Pra Nikah – Beranjak menuju 40, dan pada usia itu masih belum mendapatkan jodoh. Jangan bersedih, tetap yakin jalan Allah yang terbaik.
Daftatr Isi
Tetaplah Bergelora!
Jangan termangu memandangi kalender yang mengingatkan ulang tahun terdekat Anda. Angka-angka itu tak bersalah mengantarkan anda ke usia yang makin dewasa.
Jangan pusing oleh bayangan teman-teman yang mengucapkan selamat hari lahir ke 40 sambil menanyakan siapa pasangan yang akan mendampingimu. Jangan terbelenggu oleh rasa kecil hati, ketika melihat kulit yang makin keriput.
Gelorakan jiwa muda yang bersemangat. Buatlah orang-orang di sekitar merasakan gelora jiwa Anda yang muda itu, tanpa menanyakan tahun berapa Anda lahir.
Curahkan rasa hati kepada-Nya di malam buta. Katakana kepada-Nya, “Ya Allah, aku beranjak 40 tahun. Sinarilah hatiku dengan cahaya hidayah-Mu, sebagaimana Engkau menyinari bumi ini dengan cahaya mataharimu selamanya. Dengan kasih sayangmu, wahai Dzat yang maha Mengasihi dan Menyayangi.”.
Rasulullah mendapat wahyu di usia 40 tahun
Betapa dahsyatnya usia 40. Rasulullah mulai rajin berkhalwat di gua Hira saat usianya beranjak 40 tahun. Di usia inilah beliau SAW menerima wahyu yang pertama kali, dan mendapat gelar Nabi.
Mengapa 40 tahun? Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menetapkan sesuatu kecuali di dalamnya ada hikmah yang agung. Kini baru terbuka bahwa perkembangan otak tidak sempurna kecuali di penghujung usia empat puluh tahun. Bersyukurlah atas karunia besar ini.
Orang eropa mengatakan, “life begins at 40“, kehidupan yang sesungguhnya baru dimulai di usia 40 tahun. Sesungguhnya tidak demikian, tetapi kehidupan matang dan sikap dewasa memang sering dimulai pada umur 40an tahun.
Kebanyakan pimpinan perusahaan adalah mereka yang berusia 40an tahun. Para pimpinan pemerintah dan pebisnis mencapai puncak karir pada usia 40an tahun. Karir militer dan pegawai negeri paling gemilang sekitar umur 40an tahun.
Tidak sedikit orang menemukan jodoh terbaik di usia mendekati 40, bahkan sesudahnya.
“Ya Allah, aku memohon dorongan untuk beramal saleh…”
Tidakkah Anda ingin membuat makna yang lebih baik pada setiap menit usia yang ditambahkan Allah dalam kehiduapan Anda?
Allah ta’ala berfirman yang artinya,
“… sehingga apabila dia telah dewasa dan mencapai umur empatpuluh tahun, berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku jalan untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kedua ibu-bapakku, dan doronglah aku untuk berbuat amal saleh yang Engkau ridhai …” (QS. 46;15)
Kemampuan beramal saleh di usia 40 lebih baik dibanding usia sebelumnya. Manusia dikaruniai kekuatan fisik lebih prima dan kematangan akal yang lebih baik. Jangan sia-siakan usia dahsyat ini.
Hendaklah engkau bersiap-siap
Hendaklah usia 40 tahun menjadikan manusia bersiap-siap menuju pencapaian tertinggi.
As-Syaikh al-Arif Abdul Wahhab bin Ahmad as-Sya’rani mengatakan, “Telah diambil janji-janji dari kita, bahwa apabila kita telah mencapai umur empatpuluh tahun, hendaklah bersiap-siap dengan melipat kasur-kasur dan selalu ingat bahwa kita sekarang sedang dalam perjalanan menuju akhirat pada setiap nafas yang kita tarik sehingga tidak akan lagi merasa tenang hidup di dunia. Di samping itu hendaknya kita menghitung setiap detik dari umur kita sesudah melebihi empat puluh tahun, sebanding dengan seratus tahun sebelumnya.”
Anda akan mendapatkan jodoh dari-Nya untuk teman di sisa usia ini. Jikapun hari ini Anda belum menemukannya, sesungguhnya jodoh di surga jauh lebih baik dan mulia. Maka pikirkanlah, bagaimana Anda menjadi manusia yang layak mendapatkannya.
“Engkau adalah tanaman yang dekat dengan masa penuaiannya..”
Wahab bin Munabbih mengatakan, “Aku baca dalam beberapa kitab, bahwasanya ada suatu suara menyeru dari langit ke-empat pada setiap pagi: ‘ Wahai orang-orang yang telah berusia empatpuluh tahun! kamu adalah tanaman yang telah dekat dengan masa penuaiannya. Wahai orang-orang yang telah berusia limapuluh tahun! Sudahkah kamu ingat tentang apa yang telah kamu perbuat dan apa yang belum? Wahai orang-orang yang telah berusia enampuluh tahun! Tidak ada lagi dalih bagimu. Oh, alangkah baiknya seandainya semua mahluk tidak diciptakan! Atau jika mereka telah diciptakan, seharusnya mereka mengetahui, mengapa mereka diciptakan. Awas, saatmu telah tiba! Waspadalah!“
Imam As Syafi’I ketika mulai umur empat puluh tahun sering tampak berjalan dengan sebatang tongkat kayu. Ketika ditanya sebabnya, beliau berkata:“Supaya aku senantiasa ingat bahwa aku adalah seorang musafir yang sedang berjalan menuju akhirat.”
Bukalah Tabungan Pengalaman, Lalu Tersenyumlah
Pengalaman adalah apa yang sudah kita dapatkan dari kehidupan kita tadi, kemarin, satu minggu yang lalu, satu bulan yang lalu, satu tahun yang lalu, atau entah berapa waktu lalu. Pengalaman adalah bagian dari sejarah hidup kita. Oleh karenanya, baik buruknya sejarah manusia akan ternilai oleh seberapa gemilang pengalamannya.
Dengan usia saat ini, apakah Anda memiliki banyak pengalaman? Apakah peristiwa masa lalu hilang begitu saja tanpa dapat Anda gali hikmahnya?
Sekarang Anda telah sampai pada masanya harus membukukan pengalaman untuk persembahan hari esok.
Hasan Al Banna mengatakan, “Mimpi kemarin adalah kenyataan hari ini, dan mimpi sekarang adalah kenyataan esok hari”. Apa yang sekarang anda rencanakan akan menjadi nyata esok hari. Apa yang terjadi saat ini adalah rujukan kejadian untuk esok hari.
Amal + umur = pengalaman
Sebagian orang mengatakan, “peristiwa kemarin adalah kenangan”. Maksudnya, mereka merekam dalam ingatan mengenai kejadian yang telah berlalu untuk diratapi jika kejadian itu menyedihkan. Sebaliknya, jika kejadian itu menyenangkan mereka melakukan perayaan.
Tetapi orang salih menjadikan peristiwa kemarin sebagai catatan pengetahuan. Semakin banyak berbuat dan terlibat peristiwa, semakin banyak catatan pengetahuan dalam ingatannya. Semakin banyak hari-hari dengan amal, semakin banyak pengatahuan yang ia miliki.
Kemarin adalah masa-masa menabung pengalaman. Mulailah memilah-milah: sederetan pengalaman baik untuk diulangi, sederetan pengalaman biasa-biasa saja untuk ditingkatkan, dan sederetan pengalaman buruk untuk diperbaiki.
Hitunglah berapa usia Anda sekarang, lalu bukalah tabungan pengalaman yang Anda miliki. Bagilah tabungan pengalaman itu kepada orang lain yang membutuhkan. Tebarkan senyum kepada mereka, karena senyum itu sedekah.
Jangan meratapi pengalaman buruk, jangan membanggakan pengalaman besar
Tidak ada sikap yang lebih buruk dari meratapi masa lalu yang buruk. Kekasih Allah Muhammad SAW tidak meratapi kejadian waktu beliau dilempari batu dan kotoran oleh orang-orang kafir saat awal berdakwah. Beliau tidak pernah tenggelam dalam kesedihan panjang saat terluka berdarah-darah sepulang dari perang uhud.
Nabi Musa as tak pernah meratapi kenangan pahitnya ketika harus terusir oleh Fir’aun dari tanah Mesir. Nabi Yusuf tidak tenggelam dalam ratapan panjang saat ia masuk ke dalam penjara. Sayyid Quthb tidak meratapi dirinya dalam bui, bahkan ia menikmati masa-masa menulis tafsir “Fi Zhilalil Qur’an” dalam bui hingga ajal menjemputnya.
Tidaklah patut manusia membanggakan kejayaan masa lalu, sebab waktu yang tersedia adalah sekarang dan esok hari. Hari ini kita hadapi sebagai kenyataan, esok hari kita hadapi sepenuh harapan.
Yang lebih baik adalah mengulangi kesuksesan masa lalu dengan mengajak lebih banyak orang. Inilah cara berbagi yang paling bermanfaat.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.” (HR Muslim)
Pengalaman Menjadi Pengingat
Pengalaman mengingatkan kepada Anda bahwa telah ada kesalahan kemarin, dan hari ini harus Anda perbaiki. Ia juga tak lupa memberitahu, kemarin Anda telah mengerjakan tugas dengan baik, maka hari ini anda harus mempertahankannya atau bahkan meningkatkannya. Pengalaman ibarat peta perjalanan yang memandu kita untuk memilih jalur-jalur paling selamat dan lebih baik.
Sesungguhnya, orang yang hari ini sama dengan kemarin adalah orang yang merugi, dan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah orang yang celaka. Mereka itulah orang yang berjalan tanpa petunjuk, yaitu orang yang tidak tahu memanfaatkan pengalamannya.
Pepatah mengatakan,
“Saat pagi tiba, janganlah engkau menunggu sore. Dan saat sore tiba, janganlah engkau menunggu pagi.”
Sekarang adalah apa yang kita hadapi, esok hari masih berupa serangkaian rencana. Dengan usia yang makin tumbuh seperti saat ini, bukankah anda makin banyak pengalaman dari pada mereka yang lebih muda? Itu artinya, anda lebih banyak memiliki pengetahuan kehidupan. Ketika pengetahuan kehidupan anda lebih banyak, anda punya alasan untuk lebih percaya diri.
[Yazid Subakti]

