Menerima Keberadaannya

Menerima Keberadaannya

Parenting Al-Kautsar – Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya. Bagaimana dan seperti apa bayi  terlahir, itulah yang menjadi kehendak dan ketetapan-Nya. Manusia disyariatkan menerima keberadaannya dengan penuh taat dan menggali hikmah darinya.

  1. Jika lahirnya buah hati tak seperti yang dibayangkan

Pertama, jenis mungkin saja kelamin tidak sesuai keinginan. Jenis kelamin adalah ketentuan Allah, yang di balik itu semua terdapat hikmah dan banyak pelajaran. Istri Imran membayangkan dari kehamilannya akan terlahir anak laki-laki sebagai pengabdi di Baitul Maqdis, tetapi yang terlahir adalah Maryam. Belakangan baru kita tahu bahwa dari Maryam inilah Allah menyimpan rahasia akan lahirnya Nabi Isa as. Tentu saja lahirnya Nabi Isa dari Maryam adalah anugerah yang jauh lebih mulia daripada yang diinginkan oleh istri Imran pada awalnya.

Kedua, tampang bayi yang tidak rupawan. Bagaimanapun, kelahiran bayi mengikuti sunnatullah. Allah menciptakan keturunan dengan bentuk dan penampilan mengikuti kode genetika orang tuanya. Ukuran hidung bayi, warna mata, bentuk rambut, warna kulit, postur tubuh, semuanya tidak akan jauh dari kenyataan yang ada pada ayah atau ibunya, atau perpaduan antara keduanya. Kelak ketika besar ia akan menampilkan cara berjalan, warna suara, dan gerak tubuh yang tidak jauh dari apa yang tertampilkan oleh orang tuanya.

Ketiga, bagian organ tubuh yang tidak sama dengan bayi lain pada umumnya. Anak-anak difabel tidak pernah menghendaki apa yang menimpa dirinya. Begitu juga orang tua. Ia memiliki bagian tubuh dan fungsi yang tidak seperti umumnya, adalah karena Allah menghendaki demikian.

Ada hikmah besar di balik ini semua. Allah hendak mencurahkan pahala yang berlimpah-limpah melalui cara-Nya ini, karena orang tua akan merawat buah hatinya lebih bersungguh-sungguh kepada anaknya daripada anak-anak lain pada umumnya.

Keempat, kemampuan yang berbeda dengan anak pada umumnya. Anak-anak autis, anak Down Syndrom, anak hiperaktif, atau bahkan anak penyandang retardasi mental semuanya adalah karena Allah menciptakan demikian, menghendaki demikian. Inilah anak-anak istimewa, yang dengannya orang tua berkesempatan besar untuk menempa diri membentuk pribadi sabar. Allah menyimpan rahasia besar di balik ini semua.

  1. Bagaimanapun, ketetapan Allah adalah yang terbaik

Tak seorangpun memiliki ilmu untuk mendahului pengetahuan tentang apa yang ditetapkan oleh Allah. Ketika Anda mendapatkan sesuatu yang tidak Anda harapkan, Allah tidak selalu membukakan hati Anda untuk memahaminya. Sesuatu yang tampak baik di mata Anda, mungkin saja bukan yang terbaik bagi Anda. Sesuatu yang paling Anda inginkan, mungkin saja bukan kebutuhan Anda yang sesungguhnya.

Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat ini adalah penuntun langkah batin Anda menuju keimanan kepada qadha dan qadar, bahwa kenyataan yang menimpa buah hati telah tercatat dan terrencanakan semuanya oleh Allah.

Mari kita renungkan ibunda Nabi Musa as yang harus menghanyutkan anaknya di sungai Nil dengan penuh kepasrahan. Lalu Allah mengantarkan bayi itu untuk sampai ke tangan penyelamat dari keluarga istana Fir’aun. Nabi Ya’qub pernah mencemaskan putera kesayangannya, Yusuf as, atas drama saudara-suadaranya yang memasukkan ke sebuah sumur. Padahal itu adalah bagian dari rencana Allah, agar beberapa saat kemudian Yusuf ditemukan orang yang lewat, lalu dibawa kehadapan raja Mesir.

Sebagian dari kenyataan tidak seperti yang manusia harapkan. Padahal, dengan cara itulah Allah hendak menampakkan kasih sayang-Nya, menyempurnakan anugerah nikmat-Nya.

Dia berfirman,

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19).

  1. Bersiap Mengemban Amanah

“Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.” (QS. Ali Imran: 38).

Inilah doa yang sering orang tua panjatkan kepada Rabb-nya.

Ketika Allah mengabulkan doa ini dengan datangnya kehamilan dan lahirnya seorang anak, itu artinya orang tua harus bersiap mengemban amanah. Meskipun kehadiran anak ini adalah permintaan Anda melalui doa-doa, Allah menghadirkannya sebagai kehendak-Nya yang ketika Anda dikabulkan, orang lain belum tentu mendapatkannya. Apapun alasan dan rahasia Allah memilih Anda untuk mendapatkan buah hati, si kecil yang melekat di pangkuan Anda itu adalah amanah. Allah memercayakan perawatan, bimbingan, arahan, dan penghidupannya kepada Anda.

Rasulullah SAW memberi peringatan kepada orangtua yang lari dari amanahnya,

“Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang tidak akan diajak berbicara pada hari kiamat, tidak disucikan dan tidak dilihat.” Lalu beliau ditanya: “Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Anak yang berlepas diri dari orangtuanya dan membencinya serta orangtua yang berlepas diri dari anaknya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

 

[Yazid Subakti]