Mengenalkan Ibadah Puasa

Mengenalkan Ibadah Puasa

Parenting – Anak-anak harus dikenalkan ibadah puasa karena amalan ini merupakan salah satu rukun islam yang tanpanya keislaman menjadi tidak sempurna. Puasa yang paling penting untuk dikenalkan adalah puasa wajib setiap bulan Ramadhan. 

Selain menjadi penyempurna rukun islam, puasa adalah terapi jiwa bagi anak-anak untuk mengendalikan diri. Bulan Ramadhan menjadi madrasah untuk memperbaiki kesalahan dan perlombaan ketaatan kepada Allah. 

1. Menciptakan suasana gembira atas datangnya bulan Ramadhan

Datangnya bulan Ramadhan sebisa mungkin menjadi kabar gembira bagi keluarga. Ayah dan ibu menciptakan suasana rumah yang berbeda, lebih istimewa daripada bulan-bulan biasa. 

  • Menghias atau merapikan rumah dengan menambah lampu di taman atau pagar dekat jalan, membuat aksesoris di dalam rumah atau hiasan di dinding yang menjadikan rumah lebih terang dan semarak. 
  • Menyemarakkan suasana rumah dengan bebunyian murattal atau bacaan Al-Qur’an, salawat nabi, ceramah-ceramah bertema ramadhan dan motivasi untuk beribadah di dalamnya. Jika memungkinkan, pilih bebunyian yang bernuansa anak-anak atau disuarakan dari rekaman anak-anak.
  • Menyediakan menu yang khas di bulan Ramadhan, menu yang menggambarkan keistimewaan atau penghargaan bagi orang yang berpuasa. Jika si kecil menginginkan atau menyukai jenis makanan tertentu, maka makanan inilah yang disajikan untuk berbuka di bulan Ramadhan, di samping juga makanan yang disunnahkan. 
  • Menyediakan fasilitas ibadah tambahan untuk persiapan ibadah bulan Ramadhan. Anak-anak akan sangat gembira mendapatkan alat salat baru, atau mushaf Al Quran baru untuk digunakan mulai Ramadhan dan seterusnya. 
  • Membuat program keluarga khusus untuk bulan Ramadhan. Membuat safari tarawih di beberapa masjid yang lebih meriah pada beberapa malam tertentu, acara buka puasa keluarga di tempat yang mengesankan, menghadiri acara kajian Ramadhan yang diisi penceramah berkualitas, atau mendatangi acara kemeriahan Ramadhan khusus untuk anak-anak. 

Selama menyambut ramadhan, anak-anak sebaiknya diringankan beban rutin hariannya dibanding hari-hari biasa. Beberapa penugasan rumah dibebaskan atau diringankan karena energi dan perhatiannya akan diarahkan untuk menyemangatinya berpuasa. 

2. Puasa memang berat bagi anak 

Dunia anak sangat erat dengan kesenangan terhadap makanan. Ketika tiba saatnya harus mengenalkan puasa, yang membuat anak-anak merasa berat adalah karena harus menghentikan kesenangan utamanya itu, yaitu berhenti makan. Mereka bisa saja menolak karena kenyataannya, berhenti makan dan minum tidak sekedar berhenti dari kesenangan, melainkan juga harus menderita rasa perih di perut saat lapar, kering di mulut saat berlama-lama haus, serta lemasnya badan karena tidak makan dan minum. 

Itu terjadi karena kebanyakan orang tua menyampaikan pelajaran puasa kepada anak-anak dengan menggambarkannya seolah puasa itu ibadah yang dilakukan dengan menghentikan makan dan minum saja. Mestinya, anak-anak mendapat penjelasan bahwa yang harus dihentikan saat puasa bukan hanya makan dan minum. 

Jelaskan kepadanya dengan bahasa paling sederhana bahwa puasa itu artinya menahan; yaitu tidak makan dan minum, juga tidak melakukan perbuatan lain yang dapat membuat puasanya batal, serta melakukan amal ibadah lain yang akan menjadi penyempurna puasanya itu. Sampaikan pesan bahwa selain menahan lapar, juga tidak boleh menyakiti orang lain dan tidak mengucapkan kata-kata buruk. Agar pahala menjadi sempurna, puasa harus dilengkapi dengan sering mengaji, memperbanyak shalat sunnah, dan gemar berbagi. 

3. Melatih si kecil berpuasa 

Keluarga salih terbiasa berpuasa dari yang paling tua sampai yang paling muda, selama memiliki kemampuan. Ini telah berlangsung pada zaman nabi, para sahabat, dan tabi’in hingga orang-orang shalih setelahnya. 

Keluarga Umar bin Khattab terbiasa berpuasa, hingga anak-anak kecilnya. Suatu hari, beliau pernah menegur seorang pemabuk yang tidak berpuasa pada siang bulan Ramadhan. Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan, 

“Umar ra berkata kepada orang yang mabuk-mabukan pada siang hari bulan Ramadhan, ‘Celaka kamu! Anak-anak kami yang masih kecil saja berpuasa!‘ Kemudian beliau memukul orang itu.”

Biarkan si kecil menikmati kesenangan dan kemeriahan bulan puasa. Biarkan ia bersama teman-temannya turut dalam berbagai permainan khas puasa, bermain sambil menunggu pengajian di masjid dan acara meriah lainnya.

