Hukum Aqiqah Anak Dalam Pandangan Agama Islam

Hukum Aqiqah Anak memang sudah diatur dalam agama islam dengan berbagai ketentuan yang sudah ditulis. Namun sebelum mengupas berbagai bagian penting ada baiknya untuk mengerti pengertian dari aqiqah itu sendiri. Memiliki buah hati menjadi hal yang menggembirakan bagi orang tua. Pun merupakan maksud dari berumah tangga adalah memiliki keturunan yang tentunya menentramkan hati.

Selaku umat muslim, tiap keturunan yang lahir, didalam keluarga sudah pasti mempunyai tanggung jawab yang wajib dipenuhi dan diutamakan. Pada intinya, tiap orang yang mempunyai buah hati memiliki peran untuk melakukan aqiqah terhadap anak mereka. Didalam agama islam juga telah dijelaskan secara rinci tentang hukum aqiqah anak yang sudah pasti dapat digunakan untuk petunjuk.

Pengertian Aqiqah

Pengertian aqiqah dikenal sebagai salah satu wujud ibadah kepada Allah SWT atas lahirnya seorang keturunan, baik anak laki-laki ataupun perempuan.

Sebaliknya untuk aqiqah atau Al aqiqah tersebut merupakan hewan yang dikurbankan hanya untuk Allah dengan cara menyembelih hewan tersebut. Pada intinya, dengan melaksanakan aqiqah adalah salah satu wujud pendekatan diri dan ucapan rasa syukur kepada kenikmatan Allah.

Dalam sisi bahasa, Aqiqah berasal dari kata ‘aqqu yang berarti potong. Nah dari kata potong disini ada dua macam arti yaitu memotong dalam artian mencukur rambut buah hati yang hendak diaqiqah.

Berbeda dengan arti kata potong yang kedua yaitu menyembelih hewan kurban yang akan diaqiqahkan. Lalu bagaimana arti aqiqah dari sisi islam? Terdapat beberapa informasi dari para sahabat dan ulama ahlusunnah, diantaranya:

  • Ibnul-Qayyim menukil perkataan Abu ‘Ubaid bahwasannya Al-Ashmaa’iy dan lain-lain berkata “Pada asalnya makan ‘aqiqah adalah rambut bawaan yang ada di kepala bayi ketika lahir. Namun, istilah tersebut disebutkan untuk kambing yang disembelih ketika ‘aqiqah karena rambut bayi dicukur ketika kambing tersebut disembelih.
  • Al-Jauhari mengatakan “Aqiqah adalah menyembelih hewan pada hari ketujuhnya dan mencukur rambutnya”. Selanjutnya Ibnul-Qayyim berkata “Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah disebutkan demikian karena mengandung dua unsur diatas dan ini lebih utama”.

Aqiqah Secara Syar’i

Dari dua penjelasan diatas, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa ‘aqiqah secara syar’iy yang paling tepat adalah binatang yang disembelih atas dasar kelahiran seorang buah hati sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah ta’ala dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Tidak hanya makna saja namun hukum aqiqah anak juga sudah ditetapkan sehingga nantinya hanya tinggal dijalankan sesuai dengan apa yang sudah ada.

Aqiqah menurut pendapat yang paling kuat, hukumnya adalah sunnah muakkadah. Hal ini berasal anjuran dari Rasullullah SAW. Beliau berkata “Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkanlah (penebus) darinya darah (sembelihan) dan bersihkan darinya kotoran (cukur rambutanya)” (HR Ahmad, Al-Bukhori dan Ashhabus sunan). Dalam hadist tersebut diperintahkan melalui perkataan Rasulullah “maka tumpahkan (penebus) darinya darah (sembelihan).

Jika ditelaah lebih lanjut, perintah disini buka bersifat wajib, sebab ada sabda Rasulullah yang memalingkan dari kewajiban tersebut. Rasullulah bersabda “Barang siapa di antara kalian yang ingin menyembelih bagi anaknya, maka silahkan lakukan”. (HR. ahmad, Abu Dawud, An-Nasai dengan sanad yang hasan).

Dalam hukum akikah disunnahkan melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran, tentu saja ini didasarkan hadist Rasulullah SAW. Beliau berkata: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dia dicukur dan diberi nama”.

(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan dan dinyatakan shohih oleh At-tirmidzi). Melakukan aqiqah bila tidak dapat dilakukan pada hari ke tujuh, disunnahkan dilakukan pada hari ke empat belas, dan jika masih tidak dapat, dapat dilaksanakan pada hari ke dua puluh satu. Setelah hari ke dua puluh satu masih belum mampu melaksanakan aqiqah, maka dapat dilaksanakan saat sudah mampu. Yang wajib diperhatikan adalah implementasi aqiqah pada hari ke tujuh, empat belas maupun dua puluh satu bersifat tetap sunnah bukan wajib.

Kewajiban Ibadah Aqiqah

Kewajiban aqiqah dalam hukum aqiqah anak adalah kewajiban yang dibebankan untuk orang tua bayi. Namun bila orang tua belum sanggup menyembelihkan aqiqah untuknya sampai dia dewasa, maka dapat memotong hewan aqiqah untuk dirinya sendiri. Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata “Dan ia tidak diaqiqahi oleh ayahnya, lalu kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri, maka hal tersebut tidak menjadi masalah menurut saya, wallahu a’lam”.

Selanjutnya, untuk hewan yang dapat disembelih dalam hukum akikah juga telah ditetapkan, syaratnya mirip dengan hewan yang akan disembelih untuk qurban, ditilik dari segi usia dan kriterianya. Imam Malik berkata “Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembelihan denda larangan haji) dan udhhiyah (qurban), tidak diperbolehkan dalam hal ini hewan yang sakit, kurus, picak dan patah tulang”. Selanjutnya Ibnu Abdul Barr berkata “Para ulama telah jima’ bahwa hewan aqiqah ini tidak diperbolehkan hal-hal atau apa yang tidak diperbolehkan dalam udhhiyah, harus dari Al-Azwaj Ats-Tsamaniyyah, yaitu domba, kambing, sapi, unta, kecuali pendapat yang ganjil yang tida dianggap”.

Nah namun tidak diperbolehkan dalam aqiqah berserikat seperti dibolehkannya berserikat dalam udhhiyah, baik domba/kambing, atau sapi ataupun unta. Sehingga jika ada yang aqiqah dengan sapi ataupun unta, tidak boleh untuk tujuh orang sebagaimana pada qurban, hanya boleh untuk satu orang saja.

Mungkin Anda bertanya sebetulnya apa ketentuan hewan yang dapat diaqiqahkan? Dalam hukum aqiqah anak. Untuk orang tua yang hendak mengakikah anaknya membutuhkan hewan aqiqah yang krusial sebagai syarat utama dalam melaksanakan aqiqah. Sudah pasti hewan aqiqah yang diperlukan untuk bayi laki-laki pasti berbeda dengan hewan aqiqah untuk anak perempuan.

Jumlah Kambing Aqiqah

Pada aqiqah anak laki-laki dianjurkan atau disunnahkan menggunakan dua ekor kambing. Namun bila tidak mampu boleh hanya menggunakan satu ekor saja dan itu sudah ditafsir sah. Selanjutnya untuk anak perempuan, maka aqiqahnya hanya dengan satu ekor kambing atau domba yang telah memenuhi syarat sebagai hewan aqiqah.

Berkaitan daging hewan aqiqah, banyak ulama yang mengatakan jika pembagiannya mirip dengan pembagian daging qurban. Sebagiannya diperkenankan disantap oleh keluarga yang diaqiqahkan dan yang lainnya boleh dibagikan kepada fakir miskin maupun tetangga. Lain halnya bila ada keluarga dari yang diaqiqahkan tidak menyantap dan membagikan seluruhnya kepada fakir miskin, tentu saja diperbolehkan dan tidak ada pantangan untuk itu.

Menurut Syaikh Utsaimin berkata “Dan tidak apa-apa dia mensedeqahkan darinya dan mengumpulkan kerabat dan tetangganya untuk menyantap daging aqiqah yang sudah matang”. Lain halnya dengan Syaikh bin Baz, beliau memberikan kebebasan antara mensedekahkan seluruhnya atau mensedekahkan sebagian dan memasaknya, selanjutnya memanggil kerabat, teman, tetangga dan kaum muslimin yang lain untuk memakannya. Dalam hukum akikah daging aqiqah disunnahkan dalam keadaan sudah matang atau sudah dimasak, sudah pasti ini yang membedakan dengan pembagian daging qurban yang lebih dianjurkan dalam kondisi mentah.

Sebenarnya, ada banyak kegunaan yang didapat dengan beraqiqah, diantaranya menyelamatkan keturunan dari ketergadaian pembelaan orang tua di hari kemudian, menghindarkan anak dari bahaya dan kehancuran sebagaimana pengorbanan Nasi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS, pembayaran hutang orang tua kepada anaknya dan pengungkapan rasa gembira demi tegaknya islam. Semuanya sudah tertulis dengan jelas di hukum aqiqah anak.

Bagi Anda yang sedang mencari jasa aqiqah anak yang sesuai syariat,bisa menyaksikan penyembelihan secara langsung, masakan yang lezat,gratis beberapa menu olahan,fasilitas cukur gundul, pengantaran sampai lokasi, kemasan rapi dan eksekutif serta mendapatkan sertifikat bukti aqiqah. Bisa datang ke kantor pusat  kami di Jl Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D2 . Kontak kami Telepon/SMS/WhatsApp (WA)  0812 2234 6099

Hukum Aqiqah Dalam Pandangan Agama Islam

Hukum Aqiqah memang telah diatur dalam agama islam dengan bermacam-macam ketentuan yang sudah tertulis. Namun sebelum membahas beberapa bagian penting ada baiknya untuk mengetahui pengertian dari aqiqah tersebut. Memiliki keturunan menjadi hal yang menyenangkan bagi orang tua. Pun merupakan tujuan dari berkeluarga yaitu mempunyai anak yang sudah pasti meneduhkan hati.

Selaku orang muslim, tiap anak yang lahir, didalam keluarga pasti mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi dan didahulukan. Pada intinya, tiap orang yang mempunyai buah hati mempunyai peran guna melakukan aqiqah terhadap anak mereka. Dalam agama islam pun sudah disampaikan secara mendetail tentang hukum aqiqah yang sudah pasti bisa digunakan sebagai pedoman.

Pengertian Aqiqah

Pengertian aqiqah dikenal sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT terhadap lahirnya seorang buah hati, baik anak laki-laki ataupun perempuan.

Sebaliknya untuk aqiqah atau Al aqiqah sendiri adalah hewan yang dikurbankan hanya kepada Allah dengan proses menyembelih hewan tersebut. Pada intinya, dengan melakukan aqiqah merupakan salah satu wujud pendekatan diri dan ucapan rasa syukur kepada kenikmatan Allah.

Dalam sisi bahasa, Aqiqah berasal dari kata ‘aqqu yang artinya potong. Nah dari kata potong disini ada dua macam makna yaitu memotong dalam artian mencukur rambut buah hati yang hendak diaqiqah.

Sedangkan maksud kata potong yang kedua adalah menyembelih hewan kurban yang hendak diaqiqahkan. Lalu bagaimana makna aqiqah menurut perspektif islam? Terdapat beberapa informasi dari para sahabat dan ulama ahlusunnah, diantaranya:

  • Ibnul-Qayyim menukil perkataan Abu ‘Ubaid bahwasannya Al-Ashmaa’iy dan lain-lain berkata “Pada asalnya makan ‘aqiqah adalah rambut bawaan yang ada di kepala bayi ketika lahir. Namun, istilah tersebut disebutkan untuk kambing yang disembelih ketika ‘aqiqah karena rambut bayi dicukur ketika kambing tersebut disembelih.
  • Al-Jauhari mengatakan “Aqiqah adalah menyembelih hewan pada hari ketujuhnya dan mencukur rambutnya”. Selanjutnya Ibnul-Qayyim berkata “Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah disebutkan demikian karena mengandung dua unsur diatas dan ini lebih utama”.

Aqiqah Secara Syar’i

Dari dua informasi diatas, maka dapat ditarik keputusan bahwa ‘aqiqah secara syar’iy yang paling benar adalah binatang yang disembelih atas dasar kelahiran seorang keturunan sebagai wujud rasa terima kasih kepada Allah ta’ala dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Tidak hanya pengertian saja namun hukum akikah juga sudah ditetapkan maka nantinya hanya tinggal dilaksanakan sesuai dengan apa yang sudah tertera.

Aqiqah menurut pandangan yang paling kuat, hukumnya adalah sunnah muakkadah. Hal ini berdasarkan anjuran dari Rasullullah SAW. Beliau berkata “Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkanlah (penebus) darinya darah (sembelihan) dan bersihkan darinya kotoran (cukur rambutanya)” (HR Ahmad, Al-Bukhori dan Ashhabus sunan). Dalam hadist tersebut diperintahkan melalui perkataan Rasulullah “maka tumpahkan (penebus) darinya darah (sembelihan).

Jika ditelaah lebih lanjut, perintah disini buka bersifat wajib, sebab ada sabda Rasulullah yang memalingkan dari kewajiban tersebut. Rasullulah bersabda “Barang siapa di antara kalian yang ingin menyembelih bagi anaknya, maka silahkan lakukan”. (HR. ahmad, Abu Dawud, An-Nasai dengan sanad yang hasan). Dalam hukum akikah disunnahkan melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh dari persalinan, tentu saja ini didasarkan hadist Rasulullah SAW. Beliau berkata: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dia dicukur dan diberi nama”.

(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan dan dinyatakan shohih oleh At-tirmidzi). Pelaksanaan aqiqah jika tidak bisa dilaksanakan pada hari ke tujuh, disunnahkan dilaksanakan pada hari ke empat belas, dan jika masih tidak bisa, bisa dilaksanakan pada hari ke dua puluh satu. Setelah hari ke dua puluh satu masih belum sanggup melakukan aqiqah, maka bisa dilaksanakan saat sudah sanggup. Yang perlu diperhatikan adalah pelaksanaan aqiqah pada hari ke tujuh, empat belas ataupun dua puluh satu bersifat tetap sunnah bukan wajib.

Kewajiban Ibadah Aqiqah

Kewajiban aqiqah dalam hukum akikah adalah kewajiban yang dibebankan kepada orang tua anak, namun bila orang tua belum mampu menyembelihkan aqiqah untuknya hingga dia dewasa, maka bisa memotong hewan aqiqah untuk dirinya sendiri.

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata “Dan ia tidak diaqiqahi oleh ayahnya, lalu kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri, maka hal tersebut tidak menjadi masalah menurut saya, wallahu a’lam”.

