Syarat Mahar atau Sesuatu yang Cocok/Tidak Dijadikan Mahar

Syarat Mahar atau Sesuatu yang Cocok/Tidak Dijadikan Mahar

Mahar – Ada tiga syarat mahar dalam ketentuannya, yaitu:

Pertama, merupakan suatu barang yang bisa dimiliki dan dijual (emas), barang-barang, dan yang sejenisnya. Tidak boleh memberikan mahar yang berupa khamar, babi, dan yang selain keduanya yang tidak bisa untuk memiliki.

Kedua, harus sesuatu yang diketahui. Karena mahar adalah pengganti pada hak yang mendapat ganti, maka dia menyerupai harga barang jadi tidak boleh dengan sesuatu yang tidak kita tahu, kecuali dalam pernikahan tafwidh, yaitu kedua belah pihak yang melakukan akad diam ketika menetapkan mahar di dalam akad. Penentuan ada pada salah satu dari keduanya atau kepada orang yang selain keduanya. Menurut pendapat mazhab Maliki dan Hanafi, yang bertentangan dengan pendapat Syafi’i dan Ahmad tidak wajib menyifati barang mahar. Jika memberikan mahar yang tidak sesuai dengan yang tersifati, maka si perempuan memiliki hak untuk menengahi.

Ketiga, terbebas dari tipuan. Mahar tidak boleh berupa budak yang tengah kabur, unta yang tersesat, atau barang yang menyerupai keduanya.

Mazhab Hanafi menambah syarat yang keempat,

yaitu pernikahan tersebut merupakan pernikahan yang sah. Mahar yang tersebutkan di dalam pernikahan yang fasid, tidak menjadi lazim karena nikah fasid bukanlah pernikahan, dan wajib memberikan mahar mitsil dengan terjadinya persetubuhan.

Berdasarkan hal ini, para fuqaha meletakkan aturan untuk membedakan sesuatu yang bisa dijadikan mahar dan yang tidak. Mazhab Hanafi berpendapat, mahar adalah setiap harta yang memiliki harga, yang diketahui yang mampu untuk diserahkan. Maka sah jika mahar berupa emas atau perak, baik yang berupa uang maupun perhiasan, dan yang sejenisnya, baik berupa utang maupun tunai. Dan sah keadaannya sebagai uang atau dokumen keuangan, baik yang berupa takaran ataupun timbangan, baik berupa hewan maupun bangunan, atau barang jualan, seperti pakaian dan yang lainnya.

Sah juga iika dia berbentuk manfaat pribadi atau barang yang bisa bertukar dengan uang seperti tinggal di rumah, bercocok tanam, menaiki kendaraan, dan yang sejenisnya. Sedangkan perkawinan dengan mahar mengajarkan si istri semua isi Al-Qur’an, atau sebagiannya, atau sebagian hukum agama yang berupa perkara yang halal dan yang haram. Maka menurut fuqaha Hanafi yang mutaqddim tidak sah. Berdasarkan firman Allah SWT,

Jika kamu berusaha dengan hartamu.” (an-Nisaa’: 24).

syarat maharJuga karena yang telah tersebutkan sebutkan bukanlah harta karena mengajarkan Al-Qur’an dan perkara lain yang sejenisnya yang berupa ketaatan dan kedekatan kepada Allah SWT tidak sah sebagai upah menurut ketiga imam mazhab Hanafi. Pengajaran dalam bidang ini tidak sah diberikan imbalan harta. Oleh karena itu, tidak sah mahar yang disebutkan ini, dan diwajibkan mahar mitsil; karena itu adalah manfaat yang tidak bisa diganti dengan harta.

Para fuqaha mazhab Hanafi muta’akhkhirin memberikan fatwa pembolehan mengambil upah untuk mengaiarkan Al-Qur’an dan hukum-hukum agama karena kebutuhan akibat perubahan kondisi dan kesibukan manusia dengan perkara kehidupan, maka sang guru tidak bisa mengajartanpaupah. Olehkarena itu, boleh menjadikan pengajaran Al-Qur’an dan hukum-hukum agama sebagai mahar. Dalil yang menjadi pijakan untuk pendapat ini adalah hadits riwayat Sahl bin Sa’ad, yang berisikan bahwa Nabi saw. mengawinkan seorang laki-laki dengan mahar kemampuan membaca Al-Qur’an yang dia miliki. Beliau saw. bersabda,

Aku telah nikahkan kamu dengan hafalan Al-Qur’an yang kamu miliki.

Dalam riwayat yang muttafaq’alaih,

Kamu telah memilikinya dengan hafalan Al-Qur’an yang kamu miliki.”

Tidak sah jika mahar berbentuk sesuatu yang bukan merupakan harta yang memiliki harga. Itu seperti seorang laki-laki muslim menikahi seorang perempuan muslimah dengan mahar yang berupa debu, darah, minuman keras, babi; karena bangkai dan darah bukanlah harta dalam hak seseorang. Demikian pula minuman keras dan babi bukanlah harta yang memiliki harga dalam hak seorang laki-laki muslim. Juga tidak sah perkawinan perempuan dengan syarat menceraikan perempuan lain, atau memaafkan hukuman qisas karena perceraian bukanlah harta, dan begitu pula qisas.

Tidak sah pernikahan syighar yaitu seorang laki-laki mengawinkan saudara perempuannya kepada lelaki yang lain, dengan syarat orang tersebut mengawinkan saudara perempuannya dengannya.

Atau dengan syarat mengawinkannya dengan anak perempuannya. Penyebutan syarat ini merupakan sesuatu yang rusak karena masing-masing dari keduanya menjadikan “alat kelamin” masing-masing dari kedua perempuan tersebut sebagai mahar bagi yang lain’ Karena alat kelamin bukanlah harta, maka menjadi rusaklah penyebutan mahar ini. Bagi masing-masing dari keduanya wajib mendapatkan mahar mitsil, sedangkan pernikahan adalah sah menurut mereka.

Sedangkan menurut jumhur pernikahan ini fasid (rusak) atau batil berdasarkan sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Nabi saw. melarang pernikahan syighar. Pelarangan menyebabkan rusaknya sesuatu yang terlarang.

Dalil mazhab Hanafi menyebutkan bahwa perkawinan merupakan sesuatu yang bersifat abadi dan masuk ke dalamnya syarat fasid. Karena di dalamnya ada syarat alat kelamin dari keduanya menjadi mahar bagi yang lain dan kelamin tidak bisa menjadi mahar. Pernikahan tidak menuntut syarat yang fasid. Sebagaimana halnya jika seorang perempuan nikah dengan syarat untuk menceraikannya, serta untuk memindahkannya dari rumahnya, dan syarat lain yang seienisnya. Sedangkan pelarangan dari pernikahan syighar adalah terbebas dari ganti. Dan menurut mereka pernikahan dengan ganti yang berupa mahar mitsil, maka tidak menjadi pernikahan syighar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *