Parenting – Ada oleh nafsu dan syaitan yang selalu menggoda, manusia selalu memiliki risiko untuk tergelincir dalam sifat tercela. Sebagai makhluk yang imannya bisa bertambah dan berkurang, manusia rawan terjerumus dalam kemaksiatan dan keburukan-keburukan sifat. Oleh karenanya, anak harus mengetahui bahwa ada sifat-sifat tercela yang ia harus waspada jangan sampai terjadi padanya.
Daftatr Isi
Ananiyah
Jika itsar adalah sikap mementingkan orang lain karena menghargai, maka ananiyah merupakan sifat yang mengutamakan kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Sifat ananiyah disebut juga sifat egois.
Sifat ini berbahaya bagi anak, karena merusak hubungan dengan sesama. Selain itu, ananiyah membuat anak terjauhi dari temannya, orang lain jadi enggan membantu jika dia membutuhkan bantuan, terkucilkan, dan berisiko terputusnya tali silaturahmi.
Gadhab
Gadhab atau amarah, yaitu meluapnya emosi secara negatif ketika keinginan tidak tercapai. Seseorang yang memiliki perilaku gadab pada hakikatnya adalah orang yang lemah, sebab mengendalikan dirinya sendiri saja tak kuasa.
Sebenarnya, marah adalah perilaku manusiawi. Tetapi meluapkannya dalam emosi negatif adalah perbuatan setan yang menyebabkan seorang hamba tidak dapat berpikir mengenai kebenaran.
Meskipun tampak sepele, ternyata ghadab berhubungan dengan keimanan. Amarah dapat menyebabkan seseorang mendapat murka Allah pada hari kiamat, menjadi sumber konflik, penyebab dendam, dan tersingkirnya seseorang dari pergaulan. Rasulullah bahkan mengingatkan agar umatnya tidak mudah marah, agar surga tetap menjadi haknya. Artinya, orang yang mudah marah berarti mengecilkan peluangnya mendapatkan surga.
Cara meredakan amarah yang terlanjur muncul adalah memohon perlindungan kepada Allah swt, dan duduk dengan tenang. Jika duduk juga belum mereda sebaiknya berbaring, dan jika berbaring juga belum mereda, sebaiknya berwudu atau mandi.
Hasad
Istilah lain dari hasad adalah dengki atau iri hati, yaitu mengharapkan hilangnya kebahagiaan atau kenikmatan dari orang yang ia dengki atau mengharapkan nikmat yang orang lain terima beralih kepadanya. Orang yang memiliki sifat hasad merasa bahagia ketika orang lain sengsara, dan merasa sengsara ketika melihat orang lain bahagia.
Dengki atau hasad biasanya berhubungan dengan permusuhan dan kebencian, sifat sombong atau merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain dan kurangnya kurangnya bersyukur atas nikmat Allah. Pemilik sifat hasad sering melakukan kejahatan diam-diam tanpa diketahui orang lain sehingga dianggap sangat berbahaya. Itulah sebabnya, Dalam surat Al Falaq Allah mengajarkan manusia untuk berdo’a memohon perlindungan dari orang hasad.
Hasad yang terus disimpan dalam hati lama kelamaan dapat menjadi sumber munculnya penyakit psikis, yang kemudian menjalar menjadi penyakit fisik.
Ghibah
Ghibah bukan sifat, tetapi perbuatan, yaitu menggunjing atau menyampaikan sesuatu yang terjadi pada seseorang yang jika orang yang dibicarakan tersebut mendengarnya akan merasa
tidak suka. Hal-hal yang dibicarakan adalah keburukan dan cela mengenai fisik, akhlak, keturunan, ucapan, dan perbuatan.
Dalam banyak peristiwa kriminal atau pertikaian di masyarakat, sebagiannya mulai dengan ghibah dari mulut ke mulut. Berita menyebar semakin tak terkendali dan tanpa dapat mempertanggungjawabkan kebenarannya hingga akhirnya sebagian orang yang tersinggung berbuat kejahatan.
Penyebab ghibah biasanya berhubungan dengan dendam di dalam hati, perasaan dengki atau buruk sangka kepada orang yang dighibah. Kadang ghibah bermula dari pembicaraan ringan dan candaan yang berlanjut serius.
Namimah
Namimah atau mengadu domba adalah berusaha mengajak seseorang atau kelompok tertentu untuk dipertentangkan dengan pribadi atau kelompok lain sehingga menyebabkan perpecahan atau pertikaian.
Para pelaku namimah tidak menginginkan kedamaian. Ia justru mengambil keuntungan dari pertikaian sehingga suasana adu domba terus ada.
Orang tua harus mengkondisikan anak agar terhindar dari perilaku namimah ini dengan senantiasa menjaga diri dari persahabatan dengan orang-orang yang memiliki catatan perilaku buruk.
Dendam
Dendam artinya berkeinginan keras untuk membalas karena rasa marah atau benci. Sebelum dendam, biasanya ada peristiwa yang menyebabkan seseorang menyimpan sakit hati atau kecewa berat. Karena peristiwa belum terselesaikan atau penyelesaiannya kurang memuaskan, ia terus menyimpan keinginan untuk tetap membalas kapanpun waktunya jika ada kesempatan.
Para pendendam tidak pernah merasa tenang sebelum dendamnya itu terlampiaskan. Oleh karenanya, sebaiknya pendendam bertaubat kepada Allah agar Allah menghapuskan ganjalan jiwanya itu.
Nifak
Nifak adalah sifat menampakkan yang baik di wajah dan perbuatanya dan menyembunyikan yang buruk di hati dan pikirannya. Orang yang memiliki sifat nifak ini adalah orang munafik.
Seorang munafik sangat berbahaya karena kepandaiannya menyamarkan sifat asli membuat orang-orang mengiranya baik-baik, sehingga tidak menyangka bahwa sebenarnya ia memiliki hati yang jahat dan merusak.
Ciri-ciri munafik yang paling nyata adalah jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika mendapat kepercayaan ia berkhianat.
Orang yang berlaku nifak sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri. Ia tidak akan lagi mendapat kepercayaan karena kebiasaannya berbohong, berkhianat, dan ingkar janji. Rasulullah memberi peringatan keras bahwa perilaku nifak dapat menyeret pelakunya ke dasar neraka yang paling dalam (kerak neraka)
Takabur
Takabur atau sombong artinya menganggap diri lebih dari orang lain. Maksudnya adalah suatu sikap mental yang memandang rendah terhadap orang lain, sementara ia memandang tinggi dan mulia terhadap dirinya sendiri. Sifat takabur merupakan sifat asli diwariskan oleh Iblis dan mengakibatkan ia diusir dari surga dan diturunkan derajatnya hingga menjadi makhluk yang sangat rendah.
Orang yang takabur suka membanggakan kemuliaan diri, harta, ilmu, keturunan, atau asal daerahnya dengan menganggap orang lain lebih rendah. Seorang yang takabur juga suka mencela dan mengkritik orang lain dengan nada hinaan, tidak mau berteman dengan orang yang lebih rendah dan selalu berlagak seolah ia adalah manusia paling mulia.
Mereka umumnya pemboros dan berlebih-lebihan dalam penampilan karena memang suka memamerkan kelebihannya kepada orang lain
Sifat takabur lebih berbahaya lagi jika sudah menjalar pada kesombongannya kepada Allah dengan cara enggan berdoa dan tak mau mensyukuri nikmat-Nya, takabur kepada Para Rasul Allah dengan mencela atau merendahkan ajaran Rasul dan lebih bangga dengan pemikirannya sendiri.
Su’udzan
Su’udzan artinya berburuk sangka. Maksudnya adalah sikap dan cara pandang terhadap sesuatu dengan pandangan negatif dan menilai sisi buruknya.
Kebalikan su’udzan adalah husnudzan atau berbaik sangka. Orang yang di hatinya tersimpan sifat ini selalu berusaha menemukan sisi buruk dari apa yang ia hadapi, mengedepankan tuduhan negatif terhadap hal-hal yang belum ia ketahui dengan pasti dan berusaha mencari biang kesalahan dari setiap kejadian.
Suudzan tidak hanya terjadi antara manusia dengan sesama manusia, melainkan juga kepada Allah. Misalnya menganggap Allah membebani manusia dengan kewajiban-kewajiban yang memberatkan, tidak bersyukur dan menuduh nikmat Allah masih kurang, mencela musibah dengan menyangka bahwa Allah menyakiti hamba-Nya, atau menganggap ciptaan Allah tidak sempurna dan tidak adil.
Berawal dari suudzan, manusia bisa rusak masa perjalanan hidup dan depannya karena sifat ini akan diikuti dengan rasa pesimis akan kemampuan diri sendiri, membiarkan diri terkekang oleh keadaan dan tak mau berkembang, takut mencoba hal-hal yang baru, tertutup dan kaku terhadap perbaikan diri dan akhirnya mudah putus asa padahal ikhtiar yang dilakukan belum optimal
Riya’
Riya artinya melihat atau penglihatan. Maksudnya adalah sikap atau perilaku yang selalu ingin mendapat perhatian orang lain dengan harapan memperoleh pujian, penghargaan, atau imbalan. Riya’ menjadi penyakit ibadah karena menyertai seseorang yang sedang berusaha ikhlas beramal karena Allah. Hadirnya riya’ menyebabkan keikhlasan hilang dan amal yang ia perbuat tak lagi tercatat sebagai ibadah karena bukan untuk mengharap ridha Allah.
Orang yang riya merasa bersemangat melakukan ibadah ketika mendapat pujian, dan malas atau berhenti beribadah ketika mendapat celaan. Di tengah banyak orang yang melihatnya, orang riya tampak salih dan penuh kesungguhan dalam beramal, tetapi saat sepi ia berhenti dari amal.
Aniaya (zalim)
Aniaya adalah perbuatan sewenang-wenang atau perbuatan yang melanggar hak orang lain, melampaui batas, atau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Bentuk-bentuk aniaya (zalim) dapat berupa zalim kepada Allah Swt (makar dan mengabaikan perintah Allah), Zalim terhadap anggota tubuh pemberian Allah SWT (misalnya menyia-nyiakan tubuh), zalim terhadap Harta (boros, menggunakan harta untuk maksiat), zalim kepada sesama manusia (menyakiti hati sesama), bahkan zalim terhadap semua makhluk (misalnya menyiksa binatang dan merusak lingkungan).
Isyraf
Israf artinya sikap yang berlebih-lebihan atau melebih-lebihkan tindakan melebihi kadar wajar yang dibutuhkan.
Berbagai macam israf yang dapat terjadi sehari-hari adalah,
- Israf dalam makanan dan minuman, yaitu makan atau minum dengan cara yang berlebihan baik jenis maupun jumlahnya.
- Dalam menjalin hubungan, yaitu menjalin hubungan melebihi kebutuhan sehingga urusannya dengan sesama manusia menjadi sangat banyak dan rumit.
- Israf dalam berpakaian, yaitu mengenakan pakaian lebih dari kewajaran pakaian (menutup aurat, sopan, dan melindungi)
- Israf dalam menuntut hak, yaitu menuntut hak lebih besar daripada hak yang seharusnya ia dapat.
- Dalam berbicara, yaitu berbicara dengan nada, roman muka, dan bahasa yang berlebihan padahal isi pembicaraan biasa-biasa saja.
Munculnya isyraf biasanya berhubungan dengan keinginan untuk mendapatkan pujian orang lain atau ngin menunjukkan citra diri yang lebih tinggi daripada aslinya. Selain itu, isyraf juga bermula dari jiwa sombong atau yaitu merasa lebih baik daripada orang lain, serakah, dan hati yang memang tidak terbiasa bersyukur atas karunia Allah.
Tabzir
Tabzir atau boros, yaitu sikap seseorang yang mempergunakan sesuatu secara berlebih-lebihan tanpa mempedulikan manfaatnya atau melebihi kebutuhan yang seharusnya.
Perilaku tabzir ini mirip dengan perilaku isyraf. Bedanya, kalau isyraf barang itu masih pelakunya gunakan meskipun berlebihan, sedangkan pada tabzir, pelaku tidak peduli barang itu bermanfaat atau tidak.
Ada dua pengertian tabzir, yaitu tabzir dalam menggunakan harta dan tabzir dalam menggunakan potensi untuk bermaksiat kepada Allah
Anak-anak harus terhindar dari tabzir dengan bersahabat bersama orang-orang yang sederhana dan tawadhu, membiasakan untuk tidak berbelanja atau berbuat sesuatu yang tidak berguna, dan pembiasaan berpuasa sunnah.
[Yazid Subakti]

