Mahar dan Hukum-Hukumnya

Mahar dan Hukum-Hukumnya

Nikah – Bagaimana pendapat para ulama dan ahli fiqih mengenai mahar dan hukum-hukumnya dalam pernikahan? Berikut penjelasan sederhananya.

A. Pendahuluan

Akad perkawinan sebagaimana akad-akad yang lainnya, tumbuh darinya berbagai hak dan kewajiban yang saling memberikan respons, yang harus oleh masing-masing suami dan istri. Al-Qur’an yang mulia telah memaparkan prinsip ini. Allah SWT berfirman,

Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 228)

Maksudnya, perempuan memiliki berbagai hak yang harus terpenuhi oleh orang laki-laki, sebagaimana orang laki-laki juga memiliki hak yang harus terpenuhi oleh orang perempuan. Dasar hak-hak dan kewajiban ini adalah tradisi yang bersandarkan kepada fitrah masing-masing orang laki-laki dan perempuan.

Undang-undang ahwalu asysyakhshiyyah Syiria telah menyebutkan semua hak-hak keuangan yang harus terpenuhi oleh seorang suami kepada istrinya, yaitu mahar, nafkah, dan tempat tinggal. Sedangkan hak-hak yang nonmateri atau kejiwaan adalah keadilan, kebaikan dalam perlakuan, pergaulan yang baik, taat seorang istri kepada suaminya dalam kebaikan, dan perlindungan istri dari berbagai jenis aniaya dan hinaan. Bagian yang ini tidak tersentuh oleh undang-undang; karena ini adalah prinsip moral. Sesungguhnya Al-Qur’an hanya menyebutkan yang sebagiannya, dan sebagian yang lain disebutkan oleh hadits Nabi SAW.

Di sini kita berbicara mengenai mahar. Definisi, hukum, hikmah, sebab wajibnya bagi laki-laki untuk mengeluarkan, ukuran, syarat syarat, atau apa yang pantas untuk jadi mahar dan apa yang tidak pantas, jenis-jenisnya, dan kondisi kewajiban setiap jenis, pemilik hak dalam mahar, penerimaannya, dan konsekuensi yang timbul akibat penerimaan, mempercepatnya atau memperlambatnya, tambahan dan pengurangan dari mahar kapan mahar yang wajib, dan kapan tegas untukkewajibannya, kapan mahar berubah menjadi setengah, kapan mahar menjadi hilang sisipan tanggungan maha4, hukum kehilangannya, penggunaannya pencelaannya, dan kelebihannya, perselisihan mengenai mahar yang perabotan yang wajib dan perselisihan mengenainya, warisan mahar dan penghadiahannya.

B. Pengertian Mahar, Hukumnya, Hikmahnya, dan Sebab Diwajibkannya Lakl-laki untuk Mengeluarkannya 

mahar dan hukum-hukumnyaMahar adalah harta yang berhak bagi seorang istri yang harus oleh sang suami berikan; baik karena akad maupun persetubuhan hakiki.

Pengarang kitab aI-’Inaayah’Alaa Haamisyi al-Fathi mendefinisikan mahar sebagai harta yang harus keluar oleh suami dalam akad pernikahan sebagai imbalan persetubuhan, baik dengan penentuan maupun dengan akad. Sedangkan sebagian mazhab Hanafi mendefinisikannya sebagai sesuatu yang didapatkan seorang perempuan akibat akad pernikahan ataupun persetubuhan.

Mazhab Maliki mendefiniskannya sebagai sesuatu yang diberikan kepada seorang istri sebagai imbalan persetubuhan dengannya. Mazhab Syafi’i mendefinisikannya sebagai sesuatu yang wajib sebab pernikahan atau persetubuhan, atau lewatnya kehormatan perempuan dengan tanpa daya, seperti akibat susuan dan mundurnya para saksi.

Kemudian Mazhab Hambali mendefinisikannya sebagai pengganti dalam akad pernikahan, baik mahar ditentukan di dalam akad, atau ditetapkan setelahnya dengan keridhaan kedua belah pihak atau hakim. Atau pengganti dalam kondisi pernikahan, seperti persetubuhan yang memiliki syubhat, dan persetubuhan secara paksa.

Mahar ini memiliki sepuluh nama, yaitu: maha, shidaaq, atau shadaqah, nihlah, air, faridhah, hibaa’, ‘uqr, ‘alaa’iq, thaul, dan nikah’ Berdasarkan firman Allah SWT, Dan barangsiapa di antara kamu tidak mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang beriman” (an-Nisaa’: 25)

Juga firman-NYa,

Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah meniaga kesucian (diri)nya” (an-Nuur: 33)

Sebagian ulama menyusun delapan di antaranya di dalam bait syair ini:

Shadaaq, dan mahal nihlah, dan faridhah Hibaa’, dan ajr, kemudian ‘uqr, ‘alaa’iq 

Hukumnya adalah wajib atas orang laki-laki bukannya perempuan. Dan wajib sebagaimana yang oleh beberapa definisi dengan salah satu dari dua perkara ini karena persetubuhan di negara Islam tidak terlepas dari ‘uqr (hukuman hadd), atau ‘uqr (mahar), untuk menghormati kemanusiaan perempuan.

Pertama, sekadar akad yang sahih bisa jadi hilang keseluruhannya atau setengahnya, selama menegaskan dengan hubungan badan atau kematian, atau dengan khalwat menurut mazhab Hanafi dan Hambali. Kedua persetubuhan itu yang bersifat hakiki sebagaimana halnya kondisi persetubuhan yang melakukannya dengan syubhat, atau dalam perkawinan yang fasid. Dalam kondisi yang seperti ini mahar tidak jatuh kecuali dengan pelunasan atau dengan pembebasan.

C. Dalil-dalil wajibnya mahar adalah sebagai berikut ini

  1. Al-Qur’an, Yaitu firman Allah SWT

Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan” (an-Nisaa’: 4)

Maksudnya pemberian dari Allah sebagai permulaan ataupun hadiah’ Ayat ini tertuju kepada para suami menurut kebanyakan fuqaha. Ada juga yang berpendapat, tertuju kepada para wali karena pada masa jahiliah mereka mengambilnya. Hal ini merupakan dalil bahwa mahar merupakan simbol bagi kemuliaan seorang perempuan, dan keinginan untuk berpasangan. Allah SWT berfirman,

“Maka istri-isti yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban” (an’-Nisaa’: 24)

Allah SWT juga berfirman, “Dan berilah mereka maskawin yang pantas” (an-Nisaa’: 25)

Juga firman -Nya, “Dan halal bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina.” (an-Nisaa’:24)

  1. Hadits

Nabi saw berkata bagi orang yang ingin menikah, “Carilah, walaupun hanya sekedar cincin yang terbuat dari besi.

Juga ada ketetapan dari Nabi saw. bahwa perkawinan beliau tidak pernah terlepas dari mahar. Sunnah menentukan mahar di dalam akad karena pernikahan Rasulullah saw tidak pernah terlepas dari penentuan mahar. Dan karena penentuan ini dapat mencegah permusuhan. Juga agar jangan sampai menyerupai pernikahan perempuan yang menyerahkan dirinya kepada Nabi saw.

  1. Kaum muslimin telah sepakat bagi ditetapkannya mahar dalam pernikahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *