Toilet Training

Toilet Training

Kelahiran – Melatih si kecil untuk buang air besar atau kecil di toilet memang tidak mudah. Toilet Training merupakan sebuah kecakapan yang kompleks. Latihan ini membutuhkan waktu dan kesabaran Anda, sang pelatih utama dalam latihan ini.

A. fakta tentang ini

Sebelum memulainya, ada beberapa hal yang harus anda pahami yaitu :

1. Bersabarlah, banyak hal yang harus anda latih

  • Sikecil harus mengenali tanda- tanda buang air besar dan buang air kecil. Tubuhnya akan memberikan alarm seperti adanya tekanan di kantung kemih jika ingin buang air kecil, dan rasa mulas jika ingin buang air besar.
  • Sikecil harus merespon alarm tubuh, menghubungan antara perasaan itu dan yang sedang terjadi dalam tubuhnya.
  • Ia harus segera membuka celana, menahan dahulu keinginannya sebelum sampai ke pispot atau kamar mandi.
  • Si kecil harus segera menuju pispot atau toilet.
  • Si kecil pun harus memilih posisi yang nyaman ketika duduk di atas pispot atau berada dalam kamar mandi.

2. Ukuran otot organ ekskresi

Otot yang mengelilingi ujung usus besar dan kandung kemih harus dikontrol agar dapat terbuka dan tertutup sesuai waktunya. Latihan Buang Air Besar (BAB) biasanya lebih dahulu dilakukan sebelum melatih buang air kecil (BAK). Hal ini karena otot yang mengelilingi ujung usus besar lebih besar jika dibandingkan dengan otot yang mengelilingi kandung kemih.

Ukuran otot yang lebih besar menyebabkan si kecil lebih mudah menahan keinginannya untuk BAB, daripada menahan keinginan untuk BAK

3.Perubahan pola BAB dan BAK

Dengan berubahnya usia si kecil, maka kebiasaannya untuk BAB maupun BAK juga berubah. Semakin besar usianya, ia akan semakin jarang BAB dan BAK. Namun volume tinja maupun air seninya meningkat

4. Jenis kelamin dan sang trainer adalah penentu kesuksesan

Berdasarkan hasil penelitian, perempuan akan lebih mudah melakukan toilet training terutama jika yang menjadi trainer adalah sang Ibu. Jenis kelamin sang trainer ternyata sangat menentukan keberhasilan toilet training. Si kecil Ahmad akan meniru Ayahnya ketika BAK, dan Aisyah pun akan pipis dengan cara jongkok seperti ibunya.

5. Terlambat tidak masalah

Lebih baik Anda terlambat untuk melakukan toilet training daripada terlalu dini. Terburu-buru melakukan toilet training akan membuat bayi Anda merasa tertekan. Bahkan, proses ekskresinya akan terganggu. Berdasarkan pengalaman, toilet training juga dapat menyebabkan konstipasi pada anak Anda. Ini terjadi karena si kecil belum siap melakukan training ini, sedangkan Anda begitu bersemangat untuk melatihnya. Anda akan memaksanya untuk segera ke toilet/jongkok di pispot. Akibatnya Ia akan syok dan hasratnya pun hilang. Fesesnya akan semakin mengeras dan sulit untuk dikeluarkan. Keadaan ini dapat menimbulkan masalah baru.

B. Praktek toilet training

1. Pastikan bahwa si kecil telah siap

Beberapa tanda bahwa si kecil telah siap adalah :

  • Mulai meniru Anda ketika BAB/BAK
  • Mulai mengatakan ketika ingin BAB/BAK
  • Sudah memulai mengerti kalimat perintah.
  • Mulai berusaha membuka celananya ketika basah atau kotor.
  • Meminta pispot atau mengajak ke kamar mandi.
  • Tidak BAB atau BAK selama 3 jam.
  • Memberi tanda ketika ingin BAB/BAK

2. Anda harus lebih siap

Ketika memulai menjadi trainer toilet training, pastikan Anda sudah benar – benar siap. Ada beberapa hal yang harus Anda siapkan yaitu :

  • Kesabaran yang tiada batas.
  • Alat bantu seperti pispot lucu, mainan di kamar mandi, kamar mandi yang aman dan nyaman.
  • Celana yang mudah dibuka.
  • Tunjukan dan katakan berulang- ulang. Tunjukan pada si kecil bahwa tempat untu BAB dan BAK adalah kamar mandi atau pispot lucunya. Jangan hanya mengatakannya ketika Ia akan BAB/ BAK saja,namun saat- saat Anda menemaninya bermain.
  • Carilah teman. Bila anak Anda memiliki teman atau saudara yang lebih tua darinya, maka Anda dapat menjadikan Ia sebagai peraga toilet training, ketika sedang bermain bersama, dan temannya meminta untuk BAK.

3. Mulai menggunakan toilet/pispot

Ketika Ia sudah mengatakan bahwa Ia ingin BAB, maka:

  • Segeralah membawanya ketoilet atau berikan segera pispotnya. Jika Anda membawanya ke kamar mandi jangan lupa untuk membacakan doa masuk kamar mandi dengan nyaring agar si kecil mendengarnya.
  • Jangan memaksanya jika Ia menolak, cobalah lain waktu.
  • Jangan lupa untuk memperhatikan tanda ”kenyang” ketika proses pengeluarannya telah selesai.
  • Tanda selesainya BAB anak kecil biasanya diakhiri dengan kencing.
  • Jika Ia masih ingin berlama-lama di dalam kamar mandi, maka tunggulah sebentar. Barangkali Ia masih berusaha mengeluarkan fesesnya. Namun jika terlihat Ia bermain-main dengan air segera akhiri saja.

4. Akhiri dengan cara sehat

Sebagai pelajaran terakhir jangan lupa untuk mengajarinya :

  • Menyiram fesesnya. Katakan bahwa kotorannya harus disiram sampai tidak terlihat dan baunya hilang.
  • Membasuh bagian duburnya hingga benar-benar bersih, akhiri dengan mengusapkan sabun dan membasuhnya kembali. Katakan ini untuk menghilangkan najis dari tubuhnya dan untuk kesehatannya.
  • Mengelap bagian yang basah dengan handuk kering.
  • Mencuci tangan dengan sabun.
  • Segera keluar dari kamar mandi dengan membacakan doa kamar mandi dengan nyaring.
  • Mengajarinya mengenakan celana kembali

5.Pujilah kesuksesannya, lupakan kegagalannya

Jangan lupa untuk selalu memberinya pujian setiap kali ia berhasil melakukan toilet training. Jika masih belum berhasil, ingatlah bahwa ia baru belajar. Tetaplah tenang dan selalu mencoba kembali.

6. agar pembelajaran ini lebih sukses

Agar proses toilet training semakin sukses Anda perlu mengkondisikan si kecil dengan cara :

  • Mendongeng dengan tema BAB/ Bak di toilet.
  • Menjelaskan bahwa ‘kotoran tubuh’ harus dibuang di tempat seharusnya.
  • Role play, boneka untuk pipis di atas pispot.
  • Memberinya pujian setiap Ia mulai melakukan toilet training

Toilet training dan bahasa tubuh

Menurut Dr. William Sears bayi akan menunjukan bahasa tubuhnya ketika alarm ekresinya berbunyi. Berikut adalah tanda – tandanya :

  • Si kecil akan mundur ketempat yang sepi, berhenti bermain, diam atau duduk.
  • Ketika sedang BAB dan BAK memegang celana,mengejan, dengan kaki tersilang
  • Setelah selesai BAB/ BAK Ia akan mengintip atau mmegang tonjolan yang Ia rasakan di dalam celananya.
  • Ia akan melanjutkan permainannya atau segera berteriak ”Ibuuuuuu….”.

 

[Yazid Subakti]