Hak Hak Istri

Hak Hak Istri

Nikah – Hak-hak istri; Istri memiliki berbagai hak materil yang berupa mahar dan nafkah, serta hak nonmateril, yaitu; hubungan baik, perlakuan yang baik dan keadilan.

Mengenai mahar tadi kita telah membicarakannya secara mendetail. Dan kita telah mengetahui bahwa itu adalah hak khusus perempuan berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Berdasarkan firman Allah SWT,

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (an-Nisaa’: 4)

Telah ada dalam hadits bahwa perkawinan Nabi saw. tidak pernah terlepas dari mahar. Sedangkan nafkah, kami khususkan pembahasan tersendiri mengenainya. Ini adalah perkara yang juga telah ada di dalam Al-Qur’an dan hadits. Berdasarkan firman Allah SWT, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf.” (al-Baqarah: 233) Juga dari Mu’awiyah al-Qusyairi, “Sesungguhnya Nabi ditanya oleh seorang laki-laki, Apakah hak istri yang harus dipenuhi oleh suami?” Beliau menjawab,

Kami berikan dia makan jika kamu makan, kamu pakaikan dia jika kamu mengenakan pakaian. Dan jangan kamu pukul wajahnya. Dan jangan kamu buat dia menjadi buruli. lDan jangan kamu tinggalkan dia kecuali di dalam rumah.

Maksudnya, jangan kamu katakan kepada istrimu, “Mudah-mudahan Allah membuatnya menjadi jelek.” Dan meninggalkannya adalah di tempat tidur bukannya si suami pergi meninggalkan istrinya pindah ke rumah yang lain, atau dia pindahkan istrinya ke rumah yang lain. Maksudnya hubungan adalah, kebaikan dan kedekatan yang terjadi di antara suami-istri.

Masing-masing setiap pasangan suami istri harus memperlakukan yang lain dengan penuh kebaikan. Dengan cara menemaninya dengan baik dan menahan aniaya. Jangan sampai dia tahan haknya yang sesuai dengan kemampuannya. Juga jangan sampai dia tampakkan ketidaksenangannya terhadap apa yang dia berikan. Bahkan dia perlakukan pasangannya dengan penuh keceriaan dan kegembiraan. Jangan dia balas perlakuan baiknya dengan aniaya karena ini adalah termasuk kebaikan. Berdasarkan firman Allah SWT,

Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (an-Nisaa’: 19)

Juga firman Allah SWT, “Dan para wanita mempunyai hak Yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (al-Baqarah: 228)

Abu Zaid berkata, “Merasa takutlah kalian kepada Allah mengenai mereka, sebagaimana mereka juga harus merasa takut kepada Allah mengenai kalian.” Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya aku suka berdandan untuk istriku, sebagaimana aku merasa suka iika dia berdandan untuk diriku,” karena Allah swt. berfirman, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.

Telah ditetapkan di dalam hadits perintah untuk memperlakukan dengan baik kaum perempuan. Dan di dalamnya tersebut berbagai hak dan kewaiiban masing-masing suami istri. Nabi saw. bersabda,

Sesungguhnya kalian memiliki hak pada istri kalian, dan istri kalian juga memiliki hak yang harus kalian penuhi. Sedangkan hak kalian yang harus dipenuhi oleh istri kalian adalah jangan sampai tempat tidur kalian disentuh oleh orang yang kalian benci. Dan jangan sampai diizinkan masuk orang yang kalian benci ke dalam rumah kalian. Ingatlah hak mereka yang harus kalian penuhi adalah kalian berlaku baik kepada mereka dalam pakaian mereka dan makanan mereka.”

hak-hak istri

Termasuk di antara hak-hak istri yang paling penting dengan secara ringkas dari apa yang tadi telah dijelaskan mengenai perihal ini:

  1. Menjaga kesucian istri dan menggaulinya

Mazhab Maliki berpendapat, persetubuhan wajib oleh suami kepada istrinya jika tidak ada halangan. Mazhab Syafi’i berpendapat, persetubuhan hanya wajib sekali saja karena ini adalah hak milik suami, maka dia boleh meninggalkannya seperti halnya mendiami rumah sewaan. Sedangkan Mazhab Hambali berpendapat, suami wajib menggauli istrinya dalam setiap empat bulan sekali, jika tidak ada halangan karena seandainya bukan suatu kewaiiban, tidak ditegaskan dengan sumpah (al-iilaa) untuk meninggalkannya secara wajib, seperti halnya semua perkara yang tidak wajib.

  1. Diharamkan melakukan persetubuhan di bagian anus

Berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya AIIah tidak merasa malu dengan kebaikan, jangan sampai kalian pergauli istri kalian di bagian anus mereka.”

Juga sabda beliau saw., ”Allah tidak mau memandang orang laki-laki yang menggauli istrinya di bagian anusnya.”

  1. ‘azl (mengeluarkan air sperma laki-laki di luar vagina)

Mazhab Syafi’i berpendapat ‘azl makruh. Al-Ghazali berkata,’azl boleh. Ini adalah pendapat yang benar bagi para ulama muta’akhkhirin. Pendapat yang membolehkan ‘azl telah sepakat oleh keempat mazhab, berdasarkan hadits Abu Sa’d al-Khudri secara marfu’ dari Ahmad, “Kami menggauli istri kami dan kami suka menggauli mereka, maka apakah pendapatmu mengenai ‘azl?” Beliau menjawab,

Perbuatlah apa yang menurut kalian baik maka apa yang ditetapkan oleh Allah itulah yang terjadi, dan tidak dari setiap air sperma lahir anak.

  1. Menggauli dengan baik

Seorang suami wajib menggauli istrinya dengan baik berdasarkan firman Allah swt., “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (anNisaa’: 19). Dia wajib mengeluarkan apa yang menjadi hak istrinya yang harus dia penuhi dengan tanpa penangguhan. Berdasarkan ayat yang tadi telah ada.

Termasuk di antara menggauli dengan baik adalah memberikan haknya dengan tanpa menangguhkan, berdasarkan sabda Rasulullah saw.,

Penangguhan orang yang kaya adalah suatu tindakan kezaliman.”

  1. Keadilan di antara istri dalam masalah menginap dan nafkah

Sebagaimana yang tadi telah kami jelaskan. Barangsiapa yang memiliki dua orang istri atau lebih, maka menurut jumhuryang selain Syafi’i dia harus berlaku adil di antara mereka, dan membagi giliran kepada mereka. Setiap satu orang istri digilir dalam waktu satu hari satu malam, tanpa memedulikan apakah si suami adalah orang yang sehat, ataupun sakit, ataupun kebiri. Tanpa memperdulikan apakah si istri sehat, sakit, tengah haid, tengah mengalami masa nifas, tengah melakukan ihram, ataukah perempuan ahli kitab dengan tujuan untuk memberikan hiburan. Juga karena Nabi saw. melakukan giliran kepada para istrinya. Beliau menggilir pada masa sakitnya, meskipun beliau tidak wajib untuk menggilir. Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah menggilir bagi setiap istrinya satu hari satu malam.” Aisyah r.a. juga berkata, “Rasulullah menggilir di antara kami dengan penuh keadilan, Dan beliau berkata

Ya Allah, sesungguhnya ini Adalah bagian yang sanggup aku laksanakan, maka jangan Engkau cela aku pada apa yang tidak sanggup aku Iakukan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *