Mengagumi Momen Keislaman – Bagian 2

Mengagumi Momen Keislaman – Bagian 2

Parenting – Islam memiliki hari-hari besar atau momen keislaman yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Momentum  bermakna ini berhubungan dengan suatu peristiwa penting yang pernah terjadi di  zaman Rasulullah, atau hari-hari yang memang dikhususkan oleh Allah keutamaannya. Umat islam menghadapinya sebagai hari istimewa dengan bentuk sambutan yang istimewa pula.

  • Malam Lailatul Qodar

Lailatul Qodar jatuh pada 10 malam ganjil terakhir di bulan Ramadhan, yang memungkinkan beriringan dengan nuzulul Qur’an. Ini  merupakan malam terpenting yang terjadi hanya pada bulan Ramadhan dalam setiap tahun, dan tidak ada yang mengetahuinya di malam yang mana akan tiba. 

Malam Lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan. Artinya, amalan ibadah pada malam ini akan mendapat balasan oleh Allah dengan pahala berlipat lebih dari seribu kebaikan dari pada bulan-bulan biasa.

Laiatur Qadar dapat menjadi malam pemacu amal ibadah. Ajak anak melakukan iktikaf (berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah)  pada malam-malam yang diperkirakan akan turun lailatul qadar, yaitu di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Selama iktikaf, memperbanyak zikir kepada Allah, shalat sunnah, dan membaca All-Qur’an. 

Lailatul Qadar juga menjadi momentum bagi keluarga untuk melatih hati dan pikiran agar tidak terlalu lekat dengan urusan dunia. Manusia seharusnya lebih dekat dengan urusan akhirat daripada dunianya. 

  • Tahun Baru Islam

Momentum ini merupakan hari awal pergantian tahun hijriyah, yaitu pada tanggal 1 Muharram. Hari ini bukan menjadi perayakan, tetapi menjadi tonggak kehidupan untuk melangkah lebih baik daripada tahun sebelumnya. 

Tahun baru hijriyah adalah momentum muhasabah untuk bertaubat atas dosa dan kesalahan masa lalu yang terlanjur terjadi, kemudian memohon ampun kepada Allah  agar mengampuni. Sebagai konsekuensi dari pertobatan ini, kita akan bertekad mengisi tahun berikutnya dengan amal ibadah yang lebih baik dan menjaga diri dari dosa-dosa. 

Tidak ada ritual atau mitos tertentu yang dapat dipercayai seputar tahun baru hijriyah. Anak harus diyakinkan bahwa persiapan menuju masa depannya dapat diukur dengan momentum ini. Anda dapat mengingatkan kegagalan atau kesalahan apa saja yang pernah terjadi di tahun lalu untuk tidak diulanginya kembali. Apa saja yang ia raih selama ini harus lebih ditingkatkan di tahun mendatang. Dan tidak lupa memohon kepada Allah agar mendapat karunia usia yang berkah, yaitu usia yang senantiasa membawa kebaikan. 

  • Maulid Nabi

Maulid nabi artinya hari kelahiran nabi Muhammad SAW. Momen istimewa ini setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal setiap tahunnya. Pada saat itulah Rasulullah SAW lahir sebagai lelaki agung yang membawa keberkahan dan kemuliaan.  

Peringatan maulid nabi ini pertama kali perayaannya oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Ketika memperingatinya, beliau membacakan kisah tentang sejarah kelahiran Nabi sampai dengan perjuangan Nabi untuk Umatnya yang penuh pengorbanan. Perjuangan ini menjadi contoh yang baik bagi umatnya, agar terus dalam bentuk dakwah dan jihad menegakkan islam. 

Memperingati maulid nabi adalah aktivitas kebaikan (hasanah) yang mengandung banyak manfaat dan hikmah. 

Pada acara peringatan maulid nabi, masjid-masjid atau sekolah islam mengadakan pembacaan salawat dan barjanji sebagai pembuktian cinta kepada Nabi, menghadirkan ulama untuk memberikan motivasi berislam. Maulid nabi adalah mentum untuk mengembalikan semangat ittiba dan mengikuti sunnah Rasul, hari penuh keutamaan yang bertebar nasehat-nasehat untuk meneladani akhlak terpuji Rasulullah SAW. 

Ajak anak ke majelis pengajian atau acara maulid nabi tempat nasihat keteladanan Rasulullah. Biasakan membaca atau memperdengarkan kalimat salawat nabi untuk mempersering baginya berinteraksi dengan nama rasulullah. Sampaikan kebaikan dan kehebatan Rasulullah SAW serta cintanya kepada umat, agar di hati anak tumbuh kerinduan untuk bertemu dengannya. Dan tidaklah manusia akan bertemu dengannya, kecuali kelak di surga. 

  • Isra’ Mi’raj

Isra adalah perjalanan pada malam hari (dari masjid Al Haram Mekkah menuju Masjid AL Aqsha Palestina) sedangkan Mi’raj adalah perjalanan dari bumi (masjid al Aqsha) menuju sidratul muntaha di langit ke tujuh. 

Rasulullah melakukan isra mi’raj atas undangan Allah dengan perantara Malaikat Jibril berkendaraan buraq, untuk menerima tugas atau kewajiban sholat lima waktu kepada beliau beberapa tamsil atau contoh balasan kehidupan di akhirat atas perbuatan manusia selama hidup di dunia. 

Peristiwa isra’ mi’raj ini terjadi dalam satu malam, pada tanggal 27 Rajab. Sebagai hari mulainya salat lima waktu, peringatan isra miraj ini mengingatkan kita untuk memperbaiki kualitas salat. Kepada anak, ingatkan kembali kesungguhan salatnya karena ibadah ini adalah ibadah yang perintahnya langsung oleh Allah  kepada rasulullah SAW. Karena perintah salat ini langsung oleh Allah saat rasulullah menemui-Nya di sidratul muntaha, maka kita harus merasa terawasi langsung oleh Allah setiap kali menjalankan salat.  

  • Ada banyak perayaan atau hari besar yang lain 

Ada banyak perayaan yang berkembang di masyarakat kita. Beberapa perayaan atau haris besar berhubungan dengan sejarah bangsa (misalnya hari kemerdekaan), agenda Negara (misalnya hari libur kenaikan kelas), hari besar agama selain islam (misalnya natal atau waisya), atau hari besar lain yang memang sudah lama berlaku dan menjadi kesepakatan di seluruh dunia (misalnya tahun baru masehi). Sebagian hari yang istimewa bahkan tidak ada menurut hukum dari manapun, melainkan hanya sekedar kebiasaan masa lampau yang terus menerus hidup (misalnya valentines day atau Apri Momp). 

Kita mengikuti, dan terlibat dalam peringatan hari yang merupakan momentum sejarah perjuangan bangsa. Ini baik sebagai latihan bagi anak untuk memupuk jiwa patriot dan kesadaran mencintai bangsanya. Kita juga dapat memahami bawah pemeluk keyakinan lain memiliki hari raya yang mereka rayakan. Juga, kita tidak dapat mengelak bahwa ada kesepakatan akan tanggal tertentu yang berlaku untuk seluruh dunia semisal tahun baru masehi.

 

[Yazid Subakti]

Mengagumi Momen Keislaman – Bagian 1

Mengagumi Momen Keislaman – Bagian 1

Parenting – Islam memiliki hari-hari besar atau momen keislaman yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Momentum bermakna ini berhubungan dengan suatu peristiwa penting yang pernah terjadi di  zaman Rasulullah, atau hari-hari yang memang dikhususkan oleh Allah keutamaannya. Umat islam menghadapinya sebagai hari istimewa dengan bentuk sambutan yang istimewa pula. 

Momentum istimewa ini mengandung hikmah sebagai  sarana memperbaiki keimanan dan membangkitkan kembali semangat keislaman. Hari besar juga mengandung pelajaran, bahwa umat saat ini sebaiknya merenungkan apa yang terjadi di masa lampau.

  • Bergembira di hari raya

Hari raya besar islam ada dua, yaitu Idul Fithri yang setiap tanggal 1 Syawal dan Idul Adha  yang setiap tanggal 10 Dzulhijjah. 

Salah satu hikmah ditetapkannya hari raya Oleh Rasulullah adalah agar umatnya menikmatinya sebagai momentum untuk bersenang-senang.

Sahabat Anas ra berkata, “Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai dan Ahmad).

Ketika anak-anak menjumpai hari raya, keharusan orang tua adalah mengajaknya bersenang-senang dan bergembira sebagai ungkapan syukur atas nikmat Allah. 

Kegembiraan ini boleh dengan berbagai permainan atau kesenangan di dalamnya, selama tidak bermaksiat kepada Allah dan tidak melakukan perbuatan yang meniru kebiasaan kaum jahiliyah.  

Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari).

  • Bergembira saat Idul Fitri 

Idul fitri terjadi setiap tanggal 1 syawal, atau kita kenal dengan istilah lebaran. Hari raya Idul Fitri ini merupakan hari kemenangan bagi Umat Islam yang telah melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Selama berpuasa, kaum muslimin menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya. Selain itu, selama puasa juga harus menjaga lisan, hati, pikiran, dan perbuatan yang dapat mengurangi atau merusak pahala puasa. 

Sebulan penuh menahan diri dalam haus dan lapar, hingga akhirnya tiba awal bulan Syawal sebagai hari kemenangan. Seluruh hamba wajib mengeluarkan zakat fitrah sebagai pensucian diri. Di hari ini manusia kembali dalam fitrahnya atau kembali suci seperti bayi yang baru lahir.

Selain bergembira sebagai ekspresi kemenangan melawan nafsu diri, kondisikan anak-anak untuk bersedia  saling memaafkan dan menjalin silaturahmi dengan sesama. 

  • Memetik hikmah Idul Adha

Idul Adha atau hari raya kurban atau lebaran haji. Hari mulia ini perayaannya setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Pada hari inilah kaum muslimin melakukan ibadah haji di Makkah dan di seluruh dunia umat Islam melaksanakan sholat Idul Adha. Setelah salat idul Adha, kaum muslimin melakukan penyembelihan kurban untuk membaginya kepada sesama.

Idul Adha mengingatkan kembali pada masa-masa kehidupan Nabi Ibrahim as dan puteranya, Nabi Ismail as. Hikmah hari raya ini bagi anak adalah pelajaran mengenai kecintaan kepada Allah yang tak boleh melebihi kecintaan kepada apapun, termasuk keluarga. Dengan peristiwa datangnya kibas oleh malaikat jibril untuk menggantikan Ismail sebagai kurban, anda dapat meyakinkan anak bahwa kita hanya mendapat perintah untuk taat kepada-Nya. Jika perintah ketaatan itu terasa tak masuk akal, sesungguhnya Allah memiliki rencana lain yang lebih indah daripada yang mampu kita pikirkan. Allah tidak akan membuat celaka kepada hamba yang taat kepada-Nya. 

Hikmah lainnya adalah kesediaan untuk berkurban, yaitu merelakan apa yang dimiliki untuk dibagikan kepada orang lain sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang. Kurban adalah menyembelih hewan ternak (Kambing, sapi, atau unta) dengan memilihnya yang paling baik. Hewan paling baik ini dipilih bukan untuk dimiliki, tetapi disembelih untuk dibagikan dagingnya kepada sesama. 

  • Merenungi Al-Quran di hari Nuzulul Qur’an

Nuzulul Qur’an artinya hari saat turunnya ayat Al-Qur’an pertama kali melalui perantara, yang kemudian terkumpul berupa Al-Qur’an. Momentum istimewa ini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. 

Hikmah dari nuzulul Qur’an adalah umat islam merasakan kembali saat-saat turunnya ayat pertama. Kemudian Rasulullah SAW harus menyampaikan ayat ini kepada umat manusia yang kebanyakan menentangnya. Perjuangan membumikan Al-Qur’an di awal-awal turunnya ayat sangat berbeda, penuh tantangan dan ancaman. 

Momentum Nuzul Quran adalah saat-saat meyakinkan kepada anak bahwa kitab Al-Qur’an itu benar-benar kalam Allah. Anda dapat memanfaatkan momen ini untuk memotivasi anak lebih serius mempelajari Al-Qur’an. Jika Rasulullah dan para sahabat memperjuangkan AL-Qur’an dengan penuh pengorbanan, maka saat ini pun perlukan pengorbanan untuk mempelajarinya, menghafal, dan berusaha mentaati perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. ingatkan anak jangan pernah lepas dari Al-Qur’an. Ini adalah kitab yang nanti akan mendapatkan pertanyaan di alam kubur. Kitab yang menjadi sebab manusia selamat dunia dan akhiratnya. 

 

[Yazid Subakti]

Anak yang Tidak Terbiasa dalam Toleransi

Anak yang Tidak Terbiasa dalam Toleransi

Parenting – Anak yang mengabaikan toleransi akan mudah menilai orang lain yang berbeda dengan dirinya. Ia mudah bersikap sinis dan agresif. Ketidaksukaannya dapat ditunjukkan dengan mengganggu, menyerang, mengejek, dan melakukan kekerasan dan kekacauan pada orang lain. Dalam kondisi lemah, anak yang tidak terlatih bertoleransi akan menarik mundur dirinya dari lingkungan sosial yang dihadapinya. Ia tidak mau bergaul, tidak merasa memerlukan teman, dan menganggap bahwa hubungan dengan orang lain adalah sumber masalah. Akibatnya, ia tidak memiliki teman, terkurung dalam kesendirian dan beban mental menumpuk karena tidak menemukan saluran keluar. Anak seperti ini sangat mudah tertekan atau mengalami stress. 

Anak yang tidak bertoleransi biasanya tumbuh dari keluarga yang tidak toleran, atau didik oleh orang tua dan lingkungan sekolah yang juga kurang memberi contoh toleransi. Keluarga yang menutup diri dari lingkungan masyarakat memberi peluang anak-anak juga tertutup dari pergaulan masyarakatnya. Sekolah yang eksklusif mempersempit muridnya melihat perbedaan yang beragam. Lama-lama anak tidak terbiasa dengan perbedaan, lalu menganggap semua yang berbeda itu kesalahan yang harus dikoreksi atau dijauhkan.    

Batas toleransi dalam Islam

Toleransi dapat bermakna kesabaran dan kekuatan menahan diri menyikapi perbedaan. Hasil pemahaman toleransi adalah sikap menghormati dan menghargai, menghindari terjadinya diskriminasi dan berat sebelah terhadap kelompok-kelompok atau individu yang berbeda. 

Meskipun toleransi memberi peluang untuk turut serta dalam perasaan dan pilihan orang lain yang berbeda, harus dipahami  bahwa ramah terhadap perbedaan tidaklah semakna dengan larut di dalamnya. Menghormati suatu suku beserta karakternya tidaklah bermakna meleburkan diri ini untuk menjadi suku tersebut bukan? Menghormati pemilik kulit hitam  tidak bermakna menghitamkan kulit sendiri yang awalnya kecoklatan, menghormati hobi teman tidak berarti bergabung dalam klub mereka, menghargai nasib orang tidak berarti mengubah nasib diri seperti mereka juga.  

Dalam kaitannya dengan keyakinan atau akidah, toleransi tidak mengubah keyakinan sama sekali. Bertoleransi tidak sampai pada penyesuaian aturan syariat di dalamnya, dan tidak memasukkan nuansa keyakinan lain di dalamnya. 

  • Turunnya ayat toleransi

Allah menyinggung toleransi keyakinan dalam surat Al-Kafirun dari ayat 1 sampai ayat 6. Surat ini turun pada puncak upaya bertoleransi antara orang-orang Qurays penganut keyakinan lama, dengan Rasulullah SAW beserta pengikutnya yang sudah berislam. 

Ketika itu perselisihan keyakinan terjadi antara Rasulullah bersama penganut muslimnya dengan keyakinan jahiliyah sampai pada situasi yang sangat memanas. Untuk meredakan ketegangan, kaum Quraisy meminta terhadap Nabi Muhammad SAW agar beliau mengajak kaum muslimin bergiliran penyembahan terhadap dua Tuhan: hari tertentu bersama-sama menyembah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad dan esok hari menyembah Tuhan kaum Quraisy. 

Dengan alasan keadilan, pemuka Quraisy berpendapat bahwa kompromi dalam menyembah tuhan secara bergantian adalah cara terbaik bertoleransi antar agama. Rasulullah SAW tidak langsung menyepakati perjanjian ini, hingga mendapat petunjuk dari Allah dengan turunnya surat AL Kafirun ayat 1-6. Inti dari pesan wahyu ini adalah Allah memberi penguatan kepada umat islam untuk tetap teguh pada agamanya.

Allah menegaskan larangan bagi umat islam beribadah dengan cara ibadah agama lain (la a’budu ma ta’budun), melarang kaum muslim memaksan penganut agama lain beribadah secara islam (wala antum abiduna ma a’bud), yang kemudian akhiri dengan penegasan mengenai bahwa antara agama yang satu dengan lainnya tidak boleh bercampur. Allah menghendaki bahwa islam akan tetap teguh dengan keislamannya, sedangkan yang bukan islam biarkan dengan ketidak islamannya. 

  • Lakum dinukum waliyadin 

Allah mengajarkan kepada hamba-Nya prinsip toleransi keyakinan yang paling baik, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6).

Ibnu Jarir Ath Thobari berpesan mengenai ayat ini, bahwa maknanya adalah, 

 “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425).

Inilah prinsip  toleransi yang paling sesuai dengan keadaan, yaitu tetap bertahan pada akidah, tetap dalam keislaman dan keimanan sambil berbuat baik kepada semua orang. 

Mengenai keyakinan yang mereka anut, biarlah itu urusan Allah dengan mereka. 

Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41) 

Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)

  • Tidak terlibat dalam perayaan agama mereka, tidak larut maksiat bersama mereka

Perayaan agama adalah bagian dari pembuktian iman sesuatu agama, dan merupakan rangkaian ibadah dengan keyakinan hati. Seorang muslim menghormati dan turut menjamin ketenteraman agama lain merayakan perayaan agamanya, tanpa perlu terlibat kegiatan ibadah di dalamnya. 

Dalam bekerjasama muamalah, sebagian dari kebiasaan penganut agama lain haram bagi syariat islam. Penganut agama lain tidak memandang sebuah kesalahan ketika menampakkan aurat, menghidangkan makanan dari daging babi, atau minuman mengandung alkohol karena ketentuan syariatnya memang berbeda.  Terhadap hal ini, kita tidak mencela tetapi juga tidak terlarut di dalamnya, cukup menghindar dengan mengatakan bahwa agama islam tidak memperbolehkan itu semua. 

  • Batas toleransi 

Surat Al Kafirun adalah batas toleransi yang langsung berasal dari wahyu Allah, bukan hasil pemikiran dan lisan manusia. Terhadap apa yang telah Allah tetapkan, sikap seorang hamba adalah mendengar dan taat pada-Nya. 

Jadi, anak mendapat batas toleransi menghadapi perbedaan dengan batas-atas berikut ini, 

    • Bertoleransi hanya dalam urusan muamalah, yaitu urusan keduniaan yang sama sekali tidak ada hubungannnya dengan keyakinan dan tata cara beribadah. Urusan ini misalnya dalam jual beli, urusan politik, pengembangan kebudayaan, inovasi teknologi, dan lain-lain .  
    • Kerjasama saling memberi rasa aman dalam beragama, tanpa menjadi bagian dari agama yang berbeda. 
    • Berbuat dan berprasangka baik terhadap semua perbedaan yang ada, tanpa harus mengubah identitas diri menjadi seperti yang dihadapi. 
    • Berbuat adil dan bijak kepada setiap perbedaan, yaitu tidak membanding-bandingkan atau menganggap perbedaan itu sebagai sesuatu yang buruk. 
    • Memberi pertolongan dan bantuan kepada semua orang yang membutuhkan, yaitu bantuan yang meringankan kehidupan dunianya tanpa terpengaruh keyakinan mereka. 
    • Tetap menjalin hubungan kerabat  pada orang tua atau saudara berbeda agama, berbeda budaya atau perbedaan lain. Jika ada kerabat yang menganut agama lain, mereka tetap berhak dihargai dan diperlakukan sama seperti kerbata yang lain.  
  • Menampakkan kebaikan islam 

Toleransi adalah pembuktian bahwa islam ramah dan baik bagi semua penganut keyakinan dan pemilik perbedaan. Penghormatan terhadap sesama meningkatkan simpati orang lain terhadap islam. 

Rasulullah SAW tetap menganjurkan agar kita saling memberi hadiah kepada sesama, tanpa membedakan keyakinan.  

Dari Ibnu ‘Umar ra, beliau berkata,

Umar pernah melihat pakaian yang seseorang beli lalu ia pun berkata pada Nabi SAW, “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi SAW pun berkata, 

Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah SAW didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?

Nabi SAW menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya  di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari). 

Begitulah, sahabat mulia ‘Umar bin Khattab gemar berbuat baik dengan memberi pakaian pada saudaranya yang non muslim.

 

[Yazid Subakti]

Toleransi dalam Perbedaan yang Damai

Toleransi dalam Perbedaan yang Damai

Parenting – Toleransi disebut al-samahah atau at-tasamuh. Istilah ini berarti memudahkan dan bermurah hati, atau bertenggang rasa dan memberi tempat kepada orang lain. Makna toleransi seperti ini terkandung dalam beberapa firman Allah, misalnya,

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Q.S. al-Baqarah [2]: 185).

Allah sama sekali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Q.S. al-Hajj [22]: 78).

  • Menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili toleransi dalam Islam meliputi lima nilai dasar, yaitu 
  • Persaudaraan atas dasar kemanusiaan 
  • Pengakuan dan penghormatan terhadap yang lain
  • Kesetaraan semua manusia 
  • Keadilan sosial dan hukum 
  • Kebebasan yang ada dalam undang-undang 

Setiap anak akan menemukan sekumpulan orang yang berbeda dengannya. Saat ia bersekolah sampai perguruan tinggi, ia menemukan orang-orang dengan latar belakang dan sifat yang berbeda. Saat bergaul di masyarakat, ia menjumpai orang-orang yang tidak sama status sosial dan keyakinan. Kelak pada saat ia menjadi tokoh atau pemimpin umat, ia harus dapat memahami bahwa yang ia pimpin adalah orang-orang yang tidak dapat memaksanya untuk sama dalam banyak hal. Ia harus menemukan cara untuk berdamai dalam perbedaan-perbedaan.

 Manfaat Toleransi 

  • Mempererat silaturahmi

Bayangkan jika sekelompok orang hanya mau bertemu dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengan mereka saja: suatu suku hanya bersedia bekerjasama dengan orang-orang yang sesuku, penganut agama tertentu hanya mau bertegur sapa dengan orang-orang seagama, atau orang kaya hanya mau bergaul dengan sesama orang kaya. Kehidupan di masyarakat tidak akan berjalan dengan cara ini. Perdagangan tidak akan ramai, kebudayaan tidak berkembang, teknologi tidak mengalami kemajuan, dan keamanan menjadi terancam. Kehidupan menjadi lancer berjalan karena kesediaan orang-orang untuk saling bekerjasama, sedangkan antara satu orang dengan orang lain yang bekerjasama itu tidak mungkin mengandalkan dari satu golongan yang sama.  

Karena dalam perbedaan tersimpan peluang terjadinya konflik, maka sikap toleran berguna sebagai tali untuk  saling mempererat hubungan. 

  • Memudahkan kesepahaman

Inti dari toleransi adalah memperbesar kesediaan untuk saling memahami, dan memperkecil keinginan untuk dipahami. Semua orang ingin dipahami, dan senang ketika bekerjasama dengan orang lain yang mudah memahaminya.

Latihan toleransi paling awal bagi anak adalah memahami perbedaan perbedaan hak dan kewajibannya di rumah dibanding dengan saudara-saudaranya. Anak laki-laki mendapatkan hak sebagai anak laki-laki yang dalam beberapa hal tidak sama dengan hak anak saudara perempuannya. Seorang kakak yang kebutuhan sekolah dan pergaulannya lebih rumit memiliki fasilitas yang lebih banyak daripada adik yang tingkat sekolah dan kehidupannya lebih sederhana. Tetapi dalam pembebanan, seorang kakak menanggung tanggungjawab lebih berat dibanding adiknya. Anak yang sedang sakit mendapat perhatian lebih besar dari orang tuanya dibanding saudaranya yang sedang dalam keadaan sehat. Tetapi anak yang sehat mendapat kebebasan bermain lebih banyak dibanding saudaranya yang sedang sakit.

Orang tua harus memahamkan itu semua kepada anak, dan memerankan diri sebagai sosok yang tidak mudah mempersoalkan perbedaan.  

  • Menghindarkan perpecahan

Allah melarang perpecahan dan mewajibkan persatuan umat dengan tetap berpegang teguh pada tali agama-Nya. 

Manusia dengan berbagai kepentingannya suatu saat harus bekerjasama dengan orang lain. Sisi lain dari kerjasama atau jalinan hubungan adalah timbulnya konflik atau persaingan. Setiap kali bertemu konflik dan persaingan, semua orang ingin menjadi pemenang. Ketika kontrol diri kurang, perjuangan merebut kemenangan ini akan mudah tenjadi tindakan yang menyakiti, curang, licik, kasar, dan merusak. Mungkin saja konflik atau persaingan ini tidak sampai melanggar hukum, tetapi dampak yang timbul adalah rusaknya hubungan. 

  • Melatih diri untuk bersikap  menghargai 

Bertoleransi adalah latihan bagi anak untuk melatih dirinya untuk menghargai, yaitu memberi pandangan positif bahwa setiap manusia memiliki perbedaan-perbedaan. Ada perbedaan yang munculnya berawal dari takdir yang tidak mungkin berubah, seperti halnya suku atau ras dan semua ciri yang ada di dalamnya. manusia tidak bisa mengubah kesukuan atau rasnya dan menghilangkan ciri genetis yang ia bawa sejak lahir karena orang tua dan nenek moyangnya memang seperti itu. Perbedaan yang terjadi sebagai akibat dari proses pencarian dan nasib yang  tidak sama, seperti status sosial yang menjadikan seseorang berada di keluarga kaya dan miskin. Ada perbedaan yang disebabkan oleh pengaruh lingkungannya seperti penggunaan dialek dan gaya komunikasi dalam bergaul. Ada perbedaan yang merupakan pilihan dan selera pribadi yang tak mungkin memaksa seperti keyakinan beragama, selera makanan, selera pakaian, dan hobi. 

Semua itu sudah terjadi. Saat ini melanda pada seseorang atau sekelompok orang, yang mereka inginkan adalah dihargai sebagaimana kita juga ingin dihargai oleh mereka.      

Saat berbincang dengan anak, anda  dapat mengajaknya merenungkan bahwa Allah telah menakdirkannya sebagai suku atau etnis yang saat ini terjadi, menjelaskan nasib yang terjadi saat ini dan kemungkinan mengubahnya, kemantapan berkeyakinan terhadap islam dan tujuan panjang di alam akhirat, serta apa saja hal-hal positif pada lingkungan sekitar. 

  • Melatih kekaguman terhadap kekuasaan Allah  

Toleransi akan membuat individu dapat berpikir lebih positif terhadap apa yang ia hadapi. Pada kenyataannya, Allah menciptakan makhluknya dalam bentuk dan jenis yang berbeda-beda. Dalam satu jenis makhluk yang sama, Allah memuat beberapa keragaman di dalamnya sehingga tetap tidak ada suatu ciptaan yang  sama dalam semua hal. 

Anda dapat mengajak anak untuk mengamati ayam atau kucing yang berbeda-beda warna dan ukuran ekornya meskipun pada jenis yang sama. Pada sebuah hutan atau di suatu kebun, hewan yang bernama burung itu ternyata tidak satu bentuk dan sifat. Sama-sama burung ternyata memiliki nama yang berbeda, bentuk yang berbeda, warna bulu dan ukuran berbeda, bunyi kicau yang beragam, dan perilaku yang tidak sama. Terhadap manusia, Allah menciptakannya dalam satu suku yang sama tetapi ciri wajah dan postur tubuhnya tetap berbeda-beda. Bahkan pada anak kembar pun ternyata tetap terdapat perbedaan, yaitu selera dan sifat-sifatnya.

Ajaklah anak mengamati sebuah pohon yang rindang dan memetik beberapa lembar daunnya. Dari jauh, sekilas tampak bahwa daun-daun itu semuanya sama. Begitu dipetik dan mengamatinya dari dekat, ternyata   daun-daun itu tidak sama persis. Semakin penasaran dengan membandingkannya dengan ribuan daun yang masih di ranting, semakin terpana bahwa semua daun di pohon itu tak satupun yang sama persis ukuran dan bentuknya. Padahal itu baru satu pohon saja. Ajak buah hati untuk merenung, dari bermilyar pohon yang tumbuh pada sebuah hutan, Allah menciptakan semua daunnya dalam bentuk yang tak satupun sama. Betapa kreatifnya Allah. 

Demikianlah perbedaan sebagai sebuah keniscayaan yang akan terjadi sebagai bukti bahwa Allah maha berkuasa atas ciptaannya. Allah bisa menciptakan makhluknya dalam banyak ragam, juga bisa menciptakan makhluknya dalam kondisi yang sama jika Dia menghendaki.  

  • Melatih sifat kepemimpinan  

Salah satu karakter khas seorang pemimpin adalah adil. Dalam banyak situasi, seorang pemimpin harus mengambil jalan musyawarah untuk memutuskan persoalan yang menjadi selisih umat. Musyawarah berarti bermufakat atas suatu perkara, sebagai jalan tengah paling maslahat yang disepakati bersama. Musyawarah tidak membolehkan kecondongan pemimpin pada salah satu kubu orang-orang yang ia pimpin. 

Peristiwa batin paling berat untuk bermufakat dalam musyawarah adalah memahami perbedaan atau meletakkan keinginan pribadi  tidak lebih penting daripada keinginan orang lain. Kadang harus merelakan ambisi pribadi yang menggebu tertunda karena ada kebutuhan orang lain, kadang ada saat harus ikhlas keputusan bersama tidak sesuai kehendak pribadi. 

Itulah pemimpin. Sedangkan kita telah berkata-kali berdoa kepada Allah, memohon anak-anak kita selain menjadi penyejuk hati (Qurrota a’yun) juga Dia jadikan pemimpin orang-orang yang bertakwa (muttaqiina imaman).

 

[Yazid Subakti]

Ikhtiar Menjauhkan Anak dari Gangguan Jin

Ikhtiar Menjauhkan Anak dari Gangguan Jin

Parenting – Jin bersifat ghaib karena tidak tampak oleh manusia. Karena sifatnya yang seperti ini, manusia sering merasa kesulitan ketika harus menghadapinya saat jin mengganggu. Oleh karena itu, cara terbaik menjauhkan gangguan jin adalah melakukan ikhtiar yang menjadikan jin pergi dan melibatkan Allah agar Dia menjauhkan jin itu dari manusia. 

Bagaimana Jin mengganggu ?

Jin tidak berwujud konkret sebagaimana manusia. Jika ditinjau dari zat penciptaannya, jin dibuat dari api yang bersifat seperti senyawa gas. 

Dan dia menciptakan Jin dari nyala api” (QS Ar Rahman : 15)

Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud adalah ujung lidah nyala api, yaitu udara panas yang  dihasilkan oleh api itu. 

Ketika jin masuk ke dalam jasad, ia dapat bersembunyi di otak dan menguasai psikologis manusia, atau bersembunyi di aliran darah di manapun ia suka. 

Dalam beberapa kesempatan ruqyah, kami mengusir jin yang bersembunyi dalam aliran darah di rahim. Jin musyrik ini mengganggu wanita menghalangi keturunan dan jikapun hamil mengancam akan memain-mainkan janin. Karena tidak ada harapan ia masuk islam dan kita tidak diperkenankan secara akidah untuk bekerjasama dengannya, maka satu-satunya cara menghadapinya adalah dengan mengusirnya. 

Jin bisa saja mengganggu anak dengan beberapa alasan, misalnya; 

  • Anda menyimpan jimat atau kekuatan supranatural di rumah. Kekuatan jimat tidak lain adalah jin, yang akan menyertai dan memainkan apa yang ia suka. Termasuk mempermainkan anak.
  • Anda pernah menjadikan jin sebagai khodam (pembantu). Meskipun Anda telah memenuhi semua permintaannya, jin itu akan meminta lebih dan tetap mengganggu.
  • Anda atau keluarga punya riwayat bekerjasama dengan jin. Maka jin cenderung menuntut Anda untuk melanjutkannya sambil mengajak Anda pada kemusyrikan.
  • Anda menempati rumah atau tempat yang sebelumnya jin tempati. Jin itu marah dan mengganggu Anda beserta janin Anda.
  • Anda mengamalkan ilmu gaib dengan mantra dan wirid yang tidak disyariatkan. Jin-jin itu suka dengan wirid Anda dan selalu menyertai.
  • Anda suka dengan ritual adat menggunakan sesajen atau persembahan-persembahan. Semua benda-benda ini adalah makanan kesukaan jin. Anda akan selalu ditagih untuk terus memberinya sesaji.
  • Jin iseng saja. Salah satu sifat jin adalah semaunya sendiri. Jin kafir memang suka jahil tanpa alasan dan sifatnya sangat kejam.

Ruqyah Syar’iyyah 

Pengobatan gangguan jin dapat dengan ruqyah syar’iyyah, yaitu pengusiran jin dengan memohon perlindungan kepada Allah sambil membaca ayat-ayat AL-Qur’an yang menyinggung jati diri jin sehingga jin ketakutan dan akhirnya pergi. 

Ruqyah jenis ini bisa semua orang tua lakukan tanpa ilmu khusus.  

  • Setiap muslim yang ibadahnya benar, mampu membaca AL-Qur’an dengan baik dapat meruqyah.
  • Tidak disertai dengan syarat tertentu atau amalan tertentu. 
  • Tidak memakai benda-benda jimat atau lainnya yang orang yakini memiliki kekuatan.
  • Tak ada bacaan yang maknanya tidak dapat manusia pahami. Semua Bacaan dan do’a terbukti ada dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW.
  • Tidak ada gerakan khusus pengusiran atau penangkapan. 
  • Tak ada ritual khusus, misalnya puasa, melekan (tidak tidur) semedi, dan sebagainya.
  • Tidak ada sesuatupun yang dipersembahkan, misalnya ayam bekakak, rokok dan kopi, menanam arang, kepala binatang, dan sebagainya.

Cara melakukan Ruqyah Syar’iyyah 

Tidak ada mitos orang khusus yang punya kekuatan atau kesaktian mengusir jin. Anda berpotensi menjadi orang yang ditakuti oleh jin, jika memang Anda percaya diri dan dekat dengan Allah SWT. Sebab terapi pada dasarnya adalah memohon kepada Allah agar terjauhkan dari kejahatan jin.

Tidak ada syarat khusus yang harus anda siapkan. Secara umum, semua ayat dalam Al-Qur’an membuat jin kafir tidak nyaman dan akhirnya pergi jika Anda terus menerus membacanya. Jin kepanasan ketika mendengar bacaan ayat Al-Qur’an. 

Secara khusus Anda juga tidak menggunakan ritual tertentu. Cukup dengan menghadap anak atau sambil memegang keningnya dan membaca beberapa ayat-ayat Al-Qur’an serta do’a yang pernah Rasulullah ajarkan.

Ruqyah yang paling mudah adalah sering-sering  membacakannya surat berikut :

  • Ta’awudz dan surat Al-Fatihah
  • surat AL-Baqarah ayat 1 – 5
  • Ayat kursi, yaitu surat Al-Baqarah ayat 255
  • Surat Al-Ikhlas
  • Surah Al-Falaq
  • Surat An-Nas.
  • Membaca sholawat

Bacakan dengan sepenuh yakin, bahwa Allah memberi pertolongan dan jin akan ketakutan hingga akhirnya pergi menjauh.

 

[Yazid Subakti]

Membiasakan Dzikir Pagi dan Sore

Membiasakan Dzikir Pagi dan Sore

Dzikir artinya mengingat, yaitu mengingat Allah dan merasa selalu dekat dengan-Nya dengan cara menyebut-nyebut asma-Nya atau kalimat yang mengagungkan nama-Nya. Selain mendekatkan diri kepada Allah, dzikir adalah salah satu tanda keimanan dan ketaatan manusia kepada Rabb-nya, bukti cinta makhluk kepada penciptanya, dan penguat hati untuk selalu merasa berada dalam lindungan Allah. 

Anak yang dibiasakan berdzikir lebih tenang hatinya, lebih percaya diri dan terjaga dari perbuatan maksiat karena ia selalu menyadari sedang bersama Allah, dilihat dan disaksikan oleh Allah.   

  • Pentingnya dzikir-dzikir di pagi dan sore

Rasulullah SAW mengajarkan dzikir setiap pagi dan sore, dan dua waktu ini adalah waktu istirahat dan waktu orang lalai. Dua waktu ini pula adalah saat-saat pergantian suasana hari, dari gelap ke terang atau dari terang ke suasana gelap. Di masa-masa ini manusia tidak dapat mengetahui apa yang terjadi untuk keselamatannya sehingga butuh perlindungan dari Allah SWT.

Ibnul Qoyim Al jauziyah berpesan, “Dzikir pagi dan sore ibarat baju besi. Semakin banyak lapisan lempengnya, senjata tidak akan bisa menembus pemakainya. Bahkan, kekuatan baju besi bisa mencapai keadaan, di mana tombak bisa mental dan balik menyerang orang yang melemparnya”

Jadi, biasakan sekeluarga mengamalkan dzikir pagi dan sore sebagai ikhtiar perlindungan diri dari berbagai macam gangguan untuk mengatasi berbagai kemungkinan bahaya yang manusia tidak mengetahui kapan datangnya dan dalam bentuk apa. 

Dzikir mendekatkan anda sekeluarga kepada Allah sehingga dengan kedekatan ini segala permohonan memungkinkan untuk terkabulkan.

Anda dapat membaca dzikir dalam kondisi apapun sambil berdiri, berbaring atau duduk  atau sambil beraktivitas, kecuali di tempat yang terlarang untuk menyebut nama Allah, seperti di toilet. 

  • Bacaan dzikir pagi dan sore 

    • Ayat kursi

Ayat kursi adalah salah satu ayat dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah. Nah ayat ini jika dibaca dapat membuat jin merasa takut kepada Allah dan menjauh dari pembacanya. 

Dari Ubay bin Ka’ab ra, bahwa suatu ketika ada seorang jin yang mencuri kebun kurmanya. Jin itu ia tangkap untuk dilaporkan kepada Nabi SAW. Jin itu pun memelas agar dilepaskan. Sebagai gantinya, dia memberikan satu wirid kepada Ubay. Jin itu mengatakan: Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum…(ayat kursi). Barangsiapa yang membacanya ketika sore maka dia akan dilindungi dari (gangguan) kami sampai pagi.  Barangsiapa yang membacanya ketika pagi maka dia akan dilindungi dari (gangguan) kami sampai sore. Kemudian, Ubay mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian yang dia jumpai. Nabi SAW bersabda: “kali ini si makhluk buruk itu benar.” (maksud makhluk buruk adalah jin tersebut). (HR. An-Nasa’I dan At-Thabrani)

    • Surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas

Surat Al Ikhlas, Al falaq, dan An nas adalah tiga surat pendek yang berisi permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai gangguan, termasuk gangguan makhluk jahat dari golongan jin.
Dari Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ra, bahwa Nabi SAW bersabda: “Ucapkanlah: Qul huwa Allahu ahad dan al-Mu’awwidzataini ketika sore dan pagi tiga kali. Maka hal itu sudah cukup menjadi perlindungan bagimu dari (gangguan) segala sesuatu.” (HR. Abu Daud, At Turmudzi dan shahih oleh al-Albani)

Yang Al Mu’awwidzatain maksudkan adalah dua surat berisi permohonan perlindungan, yaitu AL falaq dan An nas. 

    • Membaca Doa perlindungan pagi hari

dzikirArtinya,

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan milik Allah selalu abadi, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, semata-mata Dia, tiada sekutu baginya, semua kerajaan hanya milikNya, segala puji hanya milikNya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rab-ku, aku mohon kepada-Mu kebaikan yang ada di hari ini dan kebaikan yang ada pada sesudahnya. Dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang ada pada hari ini dan kejahatan yang ada pada sesudahnya. Wahai Rab-ku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kondisi yang buruk di hari tua. Wahai Rab-ku, Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan siksa di kubur”

Doa ini baca tiga kali setiap hari. 

    • Membaca  doa untuk sore hari

dzikirArtinya,

Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan milik Allah selalu abadi, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, semata-mata Dia, tiada sekutu baginya, semua kerajaan hanya milikNya, segala puji hanya milikNya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rab-ku, aku mohon kepada-Mu kebaikan yang ada di hari ini dan kebaikan yang ada pada sesudahnya. Dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang ada pada hari ini dan kejahatan yang ada pada sesudahnya. Wahai Rab-ku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kondisi yang buruk di hari tua. Wahai Rab-ku, Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan siksa di kubur”

Seperti halnya doa pagi, doa ini juga baca dengan mengulangnya tiga kali.

Doa ini seperti yang dari Abdullah bin Mas’ud ra. riwayatkan, beliau  menceritakan, “Ketika masuk waktu pagi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca: “Ashbah-na wa ash-bahal mulku lillaah…dst. dan ketika masuk waktu sore, beliau membaca, amsai-na wa amsal mulku lillaah…dst.” (HR. Muslim)

    • Membaca doa penyerahan diri kepada Allah 

Pada pagi hari, bunyi doa penyerahan itu adalah seperti ini, 

menghindari-jin-bagian-2-doa-penyerahan-sore-hari

Artinya, 

Ya Allah, dengan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati. Dan hanya kepadaMu kebangkitan (semua makhluk)

Untuk sore harinya, kalimatnya menjadi,

menghindari-jin-bagian-2-doa-penyerahan-sore-hari

Artinya, 

Ya Allah, dengan-Mu kami memasuki waktu sore, dan dengan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati. Dan hanya kepadaMu kebangkitan (semua makhluk)

Doa ini sesuai dengan hadits yang dari Abu Hurairah ra, beliau berkata: Ketika masuk waktu pagi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca: “Allahumma bika ashbahnaa….dst.” (HR. At-Tirmidzi)

    • Sayyidul Istighfar

dzikir

Artinya, 

Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu dan keyakinanku terhadap apa yang Engkau janjikan, sekuat kemampuanku. aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau

Sayyidul istighfar artinya pemimpin atau yang menjadi inti dari dari istighfar. Karena dzikir ini mengandung ungkapan makna taubat yang menyeluruh. Di bagian awal, dzikir ini menyebutkan pujian untuk Allah dengan sanjungan yang sangat mulia. Kemudian, lanjutkan dengan menyebutkan kondisi hamba pada keadaan yang paling lemah.  Sehingga, orang yang membaca dzikir ini, berada di puncak sikap menundukkan diri kepada Dzat Yang Maha Agung. 

Dari Syaddad bin Aus ra, Nabi SAW bersabda, “Sayyidul istighfar adalah bacaan: Allahumma anta rabbii….dst. Barangsiapa yang membacanya di siang hari dengan meyakini isinya, kemudian dia meninggal di hari itu sebelum masuk waktu sore maka dia termasuk penduduk surga. Barangsiapa yang membacanya di awal malam dengan meyakini isinya, kemudian dia meninggal sebelum masuk waktu pagi maka dia termasuk penduduk surga.” (HR. Ahmad, Bukhari dan yang lainnya).

 

[Yazid Subakti]

Kebiasaan Buruk Anak yang Dapat Mendatangkan Jin

Kebiasaan Buruk Anak yang Dapat Mendatangkan Jin

Jin bisa hadir dan dekat atau bahkan masuk mempengaruhi kehidupan manusia. Sengaja atau tidak, kehadirannya dapat mengganggu dan menjerumuskan manusia.

Kebanyakan jin datang kepada manusia karena sebagian buruk yang terdapat pada manusianya. Kebiasaan ini karena tidak terbiasa memperhatikan adab-adab sederhana sejak kecil. Tanpa kita sadari, ternyata beberapa kebiasaan buruk tersebut jin sukai hingga akhirnya jin dating dan nyaman berdekatan. 

  • Tidak menutup mulut ketika menguap 

Saat manusia menguap tanpa menutup mulutnya dengan tangan, jin bisa memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk menyelinap ke dalam. Terutama menguap saat sedang salat.  Rasulullah SAW mengingatkan, “Apabila seseorang menguap dalam salatnya, hendaknya ia berusaha menahan kuapannya sebisa mungkin karena setan bisa masuk.” (H.R Muslim)

Dalam  hadist lain mengatakan, “Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, maka hendaklah ia menahannya sedapat mungkin.” (H.R Muslim)

  • Memakai sesuatu dari bagian kiri tubuh

Islam mengajarkan adab umatnya untuk mengenakan atau memulai segala sesuatu yang baik-baik dari kanan dan  melepas sesuatu atau memulai sesuatu yang jelek dari bagian kiri.

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW sangat menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, ketika menyisir rambut dan ketika bersuci, juga dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ini adalah adab islami sesuai sunnah, yang jika ditinggalkan dapat menjadikan jin berani mendekati manusia.  

  • Makan dan minum tanpa mengucapkan bismillah

Ketika hendak makan dan minum, dianjurkan untuk mengucap, “Bismillah” agar makanan itu bisa menjadi sebab datangnya berkah.

Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia mengatakan, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah SAW, tanganku berseliweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah SAW bersabda,

Wahai Ghulam, sebutlah nama Allah (bacalah “Bismillah”), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (H.R. Bukhari dan Muslim)

  • Makan dan minum dengan tangan kiri

Adab islami ketika makan dan minum adalah menggunakan tangan kanan dan melarang dengan tangan kiri. Ini seperti pesan Rasulullah SAW, “Jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena Setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (H.R Muslim)

  • Tidak mengibas kasur sebelum tidur 

Membersihkan tempat tidur dengan cara mengibaskan sambil membaca Basmalah adalah salah satu sunnah yang mengandung hikmah agar jin tidak datang mengganggu.

Rasulullah SAW telah bersabda,  “Apabila salah seorang dari kalian hendak berbaring di tempat tidurnya, hendaklah ia kibas-kibas tempat tidurnya itu dengan kain. Sebab dia tidak tahu apa yang terjadi pada tempat tidurnya setelah ia tinggalkan sebelumnya.” (H.R Bukhari dan Muslim)

  • Masuk ke dalam kamar mandi tak membaca doa

Salah satu tempat yang setan sukai adalah kamar mandi. Maka kita mendapat anjuran membaca doa memohon kepada Allah agar jauh dari gangguan jin.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan, “Rasulullah SAW ketika memasuki jamban, beliau mengucapkan Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan)” (H.R. Bukhari Muslim)

Anak-anak sebaiknya sejak dini diajarkan doa ini untuk dibacanya setiap kali masuk kamar mandi. 

  • Buang air sembarangan

Islam melarang pemeluknya membuang air sembarangan karena bertentangan dengan kesopanan umum, merusak lingkungan, dihukumi dosa, dan disukai oleh jin. 

Rasulullah SAW bersabda, “Jangan buang air di lubang binatang, di jalan tempat orang lewat, di tempat berteduh, di sumber air, di tempat pemandian, di bawah pohon yang sedang berbuah atau di air yang mengalir ke arah orang-orang yang sedang mandi atau mencuci.” (HR Muslim, Tirmidzi)

Dalam pergaulan dengan teman-teman sebaya, anak-anak (terutama laki-laki) yang sedang bermain kadang tidak tahan untuk kencing lalu menepi dan mengeluarkan air seninya di sembarang tempat. Inilah salah satu perilaku yang menjadi penyebab datangnya jin mengganggu. 

