Mengenal Allah

Mengenal Allah

Banyak orang mengaku mengenal Allah, tetapi mereka tidak cinta kepada-Nya. Buktinya, mereka masih melanggar perintah dan larangan-Nya. Itu karena mereka tidak benar-benar mengenal Allah.

Kita menginginkan anak-anak kita mengenal Allah dengan sebenarnya, yaitu pengenalan yang membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan taat dengan penuh ketundukan hanya kepada-Nya. 

  1. Mengenalkan Nama Allah 

Nabi Adam belajar dari nama-nama, karena nama adalah identitas pertama akan keberadaan sesuatu. Maka, yang awa-awal diajarkan kepada anak adalah juga tentang nama Allah. 

Jadi, kita membimbing anak untuk beriman kepada Allah beserta nama-nama-Nya.

Pertama, nama Allah itu sendiri dengan lafadz jalaalah. Ajarkan anak mengucapkan lafal Allah dengan pengucapan yang benar, mantap, dan nyaman. Menyebutnya dengan makhraj atau artikulasi yang benar, bukan memberi contoh penyebutan dengan dialek yang terlanjur salah dan diterus-teruskan. Juga bukan menyebutkan istilah penggantinya; misalnya “Yang di atas” atau “Yang Kuasa”. Penyebutan dengan kata pengganti seperti ini mencerminkan keraguan menyebut Allah, seolah ada jarak di hati dengan Allah.

Kedua, nama-nama Allah yang merupakan sifat diri-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi. 

Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Al-A’raf: 180).

Nama-nama Allah ini terkenal dengan istilah al asmaul husna. Kenalkan anak-anak dengan asmaul husna sejak dini, melalui pengucapan yang diulang-ulang atau bahkan dilagukan. 

  1. Mengenalkan kekuasaan Allah

Maksudnya adalah meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, dan memelihara semua ciptaan-Nya. Allah juga yang memberi rizki, mendatangkan manfaat dan dan meniadakan mudharat, serta menentukan apapun yang Dia diciptakan.

Si kecil mungkin suka berkhayal dan mempercayai hal-hal mistis yang pernah ia dengar dari teman-temannya. Mungkin, ia berkhayal bahwa mimpi tertentu dapat menimbulkan datangnya bahaya, ada pohon atau tempat tertentu yang keramat. Juga, ia mungkin terpengaruh dengan cerita-cerita khayalan tentang tokoh fiktif sang peri yang dapat mengabulkan permintaan orang teraniaya. 

Ini adalah kesempatan untuk menjelaskan bahwa tidak ada yang berkuasa atas semua kejadian kecuali Allah. Yang menguasai nasib manusia atau yang menguasai pohon atau tempat tertentu adalah Allah. Agar tidak terpengaruh pikiran yang membahayakannya, jauhkan si kecil dari dongeng yang membawa hayalnya ke alam mistik. Misalnya dongeng tentang peri, kisah manusia sakti, atau cerita-cerita mitos yang. 

Saat si kecil sakit, yakinkan bahwa Allah berkuasa menyembuhkan. Ia dapat bernafas meskipun tidur dalam keadaan tidak sadar. Itu karena Allah menjalankan nafasnya. Ajaklah ia meraba dadanya untuk merasakan detak jantungnya. Jantung adalah pusat kehidupan. Dalam keadaan tidak sengaja dan tanpa usahanya, jantung itu tetap dan terus berdenyut. Itu semua oleh Allah, sebagai tanda bahwa Allah benar-benar berkuasa.

[Yazid Subakti]

Bolehkah Anak-Anak Bermain Boneka?

Bolehkah Anak-Anak Bermain Boneka?

Salah satu jenis mainan yang dekat di dunia anak adalah bermain boneka. Benda ini selalu ada di rumah yang dihuni anak-anak, terutama anak perempuan. 

Dibanding anak laki-laki, anak perempuan memang membutuhkan perhatian yang khas dari orang tuanya. Mendidik mereka dengan baik memiliki keutamaan tersendiri di dalam Islam. Nabi SAW bersabda,

“Barangsiapa yang memiliki tiga orang anak perempuan, kemudian ia bersabar atas mereka, memenuhi pangan dan sandangnya dari hasil pencariannya sendiri, maka anak-anaknya tersebut akan menjadi dinding penutup antara dirinya dan api neraka” (HR. Ahmad dan Bukhari).

Jadi, ada cara pengasuhan yang agak berbeda bagi anak perempuan mengenai hak-haknya, cara berinteraksi, dan pemenuhan kebutuhannya. Salah satu kekhususan itu adalah tentang diperbolehkannya bermain boneka. 

Jadi, bolehkah bermain boneka? 

‘Aisyah ra menceritakan bagaimana Rasulullah SAW memperlakukannya.

“Dahulu aku sering bermain dengan boneka anak perempuan di sisi Nabi SAW. Dahulu aku juga memiliki teman-teman yang biasa bermain denganku. Ketika Rasulullah SAW masuk ke rumah, teman-temanku pun berlari sembunyi. Beliau pun meminta mereka untuk keluar agar bermain lagi, maka mereka pun melanjutkan bermain bersamaku” (HR. Bukhari dan Muslim).

Abu Dawud juga meriwayatkan sebuah hadits dari Ibunda kaum mukminin ‘Aisyah ra,

“Suatu hari, Rasulullah pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar (perawi hadits ragu, pen.) sementara di kamar (‘Aisyah) ada kain penutup. Ketika angin bertiup, tersingkaplah boneka-boneka mainan ‘Aisyah, lalu Rasulullah SAW bertanya, ‘Apa ini wahai ‘Aisyah?’ Dia (‘Aisyah) pun menjawab, ‘Boneka-boneka (mainan) milikku.’ Beliau melihat di antara boneka mainan itu ada boneka kuda yang punya dua helai sayap. Kemudian beliau pun bertanya kepada ‘Aisyah, ‘Yang aku lihat di tengah-tengah itu apanya?’ ‘Aisyah menjawab, ‘Kuda.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apa itu yang ada pada bagian atasnya?’ ‘Aisyah menjawab, ‘Kedua sayapnya.’ Beliau menimpali, ‘Kuda punya dua sayap?’ ‘Beliau menjawab, “’Tidakkah Engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?’ Beliau pun tertawa hingga aku melihat gigi beliau” (HR. Abu Dawud).

Menurut Al-Khathabi, hadits ini menunjukkan bahwa boneka mainan anak-anak tidak termasuk mainan bergambar (makhluk bernyawa) yang terdapat larangannya dalam hadits. Diberikan keringanan hukum (rukhshoh) bagi ‘Aisyah bermain boneka karena pada saat itu belum baligh. 

Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i mengatakan dengan mengutip pendapat Al-Qadhi, bahwa hadis ini merupakan dalil bolehnya bermain dengan boneka. Ini merupakan pengkhususan dari dalil tentang gambar (makhluk bernyawa) yang dilarang. Beliau berdalil dengan hadis ini mengenai perlunya latihan bagi anak perempuan ketika masih kecil sebagai persiapan kelak mengurusi diri mereka sendiri, rumah tangga, dan anak-anak mereka.

Waktu Tidur Anak

Manfaat tidur bagi anak adalah sebagai sarana pengistirahatan tubuh. Selama seharian anak beraktivitas sehingga memerlukan jam-jam berhenti dari aktivitas ini. Tidur juga mengembalikan energi. Pada saat tidur, penyerapan kalori berjalan optimal untuk menyimpan kembali cadangan.

Waktu yang diperlukan untuk tidur. 

  • Bayi baru lahir sampai 4 minggu

Durasi tidur bayi yang baru lahir umumnya pendek tetapi sering. Bayi di usia ini tidur sekitar 15 sampai 18 jam dalam sehari, dengan pola tidur yang belum teratur. 

  • Usia 1-4 Bulan

Pola tidur bayi mulai terbentuk dengan durasi terpanjang mencapai 4 sampai 6 jam. Dalam sehari, jumlah kebutuhan tidurnya mencapai 14 sampai 15 jam. 

  • Usia 4-12 Bulan

Bayi memiliki 3 atau 2 waktu tidur siang, dan satu tidur malam. Pada rentang usia ini mereka secara fisik telah mampu tidur hanya malam hari saja. Selam sehari, ia perlu tidur setidaknya 13 jam.

  • Usia 4-12 Bulan

Bayi sudah mulai memiliki pola tidur teratur. Ia memerlukan waktu sekurang-kurangnya 12 jam untuk tidur selama sehari, meskipun kebanyakan bayi di usia ini tidur antara 13 sampai 15 jam. 

  • Usia 1-3 Tahun

Si kecil mulai mengurangi jadwal tidur siangnya hingga menjadi satu kali tidur siang dalam sehari dan berlangsung sekitar 1 sampai 3 jam. Total waktu tidur yang butuhkan adalah minimal 12 jam sehari. Ia mulai mengatur jadwal tidur seperti orang dewasa.

  • Usia 3-6 Tahun

Anak sudah tidur dengan pola sama dengan orang dewasa. Ia mulai tidur sekitar jam 7 malam dan bangun sekitar jam 6 pagi.Total waktu yang dibutuhkan untuk tidur adalah sekitar 10 sampai 12 jam.

  • Usia 7-12 Tahun

Anak telah mengalami kehidupan sosial, sekolah, dan terlibat aktivitas keluarga. Ia sama persis pola tidurnya dengan orang dewasa. Ia akan mengantuk dan pergi tidur sekitar pukul 9 malam dan mampu bangun jam 5 pagi. Oleh sebab itu, Rasulullah menganjurkan pelajaran shalat bagi anak usia 7 tahun karena memang ia sudah mampu dibangunkan untuk shalat subuh. Total kebutuhan tidurnya antara 9 sampai 11 jam seharian.
 

[Yazid Subakti]

Memilih Mainan dan Permainan yang Mencerdaskan

Memilih Mainan dan Permainan yang Mencerdaskan

Parenting – Ayah dan Bunda, pilih jenis mainan yang sesuai dengan kebutuhan si kecil. Sebisa mungkin memilih permainan yang mencerdaskan.

  1. Memilih Mainan

Mainan anak perempuan kadang berbeda dengan mainan anak laki-laki, sehingga anda tidak perlu membeli boneka Barbie untuk anak lagi-laki. Sesuaikan pula dengan usia si kecil yang akan memainkannya, sehingga anda belum perlu membeli mobil-mobilan remote control untuk anak usia dua bulan. Hindari membeli mainan yang tidak jelas manfaatnya

Sebelumnya, lebih dulu baca label dan petunjuk penggunaan. Banyak mainan yang tidak dilengkapi dengan label. Dari sinilah anda akan mendapatkan cara menggunakan, cara merawat, dan hal-hal lain berkaitan dengan mainan. 

Selain itu, jangan terpengaruh harga. Harga mahal belum tentu aman, dan harga murah belum tentu tidak aman. Pilih mainan yang harganya menurut anda sesuai dengan kualitas dan manfaatnya.

Periksa fisik mainan. Penting untuk melihat dan memeriksa kondisi permukaan mainan, apakah aman atau tidak bagi anak, karena serpihan mainan berbahan kayu yang tidak mulus misalnya bisa masuk ke tangan anak-anak atau bahkan ikut termakan. Pilih mainan yang tidak mudah rusak atau copot, hal ini juga untuk keamanan balita Anda agar tidak melukainya saat bermain.

  1. Mainan yang Mencerdaskan Anak 

  • Mainan yang mengenalkan konsep dasar

Dari mainan, anak-anak belajar tentang bentuk, warna, tekstur, dan ukuran mainan. Ini penting bagi anak untuk bisa mengenal dan mengembangkan kemampuan dasar seperti bentuk, warna, tekstur, dan besaran. 

  • Mainan untuk dapat dilihat

Untuk bayi, perkenalkan mainan yang dapat ia lihat terlebih dulu, untuk melatih kemampuan visual bayi. Misalnya, belikan mainan yang dapat tergantung di atas boks tempat tidur si kecil. Sejajarkan arah mainan tersebut dengan mata si kecil. Dengan demikian, ia dapat memperhatikannya dengan baik.

  • Mainan untuk mengenalkan bunyi

selain visual, perlu kenalkan bayi dengan sumber indera auditorial, yaitu bunyi-bunyian yang tertangkap oleh telinga. Perkenalkan mainan yang mengeluarkan u suara berbagai binatang, suara kendaraan, suara air, dan lainnya yang dapat mengundang perhatian anak (di bawah tiga tahun). Dengan mendengarkan berbagai bunyi, pendengaran si kecil terstimulasi untuk mengingat berbagai jenis suara itu.

  • Tunda dengan Mainan yang dapat Dibongkar

Sebelum usianya cukup (lebih dari 7 tahun), jangan belikan anak Anda mainan yang bagian-bagian kecilnya dapat terbongkar-bongkar, karena jenis mainan ini sangat berisiko untuk tertelan atau sebagian hasil bongkaran yang tajam akan melukai kakinya saat terinjak.

  • Beli mainan secukupnya 

Mainan yang terlalu banyak untuk sekali waktu tidak mendidik anak. Pemilihan mainan dan materi bermain sangat menyesuaikan dengan manfaatnya untuk pertumbuhan otak si kecil. Berikan mainan yang dapat memberikan kenikmatan tanpa si kecil mendapat mainan edukatif yang terlalu banyak.

  1. Mengambil manfaat dari permainan

Anak-anak bermain bukan hanya untuk kesenangan, tetapi merupakan bagian dari aktivitas belajarnya. Dengan bermain, ia mempelajari aturan tertentu, mengendalikan emosi dan melakukan eksplorasi sebanyak-banyaknya. Dengan bermain pola, anak-anak melihat dunianya yang kelak juga akan terjadi pada kehidupannya. Ia melepaskan energi yang berlebihan, melatih dan menyempurnakan nalar berpikir, dan tentu saja sebagai hiburan yang menyenangkan.

Sejak mula pertama mampu bermain, anak-anak mendapat manfaat dari permainan itu untuk perkembangan di masa yang akan datang. 

  • Menyempurnakan perkembangan fisik 

Anak-anak bermain aktif dengan melompat, berlari, berguling, memanjat, mencoret-coret, berteriak, atau memukul-mukul. Ini semua penting baginya sebagai latihan mengembangkan motorik seluruh bagian tubuhnya yang mengiringi pertumbuhan otot dan tulangnya. 

  • Menyeimbangkan energi tubuh 

Anak-anak memiliki energi yang melimpah. Dalam keadaan energinya terus terpendam, ia bisa menjadi anak yang gelisah atau menampakkan perilaku berlebihan yan justru dapat membahayakan dirinya. Bermain dapat menjadi cara penyaluran tenaga yang berlebihan ini agar ia lebih teratur dan tenang. 

  • Bagian dari rangsangan komunikasi

Saat bermain, anak-anak berbicara dan mengirimkan isyarat, berteriak, serta menampakkan ekspresi kepada teman mainnya. Ini adalah latihan komunikasi yang nyata, mengungkapkan perasaan dan pikiran. Ia berdebat, marah, bahagia, berbangga, kecewa, dan semua yang ia rasakan. 

  • Rangsangan kreativitas 

Dengan bermain, anak-anak mengembangkan kemampuannya berkreasi. Ia mengamati cara temannya bermain dan berpikir menciptakan sesuatu yang berbeda, memperlakukan mainannya kemudian mencoba susunan atau bentuk yang berbeda. 

  • Mengukur kemampuan 

Selama bermain, anak sebenarnya sedang mengukur kemampuannya dalam mengelola emosi, kecepatan bertindak, kecermatan, dan kegigihan. Ia akan tahu sendiri dan membandingkannya dengan teman-teman yang lebih baik atau lebih buruk darinya.

  • Belajar bersosialisasi

Hubungan menghasilkan kerjasama, sekaligus konfliknya. Permainan adalah pelajaran tentang cara membentuk hubungan sosial dan memecahkan masalah yang muncul dalam hubungan tersebut. Anak memiliki pengalaman membagi makanan, berdamai dari pertengkaran, atau bersepakat dalam peran tertentu. 

  • Mempelajari moral

Dalam permainan selalu ada aturan tak tertulis, atau nilai yang ia pegang bersama. Dengan bermain, anak membiasakan diri mengenal standar moral. Ia belajar mengalami kekalahan dan kemenangan, merasakan akibat dari kecurangan dan kejujuran, dan terlibat dalam membuat aturan kelompok.

  • Melihat kepribadian

Dalam permainan terkandung unsur kompetisi, kerjasama, kejelian, kreativitas, ketahanan, dan keberanian. Dengan bermain, anak melihat kepribadian dirinya sebagai seorang yang pemberani, temperamen, penakut, kreatif, atau pengalah. Ia juga belajar mengamati kepribadian teman-temannya yang ternyata berbeda dengan dirinya. 

[Yazid Subakti]

Bermain dengan Anak

Bermain dengan Anak

Parenting – Bermain dengan Anak, ketika ayah dan bunda melihat anak-anak bermain, biarkan mereka dalam keasyikan dunianya.

  1. Rasulullah tanpa ragu memasuki dunia anak-anak

Teladan kita Rasulullah Muhammad SAW meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anak. Beliau bercanda tawa dan bermain dengan mereka, memperlihatkan ekspresi bergembira. Bahkan di depan banyak sahabat, beliau SAW tidak malu-malu untuk bertingkah kekanakan bersama anak-anak kecil.

Dari Ya’la bin Murrah ia berkata, “Kami keluar bersama Nabi lalu kami diundang untuk makan. Tiba-tiba Husain sedang bermain di jalan, maka Rasulullah segera (menghampirinya) di hadapan banyak orang. Beliau membentangkan kedua tangannya lalu anak itu lari ke sana kemari dan Nabi mencandainya agar tertawa sampai beliau (berhasil) memegangnya lalu beliau letakkan salah satu tangannya di bawah dagu anak tersebut dan yang lain di tengah-tengah kepalanya kemudian Rasulullah menciumnya,” (HR. Bukhari).

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Jabir ra., ia berkata,

“Saya masuk rumah Rasulullah saw., beliau sedang merangkak, dan di atas punggungnya Hasan dan Husain! ‘Beliau berkata, “Sebaik-baik unta adalah unta kamu berdua, dan sebaik-baik beban adalah kamu berdua”.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Jabir ra., ia berkata,

Saya masuk ke rumah Rasulullah saw. Maka, beliau mengajak kami makan, tiba-tiba beliau melihat Husain ra. sedang bermain-main di jalan bersama anak-anak lain. Dengan cepat Rasulullah saw. menghampiri mereka, kemudian mengembangkan tangannya dan beliau lari ke sana kemari. Maka Rasulullah saw. membuat Husain tertawa, hingga ia mengambilnya, dan beliau meletakkan salah satu tangannya di dagunya dan tangan lain antara kepala dan dua telinganya. Kemudian beliau memeluk dan menciumi­nya, lalu berkata, Husain adalah daripadaku dan aku adalah dari­padanya…” Allah mencintai orang yang mencintainya (Husain). Hasan dan Husain dua cucu dari sekian cucu-cucu”.

  1. Menyapa dan menghibur

Rasulullah memanggil anak-anak dengan panggilan akrab khas anak kecil. 

Anas bin Malik ra menceritakan bahwa beliau juga senang bercanda dengan Zainab. Rasulullah sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu Salamah Ra. Kepada Zainab beliau memanggilnya dengan sapaan “Ya Zuwainab, Ya Zuwainab” berulang kali. Zuwainab adalah panggilan sayang atau akrab untuk anak-anak, yang artinya Zainab kecil.

Rasulullah juga suka menghibur anak-anak yang murung. 

Dalam sebuah hadits, 

“Sesungguhnya Nabi SAW dahulu menemui Ummu Sulaim dan beliau mempunyai seorang putra dari Abu Thalhah yang diberi panggilan Abu ‘Umair. Rasulullah SAW sering bercanda dengannya. Pada suatu hari Rasulullah SAW datang mengunjunginya dan mendapati anak itu sedang sedih. Mereka berkata: Wahai Rasulullah , burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati.” Rasulullah lantas berkata: “Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

  1. Membiarkan anak dalam keasyikan 

Kebiasaan lain Rasulullah SAW ketika melihat anak-anak adalah membiarkan mereka dalam keasyikan dunianya. Kehadiran beliau tidak membuat anak terganggu dan segan dengan aktivitas bermainnya.

Dari Anas bin Malik ra. bahwa ia ber­kata,

Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Maka, pada suatu hari beliau mengutusku untuk suatu ke­butuhan. Kemudian aku berkata, “Demi Allah saya tidak akan pergi, dan dalam diriku aku berniat untuk pergi setelah Rasulullah saw. memerintahkan aku pergi. Maka, aku keluar hingga lewat kepada anak-anak kecil yang sedang bermain-main di pasar. Tiba-tiba Rasulullah saw. berada di belakangku, aku melihat kepadanya dan beliau tertawa.” Kemudian beliau berkata, “Ya Anas, apakah kamu sudah pergi sebagaimana yang saya perintah­kah tadi?” Anas berkata, “Ya, saya akan pergi wahai Rasulullah!” Anas berkata, “Demi Allah saya telah mengambil Rasulullah saw. selama sembilan tahun, tidak pernah saya mendapatkan beliau bertanya tentang perbuatan yang saya lakukan, ‘Kenapa kamu mengerjakan ini dan itu?” Atau tentang sesuatu yang saya tinggalkan tidak mengerjakannya, “Kenapa kamu tidak mengerjakan ini dan itu?”.(HR Muslim)

Suatu hari Ummul Mukminin A’isyah ra berkata, “Perhatikanlah keinginan anak-anak putri yang masih kecil.” (Muttafaqun ‘alaihi).

[Yazid Subakti]

Mengenalkan Emosi

Mengenalkan Emosi

Parenting Mengenalkan emosi lebih dini kepada si kecil. Pengenalan emosi dapat dengan cara sering menyebutkan berbagai jenis emosi kepada anak.

  1. Melatih Anak Mengenali Emosi

Kecerdasan emosi dipopulerkan oleh Daniel Goleman sejak tahun 1995. Dalam pemahaman ini, keberhasilan anak ternyata tidak cukup dengan keterampilan teknis dan pengetahuan ilmiah saja, tetapi harus dengan kemampuan pengendalian diri dan berdampingan dengan orang lain.

Kecerdasan emosi mencakup dua hal, yaitu mengenali dan mengelola emosi.

  • Mengenalkan emosi

Pengenalan emosi dapat dilakukan dengan sering menyebutkan berbagai jenis emosi kepada anak. Saat ia sedih, anda dapat mengatakan, “Adik kok sedih, apa sedang ditinggal ayah pergi?”. saat ia ceria ceria, katakana “Adik hari ini ceria sekali”, dan semacamnya. Anda juga dapat menunjukkan berbagai gambar ekspresi dan mengatakanya “Sedih”, “marah”, “bengong” dan lainnya sesuai ekspresi di gambar. 

  • Belajar mengelola emosi 

Emosi itu boleh diekspresikan, tetapi harus diolah dengan baik agar tetap bermanfaat. Latihan pengelolaan emosi pada anak untuk menghindari ledakan emosi yang berlebihan atau terlalu dalam.

Misalnya, saat mainan si kecil berantakan, tunjukkan emosi cemberut dengan memintanya merapikan mainan itu. Ketika sudah merapikan mainan, tunjukkan raut muka senyum dan katakana anda senang dengan pekerjaannya. Saat si kecil tiba-tiba tidak berani ke kamar mandi sendiri, berikan kata motivasi untuk menyemangatinya. Saat si kecil ingin marah dan agresif kepada temannya, redakan dengan mengalihkan perhatian, kemudian setelah mereda baru katakan untuk saling menyayangi sesama teman. 

  1. Melatih Kecerdasan Emosi pada Anak

Tunjukkan bahwa anda adalah figure yang layak menjadi contoh dalam hal perilaku dan ekspresi.  Setiap Kali anda melihat si kecil berbuat baik, sampaikan ucapan terima kasih kepadanya dan berikan apresiasi. Biasakan mengungkapkan perasaan anda. Misalnya dengan mengatakan “ibu sangat senang kalau Dede arajin mandi”.

Gunakan kalimat positif saat memerintah maupun melarang si kecil melakukan sesuatu dan hindari kata negatif yang memojokkan. Saat anda melakukan kesalahan jangan ragu meminta maaf, beri contoh pada anak dan lakukan dengan sungguh-sungguh.

Oleh karena itu jadilah pendengar setia. Berikan kesempatan pada asi kecil untuk menceritakan aktivitasnya sesuai kemampuannya. Anak akan terbiasa berbicara dan memperlihatkan emosinya, serta merasa mendapat perhatian yang tulus dari orang tua yang bersedia mendengar.

Ajarkan rasa empati. Saat melihat pengemis atau pengamen, ceritakan bahwa mereka orang yang nasibnya kurang beruntung, lalu berikan uang sewajarnya agar si kecil yang memberikan kepada pengemis atau pengamen itu.

Latihan kecerdasan emosi ini tidak mengenal waktu dan jadwal. Itu semua terjadi pada saat anda melakukan asuhan sehari-hari. 

[Yazid Subakti]

Melatih Motorik

Melatih Motorik

Parenting – Memperhatikan dengan seksama apakah kemampuan melatih motorik anak sesuai dengan usianya. Setiap tahapan usia diiringi dengan kemampuan motorik tertentu. Pada saat usia telah berjalan jauh sementara beberapa kemampuan fisik belum dapat ia lakukan, anda baru merasa perlu melatihnya.

  1. Seputar Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar tubuh seperti kemampuan duduk, menendang, berlari, naik turun tangga dan sebagainya. Sedangkan perkembangan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus yang banyak dipengaruhi oleh kesempatan belajar dan berlatih, seperti memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menulis atau lainnya. 

Kemampuan motorik anak secara umum bergantung pada kematangan otot dan sarafnya. Perkembangan motorik ini dipengaruhi oleh genetik, kondisi pralahir, gizi, dan kecerdasan potensialnya. Namun demikian, di luar itu ia juga dapat dirangsang dengan stimulasi. 

  1. Tentang Stimulasi Motorik 

Sebenarnya, perkembangan motorik tidak perlu dipaksakan pada anak. Perkembangan ini sangat tergantung pada kekuatan otot dan kematangan saraf. Jika otot belum kuat dan saraf belum matang menerima rangsangan, maka bayi bisa cedera kalau dipaksa berlatih. Misalnya, otot kaki belum siap belajar menendang, akan mudah cedera bila berlatih menendang dengan memaksanya. 

Lalu, bagaimana seharusnya?

Sikap orang tua terhadap motorik si kecil seharusnya adalah:

  • Amatilah si kecil, apakah ia tidak melakukan aktivitas tertentu itu akibat ketidakmampuan melakukannya atau karena malas (kurang bersemangat secara psikologi). Anda hanya perlu memberi semangat jika si kecil tidak melakukan hal tertentu karena kurang semangat. 
  • Amatilah asupan gizi selama ini. Boleh jadi anak kurang energi sehingga ia enggan atau malas melakukan gerakan tertentu yang anda tunggu-tunggu. Jika masalahnya adalah gizi, pastikan asupannya terpenuhi.
  • Apakah si kecil sakit?. Sebelum memberlakukan stimulasi dan latihan, cobalah sekali lagi amati apakah bayi anda benar-benar sehat, tidak mengidap penyakit tertentu. Anak yang terserang flek, terganggu pencernaannya, atau fungsi organ tertentu tidak normal akan kesulitan melakukan aktivitas sesuai usianya.
  • Membandingkan dengan anak lain tidaklah bijak. Kadang orang tua melatih anaknya hanya karena ingin si kecil sejajar atau lebih maju dari anak tetangga yang seusia dengannya. Setiap anak memiliki keunikan yang tidak dapat anda paksakan sesuai selera dan ambisi anda. 

Apakah ia mendapat kasih sayang? Sebagian anak tidak melakukan banyak aktivitas karena merasa kurang mendapat penghargaan. Ia mundur ke belakang dan merasa bahwa diam atau tiduran di kamar lebih nyaman daripada bertingkah yang tidak mendapat pujian atau hadiah apapun. 

  1. Memberikan stimulasi dengan fleksibel 

melatih motorikPenting bagi orang tua untuk memahami makna fleksibilitas. Anda bukan seorang komandan yang menghadapi sebarisan pasukan untuk berlatih tempur. Anda sedang menghadapi bayi, anak anda sendiri dari sebuah proses cinta yang harus anda cintai sepenuhnya.

Kegiatan sehari-hari dalam mengurus dan merawat asi kecil dapat menjadi sarana untuk memberikan beraneka jenis stimulasi.

  • Stimulasi untuk bayi 0 – 3 bulan

Bayi dalam usia masih sangat terbatas kemampuannya. Berikan stimulasi dengan memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok atau berbunyi, menggulingkan bayi ke kanan dan kiri, atau belajar memegang benda.

  • Umur 3 – 6 bulan 

Bayi di usia ini bisa bermain ‘cilukba’ untuk memunculkan ekspresinya. Berikan rangsangan dengan melihat wajahnya di cermin bersama anda, coba tengkurapkan perlahan dan posisikan duduk sambil memeganginya . 

  • Umur 6 – 9 bulan 

Ranfsang si kecil dengan memanggil namanya dan memperkenalkan anda sebagai ibunya. Rangsangan motoriknya dengan mengajak berjabat tangan, bernyanyi sambil tepuk tangan, membacakan dongeng atau cerita menarik, merangsang duduk secara mandiri, dan melatihnya berdiri berpegangan tangan anda atau benda tegak di dekatnya.

  • Umur 9 – 12 bulan 

Latih bibirnya untuk mengucapkan kata “mama”, “Papa” atau menyebutkan kata lain yang bersuku kata sederhana secara berulang-ulang. Ajak dia memasukkan mainan ke dalam wadah (misalnya memasukkan bola-bola kecil ke wadahnya, melempar bola basket mainan ke ring, dan melatihnya berdiri tegak tanpa pegangan. Jika kakinya tampak aktif anda bisa mencoba kan melangkah sambil anda pegangi untuk merangsang keinginannya berjalan. 

  • Umur 12 – 18 

Berikan ia pensil warna dan selembar kertas, lalu contohkan cara menggambar benda sederhana (misalnya bunga, kelinci, atau lainnya). Ajak permainan menyusun puzzle sederhana, mengelompokkan kubus, atau bermain peran dengan boneka tangan. Ini saatnya si kecil berlatih berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, menendang bola, dan melepas celana. 

  • Umur 18 – 24 

Pada usia ini, si kecil sudah saatnya mengenalkan nama-nama bagian tubuhnya. Tunjuklah hidungnya dan sebutkan ”hidung”, tunjuk mulut dan sebutkan ”mulut”, dan bagian organ tubuh lain. Kegiatan ini sebaiknya lakukan saat santai dan si kecil ceria. Kenalkan nama makananan kesukaannya, nama hewan dan benda-benda sekitar.

  • Umur 2 – 3 tahun 

Kenalkan jenis-jenis warna dengan cara menyebutkan warna pakaian yang dia pakai. Setiap kali membuka pakaian untuk ganti, ajaklah ia meletakkan di bak pakaian kotor sesuai warnanya. Kenalkan sifat benda : ”dingin” saat memberikan minuman dingin, ”Panas” sambil menunjuk pada api, ”tinggi” sambil menunjuk layang-layang, dan sebagainya. Biarkan ia memakai bajunya sendiri. Saat mandi, mintalah ia menyikat gigi sendiri, mengoles sabun dan sampo serta mengguyur badannya sendiri, serta buang air besar sendiri di toilet (toilet training).

  • umur 3 tahun dan setelahnya

Usia 3 tahun seharusnya anak-anak sudah mampu ke toilet sendiri (kecuali pembersihannya masih ada bantuan), mengenal perintah sederhana, belajar berbagi dengan teman, dan makan sendiri. 

Kenalkan dunia sekolah dengan mengajaknya belajar menulis lambang angka atau huruf. Kenalkan hitungan ”satu”, ”Dua”, ”Tiga” sampai sepuluh tanpa memintanya menghafal.

[Yazid Subakti]

Perkembangan Kecerdasan

Perkembangan Kecerdasan

Parenting – Perkembangan kecerdasan si kecil dimulai sejak tahap pembentukan otak ketika sedang berada dalam kandungan.

  1. Tahap pembentukan otak 

Sejak janin berusia enam belas hari dalam kandungan, bakal otak telah terbentuk berupa lembaran yang sangat lembut dan transparan. Lembaran ini merupakan sistem saraf pusat pertama kali dan berada di bagian atas bakal kepala. 

Di akhir bulan keempat, lembaran ini semakin nyata membentuk otak dan memasuki bulan ketujuh, perkembangan yang terjadi semakin dahsyat. Seiring dengan asupan gizi ibu yang cukup, otak ini semakin berkembang menuju kesempurnaan hingga bayi siap dilahirkan.

Berat otak baru lahir sekitar 350 sampai 400 gram (sekitar seperempat berat otak orang dewasa) dengan empat bagian utama. Pertama adalah batang otak (Brainstem), otak kecil (cerebellum), otak besar (cerebrum) dan dienchephalon. Dalam enam bulan berikutnya berat otak ini sudah menjadi hampir dua kali lipat berat semula.

Pada tahun-tahun pertama kehidupan, yang bekerja adalah sistem sensorik. Ia bekerja melalui kontak langsung oleh bayi dengan lingkungannya, dengan interaksi yang dilakukan terus menerus bersama orang terdekat (ibunya) dan benda-benda di sekelilingnya. 

Pada usia satu hingga dua tahun, otak motor sensorik sudah semakin berkembang sehingga anak-anak siap untuk melangkah pada tahap perkembangan selanjutnya. Pada masa ini terjadi peningkatan yang luar biasa dalam jalinan-jalinan neuron. Ketika sistem emosional kognitif sudah mulai bekerja, bayi dapat merubah perilakunya dalam waktu yang sangat singkat. Selain perubahan perilaku (sebagai bentuk perubahan emosional bayi), ia juga sedang mengembangkan intelektualitas yang lebih tinggi melalui dunia belajarnya yang kita sebut bermain. Ia mempelajari dunia dengan menirukan, mendengar cerita, dan bermain imajinatif. Ini memberikan pelajaran metaforis simbolis yang akan menjadi dasar dari perkembangan kecerdasan yang lebih tinggi ketika dewasa nanti. 

  1. Otak Kiri dan Otak Kanan

Setiap anak normal memiliki belahan otak kanan dan kiri yang memiliki perbedaan fungsi. Fungsi yang dikendalikan oleh kedua belahan otak itu dapat saling bekerja sama sehingga manusia melakukan aktivitas dengan harmonis sesuatu tujuan gerakannya. 

Tugas otak kiri adalah mengendalikan pikiran sadar, melakukan analisa dan mencerna logika. Ia bertugas menanggapi informasi secara rasional, dan bertanggung jawab terhadap kemampuan bahasa. 

Otak kanan bertugas mengendalikan pikiran bawah sadar, berperan dalam urusan perasaan (emosi) dan bertanggung jawab terhadap sifat kreatif dan intuitif manusia.

Laju perkembangan otak bayi tidak selalu nampak dari pertambahan volume otaknya. Beberapa ukuran dan bentuk kepala dianggap memiliki hubungan terhadap besarnya volume otak di dalamnya. Namun demikian, anda tidak harus khawatir bila bayi anda memiliki ukuran kepala lebih kecil dari teman-temannya. Banyak faktor yang menentukan kecerdasan bayi anda. Menurut para peneliti dari University of California, kecepatan penghantaran pesan oleh sel-sel saraf seseorang merupakan salah satu faktor penting yang menunjukkan tingkat kecerdasannya. 

Bayi yang cerdas nampak ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. Kecerdasan ini merupakan kemampuan si kecil dalam menyikapi lingkungannya. 

  1. Tahap kemampuan interaksi 

  • Gerak refleks (usia 0-4 bulan)

Bayi pada usia ini hanya dapat melakukan gerak tanpa komando untuk menyikapi lingkungan sekitar. Semakin hari seiring dengan perkembangan dan kognitifnya, gerak refleks ini perlahan akan digantikan dengan gerak yang terkontrol, yaitu hasil komunikasi dengan otak. Gerakan ini semakin sempurna hingga bayi semakin tahu tujuan ia melakukan gerakan tersebut. Misalnya ia menendang-nendang untuk menyingkirkan selimut, sampai selimut benar-benar terbuka.

  • Memahami sebab akibat (usia 4-8 bulan)

Di usia ini, bayi mulai banyak mencoba hal-hal baru. Perkembangan otak bayi menyebabkan ia semakin tahu bagaimana merespon lingkungannya. Bayi akan tertawa bila anda mengajaknya bercanda dan menangis bila anda tiba-tiba meninggalkannya. Perasaan bayi mulai muncul dan ia telah berusaha mengungkapkannya. 

  • Eksplorasi lingkungan di (usia 8 – 12 bulan)

Pada usia ini mungkin si kecil sering tidak puas dengan perbuatannya sendiri yang menghasilkan respon tidak seperti yang diinginkan. Ia merasa jengkel ketika mainan yang dipukul-pukul itu tidak berbunyi seperti yang ia inginkan. Tetapi segera ia meraih botol talk, gelas plastik, atau apapun yang ada di sekelilingnya untuk dipukul-pukulkan. Ia ingin tahu mana di antara benda-benda tersebut yang berbunyi paling menarik. Mungkin ia akhirnya memilih salah satunya yang paling nyaring suaranya. Ia berusaha melihat kejadian menarik dengan memperlakukan benda-benda itu.

  • Identifikasi (usia 12 bulan atau lebih)

Ketika telah berusia satu tahun. bayi telah mencoba mengidentifikasi benda berdasarkan pengalamannya. Jika anda sodorkan berbagai boneka lama dan baru kepadanya, ia telah tahu mana boneka miliknya yang biasa ia mainkan. Ia akan memilih biskuit bayi yang menurut pengalamannya paling nikmat. Identifikasi melalui suara juga tak mampu ia lakukan. Ia dapat membedakan mana suara ibunya, suara ayahnya, atau suara neneknya meskipun berada di balik pintu.

Di ulang tahun pertama inilah si kecil mulai mencoba mengoptimalkan memorinya. ia telah berusaha untuk berkomunikasi dengan peristiwa atau seseorang yang dilihatnya. Misalnya berteriak ketika melihat kucing, menonton tayangan kartun atau merengek manja ketika ibunya datang.

  • Kemampuan bahasa (1,5 tahun)

Bayi mulai menyebut “papa” atau “mama” dan beberapa sebutan lain atau kata-kata tidak jelas untuk menyebut sesuatu pada usia satu setengah tahunan. Ia tahu apakah percakapan ibunya itu mengajaknya bicara atau berbicara untuk orang lain. Beberapa kosakata yang ia dengar mulai tersimpan dengan baik dalam memorinya untuk berusaha ia tirukan di lain waktu saat perlu. Ia sering mengamati mulut orang yang sedang berbicara dengan harapan akan mudah menirunya dan mencari maknanya. 

Anda seharusnya sering mengajaknya bercakap-cakap. Libatkan si kecil dalam banyak perbincangan. Selain mengumpulkan kosakata dan mengoptimalkan memori, cara ini juga berlatih logika. 

  • Rasa ingin tahu (mulai usia 2 tahun)

Pada usia ini ia memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap dunia sekelilingnya. Ia mulai gemar naik kursi, meja, membongkar laci, atau ulah lain yang lucu tapi kadang menyebalkan, membuat rumah berantakan atau bahkan membahayakan baginya. 

Sesungguhnya ia tidak bermaksud apa-apa dengan semua perilakunya itu, kecuali ingin tahu seperti apa nikmatnya berdiri di atas meja, atau apa saja isi laci sehingga ayah suka mengambil benda dari dalamnya. Sekali ia mengamati ayah membongkar TV dengan obeng, maka setiap kali ia menemukan obeng akan selalu mencari sekrup pada alat elektronik lain untuk membongkae dan terlihat bagian dalamnya.

[Yazid Subakti]

Agar Si Kecil Terbiasa Berolahraga

Agar Si Kecil Terbiasa Berolahraga

Parenting – Agar si kecil terbiasa berolahraga, sebisa mungkin Ayah dan Bunda mulai mengenalkannya sejak dini. Bisa mulai dengan gerakan-gerakan sederhana.

  1. Mengapa anak-anak harus berolahraga?

Olahraga berarti menggerakkan anggota badan dengan pola gerakan tertentu. Manfaat gerakan ini sangat banyak,

Gerakan ini meningkatkan kelancaran peredaran darah, keaktifan jantung, metabolism tubuh, dan kelenturan otot-otot serta persendian. Efek dari pergerakan ini adalah anak-anak memiliki organ tubuh yang bekerja efektif dan normal sehingga ia merasa lebih bugar. Anak-anak dengan kondisi yang bugar cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi tantangan fisik dan emosi.

Anak yang berolahraga secara teratur menjadi lebih sehat, gembira, juga percaya diri sehingga lebih mudah berteman dan menyesuaikan diri. Olahraga juga bisa mencegah obesitas pada anak dan membantu mengembangkan kemampuan motoriknya.

  • Olahraga di bawah sinar matahari pagi sangat baik untuk pertumbuhan tulang si kecil, karena matahari pagi membantu pembentukan vitamin D.
  • Dengan berolahraga secara rutin, anak-anak akan mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik. Ini berhubungan dengan kelancaran metabolisme tubuhnya.
  • Olahraga melatih kekuatan fisik secara keseluruhan. Otot dan tulang yang dilatih dengan pergerakan lebih kuat dan siap menghadapi tantangan fisik.
  • Dengan olahraga meningkatkan koordinasi otak dan seluruh anggota tubuh. Dengan kemampuan ini, anak lebih gesit dan cekatan dalam melakukan aktivitas.
  • Olah raga menambah kecerdasan karena suplai oksigen ke otak menjadi lancar. Oksigen ini berfungsi menjaga ketahan otak untuk terus aktif dan waspada.
  • Dengan berolahraga, ketahanan tubuh alami anak meningkat karena pergerakan anggota badan meningkatkan aktivitas hormone dan produksi banyak sekali enzim pertahanan.
  • Olahraga melatih mental sportif dan dan menumbuhkan semangat untuk berprestasi. Mental dan semangat ini sangat penting dalam pengembangan karakter diri kelak.
  1. Mengajak anak berolahraga

Mengajak Anak balita berolahraga tidak seperti mengajak remaja atau orang dewasa, karena dunia anak adalah dunia bermain. Anak-anak harus dikondisikan dengan jenis olahraga yang mudah ia lakukan.

Sediakan fasilitas olahraga yang disukai atau membuatnya tertarik, misalnya berbagai macam bola, sepatu olahraga, raket bulu tangkis, dan sebagainya. Kenalkan berbagai fasilitas olah raga. Ajak si kecil jalan-jalan di stadion, lapangan tenis, kolam renang, dan tempat lain. Luangkan waktu terjadwal, misalnya setiap hari minggu pagi anda sekeluarga rutin melakukannya bersama-sama.

Pilih jenis olahraga yang ada unsur bermainnya. Misalnya main kasti, lompat tali, senam musikal, atau jogging ringan. Olahraga yang dilakukan anak adalah olahraga yang dapat membantu meningkatkan fleksibilitas, dan membuat otot-otot sendi mudah bergerak.

Tidak mengapa jika memilih olahraga ketahanan diri, seperti berlari, melompat, bersepeda, hingga berenang. Jenis olahraga tersebut merupakan langkah awal pembentukan fondasi untuk mendapatkan kebugaran fisik dan ketahanan otot-otot anak. . Pilih olahraga yang disukai. Ajak si kecil menonton berbagai siaran olah raga di TV, maka ia akan berkecenderungan pada jenis oleh tertentu yang menarik baginya.

Awasi si kecil selama melakukan aktivitas, atau minimal anda membersamainya. Jenis olahraga tertentu dapat mengundang cedera. Anda harus membatasi agar si kecil tidak melakukan gerakan yang terlalu berlebihan. 

[Yazid Subakti]

Kebutuhan Nutrisi Balita yang Sesungguhnya

Kebutuhan Nutrisi Balita yang Sesungguhnya

Nutrisi Balita – Anak-anak balita mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat. Perkembangan dan pertumbuhan fisik, intelektual dan sosial terjadi pada usia ini. Jika kekurangan zat gizi, maka daya tahan tubuhnya akan lemah sehingga rentan terserang penyakit.

Akibatnya, anak-anak akan mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya. Jika asupan makan anak sesui dengan kebutuhannya, maka mereka akan memiliki status gizi yang baik. Salah satu pemantauan status gizi yang paling mudah adalah dengan pengukuran antropometri, yaitu dengan mengukur berat badan dan tinggi badan.

Nafsu makan di usia anak-anak juga akan naik turun. Peran orang tua sangat besar terutama dalam menyediakan makanan yang disukai si kecil dan memotifasinya. Lingkungan yang nyaman, makanan yang lezat dapat membantu meningkatkan nafsu makannya. aktivitas fisik anak akan mulai meningkat, mereka tidak akan berhenti berlarian, bermain bongkar pasang atau sekedar mengejar seekor kucing.

Aktifitas fisik yang berlebihan dan kurangnya istirahat pun dapat menyebabkan kurangnya asupan makan. Kebiasaan lainnya adalah, memilih – milih makanan, menolak makanan tertentu atau hanya mau makan dengan makanan tertentu saja. Kebiasaan ini juga biasa terjadi diantara usia 1 – 5 tahun. Penyakit akibat virus, bakteri atau sakit gigi juga dapat menurunkan asupan si kecil.

Agar anak memiliki status gizi yang baik, asupan zat gizi dalam satu hari harus cukup. 

Asupan zat gizi harus diterima si kecil sesuai dengan kebutuhannya. Jika tidak, ia akan mengalami gizi kurang. Sedangkan jika bahan makanan yang melebihi kebutuhan tubuhnya maka ia akan mengalami obesitas. Kurang gizi maupun obesitas akan menyebabkan gangguan kesehatan. ia menjadi sangat rentan terserang penyakit infeksi, bahkan dampak lebih jauh adalah kematian.

Pantaulah status gizi si kecil dengan rajin menimbang dan mengukur berat serta tinggi badannya. Waspadalah jika si kecil memiliki berat badan yang kurang dari seharusnya. Segera cari penyebab dan solusinya. Berkonsultasilah kepada tim medis.

Selain berat badan kurang, banyak pula anak- anak yang memiliki berat badan berlebih, bahkan mengalami obesitas. Anak- anak yang mengalami kelebihan berat badan lambat laun akan mengalami obesitas. Jika si kecil dari usia dini mengalami obesitas maka setelah dewasa ia akan kesulitan menurunkan berat badannya. Jika demikian, dikhawatirkan penyakit degeneratif akan mengancam jiwanya.

Orang tua yang tidak paham sering berbangga hati jika memiliki anak yang gemuk, overweight atau obesitas. Padahal seharusnya kita ikut berperan dalam menghambat laju kenaikan berat badannya. Ingat, sehat tidak identik dengan gemuk, tetapi berat badan yang ideal.

Obesitas disebabkan pola makan yang tidak seimbang serta pola hidup yang tidak sehat. Anak yang obesitas selalu mengkonsumsi makanan tinggi lemak, dan tinggi kalori serta serat yang sedikit bahkan mungkin tidak ada. Mereka juga jarang bahkan tidak pernah olahraga.

Televisi menjadi salah satu penyebab obesitas pada anak-anak. Televisi yang menayangkan berbagai iklan makanan menggiurkan membuat anak-anak tergoda untuk mencicipinya. Sayangnya tidak semua makanan dalam iklan termasuk makanan yang menyehatkan. Tingginya jam menonton TV, membuat mereka semakin asyik ngemil. Permainan yang tidak mengeluarkan banyak energi, seperti bermain games di komputer dan PS juga sebagai salah satu penyebab obesitas.

[Yazid Subakti]

Gizi yang Sehat

Gizi yang Sehat

Parenting – Pemenuhan gizi yang sehat sangat penting untuk kehidupan yang sehat dan cerdas. Dari gizi pula si kecil tumbuh dan berkembang secara optimal. Anak-anak mendapatkan kecukupan gizinya ini melalui makanan. Oleh karenanya, kita akan memberi perhatian lebih pada makanan karena dari sinilah si kecil mendapatkan zat-zat terpenting untuk kehidupannya.

  1. Bergizi

Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung berba­gai macam zat gizi yang tubuh perlukan . Sebenarnya, zat gizi yang anak-anak dan orang dewasa perlukan secara mendasar sama. Anak-anak kita memerlukan zat gizi yang bisa terbagi ke dalam 5 (lima) bagian, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vi­tamin dan mineral. Secara garis besar, kelima kelompok zat gizi tersebut dapat digolongkan dalam 3 (tiga) fungsi, yaitu :

  • Sebagai sumber energi. Zat ini berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Energi berfungsi untuk semua aktifitas organ tubuh.
  • Sebagai sumber pembangun. Zat ini berasal dari protein, mineral dan air. Zat pembangun perlu untuk seluruh pertumbuhan dan perkembangan tubuh, serta untuk meng­ganti sel-sel yang rusak.
  • Sebagai sumber pengatur/pelindung. Zat ini berasal dari protein, vitamin, mineral dan air. Zat pengatur/pelindung di­perlukan untuk mengatur semua pekerjaan tubuh dan melindungi tubuh dari penyakit.
  1. Beraneka ragam

Makanan dikatakan bergizi jika mengandung berba­gai macam zat gizi yang diperlukan tubuh, bukan hanya satu atau dua zat gizi saja. Zat gizi yang diper­lukan oleh anak- anak maupun orang dewasa secara mendasar sama. Alasan makanan harus beraneka ragam adalah:

Tidak ada satu bahan makanan pun yang memiliki ragam dan kualitas zat gizi yang lengkap. Ma­sing-masing bahan makanan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Manusia melakukan banyak sekali aktivitas dan bera­gam, mulai dari aktivitas fisik (bergerak), pertahanan, sampai otak (berpikir). Masing-masing aktivitas ini memiliki kebutuhan nutrisi tersendiri.

Dengan rumitnya aktivitas manusia, banyak organ yang harus anda jaga untuk selalu prima dan berfungsi normal.

  1. Berimbang

Makanan yang mengandung gizi seimbang adalah makanan yang mengandung zat gizi sesuai dengan yang tubuh butuhkan, tidak lebih dan tidak kurang. Makanan yang bergizi seimbang dapat membuat anak memiliki badan yang sehat, tidak mudah sakit dan tentunya berprestasi. Ciri- ciri anak sehat dapat terlihat  melalui pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai usianya.

Ada beberapa ciri lainnya yang menggambarkan kesehatan anak. Ciri ini sangat mudah untuk mengamatinya. Berikut adalah ciri anak sehat :

  • Berat dan tinggi badan sesuai usianya.
  • Tampak aktif/lincah, gembira.
  • Matanya bersih dan bersinar
  • Bibir dan lidahnya merah
  • Rambut hitam
  • Bersih dan tidak mudah dicabut
  • Kulit bersih
  • Pencernaannya baik
  • Nafasnya segar

Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu indikator penentuan status gizi. Jika asupan nutrisi anak kurang dari kebutuhan maka akan menyebabkan kurang gizi, namun sebaliknya jika asupan gizi anak berlebihan maka Ia anak mengalami obesitas.

  1. Aman

Pastikan semua makanan yang kita berikan pada anak kita aman. Aman dari bahan tambahan pangan yang berlebihan, aman dari pestisida dan zat berbahaya lainnya. Penggunaan BTP yang berlebihan (baik kadar maupun frekuensinya) dapat menimbulkan reaksi alergi, ketergantungan, dan akibat buruk lainnya yang tak terduga.

Selain itu untuk menjaga keamanan makanan anda harus memperhatikan sanitasi makanan. Sanitasi adalah upaya pencegahan agar makanan atau minuman terbebas dari segala bahaya yang dapat mengganggu, bahkan merusak kesehatan. Upaya tersebut bermula dari pemilihan bahan yang benar, pengolahan, penyiapan, penyimpanan serta penyajian yang baik pula. Sekalipun Anda mengolah sendiri makanan yang akan si kecil konsumsi, prinsip pengolahan tersebut tetap harus benar.

[Yazid Subakti]