Pra Nikah – Fokus kepada perasaan cinta yang berlandas pada kecintaan kepada Allah, jangan perdulikan atau disibukkan dengan ritual cinta.
Daftatr Isi
Biarlah mereka merayakan Valentine day
Mereka memuja hari cinta, Valentinea’s Day, setiap tanggal 14 Febuari, jauh mengalahkan pengagungan orang mukmin terhadap hari Jum’at. Padahal Valentine berasal dari kisah yang penuh darah dan kebencian. Jauh dari sejarah cinta dan kasih sayang.
Kisah hari Valentine bermula dari sebuah negeri yang paling gemar berperang, yaitu Romawi. Pada Abad ke 3 Masehi, Kaisar Claudius II saat itu melarang pemuda-pemudi untuk menikah karena menginginkan mereka tetap lajang sehingga tenaganya bisa untuk menjadi tentara dalam setiap peperangan. Tetapi seorang pastor yang bernama Valentino dengan diam-diam menikahkan sepasang muda-mudi. Hal ini diketahui oleh sang kaisar dan membuatnya murka. Sang pastor diadili, dan dipenjara dengan penuh siksaan. Di akhir hidupnya, ia mendapat hukuman penggal kepala tepat pada tanggal 14 Februari 269.
Sejak saat itu, banyak pemuda memujanya dan memberi gelar Saint kepada Valentino yang telah membela hak pemuda-pemudi untuk menikah. Ia seakan menjadi sebagai ‘cupid’, yaitu sosok malaikat bersayap yang selalu membawa panah dan memburu hati.
Apakah sejarah berdarah itu layak anda bingkai sebagai momentum cinta? Apakah peristiwa pemenggalan kepala dan simpati kepadanya akan menghiasi kisah cinta suci?
Mereka larut dalam ketidaktahuan dan kekosongan akal.
Mereka mengadakan pesta-pesta percintaan dan berpacaran
Para pemuda menjalin cinta dengan cara yang batil. Mereka mengikat janji sehidup semati, di taman-taman kota dan tempat wisata. Kemudian mereka membuat perjanjian-perjanjian. Mereka menikmati perasaan indah yang menggelayuti hari-hari pertautan hati itu.
Allah berfirman yang artinya,
“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran :14).
Tetapi mereka meninggalkan tanggungjawab kasih sayang dan fitrahnya.
Sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu pernyataan cinta. Semua bentuk itu hanyalah bersenang-senang tanpa ikatan tanggung-jawab di antara mereka. Bahkan tidak ada kepastian tentang kesetiaan dan seterusnya.
Mereka mengatakan “Inilah cara kami mengenal dan melakukan penjajakan”. Padahal penjajagan dengan cara demikian tidak memberikan gambaran sesungguhnya atas pengetahuan yang perlu dalam sebuah persiapan pernikahan.
Mereka tidak berusaha saling ta`aruf. Mereka jauh dari proses saling mengenalkan diri. Sebab kecenderungan dalam pacaran adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja, meski harus palsu. Maka, kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Akhir petualangan mereka adalah kepedihan demi kepedihan. Sebab kebanyakan dari muda-mudi yang menjalin cinta dengan cara demikian akan merasakan patah hati. Atau, mereka akan berlanjut hingga ke pelaminan, kemudian harus berselisih karena mendapati sifat yang tak seindah dulu.
Mereka bertanya kepada paranormal tentang kecocokan cinta
Perdukunan terus hidup menembus zaman, karena ia terpelihara oleh syetan dan orang-orang bersekutu dengannya. Setan tak pernah lelah menyesatkan manusia, hingga hari kiamat datang.
Dan dari Abu Hurairah juga : “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun dan dia percaya dengan apa yang dikatakannya meka dia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.” [HR Muslim]
Di antara perilaku sebagian pemuda ketika mencari cinta adalah dengan mendatangi paranormal (‘Arraf) atau dukun (Kahin). Orang-orang ini mengaku mengetahui kejadian yang akan datang, kejadian tersembunyi, atau kejadian yang jauh letaknya.
Diriwayatkan juga oleh oleh Abu Daud dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW. bersabda yang artinya : “Barang siapa yang mendatangi seorang dukun dan dia percaya dengan apa yang dikatakannya maka dia telah kufur dengan apa yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW.” [HR Muslim]
Mereka bertanya tentang kecocokan tanggal lahir dengan tanggal lahir calon pasangan yang ia idamkan.
Mereka menanyakan hari paling untuk melangsungkan perkenalan dan pernikahan. Lalu mereka meramalkan nasib di balik nama mereka dan kedekatan jodoh yang berkaitan dengannya. Dan mereka meramalkan arah jodoh dari berbagai penjuru mata angin, berdasarkan keberuntungan hari itu. Bahkan, sebagian di antaranya meminta jimat dan mantra untuk memikat cinta seseorang yang menjadi dambaan hatinya.
Anak-anak muda itu telah kehilangan akan sehat. Mereka tidaklah datang dengan membawa kabar gembira, melainkan tipu daya dan kedustaan yang besar. Rahasia tentang kejadian ghaib, peristiwa yang belum terjadi, dan sesuatu yang tersembunyi dalam hati hanya Allah yang mengetahui.
Allah Ta’ala berfirman artinya : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidaklah jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh ).” [Al-An’am : 59]
Bahkan Rasulullah SAW tidak mengetahui hal-hal ghaib kecuali kabar yang datang dari Allah melalui wahyu kepadanya.
Ketika Rasulullah SAW. mendapat pertanyaan tentang hari kiamat, beliau tidak mampu menjawab. Jika kekasih Allah tidak mendapat karunia kemampuan melihat ghaib, lalu bagaimanakah dengan para dukun dan paranormal yang jauh dari-Nya?
Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim dari istri-istri Rasulullah SAW. dari Nabi SAW., beliau bersabda yang artinya : “Barang siapa yang mendatangi seorang dukun dan bertanya sesuatu maka dia tidak akan diterima sholatnya selam empat puluh hari.”
Mereka mencari cinta dari ramalan bintang
Sebagian di antara pemuda mengembalikan dirinya ke zaman pra sejarah dengan kesukaannya meramal tanda alam dan simbol benda-benda yang dikeramatkan. Kejahiliyahan ini terulang pada zaman ketika Rasulullah saw dilahirkan dan kini ditiru oleh sebagian anak muda dalam menanti jodoh.
Di antara tradisi jahiliyah yang kini kembali disukai adalah ramalan bintang. Mereka begitu yakin akan kebenaran tukang ramalnya, sehingga setiap hari mendengarkan radio dan menonton televisi yang menyiarkan nasib mereka hari itu. Ramalan bintang biasanya berkisar pada empat nasib, yaitu kesehatan, cinta atau jodoh, karir, dan keuangan. Ketika ramalan mengatakan nasib cinta mereka baik hari ini, mereka pun tampak ceria dan bersemangat. Tetapi apa daya, janji peramal tak kunjung datang. Tidak ada kekasih yang datang menghampiri.
Ketika peramal mengatakan hari ini mereka sedang buruk nasib cintanya, mereka tampak lesu dan muram. Mereka putus asa seolah kata-kata itu benar dan Allah tidak berkuasa atas mereka.
Tidak ilmu untuk meramal bagi peramalnya, mereka hanya mereka-reka seperti anak kecil menebak isi permen dalam kaleng. Tak ada keilmiahan dan keakuratan dari hasil ramalan bintang. Semuanya adalah kedustaan dan penipuan.
Ketahuilah, posisi bintang dan tanggal lahir anda sama sekali tidak mempengaruhi kehidupan cinta Anda. Sebuah studi menyatakan bahwa hanya 3% saja ramalan yang sesuai dengan kenyataan, itupun lebih karena kebetulan. Sedangkan sisanya 97% adalah salah total.
Biarlah mereka tenggelam dan tertipu. Sementara anda tetap di jalan yang lurus.
Allah ta’ala telah berfirman yang artinya, “Katakanlah, ‘Tidak ada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”. (QS. An-Naml: 65)
[Yazid Subakti]

