Parenting – Kesuksesan itu dibuktikan dengan besarnya manfaat seseorang bagi sesamanya. Orang yang sukses menuntut ilmu adalah yang ilmunya bermanfaat bagi manusia.
Daftatr Isi
Sukses itu apa?
Seseorang berdiri di depan hadirin dengan penuh percaya diri, mengajak orang-orang di depannya untuk berjuang menuju puncak sukses. Orang-orang bertepuk tangan penuh semangat. Di akhir acara, para hadirin diminta tekad dan persaksiannya; berapa penghasilan perbulan yang menjadi target tahun depan. Para hadiri menjawab sekian ratus juta, sekian milyar, rumah mewah, dan menyebut merk mobil mahal.
Apakah sukses itu menjadi orang kaya? Menjadi sosok parlente yang memiliki banyak uang, rumah mewah dan mobil mahal? Atau jabatan tertinggi sebuah perusahaan dan karir tertentu?
Mari kita berpulang pada firman Allah ini,
Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (Qs Al Anbiya : 10)
Dan juga sabda Rasulullah ini,
“Sebaik-baik Manusia adalah manusia yang memberikan manfaatnya pada orang lain” (HR Bukhari)
Sukses itu ketika kehidupan kita menjadi mulia disebabkan kesungguhannya kita menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup. Di hadapan manusia, sukses adalah menjadi sebaik-baik manusia, yaitu ketika kita kita bermanfaat bagi mereka. Sukses yang sesungguhnya itu seberapa mulia kita di hadapan Allah, dan seberapa manfaat kita di hadapan manusia.
Jadi, manusia yang sukses adalah ia yang selalu istiqomah berada di jalan Allah SWT dan memiliki bekal yang baik untuk hidup diakhirat kelak, sementara selama di dunianya sibuk memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat.
Kekayaan dan ketinggian karir mungkin saja bagian dari kesuksesan, selama kekayaan dan karirnya itu menambah kemuliaannya di hadapan Allah dan memperluas manfaatnya bagi sesama manusia. Kenyataanya, biasanya itu semua saling bertolak belakang. Contoh kejadiannya terlalu banyak untuk disebutkan.
Mulia di hadapan Allah
Apa yang dapat menjadi sebab manusia mulia di hadapan Allah?
Kemuliaan manusia di hadapan Allah diukur dari ketakwaannya. Semakin bertakwa seseorang, semakin mulia menurut penilaian Allah.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS Al Hujurat: 13)
Orang bertakwa ditandai dengan kesungguhannya untuk menjalankan apapun yang diperintahkan oleh Allah, dan juga keseriusannya menjauhi semua larangan-Nya. Menekuni profesi apapun, seseorang dikatakan sukses jika dengan profesinya itu ia makin bersungguh-sungguh menjalani perintah Allah dan makin serius menjauhi larangannya.
Biarkan anak menjadi apapun yang ia impikan, dengan mengingatkan bahwa puncak kesuksesannya adalah ketika apa yang ia cita—citakan itu menambah ketakwaannya.
Bermanfaat bagi sesama
Sukses terlihat dengan besarnya manfaat seseorang bagi sesamanya. Orang yang sukses menuntut ilmu adalah mereka yang dengan ketinggian ilmunya semakin bermanfaat bagi manusia. Orang yang sukses berkarir adalah mereka yang dengan karirnya itu semakin terasa manfaatnya oleh umat.
Anak-anak harus tau makna kesuksesan yang seperti ini. Sebab, banyak contoh menunjukkan kebalikannya. Orang dengan ketinggian ilmu ternyata semakin menjadi sombong karena merasa dirinya lebih intelek daripada yang lain. Ia berbicara dengan bahasa penuh pencitraan, mendebat, dan memposisikan diri sebagai manusia paling berpengetahuan. Orang dengan ketinggian karir dan jabatan banyak yang semakin merasa berkuasa. Ia berbuat semena-mena, merasa berkedudukan lebih tinggi dan cenderung membentuk kelas-kelas pergaulan sesama pejabat dan pemilik karir tinggi. Begitupun orang kaya, banyak yang hanya memikirkan kemewahan hidupnya, menjauh dari orang miskin dan merasa tidak sederajat dengan masyarakat umum kebanyakan.
Generasi muslim harus bisa memutus rantai ini dengan pelurusan makna sukses yang sesungguhnya. Jadi, siapa yang paling bermanfaat bagi sesama, dialah orang paling sukses.
Sukses hanya datang melalui perjuangan
Kesuksesan baik untuk urusan dunia maupun akhirat, tidak datang begitu saja seperti hujan turun dari langit. Tidak ada orang berhasil dengan sendirinya. Tidak ada orang menjadi mulia dengan sekejap mata, dan tidak ada orang tiba-tiba dihormati karena memberi manfaat.
Jangan sampai anak-anak mengira bahwa kesuksesan itu datang dengan mudah dan cepat.
Untuk meraih sukses, manusia harus melakukan ikhtiar. Ada cita-cita yang teguh tak tergoyahkan sehingga apapun yang memalingkannya tak pernah menggoda. Ada perencanaan yang penuh kesungguhan sehingga jelas ke mana arah dan tujuan harus melangkah. Juga ada saha keras dan penuh semangat sehingga apapun yang menjadi penghalangnya tersingkirkan. Hingga pada akhirnya ada penyerahan kepada Allah secara total bahwa apapun hasil ikhtiar manusia harus kembali kepada takdir-Nya.
Ulama dan orang shalih bersakit-sakit menuntut ilmu dan menekuni ibadah. Para pengusaha bersusah payah memperjuangkan usahanya siang malam dengan menghilangkan semua kesenangan. Para pemilik setiap profesi berpayah-payah menempuh sekolah dan akademi kemudian memulai karir dengan semua rintangannya di awal-awal. Semuanya sengsara, mengorbankan waktu dan kesenangan, untuk suatu capaian yang mereka impikan.
Untuk kesuksesan akhirat, Allah memberi banyak ujian sesuai tingkat keimanan hamba.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka tertimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta tergoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al Baqarah: 214)
Etika dan kewajiban menuntut ilmu
Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan bisa menjadi jalan menuju cita-citanya kelak. Saat anak menuntut ilmu, ia perlu ingat mengenai etika dan kewajibannya
Etika menuntut ilmu
- Mengikhlaskan niat
- berdoa memohon ilmu yang bermanfaat
- merasa butuh dan haus ilmu
- hormat dan ta’dzim kepada guru
- Bersungguh-sungguh dalam belajar
- Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat
- Tidak sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu
- Mendengarkan dan memahami ilmu yang ia sampaikan
- Menghafalkan atau mencatat pelajaran mengamalkan setelah ia pelajari
Kewajiban setelah mendapat ilmu
- menjaga hubungan baik dengan guru
- mengajarkan ilmunya kepada orang lain
- mengamalkan ilmunya dengan ikhlas
- tidak berhenti menuntut ilmu lebih dalam lagi
- menjaga ilmunya tetap berkah dan manfaat
[Yazid Subakti]

