Parenting – Tasyabbuh artinya meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. Tasyabbuh terhadap budaya berarti kita meniru budaya tersebut atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri ini kepada budaya tersebut dan mengikutinya.
Al-Quran dan As-Sunnah melarang umat islam menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau tingkah laku yang mencirikan kekafiran mereka. Tidak termasuk tasyabbuh jika seseorang meniru segala sesuatu yang tidak termasuk ciri khusus orang-orang kafir, baik aqidahnya, adat-istiadatnya, peribadatannya, dan hal lain selama tidak bertentangan dengan nash-nash serta prinsip-prinsip syari’at, atau tidak dikhawatirkan akan membawa kepada kerusakan.
Daftatr Isi
Ada beberapa alasan yang menyebabkan kita dilarang bertasyabbuh dengan orang-orang kafir.
Semua perbuatan orang kafir pada dasarnya terbangun atas kesesatan aqidah. Semua perbuatan dan amalan orang-orang kafir yang berhubungan dengan keyakinannya adalah dlalal (sesat), inhiraf (menyimpang dari kebenaran), dan fasad (rusak). Perbuatan menjadi dasar keyakinan mereka, adat-istiadat, ibadah, perayaan-perayaan hari besar mereka, bahkan tingkah lakunya. Berbuat menyerupai mereka, sama maknanya dengan menyesatkan diri seperti mereka.
Bertasyabbuh terhadap orang kafir mengandung makna menjadi pengikut mereka. Jika orang kafir itu mengingkari dan menantang Allah dan rasul-Nya, maka tasyabbuh dengan mereka sama artinya bersama-sama mereka kita mengingkari atau menentang Allah dan rasul-Nya pula.
Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalannya orang-orang yang tidak beriman, Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya, kemudian Kami seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)
Sikap tasyabbuh adalah cerminan rasa kagum atau kecintaan terhadap yang diikuti. Bukankah salah satu tanda cinta adalah meniru dan mengagumi yang dicintai? Dengan demikian, meniru-niru orang kafir adalah bagian dari tanda mahabbah (kecintaan), kecenderungan, kagum, dan mawalah (loyalitas) terhadap orang-orang kafir beserta kekafirannya. Padahal keharusan seorang muslim adalah mencintai sunnah dan sumber datangnya sunnah, yaitu Rasulullah SAW.
Tasyabbuh menyebabkan seseorang menjadi bagian dari yang dicontoh,
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”
Ini peringatan dari rasulullah, agar kita tidak meniru perilaku pemeluk aqidah lain hal-hal yang mencerminkan keyakinannya. Senada dengan peringatan ini, Rasulullah juga mengingatkan agar umatnya menyelisihi kebiasaan umat penganuaqidah lain, yaitu menyelisihi umat yahudi, membedakan diri dengan umat majusi, dan menyelisihi orang-orang musyrik.
Perbuatan yang dilarang dalam tasyabbuh
Larangan bertasyabbuh berlaku untuk perbuatan yang di dalam islam telah ditetapkan syariatnya. Tasyabbuh dalam Aqidah, yaitu berkeyakinan seperti keyakinan orang-orang selain islam. Ini adalah tasyabbuh yang paling berbahaya hingga menyebabkan seseorang keluar dari islam (Murtad).
Tasyabbuh dalam perayaan hari raya atau hari besar yang agung. Perayaan-perayaan hari besar sangat rawan dengan acara yang merupakan peniruan terhadap perilaku umat dari keyakinan atau budaya lain yang tidak bermanfaat. Peringatan tahun baru masehi dengan meniup terompet adalah contoh yang paling nyata. Tasyabbuh dalam Ibadah, yaitu menjalan syariat islam dengan kaidah dan nuansa yang tidak mencerminkan keislamannya.
Mungkinkan seorang muslim beribadah dengan tata cara yang meniru agama lain?
Mungkin saja, yaitu merayakan pernikahan dengan sajian acara dan perjamuan yang menyerupai cara orang kafir menyajikannya. Pesta makan sambil berdiri denga iringan music yang memperyunjukkan aurat dan lagu-lagu yang melalaikan, serta dansa berpasang-pasangan yang bukan suami istri. Acara ini sangat biasa diselenggarakan oleh penganut keyakinan lain, dan dipengaruhi oleh apa yang diyakininya.
Tasyabbuh dalam tradisi dan perbuatan. Tasyabbuh yang paling tercemar adalah meniru keyakinan umat selain islam dalam menjalankan tradisi dan berperilaku. Contoh yang paling banyak adalah berpakaian dengan cara dan model meniru kebiasaan pakaian orang-orang tidak beriman yang menampakkan aurat atau jenis pakaian yang memamerkan kesombongan. Dalam perbuatan, tasyabbuh yang paling banyak terjadi tanpa kita sadari adalah berucap salam seperti salam orang tidak beriman atau bahkan menggunakan salam yang biasa oleh pemeluk selain islam.
Menghindarkan anak dari perayaan menyerupai orang kafir
Suatu saat, anak akan mendapat undangan untuk menghadiri acara ulang tahun temannya. Pada pertemanan umum di masyarakat atau sekolah yang tidak berkarakter khas islam, anak akan mendapatkan nuansa pergaulan yang beragam (plural). Jika teman-temannya banyak berbeda keyakinan, maka nuansa pergaulan yang berbeda adalah wajar. Tetapi yang paling sering terjadi adalah berteman dengan sesama muslim, sedangkan pemahaman dan nuansa keislaman keluarganya kurang mendapat perhatian.
Di pesta ulang tahun anak, acara yang paling umum adalah meniup lilin di hadapan kue tart yang sebelumnya dengan membayangkan cita-cita anak, kemudian para tamu bertepuk tangan sambil bernyanyi.
Tidak ada yang salah dengan nyala lilin dan membayangkan cita-cita. Tetapi islam mengajarkan pentingnya muhasabah ketika seseorang berkurang usianya, serta dengan doa kepasrahan dan pertaubatan. Membayangkan cita-cita di hadapan lilin dan kue tart adalah cermin tidak adanya standar keimanan dalam meraih cita-cita. Yang lebih tidak masuk akal, ketika anak merayakan ulang tahun dengan tradisi yang mencerminkan ketiadaan iman, orang tuanya berdoa agar anaknya menjadi anak yang salih. Bagaimana mungkin orang tua di satu sisi mendoakan anaknya salih, sambil di sisi lain mengkondisikannya berpesta meniru perilaku orang kafir?
Bagi remaja, hari yang mereka anggap spesial seperti valentines day adalah saat-saat mereka mudah lepas kontrol dengan merayakannya menyerupai orang-orang kafir. Valentines day yang mereka artikan hari kasih sayang itu perayaannya dengan nuansa penuh kemaksiatan syahwat antara laki-laki dan perempuan. Padahal dalam sejarahnya, sejarah hari valentine jauh dari kisah seputar kasih sayang.
[Yazid Subakti]

