibadah ini memang niatnya menyengaja untuk aqiqah, bukan qurban atau penyembelihan untuk tujuan yang lain. Ketentuan lainnya adalah adanya keharusan menyebut nama si bayi saat menyembelih. Jadi, sunnah untuk membaca ‘bismillah’ ketika menyembelih dan mengucapkan “ya Allah untuk-Mu dan kepada-Mu aqiqah si fulan (nama bayi)”.

Dalam hadits dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW melakukan aqiqah untuk Hasan dan Husain, dan beliau mengatakan: ucapkalnlah (ketika menyembelih) bismillah, Allahu akbar, ya Allah ini milik-Mu dan untuk-Mu, ini aqiqah si fulan (menyebut nama bayi) (HR. Al-Baihaqi)

  1. Sangat dianjurkan

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum aqiqah. Sebagian menyatakan wajib, sunnah muakkadah, dan sebagian yang lain menyatakan mubah atau tidak menjadi syariat.

Ulama yang berpendapat wajib adalah para penganut madzhab Zhahiriyah. Mereka ini adalah Buraidah ibn al- Hushaib, Hasan al-Bashri, Abu az-Ziyad, dan Daud Adz-Dzahiri. Sementra itu yang berpendapat bahwa aqiqah hukumnya sunnah muakkadah adalah para ulama dari madzhab Syafiiyah dan sebagian besar ulama di kalangan Hanabilah.

Sebagian ulama menghukumi Mandub pada akikah, artinya aqiqah menjadi anjuran tetapi derajat penganjurannya tidak sekuat sunnah. Ulama yang berpendapat demikian berasal dari penganut madzhab Malikiyah.

Para ulama dari madzhab Hanafiyah menganggap aqiqah adalah mubah. Artinya, aqiqah boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan.

Yang pasti, melakukan aqiqah tetap baik. Begitu dianjurkannya, imam Ahmad sampai menyarankan agar orang tua yang tidak mampu membeli kambing tetap mengusahakannya dengan berhutang, asalkan masih ada harapan bisa membayar hutangnya.

  1. Waktu Aqiqah

Penyembelihan hewan aqiqah adalah hari ketujuh setelah kelahiran bayi. Namun ulama dari madzhab Syafi’i dan hambali membolehkan sejak bayi terlahir. Jadi, Anda boleh melakukan aqiqah dan sah tanpa harus menunggu usia bayi tujuh hari. Namun para ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa aqiqah hanya boleh pada hari ketujuh. Hari ketujuh inilah nilai kesunnahan aqiqah menurut mereka. Ulama lain berpendapat bahwa boleh.

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hari ketujuh kelahiran bayi merupakan hari anjuran aqiqah. Hanya saja sebagian berbeda pendapat tentang sampai kapan hari-hari setelah ketujuh itu masih diperbolehkan jika tepat pada hari ketujuh tidak memungkinkan melakukannya.

  1. Hewan untuk aqiqah

Para ulama berbeda pendapat tentang jenis hewan untuk aqiqah. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah hanya boleh dengan kambing. Yang berpendapat seperti ini adalah sebagian kecil dari ulama kalangan Malikiyah. Sementara yang lain membolehkan selain kambing, asalkan masih masuk kategori hewan ud-hiyah (hewan qurban, kambing, sapi dan unta). Sebagian ulama bahkan berpendapat bahwa karena aqiqah adalah sembelihan, maka semakin besar semakin baik. Unta lebih baik dari sapi, dan sapi lebih baik daripada kambing.

Hewan apapun disembelih untuk aqiqah disyaratkan dalam keadaan utuh. Ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW,

Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan aqiqah untuk Hasan dan Husain satu kambing satu kambing. Dalam riwayat yang lain: untuk anak perempuan satu ekor kambing dan untuk anak laki-laki dua ekor kambing (HR. Abu Daud)

  1. Jumlah Hewan Aqiqah

Ada ulama yang menyamakan jumlah hewan aqiqah untuk kambing (atau domba), yaitu sama-sama satu ekor. Tetapi sebagian ulama menyatakan harus dua ekor untuk bayi laki-laki.

  • Satu Kambing

Aqiqah dengan menyembelih satu ekor kambing saja, baik untuk bayi laki-laki maupun bayi perempuan. Ini adalah pendapat ulama dari madzhab Hanafiyah dan Malikiyah. Mereka mendasarkan pada hadis riwayat Abu Dawud,

“Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan aqiqah untuk Hasan dan Husain masing-masing satu kambing” (HR. Abu Daud)

  • Dua kambing untuk bayi Laki-laki dan satu kambing untuk bayi perempuan

Untuk bayi laki-laki, aqiqahnya adalah menyembelih dua ekor kambing, sedang bayi perempuan cukup satu ekor saja. Ini adalah pendapat dari para ulama madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. Namun dua ekor kambing untuk bayi laki-laki bukanlah keharusan. Jadi, sunnahnya seorang anak laki-laki tunaikan aqiqahnya dengan dua ekor kambing, tapi jika anak laki-laki dengan seekor kambing itu aqiqahnya tetap sah.

  1. Yang melakukan aqiqah

Orang yang seharusnya menunaikan aqiqah adalah orang yang menanggung nafkah bayi, yaitu ayahnya dan biaya aqiqah murni dari harta orang yang menafkahinya itu, bukan harta si anak. Jika ayahnya sudah meninggal atau pergi dan dalam waktu lama tidak memungkinkan untuk datang, penyembelihan boleh oleh orang lain.

Penyembelihan aqiqah juga boleh oleh kakeknya atau siapapun yang ayah bayinya percaya jika sang ayah merasa tidak mampu melakukannya sendiri. Ini seperti peristiwa aqiqaqhnya hasan dan Husain cucu Rasulullah SAW, yang melakukan aqiqah adalah kakeknya, yaitu rasulullah SAW.

Dari Ibnu Abbas ra, sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan aqiqah untuk hasan dan Husain,(masing-masing) satu ekor kambing satu ekor kambing. (HR. Abu Daud)

Dalam hadis tersebut, yang melakukan aqiqah adalah Rasulullah SAW, padahal ayah hasan dan Husain, yaitu Ali ra masih hidup. Alasannya adalah pada waktu itu nafkah Hasan dan Husain sejak awal memang sudah menjadi tanggungan Rasulullah SAW. Alasan lain, Rasulullah SAW melakukan aqiqah untuk keduanya karena atas izin Ali sebagai bapaknya.

Pendapat para ulama penganut madzhab hanabilah sedikit berbeda dalam hal ini. Menurut mereka, aqiqah hanya boleh dilakukan oleh ayah bayi kecuali jika ayahnya sudah meninggal.

  1. Syarat hewan dan pengolahan Aqiqah

Hewan aqiqah adalah hewan sembelihan yang baik dan sehat. Pilih kambing atau domba seperti yang menjadi syarat dalam Qurban, yaitu sehat, tidak cacat, dan memasuki usia yang cukup layak untuk sembelih. Tidak ada persyaratan bahwa hewannya harus jantan atau betina. Keduanya bisa menjadi sebagai hewan aqiqah atau kurban. Akan tetapi yang lebih utama adalah hewan jantan karena selain dagingnya lebih banyak, juga untuk melindungi kelangsungan reproduksi hewan betina.

Setelah sembelih, daging aqiqah sebaiknya bagikan dalam bentuk sudah siap makan. Cara memasak yang disunnahkan adalah secara utuh (dilepaskan tulangnya di setiap persendian) dan tidak menghancurkannya. Disunnah memasak semua daging aqiqah, baik yang dikonsumsi sendiri maupun yang dibagikan.

Sebagian pendapat membolehkan berbagi daging aqiqah berupa daging mentah. Jadi, setelah sembelih, daging bagikan (sedekahkan) langsung dalam bentuk masih mentah. Yang berpendapat seperti ini adalah sebagian dari ulama madzhab Hanafiyah.

  1. Cara menyelenggarakan aqiqah

Tidak ada ketentuan mengenai acara atau ritual khusus untuk menyelenggarakan aqiqah. Aqiqah diselenggarakan dengan cara yang paling mudah, tetapi tetap memenuhi ketentuan yang diyariatkan.

  • Potong hewan qurban dengan cara penyembelihan yang sesuai syariat. Doa yang diajarkan oleh rasulullah saat menyembelih adalah: “Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin”. Artinya: “Dengan nama Allah, ya Allah terimalah (kurban) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)
  • Orang yang menyembelih sebaiknya adalah ayah si bayi, tetapi boleh diwakilkan kepada orang lain jika ia tidak berkemampuan melakukannya.
  • Daging aqiqah bagikan dalam keadaan matang (sudah masak dan siap konsumsi). Ini seperti Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh” (HR al-Baihaqi)
  • Adakan jamuan atau selenggarakan walimah dengan mengundang tetangga dan kerabat untuk datang ke rumah sambil perkenalan nama bayi.
  • Sisakan sebagian masakan daging aqiqah untuk tetangga atau fakir miskin yang tidak hadir dalam perjamuan makan. Antarkan jatah ini ke rumah mereka sambil mengabarkan kelahiran dan nama bayi yang aqiqah.

[Yazid Subakti]

Tahnik: Mengenalkan Sunnah Sejak Dini

Tahnik: Mengenalkan Sunnah Sejak Dini

Parenting – Rasulullah melakukan tahnik pada bayi yang datang kepadanya. Tahnik dini dilakukan dengan mengunyah buah kurma hingga halus, kemudian meletakkan sebagian dari hasil kunyahan itu ke mulut bayi yang baru dilahirkan.

  1. Hukumnya sunnah

Sebagian besar ulama sepakat baha tahnik adalah sunnah nabi yang sangat mulia, mendatangkan pahala dan membawa kebaikan bagi bayi. Banyak riwayat yang mengisahkan baha Rasulullah SAW melakukan tahnik kepada bayi-bayi yang dihadapkan kepadanya.

Dari Anas bin Malik ra, ia berkata:

“Aku pergi membawa Abdullah bin Abi Thalhah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia baru dilahirkan. Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu sedang mencat seekor untanya dengan ter. Beliau bersabda kepadaku “Adakah kurma bersamamu?”

Aku jawab, “Ya (ada)”Beliau lalu mengambil bebeberapa kurma dan memasukkannya ke dalam mulut beliau, lalu mengunyahnya sampai lumat. Kemudian beliau mentahniknya, maka bayi itu membuka mulutnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memasukkan kurma yang masih tersisa di mulut beliau ke maulut bayi tersebut, maka mulailah bayi itu menggerak-gerakan ujung lidahnya (merasakan kurma tersebut). Melihat hal itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kesukaan orang Anshar adalah kurma”. Lalu beliau menamakannya Abdullah” (HR. Al-bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad dan Al-baihaqi)

  1. Sangat bermanfaat

Tahnik bukan bertujuan memberi makan kepada bayi baru lahir (bayi baru lahir belum mampu mencerna kurma). Amalan ini mengandung hikmah pengenalan indera pengecapan kepada jenis makanan yang baik-baik. Tahnik juga memindahkan sebagian mikroba dalam alat pencernaan bayi untuk membantu proses pencernaan makanan. Hikmah lainnya, tahnik menguatkan syaraf-syaraf mulut dan gerakan lisan beserta tenggorokan dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan, sehingga anak siap untuk menghisap air susu ibunya dengan kuat dan alami.

Selain itu tahnik adalah bentuk simbolis harapan kebaikan bagi bayi akan keimanannya, karena orang yang mentahnik adalah seorang yang memiliki keutamaan (ulama atau orang shalih).

Lakukan tahnik tanpa tata cara atau aturan khusus. Sunnah ini cukup dengan mengunyah kurma (jenis kurma apapun yang matang) hingga lembut atau agak cair sehingga mudah tertelan, lalu mengambil kurma yang sudah lembut dengan ujung jari (tidak perlu banyak) dan memasukkan atau menggosokkannya ke langit-langit mulut bayi. Setelah mentahnik, bayi didoakan dengan doa-doa kebaikan bagi diri dan orang tuanya.

Sebelum melakukan tahnik, orang yang mentahnik sebaiknya membersihkan mulut dengan cara bersiwak. Ini agar mulut orang tersebut tidak tercemari oleh sisa makanan lain yang khawatir akan  berdampak kurang baik bagi bayi. 

[Yazid Subakti]

Bersama Kalimat Tauhid di Detik Pertama Kelahiran

Bersama Kalimat Tauhid di Detik Pertama Kelahiran

Kalimat Tauhid – Selain sebagai panggilan untuk sholat, mengumandangkan adzan juga bisa pada beberapa peristiwa penting. Salah satunya adalah untuk menyambut bayi yang baru lahir. Kalimat adzan dilantunkan di telinga kanan, dan iqamah di telinga kirinya.

  1. Anjuran mengumandangkan adzan

Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai hukum mengumandangkan adzan dan iqamah pada saat menyambut kelahiran bayi.

Pendapat pertama, menjadi anjurkan karena hukumnya sunnah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama pengikut Mazhab Syafi’iyah, Hanabilah, dan sebagian kecil Hanafiyah.

Pendapat kedua, tidak menjadi anjuran. Ini merupakan pendapat dari para ulama pengikut Imam Malik. Meskipun tidak menyatakan terlarang, mereka berpendapat bahwa adzan di telinga bayi baru lahir bukanlah merupakan perintah agama dan tidak menjadi syarian untuk melakukannya.

Umar bin Abdul Aziz ketika mendapatkan kelahiran anaknya, beliau mengadzaninya pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa adzan pada telinga bayi bertujuan agar kalimat yang pertama kali terdengar oleh seorang anak manusia adalah kalimat yang membesarkan Allah SWT, juga kalimah syahadatain, yang dengan kalimat itu seseorang masuk Islam atau meninggal dunia.

  1. Rasulullah SAW melakukannya

Hadits yang paling terkenal adalah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW adzan di telinga al-Hasan bin ‘Ali pada hari kelahirannya. Beliau adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri (HR. Ibnu Hibban)

Dari Abu Rafi juga meriwayatkan: Aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mengadzani telinga Al-Hasan ketika dilahirkan oleh Fatimah. (HR. Tirmidzi)

Hadits lain dari ‘Ubaidullah bin Abi Rafi’ dari ayahnya ia berkata, “ Aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengadzani telinga Hasan bin ‘Ali ketika ia dilahirkan Fathimah dengan adzan shalat”. (HR. Abu Dawud)

Sedangkan mengenai manfaat adzan di telinga bayi, ada hadits yang menjelaskan akan terlindungnya bayi dari gangguan syetan jika pada kelahirannya kumandangkan adzan pada telinganya.

“Orang yang mendapatkan kelahiran bayi, lalu dia mengadzankan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, tidak akan celaka oleh Ummu Shibyan.” (HR. Abu Ya’la Al-Mushili)

Ummu Shibyan adalah setan yang suka mengganggu bayi. Ummu shibyan berhenti mengganggu dan tidak mendekati bayi-bayi yang pada kelahirannnya kumandangkan adzan.

  1. Ayah yang mengumandangkan

Yang paling utama berhak mengumandangkan adzan di telinga bayi adalah ayah bayi. Ayah adalah orang tua pembawa keturunan, pemimpin keluarga sekaligus penjaga iman seluruh keluarganya. Ayah mengadzani bayi karena dia adalah orang yang paling bertanggung jawab menanamkan keimanan kepada anak-anaknya. Alasan lainnya, adzan layaknya oleh seorang laki-laki, sedangkan laki-laki yang paling terpercaya di rumah adalah ayah bayi.

Jika ayah tidak hadir pada saat bayi terlahir karena suatu sebab, bayi dapat mendengarkan adzan oleh kakeknya (seperti Hasan dan Husain oleh Rasulullah SAW). Jika kakek bayi tidak memungkinkan, siapapun dapat mengumandangkan adzan asal suaranya jelas dan benar pengucapannya. 

[Yazid Subakti]

Awali dengan Rasa Syukur

Awali dengan Rasa Syukur

Parenting Al-Kautsar – Jadikan rasa syukur mengawali hari-hari Anda sebagai ibu. Apapun kegiatan dan Anda lakukan, awali dengan rasa syukur.

  1. Bersyukurlah Menjadi Ibu! 

Allah berfirman untuk kemuliaan menjadi orang tua,

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al Isra: 23)

Kepada orang tua, anak-anak mendapat perintah untuk mendoakan,

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(Al Isra: 24)

Setelah kewajiban menyembah Allah, kewajiban manusia berikutnya adalah baik kepada kedua orang tua. Allah memberi peringatan keras untuk semakin berbuat baik manakala orang tua semakin lanjut usia dan tidak boleh membantah perintah baiknya. Anda harus mensyukuri ini semua sebagai karunia dari Allah.

  1. Tidak semua wanita mendapat anugerah menjadi ibu

Ada begitu banyak wanita mendambakan keturunan, tetapi tidak atau belum Allah kabulkan sampai hari ini. Saat mereka masih membangun harapan, terus berdoa dan berusaha, anda sudah melahirkan seorang bayi.

Ada begitu banyak kisah wanita hebat yang tidak mendapat keturunan, atau tertunda oleh Allah mendapatkannya. Sarah istri Ibrahim adalah wanita shalihah dan taat. Ia menunggu dalam waktu yang begitu lama untuk mendapatkan keturunan dengan lahirnya Nabi Ishaq. Nabi Zakariya dan keluarga Imran juga menunggu waktu yang lama untuk mendapatkan keturunan.

Aisyah ra adalah ibu seluruh orang beriman, salah seorang wanita terbaik sampai hari ini. Tetapi Allah tidak mengurniai seorangpun keturunan dari rahimnya. Begitupun beberapa orang isteri rasulullah SAW yang lain, tidak mendapat karunia keturunan sampai akhir hayatnya.

Allah sangat penyayang, jika Anda hari ini melahirkan keturunan. Itu artinya, anda mendapat kepercayaan untuk merawat titipan-Nya. Anda harus bersyukur dan menjadi diri yang pantas menerimanya.

  1. Syukuri kelahiran bayi

Pandangi bayi dengan hati penuh syukur, sambil berdoa kepada-Nya. Mohonlah kepada Allah agar bayi mendapat perlindungan dari segala keburukan dan kelak menjadi keturunan yang menyenangkan. doa berikut ini dapat Anda ucapkan ketika bayi Anda telah lahir :

Aku berlindung untuk anak ini dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi apa yang dilihatnya. (HR bukhari)

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqan : 74)

[Yazid Subakti]

Menanggung Kebutuhan Hidupnya

Menanggung Kebutuhan Hidupnya

Parenting Al-Kautsar – Tentu saja orang tua memiliki kewajiban terhadap anaknya dan menanggung kebutuhan hidupnya. Anda menanggung kehidupan anak-anak sampai batas mereka mampu memenuhi sendiri kebutuhannya saat dewasa nanti.

Rasulullah SAW bersabda,

“Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. (HR Bukhari)

  1. Memberi nafkah yang halal

Tubuh anak-anak terbentuk dari makanan yang ia konsumsi. Tubuh itu tercemar oleh zat yang haram, jika makanan yang ia konsumsi adalah makanan haram atau tercampur sebagian zat yang haram.

Ada tiga sebab makanan itu menjadi haram hukumnya.

Pertama, haram karena zatnya memang ditetapkan keharamannya oleh Allah secara tegas. Yang termasuk makanan seperti ini misalnya minuman memabukkan, daging dari hewan yang haram (babi, bangkai, darah) atau hewan lain yang haram. Mengolah seperti apapun, dan bagaimanapun cara memakannya, makanan seperti ini adalah haram.

Kedua, haram karena pengolahannya atau perlakuannya. Ada begitu banyak hewan yang dihalalkan untuk dimakan. Tetapi hewan ini menjadi haram jika mematikannya salah. Hewan-hewan yang matinya bukan disembelih dengan nama Allah adalah haram dimakan, sekalipun jenis hewan tersebut adalah hewan yang boleh dimakan.

Dan ketiga, haram karena cara mendapatkannya dengan cara yang tidak baik. Makanan yang halal zatnya, halal pengolahannya, tetapi mendapatkannya dengan cara mencuri atau merampas milik orang adalah haram. Demikian juga dengan makanan yang dibeli atau ditukar dengan harta hasil kejahatan, misalnya uang hasil korupsi.

Rasulullah SAW pernah mengajarkan sejumlah anak untuk berpesan kepada orang tuanya, saat orang tua mereka keluar mencari nafkah,

“Selamat jalan ayah! Jangan sekali-kali engkau membawa pulang kecuali yang halal dan baik saja. Kami mampu bersabar dari kelaparan,tetapi tidak mampu menahan azab Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR Thabrani)

Berikan anak-anak makanan yang telah pasti halal. Sedikit saja mulutnya menelan makanan haram, bukan hanya dia, tetapi Anda sebagai orang tua juga turut merasakan penyesalan yang amat panjang.

  1. Memberi perlindungan dan menjaganya

Perlindungan paling utama orang tua kepada anak-anaknya adalah penyelamatan dari ancaman api neraka. Orang tua berkewajiban melakukannya, dan anak-anak berhak mendapatkannya.

Allah telah memberi peringatan keras kepada setiap orang tua,

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”(QS At tahrim: 6)

Untuk menyelamatkan anak-anak dari ancaman neraka, yang lebih dahulu dilakukan adalah orang tua adalah menjaganya untuk diri sendiri, yaitu dengan memperbaiki ketaatan kepada Allah, meningkatkan kesalehan dan memperbanyak ibadah. Orang tualah yang harus lebih dulu menjadi baik, agar bisa memperbaiki anak-anaknya. Orang tua lebih dulu taat dan shaleh, agar mudah mengajak anaknya menjadi taat dan salih.

Penjagaan berikutnya adalah melindungi anak dari berbagai bahaya dunia yang mengancam.

  • Menghindarkan godaan jin dan syaitan

Jin bisa berada di dalam rumah, di jalan, atau di manapun ia inginkan dan kadang mengganggu manusia. Ada banyak penyebab jin mengganggu manusia, tetapi beberapa di antaranya adalah tanpa sebab, yaitu jin sekehendaknya saja memang ingin mengganggu.

Menghindarkan anak-anak dari gangguan jin berarti memohonkan perlindungan kepada Allah dari gangguan jin dan mengajarkan anak cara berlindung dari kejahatan jin. Selanjutnya, orang tua menciptakan suasana rumah yang membuat bangsa jin tidak suka dating dan bertempat di sana.

  • Menjaganya dari ancaman orang jahat

Orang jahat itu ada. Peristiwa penculikan, pelecehan, atau kekerasan itu benar-benar nyata sejak zaman dahulu hingga sekarang, di semua tempat dan bangsa. Sebagian orang jahat menjadikan anak-anak sebagai sasarannya.

Anak-anak tetap harus bergaul di luar rumah, tetapi dalam lingkungan yang diketahui keamanannya atau bersama dengan orang yang dapat dipercaya akan menjaganya. Di sekolah, penjagaan anak-anak diserahkan kepada guru dan sekembalinya dari sekolah sekolah dipastikan tiba di rumah pada waktu yang seperti biasanya.

  • Menjaganya dari ancaman binatang buas

Binatang buas yang memungkinkan mengganggu dan hadir dalam kehidupan manusia saat ini adalah ular berbisa, anjing, kalajengking, atau berbagai serangga beracun lainnya.

Menjaga anak dari binatang buas dilakukan dengan membuat suasana rumah, halaman, dan tempat-tempat yang biasa ditempati anak terbebas dari binatang tersebut.

Jika Anda menjumpai binatang tersebut di rumah atau sekitar, maka tindakan yang paling tepat bagi anda adalah menyingkirkannya atau mematikannya. Rasulullah SAW membolehkan umatnya membunuh binatang buas atau beracun yang membahayakan kehidupan manusia.

Diriwayatkan dari Aisyah ra, dari nabi SAW bahwa beliau bersabda: ada lima binatang yang boleh dibunuh di tanah haram, yaitu tikus, kalajengking, burung buas (sejenis elang), dan anjing buas (HR Bukhari dan Muslim)

  • Melindunginya dari ancaman bencana

Bencana dapat datang kapan saja tanpa bisa manusia perkirakan. Semuanya terjadi dengan dengan tiba-tiba.

Orang tua, betapapun hebatnya, tidak memiliki kemampuan menyelamatkan anaknya dari bencana tersebut. Yang bisa kita lakukan adalah mengurangi resikonya, menghindari tempat tinggal yang rawan bencana, dan menolong atau membawanya ke tempat yang aman jika bencana terlanjur menimpa.

Yang lebih penting dari itu, bentuk perlindungan terbaik adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan anak-anak mengatasi bencana. Anak-anak mendapat simulasi mengenai apa yang harus ia lakukan jika terjadi gempa, tanah longsor, banjir, angin rebut, atau lainnya.

  • Melindunginya dari ancaman penyakit

Tumbuh dengan bugar dan sehat adalah hak setiap anak. dalam kondisi sehat, anak-anak mengembangkan keterampilannya, menuntut ilmu, dan berkembang menjadi pribadi yang tangguh.

Ikhtiar orang tua menjauhkan anak dari penyakit dengan cara memenuhi kebutuhan gizi, membiasakan pola hidup sehat, dan menghindarkan tekanan batin. Orang tua harus mengenalkan kebiasaan olahraga kepada buah hatinya, serta berani berobat bila penyakit menyerang. Pemeriksaan umum kondisi badan (General Check Up) sangat perlu untuk membaca secara keseluruhan keadaan anak.

  • Melindunginya dari pengaruh pergaulan negatif

Orang tua memberi petunjuk kepada anak-anak tentang siapa saja atau orang seperti apa yang pantas menjadi sahabatnya. Di luar itu, anak-anak cukup hanya mengenal atau tahu saja. Orang tua juga memberi arahan tentang tempat anak bergaul, yaitu di lokasi yang tidak terjadi kemaksiatan. Anjurkan anak-anak mengunjungi masjid, meskipun agak jauh. Biarkan mereka bermain dan menyukai tempat itu. Ia akan bertemu dengan sesama anak yang tertarik dengan masjid, dan di tempat ini tidak ada orang bermaksiat. Yang ada adalah orang menjalankan shalat, membaca Al-Qur’an, atau kegiatan ibadah lainnya.

  1. Menempatkannya di lingkungan yang baik

Lingkungan yang baik bukanlah lingkungan yang memenuhi semua keinginan anak, tetapi dapat berupa keadaan yang memberi kesempatan dan mendrong anak-anak bertumbuhkembang dengan baik. Rasulullah SAW, dan juga para Nabi yang lain dibesarkan di lingkungan yang tidak semua keinginanya terpenuhi dengan mudah. Ada banyak tantangan yang mengharuskannya berjuang. Keadaan ini mendorong manusia tumbuh dan mengembangkan kemampuannya untuk bertahan.

  • Lingkungan rumah

Rumah bagi anak-anak adalah tempat pertama. rumah mestinya dalam kondisi yang memenuhi kebutuhan dasar anak-anak, tetapi terdapat tantangan yang menjadikannya berlatih mandiri. Sesuai umurnya, orang tua selalu menyelipkan tantangan agar anak-anak terbiasa berjuang dan melatih jiwa tanggung jawab.

  • lingkungan masyarakat

Anak-anak akan mengenal orang-orang di sekitar rumah. Masyarakat inilah yang akan menjadi bagian dari kehidupan dan tempat si kecil berkembang. Karena berhubungan dengan tempat tinggal atau alamat menetap, maka anda tidak dapat memilih masyarakat seperti yang anda inginkan. Yang dapat anda lakukan adalah memberi arahan kepada anak tentang batasan bergaul di masyarakat dan memilihkan baginya hanya orang baik-baik yang akan berdekatan dengannya.

  • lingkungan sekolah

Anda masih ingat visi keluarga anda?

Sekolah anak-anak adalah pilihan. Maka memilihkan sekolah anak tidak sekedar menguatkan akidahnya dan memacu kecerdasannya, melainkan juga sesuai dengan visi keluarga.

Banyak sekolah berkualitas, menjanjikan masa depan dan fasilitasnya mewah. Tetapi anak-anak selalu memiliki kebutuhan dan karakter yang khas, sedangkan anda sebagai orang tua telah menetapkan visi keluarga.

Pilih sekolah yang peduli dan bersungguh-sungguh mendidik muridnya menegakkan salat, mendekatkan murid pada Al-Qur’an, dan gurunya bermoral baik.

 

[Yazid Subakti]

Memenuhi Hak Haknya

Memenuhi Hak Haknya

Memenuhi Hak HaknyaOrang tua adalah guru pertama, yang juga motivator, dan inspirator bagi anak-anaknya.

  1. Hak diberi keteladanan

Sekitar 70% perbuatan anak adalah hasil dari meniru apa yang ia lihat, terutama dari orang tuanya. Perilaku meniru ini bahkan sudah terjadi sejak si kecil masih bayi, dan akan terus terjadi sampai mereka berusia lima hingga enam tahunan.

Indera yang paling sering anak gunakan adalah mata. Saat masih bayi, wajah ibu dan ayahnya adalah yang paling sering ia lihat. Ekspresi wajah ibu, ayah, dan dan apa yang ia katakana diamati dan direkam dalam benaknya. Oleh karenanya, jangan heran jika si kecil menirukan apa yang ibu dan ayahnya ekspresikan. Para ibu yang sering berekspresi negatif berisiko anaknya tiru dengan raut muka yang cemberut dan masam. Para ayah yang raut mukanya sering marah juga akan anaknya tiru, menjadi pribadi yang suka marah, tidak ramah, atau temperamen.

  1. Hak diajari

Imam Ahmad bin Hanbal adalah guru yang mempunyai banyak murid. Ketika mengadakan kajian ilmu, hadir di majelisnya sekitar lima ribu orang atau lebih. Lima ratus orang menulis pelajaran, sedangkan sisanya datang untuk mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya. Mereka melihat Imam Ahmad sebagai sumber motivasi dalam berilmu dan beramal.

Demikianlah mestinya orang tua. Orang tua adalah guru pertama, yang juga motivator, dan inspirator bagi anak-anaknya. Jika tidak mengajar anak pun, kehadiran orang tua di hadapan mereka adalah bagian dari pemberian motivasi.

  • Mengenalkan nama-nama dan istilah dengan benar

Yang pertama kali dikenal oleh Nabi Adam di awal penciptaannya adalah nama-nama benda. Demikian pula di awal kehidupan anak-anak, pengenalan nama dan istilah adalah kebutuhan pertamanya.

Ajarkan menyebut nama Allah dan rasul-Nya, menyebut nama lengkap orang tua dan pemanggilannya, juga nama-nama saudara serta kerabatnya dan cara memanggil sapaannya. Kenalkan nama-nama bagian tubuh dan peruntukannya. Ada bagian tubuh kanan, ada bagian kiri. Ada bagian tubuh yang harus dilindungi dari pandangan umum, ada organ yang harus selalu dijaga kebersihannya.

Kenalkan nama-nama warna, bentuk bangun, nama hewan dan tumbuhan, serta nama-nama makanan sehari-hari.

  • Mengajarkan membaca

Salah satu keterampilan yang paling diinginkan oleh anak kecil adalah segera bisa membaca. Begitu tiba waktunya di usia baca, sekitar 6 atau 7 tahun, anak harus diajari membaca setelah sebelumnya kenalkan symbol-simbol keaksaraan huruf-huruf. Jika memungkinkan dan keinginan membaca tu sudah menggebu sejak dini, anda dapat mulai mengenalkan cara baca sebatas pembunyian huruf yang membuatnya tetap riang tak terbebani.

  • Menginspirasi cita-cita dan masa depan

Anak-anak tidak harus menjadi seperti orang tuanya. Masa depan anak adalah miliknya, yang tidak sama dengan kenyataan orang tuanya saat ini.

Menginspirasi masa depan berarti juga memberikan banyak referensi dan pilihan bagi anak untuk menjadi jalan menuju masa depannya. Ada begitu banyak peluang masa depan yang hari ini anak-anak belum mengetahui. Ada banyak profesi dan keahlian yang selama ini anak belum pernah mendengar dan melihat. Maka orang tualah yang menunjukkannya.

Ajaklah si kecil berjalan-jalan ke bandara menengok aktivitas para kru bandara dan awak pesawat. Ajaklah si kecil sambil anda bercakap menjelaskan ke pelabuhan, ke kantor pemadam kebakaran, kantor pemerintahan, rumah industri, museum, studio televisi, bank syariah, kantor polisi, pesantren, kampus, laboratorium, dan sebagainya.Tunjukkan tayangan tayangan video atau film tentang profesi yang baik untuk masa depannya.

  • Mengenalkan konsep waktu

Kenalkan sejak dini konsep waktu. Anak harus mengetahui siklus hari dan mengenal jam, nama hari dan urutan bergulirnya, serta pergantian tanggal dan bulan.

Kenalkan waktu-waktu dalam sehari menjadi pagi, siang, sore, malam beserta kegunaan atau kelaziman manusia memanfaatkannya. Kenalkan juga nama-nama hari dalam sepekan, dan satu hari yang istimewa di dalamnya yaitu hari Jumat. Setiap hari ada tanggalnya, yang akan berulang seiring dengan bergantinya bulan. Kenalkan nama bulan dan bulan yang istimewa, yaitu Ramadhan. Saat ia berulang tahun, jangan lupa mengingatkan pertambahan umurnya. Artinya, setiap manusia akan hidup melewati tahun demi tahun, semakin besar dan dewasa hingga akhirnya menua.

[Yazid Subakti]

Menerima Keberadaannya

Menerima Keberadaannya

Parenting Al-Kautsar – Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya. Bagaimana dan seperti apa bayi  terlahir, itulah yang menjadi kehendak dan ketetapan-Nya. Manusia disyariatkan menerima keberadaannya dengan penuh taat dan menggali hikmah darinya.

  1. Jika lahirnya buah hati tak seperti yang dibayangkan

Pertama, jenis mungkin saja kelamin tidak sesuai keinginan. Jenis kelamin adalah ketentuan Allah, yang di balik itu semua terdapat hikmah dan banyak pelajaran. Istri Imran membayangkan dari kehamilannya akan terlahir anak laki-laki sebagai pengabdi di Baitul Maqdis, tetapi yang terlahir adalah Maryam. Belakangan baru kita tahu bahwa dari Maryam inilah Allah menyimpan rahasia akan lahirnya Nabi Isa as. Tentu saja lahirnya Nabi Isa dari Maryam adalah anugerah yang jauh lebih mulia daripada yang diinginkan oleh istri Imran pada awalnya.

Kedua, tampang bayi yang tidak rupawan. Bagaimanapun, kelahiran bayi mengikuti sunnatullah. Allah menciptakan keturunan dengan bentuk dan penampilan mengikuti kode genetika orang tuanya. Ukuran hidung bayi, warna mata, bentuk rambut, warna kulit, postur tubuh, semuanya tidak akan jauh dari kenyataan yang ada pada ayah atau ibunya, atau perpaduan antara keduanya. Kelak ketika besar ia akan menampilkan cara berjalan, warna suara, dan gerak tubuh yang tidak jauh dari apa yang tertampilkan oleh orang tuanya.

Ketiga, bagian organ tubuh yang tidak sama dengan bayi lain pada umumnya. Anak-anak difabel tidak pernah menghendaki apa yang menimpa dirinya. Begitu juga orang tua. Ia memiliki bagian tubuh dan fungsi yang tidak seperti umumnya, adalah karena Allah menghendaki demikian.

Ada hikmah besar di balik ini semua. Allah hendak mencurahkan pahala yang berlimpah-limpah melalui cara-Nya ini, karena orang tua akan merawat buah hatinya lebih bersungguh-sungguh kepada anaknya daripada anak-anak lain pada umumnya.

Keempat, kemampuan yang berbeda dengan anak pada umumnya. Anak-anak autis, anak Down Syndrom, anak hiperaktif, atau bahkan anak penyandang retardasi mental semuanya adalah karena Allah menciptakan demikian, menghendaki demikian. Inilah anak-anak istimewa, yang dengannya orang tua berkesempatan besar untuk menempa diri membentuk pribadi sabar. Allah menyimpan rahasia besar di balik ini semua.

  1. Bagaimanapun, ketetapan Allah adalah yang terbaik

Tak seorangpun memiliki ilmu untuk mendahului pengetahuan tentang apa yang ditetapkan oleh Allah. Ketika Anda mendapatkan sesuatu yang tidak Anda harapkan, Allah tidak selalu membukakan hati Anda untuk memahaminya. Sesuatu yang tampak baik di mata Anda, mungkin saja bukan yang terbaik bagi Anda. Sesuatu yang paling Anda inginkan, mungkin saja bukan kebutuhan Anda yang sesungguhnya.

Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat ini adalah penuntun langkah batin Anda menuju keimanan kepada qadha dan qadar, bahwa kenyataan yang menimpa buah hati telah tercatat dan terrencanakan semuanya oleh Allah.

Mari kita renungkan ibunda Nabi Musa as yang harus menghanyutkan anaknya di sungai Nil dengan penuh kepasrahan. Lalu Allah mengantarkan bayi itu untuk sampai ke tangan penyelamat dari keluarga istana Fir’aun. Nabi Ya’qub pernah mencemaskan putera kesayangannya, Yusuf as, atas drama saudara-suadaranya yang memasukkan ke sebuah sumur. Padahal itu adalah bagian dari rencana Allah, agar beberapa saat kemudian Yusuf ditemukan orang yang lewat, lalu dibawa kehadapan raja Mesir.

Sebagian dari kenyataan tidak seperti yang manusia harapkan. Padahal, dengan cara itulah Allah hendak menampakkan kasih sayang-Nya, menyempurnakan anugerah nikmat-Nya.

Dia berfirman,

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19).

  1. Bersiap Mengemban Amanah

“Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.” (QS. Ali Imran: 38).

Inilah doa yang sering orang tua panjatkan kepada Rabb-nya.

Ketika Allah mengabulkan doa ini dengan datangnya kehamilan dan lahirnya seorang anak, itu artinya orang tua harus bersiap mengemban amanah. Meskipun kehadiran anak ini adalah permintaan Anda melalui doa-doa, Allah menghadirkannya sebagai kehendak-Nya yang ketika Anda dikabulkan, orang lain belum tentu mendapatkannya. Apapun alasan dan rahasia Allah memilih Anda untuk mendapatkan buah hati, si kecil yang melekat di pangkuan Anda itu adalah amanah. Allah memercayakan perawatan, bimbingan, arahan, dan penghidupannya kepada Anda.

Rasulullah SAW memberi peringatan kepada orangtua yang lari dari amanahnya,

“Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang tidak akan diajak berbicara pada hari kiamat, tidak disucikan dan tidak dilihat.” Lalu beliau ditanya: “Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Anak yang berlepas diri dari orangtuanya dan membencinya serta orangtua yang berlepas diri dari anaknya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

 

[Yazid Subakti]

Selamat Datang Hamba yang Diberkahi

Selamat Datang Hamba yang Diberkahi

Parenting Al-Kautsar – Tak ada yang paling menyenangkan dari sebuah kehadiran, selain sambutan yang penuh sukacita. Ia akan menjadi hamba yang diberkahi. Dengan kebaikannya, ia adalah perhiasan keluarga. Di luar itu, ia menjadi bagian dari umat yang memakmurkan bumi ini. Ia akan meneruskan generasi ini, melanjutkan risalah kebenaran dan menjadi pencerah bagi umat manusia.

Para sahabat Nabi ketika mendapati kelahiran bayi sangat riang raut mukanya. Salah seorang sahabat yang anaknya baru lahir datang kepada Rasulullah SAW memohonkan keberkahan.

Dari Abu Musa ra, beliau mengatakan, “Ketika anakku lahir, aku membawanya ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberi nama bayiku, Ibrahim dan mentahnik dengan kurma lalu mendoakannya dengan keberkahan. Kemudian beliau kembalikan kepadaku. (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu juga dengan Asma Binti Abu Bakar, bayinya yang baru terlahir di tanah hijrah Madinah dibawanya ke hadapan Rasulullah SAW. Ketika itu Nabi SAW meminta diambilkan kurma, lalu beliau mengunyahnya dan meletakkannya di mulut bayi Asma kemudian mendoakan keberkahan untuknya.

Anda dapat berdoa untuk si kecil dengan doa kebaikan dan keberkahan. Atau, Anda dapat mendatangi orang soleh dan berilmu untuk mendoakan kebaikan dan keberkahan bagi si kecil.

  1. Memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan Syaitan

Jika syaitan terus menerus menebar godaan kepada manusia untuk menjerumuskannya, maka Allah adalah dzat yang paling berkuasa untuk dimintai perlindungan. Maka berlindunglah kepada-Nya dari godaan syaitan, mohonkan perlindungan untuk si kecil agar ia terhindar dari pengaruh syaitan dan segala keburukan darinya.

Ketika istri Imran melahirkan Maryam, dia pun berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya yang kulahirkan adalah anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui tentang yang terlahir ini; sedangkan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari godaan syaitan yang terkutuk” (QS. Ali Imran: 36).

Doa ibunda Maryam dikabulkan oleh Allah. Allah memberikan perlindungan kepada Maryam dari gangguan setan, dan semua keburukan yang mengancamnya. Allah terus melindungi hingga Maryam dewasa dan melahirkan puteranya, nabi Isa alaihissalam.

Ini seperti yang dikabarkan dalam hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap bayi dari anak keturunan adam akan ditusuk dengan tangan setan ketika ia dilahirkan, sehingga dia berteriak menangis, karena Setan menyentuhnya. Selain Maryam dan putranya. (HR. Bukhari).

Anda dapat meniru doa yang diucapkan oleh rasulullah SAW ketika mendoakan cucunya (Hasan dan Husain) sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW membacakan doa perlindungan untuk kedua cucunya,

Jika bayinya laki-laki, maka doanya adalah,

Dan untuk bayi perempuan, doanya adalah,

Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk. (HR. Abu Daud).

  1. Hendaklah merasa khawatir

Rasa khawatir dapat meningkatkan kewaspadaan. Munculnya kewaspadaan ini berguna agar manusia membuat rencana pencegahan untuk mengusahakan sesuatu yang diwaspadai itu tidak terjadi. Orang-orang yang waspada lebih bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan yang menimpanya.

Maka, Allah menyampaikan kepada seluruh orang tua yang menurunkan generasi, agar rasa khawatir itu ada.

 “Hendaklah mereka takut kepada Allah jika meninggalkan generasi yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang baik. (Qs. An-Nisa: 9).

Ini peringatan dari Allah kepada setiap orang tua yang mendapat keturunan. Allah menghendaki agar setiap orang tua tidak meninggalkan anak atau generasi yang lemah. Artinya, setiap orang tua diperintahkan melakukan ikhtiar lahir maupun batin mengarahkan keturunannya menjadi pribadi-pribadi kuat. Kuat fisiknya, kuat ilmunya, kuat pengaruhnya, kuat mentalnya, dan yang paling penting adalah kuat dalam memegang akidah.

  1. Memahami hakikatnya

Para orang tua saling berbeda memaknai kehadiran anaknya. Bisa saja orang memahami lahirnya anak sebagai beban yang memberatkan hidupnya. Orang-orang jahiliyah merasa malu dengan lahirnya anak perempuan, lalu menguburnya hidup-hidup. Kelahiran bayi laki-laki di masa lampau bisa menimbulkan keresahan para raja zalim karena akan mengancam kekuasaannya. Kaum agraris gembira dengan lahirnya anak yang banyak karena akan menjadi tenaga bantu bercocok tanam. Sebagian keluarga saat ini tidak menghendaki kelahiran anak ketiga dan seterusnya karena ketakutan akan mengganggu karir dan kemakmurannya.

Ada beberapa istilah untuk anak di dalam Al-Qur’an.

Pertama, anak adalah walad, yaitu seseorang yang lahir. Peristiwa kelahiran istilahnya adalah wiladah, ayahnya yaitu walid dan ibunya adalah walidah. Artinya, anak adalah seseorang yang memiliki kemurnian hubungan darah dan tanggungjawab yang amat dekat dengan ayah dan ibunya.

Oleh karenanya, orang tua bertanggung jawab penuh atas pertumbuhan dan perkembangannya, serta pemenuhan kebutuhan anak-anak sampai suatu masa ketika anak tak lagi memerlukannya.

Kedua, Allah menyebut anak dengan kata ibn, atau dengan kata jamak abna dan banun, masih berhubungan dengan bana, yang artinya membangun atau berbuat baik. Hubungan anak dengan orang tuanya ibaratk sebuah bangunan nasab yang saling menguatkan. Bangunan ini harus ditegakkan dengan material yang berkualitas, didirikan di atas pondasi yang kuat, disusun atas kerangka dan dinding yang kokoh, dinaungi atap yang aman dan dilengkapi jendela serta pintu yang nyaman. Kepada anak, orang tua harus memberi kebutuhan yang halal dan bermutu, melandasi akal dengan pondasi akidah yang lurus, membekali akhlak dan ilmu yang kuat.

Kata ibn bisa juga berubah menjadi bunayy.

Nabi Ibrahim saat mengabarkan mimpi kepada anaknya (Ismail), Nabi Nuh saat memanggil anaknya (Kan’an) naik perahu, Nabi Ya’qub saat hendak menyampaikan pesan kepada anak-anaknya, dan Luqman ketika menasehati anaknnya, menggunakan sapaan ya bunayya (wahai anakku).

Ketiga, anak disebut dengan thifl atau bentuk jamaknya athfal yang bermakna anak-anak dalam fase perkembangan setelah bayi dan sebelum dewasa. Ada pesan yang tersirat dalam istilah thifl, bahwa orang tua hendaknya cermat mendampingi anaknya dari waktu ke waktu sambil terus mengamati apa yang terjadi padanya.

Kata Thifl juga mengandung makna segolongan anak sebagai entitas. Tidaklah sama antara anak-anak dengan kaum dewasa. Anak-anak adalah entitas tersendiri, yang harus dimengerti segala keunikan dan fitrahnya.Anak sebagai thifl memiliki sisi lain yang khas dalam hal karakter, kebutuhan, keunikan, kedudukan hukum, dan hak-haknya.

Selain ketiga sebutan tersebut, Allah juga menyebut istilah dzurriyah yang berarti keturunan. Maksud yang tersirat di dalamnya adalah bahwa anak-anak merupakan hasil lanjutan genetika orang tua. Mereka pada saatnya nanti akan menjadi pengganti generasi saat ini dan membentuk generasinya sendiri. Sebagai penerus generasi, ia akan membawa risalah atau kebaikan-kebaikan saat ini untuk menyampaikanya di zamannya nanti. Oleh karenanya, ia berhak mendapat bekal kesalihan yang cukup dari orang tuanya.

