Hukum Pernikahan yang Batal dan Macam-macamnya

Hukum Pernikahan yang Batal dan Macam-macamnya

Nikah  – Pendapat para ahli fiqih terkait pernikahan yang batal beserta penjelasan mengenai hukum-hukumnya.

  • Hukum Pernikahan yang Tidak Sah Menurut Ulama Hanafiah

Pernikahan yang tidak sah adalah -sebagaimana telah disebutkan sebelumnya- adalah pernikahan yang cacat di dalam rukun atau salah satu syarat pelaksanaannya, seperti pernikahan anak kecil yang belum mumayyiz, pernikahan dengan ungkapan yang menunjukkan ke masa yang akan datang, serta pernikahan dengan mahram, seperti saudara perempuannya dan bibinya, menurut pendapat yang kuat. 

Demikian juga pernikahan seorang perempuan yang sudah menikah dengan seorang lelaki lain, dengan syarat mengetahui bahwa perempuan tersebut telah menikah, pernikahan seorang perempuan muslimah dengan laki-laki non muslim dan pernikahan seorang muslim dengan perempuan selain Ahli Kitab, seperti majusi atau atheis dan lain sebagainya.

Hukum pernikahan yang batil (tidak sah) adalah bahwa pernikahan ini tidak mengakibatkan konsekuensi apapun dari pengaruh-pengaruh pernikahan yang sah. Oleh karenanya, si lelaki tidak halah menggauli si perempuan. Serta tidak wajib membayar mahar memberi nafkah dan ketaatan dari si perempuan.

Demikian juga, mereka berdua tidak dapat saling mewarisi ataupun hubungan mushaharah (besanan). Juga diwajibkan tidak terjadi hubungan intim di antara mereka keduanya. fika hal ini terjadi, hakim berhak memisahkan keduanya secara paksa, tidak ada masa iddah setelah berpisahnya seperti halnya pernikahan yang mauquf (ditunda) sebelum dapat persetujuan.

  • Hukum Pernikahan yang Tidak Sah dan Menurut Ulama Malikiah

Menurut mayoritas ulama, kecuali ulama Hanafiah, tidak sah dan cacat adalah satu makna. Oleh karena itu, pernikahan yang tidak sah atau pun cacat menurut ulama Malikiah adalah pernikahan yang terjadi karena rusak (cacat) dalam salah satu rukun atau dalam salah satu syarat sahnya nikah. Yang terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Pernikahan yang disepakati para ahli fikih akan kerusakannya. Seperti menikahi salah satu mahram dari satu keturunan atau dari satu tempat penyusuan atau ikatan besanan.

Kedua: Pernikahan yang menjadi selisih para ahli fikih akan kerusakannya, yaitu pernikahan yang rusak menurut ulama Malikiah dan sah menurut sebagian ahli fikih. Dengan syarat perselisihannya berat. Seperti pernikahan orang yang sakit, dalam hal ini tidak boleh, menurut pendapat yang masyhur dari kalangan Malikiah. Namun, jika perbedaan pendapat itu ringan seperti pernikahan mut’ah atau menikahi istri yang kelima, maka secara sepakat mereka mengatakan rusak nikahnya.

pernikahan yang batal

  • Macam-Macam Pernikahan yang Tidak Sah Menurut Ulama Syafi’iah

Pernikahan yang batal adalah pernikahan yang tidak sempurna rukunnya. Sedangkan pernikahan yang fasid (rusak) adalah pernikahan yang tidak sempurna syaratnya dan terdapat cacat setelah terlaksana. Secara umum, ulama Syafi’iah menilai hukum keduanya sama. 

Maksudnya, salah satu dari kedua jenis pernikahan ini tidak mengakibatkan terlaksananya konsekuensi-konsekuensi pernikahan yang sah. Dengan demikian, tidak diwajibkan adanya mahat nafkah, tidak ada hubungan mahram sebab mushaharah (besanan), penetapan nasab dan iddah. Pernikahan yang tidak sah tersebut jumlahnya banyak sekali, yang paling utama ada 9 macam:

  1. Nikah syighar, seperti mengatakan, ‘Aku nikahkan kamu dengan putriku, dengan syarat kamu menikahkanku dengan putrimu.
  2. Nikah mut’ah adalah pernikahan yang dibatasi dengan waktu tertentu. 
  3. Pernikahan orang yang sedang berihram. Pernikahan tidaklah sah ketika salah satu dari pelaku akad atau calon istri sedang dalam keadaan ihram haji atau umrah atau dua-duanya; 
  4. Poliandri; yaitu dua orang wali menikahkan seorang perempuan dengan dua lelaki dan tidak jelas siapa di antara keduanya yang paling duluan.
  5. Pernikahan mu’taddah (perempuan yang sedang iddah) dan perempuan yang sedang istibraa’, sekalipun dari wath’u syubhat.
  6. Nikah wanita yang ragu dengan kehamilannya sebelum habis masa iddahnya. 
  7. Nikah seorang muslim dengan perempuan kafir, selain dari ahli kitab, seperti penyembah berhala majusi, penyembah matahari atau bulan, murtaddah.
  8. Perempuan yang suka pindah-pindah agama.
  9. Pernikahan seorang muslimah dengan laki-laki kafir dan pernikahan perempuan murtad.
  • Macam-Macam Pernikahan Rusak Menurut Ulama Hanabilah

Pernikahan yang rusak ada dua macam:

Pertama: Pernikahan yang tidak sah dari asalnya, yaitu ada empat akad:

  1. Nikah syirghar, yaitu seorang wali menikahkan perempuan yang ada dalam tanggungiawabnya dengan seorang lelaki, dengan syarat lelaki tersebut mau menikahkannya dengan perempuan yang ada dalam tanggung jawab kewaliaannya juga, tanpa ada mahar.
  2. lNikah muhallil, yaitu seorang lelaki menikahi perempuan dengan syarat ketika telah menggaulinya maka ia akan menceraikannya, atau tidak ada lagi ikatan pernikahan antarkeduanya.
  3. Nikah mut’ah, yaitu seorang lelaki menikahi seorang perempuan untuk jangka waktu tertentu, memberikan syarat untuk menceraikannya pada waktu tertentu atau berniat di dalam hatinya untuk menceraikan pada jangka waktu tertentu.
  4. Nikah mu’allaq (bersyarat), yaitu seperti mengatakan, “Aku menikahkanmu jika datang awal bulan, atau jika ibunya meridhai, atau jika istriku melahirkan anak perempuan maka aku nikahkan kamu dengannya.”

Kedua: Pernikahan sah tanpa ada syarat Seperti halnya jika mensyaratkan tanpa mahar atau nafkah, atau agar sang suami membagi jatah kepada istri tersebut lebih banyak atau lebih sedikit dari pada istri-istri yang lainnya. 

Atau jika kedua atau salah satunya mensyaratkan tanpa adanya hubungan intim atau faktor-faktor yang menyebabkannya. Atau mensyaratkan seorang istri memberi suami sesuatu atau memberi nafkah kepadanya. Juga jika ia menceraikannya maka ia harus mengembalikan barang pemberian tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *