Memulai Kemandirian

Memulai Kemandirian

Parenting – Setiap makhluk mengawali kehidupannya dalam keadaan tak berdaya. Anda, dan semua manusia lahir dalam kondisi tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di lingkungannya. Seiring dengan berlalunya waktu, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari ketergantungannya dan belajar untuk memulai kemandirian. Inilah proses yang dialami oleh semua manusia.

Mandiri adalah kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain karena memiliki rasa tanggung jawab atas apa yang dilakukannya. 

  1. Sampai kapan ketergantungan akan berlangsung?

Inilah pertanyaan semua orang tua, sampai kapan anak akan terus bergantung?

Tidak ada ketentuan khusus yang mengatur kapan anak harus mulai berpisah dengan orang tuanya atau mulai melapas ketergantungannya dari orang tua. Jika bayi menyusu hingga usia 2 tahun sebagaimana ketentuan dalam Al-Qur’an dan keumuman saran ahli kesehatan, maka anak terklepas dari ketergantungan tidak pernah ada ketentuannya. 

Yang paling masuk akal untuk melepas anak dari ketergantungan adalah,

  1. Masuknya fase tamyiz, yaitu di usia lebih dari 7 tahun ketika anak sudah mampu membedakan antara yang salah dan benar, antara yang buruk dan yang baik. Itu berarti ia sudah masuk masa-masa memberinya kepercayaan untuk mengambil keputusan, setidaknya yang menyangkut keperluan pribadinya. 
  2. Masa mulai mengerjakan salat, yaitu paling muda usia  7 tahun dan selambat-lambatnya usia 10 tahun. Ajaran salat mengandung hikmah bahwa anak sudah mendapat tugas beribadah beserta rukun dan syaratnya, juga mendapat kepercayaan untuk mandiri menjalin hubungannya dengan Allah.
  3. Kondisi mental dan fisiknya, yaitu orang tua memperhatikan kondisi anak apakah ia memang sudah saatnya dilepas dari ketergantungan dan dalam hal apa ia sudah harus mandiri. Pada usia yang sama, anak satu dengan yang lainnya memiliki kesiapan untuk mandiri yang tidak sama. Anak laki-laki dan perempuan, atau sehat dan anak yang sakit-sakitan juga beda perlakuannya dalam latihan kemandiriannya.  

Jadi, sampai kapan anak harus mulai terlepas ketergantungannya, adalah ukuran subyekif orang tua berdasarkan pengamatannya setiap hari. Ini hanya dapat disimpulkan oleh orang tua, sebab orang tualah yang paling mengetahui ini semua.  

  1. Siap jadi remaja, siap mandiri 

Saat memasuki masa remaja nanti, tuntutan terhadap kemandirian anak sangat besar. Jika tidak mendapat respon secara tepat, anak dapat mengalami dampak yang merugikan perkembangan psikologis untuk masa-masa mendatang. 

Betapa banyak remaja masa kini yang mengalami kekecewaan dan frustasi terhadap orang tua karena tidak kunjung mendapatkan kemandirian. Kebingungan-kebingungan dan keluh kesah remaja banyak berkenaan dengan kehidupan mereka yang masih orangtuanya atur, atau rasa bersalah dan menyesal karena di masa lalunya terlambat belajar untuk mandiri. Banyak remaja usia SMA atau bahkan mahasiswa masih mengeluhkan ketidakmandiriannya, kesulitannya mengambil keputusan,  dan keraguannya untuk melangkah dalam hal-hal besar karena sebelumnya tidak mendapat kesempatan untuk belajar mandiri. Mereka terus menerus mendapat campur tangan orang tuanya. 

  • Menjelang usia mukallaf, kemandirian harus sudah dimulai

Ini adalah masa-masa menyiapkan diri menjadi remaja yang berkualitas. Siap menjadi remaja, berarti siap mandiri. Orang tua harus rela melepaskan anak kesayangannya tidak lagi bergantung dan meminta keputusan padanya dalam banyak hal. Ketika anak telah sampai di gerbang masa remaja, orang tua harus ikhlas bahwa penguasaan dan ambisi terhadap anak dengan cara terus menerus melayani dan terlibat mencampurtangani urusannya harus ia akhiri. 

Anak akan memilih seleranya sendiri, beri ia kesempatan menghadapi tantangannya, biarkan mereka meraba nasib dan masa depannya, bahkan beri pengalaman hidup dalam perjuangan yang penuh kepahitan.     

Biarkan  anak menemukan caranya untuk mengembangkan kemampuan yang ia miliki, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin ia lakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dengan  demikian anak akan dapat mengurangi tergantung pada orang tuanya.  

  1. Makna kemandirian 

Kemandirian meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan atau masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam makna yang lain, kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri. 