Selanjutnya, untuk hewan yang dapat disembelih dalam hukum aqiqah juga telah ditentukan. Syaratnya sama dengan hewan yang akan disembelih untuk qurban, dilihat dari segi usia dan kriterianya. Imam Malik berkata “Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembelihan denda larangan haji) dan udhhiyah (qurban), tidak diperbolehkan dalam hal ini hewan yang sakit, kurus, picak dan patah tulang”. Kemudian Ibnu Abdul Barr berkata “Para ulama telah jima’ bahwa hewan aqiqah ini tidak diperbolehkan hal-hal atau apa yang tidak diperbolehkan dalam udhhiyah, harus dari Al-Azwaj Ats-Tsamaniyyah, yaitu domba, kambing, sapi, unta, kecuali pendapat yang ganjil yang tida dianggap”.

Nah namun tidak diperbolehkan dalam aqiqah berserikat seperti dibolehkannya berserikat dalam udhhiyah, baik domba/kambing, atau sapi ataupun unta. Sehingga jika ada yang aqiqah dengan sapi ataupun unta, tidak diperbolehkan untuk tujuh orang sebagaimana pada qurban, hanya boleh untuk satu orang saja.

Mungkin Anda bertanya-tanya sebetulnya apa ketentuan hewan yang bisa diaqiqahkan? Dalam hukum aqiqah anak, untuk orang tua yang hendak mengakikah anaknya memerlukan hewan aqiqah yang krusial sebagai persyaratan utama dalam melakukan aqiqah. Sudah pasti hewan aqiqah yang dibutuhkan untuk bayi laki-laki pasti berbeda dengan hewan aqiqah untuk anak perempuan.

Jumlah Kambing Aqiqah

Pada aqiqah anak laki-laki dianjurkan atau disunnahkan dengan dua ekor kambing. Namun jika tidak mampu boleh cukup dengan satu ekor saja dan itu sudah ditafsir sah. Kemudian untuk anak perempuan, maka aqiqahnya hanya dengan satu ekor kambing atau domba yang sudah memenuhi syarat sebagai hewan aqiqah.

Berkaitan daging hewan aqiqah, banyak ustad yang menyampaikan jika pembagiannya mirip dengan pembagian daging qurban, sebagiannya diperkenankan disantap oleh keluarga yang diaqiqahkan dan yang lainnya boleh dibagikan pada fakir miskin maupun tetangga. Lain halnya jika ada keluarga dari yang diaqiqahkan tidak menyantap dan memberikan seluruhnya kepada fakir miskin, tentu saja diperkenankan dan tidak ada halangan untuk itu.

Menurut Syaikh Utsaimin berkata “Dan tidak apa-apa dia mensedeqahkan darinya dan mengumpulkan kerabat dan tetangganya untuk menyantap daging aqiqah yang sudah matang”. Lain halnya dengan Syaikh bin Baz, beliau memberikan hak antara mensedekahkan seluruhnya atau mensedekahkan sebagian dan memasaknya, selanjutnya mengundang saudara, teman, tetangga dan kaum muslimin yang lain untuk memakannya.

Dalam hukum aqiqah anak daging aqiqah disunnahkan dalam kondisi sudah matang atau sudah dimasak. Sudah pasti ini yang membedakan dengan pembagian daging qurban yang lebih dianjurkan dalam kondisi mentah.

sebetulnya, banyak sekali kegunaan yang diperoleh dengan beraqiqah, yaitu menyelamatkan keturunan dari ketergadaian pembelaan orang tua di hari kemudian, melindungi anak dari bahaya dan kehancuran sebagaimana pengorbanan Nasi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS, pembayaran hutang orang tua kepada anaknya dan pengungkapan rasa gembira demi tegaknya islam. Semuanya sudah ditulis dengan jelas di hukum akikah anak .

Hukum Aqiqah Dalam Pandangan Agama Islam

Bagi Anda yang sedang mencari jasa aqiqah anak yang sesuai syariat,bisa menyaksikan penyembelihan secara langsung, masakan yang lezat,gratis beberapa menu olahan,fasilitas cukur gundul, pengantaran sampai lokasi, kemasan rapi dan eksekutif serta mendapatkan sertifikat bukti. Bisa datang ke kantor pusat  kami di Jl Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D2 . Kontak kami Telepon/SMS/WhatsApp (WA)  0812 2234 6099.

Aturan Aqiqah Dalam Perspektif Agama Islam

Aturan Aqiqah Dalam Perspektif Agama Islam

Aturan aqiqah  memang telah diatur dalam agama islam dengan berbagai ketentuan yang sudah tertulis. Namun sebelum membahas beberapa tema penting ada baiknya untuk mengerti pengertian dari aqiqah tersebut. Memiliki keturunan merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi orang tua. Pun merupakan tujuan dari berkeluarga adalah mempunyai buah hati yang tentunya menyejukkan hati.

Menjadi orang muslim, tiap keturunan yang lahir, didalam keluarga sudah pasti mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi dan didahulukan. Pada intinya, setiap orang yang mempunyai anak mempunyai peran untuk melaksanakan aqiqah terhadap keturunan mereka. Didalam agama islam juga telah disampaikan secara rinci mengenai aturan aqiqah yang tentunya bisa digunakan untuk petunjuk.

Maksud aqiqah dikenal sebagai salah satu wujud ibadah kepada Allah SWT terhadap lahirnya seorang buah hati, baik anak laki-laki maupun perempuan. Sedangkan untuk aqiqah atau Al aqiqah sendiri adalah hewan yang dikurbankan hanya kepada Allah dengan proses menyembelih hewan itu sendiri. Pada intinya, dengan melaksanakan aqiqah adalah salah satu wujud pendekatan diri dan ucapan rasa syukur kepada kenikmatan Allah.

Pengertian Aqiqah

Dari segi bahasa, Aqiqah berasal dari kata ‘aqqu yang berarti potong. Nah mengenai kata potong disini ada dua macam arti yaitu memotong dalam makna memangkas rambut buah hati yang hendak diaqiqah. Berbeda dengan arti kata potong yang kedua adalah memotong hewan kurban yang hendak diaqiqahkan. Lalu bagaimana maksud aqiqah dari perspektif islam? Ada beberapa penjabaran dari para sahabat dan ulama ahlusunnah, diantaranya:

  • Ibnul-Qayyim menukil perkataan Abu ‘Ubaid bahwasannya Al-Ashmaa’iy dan lain-lain berkata “Pada asalnya makan ‘aqiqah adalah rambut bawaan yang ada di kepala bayi ketika lahir. Namun, istilah tersebut disebutkan untuk kambing yang disembelih ketika ‘aqiqah karena rambut bayi dicukur ketika kambing tersebut disembelih.
  • Al-Jauhari mengatakan “Aqiqah adalah menyembelih hewan pada hari ketujuhnya dan mencukur rambutnya”. Selanjutnya Ibnul-Qayyim berkata “Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah disebutkan demikian karena mengandung dua unsur diatas dan ini lebih utama”.

Aqiqah Secara Syar’i

Dari dua penjelasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ‘aqiqah secara syar’iy yang paling tepat adalah binatang yang disembelih karena kelahiran seorang keturunan sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah ta’ala dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Tidak hanya arti saja tetapi juga aturan aqiqah  juga telah ditetapkan maka nantinya cukup tinggal dijalankan seperti dengan apa yang sudah tertera. Aqiqah menurut pandangan yang paling kuat, hukumnya adalah sunnah muakkadah. Hal ini berasal anjuran dari Rasullullah SAW. Beliau berkata “Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkanlah (penebus) darinya darah (sembelihan) dan bersihkan darinya kotoran (cukur rambutanya)” (HR Ahmad, Al-Bukhori dan Ashhabus sunan). Dalam hadist tersebut diperintahkan melalui perkataan Rasulullah “maka tumpahkan (penebus) darinya darah (sembelihan).

Jika ditelaah lebih lanjut, perintah disini buka bersifat wajib, sebab ada sabda Rasulullah yang memalingkan dari kewajiban tersebut. Rasullulah bersabda “Barang siapa di antara kalian yang ingin menyembelih bagi anaknya, maka silahkan lakukan”. (HR. ahmad, Abu Dawud, An-Nasai dengan sanad yang hasan).

Dalam aturan aqiqah disunnahkan melakukan aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran, tentu saja ini didasarkan hadist Rasulullah SAW. Beliau berkata: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dia dicukur dan diberi nama”.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan dan dinyatakan shohih oleh At-tirmidzi). Pelaksanaan aqiqah jika tidak dapat dilaksanakan pada hari ke tujuh, disunnahkan dilakukan pada hari ke empat belas, dan bila masih tidak bisa, bisa dilakukan pada hari ke dua puluh satu. Setelah hari ke dua puluh satu masih belum sanggup melakukan aqiqah, maka bisa dilaksanakan ketika sudah mampu. Yang perlu ditekankan adalah implementasi aqiqah pada hari ke tujuh, empat belas ataupun dua puluh satu sifatnya tetap sunnah bukan wajib.

Kewajiban Ibadah Aqiqah

Kewajiban aqiqah dalam aturan aqiqah  adalah tanggung jawab yang dibebankan untuk orang tua buah hati, namun bila orang tua belum sanggup menyembelihkan aqiqah untuknya hingga dia dewasa, maka dapat memotong hewan aqiqah untuk dirinya sendiri.

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata “Dan ia tidak diaqiqahi oleh ayahnya, lalu kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri, maka hal tersebut tidak menjadi masalah menurut saya, wallahu a’lam”.

Kemudian, untuk hewan yang boleh disembelih dalam aturan aqiqah  juga sudah ditentukan, ketentuannya mirip dengan hewan yang hendak disembelih untuk qurban, dilihat dari segi usia dan kriterianya. Imam Malik berkata “Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembelihan denda larangan haji) dan udhhiyah (qurban), tidak diperbolehkan dalam hal ini hewan yang sakit, kurus, picak dan patah tulang”. Kemudian Ibnu Abdul Barr berkata “Para ulama telah jima’ bahwa hewan aqiqah ini tidak diperbolehkan hal-hal atau apa yang tidak diperbolehkan dalam udhhiyah, harus dari Al-Azwaj Ats-Tsamaniyyah, yaitu domba, kambing, sapi, unta, kecuali pendapat yang ganjil yang tida dianggap”.

Nah namun tidak diperbolehkan dalam aqiqah berserikat seperti dibolehkannya berserikat dalam udhhiyah, baik domba/kambing, atau sapi ataupun unta. Oleh karenanya bila ada yang aqiqah dengan sapi ataupun unta, tidak diperbolehkan untuk tujuh orang sebagaimana pada qurban, hanya boleh untuk satu orang saja.

Mungkin Anda bertanya sebenarnya apa ketentuan hewan yang bisa diaqiqahkan? Dalam Aturan Aqiqah.  Bagi orang tua yang hendak mengakikah anaknya menginginkan hewan aqiqah yang penting sebagai syarat utama dalam melaksanakan aqiqah. Tentu saja hewan aqiqah yang dibutuhkan untuk bayi laki-laki tentu tidak sama dengan hewan aqiqah untuk anak perempuan.

Jumlah Kambing Aqiqah

Pada aqiqah anak laki-laki dianjurkan atau disunnahkan menggunakan dua ekor kambing. Namun bila tidak sanggup boleh hanya menggunakan satu ekor saja dan itu sudah ditafsir sah. Kemudian untuk anak perempuan, maka aqiqahnya hanya menggunakan satu ekor kambing atau domba yang telah memenuhi syarat sebagai hewan aqiqah. Mengenai daging hewan aqiqah, banyak ustad yang menyampaikan jika pembagiannya hampir sama dengan pembagian daging qurban, sebagiannya boleh disantap oleh keluarga yang diaqiqahkan dan yang lainnya boleh dibagikan pada fakir miskin maupun tetangga. Sedangkan bila ada keluarga dari yang diaqiqahkan tidak memakan dan membagikan seluruhnya kepada fakir miskin, tentu saja diperkenankan dan tidak ada halangan untuk itu.

Menurut Syaikh Utsaimin berkata “Dan tidak apa-apa dia mensedeqahkan darinya dan mengumpulkan kerabat dan tetangganya untuk menyantap daging aqiqah yang sudah matang”. Berbeda dengan Syaikh bin Baz, beliau memberikan hak antara mensedekahkan seluruhnya atau mensedekahkan sebagian dan memasaknya, selanjutnya memanggil saudara, teman, tetangga dan kaum muslimin yang lain untuk memakannya.

Dalam aturan Aqiqah  daging aqiqah disunnahkan dalam kondisi sudah matang atau sudah dimasak. Tentu saja ini yang membedakan dengan pembagian daging qurban yang lebih disarankan dalam keadaan mentah.

sebetulnya, banyak sekali faedah yang diperoleh dengan beraqiqah. Diantaranya menyelamatkan anak dari ketergadaian pembelaan orang tua di hari kemudian, menghindarkan anak dari musibah dan kehancuran sebagaimana pengorbanan Nasi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS, pembayaran hutang orang tua kepada anaknya dan pengungkapan rasa gembira demi tegaknya islam. Semuanya sudah tertulis dengan jelas di aturan Aqiqah .

Aturan Aqiqah Dalam Perspektif Agama Islam

Bagi Anda yang sedang mencari jasa aqiqah anak yang sesuai syariat,bisa menyaksikan penyembelihan secara langsung, masakan yang lezat,gratis beberapa menu olahan,fasilitas cukur gundul, pengantaran sampai lokasi, kemasan rapi dan eksekutif serta mendapatkan sertifikat bukti aqiqah. Bisa datang ke kantor pusat  kami di Jl Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D2 . Kontak kami Telepon/SMS/WhatsApp (WA)  0812 2234 6099

Sudah Dewasa Tapi Belum Aqiqah? Yuk Aqiqah di Aqiqah Al Kautsar

Sudah Dewasa Tapi Belum Aqiqah? Yuk Aqiqah di Aqiqah Al Kautsar– Ngomong-ngomong seputar aqiqah, pastinya sudah tahu dong. Aqiqah adalah menyembelih kambing sebagai rasa syukur atas kelahiran bayi yang lahir. Untuk anak lelaki, kambing yang disembelih adalah 2 ekor; untuk anak perempuan, hanya butuh satu ekor kambing saja. Sebagai salah satu amalan yang disyariatkan oleh agama Islam. 

Aqiqah juga dilakukan oleh Rasulullah. Karenanya, (menurut pendapat para ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad) aqiqah adalah Sunnah-lebih tepatnya sunnah mu’akkadah-yang diharapkan dengan sangat dilakukan. Pelaksanakan aqiqah sendiri bisa dimulai di hari ke tujuh, 14, atau 21 (kelipatan tujuh). Tapi, bagaimana jika si orang tua tidak mampu mengaqiqahkan anaknya hingga si anak baligh, dan si anak ingin mengaqiqahkan dirinya sendiri? Apa Anda, termasuk salah satunya? Sudah dewasa tapi belum aqiqah? Yuk aqiqah di Aqiqah Al Kautsar.

Aqiqah Dewasa

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimullah pernah berkata: “Hukum aqiqah itu sunnah mu’akkad. Aqiqah bagi anak laki-laki dengan 2 ekor kambing, sedangkan bagi perempuan dengan seekor kambing. Bila mencukupkan diri dengan seekor kambing untuk anak laki-laki, itu diperbolehkan. Anjuran aqiqah ini menjadi tanggung jawab ayah (yang menanggung nafkah anak). Bila sang bapak tidak kunjung mengaqiqahkan anaknya hingga melebihi waktu anjuran aqiqah karena orang tuanya dalam keadaan tidak mampu, maka perintah aqiqah gugur. Allah berfirman yang artinya: “Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At Taghobun: 16). Jika sang anak berfikir untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah dia dewasa dan mampu itu, apa hukumnya?

  • Nah, menurut Imam Atha dan Hasan Al-Bashri yang ditanyai seputar itu, mereka menjawab:

“Dia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri, karena aqiqah dianjurkan baginya dan tergadaikan dengan aqiqahnya. Untuk itu, dia dianjurkan untuk membebaskan dirinya.”

  • Sedangkan Imam Ahmad menjawab:

“Itu (aqiqah) adalah kewajiban orang tua—bapak, artinya tidaklah wajib mengaqiqahi diri sendiri. Karena yang lebih sesuai sunnah adalah aqiqah itu dibebankan pada bapak.”

Yang manapun Anda percayai, dan Anda tetap ingin mengaqiqahi diri sendiri karena merasa perlu dan mampu, bismillahi ta’ala…

Nah,  sudah dewasa tapi belum aqiqah? Yuk aqiqah di Aqiqah Al Kautsar.. Kenapa Al kautsar? Al Kautsar adalah salah satu penyedia layanan aqiqah siap saji yang ada di Jogja. Anda yang di Jogja bisa menggunakan jasa aqiqah Al Kautsar untuk mengurusi segala tetek bengek aqiqah. Anda tinggal pilih paket aqiqah mana yang sesuai dengan budget dan keperluan. Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik Daftar Harga Aqiqah Al Kautsar.

Hubungi Via Whatsapp 

Ikuti Instagram @aqiqahalkautsar 

Telp (Phone/SMS/WA): 0274 530 7684 atau 0812 2234 6099

 

Telp/ SMS/ WA via Telkomsel 0812 2234 6099

Alamat Kantor: Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D 2 Yogyakarta

Google Maps: Telusuri Peta Kantor Aqiqah Al Kautsar

 

3 Materi yang Disampaikan pada Ceramah Aqiqah

Ketika melaksanakan tasyakuran aqiqah, sudah pada umumnya dalam inti acara tasyakuran diisi dengan sebuah ceramah. Ceramah aqiqah adalah sebuah wejangan bagi para hadirin yang datang saat walimatul aqiqah anak Anda.

Bagi Anda yang sedang bingung ingin mengisi ceramah aqiqah dengan materi apa, artikel ini akan mengulas tentang 3 materi pokok yang ada pada ceramah aqiqah. Apa sajakah isi materi yang biasa ada pada ceramah aqiqah?

  1. Hukum Melaksanakan Aqiqah

Aqiqah dalam istilah syraiat agama adalah menyembelih hewan untuk anak yang baru lahir. Sembelihan ini adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dengan niat dan syarat-syarat yang telah diatur oleh agama.

Hukum aqiqah sebagaimana yang diungkapkan oleh kalangan Imam Syafii dan Hambali adalah sunnah muakkadah. Adapun dasar yang dipakai oleh kedua Imam ini adalah hadist Nabi SAW yang berbunyi,

“Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh dari kelahirannya. “

(Hadits Riwayat al-Tirmidzi dan Hasan Shahih)

  1. Makna Aqiqah

Kata aqiqah berasal dari bahasa arab al-aqqu atau al-qat’u yang berarti memotong. Adapula ulama’ yang mengatakan bahwa aqiqah juga berasal dari nama rambut di kepala anak yang baru lahir.

Secara ma’nawiyah, kambing yang disembelih jugadisebut aqiqah karena rambut anak tersebut dipotong ketika kambing itu disembelih.

Dalam pelaksanaan aqiqah disunahkan bagi orang tua untuk menyembelih dua ekor kambing yang seimbang bagi anak laki-laki dan satu ekor bagi anak perempuan.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ummi Kurz Al-Kabiyyah Ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :

“Bagi bayi laki-laki sembelihlah dua ekor kambing yang sama, sedangkan bagi bayi perempuan cukup satu ekor kambing”. (Hadits Riwayat Tirmidzy dan Ahmad)

Sementara pelaksanaan aqiqah menurut kesepakatan para ulama sendiri adalah pada hari ketujuh dari kelahiran. Sebagaimana dari hadits Samirah di mana Nabi SAW bersabda,

“Seorang anak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada pada hari ketujuh dan diberilah ia nama”.

(Hadits Riwayat al-Tirmidzi).

Namun apabila hari ketujuh telah terlewat dan aqiqah tidak bisa dilaksanakan maka bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Sementara jika pada hari ke-14 masih terlewat, maka bisa dilaksanakan pada hari ke-21 atau kapan saja selagi ia mampu.

  1. Orang-orang yang Berhak Mendapatkan Aqiqah

Setelah melaksanakan aqiqah, maka daging aqiqah hendaknya dibagikan kepada orang-orang yang berhak. Siapakah orang-orang yang berhak itu? Orang-orang yang berhak adalah mereka yang paling layak menerima sedekah.

Siapakah orang yang layak mendapatkan sedekah? Mereka adalah orang fakir dan miskin dari kalangan umat Islam. Ya, orang fakir miskin dari kalangan umat sangat diutamakan mendapatkan aqiqah.

Sebagaimana tertulis dari beberapa buah hadis dan juga amalan Rasulullah SAW beserta sahabat Nabi. Di mana selain disunatkan untuk memakan sebahagian daripada daging aqiqah tersebut, maka daging aqiqah juga hendaknya disedekahkan.

Orang yang melaksanakan aqiqah dianjurkan untuk bersedekah sebahagian untuk para fakir miskin. Lalu sebahagian lagi dihadiahkan kepada kerabat, tetangga ataupun saudara.

Ketiga materi tersebut, dari mulai hukum melaksanakan aqiqah, makna tentang aqiqah dan orang-orang yang berhak mendapatkan aqiqah pada umumnya sering menjadi materi untuk isi ceramah saat walimatul aqiqah.

Selain 3 materi tersebut, bisa juga acara walimatul aqiqah diisi dengan tat cara pelaksanaan aqiqah, syarat aqiqah, sunnah aqiqah dst. Semoga materi tentang ceramah aqiqah ini bisa membawa manfaat. Aamiin.

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas.

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik Aqiqah Al Kautsar.

Hubungi Via Whatsapp

Ikuti Instagram @aqiqahalkautsar

Telp (Phone/SMS/WA): 0274 530 7684 atau 0812 2234 6099

Telp/ SMS via XL Axiata 0819 3266 1699

Telp/ SMS/ WA via Telkomsel 0812 2234 6099

Telp/ SMS/ WA via Indosat 0858 68986 999

Alamat Kantor: Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D 2 Yogyakarta

Google Maps: Telusuri Lokasi Kantor Aqiqah Al Kautsar

Anak yang Belum Aqiqah masih Tergadaikan

“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama.” (HR. Abu Awud, no. 2838, at-Tirmidzi no. 1522, Ibnu Majah no. 3165 dll, dari sahabat Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu. Hadist ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, Syaikh al-Albanu dan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab al-Insyirah Fi Adabin Nikah hlm. 97). Nah dari nukilan hadist tersebut biasanya ada yang menyeletuk, anak yang belum aqiqah masih tergadaikan. Jadi apakah benar, jika anak belum diaqiqahkan maka si anak masih tergadaikan? Atau apa makna dari maksud anak tergadai dalam hadist aqiqah di atas? Simak baik-baik ulasannya di bawah ini.

Mungkin sebagian kita sebagai orang tua agaknya bingung dan sedikit khawatir mendengar kata-kata: anak yang belum aqiqah masih tergadaikan. Kata “tergadaikan” di nukilan hadist di atas oleh sebagian ulama kita, diartikan dengan beberapa makna:

  • Tertahan dari memberikan syafaat untuk kedua orang tua si bayi diaqiqah oleh orang tuanya, atau orang yang sekedudukan dengan orang tua si bayi.
  • Bayi itu tergadaikan dengan kotoran rambutnya.
  • Sesungguhnya, bayi itu tertahan dengan aqiqahnya. Artinya, si bayi tidak diberi nama dan rambutnya tidak dicukur, kecuali setelah kambingnya di sembelih untuk aqiqah.

Adapula yang berpendapat:

Syafaat yang diberikan pada orang tua oleh anak,tergadaikan dengan aqiqah. Yang mempunyai maksud:

▫    ketika si anak meninggal sebelum baligh dan belum juga diaqiqahi maka orang tuanya tidak mendapatkan syafaat anaknya di hari kiamat. Pendapat ini diriwayaktkan Imam Ahmad.

▫    Sementara dari Atha’ al-Khurasani—ulama tabi’in, diriwayatkan dari jalur al-Baihaqi dari jalur Yahya bin Hamzah, bahwa beliau bertanya pada Atha’ mengenai makna “anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Dan beginilah jawaban Atha’:

“Dia (orang tua) tidak bisa mendapatkan syafaat anaknya.” (Sunan al-Kubro, al-Baihaqi, 9/299).

  • Aqiqah adalah sebab lapangnya seorang anak dalam kemaslahatan agama dan dunia.

Aqiqah Anak

Makna tergadai yang berulang kali disampaikan sebagai pengingat: anak yang belum aqiqah masih tergadaikan, sebenarnya masih diperdebatkan. Sejumlah ulama berpendapat, Allah Azza wa Jalla menjadikan aqiqah sebagai pembebas gadainya dari setan—yang bersumpah pada Rabbnya, ia akan menghancurkan keturunan Adam kecuali sedikit di antara mereka. Setan ini akan mengganggu si bayi sejak ia lahir dengan mencubit pinggangnya. Nah dengan aqiqah, diharapkan si bayi akan terbebas dari tahanan setan terhadapnya—dari tawanan setan, dari halangan setan-setan yang berusaha mengganggu jalannya menuju kebaikan-kebaikan akhirat, tempat ia berpulang kelak.

Allah mensyariatkan para orang tua agar jangan sampai lupa: anak yang belum aqiqah masih tergadaikan. Lepaskan “gadainya” dengan sembelihan yang dijadikan tebusannya. Jika orang tuanya belum menyembelih atau beraqiqah untuk buah hatinya, artinya si anak masih tergadai. Rasulullah bersabda:

“Maka alirkan darah kamu untuk kamu agar syafaat anak-anakmu sampai padamu.”

Maksudnya dengan “alirkan darah”—melakukan aqiqah (menyembelih kambing), dan menghilangkan kotoran yang nampak pada bayi, yaitu degan mencukur atau memotong  rambut si bayi dengan maksud membebaskan si bayi dari kotoran lahir dan batin. Sebuah hadist yang disebutkan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, dengan arti:

“Bersama seorang bayi ada aqiqah, maka alirkan darah (semelihan aqiqah) untuknya, dan singkirkan kotoran (cukurlah rambunya) darinya.” (HR. Bukhari secara mu’llaq dan diwashalkan oleh Thahawi, juga riwayat Abu dawud, 2839, Tirmidzi no. 1515).

Itulah tadi sekilas informasi tentang pentingnya Aqiqah untuk anak sebagai rasa syukur atas kelahirannya. Semoga bermanfaat.

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas.

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik Aqiqah Al Kautsar.

Hubungi Via Whatsapp

Ikuti Instagram @aqiqahalkautsar

Telp (Phone/SMS/WA): 0274 530 7684 atau 0812 2234 6099

Telp/ SMS/ WA via Telkomsel 0812 2234 6099

Alamat Kantor: Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D 2 Yogyakarta

Google Maps: Telusuri Peta

3 Kebutuhan Dasar Dekorasi Aqiqah Anak

Anda bingung memikirkan dekorasi apa saja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan aqiqah anak Anda? Tidak perlu bingung, percayakan saja dengan event organizer dari jasa aqiqah yang siap melayani dekorasi aqiqah anak Anda.

Jika acara aqiqah anak Anda ingin diselenggarakan dengan semeriah atau sesederhana mungkin, jasa aqiqah siap membantu kebutuhan dekorasi anak Anda. Apa saja kebutuhan dekorasi aqiqah anak? Cari tahu jawabannya di bawah ini.

 

Makna Aqiqah

Melaksanakan aqiqah merupakan sebuah pengamalan terhadap sunnah nabi. Selain itu aqiqah juga merupakan bukti bahwa seorang muslim mengikuti tradisi umat Islam terdahulu.

Sebelum Islam datang, orang Arab juga telah memiliki tradisi mengaqiqahkan anak mereka. Hanya saja tradisi orang Arab pada masa Jahiliyyah dulu mau melakukan aqiqahkan hanya untuk bayi laki-laki saja.

Sementara itu cara mengaqiqahinya pun dengan melumuri darah kambing pada bayi mereka. Lalu setelah Rasulullah SAW diutus, beliau tetap membiarkan tradisi aqiqah itu bahkan melakukannya serta menganjurkan kaum muslim untuk melakukannya.

Hanya saja Rasulullah mulai mengubah tradisi orang jahiliyah. Dari yang dahulu sang bayi dilumuri darah menjadi hanya mencukur dan memberinya nama. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad.

“Semua anak bayi akan tergadaikan dengan aqiqahnya pada hari ketujuh ia dilahirkan. Maka sembelihlah hewan (kambing), berilah nama dan cukur rambutnya.”

[Hadis Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad]

 

Mengapa Memilih Dekorasi?

Ketika Anda hendak melakukan proses aqiqah, maka pelaksanaan aqiqah pastinya patut untuk disertai dengan mendekor ruangan dengan berbagai dekorasi aqiqah. Nah, akan lebih menarik lagi jika dekorasi aqiqah adalah Anda sendiri yang membuatnya.
Jika Anda tertarik untuk membuat sendiri, maka buatlah dengan bentuk dekorasi yang unik. Jika Anda mempercayakan dengan event organizer maka mintalah dengan tema-tema dekorasi yang unik dan menarik.
Hal ini perlu Anda lakukan sebab di saat acara aqiqah anak Anda nantinya akan banyak berdatangan para tetangga, tamu undangan. kerabat dan saudara yang berkumpul di rumah Anda.

Dengan dekorasi yang unik dan menarik, Anda bisa mengabadikan momen istimewa buah hati Anda. Anda dapat mengambil gambar saat sang ayah mencukur rambut bayi Anda dengan latar belakang dekorasi aqiqah yang telah dihiasi dengan hiasan yang unik dan menarik.
Pada umumnya acara aqiqah juga disertai dengan acara doa bersama yang disertai dengan pengumuman nama sang anak. Nah, setelah itu barulah Anda bersama keluarga, tetangga, tamu undangan serta sanak saudara menikmati hidangan.
Intinya dalam melaksanakan aqiqah adalah bagaimana Anda menyedekahkan, memberi dan menghadiahkan makanan terhadap sesama muslim. Jadi dengan kelahiran anak Anda, sambutlah dengan  penuh suka cita dengan dekorasi yang unik dan menarik.

Kebutuhan Dekorasi Anak
Jika Anda ingin melaksanakan aqiqah, maka dekorasi aqiqah anak yang paling penting untuk Anda persiapkan adalah:

  1. Tenda Dekorasi
  2. Kursi
  3. Dekorasi pelaminan bayi costumize

Bisa saja Anda menambahkan dekorasi ayunan aqiqah untuk anak Anda dengan ayunan bayi. Untuk dekorasi ayunan bisa Anda tambahkan dengan bunga hias, kain hias, pita hias, pompom, 2 buah paper rosette fans dan 2 buah paper lantern.
Untuk dekorasi catering Anda, bisa Anda tambahkan dekorasi Meja Buffet dan Dessert juga gubukan.

Seperti itulah ulasan mengenai dekorasi aqiqah anak Anda. Persiapkan aqiqah anak Anda dengan semenarik mungkin, ya.

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas.

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik Aqiqah Al Kautsar.

Klik Whatsapp
Klik Instagram 

Telp (Phone/SMS/WA): 0274 530 7684 atau 0812 2234 6099
Telp/ SMS/ WA via Telkomsel 0812 2234 6099


Alamat Kantor: Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D 2 Yogyakarta
Gmaps: Telusuri

Perihal Pembagian Daging Aqiqah

Pertanyaan-pertanyaan mengenai bolehkah kita makan daging aqiqah kita sendiri sering muncul apabila kita hendak melaksanakan aqiqah untuk anak kita. Maka dari itu untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka berikut adalah hukumnya.Masih ada beberapa pertanyaan dan kegelisahan dari kalangan umat muslim ketika ditanya, bolehkah kita makan daging aqiqah kita sendiri? Pertanyaan itu sering muncul karena pada umumnya kita tidak mengetahui bagaimana hukum itu sendiri.

Dalil Mengenai Hukum Memakan Daging Aqiqah

Mengenai hukum yang mengatur boleh tidaknya kita memakan daging aqiqah memang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an maupun hadits. Namun Nabi Muhammad sendiri tidak melarang umatnya untuk memakan daging aqiqah.

Oleh sebab itu hukum memakan daging aqiqah bagi yang melaksanakan aqiqah sendiri hukumnya adalah boleh atau mubah. Sebab tidak adanya dalil yang menunjukkan bahwa memakan daging aqiqah adalah haram.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fatawa al-Lajnah al-Daimah (11/443) yang menjawab tentang pertanyaan kita. Bolehkah kita makan daging aqiqah kita sendiri?

لمن إليه العقيقة أن يوزعها لحماً نيئاً أو مطبوخاً على الفقراء والجيران والأقارب والأصدقاء ، ويأكل هو وأهله منها ، وله أن يدعو الناس الفقراء والأغنياء ويُطعمهم إياها في بيته ونحوه ، والأمر في ذلك واسع

“Bagi orang yang melaksanakan aqiqah disarankan bagi ia hendaknya untuk membagikan aqiqahnya dalam bentuk daging mentah ataupun daging yang sudah dimasak kepada para fakir miskin, tetangga, kerabat dekat dan juga teman-temannya.

Dan disarankan bagi ia agar keluarganyapun untuk ikut memakan daging aqiqahnya. Ia juga boleh mengundang orang-orang miskin dan juga orang kaya untuk menyantap hidangan olahan aqiqah di rumahnya ataupun semisalnya. Permasalahan ini sangatlah begitu lapang.”

Perihal Pembagian Daging Aqiqah

Selain boleh untuk kita makan sendiri, daging aqiqah juga bisa dimakan oleh kakek, nenek, saudara dan anak itu sendiri. Kita juga bisa  menghadiahkan sebagian daging olahan aqiqah kita dan mensedekahkannya sebagian lagi.

Sebagaimana Syaikh Utsaimin berkata: “Dan tidak mengapa jika dia hendak menyedekahkan darinya daging aqiqah dan mengumpulkan kerabat juga tetangga untuk ikut menyantap makanana daging aqiqah yang telah matang”

Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada kaum muslimin, dan boleh mengundang teman-teman dan kerabat untuk menyantapnya, atau boleh juga dia mensedekahkan semuanya.

Syaikh Ibnu Bazzpun juga berkata hal yang sama : Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan daging aqiqah seluruhnya atau sebagiannya dan kemudian memasaknya. Setelah dimasak kemudian mengundang orang yang sekiranya engkau lihat pantas diundang.

Bisa saja engkau mengundang dari kalangan kerabat, tetangga, teman-teman seiman dan sebagian orang fakir untuk ikut menyantapnya.

Apa yang diucapkan Syaikh Jibrin dan Ibnu Bazzpun juga diamini oleh ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Ya, memang ada perbedaan antara daging ‘Aqiqah dengan Qurban. Jika daging Qurban dibagi-bagikan kepada yang berhak dalam keadaan mentah, namun ‘aqiqah dibagi-bagikan kepada yang berhak dalam keadaan matang.

Adapun hikmah yang kita dapat dari aqiqah adalah timbullah rasa kasih sayang di masyarakat. Melaksanakan aqiqah pula terbebaslah tali belenggu yang menghalangi anak kita untuk memberikan syafaatnya pada orang tuanya.

Mungkin seperti itulah yang sekiranya bisa menjawa pertanyaan kita, bolehkah kita makan daging aqiqah kita sendiri? Sebagaimana ijma’ para ulama’, maka jawabannya adalah boleh.

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik Aqiqah Al Kautsar.

Klik Whatsapp

Klik Instagram

Telp (Phone/SMS/WA): 0274 530 7684 atau 0812 2234 6099000000000

Telp/ SMS/ WA via Telkomsel 0812 2234 6099

Alamat Kantor: Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D 2 Yogyakarta

Gmaps: Telusuri

Waktu Pelaksanaan Ibadah Aqiqah

Sebab bagi orang tua yang berasa dari kalangan yang mampu secara ekonomi, hukum aqiqah adalah wajib, bukan lagi sunnah. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui waktu pelaksanaan ibadah aqiqah.Mengetahui waktu pelaksanaan ibadah aqiqah bagi orang tua sangat dianjurkan. Jangan sampai jika orang tua berasal dari kalangan yang mampu secara finansial tidak mengetahui waktu untuk melaksanakan aqiqah, atau bahkan lupa dan tidak melaksanakannya.

Dalil Mengenai Waktu Pelaksanaan Ibadah Aqiqah

Dalil  yang berbicara mengenai waktu pelaksanaan aqiqah adalah :

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ  يَوْمَسَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Setiap anak yang lahir tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dan pada hari itu diberilah ia nama dan digunduli rambutnya.”

(Hadits Sahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Baihaqi dan Hakim)

. وَزَنَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ شَعَرَ حَسَنٍ وَحُسَيْنٍ، فَتَصَدَّقَتْ بِزِنَتِهِ فِضَّةً

Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW pernah beraqiqah untuk Hasan dan Husein pada hari ketujuh…”

(Hadits Riwayat Ibnu Hibban, Hakim dan Baihaqi)

Kelahiran seorang anak bagi sebuah keluarga tentunya akan menambah kebahagiaan dan kerukunan rumah tangga. Maka dari itu penting bagi sebuah keluarga untuk mengetahui waktu pelaksanaan ibadah aqiqah.

Sebagaimana kedua hadits yang telah dijelaskan di atas, maka waktu untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh dari kelahiran si anak, berdasarkan hadits Samurah bin Jundab dan Sayyidina Aisyah yang telah dituliskan di atas.

Adapun selain di hari ketujuh, hewan aqiqah juga bisa disembelih pada hari keempat belas, atau pada hari keduapuluh satu, atau pada minggu-minggu berikutnya.

Dalil Mengenai Hukum Pelaksanaan Aqiqah untuk Anak yang Sudah Dewasa

Sementara bagi orang tua yang berasal dari kalangan ekonomi yang kurang mampu dan tidak bisa melaksanakan aqiqah hingga anaknya sudah dewasa, maka waktu pelaksanaan aqiqah baginya tidak ditentukan, bahkan gugur kewajibannya.

Hukum aqiqah bagi anak yang sudah beranjak dewasa berdasarkan ijma’ ulama’ adalah :

Berdasarkan kitab Al Muntaqa min Fatawa Al Fawzan, (5/84 Asy Syameal). Syeikh Al Fauzan Hafizhahullah berkata:

“Apabila orangtua melaksanakan aqiqah, maka sungguh ia telah meninggalkan sunnahnya. Dan apabila orangtua belum mengaqiqahi anaknya kemudian sang anak mengaqiqahi dirinya sendiri, maka hal itu tidaklah mengapa, sepenglihatan saya, wallahu a’lam.”

Lalu berdasarkan dalil menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berdasarkan kitab Tuhfat Al Mawdud Bi Ahkam Al Mawlud, (hal. 80 Asy Syamela). Ia berkata:

الفصل التاسع عشر : حكم من لم يعق عنه أبواه هل يعق عن نفسه إذا بلغ ، قال الخلال : باب ما يستحب لمن لم يعق عنه صغيرا أن يعق عن نفسه كبيرا ، ثم ذكر من مسائل إسماعيل بن سعيد الشالنجي قال : سألت أحمد عن الرجل يخبره والده أنه لم يعق عنه ، هل يعق عن نفسه ؟ قال : ذلك على الأب .

Barang siapa yang belum diaqiqahi atasnya oleh kedua orantunya, apakah ia mengaqiqahi dirinya jika sudah baligh, berkatalah Al Khallal:

“Bab Anjuran bagi siapa yang belum diaqiqahi atasnya semasa kecil, maka ia  boleh mengaqiqahi atas dirinya sendiriketika dewasa. Kemudian ia menyebutkan pertanyan-pertanyaan Isma’il bin Sa’id Asy Syalinji, ia berkata:

“Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang seorang anak yang orangtuanya memberitahukkannya kepadanya bahwa ia belum diaqiqahi, apakah boleh untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri? Beliau menjawab: “(Aqiqah) itu kewajiban bapak.

Seperti itulah ulasan mengenai waktu pelaksanaan ibadah aqiqahSemoga bermanfaat.

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik Aqiqah Al Kautsar.

Klik Whatsapp

Klik Instagram

Telp (Phone/SMS/WA): 0274 530 7684 atau 0812 2234 6099

Telp/ SMS/ WA via Telkomsel 0812 2234 6099

Alamat Kantor: Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D 2 Yogyakarta

Gmaps: Telusuri

Kandungan dalam Risalah Aqiqah

 

Kandungan dalam Risalah Aqiqah

Ketika melaksanakan aqiqah, terdapat sebuah risalah aqiqah yang pada umumnya diberikan kepada hadirin yang menghadiri walimatul aqiqah. Memberikan risalah aqiqah sendiri tidak wajib hukumnya, tergantung orang yang menyelenggarakan aqiqah.

Jika penyelenggara aqiqah mempercayakan pelaksanaan aqiqahnya kepada jasa aqiqah, ada beberapa jasa aqiqah yang layanannya juga memberikan risalah aqiqah. Risalah aqiqah sendiri adalah semacam handbook yang berisi tulisan-tulisan mengenai aqiqah.

Apa saja materi tulisan yang biasa ada di risalah aqiqah? Berikut adalah 4 poin utama yang biasa terkandung di dalam risalah aqiqah.

1. Makna Aqiqah

Kata aqiqah berasal dari bahasa arab, ‘al-Aqqu atau al-qot’u yang berarti memotong. Beberapa ulama’ sendiri berpendapat, bahwa kata aqiqah asalnya adalah rambut di kepala anak yang baru lahir.

Bisa pula aqiqah dikaitkan dengan arti kambing yang dipotong. Jadi disebut aqiqah karena rambut anak tersebut dipotong ketika kambing itu juga disembelih.

Pelaksanaan aqiqah sendiri disunahkan untuk memotong dua ekor kambing yang sifatnya seimbang untuk anak laki-laki dan memotong satu ekor kambing untuk anak perempuan.

Sebagaimana hadits dari Ummi Kurz Al-Kabiyyah Ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SA bersabda :

 “Bagi anak laki-laki sembelihlah dua ekor kambing yang sama, sedangkan bagi anak perempuan cukup satu ekor kambing”.

(Hadits Riwayat Tirmidzy dan Ahmad)

2. Hukum Melaksanakan Aqiqah

Hukum aqiqah menurut ulama’ dari kalangan Imam Syafii dan Hambali adalah sunnah muakkadah.

Dasar yang dipakai oleh ulama’ kalangan Imam Syafii dan Hambali adalah, bahwasannya dengan mengatakan aqiqah sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah adalah hadist Nabi SAW yang berbunyi,

“Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya.. (Hadits Riwayat al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

3. Aqiqah yang Sesuai dengan Sunnah

Sebagaimana yang telah disepakati oleh beberapa ulama’, bahwa pelaksanaan aqiqah adalah pada hari ketujuh dari kelahiran sang anak. Hal ini berdasarkan hadits Samirah di mana Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Seorang anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkanlah ia aqiqah pada hari ketujuh dan diberilah ia nama”.

(Hadits Riwayat al-Tirmidzi).

Namun apabila di hari ketujuh telah terlewat dan orang tua tidak bisa melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh, ia bisa melaksanakannya pada hari ke-empat belas. Dan apabila ia tidak juga bisa melaksanakan, maka bisa di hari ke-dua puluh satu atau kapan saja ia mampu.

Imam Malik berkata :

Pada dzohirnya sang anak bahwa keterikatannya adalah pada hari ke 7 (tujuh) atas dasar anjuran. Maka sekiranya orang tua menyembelih pada hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah cukup.

Karena prinsip dalam ajaran Islam adalah memudahkan bukan menyulitkan sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT :

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”.

 (QS. Al Baqarah : 185)

4. Orang yang Berhak Menerima Aqiqah

Orang-orang yang paling layak menerima sedekah daging aqiqah adalah orang fakir dan miskin dari kalangan umat Islam. Sebelum dibagikan kepada orang-orang yang berhak, berdasarkan beberapa buah hadis dan amalan Rasulullah dan sahabat Rasulullah.

Orang yang melaksanakan aqiqah disunatkan juga memakan sebahagian daripada daging tersebut. Lalu bersedekah sebahagian dan menghadiahkan sebahagiannya lagi. Bersedekan artinya diberikan kepada orang-orang fakir miskin.

Dihadiahkan berarti diberikan kepada tetangga, kerabat, dan teman kerja dsb. Seperti itulah ulasan mengenai 4 poin yang ada dalam risalah aqiqah, semoga bermanfaat.

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik Aqiqah Al Kautsar.

Klik Whatsapp 

Klik Instagram 

Telp (Phone/SMS/WA): 0274 530 7684 atau 0812 2234 6099

Telp/ SMS/ WA via Telkomsel 0812 2234 6099

Alamat Kantor: Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D 2 Yogyakarta

Gmaps: Telusuri