Tujuh Tahun Pertama – Kehadiran anak-anak memang disambut kegembiraan. Ia menjadi sumber kebahagiaan orang tuanya dan pemacu kesadaran untuk bertanggungjaab kepadanya. Maka sayyidina Ali bin Abi Thalib ra berpesan, agar anak-anak di usia kelahiran sampai tujuh tahun pertamanya perlakukan seperti raja. Kelahirannya yang anda nanti-nanti, orang-orang datang melihatnya dengan senyum harapan. Beberapa saat kemudian ia tumbuh sebagai anak-anak yang menggemaskan. Semua perilakunya menyenangkan.
Maksud memperlakukan anak seperti raja adalah, kita hadir bersamanya untuk memberi perhatian penuh kepadanya, yaitu ikhtiar untuk selalu ada ketika dibutuhkan dengan memberikan apa yang menjadi haknya.
Pada usia emas ini, anak sedang menyelesaikan masalah egonya untuk belajar memahami kehidupan yang lebih luas. Ia sedang mengembangkan kemampuan organ tubuhnya, imajinasi, hubungan sosial, dan respon kepada sesama. Kehadiran orang tua adalah model yang akan menjadi ukuran baginya, tentang seperti apa harus ia lakukan untuk seutuhnya menjadi manusia. Perlakuan orang tua kepadanya adalah ukuran bagaimana ia harus memperlakukan orang lain.
Apa saja tuntutan orang tua mengahadapi sang raja?
Menjalin hubungan yang indah
Hubungan yang indah awali dengan kehadiran kita sepenuhnya di dunia nyata, bukan kehadiran yang setengah-setengah. Yang dimaksud hadir adalah kita ada di sisinya, dapat saling menatap dan ditatap, saling mendengar suara dan didengar, berkontak fisik amat dekatnya hingga benar-benar saling mengenali.
Menjalin hubungan indah bukan dengan memenuhi semua yang diminta si kecil, tetapi memastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi dengan kualitas paling baik yang mampu kita berikan.
Memperlihatkan padanya perilaku yang pantas
Yang pertama-tama dilihat oleh anak adalah orang tuanya. Perilaku yang kita tampakkan menjadi pelajaran paling penting baginya untuk ditiru. Seperti apa kita memperlihatkan diri kita, seperti itulah si kecil berperilaku.
Berlaku pantas di depan anak-anak artinya kita meniadakan, atau menyembunyikan, perbuatan yang tidak layak ia tiru, atau perilaku yang membuat anak menjadi kecewa terhadap orang tuanya.
Memperlakukannya apapun dengan cara yang baik
Mengajak kebaikan kepadanya dengan cara yang baik, mencegah keburukan juga dengan cara paling baik. Agar tidak menyakitinya, orang tua memerluakan teknik menjalin komunikasi dengannya untuk menyampaikan ajakan yang berkemungkinan ia tolak atau nasehat yang dapat membuat hatinya tidak nyaman.
Sampaikan ilmu dengan cara paling menyenangkan, terapkan pembiasaan dengan suasana paling nyaman, dan pendisiplinan dengan cara tetap gembira.
Yang tak kalah penting, anak di usia emas ini belum waktunya menanggung beban. Ia belum sampai masanya untuk mendapat tugas-tugas di keluarga kecuali sekedar latihan bertanggungjawab dan pembiasaan untuk bekerjasama.
Apakah ini semua akan mudah?
Kemudahan itu milik orang yang telah mempelajari. Oleh karena itu menjadi orang tua adalah menjadi pelajar baru untuk bersekolah di madrasah-madrasah pengasuhan. Kita memerlukan banyak cara dan pengetahuan baru untuk mengurangi sekecil-kecilnya kesalahan membersamai anak. Sebab, apa yang kita perlakukan kepada si kcil di masa-masa ini, dapat menjadi cermin apa yang akan si kecil lakukan kepada kita di masa senja nanti.
Dengan prinsip menghadapi si kecil bagai raja, sesungguhnya kita sedang berlatih untuk menyiapkan masa depan kita sendiri dan seisi keluarga kelak di hari akhir. Agar pertemuan di sana menjadi indah.
[Yazid Subakti]

