Menanamkan Kerinduan akan Baitullah

Menanamkan Kerinduan akan Baitullah

Parenting – Pergi menuju baitullah artinya melaksanakan haji sebagai bagian dari rukun islam. Tetapi ibadah ini berbeda dengan ibadah yang lain karena di samping aktivitas berhaji juga terdapat banyak hikmah yang menyertainya. 

1. Mengapa harus rindu baitullah?

Pertama, mengunjungi kiblat dan rumah Allah. Setiap kali kita shalat, kita sedang mengarah pada satu titik, yaitu Ka’bah. Bangunan ini telah tetap oleh Allah untuk menyatukan arah hadap ketika umat islam seluruh dunia melakukan shalat dan berdoa. Ka’bah adalah pusat arah ibadah dan titik paling penting yang menjadi simbol penyatu ketika manusia menghadap Allah. 

Kedua, menapakkan kaki di tanah yang suci. Jauh sebelum nabi Muhammad SAW lahir, kota Mekkah telah tetap oleh nabi-nabi sebelumnya bagai rumah yang suci (bait al haram). Pergi haji berarti pengalaman menginjakkan kaki dan merasakan suasana di tanah yang suci. Di tanah ini, Allah meletakkan banyak keistimewaan. Di masjid Al haram, Allah melipatgandakan keutamaan kita seseorang beribadah di dalamnya. 

Ketiga, menyaksikan langsung tempat bersejarah. Apa yang kita lakukan saat beribadah haji adalah cuplikan peristiwa masa lampau yang oleh Rasulullah lakukan. Semua gerakan dan bagian ibadah memiliki sejarah dan kisah sendiri. Tawaf, Sa’I, melempar jumrah dan berkurban adalah mempraktikkan cuplikan sejarah. Di samping itu, tempat haji dan sekitarnya adalah tempat yang menjadi latar masa lalu Rasulullah SAW. Di sinilah letak rumah beliau, jalan-jalan atau kampung yang pernah terlalui, gua yang pernah tersinggahi, masjid yang pernah terbangun, hingga makam tempat beliau terkuburkan. Semuanya masih tampak nyata, menjadi bukti bahwa apa yang kita kisahkan dalam islam itu benar-benar terjadi. Jadi, pergi ke baitullah adalah pembuktian sejarah. 

Mengapa harus ditanamkan kerinduan

Jika shalat dapat dilihat oleh anak setiap hari lima kali dan semua orang melakukannya, maka ibadah haji dilakukan seumur hidup biasanya hanya sekali dan belum tentu dari keluarga dekat atau masyarakat sekitar ada yang melakukannya di masa-masa kehidupan si kecil. Banyak anak yang sampai usia remaja belum pernah sekalipun menyaksikan orang berangkat menunaikan ibadah haji.

Jarangnya pemandangan langsung mengenai peristiwa haji inilah yang menuntut kita untuk aktif mengenalkan kepada anak, agar ia tidak melupakan atau menganggap sepele rukun islam kelima ini. 

2. Mengenalkan ibadah haji

Kapan Ibadah Haji dikenalkan kepada Anak?

Tidak ada ukuran kapan anak-anak harus mulai mengenal ibadah haji. Usia paling ideal untuk memperkenalkan ibadah haji adalah setelah melewati usia 3 tahun. Pada usia ini mereka sudah mulai banyak bertanya dan menunjukkan keingintahuan yang besar tentang apapun. Inilah kesempatan bagi orang tua memperkenalkan ibadah haji kepadanya. 

Di sekolah-sekolah, mulai dari kelompok bermain dan TK sampai Sekolah Dasar biasanya sudah kenalkan dengan tata cara haji dengan mengadakan praktek manasik haji. 

  • Dimulai dengan pengenalan rukun islam 

Ibadah haji adalah rukun islam yang ke lima. Mengenalkan haji kepada anak mulai dengan mengenalkan rukun islam, sedangkan haji adalah bagian darinya yang harus ia kerjakan agar keislaman menjadi sempurna. 

  • Gambar dan pernak-pernik

Gambar atau benda konkrit dapat memberi informasi cukup efektif kepada anak, sekaligus merangsang rasa ingin tahu lebih dalam. Anda dapat mengoleksi gambar-gambar atau poster masjidil haram, ka’bah, dan aktivitas seputar ibadah haji. Letakkan gambar-gambar ini sebagai hiasan dinding, stiker, kalender, atau hiasan meja yang memungkinkan anak sering melihatnya.

  • Berkisah

Berkisah sangat efektif mempengaruhi jiwa anak, terutama jika disampaikan saat menjelang tidur. Anda dapat menyampaikan kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail kecil di letakkan di lembah yang sekarang menjadi kota Mekkah dan awal munculnya air Zam-zam, tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memulai pembuatan pondasi ka’bah, atau kisah kelahiran nabi Muhammad SAW yang bertepatan penyerangan tentara bergajah hendak menghancurkan Ka’bah yang digagalkan oleh Allah dengan dikirimnya burung ababil. Banyak kisah menarik lain seputar ka’bah. 

  • Memutarkan video 

Banyak beredar video edukasi haji untuk anak yang berisi sejarah Ka’bah dan kota Mekkah, kisah perjuangan rasulullah di kota Mekkah dengan latar Ka’bah, kisah pasukan Abrahah menghancurkan Ka’bah, atau video cara manasik haji. 

Dalam video manasik haji, ada kalimat talbiyah yang terucap berulang-ulang, dan orang-orang mengenakan pakaian ihram. Berikan penjelasan singkat mengenai kalimat talbiyah dan maknanya, serta kain ihram dan keunikannya. 

3. Agar Anak-Anak Tidak Tertekan Menerima Pembiasaan Ibadah

Ibadah bagi anak-anak memang belum wajib hukumnya. Oleh karenanya, bisa saja anak-anak merasa terbebani dengan pembiasaan-pembiasaan ini yang mungkin menurutnya cukup memberatkan.

Agar tidak memberatkan anak, orang tua perlu mengkondisikan, 

  • Pembiasaan bersifat ajakan, bukan perintah atau paksaan. Ajakan berarti orang tua melakukan atau memberi contoh, kemudian berikan anak kesempatan atau terdorong untuk mengikuti atau terlibat. 
  • Setiap ibadah yang disampaikan dibuat dengan suasana gembira. Shalat dengan gembira, puasa gemira, sedekah juga bisa dengan gembira. 
  • Jika anak sudah berhasil melakukannya, orang tua memberi pujian atau penghargaan seperlunya yang membuat anak merasa terhargai dan bersemangat untuk mengulanginya kembali.
  • Tidak perlu menuntut untuk melakukan semua pembiasaan ibadah ini dengan sempurna. jika anak telah melakukannya, itu artinya ia sudah sungguh-sungguh berlatih dan perlu berulang kali. 
  • Yang tumbuh dari pembiasaan awal ini adalah anak merasa senang melakukannya, meskipun tidak semuanya bisa dengan benar. Pembenaran secara bertahap ketika sudah saatnya memberikan pemahaman. 

[Yazid Subakti]