 

[Yazid Subakti]

Kebersamaan di Tujuh Tahun Pertama

Kebersamaan di Tujuh Tahun Pertama

Tujuh Tahun Pertama – Kehadiran anak-anak memang disambut kegembiraan. Ia menjadi sumber kebahagiaan orang tuanya dan pemacu kesadaran untuk bertanggungjaab kepadanya. Maka sayyidina Ali bin Abi Thalib ra berpesan, agar anak-anak di usia kelahiran sampai tujuh tahun pertamanya perlakukan seperti raja. Kelahirannya yang anda nanti-nanti, orang-orang datang melihatnya dengan senyum harapan. Beberapa saat kemudian ia tumbuh sebagai anak-anak yang menggemaskan. Semua perilakunya menyenangkan.

Maksud memperlakukan anak seperti raja adalah, kita hadir bersamanya untuk memberi perhatian penuh kepadanya, yaitu ikhtiar untuk selalu ada ketika dibutuhkan dengan memberikan apa yang menjadi haknya.

Pada usia emas ini, anak sedang menyelesaikan masalah egonya untuk belajar memahami kehidupan yang lebih luas. Ia sedang mengembangkan kemampuan organ tubuhnya, imajinasi, hubungan sosial, dan respon kepada sesama. Kehadiran orang tua adalah model yang akan menjadi ukuran baginya, tentang seperti apa harus ia lakukan untuk seutuhnya menjadi manusia. Perlakuan orang tua kepadanya adalah ukuran bagaimana ia harus memperlakukan orang lain.

Apa saja tuntutan orang tua mengahadapi sang raja?

  • Menjalin hubungan yang indah

Hubungan yang indah awali dengan kehadiran kita sepenuhnya di dunia nyata, bukan kehadiran yang setengah-setengah. Yang dimaksud hadir adalah kita ada di sisinya, dapat saling menatap dan ditatap, saling mendengar suara dan didengar, berkontak fisik amat dekatnya hingga benar-benar saling mengenali.

Menjalin hubungan indah bukan dengan memenuhi semua yang diminta si kecil, tetapi memastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi dengan kualitas paling baik yang mampu kita berikan.

  • Memperlihatkan padanya perilaku yang pantas

Yang pertama-tama dilihat oleh anak adalah orang tuanya. Perilaku yang kita tampakkan menjadi pelajaran paling penting baginya untuk ditiru. Seperti apa kita memperlihatkan diri kita, seperti itulah si kecil berperilaku.

Berlaku pantas di depan anak-anak artinya kita meniadakan, atau menyembunyikan, perbuatan yang tidak layak ia tiru, atau perilaku yang membuat anak menjadi kecewa terhadap orang tuanya.

  • Memperlakukannya apapun dengan cara yang baik

Mengajak kebaikan kepadanya dengan cara yang baik, mencegah keburukan juga dengan cara paling baik. Agar tidak menyakitinya, orang tua memerluakan teknik menjalin komunikasi dengannya untuk menyampaikan ajakan yang berkemungkinan ia tolak atau nasehat yang dapat membuat hatinya tidak nyaman.

Sampaikan ilmu dengan cara paling menyenangkan, terapkan pembiasaan dengan suasana paling nyaman, dan pendisiplinan dengan cara tetap gembira.

Yang tak kalah penting, anak di usia emas ini belum waktunya menanggung beban. Ia belum sampai masanya untuk mendapat tugas-tugas di keluarga kecuali sekedar latihan bertanggungjawab dan pembiasaan untuk bekerjasama.

Apakah ini semua akan mudah?

Kemudahan itu milik orang yang telah mempelajari. Oleh karena itu menjadi orang tua adalah menjadi pelajar baru untuk bersekolah di madrasah-madrasah pengasuhan. Kita memerlukan banyak cara dan pengetahuan baru untuk mengurangi sekecil-kecilnya kesalahan membersamai anak. Sebab, apa yang kita perlakukan kepada si kcil di masa-masa ini, dapat menjadi cermin apa yang akan si kecil lakukan kepada kita di masa senja nanti.

Dengan prinsip menghadapi si kecil bagai raja, sesungguhnya kita sedang berlatih untuk menyiapkan masa depan kita sendiri dan seisi keluarga kelak di hari akhir. Agar pertemuan di sana menjadi indah.

 

[Yazid Subakti]

Akhir Madrasah Alam Rahim

Akhir Madrasah Alam Rahim

Parenting Al-Kautsar – Akhir madrasah alam rahim. Bunda perlu mempersiapkan diri dengan lebih maksimal pada masa ini. Mulai dari persiapan fisik hingga kebutuhan untuk persalinan.

A. Persiapan-persiapan

  1. Fisik

Persiapan fisik diperlukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk dan resiko. Fokus persiapan fisik adalah stamina. Anda akan melahirkan tanpa masalah jika sebelum persalinan kondisi tubuh Anda fit.

Persiapan ini dilakukan dengan :

  • Menjaga asupan nutrisi yang seimbang, sesuai kebutuhan jumlah kalori.
  • Menjaga pertambahan berat badan tetap ideal.
  • Memastikan diri tidak ada gangguan kehamilan yang serius
  • Menjaga gerak tubuh dan olah raga untuk memastikan kelancaran peredaran.
  • Membatasi aktivitas fisik berlebihan agar energi tetap tersimpan
  • Melatih diri dengan berbagai senam kehamilan
  1. Mental dan spiritual

Melahirkan tidak sekedar peristiwa biologis. Kekuatan mental, sugesti, dan keyakinan turut serta mempengaruhi keberhasilan peristiwa yang dahsyat ini. Kekuatan mental dan spiritual mempengaruhi kinerja otak dan selanjutnya akan berpengaruh pula terhadap hormon menjelang proses kelahiran.

Persiapan mental dn spiritual Anda lakukan dengan cara :

  • Memperbanyak pengetahuan dan wawasan, dengan banyak membaca buku.
  • Semakin rajin beribadah, memperteguh kekuatan hati dan keyakinan.
  • Menjalin komunikasi lebih akrab dengan orang tua.
  • Selalu berpikiran positif, bahwa semua yang terjadi memiliki hikmah.
  • Menghilangkan semua beban pikiran. Beberapa masalah yang belum terpecahkan dapat dilupakan sementara.
  • Berlatih konsentrasi, yaitu pikiran yang fokus pada persiapan persalinan.
  1. Persiapan ke rumah bersalin

Inilah persiapan yang yang membuat Anda bersemangat. Berangkatlah ke rumah bersalin dengan persiapan ini :

  • Kendaraan angkut. Bila tak ada mobil pribadi Anda dapat memesan taksi ketika kontraksi yang sebenarnya sudah Anda rasakan.
  • Siapkan tas kecil. Isi beberapa stel baju Anda untuk ganti dan minimal dua pasang baju bayi, kaus kaki, kaus tangan, dan selimut. Letakkan tas di meja yang mudah dijangkau jika ketuban Anda pecah dan Anda harus segera berangkat.
  • Tas kecil berisi perlengkapan mandi dan kosmetik (bila Anda menggunakannya). Masukkan sabun mandi, sikat gigi, sampo sachet kecil, dan handuk kecil.
  • Mintalah orang terdekat Anda (suami) untuk tidak bepergian atau jika harus ke kantor mintalah untuk siap dikontak setiap saat.
  • Bawa pembalut buat Anda. Di rumah bersalin memang disediakan tetapi Anda tetap sebaiknya membawa cadangan.
  • Beritahu saudara dan kerabat melalui telpon atau SMS. Kabarkan bahwa ini saat Anda Anda sedang menunggu persalinan.
  • Bawa kitab suci untuk dibaca sebagai penenang hati, buku saku kehamilan dan persalinan, dan mintalah suami menyiapkan alat dokumentasi (kamera). Persalinan ini akan menjadi sejarah, Anda akan mempelajari peristiwa demi peristiwa dan mengabadikannya.

B. Di Puncak Perjuangan

Akhir Madrasah Alam RahimFatimah ra meriwayatkan bahwa ketika tiba saatnya melahirkan anak, Rasulullah saw mengirim Ummu Salamah ra dan Zainab ra kepadaku dan memerintahkan agar mereka membaca ayat kursi, Surat Al-Falaq, dan Surat An Nas, dan ayat berikut agar persalinan menjadi mudah :

Anda juga akan mengalami kontraksi yang tidak teratur tanpa dapat ditandai kapan waktunya. Kontraksi ini dapat terjadi setiap malam, setiap pagi, atau tiba-tiba ketika Anda beraktivitas. Rasa ngilu, panas di pinggang dan daerah sekitar pinggul adalah hal biasa.

Bila kehamilan ini adalah yang pertama bagi Anda, kadang rasa sakitnya kontraksi akan sulit dibedakan dengan mulas ketika ingin buang air besar. Cara termudah untuk membedakan ini adalah dengan memegang pusar Anda. Bila saat mulas itu datang pusar Anda tegang, maka rasa mulas itu adalah kontraksi. Saat mulas ini terjadi biasanya disertai dengan bertambahnya bukaan (Serviks Anda melentur dan melebar). Karena itu, Anda mungkin juga sering ingin buang air besar karena selain faktor kontraksi yang mirip, juga karena usus besar Anda memang tertekan oleh perbesaran dan gerakan bayi yang ingin keluar.

  1. Tetaplah aktif bergerak

Hindari bermalas-malasan di tempat tidur. Aktivitas jalan-jalan di taman sambil menyirami bunga dapat membuat Anda rileks. Sesekali duduk beristirahat, minum dan ngemil makanan berkalori tinggi tapi sedikit lemak. Jalan-jalan santai dapat merangsang kontraksi dan memperbaiki posisi bayi. Jalan-jalan pagi dengan sinar matahari juga membuat peredaran darah Anda lancar dan otot tidak kaku.

Catatlah pesan-pesan atau ingatlah baik-baik pesan-pesan dokter pada kunjungan terakhir kehamilan Anda. Semua pesan dokter yang berhubungan dengan persiapan persalinan adalah penting. Pastikan Anda membawa suami atau anggota keluarga saat kunjungan ini, sebab mereka akan ikut mendengarkan kata-kata dokter sehingga berpeluang untuk tahu bagaimana harus menolong Anda jika nanti terjadi masalah. Banyaklah bertanya mengenai hal-hal penting dalam menyangkut persalinan yang Anda belum jelas. Libatkan pasangan dan orang tua untuk merancang persalinan yang prima dan sukses.

  1. Rileks dan damaikan pikiran

Jauhkan pikiran tentang beban-beban yang menjadi tanggungan anda selama ini, jika ada. Misalnya pekerjaan yang belum selesai, janji-janji pertemuan, atau rencana pribadi yang belum tuntas. Sampaikan itu semua kepada suami atau orang terdekat yang dapat anda percayai. Biarkan ia mengambil alih atau menanggungnya jika memungkinkan, atau abaikan saja karena anda harus fokus terhadap perjuangan anda dalam persalinan ini.

Sambil menanti semua yang terjadi secara alami, percayakan tindakan pada dokter yang menangani, percayakan biaya atau urusan semuanya kepada suami, dan serahkan kejadian yang tak dapat anda perkirakan kepada takdir-Nya.

Masa-masa berat persalinan mungkin saja tidak sesulit yang anda bayangkan sebelumnya. Pasrahkan semuanya kepada Allah, Dzat yang memiliki semua kemudahan.

C. Semua ini Adalah Pelajaran Bagi Janin

Ingat, semua yang terjadi di akhir masa kehamilan, dan di menit-menit kritis memperjuangkan kelahiran ini, adalah bagian dari pendidikan janin dalam kandungan juga.

Kesabaran anda melewati hari-hari kehamilan, kesediaan anda menjalani perbaikan diri dan menambah amal saleh adalah sebuah keteladanan yang kelak dapat menjadi kebiasaan atau pengalaman bermakna manakala si kecil mulai menelusuri jejak kehidupan anda. Ini semua pelajaran baginya, betapa ibunya sangat bersungguh-sungguh mengemban amanah kehamilan.

Di akhir perjuangan menuju persalinan sampai pada puncaknya, apa yang anda ikhtiarkan adalah juga bersamaan dengan perjuangan janin. Anda berjuang melahirkan si kecil, sementara si kecil juga berjuang untuk keluar dari rahim. Perjuangan yang seirama ini menjadi catatan penting untuk anda sekaligus buah hati bahwa kehidupan memang dimulai dengan perjuangan, disisipi oleh perjuangan, dan mungkin berakhir dengan perjuangan.

Rasakan dalam batin bahwa anda akan bekerjasama dengan si kecil di masa-masa puncak ini. Anda mengatur napas untuk mengejan dengan kuat, sementara si kecil mencari celah dan arah terbaik untuk bisa keluar menuju alam dunia.

Kelak ketika bayi makin besar, anda memiliki banyak kisah indah bersamanya. Anda mendapatkan hikmah dan kepuasan atas usaha ini, si kecil mendapatkan pelajaran berharga darinya. 

D. Seperti Maryam

Maryamlah ibu salihah yang mengandung dengan beban yang berat. Kehamilan tanpa seorang lelaki yang memancing gunjingan penuh prasangka. Celaan orang-orang tercela itu memperburuk keadaan. Maka Maryam pun mengadu kepada Allah sepenuh pasrah,

Oh, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tak berarti dan dilupakan…….” (QS Maryam …..

Tentu saja Maryam tidak benar-benar ingin mengakhiri hidupnya. Itu bahasa. Bahasa wanita saat ujian menekan jiwanya. Rasa sakitnya kehamilan dan hinaan orang-oranglah yang menyebabkan ia terpukul, sedangkan ia telah sampai pada masa harus memperjuangkan kelahiran buah hatinya. Ia memerlukan kalimat penenang hati untuk membuatnya merasa aman di menit-menit menghadapi kelahiran. Keluhan itu dijawab oleh Allah melalui Jibril yang diutus-Nya,

“…..Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu….”

Maryam tenteram dengan kalimat itu. Di bawah naungan pohon kurma yang berbuah lebat, ia telah mulai menyiapkan diri menjalani semua yang akan terjadi. Tetapi berdiam diri dalam kepasrahan bukanlah sikap yang baik di masa-masa itu. Allah justru memerintahkannya untuk bergerak, melakukan ikhtiar untuk kebaikan baginya di penghujung kehamilannya itu. Maka Dia-pun berfirman,    

“….Dan goyang-goyangkanlah pelepah pohon kurma itu ke arahmu niscaya akan gugur buah-buah kurma yang telah masak itu kepadamu….”

Yang dikehendaki oleh Allah terhadap Maryam adalah tetap di jalan ikhtiar. Sebab Allah memiliki banyak rahasia yang akan Dia tampakkan. Ikhtiar menjadi sebab yang dengannya Allah perlihatkan akibat untuk menjawab semua yang Maryam inginkan.

Allah mempersilakan Maryam untuk menikmati pemberian-Nya, setelah apa yang menjadi kebutuhannya saat itu dikabulkan.

“…Maka makanlah dan minumlah, dan senangkanlah hatimu….”  

Seperti Maryam, mengadukan keluhan menjelang saat-saat melahirkan adalah kebutuhan. Jika beban kehamilan memang berat, tidak perlu Anda bertahan untuk tidak mengeluh atau mengadu. Adukan semua yang anda rasakan, kepada Allah yang Maha Mendengar. Ceritakan kepada suami, orang tua, atau orang-orang terdekat yang dapat dipercaya.  Anda memerlukan penenang hati dan kalimat yang menentramkan.

Tentang jalan ikhtiar, ia  terbentang begitu luas dan panjangnya. Allah memberi kesempatan agar Anda melangkah di atasnya. Lakukan kebaikan-kebaikan dan usaha yang menjadikan segarnya pikiran dan kuatnya badan demi selamatnya persalinan. Tetaplah bergerak, hingga suatu ketika akan ditampakkan karunia yang menjawab kebutuhan Anda.

Allah menguji kesungguhan hati hamba-Nya, sampai hamba itu pantas untuk dicintai-Nya.