Bangunkan sahur dan menikmati menu makan sahur agar ia mengenal aktivitas yang mengawali hari puasa. Biarkan ia merasakan pengalaman suasana makan sahur yang tidak terdapat pada hari-hari biasanya. Agar mudah bangun di waktu ini, sebelumnya ia harus tidur tidak terlalu malam, yaitu tepat setelah tarawih. 

Setelah makan sahur, ajak ia menahan makan dan minum sekuatnya. Untuk mendukung ajakan ini, semua jenis makanan dan minuman di rumah memang harus ditiadakan atau disembunyikan. Ia tidak melihat makanan dan minuman, dan melihat ayah ibunya juga tidak makan dan tidak minum.

  • Menjelang siang, anak mulai berat merasakan haus dan lapar yang melilit.

Ia mungkin menangis atau merengek meminta minum dan makan. Anda dapat mengalihkan perhatian dengan mengajaknya bermain, bepergian melihat pemandangan atau objek yang menakjubkan.

Jika rasa haus dan lapar benar-benar tak tertahankan, ajaklah sekali lag bertahan sampai terdengar adzan dzuhur berkumandang. Begitu adzan berkumandang, berikan kesempatan untuk melepas haus dan laparnya, tetapi setelahnya kembali menahan sampai turut buka bersama saat adzan maghrib berkumandang. Saat maghrib tiba, ajak si kecil berbuka bersama agar merasakan pengalaman berbuka dengan suasana sebagaimana berbukanya orang berpuasa.

Lakukan latihan setiap hari tanpa memaksa atau menakut-nakuti. jika ia berhasil melakukan tahap paling ringan, yaitu menahan sampai dzuhur, anda dapat memberinya penghargaan berupa hadiah yang nilainya akan lebih besar lagi jika mampu menahannya sampai maghrib suatu hari nanti.

4. Hambatan-hambatan saat melatih anak berpuasa 

Anda akan mengalami hambatan atau tantangan begitu latihan puasa mulai diterapkan kepada anak-anak.

Hambatan pertama adalah budaya atau norma setempat yang belum tentu mendukung anak-anak balita belajar puasa. Beberapa masyarakat, sekalipun kebanyakan beragama islam, memandang bahwa puasa boleh bagi orang dewasa atau anak-anak saat menginjak remaja. Anda yang mulai menerapkan latihan puasa bagi anak balita mungkin terlihat aneh atau berlebihan, kemudian mendapat komentar tidak menyenangkan. Tidak jarang komentar ini datangnya dari orang terdekat, yaitu orang tua atau mertua dan kerabat Anda.

Anda tidak perlu membuang energy dengan membantah mereka atau menjelaskan secara detail. Cukuplah Anda lakukan apa yang anda yakini, yaitu tetap melatihnya berpuasa, sambil terus menjaga kedekatan dengan si kecil agar penghambat ini tidak berpengaruh padanya. Si kecil lebih mempercayai anda, dan mengikuti apapun Anda.

Hambatan kedua adalah kondisi anak yang lemah secara fisik.

Sebagian anak rentan terhadap penyakit, atau fisiknya lemah sehingga mudah sakit jika terlambat makan atau mendapat sedikit tekanan dalam hidupnya. Kondisi ini biasanya tidak terus menerus terjadi, kecuali pada anak yang memiliki kelainan organ atau memang sedang menderita gangguan kesehatan tertentu. Pada anak yang normal, kondisi rentan sakit berhubungan dengan asupan gizi dan gaya hidupnya yang kurang sehat. Oleh karena itu, persiapan sebelum melatihnya puasa adalah dengan cara menyehatkannya dulu jauh hari sebelum bulan Ramadhan datang. siapkan satu atau dua bulan bulan sebelum Ramadhan dengan memperbaiki asupan makan, menjaga istirahat, tetap berolahraga, dan tenang pikirannya. Jangan sampai di bulan ramadhan si kecil kekurangan berat badan yang mengakibatkan energinya cepat habis dan jatuh sakit saat masih di hari-hari awal berlatih puasa.

Hambatan ketiga adalah perasaan kasihan atau tak tega. Ini bukan masalah anak, tetapi manajemen pikiran orang tua yang bermasalah. Mestinya, orang tua tidak terkuasai oleh perasaannya, tetapi perasaan itu berimbang dengan pikiran. Emosi mestinya berimbang dengan rasionalitasnya.

Rasa kasihan itu ada tempatnya. Meletakkan rasa kasihan di tempat yang salah akan membawa dampak yang merusak dalam jangka yang panjang. Orang tua mengasihani anak saat belajar berpuasa karena menganggap bahwa latihan ini menyakitkan. Orang tua tidak tega melihat anak yang terkulai lemas karena menahan lapar dan haus. 

Perasaan kasihan yang seperti ini mendorong orang tua menunda latihan puasa anaknya kelak ketika anak sudah besar. Begitu sudah besar, tidak ada jaminan anak akan lebih mudah berpuasa. Ketika berpuasa pun, ia baru melalui tahap awal latihan, yaitu menahan makan dan minum saja. ia masih membutuhkan waktu beberapa musim puasa lagi untuk melengkapi latihannya. Sementra itu anak yang sejak dini berlatih telah menuntaskan seluruh latihannya di usia ini.

[Yazid Subakti]

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *