Kondisi Wajibnya Mahar, Pembagiannya, dan Kegugurannya

Kondisi Wajibnya Mahar, Pembagiannya, dan Kegugurannya

Nikah – Kondisi wajibnya mahar, pembagian, dan kegugurannya menurut pendapat para ahli fiqih.

  • Kewajiban mahar

Para fuqaha telah bersepakat bahwa mahar wajib dengan akad yang sama jika memang sah perkawinannya. Yang wajib adalah mahar musamma jika penentuannya benar dan mahar mitsil jika tidak ada penentuan. Atau penentuannya rusak, atau ada kesepakatan untuk meniadakan mahar.

Jumhur fuqaha yang selain mazhab Hanafi mengungkapkan mengenai hal ini, mereka berkata, si perempuan memiliki mahar musamma dengan akad jika akadnya benar, kecuali mazhab Maliki yang memiliki pendapat bahwa berdasarkan atas mazhab si perempuan memiliki setengah bagian mahar dengan akad.

Jika akad perkawinan fasid, atau terjadi persetubuhan dengan syubhat, seperti dia diberi perempuan yang selain perempuan yang dia kawini, dan para perempuan berkata kepadanya “dia adalah isteri kamu” Maka dia harus mengeluarkan mahar mitsil dengan persetubuhan yang hakiki sebagai sebuah kewajiban yang tegas yang tidak hilang kecuali dengan pelaksanaan ataupun dengan pembebasan. 

  • Penegasan mahar

Para fuqaha telah bersepakat bahwa kewajiban mahar dalam akad yang sahih tegas dengan persetubuhan ataupun kematian, baik dengan mahar musamma, ataupun mahar rnitsil, sehingga setelah itu mahar tidak hilang kecuali dengan pembebasan dari si pemilik hak. Mereka juga telah bersepakat dalam penetapannya di dalam dua perkara; khalwat yang sahih dan tinggalnya istri dalam masa satu tahun sejak dia di antarkan kepada suami tanpa melakukan persetubuhan.

Mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat, mahar juga tetap sebab khalwat yang sahih. Pendapat mereka ini bertentangan dengan pendapat mazhab Maliki dan Syafi’i. Mazhab Maliki memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat iumhur, yaitu: ditetapkan dan diwujudkan mahar dengan tinggalnya seorang istri selama satu tahun setelah dihantarkan dengan tanpa digauli. Mazhab Hambali menambahkan, sesungguhnya mahar juga ditegaskan dengan talak firaar sebelum terjadinya persetubuhan dalam masa penyakit kronis.

Pembicaraan masing-masing dari sebab ini jelas dengan yang berikut ini:

1. Persetubuhan Yang hakiki

Yaitu persetubuhan atau hubungan seks, meskipun perbuatan ini dengan cara yang haram di bagian vagina maupun di bagian anus, dengan masuknya penis atau kadarnya dari bagian yang dikhitan. Atau dilakukan dalam kondisi haid, nifas, ihram, puasa, ataupun i’tikaf. Tindakan ini menegaskan kewajiban mahar.

2. Kematian

Kematian salah satu pasangan suami atau istri sebelum terjadi persetubuhan dalam pernikahan yang sah menurut kesepakatan para fuqaha. Juga sebelum terjadinya khalwat yang sah menurut mazhab Hanafi dan Hambali.

Jika salah seorang pasangan suami atau istri meninggal dunia sebelum terjadinya persetubuhan dalam pernikahan yang sah, si perempuan berhak mendapatkan semua mahar menurut kesepakatan fuqaha jika pernikahan tersebut menyebutkan mahar di dalam akad; karena akad perkawinan tidak bisa batal akibat kematian, hanya saja terhenti dengan adanya kematian. Oleh karena itu, semua hukumnya ditetapkan dengan terhentinya masa akad perkawinan, di antaranya adalah mahar. Dengan adanya ijma’ sahabat dengan penetapan mahar akibat kematian

3. Khalwat yang sahih, untuk mengeluarkannya dari khalwat yang fasid

Khalwat yang sahih adalah, suami-istri berkumpul setelah melakukan akad sahih di sebuah tempat yang membuat keduanya mampu bercumbu secara sempurna. Yaitu sebuah tempat yang tidak bisa oleh seorang pun memasuki ketika keduanya tengah berdua-duaan. Salah satu dari keduanya tidak memiliki halangan yang alami, indrawi, atau yang bersifat syariat yang membuatnya tercegah untuk melakukan persetubuhan.

4. Tinggalnya istri selama satu tahun di rumah suami setelah dilakukan hantaran tanpa terjadi persetubuhan.

5. Talak firaar pada masa sakit kronis sebelum terjadi persetubuhan

Penetapan mahar juga menurut mazhab Hambali sebab perceraian yang terjadi kepada istri dalam kondisi suami tengah mengalami penyakit kronis. Sebelum dia sempat menggauli istrinya jika dia menceraikannya dengan tujuan untuk menghindarkannya dari hartawarisannya. Kemudian si suami meninggal dunia. Maka penetapannya untuk si istri mahar secara penuh dengan kematian suaminya, akibat adanya kemestian baginya untuk menjalani masa iddah kematian dalam kondisi yang seperti ini, selama dia tidak kawin lagi atau melakukan tindakan kemurtadan.

Menurut mazhab Hanafi, menetapkan mahar karena salah satu dari ketiga sebab ini; persetubuhan, khalwat yang sahih, dan kematian salah satu pasangan suami-istri. Sedangkan menurut mazhab Maliki akibat salah satu dari ketiga sebab ini, yaitu: persetubuhan, maksudnya persetubuhan yang terjadi kepada perempuan dengan secara suka rela. Dan yang melakukan adalah seorang laki-laki yang telah baligh walau pun dengan cara yang haram, kematian salah satu dari kedua pasangan suami-istri. Berdiamnya si istri selama satu tahun di rumah suami dengan tanpa persetubuhan dengan syarat dia telah baligh dan dia melakukannya dengan secara suka rela.

Sedangkan menurut mazhab Syafi’i, penetapan mahar dengan salah satu dari kedua perkara ini: persetubuhan walaupun dengan cara yang haram, dan kematian salah satu pihak suami-istri, tanpa mengikut sertakan khalwat dalam perkataan yangjadid. Sedangkan menurut mazhab Hambali, penetapan mahar dengan salah satu dari ketiga perkara ini: persetubuhan, kematian ataupun pembunuhan, dan perceraian dalam kondisi kematian suami sebelum melakukan lakukan persetubuhan dengan istri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *