Parenting – Remaja perlu mendapat informasi mengenai tema-tema tentang cinta dari kitab sucinya, Al Qur’an. Jika ia tak membaca atau menemukan seseorang yang akan menceritakannya, maka Anda adalah orang pertama yang menyampaikannya.
Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut cinta dengan istilah al hubb atau mahabbah. Mahabbah secara bahasa menurut Ibnu Fâris berarti tetap teguh mendampingi atau menyertai. Maksudnya, memberikan konsekuensi kepada dua hati yang saling mencinta untuk tetap berdampingan bersama di atas cintanya berupa adanya ikatan hati dengan yang dicintainya.
Daftatr Isi
Banyaknya pendapat tentang makna mahabbah
Menurut al-Juhariy, mahabbah bisa bermakna sesuatu yang terisi penuh. Ini maksudnya bahwa ketika cinta jika hadir, perasaan ini akan mengisi penuh ruang hati seseorang yang ia cintai.
Menurut Ar-Raghib Al-Asfahaniy, mahabbah adalah sebuah keinginan terhadap sesuatu yang ia anggap baik. Ada mahabbah terhadap kenikmatan (seperti keinginan seorang lelaki kepada seorang perempuan), mahabbah kepada hal-hal yang bermanfaat, dan mahabbah kepada suatu yang memiliki keutamaan (seperti mahabbah kepada ahli ilmu).
Abu Hilal al-‘Askariy berpendapat hampir serupa, bahwa mahabbah adalah sebuah kecondongan terhadap sesuatu.
Secara istilah, Imam al-Ghazali menjelaskan definisi mahabbah dengan mengatakan,
“Hubb (Mahabbah) adalah kecondongan diri terhadap sesuatu yang nikmat, jika kecondongan itu semakin kuat maka dinamakan ‘Isyq”
Sedangkan asy-Sya’rawiy menjelaskan, “Makna Hubb adalah kecondongan alami kepada sesuatu yang mana hal itu membuat jiwa ini lapang dan merasa ringan saat melakukannya”.
Ternyata pendapat ahli tentang cinta sangat banyak dan tidak mungkin mengungkap semuanya di sini. Ini juga yang menguatkan pendapat lain bahwa mahabbah (cinta) sebenarnya tidak dapat terdefinisikan secara rinci, karena hakikatnya mencintai tidak dapat tergambarkan. Hanya tanda-tandanya saja yang dapat terlihat.
Mahabbah menurut Ibnu al-Qayyim Al Jauziyah
Ibnu al-Qayyim adalah ulama yang paling panjang lebar berbicara tentang mahabbah. Kitabnya yang mengulas mahabbah paling terkenal adalah Raudhatu al-Muhibbin wa nuzhatu al-Musytaqin dan Madariju as-Salikin beliau tuliskan banyak pemahaman mencerahkan tentang cinta.
Ibnu al-Qayyim sempat menjabarkan makna mahabbah dengan mengatakan,
“Mahabbah adalah beningnya cinta dan gelora keinginan hati kepada yang dicintai, tinggi serta nampak jelas ikatannya dengan yang dicintai dan yang diinginkannya. Adanya kekokohan, keinginan hati terhadap yang dicintainya hingga tetap mendampinginya dan takkan pernah berpisah dengannya, hati yang paling dalam serta sesuatu yang paling berharga hanya teruntuk yang dicintainya, dialah hatinya. Segala keinginannya, kemauannya dan kesungguhannya hanya kepada yang dicintainya”
Tetapi akhirnya menyimpulkan bahwa tidak ada definisi mahabbah (cinta) yang paling jelas dari pada kata cinta itu sendiri. Jadi, mahabbah adalah keberadaan cinta itu sendiri.
Apa yang dirasakan oleh anak remaja belum tentu cinta
Hanya karena adanya dorongan atau kecondongan kepada lawan jenis, banyak anak muda terbaru menyimpulkan bahwa itu adalah rasa mencintai. Mereka menuruti dorongan perasaannya, kemudian menyatakan kepada seorang yang menjadi pujaannya sebagai rasa cinta: “Aku mencintaimu”. Begitu yakin bahwa itu perasaan cinta, hingga mereka tidak sekedar menyatakan dengan kata-kata, tetapi memberikan atau melakukan sesuatu yang mereka anggap sebagai pembuktian cinta.
Itu bukan pembuktian cinta, tetapi pelampiasan syahwat. Pelampiasan syahwat yang memaksakan, lalu juga terbalas dengan sesama syahwat yang terpaksa. Pada awalnya, saling berbalas syahwat dengan isyarat, kemudian kata-kata, dan banyak yang berujung pada perzinahan.
Mencintai bukan sekedar menikmati atau mengobati dan membalas rasa rindu. Tetapi ia mengharuskan terlibatnya niat, perbuatan, dan tujuan yang semuanya suci dan mulia. Oleh karena itu, ada beberapa rambu-rambu bagi orang tua untuk anaknya yang mulai mengenal cinta.
Pertama, suci niatnya. Cinta yang suci adalah cinta yang hadir sebagai ekspresi fitrah karena Allah. Mencintai itu karena Allah sehingga apapun yang Allah tetapkan atas syarat-syarat mencintai mesti terpenuhi. Mencintai jodoh mestinya tidak sampai pada penghambaan atau pemujaan, juga menahan diri untuk tidak menyakiti atau menzalimi yang dicintai.
Kesalahan dalam niat mencintai menjerumuskan seseorang bersikap obsesif dan posesif, yaitu rasa memiliki secara berlebihan dalam bentuk penguasaan terhadap yang ia cintai.
Kedua, telah sampai waktunya. Cinta itu dinyatakan dan praktekkan ketika telah tiba waktunya, yaitu di usia dewasa cukup umur dalam keadaan siap menikah. Siap menikah berarti siap jasmaninya, siap jiwanya, juga siap dengan rencana masa depannya.
Cinta yang telah tiba waktunya berarti anak telah siap untuk menjalani proses perjodohan. Sebelum itu, waktu untuk mencintai belum tiba.
Ketiga, benar caranya. Sebenar-benar mencintai adalah ketika hadir dalam bentuk perbuatan yang halal, yaitu pernikahan. Hanya keberanian menuju akad nikah yang menjadi bukti bahwa cinta itu nyata dan sungguh-sungguh.Di luar pernikahan, sebesar apapun pengorbanan dan sehebat apapun kesetiaan bukanlah menjadi bukti.
Anda tidak perlu segan menyampaikan kepada anak bahwa tidak ada cinta sebelum pernikahan.
Keempat, tepat sasarannya. Mencintai itu perpaduan rasa dan akal, sehingga ketajamannya mampu membedakan kepada siapa ia tertuju: orang yang baik-baik atau orang yang buruk. Cinta yang benar mestinya tertuju hanya kepada orang terpilih yang menurut rasa dan akal adalah baik, bukan atas dorongan syahwat yang membuta.
Kelima, tahu tujuannya. Mencintai bukanlah sekedar menikmati rasa senang dan kegembiraan saat ini. Mencintai adalah bagian dari cara menjaring keberkahan, untuk kebahagiaan di dunia yang bersambung sampai akhirat nanti. Keberkahan tidak selalu datang dalam bentuk kesenangan, danmeraih kebahagiaan akhirat dengan penuh perjuangan.
Selalu ingatkan kepada anak bahwa mencintai harus berbekas pada kebaikan dunia, dan menjadi jembatan surga kelak.
[Yazid Subakti]
___________________________
Bunda, udah tau belum kalo ada jasa aqiqah di Jogja yang praktis dan ekonomis, Aqiqah Al-Kautsar.
Aqiqah Al-Kautsar adalah layanan jasa aqiqah Jogja terbaik sejak 2012 dan sudah dipercaya oleh lebih dari 11.000 sohibul. Nah bagi Bunda yang berdomisili di Jogja dan sudah mulai memasuki masa HPL, Aqiqah Al-Kautsar bisa jadi rekomendasi layanan aqiqah Jogja yang praktis.
Jasa aqiqah Jogja Al-Kautsar menyediakan banyak pilihan menu. Daging kambing aqiqah diolah menjadi berbagai menu lezat, mulai dari masakan nusantara, masakan timur tengah, hingga western. Nah Bunda bisa memilih sesuai dengan selera Bunda dan keluarga.
Untuk pemesanan, Bunda bisa hubungi kami di 089603897933 atau datang langsung ke kantor kami di Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D2, Sleman, DIY.