Jadi, anak mandiri biasanya memenuhi kondisi berikut ini, 

  • Memiliki hasrat atau semangat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya dan masa depannya
  • Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang ia hadapi 
  • Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya  
  • Bertanggung Jawab terhadap apa yang ia lakukan 

Kemandirian ini diperoleh selama proses perkembangan anak. Anak akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, hingga akhirnya mampu berpikir dan bertindak sendiri. 

Oleh karena itu, untuk dapat mandiri, seorang anak membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari orang tua serta lingkungan terdekatnya. Peran orang tua dan respon dari lingkungan sangat perlu bagi anak sebagai penguat untuk terhadap perilaku yang telah ia lakukan. 

Karena kemandirian adalah kondisi psikologis, maka ia dapat berkembang dengan baik jika mendapat kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang ia lakukan secara terus-menerus. 

Dengan memberikan latihan dan dengan bertambahnya usia akan bertambah pula kemampuan anak untuk berfikir secara objektif, tidak mudah terpengaruh, berani mengambil keputusan sendiri, tumbuh rasa percaya diri, dan tidak tergantung kepada orang lain. 

  • Kemandirian adalah kebutuhan 

latihan kemandirian menyebabkan anak harus belajar membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas perbuatannya. Ini adalah latihan bagi anak yang hasilnya ia akan berangsur-angsur dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua. 

Di masa-masa pencarian identitas diri, anak cenderung untuk melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan psikis orang tuanya. Bagaimanapun, mereka pada akhirnya ingin diperlakukan dan dihargai sebagai orang dewasa. Ada keinginan mereka untuk mengukur kedudukannya dalam keluarga dan lingkungannya. 

  • Sisi lain kemandirian adalah penolakan

Sebagai suatu kebutuhan, kemandirian menyebabkan anak (mulai remaja) merasa hidup atas pendiriannya. Proses sosialisasi yang terjadi dengan teman sebaya membuatnya belajar berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima bahkan dapat juga menolak pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga. 

Teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama anak belajar untuk hidup bersama di luar anggota keluarganya. Ia melakukan itu untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok dan bercermin mengenai siapa dirinya.  

  • Rindu masa-masa bergantung

Keinginan anak untuk mandiri kadang terdapat dengan keraguan. Ia ragu apakah keberaniannya memutuskan sesuatu mengandung risiko yang mampu ia hadapi. Ia juga kadang lelah dan merasa merasa ditinggalkan oleh keluarga. keadaan ini membuat latihan kemandirian sedikit terhambat karena anak akan mundur ke belakang, rindu saat-saat bergantung pada keluarga yang hangat dan tanpa resiko. 

Selama usianya belum dewasa dan masih dalam tanggungan orang tua, kerinduan untuk kembali bergantung adalah wajar. Bagaimanapun, ia masih memiliki kebutuhan untuk tetap tergantung pada orang lain. Pikirannya masih diliputi dilema antara mengikuti kehendak orang tua atau mengikuti keinginannya sendiri. 

  • Sikap Orang tua 

Apa yang harus orang tua berikan selama masa-masa melatih kemandirian anak? 

Orang tua tetap menjadi pihak yang selalu hadir. Bukan untuk melayani, tetapi menguatkan hati dan membaca suasana. Jadi, melatihnya mandiri bukan berarti meninggalkannya. Tegas memberi tanggung jawab bukan bermakna tidak mencintainya.   

  • Menjaga komunikasi tetap lancar. Komunikasi berupa diskusi dua arah, saling mendengarkan dan berbagai pandangan. Orang tua mulai menyelami kerangka berpikir anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat mengetahui apa yang orangtuanya inginkan.
  • Memberi kesempatan. Berikan kesempatan kepada anak untuk membuktikan kemampuannya  mengambil keputusan, lalu melaksanakan keputusan yang telah ia ambil. Biarkan ia mengusahakan sendiri apa yang ia perlukan dan biarkan ia belajar mengatasi sendiri resikonya. 
  • Biarkan ia bertanggung jawab dengan caranya. Salah satu kunci penting berhasilnya latihan kemandirian adalah ketika anak sudah mampu bertanggungjawab. Biarkan ia membuktikan tanggung jawab dengan caranya sendiri. Keberanian bertanggung jawab membuatnya akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang mengandung risiko buruk dan mempertahankan perbuatan yang membuatnya merasakan manfaatnya. 
  • Tetap konsistensi melatih. Seorang pelatih harus lebih disiplin daripada yang dilatih. Orang tua harus lebih konsisten dalam bersikap karena konsistensi ini adalah bagian dari nilai yang akan anak tiru.

 

[Yazid Subakti]