Untuk Diri Kita – Bagian 2 : Menjadi Contoh di Keluarga

Untuk Diri Kita – Bagian 2 : Menjadi Contoh di Keluarga

Parenting – Para orang tua sebaiknya menjadi contoh sambil terus menerus merenungkan kembali peringatan Allah berikut ini, 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At Tahrim 6)

Orang-orang terdekat bagi kita adalah mereka yang serumah dengan kita, yaitu anggota keluarga. Dalam pengertian yang lebih luas, termasuk keluarga juga adalah semua orang yang memiliki pertalian darah dengan kita: saudara, keponakan, kemenakan, paman, bibi, dan sebagainya. 

Mereka semua itu adalah kaum kerabat yang berhak mendapat pencerahan dari kita, bahkan mendapat prioritas sebelum yang lain. 

  • Menyampaikan pencerahan kepada orang terdekat 

Allah telah berfirman, 

menjadi contoh

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, (QS. As-Syu’ara : 214)

Ayat ini adalah seruan, atau peringatan bagi seorang kita untuk tidak melupakan perbaikan keluarga. Bagaimanapun keluarga adalah bagian terpenting dalam kehidupan sosial. Ada hak-hak khusus anggota keluarga yang tidak terdapat pada orang-orang selain keluarga. Keluarga mendapat hak waris, kemahraman, dan pernafkahan, sementara orang lain tidak. 

Pada periode rahasia dakwah yang dilakukan oleh Nabi SAW, orang-orang yang pertama kali masuk Islam setelah Rasulullah SAW. adalah istrinya sendiri (Khadijah), mantan budaknya (Zaid bin Haritsah) serta anak pamannya, yaitu Ali bin Abi Thalib. Pada periode terang-terangan, Nabi SAW. mengajarkan dakwah kepada keluarga dekat yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

  • Mungkin akan ada penentangan 

Rasulullah SAW pernah mengundang seluruh keluarga bani Hasyim untuk berkumpul. Sebanyak 45 orang dari bani Muthalib bin Abdi Manaf pun hadir. Saat Beliau SAW hendak memulai pembicaraan, Abu Lahab sudah mendahului perkataan panjangnya untuk menentangnya. 

Ketika anda mencoba menampakkan model keluarga islami anda, mungkin saja ada kerabat yang tidak suka dengan keadaan ini. Mungkin paman, orang tua, atau mertua berkomentar pedas yang mencerminkan ketakutan, ketidaksetujuan, bahkan penentangannya. Saat semua anak perempuan anda tampil dengan busana serba tertutup dikarenakan memenuhi tuntutan syariat, bisa saja sebagian kerabat memberi komentar miring berisi penilaiannya yang bias. 

Mungkin ia menasehati anda, “Kita ini semestinya memperbaiki hati dulu, baru memikirkan masalah kerudung”

Sekalipun kita menyampaikannya dengan penuh kehati-hatian, peluang penentangan itu tetap ada, entah kapan munculnya. Anda tidak bisa terlalu yakin berharap keluarga menerima apapun yang Anda contohkan dan katakan. 

Karena peluang penolakan ini adalah sebuah keniscayaan, bahkan seorang Rasul pun mengalaminya, maka yang harus Anda lakukan adalah menata hati agar tidak terjerumus dalam pertikaian. Anda mesti terus menerus mengenakan baju kesabaran untuk menjadikan hati ini tak terpengaruh. 

  • Yakin akan terjadi perubahan 

Ketika keluarga atau kerabat menolak perbaikan dalam keluarga kita, itu tidak berarti bahwa ikhtiar kita telah gagal. Rasulullah SAW mengundang para kerabatnya untuk yang kedua kalinya setelah yang pertama ditolak oleh Abu Lahab. Dalam pertemuan kedua itu beliau bersabda,

Segala puji bagi Allah, aku memuji-Nya, percaya serta tawakal kepada-Nya dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya”, kemudian melanjutkan, “Sesungguhnya seorang pemandu itu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada manusia pada umumnya. Demi Allah, kalian akan mati seperti halnya kalian sedang tidur nyenyak dan kalian akan dibangkitkan layaknya kalian terbangun dari tidur, lalu kalian akan dihisab atas apa yang telah kalian perbuat, lalu di sana ada surga dan neraka yang kekal selamanya.

Anda pasti ingin segera tahu bagaimana sambutan keluarga Nabi untuk yang kedua ini. Dalam acara tersebut Abu Thalib berkata, “Kami tidak ingin menolongmu, menjadi penasihatmu serta membenarkan perkataanmu. Orang-orang yang menjadi bani bapakmu ini sudah bersepakat, dan aku ada di antara mereka, tetapi akulah orang pertama yang mendukung terhadap apa yang engkau sukai, maka lanjutkanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku senantiasa menjaga dan melindungimu, tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain untuk meninggalkan agama Abdul Muthalib

Jadi, ikhtiar Rasulullah itu ternyata membawa perkembangan. Abu Thalib (Paman Rasulullah) tidak menerima ajakan Rasulullah karena terikat dengan apa yang diyakini oleh sukunya, tetapi ia menyatakan pembelaannya kepada semua pergerakan Rasulullah. 

Ketika itu Abu Lahab kembali menyatakan ketidaksukaannya, maka Abu Thalib dengan tegas menjawab, “Demi Allah, kami akan tetap melindunginya selama kami masih hidup!”

Saat Anda memulai perbaikan di keluarga, mungkin akan hadir sosok Abu Lahab, sekaligus Abu Thalib-nya. Sosok yang satu menentang, sosok lain membela, meskipun tidak juga menerima ajakan Anda. Tetapi apapun respon mereka, keluarga adalah orang terdekat yang paling berhak mendapat perhatian. 

Tegakkan aturan-aturan Allah walaupun kepada keluarga dekat atau kepada orang lain. Jangan hiraukan celaan orang lain dalam menjalankan hukum-hukum Allah.” (HR Ibnu Majah)

 

[Yazid Subakti]

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *