Mulai Berpuasa Penuh

Mulai Berpuasa Penuh

Parenting – Imam Syafi’i dan ulama pengikutnya kebanyakan berpandangan bahwa anak-anak diperintah berpuasa penuh ketika mereka sudah mampu melakukannya.

  1. Sejenak mengesampingkan ‘cinta lembut’

Semua orang tua mencintai anak-anaknya. Ada perasaan yang diungkapkan dalam bentuk ‘cinta lembut’, ada pula perasaan yang diungkapkan berupa ‘cinta keras’. 

‘cinta lembut’ adalah pengungkapan cinta yang disertai sikap selalu ingin membuat yang dicintai senang dan menikmati. Rasulullah SAW sering mencurahkan ‘cinta lembut’ beliau kepada cucunya, Hasan dan Husein dan pada umumnya anak kecil. Contoh nyata praktik ‘cinta lembut’ Rasulullah SAW adalah beliau memperlama sujud gara-gara ingin menyenangkan seorang anak kecil yang saat itu duduk di punggung beliau. 

Sementara itu, ada pula ‘cinta keras’ atau cara mencintai yang ditampakkan dengan sikap tegas atau keras kepada yang cintai, demi sesuatu yang kelak akan berdampak baik baginya. Pada umumnya, proses mendidik atau melatih selalu disisipi dengan ‘cinta keras’ kepada yang dididik atau dilatih. Nabiyullah Ibrahim as menerapkan ‘cinta keras’ beliau kepada putranya bahkan sejak putera pertamanya itu masih bayi. Ismail ditinggalkan bersama ibunya, Hajar, di lembah tak berpenghuni. Ibunda Imam Asy Syafi’I menunjukkan ‘cinta keras’ kepada anaknya, saat menyuruhnya untuk menuntut ilmu ke negeri yang jauh, dan tidak kembali sebelum menjadi alim.

Ketika hendak melatih anak untuk berpuasa, ada saat-saat ‘cinta keras’ harus diberlakukan. Yaitu untuk sementara hati ini menaruh rasa tega terhadap penderitaan yang ia hadapi. Artinya, sejenak kita menjadi orang tua yang tidak dengan mudah menaruh rasa kasihan kepada anak. Rasa kasihan kepada anak yang menangis dalam keadaan pucat sambil memegangi perutnya karena lapar dikesampingkan dulu, karena ada rasa kasihan yang jauh lebih besar dari itu, yaitu membayangkan ketika ia menjadi anak yang meronta-ronta kesakitan disiksa malaikat dalam kobaran api neraka. 

  1. Melatih puasa 

  • Mulai mengenalkan seperti halnya ibadah lain 

Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan anak mulai diperintahkan untuk berpuasa penuh. Imam Syafi’i dan ulama pengikutnya kebanyakan berpandangan bahwa anak-anak diperintah berpuasa ketika mereka sudah mampu melakukannya. Ukuran kemampuan ini adalah ketika mereka mencoba berpuasa tiga hari berturut-turut dan tidak merasa lemas ketika itu. Ini adalah tahap pengenalan, sekaligus latihan awal dengan langsung mempraktikkannya.

Ibadah dan kewajiban memang baru dikenakan ketika anak mencapai telah baligh. Namun kebanyakan ulama sudah menganjurkan agar para orang tua mendidik anaknya untuk berpuasa sejak kecil, sebagaimana praktik ibadah lainnya. Ini mengandung hikmah agar anak terbiasa melakukannya sejak kecil, sehingga ketika akil baligh ia tidak merasa berat dan asing menanggung beban sebagai mukallaf. 

Umar ra pernah memarahi  orang yang mabuk-mabukan pada siang hari bulan Ramadhan, ‘Celaka kamu! Anak-anak kami yang masih kecil saja berpuasa!‘ Kemudian beliau memukulnya.” (HR Bukhari)

  • Yang paling tahu kemampuan anak adalah orang tuanya

Tidak ada orang yang paling mengetahui kemampuan anak, kecuali orang tuanya sendiri. Jika ternyata ada sepasang orang tua yang tidak mengetahui kemampuan anaknya, maka telah cukuplah bukti bahwa mereka tidak sungguh-sungguh mencintai anaknya. Tidak ada kedekatan, menjalin ikatan lekat (bonding), dan tidak serius memberi perhatian.  

Anak yang satu tidaklah sama kemampuannya dengan anak yang lain meskipun usianya sama. Orang tua seharusnya memiliki catatan dalam ingatan bahwa anaknya memiliki kemampuan untuk menahan lapar dan haus sampai berapa lama dan dalam kondisi seperti apa. Ada anak yang di usia 7 tahun hanya mampu menahan haus dan lapar sampai pertengahan hari, ada pula yang mampu sampai maghrib.  Ada anak usia taman kanak-kanak yang mampu menahan sampai magrib, juga ada anak yang menjelang akil baligh hanya bertahan sampai dzuhur. Beberapa anak memiliki kemampuan menahan bukan karena rasa lapar dan hausnya, melainkan karena kemampuan menjaga harga diri dan niatnya. Anak-anak tertentu sangat menjaga harga diri dan niatnya sehingga berjuang menahan sampai maghrib, sementara anak lain di usia yang sama tidak memiliki rasa malu dan kurang teguh niatnya sehingga adzan dzuhur sudah membuatnya menyerah. 

Ini semua mestinya ada dalam catatan orang tua. Dengan pengetahuan ini, orang tua dapat membuat rencana, perlakuan apa yang harus diterapkan pada anaknya setiap kali menghadapi latihan puasa.

  • Menghibur dengan mainan 

Salah satu cara untuk melatih anak berpuasa adalah dengan memberinya hiburan yang membuatnya lupa akan rasa haus dan laparnya. Ada kisah menarik mengenai latihan puasa bagi anak yang dicontohkan oleh Ar Rubayyi binti Mu’awwidz. 

Dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata, “Nabi SAW pernah mengutus seseorang ke salah satu suku Anshar di pagi hari Asyura.” Beliau bersabda, “Siapa yang di pagi hari dalam keadaan tidak berpuasa, hendaklah ia berpuasa. Siapa yang di pagi harinya berpuasa, hendaklah berpuasa” 

Ar Rubayyi’ mengatakan, “Kami berpuasa setelah itu. Lalu anak-anak kami pun turut berpuasa. Kami sengaja membuatkan mereka mainan dari bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis, merengek-rengek minta makan, kami memberi mainan padanya. Akhirnya pun mereka bisa turut berpuasa hingga waktu berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika itu, mainan dari bulu sangat menarik bagi anak sehingga menjadi penghibur. Pada saat ini, mainan apapun yang sangat anak minati asal tidak membawa dampak buruk.  

  • Ia tetaplah seorang anak 

Latihlah berpuasa bagi anak sejak awal sebagaimana orang tua menyampaikan perintah shalat. Setelah itu, libatkan anak  langsung dalam praktik sampai ia menjadi terbiasa. 

Meskipun ada anjuran mengajarkan demikian, orang tua tetap harus menyadari bahwa ia adalah seorang anak yang sedang dalam tahap belajar. Selama ia belum akil baligh, ia belum terbebani oleh kewajiban untuk menjalankannya sehingga pemaksaan atau bersikap keras kepadanya  adalah sebuah kezaliman. 

Sampaikan dengan gembira dan citakan nuansa yang menyenangkan ketika bulan ramadhan tiba untuk mengimbangi perut lapar dan hausnya anak-anak yang berlatih puasa.

  • Yang kita latih adalah kesadarannya untuk taat 

Latihan menjalankan puasa, sebagaimana halnya latihan menjalankan ibadah lain pada anak yang belum mukallaf, mengandung satu maksud utama, yaitu untuk mulai menyadarkan anak bahwa manusia adalah hamba yang harus taat kepada Rabb-nya. Yang paling utama dalam upaya ini adalah agar pada anak segera tumbuh jiwa menghamba atau jiwa taat menjalani perintah Allah. Semangat dan kesadaran untuk taat inilah nanti yang membuatnya mudah menerima penyempurnaan dan beban ibadah lainnya. 

Jika belum baligh, saat ini ia masih terbebas dari tuntutan kesempurnaan. Tetapi sebuah keuntungan yang amat besar jika dalam jiwanya telah tumbuh semangat untuk taat.  

Pena diangkat dari tiga orang (di antaranya), dari anak kecil hingga ia ihtilam (baligh).” (H.R. Muslim)

  1. Menghadapi anak yang berlatih puasa 

  • Tidur tidak larut malam 

Di Indonesia, umumnya suasana malam bulan Ramadhan cukup meriah sehingga anak-anak tidak segera tidur begitu shalat tarawih selesai. Mereka terhubung lagi dengan teman-temannya sesama jamaah tarawih dan mungkin bermain beberapa waktu. 

Tidak ada yang salah dari permainan yang menggembirakan itu, tetapi orang tua  tetap harus memberi batasan waktu untuk tidur tidak terlalu larut malam. Ini penting untuk memberi peluang bagi anak agar mereka mudah bangun saat sahur. 

  • Membangunkan sahur 

Beberapa anak tidak mudah bangun di waktu yang tidak biasa ia bangun. Kebanyakan anak tidur ada puncak lelapnya di tengah malam sampai menjelang subuh, padahal di saat menjelang subuh itulah anak harus bangun untuk makan sahur. 

Meskipun tidak mudah bagi beberapa tipe anak, mereka tetap bisa bangun dan tidak membahayakan kesehatannya. 

Ingatkan anak setiap menjelang tidur, bahwa ia harus bangun untuk makan sahur. Anda dapat mengajaknya untuk mengatur jam weker atau alarm di handphone pada jam sahur. Dengan cara ini, anak yang memang kesulitan bangun tetap tertidur meskipun sejenak membuka mata begitu mendengar alarm berbunyi. Oleh karenanya, orang tua harus hadir dan terus memotivasinya untuk bangun. Untuk menghilangkan rasa kantuk agar ia tidak ingin tidur lagi, anda dapat menyuruhnya berwudhu atau setidaknya mencuci muka, tangan, dan kaki. 

  • Sahur dengan menu kesukaan dan bergizi

Sebulan berpuasa tidak membuat anak kekurangan gizi, selama saat sahur dan berbuka dengan menu yang padat gizi. 

Sebagai pembangkit semangat anak untuk bangun sahur, sediakan menu bergizi yang ia sukai. Ini perlu sedikit kesabaran karena mungkin anda akan repot dengan banyaknya pergantian menu setiap hari, dan sebagian dari menu itu sesuai selera orang tua.   

  • Meningkatkan nuansa kebersamaan 

Bagaimanapun anak memerlukan penguatan ketiak sedang berlatih. Di satu sisi orang tua harus tega membiarkannya bertahan dalam lapar dan haus, tetapi disisi lain juga harus mendampinginya untuk menguatkan latihan ini. Maksudanya adalah hadirnya orang untuk membersamai, terus memberi motivasi di saat anak mulai ingin menyerah dan tetap tegas tidak memberi kesempatan baginya untuk berbuka sebelum waktunya jika memang tidak ada tanda-tanda yang membahayakan baginya. 

Temani anak saat makan sahur bersama, berbuka, dan di saat-saat lain ia memerlukan kehadiran Anda. 

  • Bersabar dalam tahapan-tahapan

Tahapan berlatih puasa dapat mulei dengan cara paling ringan yang mampu ia lakukan. Yang paling mudah adalah memberlakukan tahapan berdasarkan hitungan waktu, yaitu mulai dengan menahan sampai zuhur, hingga beberapa  hari lamanya. Setelah berhasil menahan sampai dzuhur, beberapa hari sampai ashar. Setelah berhasil menahan sampai ashar, hari-hari berikutnya berlatih untuk menahan sampai maghrib.

Latihan bertahap seperti ini mungkin tidak berhasil dalam satu bulan ramadhan, melainkan harus berlanjut pada ramadhan tahun berikutnya. Jadi, mungkin pada ramadhan kali ini hanya bertahan sampai zuhur dan beberapa hari berhasil sampai ashar. Tahun berikutnya harus bertahan sampai ashar dan meningkat sampai maghrib.    

  • Apakah tetap terlibat buka bersama saat maghrib meskipun gagal puasanya?

Anak yang hanya berhasil menahan sampai dzuhur atau ashar tidak berarti bahwa ia berbuka di saat dzuhur atau ashar dengan kualitas buka puasa seperti mereka yang berbuka saat maghrib. Jika ia hanya kuat menahan sampai dzuhur, maka makanan dan minuman cukup sekedar menghilangkan haus dan mengusir lapar saja, bukan dengan berpesta seperti makan besar. Kondisikan rumah tetap dalam nuansa puasa, yaitu tidak tersedia hidangan kecuali beberapa makanan dan minuman pembatal puasa darurat. Jadi, anak tidak merasa kenyang dan belum terpuaskan dengan bukan puasanya di saat dzuhur dan ashar. Sebab buka puasa yang sesungguhnya dan penuh kenikmatan tetaplah ketika adzan maghrib berkumandang. 

Meskipun anak tidak berhasil menuntaskan puasa, ia sebaiknya tetap terlibat buka puasa maghrib dalam suasana hangat dan menyenangkan. Ini sangat bermanfaat baginya agar ia turut merasakan pengalaman berbuka puasa yang sesungguhnya. Pengalaman indah ini akan menjadi motivasi baginya untuk semakin bersemangat menuntaskan puasanya esok hari.  

Selain itu, melibatkan anak pada acara buka puasa maghrib adalah bentuk pengakuan atas perjuangan dia yang telah membuktikan ketaatannya untuk menahan, meskipun hanya sampai dzuhur atau ashar. Ia terlibat dalam nikmatnya buka bersama sebagai penghargaan atas bukti taatnya terhadap perintah Allah.  

  • Hentikan bila tampak tanda-tanda membahayakan. 

Anak yang terlalu menjaga harga diri bisa sangat gigih bertahan untuk puasa bahkan dalam kondisi yang paling ekstrim dan membahayakan dirinya. Anak seperti ini harus didekati, dan diberi permakluman bahwa ia boleh membatalkan puasanya karena memang tidak kuat. 

Beberapa tanda yang mengkhawatirkan antara lain, 

  • Dehidrasi, dengan tanda-tanda lemas, mata cekung, dan kulit kering hingga saat dicubit gelambir kulit tidak kembali rata seperti semula.
  • Badan lunglai, dengan ukuran tak kuat lagi berjalan meskipun hanya beberapa langkah. 
  • Tidak merespon atau sulit merespon pembicaraan karena terjadi penurunan kemampuan untuk berfokus. 
  • Demam atau sakit perut yang melilit yang biasanya terlihat dengan kecenderungan melingkarkan badan sambil memegang perut
  • Menangis dalam waktu lama, melebihi sepuluh menit dengan tatapan mata kosong atau setengah memejam dan suara melemah.
  • Muncul gejala sakit seperti mual atau muntah, mimisan dalam jumlah banyak, sesak napas, perut kembung, mencret, demam, atau mengaku sakit kepala.  

Ia benar-benar dalam keadaan tidak mampu lagi menahan lapar dan haus atau dalam kondisi tidak sehat. Oleh karena itu latihan puasanya harus berhebti agar tidak membahayakan tubuh. 

  • Beri hadiah bila memenuhi target

berikan penghargaan kepada anak bila ia berhasil memenuhi target latihan. Jika pada hari-hari awal targetnya sampai dzuhur, maka ia berhak mendapat penghargaan jika ternyata berhasil menahan sampai dzuhur. 

Penghargaan dapat berupa hadiah, penambahan fasilitas harian, atau setidak-tidaknya berupa pujian dan pengakuan bahwa ia sudah berhasil.

 

[Yazid Subakti]