  • Tidur tanpa memohon perlindungan kepada Allah 

Ajarkan kepada  anak ketika tidur untuk tidak lupa berwudhu, kemudian saat berbaring membaca ayat surat Al Ikhlas, surat Al falaq, surat AN nas, dan ayat kursi. Setelah itu, ingatkan agar membaca doa sebelum tidur dan berusaha untuk tidur dengan tenang. 

Ini adalah ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan jin. Maka jin tekut kepada Allah untuk mendatangi manusia yang telah memohon perlindungan kepada-Nya. 

[Yazid Subakti]

Meluruskan Pemahaman atas Makhluk Ghaib

Meluruskan Pemahaman atas Makhluk Ghaib

Parenting – Meluruskan pemahaman atas makhluk ghaib, seperti misalnya Jin. Jin  & manusai memiliki beberapa kesamaan, yaitu memiliki akal dan nafsu, dan sama-sama mendapatkan beban perintah dan larangan syariat.

  1. Jangan dibingungkan oleh cerita fiksi 

Ada beberapa tokoh dalam buku-buku dongeng atau cerita fiksi yang merusak akal dan akidah anak. Buku ini memuat cerita turun temurun maupun cerita karangan baru yang di dalamnya terdapat tokoh ghaib dengan nama dan sifat yang menyesatkan, tetapi terlanjur sebagian anak muslim yakini. 

Tokoh fiksi itu misalnya tentang seorang peri yang baik hati beserta tongkat ajaibnya, atau malaikat yang tergambarkan sebagai gadis kecil bersayap. 

Bukankah peri yang dimaksudkan itu adalah sebangsa jin, sedangkan meminta pertolongan kepada jin dapat menjerumuskan kepada kesyirikan? Apakah malaikat itu sesosok gadis kecil? 

Berdasarkan nama-namanya, dan sosok yang yang pernah mengunjungi Rasulullah, malaikat bukanlah sosok gadis, melainkan sosok laki-laki meskipun tidak menyebutkan bahwa malaikat berjenis kelamin laki-laki. Inilah kesesatan khayalan  makhluk  gaib yang sudah terlanjur menjadi banyak tokoh dongeng. 

Tugas orang tua saat ini adalah meluruskan pemahaman ini, meyakinkan kepada anak dengan seterang-terangnya apa itu jin dan malaikat beserta sifat-sifatnya serta bagaimana manusia berhubungan dengannya.   

  1. Menjelaskan makna Jin

Jin adalah satu jenis makhluk ciptaan Allah dari bahan dasar api. Allah memberitahukan hal ini melalui firman-Nya,  

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar-Rahman: 14 – 15)

Berbeda dengan manusia, jin memiliki beberapa kesamaan, yaitu sama-sama memiliki akal dan nafsu, dan sama-sama mendapatkan beban perintah dan larangan syariat. Jadi, seperti manusia, ada jin yang muslim dan ada jin yang kafir. Ada jin yang baik dan ada jin yang jahat. Ada jin yang alim persoalan agama dan ada jin yang bodoh. 

Perbedaan jin dengan manusia yang paling mendasar adalah dari asal penciptaan dan kenampakannya. Makhluk ini adalah jin, karena memiliki sifat ijtinan, yaitu tersembunyi dan tidak dapat terlihat oleh mata manusia. Manusia tidak bisa melihat jin tetai  jin bisa melihat manusia. 

Ini juga telah Allah kabarkan dalam firman-Nya

“Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu di suatu keadaan yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27)

Karena sifat asli jin itu tidak dapat terlihat oleh manusia, maka hanya manusia tertentu saja yang dapat melihatnya karena ijin Allah (Misalnya seorang nabi atau orang salih). Kalangan bukan orang salih mungkin saja dapat melihat kenampakan jin, tetapi tidak dalam setiap keadaan dan semua orang. Sebagian orang awam yang dapat melihat jin adalah mereka yang sedang telah terpengaruh oleh jin juga.   

Ini seperti pendapat Imam Ibnu Taimiyah, ”Didalam Al Qur’an disebutkan bahwa mereka (jin) mampu melihat manusia dari tempat yang manusia tidak bisa melihat mereka. Ini adalah kebenaran yang menunjukkan bahwa mereka bisa melihat manusia dalam suatu keadaan yang mereka tidak bisa dilihat oleh manusia. Dan mereka tidaklah bisa dilihat oleh seorang pun dari manusia pada suatu keadaan akan tetapi terkadang mereka bisa dilihat oleh orang-orang shaleh atau pun orang-orang yang tidak shaleh namun mereka semua tidaklah bisa melihat jin di setiap keadaan”.

  1. Menjelaskan makna Setan

Jika Jin itu makhluk, maka setan adalah sifat yang melekat. Setan  merupakan sifat buruk yang melekat pada makhluk.  Oleh karena itu, kata ‘setan’ dinisbatkan pada setiap makhluk yang memiliki sifat membangkang, yaitu  sifat-sifat jahat, tidak taat, membelot, bermaksiat, melawan aturan, atau sifat buruk lainnya. Tidak ada sama sekali kebaikan dari sifat setan. 

Sebagai  sifat, maka setan bisa melekat pada diri manusia maupun pada jin yang sama-sama diberi beban syariat. Oleh sebab itu, setan ada dalam diri manusia dan juga jin sebagaimana firman Allah, 

“(setan yang membisikkan itu) dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 6).

Pahamkan kepada anak agar ia tidak takut setan. Sebab setan hanyalah sifat, yang bahkan bisa saja melekat pada manusia. 

  1. Siapakah Iblis? 

Iblis adalah nama salah satu jin yang menjadi pemimpin para pembangkang di dunia jin.

Allah telah berfirman mengenai hal ini, 

“Ingatlah ketika Kami berkata kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam!’ maka mereka semua-pun sujud kecuali Iblis. Dia dari golongan jin dan membangkang dari perintah Allah.” (QS. Al-Kahfi: 50)

Jadi, iblis adalah sejenis jin, atau nenek moyang jin yang merupakan makhluk Allah. Oleh karena itu ia juga memiliki keturunan sebagaimana umumnya jin lainnya. Allah berfirman,

“Iblis itu dari golongan jin, dan dia membangkang terhadap perintah Rab-nya. Akankah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai kekasih selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian…” (QS. Al-Kahfi: 50)

  1. Apakah hantu itu benar adanya? 

Hantu adalah makhluk Allah dari golongan jin, atau jin yang menampakkan diri di hadapan manusia dengan maksud mengganggu. Jadi, ketika makhluk jin itu menampakkan diri di hadapan manusia dengan berbagai jenisnya, maka manusia menyebutnya sebagai hantu karena tidak melihat wujud jin yang aslinya. 

Aslinya, dalam dunia jin memang terdapat jenis-jenis. Nama-nama jenis jin ini sering lebih dikenal oleh orang awam dalam istilah lokalnya. Oleh karenanya, orang mengenal jin sebagai kuntilanak, pocong, sundel bolong, banaspati, tuyul, dan sebagai di Indonesia. Nama-nama itu adalah sebuatan lokal untuk jenis-jenis bangsa jin dalam istilah orang Indonesia. Di luar negeri, penampakan makhluk jin bisa berupa jenis yang berbeda dengan sebutan yang berbeda pula. Misalnya penyebutan vampire. 

  1. Mengenal Malaikat

Malaikat adalah makhluk Allah yang bersifat ghaib, diciptakan oleh-Nya dari bahan cahaya. Malaikat adalah jamak dari kata Malak, yang secara bahasa bermakna utusan. Mereka tidak memiliki sifat ketuhanan, selalu taat kepada perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya.

Jumlah malaikat sangat banyak, tidak ada yang mengetahui selain Allah. 

Allah berfirman, “dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhan mu melainkan dia sendiri” (Qs. Al Muddatsir: 31).

Meyakini keberadaan malaikat adalah suatu keharusan. Bahkan Allah jadikan keimanan kepada malaikat sebagai salah satu rukun iman, yang tanpanya iman seseorang tidak akan diterima. 

Dengan mengenal malaikat, kita akan merasakan kasih sayang Allah yang telah melindungi kita dengan mengutus para malaikat untuk menjaga kita, mencatat amal amal kita, membisiki kita untuk berbuat baik dan lain sebagainya. 

Nama-nama malaikat yang dikenal ada sepuluh, yaitu Jibril, Mikail, israfil, Izrail, Munkar, Nakir, raqib, Atid, Ridwan, dan Malik.  

Malaikat memiliki jasad meskipun berbeda beda. Rasulullah SAW menceritakan bagaimana besarnya malaikat pemikul Arsy, “aku diizinkan untuk menceritakan salah satu malaikat Allah, yaitu malaikat pemikul Arsy, sesungguhnya antara cuping telinga dan pundaknya sejauh perjalanan tujuh ratus tahun”

Mereka juga memiliki sayap dengan jumlah yang berbeda beda setiap jenisnya. Di antara mereka ada yang memiliki dua sayap, tiga atau empat sayap, bahkan ada yang memiliki enam ratus sayap sebagaimana malaikat Jibril. 

Allah berfirman, “Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat…” (Qs. Fathir: 1).

Rasulullah SAW pernah melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya selama dua kali. Beliau melihat Jibril menampakan dirinya dalam bentuk aslinya, dengan enam ratus sayap yang menutupi ufuk. Selebihnya, Malaikat Jibril lebih sering datang dalam seorang laki laki asing yang tidak dikenal.

Malaikat memiliki akal tapi tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana manusia. 

  1. Ketika anak mengaku melihat jin

Biasanya anak  merasa sangat takut melihat penampakan jin yang ia sebut sebagai hantu. Rasa takut ini adalah wajar, karena setiap manusia memang takut dengan apapun yang dianggap membahayakan, tampak buruk rupa, atau bersifat mengancam.

Kesempatan melihat jin (tanpa disengaja) mungkin saja terjadi pada anak di saat tertentu.  Anda tidak perlu ikut cemas, asalkan peristiwa itu di luar kesengajaan. Secara umum, jin yang menampakkan diri kepada manusia ada yang bermaksud jahat dan ada yang tidak. Apapun maksud jin menampakkan diri kepada manusia, tidak ada manfaat sama sekali untuk berinteraksi atau menjalin hubungan dengannya. Oleh karena itu, sikap yang paling baik terhadap jin adalah menjauhinya. 

Ajaran kepada anak untuk sering-sering berlindung kepada Allah dengan mengucapkan ta’awudz. Ketika jin menampakkan diri, perintahkan anak membaca ayat kursi karena jin takut dengan ayat ini. 

Jika keberadaan jin itu ternyata ada di rumah, baik menetap atau sekedar singgah, anda sebaiknya mengusirnya karena suatu saat bisa saja ia akan mengganggu tanpa sepengetahuan anda dan keluarga.

  1. Manusia dapat mengalahkan jin dengan izin Allah 

Jika anak ketakutan terhadap hantu (meskipun belum pernah melihatnya), pahamkan bahwa hantu adalah sejenis makhluk dari golongan jin, sedangkan jin dapat dikalahkan oleh manusia dengan ijin Allah. 

Hantu atau jin sering tergambarkan sebagai makhluk yang memiliki kesaktian atau kehebatan. Akan tetapi Allah menjamin bahwa tipu dayanya itu lemah.

  • Kalah dengan  orang-orang yang mukhlis (yang ikhlas)

Perkataan iblis sendiri ketika berdialog dengan Allah mengakui bahwa dirinya tidak dapat mengalahkan orang mukhlis. 

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. (QS. Al- Hijr 15: 39-40).

Yang menyebabkan jin itu dapat menguasai seseorang adalah karena perbuatan dosanya. Ketika seseorang itu mukhlis, maka setan pun akan lari dan tidak akan pernah berani mendekatinya.

  • Takut dan lari oleh sebagian hamba Allah

Jin akan takut dan lari melihat orang beriman yang sangat dekat dengan Allah. Jin-jin di jalan ketakutan lari ketika Umar bin Khattab lewat. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Turmudzi, Rasulullah SAW bersabda kepada Umar: “Sesungguhnya setan sangat takut olehmu, wahai Umar” (HR. Turmudzi).

Bukan hanya kepada Umar, jin juga takut melihat orang-orang beriman yang dekat dengan Allah. “Sesungguhnya Orang mukmin akan dapat mengendalikan (mengalahkan) syaitannya sebagaimana salah seorang dari kalian yang dapat mengendalikan untanya ketika bepergian,” (HR. Ahmad).

  • Takluk kepada Nabi Sulaiman as

Salah satu mukjizat Nabi Sulaiman adalah dapat menaklukan jin sehingga semuanya dapat bekerja atas perintahnya. 

Allah berfirman, 

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu” (QS. Shad ayat 36-38).

Nabi SUlaiman sebagai manusia, ternyata dapat menguasai bangsa jin. 

  • Jin tidak dapat membuka pintu yang sudah ditutup dengan menyebut nama Allah

Ketika menutup pintu ramah, bacakanlah nama Allah. Sebab jin tidak dapat membuka pintu jika pintu itu tertutupi dengan menyebut nama Allah.    

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

Tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Allah (ketika menutupnya), karena setan tidak akan membuka pintu yang sudah terkunci dengan menyebut nama Allah. Tutup jugalah tempat air minum (qirab dalam bahasa Arab adalah tempat menyimpan air minum yang terbuat dari kulit binatang) dan bejana-bejana kalian (untuk masa sekarang seperti lemari, bupet, kulkas dan lainnya) sambil menyebut nama Allah, meskipun kalian hanya menyimpan sesuatu di dalamnya dan (ketika hendak tidur), matikanlah lampu-lampu kalian” (HR. Muslim)

 

[Yazid Subakti]

Kembali Pada Rukun Islam dan Rukun Iman

Kembali Pada Rukun Islam dan Rukun Iman

Islam yang kita yakini ini terbangun atas lima tiang penegak, yaitu rukun Islam. Sebagaimana oleh rasulullah SAW sebutkan di dalam hadits-haditsnya. Maka amat perlu bagi kita untuk menyampaikan kembali kepada anak seberapa dalam pemahamannya dan sejauh mana ia telah melaksanakannya. 

Dari Ibnu Umar ra, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan”. [HR Bukhari]

Hadits lain  dari dari Thawus, bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Umar ra  : “Tidakkah Anda berperang?”, maka dia berkata: “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ’Sesungguhnya Islam dibangun di atas lima (tanggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan; dan haji’.” [HR Muslim].

Hadits ini memiliki kedudukan yang agung, karena menerangkan rukun Islam yang merupakan inti ajaran islam.  Imam an Nawawi mengatakan bahwa sesungguhnya hadits ini merupakan pokok yang besar di dalam mengenal Islam, dan agama Islam bersandar di atas hadits ini, dan hadits ini mengumpulkan rukun-rukunnya” 

  1. Tak ada Islam Tanpa dua kalimat Syahadat

Jika Islam ibarat sebuah bangunan, maka tiang-tiang bangunannya adalah lima rukun islam. Bangunan itu tidak dapat tegak kokoh, kecuali dengan kelimanya. Islam akan hilang dengan ketiadaan tiang pertama berupa dua kalimat syahadat. 

Syahadat ialah membenarkan apa yang Rasulullah SAW bawa dengan  keyakinan yang penuh. Oleh karena itu syahadat harus dengan lisan, hati dan berdasarkan Ilmu. Barangsiapa bersyahadat “Laa ilaaha illa Allah”, berarti dia meyakini dan memberitakan, bahwa tidak ada sesuatupun berhak terhadap seluruh jenis-jenis ibadah, kecuali Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Syahadat “Muhammad adalah utusan Allah”, adalah seseorang meyakini, memberitakan dan mengumumkan bahwa Muhammad (yaitu Muhammad bin Abdullah) benar-benar merupakan utusan Allah. Keyakinan mencakup rasa percaya bahwa wahyu turun kepada beliau, sehingga beliau memberitakan dengan apa yang Allah katakan.  Syahadat ”Muhammad adalah utusan Allah” juga bermakna keimanan kepadanya, bahwa beliau adalah utusan Allah sebagai basyir (pembawa berita gembira) dan nadzir (pembawa berita ancaman). Pembuktian dari keyakinan ini adalah meyakini berita-berita dari beliau, melaksanakan perintah-perintahnya, meninggalkan apa yang beliau larang, dan beribadah kepada Allah hanya dengan apa yang beliau syari’atkan.

Di masa-masa mengantar anak menuju akil baligh, pemahaman mengenai dua kalimat syahadat harus tuntas dengan bimbingan orang tua. Artinya, orang tua benar-benar memastikan keislaman anaknya dengan pemahaman yang benar atas rukun islam yang paling awal.   

  1. Shalat sebagai tiang agama 

Shalat merupakan tiang agama. Sebuah bangunan tidak berdiri, kecuali dengan tiang yang dipancangkan dengan  kokoh. Jika tiang itu roboh, maka bangunan beserta seluruh yang ada padangan akan ikut roboh. 

Rasulullah SAW bersabda, “Pokok urusan (agama) itu adalah Islam (yaitu: dua syahadat), tiangnya adalah salat, dan puncak ketinggiannya adalah jihad. [HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Yang dimaksud shalat di sini adalah salat fardu lima waktu dalam sehari, yaitu subuh, zuhur, ashar, maghrib, dan isya. Anak-anak sejak dini harus dikenalkan kebiasaan shalat, sampai pada usianya 7 tahun disampaikan pelajaran mengenai cara pelaksanaannya. Pada usia 10 tahun, orang tua memastikan anak telah menjadi pribadi yang rajin shalat sehingga hukuman harus diberikan jika ia lalai mengerjakannya. 

Meninggalkan shalat sama sekali dengan tidak meyakini kewajibannya dapat berakibat pada  kekafiran. Meninggalkan shalat sama sekali karena malas atau sibuk, tetapi tetap masih  meyakini kewajibannya tidak berakibat kekafiran tetapi merupakan dosa besar yang mendatangkan azab besar pula. 

Selain shalat wajib, pahala akan lebih sempurna jika sejak kecil anak dibiasakan menjalankan salat-salat sunnah. Ajak anak melakukan salat rawatib, salat duha, salat tahajud, dan shalat-shalat sunnah yang lain.

  1. Peduli dengan berzakat 

Membayar zakat adalah rukun islam ketiga, yaitu memberikan sebagian harta kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Allah mewajibkan zakat atas harta-harta orang yang mampu, dengan ketentuan yang dijelaskan oleh para ulama. Orang yang sudah wajib zakat tetapi menolak membayarnya mendapatkan ancaman dosa besar dan siksa yang keras, meskipun tidak dihukumi kafir. 

Rasulullah SAW bersabda, 

Pemilik emas dan pemilik perak yang tidak menunaikan haknya darinya (yaitu membayar zakat), maka jika telah terjadi hari Kiamat, dibuatkan untuknya lempengan-lempengan dari neraka, kemudian lempengan-lempengan dipanaskan di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarlah dahinya, lambungnya dan punggungnya. Setiap kali lempengan itu dingin, dikembalikan (dipanaskan di dalam Jahannam) untuk (menyiksa)nya. (Itu dilakukan pada hari Kiamat), yang satu hari ukurannya lima puluh ribu tahun, sehingga diputuskan (hukuman) di antara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat (atau, akan diperlihatkan) jalannya, kemungkinan menuju surga, dan kemungkinan menuju neraka. [HR Muslim]

Pertama-tama ketika menyampaikan ajaran zakat kepada anak adalah bahwa perbuatan ini dilakukan semata karena Allah memerintahkannya. Sebagai bukti keislaman, kita taat atas perintah Allah dan berusaha menjalaninya dengan ikhlas. Setelah itu, anda dapat menjelaskan hikmah yang terkandung dalam zakat, yaitu menumbuhkan rasa peduli kepada sesama, menghilangkan sifat kikir, dan menyucikan harta kita. 

Jangan lupa melatih anak dengan bentuk sedekah yang lain, misalnya membiasakan membawa  uang infak setiap kali berangkat ke masjid atau menyumbang korban bencana alam.

  1. Puasa sebagai tameng

Rukun Islam keempat adalah berpuasa pada bulan Ramadhan. Ini adalah ibadah kepada Allah dengan menahan hal-hal yang membatalkannya, sejak terbit fajar shadiq sampai tenggelam matahari. Umat telah sepakat tentang kewajiban puasa Ramadhan tanpa satupun yang menolak. 

Seperti ibadah yang lain, ketika menyampaikan ajaran puasa kepada anak, orang tua mengemukakan alasan paling utama orang berpuasa adalah karena  mentaati perintah Allah. 

Setelah penjelasan ini, anak dapat diberi pemahaman mengenai hikmah puasa, yaitu mengendalikan nafsu dari berbagai godaan, menjaga kesehatan. Sebagai latihan untuk turut merasakan penderitaan orang-orang miskin yang setiap hari harus menahan lapar. 

Selain ibadah puasa, bulan Ramadhan menjadi bulan yang istimewa. Ajak anak untuk mengisi bulan mulia ini dengan amalan yang mendatangkan pahala berlimpah. Yaitu shalat tarawih, tadarus, memperbanyak sedekah, dan saling bersilaturahim. 

  1. Haji melengkapi keislaman 

Haji. adalah beribadah kepada Allah dengan pergi ke kota Mekkah untuk menunaikan beberapa syarat dan rukunnya. Ibadah haji ini diwajibkan bagi orang yang memiliki kemampuan: yaitu sehat jasmani, memiliki perbekalan cukup untuk pergi dan pulang dan hidup di tanah suci,  dan keamanan selama perjalanan.

Orang Islam yang memiliki kemampuan itu semua tetapi menolak untuk berhaji diancam oleh rasulullah SAW, 

Sesungguhnya Allah berfirman : “Sesungguhnya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan badannya, dan telah Ku-lapangkan penghidupannya, telah berlalu lima tahun, dia tidak datang kepadaKu, dia benar-benar orang yang terhalang dari kebaikan”. [HR Ibnu Hibban, Abu Ya’la, dan al Baihaqi].

Sejak dini anak harus dikenalkan kewajiban haji dan keutamaannya. Orang tua membuat suasana keluarga yang merindukan baitullah, dan dengan langkah nyata merencanakan untuk pergi melaksanakannya. Langkah paling awal mewujudkan rencana ini adalah dengan membuat tabungan haji.

 

[Yazid Subakti]

Hanya Ada Satu Jalan Lurus, Nak!

Hanya Ada Satu Jalan Lurus, Nak!

Parenting – Katakan kepada anak bahwa islam telah sempurna, hanya ada satu jalan lurus. Agama ini telah diridhoi oleh Allah untuk dianut oleh segenap manusia dari kedatangannya sampai akhir zaman. 

Allah  berfirman,

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Ma’idah: 3).

Ayat ini tururn saat Nabi SAW wukuf di Arafah ketika Haji Wada’. Inilah ayat Al Qur’an yang turun terakhir kali. Beberapa waktu setelah ayat tersebut turun, Nabi SAW meninggal dunia, yaitu setelah beliau kembali ke Madinah selepas pulang dari haji terakhirnya. Jadi, ayat ini benar-benar menutup kesempurnaan islam.

  1. Menyampaikan makna sempurnanya islam 

Islam telah sempurna, berarti tidak perlu agama lain selain agama ini, dan tidak memerlukan kehadiran nabi yang lain selain Muhammad SAW. Tidak perlu keyakinan baru atau tambahan aturan untuk menjadi islam lebih lengkap. Maka apa-apa yang halal adalah yang beliau SAW halalkan dan hal-hal yang haram adalah apapun yang beliau SAW haramkan.

Anak perlu mengetahui risalah ini, agar suatu saat ketika pergaulannya meluas, ia tidak mudah terpana dengan pemikiran dan keyakinan berbeda yang ia dengar atau lihat dari orang lain. Ia telah yakin akan islam sebagai satu-satunya agama, dengan membiarkan pemeluk lain meyakini agama mereka masing-masing. 

  1. Tidak perlu ada penambahan dan pengurangan dalam ibadah

Semua ibadah yang menjadi syariat dalam agama islam ini telah selesai terrumuskan oleh dan rasulnya, dengan tata cara atau kaidah yang oleh para ulama jelaskan. Ilmu tentang hukum dan tata cara ibadah (fiqih) telah banyak disusun, yang berarti tidak ada jenis ibadah atau cara baru beribadah yang akan menjadi syariat selain itu. Selamanya syahadat akan menjadi syarat keislaman, shalat wajib akan berlaku lima waktu, dan puasa wajib akan terjadi di bulan ramadhan. Selamanya kewajiban zakat akan berlaku, dan ibadah haji akan terus menjadi rukun islam kelima. 

Sahabat Ibnu ‘Abbas ra berkata,

“Allah telah menyempurnakan islam, sehingga mereka (umat Islam) tidak perlu lagi menambah ajaran Rasul selamanya, dan Allah pun telah membuat ajaran Islam itu sempurna. Jika Allah telah ridha, maka janganlah ada yang murka dengan ajaran Islam selamanya”.

  1. Islam sudah sesuai, dan paling sesuai dengan kehidupan saat ini

Sebagian orang, sampai saat ini, masih berusaha menyudutkan islam. Ada yang berpandangan bahwa ajaran islam tertinggal dari peradaban sehingga menjadi penyebab pemeluknya tidak siap menghadapi zaman modern. Mereka ini adalah orang-orang yang belum banyak belajar tentang islam kecuali melihat hal-hal kecil dari permukaannya saja, kemudian membuat kesimpulan dengan landasan kebencian. 

Allah telah menyanggah orang-orang seperti mereka. Jika dibandingkan dengan semua agama, maka agama yang terakhirlah yang paling mutakhir dan tercukupkan, yang paling mendekat peradaban akhir zaman dan kemajuan orang-orangnya. 

Orang tua mesti memahamkan kepada anak bahwa beberapa penyudutan terhadap islam bukan karena agama islam, tetapi oleh sebagian pemeluk islam yang kurang utuh dalam berislam. Yang bermasalah adalah orangnya, dan itu tidak banyak. Seorang muslim yang berprestasi, menjadi pelopor kemajuan dan memimpin peradaban jauh lebih banyak daripada mereka yang tertinggal. 

  1. Menjadi muslim adalah karunia Allah yang sangat besar

Allah mengatakan bahwa Dia telah mencukupkan nikmatNya. Itu bermakna bahwa Islam adalah nikmat paling besar yang pernah diberikan kepada hamba-Nya. Orang-orang yang mendapat hidayah untuk istiqamah dalam islam sesungguhnya telah meneguk kenikmatan yang amat besar. 

Terhadap nikmat Allah yang agung ini, sikap terbaik seorang hamba adalah bersyukur. Kepada anak, orang tua memberi contoh bersyukur atas nikmat keislaman dengan cara menjaga kemurnian islamnya, berbangga dengan agamanya, dan menyiarkan nilai islam kepada sesama. 

  1. Hanya islam

Allah menegaskan, bahwa hanya islamlah agama mendapat pengakuan dari-Nya. 

Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).

Setelah Nabi kita Muhammad SAW datang membawa islam, maka agama lainnya seluruh agama yang pernah sebelumnya tidak lagi berlaku. 

Mengenai hal ini, Allah berfirman, 

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran: 85)

Anak yang pikirannya telah beranjak aqil (transisi menuju masa dewasa) sudah mampu berpikir untuk menerima  kebenaran ayat Allah dan membedakannya dengan ajaran lain. Maka orang tua dengan sepenuh yakin harus menyampaikannya dengan lugas. 

  1. Bagimu agamamu, bagiku agamaku 

Kuatnya keyakinan terhadap islam adalah suatu kebutuhan, sekaligus keharusan. Orang tua telah mengkondisikan keyakinan ini sejak anak masih dalam kandungan,   dan terus menerus  menjaganya sampai anak tak lagi dapat dijumpainya. 

Meskipun pada anak tertanam penguatan keyakinan islam satu-satunya yang benar, sikap terhadap pemeluk keyakinan tetap harus terjaga. Justru salah satu bentuk keimanan islam yang sempurna adalah meyakini Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat yang menyerukan saling bertoleransi. 

Terhadap keyakinan orang lain yang berbeda, kita ajarkan kepada anak untuk menghargai dan memberi kebebasan mereka meyakini dan menjalankan kewajibannya. Tetapi terhadap keyakinan kita sendiri, kita pegang kuat-kuat dan tak seorang pun akan kita biarkan untuk mengubahnya. Seperti dalam Surah AL Kafirun, prinsip kita adalah “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”. 

 

[Yazid Subakti]